Anda di halaman 1dari 26

Hambatan- hambatan dalam perdagangan Internasional

Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri, demikian halnya negara. Setiap negara
membutuhkan negara lain untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya agar dapat hidup makmur dan
sejahtera. Kerja sama dalam bentuk hubungan dagang antarnegara sangat dibutuhkan oleh setiap
negara. Hal ini disebabkan setiap negara tidak dapat menghasilkan semua barang dan jasa yang
dibutuhkan oleh rakyatnya. Selain itu, juga disebabkan adanya perbedaan sumber daya yang
dimiliki, iklim, letak geografis, jumlah penduduk, pengetahuan, dan teknologi. Alasan-alasan
inilah yang menyebabkan munculnya perdagangan internasional. Perdagangan internasional
adalah perdagangan yang dilakukan suatu negara dengan negara lain atas dasar saling percaya
dan saling menguntungkan. Perdagangan internasional tidak hanya dilakukan oleh negara maju
saja, namun juga negara berkembang. Perdagangan internasional ini dilakukan melalui kegiatan
ekspor impor. Ekspor adalah kegiatan menjual barang dan jasa dari dalam negeri ke luar negeri.
Adapun impor adalah kegiatan membeli barang dan jasa dari luar negeri ke dalam negeri.
Dengan melakukan perdagangan internasional melalui kegiatan ekspor impor, negara maju akan
memperoleh bahan-bahan baku yang dibutuhkan industrinya sekaligus dapat menjual produknya
ke negara-negara berkembang.
Sementara itu, negara berkembang dapat mengekspor hasil-hasil produksi dalam negeri
sehingga memperoleh devisa. Negara berkembang juga membutuhkan pinjaman dalam bentuk
investasi dan modal yang dapat diperoleh dari negara-negara maju. Devisa dan pinjaman dalam
bentuk investasi dan modal ini dapat digunakan negara berkembang untuk memajukan
perekonomian dalam negerinya.
Hambatan perdagangan adalah regulasi atau peraturan pemerintah yang membatasi
perdagangan bebas.
Bentuk-bentuk hambatan perdangangan antara lain:
1. Tarif atau bea cukai.
Tarif adalah pajak produk impor. Istilah Bea Cukai terdiri dari 2 kata: bea dan cukai. Meski
secara harfiah mirip, secara istilah keduanya memiliki arti masing-masing. Kita mulai dari bea.
Berasal dari bahasa Sansekerta, bea berarti ongkos. Bea dipakai sebagai istilah ongkos barang
yang keluar atau masuk suatu negara, yakni bea masuk dan bea keluar. Instansi pemungutnya
disebut pabean. Hal-hal yang terkait dengannya disebut kepabeanan. Nah, secara istilah,
kepabeanan berarti segala sesuatu yang terkait dengan pengawasan atas lalu lintas barang antar
negara. Secara filosofis dan historis memang demikian.
Filosofi adanya pabean memang pengawasan. Naluri pertahanan suatu negara atau entitas
kekuasaan tentu akan melakukan pengawasan terhadap apapun yang masuk ke dalam
wilayahnya. Tentu sang penguasa tidak ingin di wilayah kekuasaannya dimasuki barang-barang
yang dapat mengancam kekuasaannya. Senjata atau mesiu misalnya. Atau barang yang dapat
meracuni masyarakatnya, seperti alkohol atau candu. Dalam pada itu, sang penguasa juga ingin
menciptakan stabilitas ekonomi, dengan kontrol pasar, sekaligus meraup pendapatan. Di sinilah
bea dipungut. Kesemuanya, tentu, demi melindungi kepentingan nasional masing-masing.
Fungsi filosofis historis tadi tetap dipakai hingga kini di seluruh dunia. Dengan tetap
bertujuan melindungi kepentingan nasional masing-masing, ada negara yang lebih menggunakan
pabean sebagai alat pertahanan, ada yang cenderung ke finansial. Oleh karenanya, banyak negara
yang menjadikan pabean sebagai institusi militer atau keamanan, tak sedikit pula yang
menjadikannya di bawah departemen yang mengurusi keuangan. Di AS, pabean di bawah
Homeland Security Department. Di Hongaria, pabean adalah bagian dari militer. Yang di bawah
keuangan contohnya di negara kita sendiri. Namun mayoritas, termasuk yang beraliran
keuangan, pabean selalu dibekali kemampuan pertahanan negara atau penegakan hukum.
Mungkin terkecuali pabean Singapura.
Karena dilahirkan dari rahim pertahanan yang bernafaskan pengawasan, pabean
(Indonesia) semestinya memang tidak melulu dibebani target-target pemasukan keuangan
negara. Pabean harus lebih dikonsentrasikan untuk menjaga pintu negara dari barang-barang
yang mengancam kepentingan nasional.
2. Kuota.
Kuota membatasi banyak unit yang dapat diimpor untuk membatasi jumlah barang tersebut
di pasar dan menaikkan harga. Kuota adalah pembatasan secara fisik terhadap barang-barang
yang diperdagangkan secara Internasional. Kuota impor adalah pembatasan jumlah fisik yang
masuk ke dalam negeri dan Kuota ekspor adalah pembatasan jumlah fisik barang-barang yang
diekspor ke luar negeri. Sama halnya dengan tarif, Kuota juga di bagi menjadi beberapa bagian,
antara lain :
Absolute atau Unilateral Kuota adalah pembatasan yang hanya di lakukan untuk negara
sepihak, tidak melalui persetujuan dengan negara lain.
Negotiated atau Bilateral Kuota adalah Kuota yang besar kecilnya ditentukan berdasarkan
persetujuan dengan 2 negara atau lebih.
Tarif Kuota adalah gabungan antara tarif dan Kuota. Suatu barang yang dimasukkan ke dalam
negeri melebihi jumlah yang telah ditargetkan, maka tarifnya akan menjadi lebih mahal.
Mixing Kuota adalah pembatasan penggunaan bahan mentah yang diimpit pada proporsi
tertentu dalam memproduksi barang.
3. Subsidi.
Subsidi adalah bantuan pemerintah untuk produsen lokal. Subsidi dihasilkan dari pajak.
Bentuk-bentuk subsidi antara lain bantuan keuangan, pinjaman dengan bunga rendah dan lain-
lain.
4. Muatan lokal.

5. Kualitas Sumber Daya yang Rendah
Rendahnya kualitas tenaga kerja dapat menghambat perdagangan internasional.
Mengapa? Karena jika sumber daya manusia rendah,
maka kualitas dari hasil produksi akan rendah pula. Suatu negara yang memiliki kualitas barang
rendah, akan sulit bersaing dengan barang-barang yang dihasilkan oleh negara lain yang
kualitasnya lebih baik. Hal ini tentunya menjadi penghambat bagi negara yang bersangkutan
untuk melakukan perdagangan internasional.

6. Pembayaran Antarnegara Sulit dan Risikonya Besar
Pada saat melakukan kegiatan perdagangan internasional, negara pengimpor akan
mengalami kesulitan dalam hal pembayaran. Apabila
membayarnya dilakukan secara langsung akan mengalami kesulitan. Selain itu, juga mempunyai
risiko yang besar. Oleh karena itu negara pengekspor tidak mau menerima pembayaran dengan
tunai, akan tetapi melalui kliring internasional atau telegraphic transfer atau
menggunakan L/C.

7. Adanya Kebijaksanaan Impor dari Suatu Negara
Setiap negara tentunya akan selalu melindungi barang-barang hasil produksinya sendiri.
Mereka tidak ingin barang-barang produksinya tersaingi oleh barang-barang dari luar negeri.
Oleh karena itu, setiap negara akan memberlakukan kebijakan untuk melindungi barang-barang
dalam negeri. Salah satunya dengan menetapkan tarif impor. Apabila tarif impor tinggi maka
barang impor tersebut akan menjadi lebih mahal daripada barang-barang dalam negeri sehingga
mengakibatkan masyarakat menjadi kurang tertarik untuk membeli barang impor. Hal itu akan
menjadi penghambat bagi negara lain untuk melakukan perdagangan.

8. Terjadinya Perang
Terjadinya perang dapat menyebabkan hubungan antarnegara terputus. Selain itu, kondisi
perekonomian negara tersebut juga akan mengalami kelesuan. Sehingga hal ini
dapatmenyebabkan perdagangan antarnegara akan terhambat.

9. Adanya Organisasi-Organisasi Ekonomi Regional
Biasanya dalam satu wilayah regional terdapat organisasiorganisasi ekonomi. Tujuan
organisasi-organisasi tersebut untuk memajukan perekonomian negara-negara anggotanya.
Kebijakan serta peraturan yang dikeluarkannya pun hanya untuk kepentingan negaranegara
anggota. Sebuah organisasi ekonomi regional akan mengeluarkan peraturan ekspor dan impor
yang khusus untuk negara anggotanya. Akibatnya apabila ada negara di luar anggota organisasi
tersebut melakukan perdagangan dengan negara anggota akan mengalami kesulitan.

10. Peraturan administrasi.
Peraturan Administarsi adalah Hukum mengenai pemerintah/Eksekutif didalam
kedudukannya, tugas-tuganya, fungsi dan wewenangnya sebagai Administrator Negara.
11. Politik dumping
Politik Dumping adalah bilamana menjual suatu barang yang dinilainya lebih tinggi dari
harga beli, bila dijual di luar negeri maupun dalam negeri tetap mendapat untung. Adapun
beberapa motif dari Politik Dumping, yaitu antara lain:
1. Barang-barang yang diminati oeh negara asal, supaya dapat terjual di luar negeri.
2. Berebut pasaran Luar negeri.
3. Memperkenalkan suatu produk dalam negri ke negara lain.

12. Perbedaan mata uang
Pada umumnya mata uang setiap negara berbeda-beda. Perbedaan inilah yang dapat
menghambat perdagangan antarnegara. Negara yang melakukan kegiatan ekspor, biasanya
meminta kepada negara pengimpor untuk membayar dengan menggunakan mata uang negara
pengekspor. Pembayarannya tentunya akan berkaitan dengan nilai uang itu sendiri. Padahal nilai
uang setiap negara berbeda-beda. Apabila nilai mata uang negara pengekspor lebih tinggi
daripada nilai mata uang negara pengimpor, maka dapat menambah pengeluaran bagi negara
pengimpor. Dengan demikian, agar kedua negara diuntungkan dan lebih mudah proses
perdagangannya perlu adanya penetapan mata uang sebagai standar internasional..
Hambatan perdagangan mengurangi efisiensi ekonomi, karena masyarakat tidak dapat
mengambil keuntungan dari produktivitas negara lain. Pihak yang diuntungkan dari adanya
hambatan perdangan adalah produsen dan pemerintah. Produsen mendapatkan proteksi dari
hambatan perdagangan, sementara pemerintah mendapatkan penghasilan dari bea-bea.
Argumen untuk hambatan perdangan antara lain perlindungan terhadap industri dan
tenaga kerja lokal. Dengan tiadanya hambatan perdangan, harga produk dan jasa dari luar negeri
akan menurun dan permintaan untuk produk dan jasa lokal akan berkurang. Hal ini akan
menyebabkan matinya industri lokal perlahan-lahan. Alasan lain yaitu untuk melindungi
konsumen dari produk-produk yang dirasa tidak patut dikonsumsi, contoh: produk-produk yang
telah diubah secara genetika.
Di Indonesia, hambatan perdagangan banyak digunakan untuk membatasi impor pertanian dari
luar negeri untuk melindungi petani dari anjloknya harga loka


Pengertian / Definisi Ekspor dan Impor Serta Kegiatannya
Kegiatan menjual barang atau jasa ke negara lain disebut ekspor, sedangkan kegiatan membeli
barang atau jasa dari negara lain disebut impor, kegiatan demikian itu akan menghasilkan devisa
bagi negara.
Devisa merupakan masuknya uang asing kenegara kita dapat digunakan untuk membayar
pembelian atas impor dan jasa dari luar negeri.
Kegiatan impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
Produk impor merupakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan atau negara yang sudah
dapat dihasilkan,tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan rakyat.
A. Produk ekspor dan impor dari negara Indonesia
Secara umum produk ekspor dan impor dapat dibedakan menjadi dua yaitu barang migas dan
barang non migas. Barang migas atau minyak bumi dan gas adalah barang tambang yang
berupa minyak bumi dan gas. Barang non migas adalah barang-barang yangukan berupa
minyak bumi dan gas,seperti hasil perkebunan,pertanian,peternakan,perikanan dan hasil
pertambangan yang bukan berupa minyak bumi dan gas.
1. Produk ekspor Indonesia
Produk ekspor Indonesia meliputi hasil produk pertanian, hasil hutan, hasil perikanan, hasil
pertambangan, hasil industri dan begitupun juga jasa.
a. Hasil Pertanian
Contoh karet, kopi kelapa sawit, cengkeh,teh,lada,kina,tembakau dan cokelat.
b. Hasil Hutan
Contoh kayu dan rotan. Ekspor kayu atau rotan tidak boleh dalam bentuk kayu gelondongan atau
bahan mentah, namun dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi, seperti mebel.
c. Hasil Perikanan
Hasil perikanan yang banyak di ekspor merupakan hasil dari laut. produk ekspor hasil perikanan,
antara lain ikan tuna, cakalang, udang dan bandeng.
d. Hasil Pertambangan
Contoh barang tambang yang di ekspor timah, alumunium, batu bara tembaga dan emas.
e. Hasil Industri
Contoh semen, pupuk, tekstil, dan pakaian jadi.
f. Jasa
kebijakan
Pemerintah menyiapkan dua regulasi untuk mengatasi defisit transaksi berjalan yang terjadi
sepanjang tahun ini. Defisit transaksi berjalan disebabkan oleh besarnya total impor dibanding
ekspor.
Guna mengurangi arus impor, Kementerian Keuangan akan mengeluarkan dua Peraturan Menteri
Keuangan (PMK) yakni tentang Pengenaan PPh Pasal 22 Atas Impor Barang Tertentu, dan Fasilitas
Pembebasab dan Pengembalian Bea Masuk atas Impor untuk Tujuan Ekspor (KITE).
Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, dua regulasi tersebut merupakan bagian dari tindak
lanjut regulasi yang telah dikeluarkan sebelumnya sebagai bagian dari kebijakan ekonomi untuk
memberikan stimulus nasional. Kali ini, kebijakan tersebut diperlukan untuk merespon tekanan
pada neraca perdagangan dengan cara meredam impor barang-barang tertentu.
"Ini membuat ekspor impor menjadi simpel," kata Chatib di Kantor Kementerian Keuangan
(Kemenkeu) Jakarta, Senin (9/12).
Adapun pokok dari kebijakan tersebut adalah, menyesuaikan tarif pemungutan PPh 22 atas impor
barang-barang tertentu dari semulau 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Kriteria impor barang tertentu
yang menjadi sasaran pengenaan tarif PPh 22 impor yang lebih tinggi adalah bukan barang yang
digunakan untuk industri dalam negeri untuk menjaga produksitvitas industri dalam negeri, dan
merupakan barang konsumtif dengan nilai impor yang signifikan dan tidak memberikan dampak
besar kepada inflasi.
Selanjutnya, berdasarkan kriteria di atas, barang impor yang terkena tarif PPh 22 impor yang lebih
tinggi meliptuti 502 jenis barang berdasarkan kode Buku Tarif Kepabeanan Indonesia (BTKI).
Kelompok barang tersebut meliputi antara lain elektronik dan handphone, kendaraan bermotor
(kecuali CKD/IKD, Hibrid/Listrik, dan kendaraan berpenumpang lebih dari sepuluh), tas, baju, alas
kaki, dan perhiasan termasuk parfum serta furniture, perlengkapan rumah tangga dan mainan.
Adapun dampak yang diharapkan dari PMK ini, lanjut Chatib, adalah untuk pengendalian impor
atas barang tertentu, penurunan tenakan defisit neraca perdagangan serta mendorong industri
dalam negeri untuk meningkatkan produksi barang sebagai subtitusi impor barang. "Sekarang
pengenaan PPh 22 sebesar 7,5 persen berlaku untuk semua importir yang masuk kelompok. Tidak
ada pembedaan perlakuan terhadap importir yang memiliki API atau tidak memiliki," ungkapnya.
Selain itu dalam rangka mendorong ekspor, mengurangi defisit neraca perdagangan, memperkuat
daya saing perusahaan, dan meningkatkan investasi terutama pada sektor-sektor industri yang
melakukan kegiatan ekspor, perlu diberikan stimulus fiskal dan optimalisasi otomasi pada
pelayanan/pengawasan/perizinan atas fasilittas pembebasan dan pengembalian bahan baku yang
diimpor untuk diproduksi dengan tujuan dieskpor atau yang lebih dikenal dengan fasilitas KITE.
Pokok-pokok kebijakan yang mengalami perubahan adalah penambahan jenis insentif fiskal.
Perubahan kebijakan dibidang fiskal yaitu adanya fasilitas pembebasan yang sebelumnya hanya
mendapatkan fasilitas bea masuk, saat ini ditambah dengan fasilitas Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
atau PPN dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) tidak dipungut.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan kebijakan kemudahan dibidang perizinan dan pelayanan
fasilitas KITE meliputi penyederhanaan persyaratan dan penerapan otomasi pengajuan perizinan
untuk memperoleh fasilitas pembebasan atau pengembalian, perluasan objek fasilitas yaitu meliputi
semua bahan baku dan bahan penolong yang digunakan untuk proses produksi dalam rangka ekspor
sehingga dapat mengurangi biaya produksi perusahaan.
Kemudian, penyederhanaan prosedur pelayanan impor dan ekspor di mana dimungkinkan
mengimpor barang KITE bersama-sama dengan barang impor non KITE serta mengekspor barang
KITE bersama-sama dengan barang ekspor perusahaan KITE lainnya sehingga dapat diharapkan
mengurangi biaya dan waktu impor/ekspor.
Dua regulasi ini, lanjut Chatib, masih menunggu pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM.
Dan dipastikan akan berlaku 60 hari sejak aturan tersebut diundangkan. "Sekarang masih
menunggu pengesahan dari Kemenkumham," jelasnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian MS. Hidayat mengatakan pihaknya telah melakukan dialog
bersama 1500 perusahaan eksportir guna membahas regulasi tersebut. Pertemuan tersebut
bertujuan untuk mencari jalan keluar atas defisit neraca transaksi berjalan dan merumuskannya
dalam regulasi.
"Kita sudah melakukan dialog denga 1500 eksportir untuk mencari jalan keluar permasalahan defisit
current account. Hasilnya dengan cara membuat regulasi yang tidak menghambat tapi sangat
terseleksi dan mendorong," kata Hidayat.
Salah satu pokok kebijakan tersebut adalah menghilangkan restitusi atau pajak impor barang yang
bisa diambil kembali saat proses ekspor barang jadi. Sektor maufaktur akan terbantu atas regulasi
tersebut. Tentunya, lanjutnya, akan meningkatkan ekspor.
E. Kebijakan dalam Perdagangan Internasional
Setiap negara akan melindungi perekonomian di dalam negerinya dan
pengaruh pelaksanaan perdagangan internasional. OIeh karena itu, ada
beberapa kebijakan yang akan diarnbil oleh setiap negara. Kebijakan ini
berkaitan dengan proteksi (perlindungan) industri dalam negeri karena
pengaruh perdagangan internasional tersebut. Kebijakan-kebijakan tersebut,
antara lain tarif, kuota, larangan ekspor, larangan impor, subsidi, premi,
diskriminasi harga, dan dumping.
1. Tarif
Tarif adalah pembebanan pajak atau custom duties terhadap barang
yang melewati baras suatu negara. Tarif dapat dikenakan terhadap barang
impor ataupun ekspor. Akan tetapi, dalam analisis ekonomi, tarif impor lebih
penting dan pada tarifekspor.
Ada beberapa macam penggolongan tarif, antara lain sebagai berikut :
a. Bea ekspor (export duties) adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap
barang yang diangkut menuju ke negara lain.
b. Bea transito (transit duties) adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap
barang yang hanya melewati negara tersebut karena tujuan akhirnya negara
lain (sebagai transit).
c. Bea impor (impor duties) adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap
barang yang masuk dalam daerah pabean suatu negara dengan ketentuan
bahwa negara tersebut sebagai tujuan akhir.
Pembebanan tarifatas suatu barang dapat menimbulkan pengaruh
terhadap perekonomian suatu negara, khususnya terhadap pasar barang yang
dikenai tarif tersebut. Pengenaan tarif terhadap barang-barang impor biasanya
ditujukan Untuk melindungi produksi barang sejenis yang dihasilkan di dalam
negeri.
Pengaruh pembebanan terhadap harga barang impor dapat
digambarkan dalam kurva berikut :




Keterangan :
OP merupakan harga produsen di luar negeri sebelum ada pembebanan tarif
OQ1 merupakan jumlah produksi dalam
OQ4 negeri besarnya konsumsi dalam negeri
Q1Q4 besarnya impor barang-barang dan luar negeri
PP1 merupakan besarnya tarif atas barang impor
OP1 besarnya harga barang di dalam negeri setelah adanya tarif impor
Setelah adanya tanif produksi dalasn negeri dapat bersaing dengan
barang impor. Harga barang-barang impor menjadi mahal, sehingga produksi
dalam negeri meningkat Q1Q2. Karena harga barang impor yang mahal,
konsumen mengurangi konsumsinya sebesar QO4. Luas segi empat GHIJ
merupakan penerimaan pemerintah dan tarif barang-barang impor.

2. Kuota
Kuota adalah pembatasan jumlah barang yang boleh masuk (kuota
impor) dan jumlah barang yang boleh keluar (kuota ekspor). Kuota yang
diterapkan oleh pemerintah biasanya dilakukan dengan cara
memperkenankan impor ataupun ekspor suatu barang dengan jumlah yang
dibatasi.

a. Kuota Impor
Beberapa jenis kuota impor, antara lain sebagai berikut :
1) Absolute atau unilateral quota adalah kuota yang besar kecilnya ditentukan
sendiri oleh suatu negara tanpa persetujuan dan negara lain.
2) Negotiated atau bilateral quota adalah kuota yang besar kecilnya ditenrnkan
berdasarkan Perjanjian antara dua negara atau lebih yang terlibat dalam
perdagangan.
3) Tarif quota adalah gabungan antara tarif dan kuota. Untuk barang-barang
tertentu jumlahnya dibedakan dan diizinkan masuk atau keluar tetapi
dikenakan tarif yang tinggi.
4) Mixing quota adalah pembatasan penggunaan bahan mentah yang diimpor
dengan proporsi tertentu dalam rangka melaksanakan produksi barang akhir.
Pembatasan mi bertujuan mendorong perkembangan industri di dalam negeri.
Adanya kuota impor berarti barang-barang impor di pasaran tersedia
terbatas. Hal tersebut berarti barang-barang sejenis yang dihasilkan di dalarn
negeri dapat bersaing. Jika digambarkan dalam bentuk kurva akan tampak
seperti berikut :

Keterangan :
QQ1 besarnya produksi dalam negeri sebelum ada kuota impor
QQ4 besarnya konsumsi dalam negeri sebelum ada kuota impor
Q1Q1 besarnya impor barang dan luar negeri sebelum ada kuota impor
OP harga barang sebelum ada kuota impor
Q2Q3 besarnya impor barang yang diperkenankan pemerintah setelah kuota
OP1 harga barang dalam negeri setelah adanya kuota impor
OQ2 besarnya produksi dalam negeri setelah adanya kuota impor
OQ3 besarnya konsumsi setelah adanya kuota impor
Segiempat BCEF keuntungan yang diperoleh pedagang pengimpor setelah
adanya kuota.

b. Kuota Ekspor
Kuota ekspor yang diterapkan oleh setiap negara memiliki beberapa tujuan
, antara lain :
1) mencegah barang-barang yang penting agar tidak jatuh ke negara yang
dianggap berbahaya;
2) menjamin ketersediaan barang di dalam negeri dalam jumlah yang cukup;
3) mengadakan pengawasan produksi serta pengendalian harga dalam
menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.
Kuota ekspor biasanya dikenakan terhadap bahan mentah yang
merupakan komoditas perdagangan penting.

3. Larangan Ekspor
Larangan ekspor adalah kebijakan pemerintah dalam perdagangan
internasional yang tidak memperbolehkan ekspor barang dan dalam ke luar
wilayah pabean suatu negara. Misalnya, ekspor pasir laut Indonesia ke
Singapura dilarang karena menimbulkan kerusakan Iingkungan yang merugikan
negara.

4. Larangan Impor
Larangan impor merupakan kebalikan dan larangan ekspor, yaitu suatu
kebijakan dalam perdagangan dengan cara melarang membeli barang dan
luar negeri untuk melindungi dan mengembangkan industri dalam negeri.
Misalnya, larangan mengimpor beras, bawang putih, dan gula pasir. Jika
barang-barang (komoditas) tersebut tidak dilindungi, petani padi, bawang,
dan tebu akan mendenita kerugian yang besar.
Apabila digambarkan dalam bentuk kurva, pengaruh larangan impon
terhadap harga barang akan tampak seperti berikut :

Keterangan :
OQ besarnya produksi dalam negeri sebelum ada larangan impor
Q1Q3 besarnya impor barang sebelum ada larangan
OQ3 besarnya konsumsi barang sebelum ada larangan impor
OP tingkat harga barang sebelum ada larangan impor
OQ2 besarnya produksi dalam negeri setelah ada larangan impor
OQ2 besarnya barang setelah ada larangan impor karena tidak ada
barang impor di pasar (impor = 0)
OP1 tingkat harga barang setelah ada larangan impor
Dengan adanya larangan impor, produsen dalam negeri dapat menjual
barang lebih banyak dan dengan harga yang Iebih tinggi.

5. Subsidi
Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan yang
memproduksi, menjual, mengekspor, atau pun mengimpor barang dan jasa
untuk memenuhi hajat hidup orang banyak. Dengan subsidi, harga jual suatu
barang dapat terjangkau oleh masyarakat. Maksud diberikannya subsidi
adalah agar para produsen dalam negeri menjual barangnya dengan harga
yang lebih murah sehingga bisa bersaing dengan barang-barang impor. Subsidi
ini dapat berupa
a. uang yang diberikan secara Iangsung (nominal rupiah);
b. subsidi per unit produksi.
Pengaruh subsidi biaya produksi dalam negeri terhadap barang-barang
impor dapat digambarkan dalam kurva berikut.

Keterangan :
QQ2 Besarnya produksi dalam negeri sebelum ada subsidi
Q1Q3 Besarnya impor barang sebelum ada subsidi untuk produksi dalam negeri
OQ3 Besarnya konsumsi barang di dalam negeri
OP Tingkat harga sebelum ada subsidi
BC Besarnya subsidi yang diberikan pemerintah sehingga kurva penawaran
bergeser dari So ke S
OQ2 Besarnya produksi dalam negeri setelah adanya subsidi
Q2Q3 Besarnya impor barang setelah ada subsidi untuk produksi dalam negeri
PP1BC Besarnya subsidi total yang diberikan kepada produsen dalam negeri
Setelah ada subsidi, harga barang tetap sebesar OP dan jumlah konsumsi
barang juga tetap sebesar OQ2.
6. Premi
Premi dalam kebijakan perdagangan internasional berupa kemudahan-
kemudahan yang diberikan oleh pemerintah kepada perusahaan daiam
meningkatkan ekspornya. Misalnya, penghargaan untuk kualitas barang yang
memenuhi standar kualitas ekspor, penyederhanaan prosedur ekspor, biaya
ekspor yang murah, dan penyediaan fasilitas pelabuhan ekspor yang
memadai.

7. Diskriminasi Harga dan Dumping
Salah satu kebijakan dalam perdagangan inrernasional yang cukup
banyak mendapar sorotan adalah dumping. Kebijakan ini merupakan salah
satu benruk diskriminasi harga. Suaru negara dikatakan melakukan damping
jika mengekspor hasil produksinya ke suatu negara dengan harga yang lebih
rendah daripada harga di dalam negeri.
Misalnya, Jepang menjual mobil-mobilnya ke Indonesia dengan harga
yang murah, padahal harga mobil dengan merek dan tipe yang sama di
Jepang sendiri harganya mahal. Kebijakan menaikkan harga di dalam negeri
ini biasanya dirujukan unruk menutupi kerugian yang mungkin terjadi di luar
negeri.
Dalam menjalankan kebijakan ini, harus memenuhi persyararan-
persyararan rerrenru, anrara lain sebagai berikut :
a. Kekuatan monopoli di dalam negeri lebih besar daripada di luar negeri atau
dengan kata lain bahwa kurva permintaan di dalam negeri relatif kurang elastis
dibandingkan dengan luar negeri yang keadaan pasarnya persaingan
sempurna.
b. Konsumen di dalam negeri tidak dapat membeli barangnya dan luar negeri.

F. Devisa
Devisa merupakan total valuta asing yang dimiliki oleh pemerintah dan
swasta. Dengan memerhatikan pengertian devisa, yaitu kekayaan terhadap
negara lain maka devisa mempunyai beberapa fungsi, antara lain sebagai
berikut :
1. sebagai alat pembayaran luar negeri;
2. sebagai jaminan utang;
3. sebagai jaminan impor;
4. alat ukur kemampuan negara dalam melakukan transaksi internasional.
Sumber-sumber devisa berasal dan penerimaan Jun negeri, antara lain
sebagai berikut :
1. penerimaan hasil minyak dan gas bumi;
2. pinjaman luar negeri;
3. jasa pengangkutan ke luar negeri;
4. penerimaan bunga obligasi asing;
5. pengirirnan tenaga kerja Indonesia (TIC) ke luar negeri;
6. penjualan kayu hutan ke luar negeri.
Besarnya cadangan devisa suatu negara dapat diketahui melalui neraca
pembayaran internasional (balance of payment). Makin besar cadangan
devisa yang dimiliki oleh pemerintah dan penduduk suatu negara, makin besar
Icemampuan negara tersebut dalam melakukan transaksi ekonomi dan
keuangan internasional dan makin kuat pula nilai mata uang negara tersebut.
Cadangan devisa dapat dikelompokkan menjadi dua sebagai berikut :
1. Cadangan devisa resmi atau official foreign exchange reserve, yaitu
cadangan devisa milik negara yang dikelola, dikuasai, diurus, dan
ditatausahakan oleh Bank Indonesia.
2. Cadangan devisa nasional atau country foreign exchange reserve, yaitu
seluruh devisa yang dimiliki oleh perorangan, badan, atau lembaga terutama
perbankan yang secara moneter merupakan kekayaan nasional (termasuk miik
bank umum nasional).
Beberapa kebijakan pengaruran sistem devisa yang pernah dilaksanakan
di Indonesia, antara lain sebagai berikut :


1. Sistem Devisa Kontrol
Sistem in diterapkan di Indonesia berdasarkan UU No. 32 Tahun 1964. Pada
wakru direrapkan undang-undang ini, devisa dikelompokkan menjadi dua,
yaitu devisa hasil ekspor (DHE) dan devisa umum (DU). Sesuai dengan undang-
undang yang berlaku pada saat ini, setiap perolehan devisa wajib diserahkan
kepada negara.

2. Sistem Devisa Semikontrol
Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan Perpu No. 64 Tahun 1970.
Perolehan DHE wajib diserahkan kepada Bank Indonesia dan penggunaannya
juga harus mendapat izin dari Bank Indonesia, sementara untuk DU dapat
secara bebas diperoleh dan dipergunakan. Administrasi perolehan dan
penggunaan DHE dilanjutkan oleh Bank Indonesia, sementara Lalu lintas devisa
untuk jenis DU mulai tidak dapat diadministrasikan dan dipantau secara baik.

3. Sistem Devisa Bebas
Sistem ini diterapkan di Indonesia berdasarkan PP No. 1 Tahun 1982.
Dengan peraturan ini, setiap penduduk dapat bebas memiliki dan
menggunakan devisa. Hal itu berlaku untuk semua jenis devisa, baik bentuk DHE
maupun DU. Tidak ada pengaturan mengenai kewajiban bagi penduduk untuk
melaporkan devisa yang diperoleh dan tujuan penggunaannya. Kebebasan
sistem devisa ini kemudian diartikan sistem devisa tidak wajib lapor.

4. Penegasan Sistem Devisa Bebas
Undang-Undang No.24 Tahun 1999 tentang Lalu Lintas Devisa dan Sistem
Nilai Tukar yang diberlakukan pada tanggal 17 Mel 1999. Dalam undang-
undang ini ditegaskan bahwa setiap penduduk dapat dengan bebas memiliki
dan menggunakan devisa. Undang-undang tersebut juga menegaskan
kewajiban bagi setiap penduduk untuk memberikan keterangan dan data
mengenai kegiatan lalu lintas devisa
yang dilakukannya, baik secara
Iangsung maupun melalui pihak lain
yang diterapkan oleh Bank Indonesia.
Diatur pula kewenangan Bank
IndonesIa unruk menetapkan
ketentuan atas berbagai jenis nansaksi
devisa yang dilakukan oleh bank
dalam rangka penerapan prinsip
kehati-hatian dalam pelaksanaan
kebijakan devisa di Indonesia.
Jika dibuatkan bagannya, penerapan sistem devisa yang pernah berlaku
di Indonesia, seperti disamping.
Perkembangan Ekspor NonMigas (Komoditi) Periode : 2009-2014
(Nilai : Juta US$)
N
O
H
S
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
Tren
d(%)
2009
-
2013
Perub.
(%)
2013/
2012
Peran
.(%)
2013
Jan-Peb
Perub.
(%)
2014/
2013
Peran
.(%)
2014 2013 2014
1.
2
7
BAHAN BAKAR
MINERAL
13.9
34,0
18.72
5,7
27.44
4,1
26.40
7,8
24.78
0,3
16,13 -6,16 16,53
4.18
7,2
3.56
3,9
-14,89 14,93
2.
1
LEMAK &
MINYAK
12.2 16.31 21.65 21.29 19.22
12,45 -9,74 12,82
3.61 3.25
-9,92 13,62
N
O
H
S
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
Tren
d(%)
2009
-
2013
Perub.
(%)
2013/
2012
Peran
.(%)
2013
Jan-Peb
Perub.
(%)
2014/
2013
Peran
.(%)
2014 2013 2014
5 HEWAN/NABA
TI
19,5 2,2 5,3 9,8 4,9 0,7 2,4
3.
4
0
KARET DAN
BARANG DARI
KARET
4.91
2,8
9.373
,3
14.35
2,2
10.47
5,2
9.394
,2
15,12 -10,32 6,27
1.56
4,6
1.39
3,3
-10,95 5,84
4.
8
5
MESIN/PERLA
TAN LISTRIK
8.02
0,4
10.37
3,2
11.14
5,4
10.76
4,8
10.43
8,4
5,80 -3,03 6,96
1.78
2,0
1.60
5,6
-9,90 6,73
5.
2
6
BIJIH, KERAK,,
DAN ABU
LOGAM
5.80
4,8
8.148
,0
7.342
,6
5.082
,6
6.544
,1
-2,29 28,75 4,37
922,
9
300,
9
-67,40 1,26
6.
8
4
MESIN-
MESIN/PESA
WAT
MEKANIK
4.72
1,7
4.986
,7
5.749
,5
6.103
,1
5.968
,5
6,94 -2,21 3,98
924,
6
1.05
3,7
13,97 4,41
7.
4
8
KERTAS/KART
ON
3.35
7,3
4.186
,2
4.169
,4
3.937
,2
3.756
,6
1,65 -4,59 2,51
584,
9
622,
3
6,38 2,61
8.
6
2
PAKAIAN JADI
BUKAN
RAJUTAN
3.13
2,8
3.611
,0
4.149
,7
3.749
,2
3.906
,2
4,90 4,19 2,61
686,
5
693,
1
0,97 2,90
9.
2
9
BAHAN KIMIA
ORGANIK
1.67
2,4
2.690
,1
3.815
,9
2.811
,5
2.760
,2
11,03 -1,82 1,84
427,
1
589,
5
38,02 2,47
1
0.
7
4
TEMBAGA
2.36
7,1
3.305
,8
3.810
,7
1.886
,2
1.737
,6
-
11,13
-7,88 1,16
332,
7
244,
1
-26,62 1,02
1
1.
3
8
BERBAGAI
PRODUK
KIMIA
1.21
4,9
1.874
,5
3.665
,3
3.846
,4
3.816
,1
35,09 -0,79 2,55
609,
6
719,
5
18,03 3,01
N
O
H
S
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
Tren
d(%)
2009
-
2013
Perub.
(%)
2013/
2012
Peran
.(%)
2013
Jan-Peb
Perub.
(%)
2014/
2013
Peran
.(%)
2014 2013 2014
1
2.
6
1
BARANG-
BARANG
RAJUTAN
2.52
8,0
2.889
,9
3.541
,1
3.439
,8
3.481
,4
8,48 1,21 2,32
577,
5
575,
3
-0,38 2,41
1
3.
4
4
KAYU,
BARANG DARI
KAYU
2.34
1,2
2.936
,0
3.374
,9
3.448
,5
3.634
,9
10,97 5,40 2,42
534,
2
646,
7
21,07 2,71
1
4.
8
7
KENDARAAN
DAN
BAGIANNYA
1.95
7,8
2.899
,9
3.328
,6
4.856
,9
4.567
,2
24,73 -5,96 3,05
772,
4
798,
2
3,34 3,34
1
5.
6
4
ALAS KAKI
1.73
6,1
2.501
,8
3.301
,9
3.524
,6
3.860
,4
21,42 9,53 2,57
621,
5
636,
8
2,48 2,67
1
6.
7
1
PERHIAASAN/
PERMATA
1.19
1,8
1.456
,5
2.593
,5
3.234
,3
2.751
,3
28,03 -14,93 1,84
417,
1
860,
0
106,2
0
3,60
1
7.
5
5
SERAT STAFEL
BUATAN
1.48
3,5
2.075
,2
2.545
,9
2.260
,9
2.327
,8
10,37 2,96 1,55
368,
2
378,
5
2,80 1,59
1
8.
3
9
PLASTIK DAN
BARANG DARI
PLASTIK
1.77
1,7
2.150
,1
2.513
,7
2.487
,3
2.602
,8
9,58 4,64 1,74
399,
9
446,
2
11,58 1,87
1
9.
0
3
IKAN DAN
UDANG
1.70
9,5
2.015
,6
2.439
,5
2.751
,4
2.854
,7
14,30 3,75 1,90
376,
6
475,
7
26,32 1,99
2
0.
8
0
TIMAH
1.26
8,0
1.734
,6
2.438
,7
2.132
,2
2.129
,2
13,24 -0,14 1,42
433,
8
238,
3
-45,06 1,00
2
1.
7
3
BENDA-
BENDA DARI
BESI DAN
BAJA
1.14
1,2
1.468
,0
1.905
,8
2.042
,4
2.152
,0
17,34 5,37 1,44
327,
2
396,
7
21,24 1,66
N
O
H
S
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
Tren
d(%)
2009
-
2013
Perub.
(%)
2013/
2012
Peran
.(%)
2013
Jan-Peb
Perub.
(%)
2014/
2013
Peran
.(%)
2014 2013 2014
2
2.
9
4
PERABOT,
PENERANGAN
RUMAH
1.71
1,1
2.021
,9
1.822
,2
1.899
,4
1.873
,6
1,20 -1,36 1,25
328,
7
318,
7
-3,05 1,33
2
3.
0
9
KOPI, TEH,
REMPAH-
REMPAH
1.25
3,0
1.428
,8
1.676
,5
2.087
,5
1.948
,7
13,45 -6,65 1,30
272,
1
215,
1
-20,96 0,90
2
4.
4
7
BUBUR
KAYU/PULP
868,
8
1.468
,9
1.557
,7
1.547
,0
1.845
,8
16,87 19,32 1,23
268,
7
263,
5
-1,93 1,10
2
5.
5
4
FILAMEN
BUATAN
1.02
6,9
1.227
,9
1.449
,0
1.392
,9
1.256
,7
5,44 -9,77 0,84
204,
7
205,
8
0,50 0,86
2
6.
7
2
BESI DAN
BAJA
853,
9
1.101
,5
1.352
,7
875,1 652,4 -7,39 -25,45 0,44
130,
0
140,
0
7,69 0,59
2
7.
1
8
KAKAO/COKLA
T
1.41
3,4
1.643
,6
1.345
,3
1.053
,4
1.151
,5
-8,19 9,31 0,77
156,
4
199,
7
27,68 0,84
2
8.
7
5
NIKEL
584,
1
1.435
,9
1.218
,0
993,3 941,6 6,04 -5,21 0,63
179,
4
144,
6
-19,39 0,61
2
9.
8
9
KAPAL LAUT
1.08
0,2
1.137
,0
1.197
,5
818,6 942,5 -5,84 15,14 0,63
523,
9
130,
1
-75,17 0,54
3
0.
7
6
ALUMINIUM
527,
0
771,8 869,4 783,7 693,4 5,80 -11,53 0,46
122,
9
116,
5
-5,20 0,49
3
1.
3
4
SABUN DAN
PREPARAT
PEMBERSIH
567,
5
642,4 832,0
1.032
,6
1.056
,5
18,74 2,31 0,70
165,
7
167,
9
1,30 0,70
3
2.
5
2
KAPAS
524,
8
749,7 811,0 710,7 825,5 8,90 16,16 0,55
123,
7
147,
6
19,34 0,62
N
O
H
S
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
Tren
d(%)
2009
-
2013
Perub.
(%)
2013/
2012
Peran
.(%)
2013
Jan-Peb
Perub.
(%)
2014/
2013
Peran
.(%)
2014 2013 2014
3
3.
1
6
DAGING DAN
IKAN OLAHAN
540,
5
545,0 745,0 844,7 991,2 17,95 17,35 0,66
160,
8
165,
3
2,80 0,69
3
4.
2
4
TEMBAKAU
595,
6
672,6 710,1 794,2 931,4 11,19 17,28 0,62
159,
2
170,
2
6,88 0,71
3
5.
9
0
PERANGKAT
OPTIK
520,
9
553,8 625,1 728,7 727,4 9,88 -0,18 0,49
123,
7
139,
3
12,62 0,58
3
6.
2
8
BAHAN KIMIA
ANORGANIK
375,
3
470,7 607,0 599,5 486,7 7,91 -18,81 0,32
113,
2
58,4 -48,43 0,24
3
7.
3
3
MINYAK
ATSIRI,
KOSMETIK
WANGI-
WANGIAN
341,
2
468,8 591,4 584,5 604,1 14,61 3,36 0,40 91,4
104,
5
14,35 0,44
3
8.
1
9
OLAHAN DARI
TEPUNG
307,
1
443,0 556,1 573,8 646,9 19,11 12,74 0,43 89,8
101,
5
13,07 0,43
3
9.
9
2
PERANGKAT
MUSIK
365,
6
450,8 536,1 543,7 535,2 9,96 -1,56 0,36 73,4 90,5 23,29 0,38
4
0.
2
1
BERBAGAI
MAKANAN
OLAHAN
238,
5
378,7 535,3 681,2 664,1 30,15 -2,51 0,44
104,
8
117,
0
11,64 0,49
4
1.
2
3
AMPAS/SISA
INDUSTRI
MAKANAN
246,
7
343,4 503,3 624,7 736,0 32,11 17,82 0,49
119,
0
150,
1
26,12 0,63
4
2.
7
0
KACA &
BARANG DARI
KACA
352,
5
431,7 438,7 415,5 388,5 1,58 -6,51 0,26 57,7 54,6 -5,35 0,23
N
O
H
S
Uraian 2009 2010 2011 2012 2013
Tren
d(%)
2009
-
2013
Perub.
(%)
2013/
2012
Peran
.(%)
2013
Jan-Peb
Perub.
(%)
2014/
2013
Peran
.(%)
2014 2013 2014
4
3.
0
8
BUAH-
BUAHAN
261,
2
297,9 435,6 401,9 418,1 13,20 4,04 0,28 68,1 94,4 38,57 0,40
4
4.
3
1
PUPUK
222,
8
360,4 433,0 549,4 677,2 30,28 23,28 0,45
127,
3
103,
5
-18,73 0,43
4
5.
3
0
PRODUK
INDUSTRI
FARMASI
213,
0
306,8 386,1 433,2 442,8 19,83 2,21 0,30 61,7 66,0 7,05 0,28
4
6.
6
9
PRODUK
KERAMIK
267,
2
341,3 375,5 344,6 341,9 5,15 -0,79 0,23 54,3 61,8 13,79 0,26
4
7.
9
5
MAINAN
251,
5
368,2 360,0 451,2 545,1 19,12 20,83 0,36 68,2 74,2 8,85 0,31
4
8.
4
2
BARANG-
BARANG DARI
KULIT
178,
4
246,4 292,1 324,7 338,1 16,81 4,13 0,23 58,1 50,5 -13,02 0,21
4
9.
3
2
SARI BAHAN
SAMAK &
CELUP
215,
4
270,6 291,2 330,2 351,0 12,48 6,28 0,23 53,8 57,7 7,22 0,24
5
0.
6
3
KAIN PERCA
180,
7
215,2 279,3 384,1 332,2 19,69 -13,52 0,22 58,7 50,1 -14,65 0,21

LAINNYA
2.92
0,6
3.230
,3
3.903
,5
3.697
,0
3.883
,9
7,30 5,05 2,59
589,
9
626,
0
6,13 2,62

NON MIGAS
97.4
91,7
129.7
39,5
162.0
19,6
153.0
43,0
149.9
18,8
10,80 -2,04
100,0
0
25.1
69,9
23.8
75,6
-5,14
100,0
0
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian Perdagangan
Perkembangan Impor Menurut Gol. Barang Periode : 2009-2014
(Nilai : Juta US$)
N
O
Sektor 2009 2010 2011 2012 2013
Trend(
%)
2009-
2013
Perub.(
%)
2013/20
12
Jan-Mar Perub.(
%)
2014/20
13
2013 2014

TOTAL
96.829
,2
135.66
3,3
177.43
5,6
191.68
9,5
186.62
8,7
18,03 -2,64
45.650
,6
43.245
,2
-5,27
I.
BARANG
KONSUMSI
6.752,
6
9.991,6
13.392,
9
13.408,
6
13.138,
9
17,65 -2,01
2.833,
7
2.966,
5
4,69
1.
Makanan
Dan
Minuman
(Belum
diolah)
Untuk
Rumah
Tangga
955,6 1.166,9 1.847,8 1.541,4 1.385,6 10,75 -10,11 211,2 372,3 76,28
2.
Makanan
Dan
Minuman
(Olahan)
Untuk
Rumah
Tangga
1.367,
3
2.439,6 3.626,1 2.836,9 2.443,0 14,02 -13,89 471,4 551,7 17,03
3.
Bahan
Bakar Dan
Pelumas
(Olahan)
591,2 970,3 1.625,5 1.435,3 1.350,9 22,68 -5,88 341,2 309,0 -9,44
4.
Mobil
Penumpang
451,2 918,1 1.029,0 1.515,3 1.192,4 27,70 -21,31 384,2 246,2 -35,92
5.
Alat
Angkutan
Bukan
228,3 254,3 286,7 350,3 386,1 14,69 10,22 65,5 88,0 34,35
N
O
Sektor 2009 2010 2011 2012 2013
Trend(
%)
2009-
2013
Perub.(
%)
2013/20
12
Jan-Mar Perub.(
%)
2014/20
13
2013 2014
Untuk
Industri
6.
Barang
Konsumsi
Tahan Lama
818,3 1.075,0 1.288,3 1.584,7 1.599,5 18,87 0,94 330,5 340,1 2,90
7.
Barang
Konsumsi
Setengah
Tahan Lama
941,1 1.367,7 1.774,2 1.953,9 2.164,0 22,41 10,75 447,2 487,4 8,99
8.
Barang
Konsumsi
Tidak Tahan
Lama
1.189,
4
1.541,5 1.699,0 1.926,5 2.165,1 15,27 12,39 488,3 461,3 -5,53
9.
Barang
Yang Tidak
Diklasifikasi
kan
210,3 258,2 216,5 264,4 452,2 16,82 71,04 94,2 110,5 17,30
II.
BAHAN
BAKU
PENOLONG
69.638
,1
98.755,
1
130.93
4,3
140.12
6,0
141.95
7,9
19,41 1,31
35.106
,4
33.066
,5
-5,81
1.
Makanan
dan
Minuman
(Belum
Diolah)
Untuk
Industri
2.640,
9
3.074,8 4.186,7 4.101,0 4.354,4 13,75 6,18 792,3
1.109,
5
40,04
2.
Makanan
dan
Minuman
1.582,
0
2.165,8 3.330,2 3.349,3 3.685,2 23,70 10,03 818,6 855,9 4,56
N
O
Sektor 2009 2010 2011 2012 2013
Trend(
%)
2009-
2013
Perub.(
%)
2013/20
12
Jan-Mar Perub.(
%)
2014/20
13
2013 2014
(Olahan)
Untuk
Industri
3.
Bahan Baku
(Belum
Diolah)
Untuk
Industri
2.901,
7
4.539,3 6.813,2 5.639,7 6.299,3 19,33 11,70
1.517,
3
1.363,
5
-10,14
4.
Bahan Baku
(Olahan)
Untuk
Industri
29.248
,8
41.714,
3
53.409,
6
59.437,
0
58.353,
6
18,95 -1,82
14.292
,9
13.326
,8
-6,76
5.
Bahan
Bakar Dan
Pelumas
(Belum
Diolah)
7.387,
3
8.553,5
11.173,
5
10.853,
3
13.673,
1
15,83 25,98
3.365,
6
3.473,
0
3,19
6.
Bahan
Bakar
Motor
5.135,
1
8.464,6
11.962,
4
14.061,
7
14.839,
2
30,08 5,53
3.852,
8
3.744,
5
-2,81
7.
Bahan
Bakar Dan
Pelumas
(Olahan)
5.750,
5
9.270,0
15.771,
2
15.835,
5
14.977,
2
27,76 -5,42
3.856,
5
3.516,
8
-8,81
8.
Suku
Cadang Dan
Perlengkap
an Barang
Modal
11.000
,0
14.815,
6
16.937,
8
18.126,
1
16.803,
3
11,06 -7,30
4.291,
0
3.889,
9
-9,35
N
O
Sektor 2009 2010 2011 2012 2013
Trend(
%)
2009-
2013
Perub.(
%)
2013/20
12
Jan-Mar Perub.(
%)
2014/20
13
2013 2014
9.
Suku
Cadang Dan
Perlengkap
an Alat
Angkutan
3.991,
9
6.157,0 7.349,7 8.722,3 8.972,6 21,75 2,87
2.319,
4
1.786,
6
-22,97
III.
BARANG
MODAL
20.438
,5
26.916,
6
33.108,
4
38.154,
8
31.531,
9
12,93 -17,36
7.710,
5
7.212,
2
-6,46
1.
Barang
Modal
Kecuali Alat
Angkutan
13.311
,8
18.777,
0
23.660,
1
26.659,
3
26.128,
2
18,52 -1,99
6.278,
4
6.218,
7
-0,95
2.
Mobil
Penumpang
451,2 918,1 1.029,0 1.515,3 1.192,4 27,70 -21,31 384,2 246,2 -35,92
3.
Alat
Angkutan
Untuk
Industri
6.675,
5
7.221,6 8.419,3 9.980,2 4.211,3 -5,80 -57,80
1.047,
9
747,3 -28,69
Sumber: BPS, Processed by Trade Data and Information Center, Ministry of Trade