Anda di halaman 1dari 6

Oral Candidiasis A Review

Kandidiasis oral, kondisi jamur yang paling sering dan penting pada rongga mulut yang disebabkan oleh
spesies Candida. Ada beberapa faktor lokal yang membuat jaringan mulut cenderung menjadi infeksi
Candida. Faktor ini termasuk asam saliva, xerostomia, penggunaan gigi palsu prostetik pada malam hari,
rokok, diet kaya karbohidrat, dan pasien yang mendapat radioterapi dan kemoterapi pada struktur
maksilofasial. Perawatan pada kebersihan mulut dan diagnosa awal dari kondisi ini sangatlah penting.
Kata Kunci : Kandidiasis, Candida albicans, oral thrush

INTRODUCTION
Kandidiasis oral adalah salah satu dari infeksi
jamur yang umum yang menyerang mukosa
mulut. Lesi ini disebabkan oleh jamur Candida
albicans. Candida albicans adalah satu dari
komponen mikroflora normal mulut dan sekitar
30-50% orang memiliki organisme tersebut.
Persentase pembawa bertambah seiring umur
pasien. Candida albicans ditemui pada 60%
mulut pasien yang melewati umur 60 tahun.
Ada lima tipe spesies kandida yang sering
ditemui pada rongga mulut (Gravina et al.,
2007).
Mereka adalah,
1. Candida albicans
2. Candida tropicalis
3. Candida krusei
4. Candida parapsilosis
5. Candida guilliermondi
Diantara kelima tipe ini, Candida albicans
adalah yang paling sering ditemui pada rongga
mulut. Candida albicans adalah sebuah jamur
dimorfik yang menyebabkan infeksi oportunistik
yang parah pada manusia(Molero et al., 1998).
Fitur yang menarik dari Candida albicans
adalah kemampuannya untuk tumbuh melalui
dua cara yang berbeda, reproduksi melalui
tunas, membentuk tunas ellipsoid, dan bentuk
hifa, yang secara periodik membelah dan
membentuk mycelia baru, atau bentuk seperti
yeast (Cutler, 2001). Bentuk yeast tidak
berbahaya dan bentuk hifa terkait dengan invasi
ke jaringan host (Gambar 1).
Secara umum ada tiga faktor yang
menyebabkan infeksi Candida albicans
berkembang di tubuh pasien, yaitu :
1. Status imun pasien
2. Lingkungan mukosa mulut
3. Strain dari Candida albicans
Faktor utama yang menyebabkan peningkatan
kecenderungan kandidiasis oral adalah (Akpan
and Morgan, 2002).
I. Imunosupresi
II. Endokrinopati
III. Defisiensi nutrisi
IV. Keganasan
V. Prostesi dental
VI. Perubahan epitel
VII. Diet tinggi karbohidrat
VIII. Masa bayi dan usia lanjut
IX. Kebersihan mulut yang buruk
X. Perokok berat











Gambar 1 : Tipe dari Candida Albicans

Xerostomia: Saliva mengandung IgA yang
menghambat ikatan Candida albicans ke
permukaan mukosa. Saliva juga menyediakan
tindakan pembilasan yang menghilangkan
Candida albicans dari rongga mulut. Dalam
kasus xerostomia kedua tindakan ini tidak ada
karena kurangnya produksi saliva, sehingga
kemungkinan candidasis lebih besar dalam
rongga mulut. Xerostomia juga terlihat dalam
kasus pengobatan antikanker dan radiasi yang
meningkatkan proliferasi sel kandida dan
ketahanan sel kandida terhadap obat antijamur.
Xerostomia juga terlihat dalam kasus sindrom
Sjogren karena infiltrasi limfosit dan kerusakan
kelenjar ludah.
Diabetes Mellitus: Pertumbuhan Candida
albicans diuntungkan pada tingkat glukosa
yang meningkat dalam saliva yang
meningkatkan kemampuan Candida albicans
untuk melekat ke membran mukosa mulut.
Medicines: Penggunaan antibiotik jangka
panjang mengurangi jumlah flora normal mulut
dan memungkinkan proliferasi Candida albicans
dalam rongga mulut. Pada pasien asma akibat
penggunaan steroid inhaler. Aerosol steroid
mengganggu keseimbangan normal dari
mikroflora dan mendukung proliferasi Candida
albicans. Sedangkan steroids sistemik
menyebabkan penurunan sistem kekebalan
tubuh.
Klasifikasi : Kandidiasis oral terutama
diklasifikasikan menjadi infeksi primer dan
sekunder (Greenberg et al., 2008).
1. Kandidiasis oral primer
a. Bentuk akut
I. Pseudomembran
II. Eritematosa
b. Bentuk kronik
I. Eritematosa
II. Pseudomembran
III. Menyerupai plak
Candida Albicans
2 Bentuk
Yeast Hifa
DIMORFIK
Tidak Berbahaya Berkaitan dengan
invasi ke jaringan
host
IV. Nodular
c. Kandida yang berhubungan dengan lesi
lain
I. Denture stomatitis
II. Angular cheilosis
III. Median rhomboid glossitis
2. Kandidiasis oral sekunder
a. Manifestasi oral dari kandidiasis
mukokutan sistemik
I. Kandidiasis mukokutan familial
II. Kandidiasis mukokutan kronik yang
difus
III. Kandidiasis mukokutan familial
IV. Penyakit granuloma kronik
V. Sindrom endokrinopati kandidiasis
VI. Acquired immune deficiency
syndrome (AIDS)
Bentuk akut dari kandidiasis pseudomembran
dapat mempengaruhi pasien yang sedang
dalam pengobatan antibiotik, obat-obat
immunosuppressant, dll. Secara klinis akan
terlihat terbentuknya pseudomembran yang
dapat digores dengan mukosa yang inflamasi
pada bagian bawahnya. Bentuk kronik dari
kandidiasis disebut juga dengan kandidiasis oral
atropik. Pada bentuk ini akan terlihat
permukaan yang eritema dengan peningkatan
vaskularisasi. Sebelumnya tipe plak dikenal
sebagai kandida leukoplakia. Secara klinis akan
terlihat adanya plak putih. Tipe plak kronik dan
tipe nodular keduanya berhubungan dengan
proses terjadinya keganasan.
Teori patogenesis pada denture
stomatitis menyatakan bahwa adanya bakteri
seperti Streptococci dan Actinomycetes dapat
menginduksi suatu organism untuk
menghasilkan protease seperti (gA) dan enzim-
enzim seperti amino-peptidase, hyaluronidase,
chondroitinase dan neuraminidase, yang dapat
mendegradasi epitel mulut. Dengan adanya
produk zat tersebut, tersimpannya dekat
dengan mukosa oral, ditentukan bertambahnya
eksudat inflamasi yang menguntungkan
kolonisasi bakteri dan juga proliferasi yeast
karena Candida lebih gampang kolonisasi
dengan mukosa kontak dengan permukaan gigi
palsu dibandingkan dengan mukosa bukal
lainnya. Protease dapat meningkatkan sifat
patogenik dari substansi bakteri, memicu untuk
menghancurkan immunoglobulin yang terdapat
pada saliva. Reaksi hipersensitivitas tipe lambat
terhadap Candida albicans turut berperan
untuk menyebabkan reaksi inflamasi dan
pengelupasan pada sel-sel epitel yang
menyebabkan atrofi epitel. Ini merupakan
gambaran khas dari denture stomatitis. Denture
stomatitis terbagi menjadi tiga tipe klinis, yaitu
(Salerno et al., 2011).
1. Tipe I Pinpoint hyperemia terlokalisir
2. Tipe II Lesi eritematosus temasuk gigi
palsu yang dilapisi mukosa
3. Tipe III tipe Papillary termasuk bagian
tengah dari mukosa palatum keras dan
alveolar.
Kondisi-kondisi ini dapat diobati dengan obat
antijamur (Nystatin, Amphoterin-B, Miconazole
dan Fluconazole) dan desinfektan ( obat kumur
0,2% Chlorhexidine gluconate 3 atau 4 kali
perhari). Radiasi microwave (pajanan terhadap
microwave dapat menyebabkan kematian sel
dari Candida albicans) dan pengerokan plak
pada gigi palsu dengan teliti. Walaupun
denture stomatitis bersifat asimptomatik,
harus tetap diobati karena dapat berperan
sebagai perantara infeksi yang bisa
berkelanjutan dan menjadi pencetus resorpsi
dari tulang alveolar. Pengobatan yang paling
efektif adalah eradikasi dan kontrol dari plak
mikroba (Webb et al., 1998, Agha-Hosseini,
2006).
Diagnosis: Kandidiasis oral didiagnosis
berdasarkan tanda dan gejala klinis.
Pemeriksaan tambahan termasuk (Agha-
Hosseini, 2006),
1. Sitologi eksfoliatif
2. Kultur(gambar 2)
3. Biopsi Jaringan
ID reaction: respon kulit sekunder yang
merupakan ruam vesikopapular yang
terlokalisasi/ tergeneralisasi. Ruam-ruam ini
dapat sembuh dengan pengobatan.



















Gambar 2 : Langkah-langkah kultur
Tatalaksana
Melanjutkan pengobatan selama 2 minggu
setelah resolusi dari lesi. Ketika pengobatan
topikal gagal maka penggunaan terapi sistemik
harus dimulai karena kegagalan respon obat
merupakan tanda awal dari penyakit sistemik
yang mendasarinya. Tatalaksana lanjut kembali
setelah 3 sampai 7 hari sangat penting untuk
memeriksa efek dari obat. Tujuan utama dari
pengobatan adalah (Parihar, 2011),
1. Untuk mengidentifikasi dan
mengeliminasi faktor yang mungkin
terlibat
2. Untuk mencegah penyebaran sistemik
3. Untuk mengeliminasi ketidaknyamanan
yang terkait
4. Untuk mengurangi jumlah kandida
Pilihan pengobatan secara garis besar
dikategorikan dalam dua lini, pengobatan lini
pertama dan kedua.

Kerokan jaringan yang
diambil dari lesi
Dicampur dengan saline yang steril
Inokulasi larutan ke dalam piring agar saboraud dextrose
Inkubasi selama 48 hingga 72 jam
MUNCULNYA KOLONI JAMUR
KULTUR
Pengobatan lini pertama:
Nystatin adalah obat pilihan sebagai
pengobatan lini pertama. Umumnya untuk
kandidiasis ringan dan lokal, pengobatan lini
primer adalah menggunakan obat lain termasuk
Clotrimazole yang dapat dikonsumsi sebagai
lozenges/tablet dan Amphotercin B sebagai
suspensi oral (Pappas, 2004).
Nystatin: merupakan obat lain yang dapat
digunakan sebagai pengobatan lini primer.
Tersedia dalam bentuk krim dan suspensi oral.
Obat ini dipergunakan 4 kali sehari dan
dibiarkan untuk menunjukkan efek sekitar 2
menit di rongga mulut dan kemudian ditelan.
Tidak ada interaksi atau efek samping yang
berarti dari obat ini. (Gambar 3)





Gambar 3: Mekanisme aksi Nystatin
Amphotercin B : Obat ini tersedia dalam bentuk
lozenge/tablet (Fungilin 10 mg) dan suspensi
oral 100mg/ml yang dipergunakan 3 sampai 4
kali sehari. Amphotericin-B mencegah
pelekatan Candida ke sel epitel. Efek samping
dari obat ini adalah nefrotoksisitas.
Clotrimozole : Obat ini menurunkan
pertumbuhan jamur dengan menghambat
sintesis dari ergosterol. Ini tidak diindikasikan
untuk infeksi sistemik. Obat ini tersedia dalam
bentuk krim dan lozenge/tablet 10 mg. Efek
samping utama dari obat ini adalah sensasi
mulut yang tidak enak, meningkatkan level
enzim hati, mual, dan muntah.
Pengobatan lini kedua:
Pengobatan lini kedua digunakan pada pasien
yang parah, terlokalisir, pasien imunosupresan
dan pasien yang memberi respon buruk
terhadap pengobatan lini pertama. Obat-obat
yang umumnya digunakan pada pengobatan lini
kedua adalah (Pappas, 2004).
1. Ketoconazole
2. Fluconazole
3. Itraconazole
Ketoconazole: Obat ini menghambat sintesis
ergosterol di membran sel jamur dan diabsorpsi
dari sistem pencernaan dan dimetabolisme di
hati. Dosis obat ini adalah 200-400 mg tablet 1
atau 2 kali sehari selama 2 minggu. Efek
samping berupa mual, muntah, kerusakan hati
dan juga bereaksi dengan obat antikoagulan.
Fluconazole: Obat ini menginhibisi sitokrom
P450 sterol C-14 alpha demetilisasi jamur. Obat
ini digunakan pada kandidiasis orofaring dan
dosisnya adalah 50-100mg kapsul sehari sekali
selama 2-3 minggu. Efek samping utama adalah
mual, muntah dan sakit kepala. Obat
berinteraksi dengan antikoagulan dan obat ini
dikontraindikasikan pada kehamilan, penyakit
hati dan penyakit ginjal.
Itraconazole: merupakan salah satu dari obat
antijamur broad spektrum dan
Berikatan dengan
membran sel
Mengubah
permeabilitas sel
Kebocoran dari
komponen intraseluler

Kematian Sel
dikontraindikasikan pada kehamilan dan
penyakit hati. Dosis obat ini 100 mg kapsul
sehari sekali selama 2 minggu. Efek samping
utamanya adalah mual, neuropati dan ruam.
Kesimpulan
Prognosis dari kandidiasis oral adalah baik
ketika faktor predisposisi yang terkait dengan
infeksi dihilangkan. Ketika faktor predisposisi
sistemik muncul, bahkan pasien dengan
kandidiasis primer juga berisiko. Pada
kebanyakan kasus, kandidiasis oral merupakan
hasil dari infeksi superfisial sekunder yang dapat
dengan mudah diterapi dengan anti jamur.

Referensi :
Agha-Hosseini, F (2006). Fluconazole and/or
hexetidine for management of oral
candidiasis associated with denture-
induced stomatitis. Oral Dis., 12:434
Akpan, A, Morgan, R (2002). Oral candidiasis-
Review. Postgrad. Med. J. 78:455-459
Cutler, JE (1991). Putative virulence factors of
Candida albicans. Annual Rev. Microbiol.,
45:187-218
Dangi, US, Soni, ML, Namdeo, KP (2010). Oral
candidiasis: a review. Inter. K. Pharm. Sci.,
2:36-41
Gravina, HG, de Moran, EG, Zambrano, O,
Chourio, ML, de Valero, SR, Robertis, S, Mesa
L (2007). Oral Candidiasis in children
and adolescents with cancer. Identification
of Candida. Spp Med Oral Patol Oral Cir
Bucal, 12: E419-23
Greenberg, MS, Glick, M, Ship, JA (2008).
Burkets Oral Medicine. 11
th
edn, BC Decker
Inc, India, pp. 79
Molero, G, Orejas, RD, Garcia, FN, Monteoliva, L,
Pla, J , Gil C, Perez, MS, Nombela, C (1998).
Candida albicans: genetics, dimorphism
and pathogenicity. Internatl microbial., 1:95-
106
Pappas, PG, Rex, JH, Sobel, KD, Filler, SG,
Dismukes, WE, Walsh, TJ, Edwards, JE (2004).
Guidelines for Treatment of
CandidiasisCID, 38:161-89
Parihar, S Oral Candidiasis- A Review.
WebmedCentral DENTISTRY. 2011;2:
WMC002498
Salerno, C, Pascale, M, Contaldo, M , Esposito, V,
Busciolano, M , Milillo, L, Guida, A, Petrizzi,
M , Serpico, R (2011). Candidia-associated
denture stomatitis. Med Oral Patol Oral Cir.
Bucal 16:e139-43
Webb, BC, Thomas, CK, Willcoz, MD, Harty, DW,
Knox, KW (1998). Candida-associated
denture stomatitis. Aetiology and
management:A review. Part 3. Treatment of
oral candidiasis. Aust. Dent. J., 43:244-
9