Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM ANORGANIK

PERCOBAAN 5
ELEKTROLISIS GARAM ALKALI






Nama : Lailatul Badriyah
NIM : 121810301036
Kelompok : 05
Asisten : Eka Y





LABORATORIUM ANORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014






I. Judul Percobaan : ELEKTROLISIS GARAM ALKALI
II. Tujuan Percobaan
- Mahasiswa memahami cara menguraikan senyawa
- Mahasiswa dapat menerapkan konsep elektrokimia sebagai sebagai salah satu
cara untuk menguraikan senyawa
III. Metodologi Percobaan
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
- Pipa U
- Gabus
- Elektroda karbon
- Korek api kayu
- Power supply
- Kabel
- Pipet tetes
3.1.2 Bahan
- Larutan NaNO
3
0,5M
- Larutan NaCl 0,5M
- Indikator PP
III. Skema Kerja
3.1 Proses elektrolisis












Larutan NaNO
3
0,5M

- Dimasukkan ke dalam pipa U sampai kurang lebih 2 cm dari mulut
pipa
- Ditutup dengan gabus yang telah diberi elektroda karbon
- Dihubungkan kedua elektroda dengan kabel
- Diset beda potensial sampai 3 volt menggunakan power supply
- Dilakukan elektrolisis selama 20 menit
- Dicatat fenomena yang terjadi
- Diuji dengan korek api yang menyala di setiap mulut pipa
- Ditetesi indikator PP untuk masing-masing pipa
- Diulangi prosedur 1-8 dengan menggunakan larutan NaCl 0,5M

Hasil

IV. Pembahasan
4.1 Hasil
Larutan Perlakuan Perubahan yang terjadi Gambar
Katoda Anoda
NaNO
3
0,5M

Proses elektrolisis Terdapat
banyak
gelembung
Terdapat
sedikit
gelembung

Uji bara api Terbentuk
asap yang
paling
banyak (
nyala
apinya
lama)
Terbentuk
asap yang
paling
sedikit (
nyala
apinya
sebentar)

Indikator PP Berubah
warna
menjadi
ungu
Berubah
warna
menjadi
ungu

NaCl 0,5 M Proses elektrolisis Terdapat
sedikit
gelembung
Terdapat
banyak
gelembung

Uji bara api Terbentuk
asap yang
paling
sedikit(
nyala
apinya
Terbentuk
asap yang
paling
banyak (
nyala
apinya

sebentar) lama)
Indikator PP Berubah
warna
menjadi
ungu
Tidak
berubah
warna dan
terbentuk
endapan


4.2. Pembahasan
Percobaan kali ini membahas tentang elektrolisis. Percobaan ini bertujuan agar
pratikan mampu menerapkan konsep elektrokimia sebagai salah satu cara untuk menguraikan
suatu senyawa. Elektrolisis sendiri merupakan proses penguraian zat oleh arus listrik searah
(DC, Direct Current) pada sel elektrolisis. Sel elektrolisis merupakan sel elektrokimia yang
melibatkan kondisi reaksi redoks yang berlangsung tidak spontan dan memerlukan arus listrik
dari luar agar reaksi tersebut dapat terjadi (Respati, 2000).
Elektrolisis adalah proses yang menggunakan energi listrik agar reaksi kimia non
spontan dapat terjadi. Hal ini berlawanan dengan reaksi redoks spontan, yang menghasilkan
perubahan energi kimia menjadi energi listrik.Terdapat 3 faktor yang dapat mempengaruhi
proses elektrolisis, antara lain:
1. Jenis elektroda yang digunakan
2. Kedudukan ion dalam sel elektrokimia
3. Kepekatan ion
(Chang, 2003).
Suatu reaksi dikatakan tidak spontan jika reaksi tersebut membutuhkan gangguan dari
luar untuk bereaksi serta energi Gibbsnya bernilai positif. Proses elektrolisis dapat digunakan
untuk menguraikan senyawa dengan menggunakan arus listrik searah. Muatan katoda pada sel
elektrolisis adalah negatif sedangkan anodanya bermuatan positif. Prinsip kerja sel elektrolisis
yaitu dengan mengalirkan arus listrik atau elektron pada anoda sehingga menyertai pelepasan
elektron pada spesi teroksidasi, lalu terus mengalir ke daerah katoda. Anoda bermuatan lebih
positif karena ditinggal elektron, sehingga ion negatif cenderung bergerak ke daerah anoda.
Elektron yang mengalir ke katoda dapat digunakan untuk proses reduksi spesi katoda. Katoda
bermuatan lebih negatif karena didatangi elektron, sehingga ion positif cenderung
termobilisasi ke daerah katoda (Achmadi, 1991)..
Percobaan pertama dilakukan proses elektrolisis pada larutan elektrolit Na
2
CO
3
.
Proses ini dilakukan dengan menggunakan dua buah elekroda grafit sebagai elektroda inert
yang tidak terlibat reaksi yang kemudian dihubungkan dengan arus listrik. Adapun larutan
Na
2
CO
3
terdisosiasi dalam air sebagai kation Na
+
dan anion CO
3
2-
menurut persamaan reaksi
pelarutan berikut:
Na
2
CO
3
(s) 2 Na
+
(aq) + CO
3
2-
(aq)
Jadi yang bereaksi adalah kation Na
+
, anion CO
3
2-
, dan air dan nilai potensial reduksi dari
spesi-spesi tersebut antara lain:
Na
+
(aq) + e
-
Na (s) E
0
= - 2,71 V
2H
2
O (l) + 2 e
-
H
2
(g) + 2OH
-
(aq) E
0
= - 0,83 V
2H
2
O (l) O
2
(g) + 4H
+
(aq) + 4 e
-
E
oks

= -1,23 V
Spesi yang mengalami reduksi di katoda adalah spesi yang mempunyai potensial reduksi lebih
positif yaitu reduksi yang terjadi pada air sedangkan spesi yang mengalami oksidasi di anoda
adalah spesi yang mempunyai potensial reduksi lebih negatif, jadi oksidasi terjadi pada air
karena ion karbonat (CO
3
2-
)

dianggap bersifat tidak stabil dan dapat dengan mudah berubah
menjadi CO
2
tanpa butuh arus listrik. Berdasarkan nilai potensial yang terlibat, maka reaksi
yang paling mungkin terjadi adalah sebagai berikut.
Katoda : 4H
2
O (l) + 4 e
-
2H
2
(g) + 4OH
-
(aq) E
red
= - 0,83 V
Anoda : 2H
2
O (l) O
2
(g) + 4H
+
(aq) + 4 e
-
E
oks

= - 1,23 V
Total : 6 H
2
O(l) 2H
2
(g) + 4 H
2
O (aq) + O
2
(g) E
sel
= - 2,06 V
Pada percobaan ini potensial sel yang diberikan sebesar 3 V yang melebihi ambang batas
yang dibutuhkan E
sel
yaitu 2,06 V, sehingga reaksi elektrolisis dapat berjalan.
Berdasarkan literatur hasil elektrolisis dari larutan Na
2
CO
3
adalah terbentuknya
gelembung gas H
2
pada katoda dan gelembung gas O
2
pada anoda. Pembuktian adanya kedua
gas ini dilakukan dengan uji nyala. Berdasarkan hasil praktikum pada katoda terbentuk asap
yang lebih banyak namun cepat habis. Hal ini disebabkan gas H
2
yang terbentuk mudah
terbakar dengan O
2
yang menghasilkan air oleh karena itu mengakibatkan suplai O
2
berkurang
dan terbentuknya air membuat asap cepat hilang atau jika terbentuk nyala api, apinya cepat
padam. Pembakaran gas H
2
bersifat sangat eksoterm dan akan menghasilkan kobaran api yang
besar sesuai persamaan reaksi berikut:
2H
2
(g) + O
2
(g) 2H
2
O (l)
Berbeda halnya dengan katoda pada anoda asap yang terbentuk lebih sedikit dan cenderung
lebih lama habisnya hal tersebut menunjukkan terbentuknya gas O
2
yang dihasilkan pada
anoda sehingga membuat reaksi pembakaran berlangsung sempurna yang menyebabkan
nyala korek api (asap) pada anoda akan lebih lama.
+
Perlakuan berikutnya yaitu uji dengan indikator pp. Uji dengan indicator PP dilakukan
dengan cara menetesi indicator PP pada masing-masing mulut pipa U. Berdasarkan literatur
pada anoda larutan tetap tidak berwarna hal ini dikarenakan pada hasil reaksi di anoda
teerdapat ion H
+
, sedangkan pada katoda terjadi perubahan warna larutan menjadi ungu (pink)
karena terdapat ion OH
-
pada hasil reaksi di katoda. Berdasarkan hasil praktikum katoda dan
anoda sama-sama berubah warna menjadi pink namun warna yang dihasilkan oleh katoda
lebih pekat dibandingkan anoda. Kesalahan ini dapat disebabkan oleh beberapa hal salah
satunya yaitu pada anoda masih terbentuk air belum terurai mnjadi gas O
2
dan H
2
secara
sempurna.
Percobaan berikutnya yaitu proses elektrolisis pada larutan NaCl . Prosedur yang
dilakukan sama dengan proses elektrolisis pada larutan yang berbeda yaitu Na
2
CO
3
. Pada
katoda, terjadi persaingan antara air dengan ion Na
+
. Berdasarkan Tabel Potensial Standar
Reduksi, air memiliki Ered yang lebih besar dibandingkan ion Na
+
hal ini menunjukkan air
lebih mudah tereduksi dibandingkan ion Na
+
oleh sebab itu, spesi yang bereaksi di katoda
adalah air. Tabel Potensial Standar Reduksi juga menunjukkan nilai Ered ion Cl
-
dan air
hampir sama oleh karena itu oksidasi air memerlukan potensial tambahan (overvoltage), maka
oksidasi ion Cl
-
lebih mudah dibandingkan oksidasi air jadi spesi yang bereaksi di anoda
adalah ion Cl
-
. Berikut ini adalah reaksi yang terjadi pada elektrolisis larutan garam NaCl
adalah sebagai berikut :
NaCl (aq) Na
+
(aq) + Cl
-
(aq)
Katoda (-) : 2 H
2
O(l)

+ 2 e
-
H
2
(g)

+ 2 OH
-
(aq) E=0,41v
Anoda (+) : Cl
-
(aq)

Cl
2
(g)

+ e
-
E= -1,36v

Reaksi sel : 2 H
2
O(l)

+ Cl
-
(aq)

H
2
(g) + Cl
2
(g)

+ 2 OH
-
(aq) E= -0,95v
Fenomena yang terjadi ketika dilakukan elektrolisis yaitu terdapat banyak gelembung (gas
Cl
2
)

pada anoda, sedangkan pada katoda dihasilkan sedikit gelembung (gas H
2
).
Uji bara api dan uji dengan indikator pp juga dilakukan untuk proses elektrolisis
garam NaCl. Fenomena yang terjadi pada katoda yaitu nyala api lebih cepat habis atau
menghasilkan asap yang sedikit (gas H
2
), sedangkan pada anoda asap yang dihasilkan leih
banyak(gas Cl
2
). Gas Cl
2
menghasilkan asap yang lebih banyak karena Cl
2
cenderung
mengikat O
2
sehingga gas O
2
yang berkurang akibat berikatan dengan Cl
2
.
Uji dengan indikator PP memberikan hasil yaitu pada katoda berubah warna menjadi
pink dan pada anoda tidak terjadi perubahan. Pada katoda terjadi perubahan warna larutan
menjadi ungu (pink) karena terdapat ion OH
-
pada hasil reaksi di katoda.


VI. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan antara lain:
a. Elektrolisis merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menguraikan
senyawa.
b. Sel elektrolisis merupakan sel elektrokimia yang melibatkan kondisi reaksi redoks
yang berlangsung tidak spontan dan memerlukan arus listrik dari luar agar reaksi
tersebut dapat terjadi.
c. Spesi yang mengalami reduksi di katoda adalah spesi yang mempunyai potensial
reduksi lebih positif, spesi yang mengalami oksidasi di anoda adalah spesi yang
mempunyai potensial reduksi lebih negatif, atau potensial oksidasi lebih positif.
VII. Daftar Pustaka
- Achmadi. 1991. Ilmu Kimia. Jakarta: Erlangga.
- Chang, Raymoon. 2003. Kimia Dasar Konsep-konsep Inti Edisi Ketga Jilid 2. Jakarta:
Erlangga.
- Koordinator praktikum anorganik I. 2014. Petunjuk Praktikum Kimia Anorganik I tahun
2014. Jember: Universitas Jember
- Raspati, D. 2000.General Chemistry2
th
Edition. Buitenzorg: Doe Idenn Crp.