Anda di halaman 1dari 3

Evaluasi Teori

Meskipun perkembangan teori akuntansi positif telah diterima oleh banyak akademisi, hal ini adil
untuk dikatakan bahwa teori akuntansi positif tidak diterima dengan baik oleh semua. Dengan
berkonsentrasi pada pernyataan positif daripada pernyataan normatif, Howieson berpendapat
bahwa akademisi sekarang mengabaikan resiko yang merupakan peran yang sangat penting dalam
masyarakat. Dua kritik dari teori akuntansi positif dibagi menjadi 2 kategori:
Kritik Metodologi dan Statistik
Kritik utama dari teori akuntansi positif adalah bahwa bukti empiris berhubungan dengan penjelasan
dari pilihan kebijakan akuntansi dan efek pada harga saham dan kontrak perusahaan adalah buruk
dan tidak meyakinkan. Spesifiknya, kritik metodologi dan statistik meliputi:
Variabel penjelas dalam beberapa penelitian tidak signifikan dan tidak dapat diprediksi
Kekuatan prediksi dari model hipotesis rendah
Ada kolinearitas antara variabel kontrak
Model Cross-sectional kurang spesifik
Ukuran seperti ukuran perusahaan, untuk mengoperasionalkan biaya politik tidak
didefinisikan dengan baik dalam arti teori, atau dalam arti pengukuran (kesalahan dalam
variabel).
Selanjutnya, Christie menguji hipotesis statistik bahwa teori akuntansi positif dapat menjelaskan
pilihan prosedur akuntansi dengan menjumlahkan hasil tes dalam studi yang di publikasikan. Dia
menyimpulkan bahwa ada enam Variabel, dari penelitian akuntansi positif yang secara konsisten
menunjukkan signifikan secara statistik. Variabel tersebut adalah :
Kompensasi manajer
cakupan bunga
rasio utang
ukuran
hambatan deviden
risiko

Christie juga mengamati bahwa teori akuntansi positif masih berkembang sebagai paradigma,
Seperti ilmu-ilmu sosial lainnya, ada kecenderungan untuk mempublikasikan hasil yang mendukung
sebuah teori dalam penelitian sebelumnya.
Kritik Filosofi
Sejak kemunculannya sebagai model alternatif teori normatif, teori akuntansi positif telah
mengalami kritik filosofis. Kritik disajikan bawah ini, bersama dengan ringkasan singkat mengenai
tanggapan dari teoritis akuntansi positif. Tinker, Merino dan Neimark menyarankan bahwa teori
akuntansi positif dengan klaim tersebut, dan nilai yang dimuat, sejak penelitian memilih topik untuk
diselidiki dengan metode dan asumsi yang akan diterapkan. Untuk itu mereka masih memberlakukan
pertimbangan nilai tentang apa yang layak diselidiki. Wattsdan Zimmerman menunjukkan bahwa,
sejak teori akuntansi positif memberikan permintaan informasi, orang yang memerlukan teori
akuntansi untuk sejumlah alasan akan memilih dari teori yang tersedia.
Christenson berpendapat bahwa ciri teori akuntansi positif bukan sebagai teori akuntansi, tetapi
sebagai sosiologi akuntansi karena itu berkonsentrasi pada perilaku manusia dan bukan pada
perilaku atau pengukuran entitas akuntansi. Sebagai tanggapan, Watts dan Zimmerman komentar
bahwa entitas akuntansi dapat diakui hanya dari segi perilaku dari individu yang terkait dengan
perusahaan-pemegang saham, manajer, akuntan, auditor.
Isu Auditor
Seperti yang sudah dibicarakan di awal bab, permintaan audit dapat dijelaskan dengan teori agensi
sebagai bagian dari monitoring dan menyatukan antara aktivitas dan biaya. Sejumlah akuntansi
digunakan dalam kontrak untuk menentukan kompensasi manajemen dan sebagai dasar perjanjian
utang. Akuntansi tersebut disyaratkan oleh hukum untuk bisa diaudit, namun ada beberapa bukti
bahwa pengauditan akan diminta walaupun dalam ketiadaan hukum.
Watts dan Zimmerman menguji sejarah pengauditan di Britania Raya dan Amerika Serikat untuk
menguji apakah pengauditan diminta untuk mengurangi biaya agensi dan meningkatkan nilai
perusahaan, atau hanya untuk memenuhi persyaratan legal. Watts dan Zimmerman menemukan
bukti bahwa audit sudah ada pada awal sejarah munculnya korporasi (sekitar awal tahun 1200).
Audit tersebut berkembang secara bertahap ke dalam tipe audit yang diperlukan oleh perusahaan-
perusahaan Inggris pada tahun 1844. Mereka juga menemukan perbedaan dalam perkembangan
pengauditan profesional antara dua negara tersebut yang merefleksikan perbedaan dalam waktu
perkembangan pasar modal pada kedua negara tersebut. Bukti yang mereka temukan mendukung
kesimpulan bahwa undang-undang mensyaratkan pengauditan mengkodifikasikan pelaksanaan yang
terbaik, daripada hanya sekedar mendorong permintaan untuk audit.
Hal ini sulit, jika tidak mau dikatakan tidak mungkin, untuk menguji teori-teori mengenai permintaan
audit menggunakan data kontemporer karena negara-negara dengan pasar modal yang sudah maju
membutuhkan perusahaan yang terdaftar pada bursa publik untuk mengungkapkan data keuangan
diaudit setidaknya setahun sekali. Bagaimanapun, ada beberapa situasi tertentu dimana periset
telah mengusahakan untuk menguji pemahaman dari agensi dan teori signalling. Bukannya menguji
pilihan untuk membeli audit atau tidak, pengujian tersebut menguji penentuan dari pemilihan
sebuah auditor dengan kualitas yang lebih tinggi.
Datar, Feltham dan Hughes mengusulkan bahwa pengguna laporan keuangan untuk percaya bahwa
auditor yang besar mempunyai kualitas yang lebih tinggi karena mereka paham akan argumen more
to lose. Mereka berargumen bahwa perusahaan mengeluarkan saham dalam IPO menggunakan
kualitas audit untuk memberikan signal terhadap kualitas perusahaan dan saham perusahaan itu
sendiri. Salah satu metode untuk memberi sinyal terhadap kualitas perusahaan baru adalah untuk
promotor mempertahankan sebagian besar saham. Hal tersebut bernilai karena ini bersifat biaya.
Signal alternatif untuk kualitas saham adalah mempekerjakan auditor dengan kualitas yang baik
walau dengan biaya yang tinggi. Oleh karena itu, Datar, Feltham dan Hughes memprediksi bahwa
promotor IPO dalam perusahaan tersebut menggunakan auditor berkualitas tinggi (auditor Big 4)
akan memiliki kepemilikan saham lebih rendah pada saat IPO daripada promotor IPO pada
perusahaan yang menggunakan auditor berkualitas rendah.