Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KEUANGAN SISTEM

DU PONT
Posted by: Maafkan Aku Bila Mencintamu.. on: 1 Oktober 2011
In: ALK
Tinggalkan sebuah Komentar
Pengertian Laporan Keuangan
Dalam upaya untuk membuat keputusan yang rasional, pihak ekstern perusahaan maupun
pihak intern perusahaan seharusnya menggunakan suatu alat yang mampu menganalisis
laporan keuangan yang disajikan oleh perusahaan yang bersangkutan. Di bawah ini
merupakan pengertian laporan keuangan dari beberapa ahli, antara lain :
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, dalam buku Analisis Laporan Keuangan
(2002:63), Laporan Keuangan adalah laporan yang diharapkan bisa memberi informasi
mengenai perusahaan, dan digabungkan dengan informasi yang lain, seperti industri, kondisi
ekonomi, bisa memberikan gambaran yang lebih baik mengenai prospek dan risiko
perusahaan.
Dalam Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Laporan Keuangan adalah :
Laporan yang menggambarkan dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang
diklasifikasikan dalam beberapa kelompok besar menurut karakteristik ekonominya. (IAI,
2002 : par 47)
Menurut Sofyan S. Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:105),
laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha
suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Laporan Keuangan adalah
:
1. Merupakan produk akuntansi yang penting dan dapat digunakan untuk membuat
keputusan-keputusan ekonomi bagi pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan.
2. Merupakan potret perusahaan, yaitu dapat menggambarkan kinerja keuangan maupun
kinerja manajemen perusahaan, apakah dalam kondisi yang baik atau tidak.
3. Merupakan rangkaian aktivitas ekonomi perusahaan yang diklasifikasikan, pada periode
tertentu.
4. Merupakan ringkasan dari suatu proses transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama
periode yang bersangkutan.
Macam Macam Laporan Keuangan
Analisis laporan keuangan melibatkan penggunaan berbagai macam laporan keuangan yang
terdiri atas bagian tertentu mengenai suatu informasi yang penting. Sebenarnya laporan
keuangan banyak macamnya, namun yang akan penulis bahas di sini hanyalah laporan
keuangan yang pokok saja, yaitu neraca dan laporan rugi laba.
1 Laporan Neraca
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, dalam buku Analisis Laporan Keuangan
(2002:63), Neraca adalah laporan yang meringkas posisi keuangan suatu perusahaan pada
tanggal tertentu. Neraca menampilkan sumber daya ekonomis (asset), kewajiban ekonomis
(hutang), modal saham, dan hubungan antar item tersebut.
Menurut Sofyan S. Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:107),
Laporan Neraca, yang disebut juga dengan laporan posisi keuangan perusahaan, adalah
laporan yang menggambarkan posisi aktiva, kewajiban dan modal pada saat tertentu.
Neraca itu sendiri mempunyai elemen-elemen antara lain sebagai berikut :
1. Aktiva (Assets, Harta)
Aktiva adalah sumber-sumber ekonomi yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Aktiva biasanya
terdiri dari :
1. Aktiva Lancar
Meliputi kas dan aktiva lain yang dapat diharapkan untuk dicairkan atau ditukarkan dengan
uang tunai. Aktiva lancar disajikan di neraca berdasarkan urutan likuiditasnya, dimulai dari
akun yang paling likuid. Yang termasuk dalam aktiva lancar, yaitu kas, surat berharga,
piutang usaha, persediaan barang dagangan, dan lainnya.
2. Aktiva Tetap
Merupakan aktiva tetap perusahaan yang secara fisik tidak dapat dinyatakan dan biasanya
memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi mengenai manfaatnya dimasa yang akan dating.
Aktiva tetap antara lain : peralatan, mesin, bangungan, dan lainnya.
3. Aktiva Lain-Lain
Pos-pos yang tidak dapat secara layak digolongkan ke dalam aktiva lancar maupun aktiva
tetap perusahaan, antara lain : hak paten, nama baik ( goodwill ), dan lainnya.
4. Hutang ( Liabilities )
Hutang adalah kewajiban-kewajiban yang harus dilunasi oleh suatu perusahaan. Hutang
biasanya terbagi menjadi :
a. Hutang Lancar
adalah kewajiban-kewajiban yang harus segera dilunasi oleh perusahaan dengan penggunaan
aktiva lancar atau dengan pembentukan kewajiban lancar lainnya dalam jangka waktu tidak
lebih dari satu tahun. Yang termasuk hutang lancar adalah hutang dagang, hutang gaji, hutang
biaya, serta hutang lancar lainnya.
b. Hutang Jangka Panjang
Adalah kewajiban-kewajiban yang tidak diharapkan untuk segera dilunasi dalam siklus
operasi normal perusahaan, tetapi pengembaliannya dilakukan dalam jangka waktu lebih dari
satu tahun. Yang termasuk hutang jangka panjang adalah hutang hipotek, hutang obligasi,
dan hutang jangka panjang lainnya.
5. Modal
Modal pada hakikatnya adalah hak pemilik perusahaan atas kekayaan perusahaan. Yang
termasuk elemen dalam modal antara lain modal saham, laba ditahan, dan elemen modal
lainnya.
Bentuk Penyajian Neraca
Menurut Sofyan S.Harahap (2006:112), dalam menyajikan neraca dapat dibagi dalam tiga
bentuk sebagai:
1. Bentuk Neraca Staffel atau Report Form
Neraca ini dilaporkan satu halaman vertical. Disebelah atas dicantumkan total aktiva dan
dibawahnya disajikan pos kewajiban dan pos modal.
2. Bentuk Neraca Skontro atau Account Form
Disini aktiva disajikan di sebelah kiri ( di Inggris, di kanan) dan kewajiban serta modal
ditempatkan disebelah kanan, sehingga penyajiannya sebelah menyebelah.
3. Bentuk Yang menyajikan posisi Keuangan (Financial Position form)
Dalam bentuk ini, posisi keuangan tidak dilaporkan sepeti dalam bentuk sebelumnya yang
berpedoman pada persamaan akuntansi.Dalam bentuk ini, pertama-tama dicantumkan aktiva
lancar dikurangi hutang lancar, dan hasil pengurangannya diketahui sebagai modal kerja.
Modal kerja ditambah aktiva tetap dan aktiva lainnya, kemudian dikurangi hutang jangka
panjang maka akan diperoleh modal pemilik.
Laporan Laba Rugi
Menurut A.J. Keown, dkk, dalam buku Dasar-dasar Manajemen Keuangan, yang
diterjemahkan oleh Chaerul D. Djakman (2004:80), laporan rugi laba adalah laporan utnuk
periode tertentu yang terdiri atas penerimaan bersih dikurangi beban periode itu.
Menurut Sofyan S.Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:73),
Laba rugi menggambarkan hasil yang diperoleh atau diterima oleh perusahan selama satu
periode tertentu, serta biaya-biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan hasil tersebut. Hasil
dikurangi biaya-biaya merupakan laba atau rugi. Kalau hasil lebih besar dari biaya berarti
laba,sebaliknya, kalau hasil lebih kecil dari biaya-biaya, berarti rugi.
Menurut Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, dalam buku Analisa Laporan Keuangan
(2002:56), Laporan LabaRugi adalah lebih meringkaskan hasil dari kegiatan perusahaan
selama periode akuntansi tertentu.
Laporan Laba/Rugi sendiri punya elemen-elemen antara lain sebagai berikut :
1. Pendapatan
Adalah aliran masuk atau kenaikan aktiva suatu perusahan atau penyelesaian kewajiban
(kompensasi keduanya) selama periode tertentu, yang timbul dari penjualan barang-barang,
penyerahan jasa, dan elemen pendapatan lainnya.
2. Biaya
Adalah kenaikan dalam ekuitas atau penggunaan selama periode tertentu yang timbuln dari
penjualan barang, penyerahan jas, dan lainnya.
3. Keuntungan
Adalah kenaikan dalam aktiva bersih yang timbul dari transaksi-transaksi atau kejadian lain
dank arena kondisi-kondisi yang mempengaruhi aktiva bersih.
4. Kerugian
Adalah penurunan dari aktiva bersih yang timbul dari trnsaksi-transaksi atau kegiatan lain
dan kondisi yang mempengaruhi aktiva bersih.
Kelemahan Laporan Keuangan
Menurut Sofyan S. Harahap, dalam buku Analisa Kritis atas Laporan Keuangan (2006:17),
kelemahan laporan keuangan diantaranya sebagai berikut :
1. Laporan Keuangan bersifat Historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah
lewat, bukan masa kini
2. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai
pertimbangan
3. Laporan keuangan bersifat konservatif dalm menghadapi ketidakpastian
4. Laporan Keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa/ transaksi
daripada bentuk hukumnya (Formalitas)
5. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis dan pemakai laporan
keuangan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang
dilaporkan
6. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifikasikan, umumnya
diabaikan.
Pengertian Analisis Laporan Keuangan
Analisis keuangan adalah usaha untuk menemukan kelemahan kinerja keuangan yang dapat
menimbulkan masalah dimasa yang akan datang dan untuk menentukan kekuatan kinerja
keuangan yang dapat diandalkan. Peralatan analisis yang digunakan untuk menemukan
kelemahan dan kekuatan tersebut adalah laporan keuangan yang mencakup neraca, laporan
laba rugi, aliran kas serta laporan sumber dan penggunaan dana (Martin, 2002:481).
Analisis keuangan melibatkan penggunaan berbagai laporan keuangan, yaitu (1) Neraca
merupakan ringkasan aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada satu titik tertentu, biasanya
pada akhir tahun. (2) Laporan Laba Rugi terditi dari penghasilan dan biata perusahaan pada
periode waktu tertentu, biasanya untuk satu tahun takwim. Dari kedua laporan tersebut,
beberapa laporan turunan dapat dihasilkan seperti laporan laba ditahan, laporan sumber dan
penggunaan dana dan laporan arus kas (Van Horne and Wachowichz, 2004:128).
Laporan Keuangan yang pengertiannya dapat dilihat pada keterangan sebelumnya dapat
dianalisis melalui banyak cara. Sebelum melangkah lebih jauh, analisis laporan keuangan
dapat didefinisikan bermacam-macam. Menurut Sofyan S.Harahap (2006:189), analisis
laporan keuangan terbagi menjadi dua yaitu, analisis dan laporan keuangan. Kata analisis
adalah memecahkan atau menguraikan suatu unit menjadi berbagai unit terkecil. Sedangkan
laporan keuangan adalah laporan yang menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha
suatu perusahaaan pada ssat tertentu atau jangka waktu tertentu.
Sehingga dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa analisis laporan keuangan adalah
menguraikan pos-pos laporan keuangan maenjadi unit informasi yang lebih kecil dan melihat
hubungannya yang bersifat signifikan atau yang mmpunyai makna antar satu dengan yang
lain antara data kuantitatif maupun data non kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui
kondisi keuangan lebih dalam yang sangat penting dalam proses menghasilkan putusan yang
tetap.
Tujuan dan Macam-macam Analisis Laporan Keuangan
Menurut Sofyan S. Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:18),
salah satu tugas penting setelah akhir tahun adalah menganalisa laporan keuangan perusahan.
Analisa ini didasarkan pada laporan keuangan yang sudah disusun. Tujuan analisa laporan
keuangan adalah sebagai berikut:
1. Screening
Analisa dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui situasi dan kondisi perusahaan dari
laporan keuangan taanpa pergi langsung ke lapangan.
2. Understanding
Memahami perusahan, kondisi keuangan dan hasil usahanya
3. Forecasting
Analisa dilakukan untuk meramalkan kondisi keuangan perusahaan dimas yang akan datang
4. Diagnosis
Analisa dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya masalah-masalah yang terjadi, baik
dalam manajemen, operasi, keuangan atau masalah-masalah lain dalam perusahaan.
5. Evaluation
Analisa dilakukan utnuk menilai prestasi manajemen dalam mengelola perusahaan
Disamping tujuan tersebut di atas, analisa laporan keuangan juga dapat digunakan untuk
menilai kewajaran laporan keuangan yang disajikan.
Dengan melakukan analisa laporan keuangan, maka informasi yang dibaca dari laporan
keuangan akan menjadi lebih luas dan lebih dalam. Hubungan satu pos dengan pos lainnya
akan dapat menjadi indicator-indikator tentang posisi dan prestasi keuangan perusahaan, serta
menunjukan kebenaran penyusunsan laporan keuangan.
Analisa laporan keuangan dibagi oleh banyak ahli berbagai macam bentuk. Diantaranya
mengemukakan beberapa tehnik analisis sebagai berikut :
1. Cross Sectional Tehnique
1.1 Common Size Statement (Laporan bentuk awam)
1.2 Analisa rasio
1. Time series Tehnique
2. Trend Statement
2.2 Analisa Laporan Keuangan
2.3 Ukuran Variabilitas
1. Gabungan Laporan Keuangan dengan Non Keuangan
3.1 Informasi Pasar Produk
3.2 Informasi Pasar Modal
Kelemahan Analisis Laporan Keuangan
Seperti semua yang ada di dunia, karena tidak ada yang sempurna, analisis laporan keuangan
pun demikian. Analisa laporan keuangan mempunyai beberapa kelemahan yang akan
dijelaskan lebih lanjut oleh beberapa ahli.
Menurut Sofyan S. Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:152),
ada beberapa kelemahan analisa laporan keuangan, diantaranya sebagai beriktu :
1. Analisa laporan keuangan didasarkan pada laporan keuangan. Oleh karena itu, kelemahan
laporan keuangan harus selalu diingat, agar kesimpulan dari analisa yang dilakukan itu tidak
salah.
2. Objek analisa laporan keuangan hanya laporan keuangan.
3. Objek analisa laporan keuangan adalah data histories yang menggambarkan masa lalu dan
kondisi ini bias berbeda dengan kondisi atau keadaan masa depan.
4. Laporan keuangan hasil konsolidasi atau hasil konversi mata uang asing perlu mendapat
perhatian tersendiri, karena perbedaan bias saja timbul karena masalah kurs konversi atau
metode konsolidasi.
5. Kelemahan analisa laporan keuangan
Tehnik analisa rasio merupakan sebagian dari konsep analisa laporan keuangan. Tehnik
analisa rasio memiliki kelemahan sebagai berikut :
1. Rasio diambil dari data akuntansi yang juga memiliki sifat tersendiri yang harus diketahui,
dan memerlukan tafsiran tersendiri. Dan Bukan tidak mungkin data akuntansi itu sendiri
mengandung data manipulasi atau kesalahan lainnya. Perbedaan yang sama-sama boleh
dalam akuntansi misalnya perbedaan metode penyusutan akan memberikan data keuangan
yang berbeda, penilaian persediaan, periode akuntansi, dan lain-lain.
2. Dalam menilai suatu rasio baik atau buruk, analisis harus hati-hati. Turn Over yang tinggi
belum tentu baik. Mungkin perusahaan melakukan obral besar-besaran dan cenderung mau
bangkrut atau mungkin jenis perusahaannya berbeda. Rasio Turn Over untuk supermarket
berbeda sekali dengan perusahaan dealer mobil mewah.
3. Membandingkan dengan Industrial Ratio (yagn belum ada di Indonesia) harus hati-hati.
Karena banyak trick yang digunakan manajemen untuk memperbaiki rasio.
4. Harus juga disadari bahwa laporan keuangan yang dianalisa tidak menggambarkan
perubahan nilai uang dan tenaga belinya.
5. Hati-hati terhadap kemungkinan adnaya window dressing, income smoothing atau laporan
konsolidasi.
Alat Pengukur Kinerja Keuangan
Kinerja keuangan perusahaan adalah hasil dari banyak keputusan individual yang dibuat
secara terus menerus oleh manajemen (Helfert, 2003:67). Untuk menilai kinerja perusahaan
perlu dilibatkan analisis dampak keuangan kumulatif dan ekonomi dari keputusan, dan
mempertimbangkannya dengan menggunakan ukuran komparatif.
Alat kinerja keuangan yang hingga saat ini masih banyak digunakan adalah rasio keuangan,
seperti Return On Equity (ROE), Return On Assets (ROA), atau Return On Investment
(ROI). Analisis Rasio Keuangan sangat bermanfaat bagi stakeholder, yaitu dalam hal : (1)
Memberikan dasar dalam meramalkan prospek perusahaan pada masa yang akan dating, (2)
Memberikan petunjuk atau gejala gejala yang timbul dari informasi yang disajika, dan (3)
Memudahkan dalam menginterprestasikan laporan keuangan (Miswanto, 2003:81). Jika
dicermati secara seksama penilaian kinerja dengan menggunakan rasio keuangan
mengandung keterbatasan yang sangat fundamental. Beberapa keterbatasan tersebut antara
lain : (1) Rasio Keuangan tidak disesuaikan dengan tingkat harga, (2) Rasio Keuangan sulit
digunakan sebagai pembanding antar perusahaan sejenis jika terdapat perbedaan metode
akuntansinya dan (3) Rasio Keuangan hanya menggambarkan kondisi sesaat, yaitu pada
tanggal laporan keuangan dan periode pelaporan keuangan (Munawir, 2002:65).
Rasio Keuangan adalah suatu bentuk rumusan matematis yang menunjukkan hubungan
diantara variable variable yang terdapat dalam laporan keuangan (Miswanto, 2003:81).
Dalam analisis rasio keuangan terdapat beberapa kategori yang terdiri dari rasio likuiditas,
solvabilitas, profitabilitas, aktivitas dan nilai pasar. Khusus rasio nilai pasar ini berlaku untuk
perusahaan yang sudah go public.
Pengambilan Keputusan
Setiap tindakan yang dilakukan orang sebenarnya sudah melalui proses pengambilan
keputusan. Proses pengambilan keputusan ini didasarkan pada informasi. Dalam proses
pengambilan keputusan yang baik, peranan model dan informasi sangat penting. Semakin
banyak dan akurat informasi mestinya semakin baik keputusan yang diambil. Dalam dunia
bisnis, keputusan yang salah akan menghasilkan kerugian bagi perusahaan. Sedangkan
keputusan yang benar akan menghasilkan keuntungan (laba) bagi perusahaan.
Menurut Sofyan S. Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:39),
Pengambilan Keputusan adalah Proses memilih satu alternatif daari beberapa alternatif yang
ada. Pengambilan keputusan ini harus dapat dilakukan oleh semua orang dalam perusahaan
jika kita ingin perusahaan menjadi besar.
Kesulitan Dalam Pengambialan Keputusan
Pengambilan keputusan ini sangat sulit karena beberapa sifat, factor atau keadaan yang
melingkupinya yang dijelaskan sebagai berikut :
1. Certainly: Kemungkinan akibat yang akan timbul diketahui pasti. Misalnya jika
dimasukkan bahan yang salah produksi pasti rusak.
2. Risk: Kemungkinan akibatnya diketahui tetapi tidak jumlah nilainya. Misalnya
memproduksi barang jenis baru.
3. Uncertainly: Kemungkinan yang timbul tidak diketahui dan tidak pasti, alternative, dan
akibatnya juga serba tidak pasti. Misalnya membuka perusahaan (bisnis lain yang baru).
Penulis lain mencatat beberapa kesulitan mengambil keputusan ini yaitu :
1. Variabel serba tidak pasti, karna menyangkut persoalan kini dan yang akan datang;
2. Lingkungan yang terus berubah dan tidak pasti;
3. Input dan output juga tidak pasti;
4. Kompleksitas lingkungan;
5. Dinamika masyarakat;
6. Persaingan dan;
7. Risiko yang ada;
Metode Pengambilan Keputusan
Menurut Sofyan S. Harahap, dalam buku Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan (2006:41),
Untuk mengambila keputusan dapat menggunakan metode sebagai berikut :
1. Rational Model
Dalam metode ini kita menggunakan pendekatan rasional dan akal, bukan berdasarkan
subyektif.
2. Behavioral Model
Dalam metode ini pengambilan keputusan diambil jika informasi tidak lengkap dan jika pun
ada mungkin tidak akurat.
3. Irrational Model
Keputusan dibuat cepat, seperti gerakan refleksi, dengan menggunakan media subyektif yang
ada dan terus dicari alasan rasionalnya belakangan.
Prosedur Pengambilan Keputusan
Proses pengambilan keputusan adalah kegiatan memilih tindakan yang tepat dari beberapa
alternative yang dianggap tepat untuk menyelesaikan suatu persoalan. Umumnya proseddur
yang sebaiknya diikuti dalam proses pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1. Penetapan sasaran atau tujuan yang akan dicapai.
2. Perincian tujuan dalam pola atau kelompok yang operasional.
3. Menyusun tindakan alternatif (courses of Actions) yang akan dipilih, untuk mewujudkan
tujuan yang ditetapkan.
4. Menilai masing-masing tindakan alternatif tersebut.
5. Memilih tindakan yang terbaik sebagai keputusan sementara.
6. Menginventarisasikan akibat-akibat sampingan yang tidak baik dari keputusan sementara
itu.
7. Menetapkan keputusan sementara menjadi keputusan terakhir dengan menyusun rencana
pelaksanaan (rencana implementasi).
Pengertian analisis keuangan system Du Pont
Menurut Bambang Riyanto, dalm bukunya Dasar-dasar pembelanjaan perusahaan yang sering
disebut sebagai Du Pont System adalah suatu system analisis yang dimaksudkan untuk
menunjukan hubungan antara Return On Investment, Assets Turn Over , dan Profit
Margin. ROI adalah rasio keuntungan neto sesudah pajak dengan jumlah investasi (aktiva)
sehingga dalam Du Pont System diperhitungkan juga bnga dan pajak.
Menurut J. C. Van Horne & J. M. Wachowicz, Jr, dalam buku prinsip-prinsip Manajemen
Keuangan, yang diterjemahkan oleh Heru Sutojo, Sistem Du Pont adalah system yang
menggunakan pendekatan tertentu terhadap analisis rasio untuk mengevaluasi efektifitas
perusahaan.
Menurut Sofyan S . Harahap, dalam buku Analisa Kritis Laporan Keuangan, Du Pont
memiliki cara sendiri dalm menganalisa laporannya. Caranya hamper sama dengan analisa
laporan keuangan biasa, namun pendektannya lebih integrative dan menggunakan komposisi
laporan keuangan sebagai elemen analisisnya.
Menurut Mamduh M. Hanafi & Abdul Halim (2002:90), Analisa Du Pont adalah analisis
yang menghubungkan tiga macam rasio sekaligus, yaitu ROI, Profit Margin & Asset Turn
Over.
Menurut A. J. Keown, dkk (2004:102), analisa du Pont adalh system rasio keuangan yang
dirancang untuk menyelidiki determninan rasio pengembalian ekuitas pemegang saham dan
pengembalian aktiva

Menggunakan DuPont Analysis untuk Memahami Karakteristik Industri
Posted on November 28, 2010 by parahita






3 Votes


Pada tahun 1920-an, DuPont Corporation mempelopori salah satu metoda analisa kinerja
perusahaan yang sampai dengan saat ini dikenal dengan nama DuPont Analysis.
Intinya, analisa DuPont dilakukan dengan memecah return on equity (ROE) menjadi
beberapa bagian. Mengapa ROE? ROE menggambarkan besarnya rate of return yang
didapatkan oleh pemegang sahamnya. Dengan memecah perhitungan ROE, kita dapat
mengetahui bagaimana suatu bisnis mendapatkan keuntungan.
Seperti yang kita ketahui formula ROE adalah:

Pada analisa DuPont, ROE dipecah menjadi 3 bagian:

atau dapat juga dituliskan:
ROE = Net profit margin x Assets turnover x Equity multiplier
Setiap bisnis memiliki karakteristik masing-masing untuk mendapatkan ROE yang tinggi.
Pada dasarnya industri dapat kita bagi menjadi 3 golongan:
1. High turnover industries
Industri yang memiliki turnover tinggi salah satunya adalah retail. Persaingan pada industri
ini begitu ketatnya sehingga ROE yang tinggi tidak bisa didapatkan dengan mengenakan
harga premium kepada konsumen. Untuk mendapatkan ROE yang tinggi mereka bermain di
volume penjualan. Ciri khas industri ini (sesuai dengan formula ROE) adalah tingginya assets
turnover.
2. High margin industries
Industri tertentu bisa mendapatkan profit margin yang tinggi. Mereka tidak terlalu
bergantung pada volume penjualan. Industri jenis ini ditandai dengan tingginya net profit
margin.
3. High leverage industries
Industri yang tergolong high leverage adalah perbankan. Bagi bank, tabungan dari nasabah
diperlakukan sebagai utang yang dapat dipergunakan sebagai modal untuk menyalurkan
kredit. Keuntungan yang didapatkan oleh bank adalah selisih antara bunga kredit dengan
bunga tabungan/deposito. Industri yang masuk ke dalam golongan ini ditandai oleh tingginya
equity multiplier. Jika dinyatakan dalam rasio debt to equity (DER), maka: Equity multiplier
= 1 + DER.
Dengan mengetahui karakteristik industri, kita akan dapat mengetahui dengan lebih akurat
apabila komponen penting yang merupakan sumber keuntungannya turun, pengaruhnya akan
signifikan ke kinerjanya.
Contoh Kasus
Industri Retail (High Turnover I ndustry)
Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, penyusun ROE yang dominan bagi industri retail
adalah assets turnover. Rendahnya margin pada industri ini ditutupi oleh tingginya assets
turnover. Prinsipnya, semakin banyak barang yang terjual, semakin besar keuntungan yang
didapatkan. Kenaikan penjualan bisa didapatkan dari dua cara. Yang pertama adalah
meningkatkan volume dan yang kedua adalah dengan menambah jumlah gerai. Karena pada
umumnya pelaku bisnis retail melakukan keduanya, seringkali mereka menggunakan
parameter yang disebut dengan Same Store Growth (SSG). Same Store Growth ini mengukur
tingkat pertumbuhan penjualan seandainya jumlah gerai mereka tidak bertambah. Dengan
menggunakan SSG, mereka dapat mengetahui apakah pembukaan gerai baru akan
memberikan keuntungan tambahan bagi mereka.
Ukuran lain yang digunakan adalah Revenue per Square Metre (Penjualan per Meter
Persegi). Pada umumnya, pelaku bisnis retail mengeluarkan biaya operasional yang tinggi
untuk menyewa tempat. Oleh karena itu, revenue per square metre sangatlah penting.
Industri Perbankan (High Leverage I ndustry)
Nature dari industri perbankan adalah tingginya leverage yang pada formula DuPont di atas
ditunjukkan oleh equity multiplier. Semakin besar equity multiplier maka semakin tinggi
leverage-nya. Leverage ini dalam bahasa gampangnya adalah utang. Secara umum, kita harus
mewaspadai perusahaan dengan leverage yang tinggi karena sangat rentan terhadap
perubahan kondisi ekonomi. Industri perbankan sendiri tergantung pada NIM (net interest
margin). Semakin besar NIM, maka semakin besar keuntungan yang didapatkan. Tren
penurunan suku bunga belakangan ini mengakibatkan bank mendapatkan keuntungan yang
cukup besar. Seperti terlihat pada tabel, tingginya profit margin merupakan dampak dari
rendahnya suku bunga. Namun perlu dicatat, profit margin yang tinggi bukan merupakan ciri
khas industri perbankan karena dapat berubah-ubah sesuai dengan tren suku bunga.
Industri Semen (High Margin I ndustry)
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, industri semen pun mendapatkan berkahnya. Terlihat
bahwa profit margin rata-rata cukup tinggi (berkisar sekitar 20%). Perputaran asetnya biasa-
biasa saja dan leverage-nya pun relatif rendah. Dapat kita simpulkan bahwa profit margin
merupakan faktor dominan bagi tingginya ROE.
Agar analisa DuPont ini dapat lebih efektif, ada baiknya kita melihat data historis. Dengan
demikian kita akan dapat melihat apakah dominannya salah satu faktor penyusun ROE benar-
benar merupakan karakteristik suatu industri atau hanyalah tren sementara saja.

Keunggulan dan Kelemahan Analisis Du Pont System
Adapun keunggulan analisis Du Pont Systemantara lain (Harahap,1998:333):
1.Sebagai salah satu teknik analisis keuangan yang sifatnya menyeluruh dan manajemen
bisa mengetahui tingkat efisiensi pendayagunaan aktiva.
2.Dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas masing-masing produk yang dihasilkan
oleh perusahaan sehingga diketahui produk mana yang potensial.
3.Dalam menganalisis laporan keuangan menggunakan pendekatan yang lebih integrative
dan menggunakan laporan keuangan sebagai elemen analisisnya.

Sedangkan kelemahan dari analisis Du Pont System adalah (Harahap:1998:341):
1.ROI suatu perusahaan sulit dibandingkan dengan ROI perusahaan lain yang sejenis,
karena adanya perbedaan praktek akutansi yang digunakan.
2.Dengan menggunakan ROI saja tidak akan dapat digunakan untuk mengadakan
perbandingan antara dua permasalahan atau lebih dengan mendapatkan kesimpulan yang
memuaskan.