Anda di halaman 1dari 3

PERUBAHAN METABOLISME IBU HAMIL

Dengan terjadinya perubahan peningkatan pola makan (terhitung kurang lebih 200-
300 kkal/hari). Membuat sistem gasgtrointestinal berubah selama masa kehamilan
disertai juga perubahan pada metabolisme karbohidrat,protein,dan lemak. Perubahan
yang terjadi karena human placental lactogen (HPL) ini, menjadikan glukosa siap
diserap oleh tubuh dan digunakan untuk perkembangan otak fetus,juga melindungi
ibu dari defisiensi nutrisi.Penyaluran glukosa ke janin harus terpenuhi. Setiap kali
ibu makan, akan mempertinggi kesempatan janin untuk mendapatkan glukosa.
Konsentrasi plasma glukosa puasa,menurun selama trimester I sekitar 12% dan
meningkat kembali hingga kehamilan aterm. Kenaikan kadar glukosa ibu ini untuk
pertumbuhan dan kebutuhan energi janin.
Sekresi insulin naik teratur pada trimester II, lalu turun seperti pada saat tidak hamil
sampai akhir kehamilan. Kenaikan insulin sangat memengaruhi kehamilan,sehingga
disebut efek diabetes pada kehamilan.hasilnya glukosa memerlukan waktu yang
lebih lama untuk mencapai konsentrasi plasma akhir lebih tinggi dari kadar
normalnya dan hal ini akan berlangsung lebih lama, dalam rangka menyediakan
waktu yang lebih lama untuk perubahan plasenta. Penting bagi ibu hamil untuk tidak
melupakan sarapan, karena:
1. Kadar glukosa darah ibu sangat penting untuk perkembangan janin yang
baik
2. Puasa pada kehamilan memproduksi lebih banyak ketosis yang dikenal
dengan cepat merasakan lapar yang mungkin berbahaya pada janin
Wanita hamil menyimpan glukosa untuk janinnya dan sebagai persiapan untuk
permintaan ekstra dari janin. Penyimpanan lemak terjadi pada pertengahan trimester
pertama pada kehamilan, sebagai persediaan energi primer. Kebutuhan nutrisi janin
meningkat pada waktu trimester II kehamilan dan juga terjadi peningkatan
insulin,pergerakanlemak yang mempengruhi peningkatankonsentrasi glukosadan
asam lemak yang di salurkan ke ibu sebagai suplai energi ekstra. Proses ini
menyebabkan produksi lebih dri ketosis. Puasa 12 jam bisa juga menyebabkan
hipoglikemia dan produksi keton dalam tbuh.
Pembatasan karbohidrat dalam bebeapa diet selama kehamilan tdak disrankan, dan
hal ini bisa mengurangi makan cemilan yang tidak baik. Wanita muslim yang
berpuasa dibulan ramadhan harus dbawah pengawasn tenaga kesehatan jika terjadi
pada trimester II . Puasa selama trimester ke III tidak disarankan, karena mungkin
akan berbahaya bagi janin karena bisa mengalami dehidrasi dan malnutrisi.
Produksi konsentrasi plasma albumin bertujuan meningkatkan volume plasma
karena osmotik koloid ditekan asam amino bisa turun karena asam digunakan untuk
membuat glukosa dan untuk energi janin dan sintesis protein .
Konsentrasi kalsium plasma ibu turun sebagai hasil dari kebutuhan janin dan
disediakan untuk kebutuhan janin dan hemodulasi kehamilan normal. Jika cukup
vitamin D, hormon paratiroid meningkat . Absorbsi kalsium dan dalam usus pada
akhir trimester II yang disediakan untuk janin dan perlindungan terhadap skeleton
ibu . Wanita hamil harus meningkatkan suplai kalsium sampai 70 %.
(Salmah, Rusmiati, Maryanah dan Ni Nengah Susanti, 2006)

2.1 Metabolisme Zat Besi
Kebutuhan zat besi pada kehamilan kurang lebih 1000 mg , 500 mg dibutuhkan
untuk meningkatkan masa sel darah merah dan 300 mg untuk transportasi ke fetus
dalam kehamilan 12 minggu, 200 mg untuk menggantikan cairan yang keluar dari
tubuh. Wanita hamil perlu menyerap zat besi rata-rata 3,5 mg/hari, kebutuhannya
meningkat secara signifikan pada trimester terakhir karena absorbsi usus yang
tinggi. Dalam kehamilan normal, hanya 20% zat besi yang di absorbsi, karena
wanita yang defisiensi zat besinya 40% diserap oleh usus dan juga untuk
haemoglobin atau disimpan dihati. Tujuan memberikan supleman zat besi adalah
mencegah defisiensi zat besi pada ibumil, bukan untuk menaikkan kadar
haemoglobin.
(Salmah, Rusmiati, Maryanah dan Ni Nengah Susanti, 2006)
Zinc (Zn) sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan janin. Beberapa
penelitian menunjukkan kekurangan zat ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat. Selama kehamilan kadar mineral ini akan menurun dalam plasma ibu
oleh karena pengaruh dilusi. Pada perempuan hamil dianjurkan asupan mineral ini
7,3 11,3 mg/hari, tetapi hanya pada perempuan-perempuan beresiko yang
dianjurkan mendapat suplemen mineral ini.
(Sarwono Prawirohardjo, dkk. 2009)

2.2 Metabolisme Karbohidrat
Jumlah energi yang dibebaskan oleh oksidasi makanan yang lengkap disebut
energi bebas dari oksidasi makanan. Energi bebas biasanya dinyatakan dalam kalori
per mol zat. Seperti yang kita ketahui produk akhir pencernaan karbohidrat dalam
saluran pencernaan hampir seluruhnya dalam bentuk glukosa, fruktosa dan galaktosa
yang mewakili rata-rata sekitar 80 % dari produk-produk akhir tersebut. Setelah
absorbsi dari saluran pencernaan banyak fruktosa dan hampir semua galaktosa
diubah secara cepat menjadi glukosa dalam hati. Oleh karena itu, hanya sedikit
fruktosa dan galaktosa yang ada dalam sirkulasi darah. Glukosa kemudian menjadi
jalur umum akhir untuk mentranspor hampir semua karbohidrat ke dalam sel dan
jaringan. Di dalam sel hati tersedia enzim yang sesuai untuk meningkatkan
interkonversi antar monosakarida. Lebih lanjut lagi, dinamika reaksi berlangsung
sedemikian rupa sehingga bila hati melepaskan monosakarida kembali ke dalam
darah, produk akhirnya hampir seluruhnya adalah glukosa. Alasannya adalah bahwa
sel hati mengandung jumlah besar glukosa fosfatase. Oleh karena itu glukosa 6
fosfatase dapat di pecah menjadi glukosa dan fosfat. Glukosa selanjutnya dapat
ditransport kembali melalui membrane sel hati ke dalam darah.
(Romy Hefta Mulya dan Sardina, 2011)




2.3 Metabolisme Protein
Kira-kira tiga per empat bagian tubuh yang padat adalah protein. Protein ini
meliputi structural, enzim, nucleoprotein, protein yang mengangkut oksigen, protein
otot yang menimbulkan kontraksi, dan banyak tipe lainnya yang melakukan fungsi
intrasel dan ekstrasel yang spesifik di tubuh. Unsure dasar penyusun protein adalah
asam amino dan 20 diantaranya terdapat dalam protein tubuh dengan jumlah yang
cukup banyak. Beberapa molekul protein yang rumit mempunyai beribu-ribu asam
amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida dan bahkan pada molekul protein
terkecil sekalipun biasanya mempunyai lebih dari 20 asam amino yang dihubungkan
oleh ikatan peptida. Rata-rata molekul protein mengandung sekitar 400 asam amino.
Hasil pencernaan protein dan absorpsi dalam saluran pencernaan hamper
seluruhnya berupa asam amino, jarang sekali berupa polipeptida ataupun molekul
protein utuh yang diabsorpsi dari saluran pencernaan ke dalam darah. Segera setelah
makan, konsentrasi asam amino dalam darah meningkat, tetapi peningkatan yang
terjadi biasanya hanya beberapa mg/dl karena kedua alasan yaitu pencernaan dan
absorpsi protein biasanya berlangsung lebih dari 2 -3 jam, sehingga hanya sejumlah
kecil asam amino yang di absorpsi secara terpisah, dan juga setelah memasuki darah
kelebihan asam amino diabsopsi dalam waktu 5- 10 menit oleh sel di seluruh tubuh,
terutama oleh sel hati. Oleh karena itu, tidak pernah ada sejumlah besar konsentrasi
asam amino yang menumpuk di dalam darah dan cairan jaringan. Segera setelah
masuk ke dalam sel jaringan, asam amino bergabung satu sama lain dengan ikatan
peptide, sesuai petunjuk system RNA messenger dan ribosom sel, untuk membentuk
protein sel. (Romy Hefta Mulya dan Sardina, 2011)

2.4 Metabolisme Lipid
Beberapa senyawa kimia dalam makanan dan tubuh diklasifikasikan sebagai
lipid. Lipid ini meliputi lemak netral, atau yang juga dikenal sebagai trigliserida,
fosfolipid, kolesterol dan beberapa lipid lain yang kurang penting. Secara kimia
sebagian lipid dasar dari trigliserida dan fosfolipid adalah asam lemak, yang hanya
merupakan asam organic hidokarbon rantai panjang. Walaupun kolesterol tidak
mengandung asam lemak, inti sterolnya disintesis dari gugus molekul asam lemak,
sehingga kolesterol memiliki banyak sifat fisik kimia dar zat lipid lainnya.
Trigliserida dipakai dalam tubuh terutama untuk menyediakan energy bagi berbagai
proses metabolic, suatu fungsi yang hamper sama dengan fungsi karbohidrat. Akan
tetapi beberapa lipid terutama kolesterol, fosfolipid dan sejumlah kecil trigliserida
dipakai untuk membentuk semua membrane sel dan untuk melakukan fungsi-fungsi
sel yang lain.
Pada keadaan setelah penyerapan, setalah semua kilomikron di8ikeluarkan
dari darah, lebih dari 95 % seluruh lipid dalam plasma berada dalam lipoprotein.
Lipoprotein ini merupakan partikel kecil bahkan lebih kecil dari kilomikron tetapi
komposisinya secara kualitatif sama yaitu mengandung trigliserida,
kolesterol,fosfolipid dan protein.
Jenis lipoprotein yang ada sebagai berikut :
1. Lipoprotein berdensitas sangat rendah (very low density lipoproteins), yang
mengandung konsentrasi trigliserida yang tinggi dan konsentrasi sedang
kolesterol dan fosfolipid.
2. Lipoprotein berdinsitas sedang (intermediate density lipoproteins ) yang
berasal dari lipoprotein berdinsitas sangat rendah yang sebagian besar
trigliseridanya sudah dikeluarkan sehingga kolesterol dan fosfolipid
meningkat.
3. Lipoprotein berdinsitas rendah (low density lipoproteins ) yang berasal dari
lipoprotein berdinsitas sedang dengan mengeluarkan hamper semua
trigliseridanya dan menyebabkan konsentrasi kolesterol menjadi sangat
tinggi dan konsentrasi fosfolipid tinggi.
4. Lipoprotein berdensitas tinggi (high density lipoprotein) yang mengandung
protein berkonsentrasi tinggi dengan konsentrasi kolesterol dan fosfolipid
yang jauh lebih kecil .
(Romy Hefta Mulya dan Sardina, 2011)

2.5 Metabolisme Kalsium
Terjadi peningktan pertukaran kalsium pada awal kehamilan disertai peningkatan
resorbsi tulang dan penurunan volume tulang. Metabolisme kalsium ibu berubah
untuk mempermudah penyaluran kalsium kepada janin. Plasenta secara aktif
memindahkan kalsium dari darah ibu . Konsentrasi kalsium plasenta lebih tinggi
daripada kadar ibu sehingga janin terlindungi apabila kadar di ibu menuru . Efisiensi
plasenta jauh lebih beesar daripada kpasitas absorbsi saluran pencernaan janin ;
dengan demikian, bayi yang lahir premature dengan fungsi usus yang kurang
sempurna tidak dapat menyerap kalsium secara efisien dan tetap mengalami
kekurangan mineral. Pada 10 minggu terakhir destasi, janin memperoleh 18gr
kalsium dan 10 gr fosfor darisirkulasi ibu , yangekuivalen dengan 80% kalsium
dalam makanan ibu pada periode tersebut. Namun, 25-30 gr kalsium yng
dikumpulkan oleh janin merupakan presentasi yang sangat kecil dari kalsium total
ibu .
Prolaktin dan Hpl merangsang sinteis vit.D, yang meningkatkan penyerapan
kalsium. Penyerapan vitamin D oleh saluran pencernaan meningkat selama
kehamilan. hPL meningkatkan reabsorbsi kalsium oleh tulang. Sekresi kalsitonin
juga meningkat : Kalsitonin menghambat pembebasan mineral dari tulang ibu, tetapi
mengizinkan kerja hormon paratiroid pada usus dan ginjal. Kadar kalsium serum ibu
turun secara progresif selama kehamilan. Kadar berkaitan dengan hemodilusi
albumin dan peningkatan pengeluaran melalui urin serta pengangkutan melewati
placenta. Ekresi kalsium melalui urin menurun setelah 36 minggu, yang menambah
kalsium yang berasal dari makanan.
Homeostatis, yang diperantarai oleh hormon ibu, berarti tulang ibu terlindungi.
Apabila kalsium dalam makanan memadai, tidak terjadi perubahan mencolok pada
densitas atau masa tulang ibu. Tidak ada bukti paritas yang tinggi berkaitan dengan
peningkatan fraktur di masa mendatang. Suplemen kalsium cenderung menurunkan
tekana darah dan mungkin bermanfaat pada pengobatan preeklamsia. Kebutuhan
kalsium papa kehamilan mungkin terlalu dilebih-lebih kan ; Defisiensi klinis jarang
ditemukan. Namun asupan vitamin B yangrendah serta kurangnya pajangan kesinar
matahari dapat menyebabkan osteomalasi, seperti diperlihatkan oleh wanita asia di
Inggris yang kalsium plasmanya lebih rendah dan peningkatan insiden osteomalasia
maternal dan rakitis neonatus.
(Coad dan Dunstall, 2006)
Selama kehamilan ibu akan menyimpan 30 g kalsium yang sebagian besar akan
digunakan untuk pertumbuhan janin. Jumlah itu diperkirakan hanya 2,5 % dari total
kalsium ibu. Penggunaan suplemen kalsium untuk mencegah preeklampsia tidak
terbukti dan tidak disarankan untuk menggunakannya secara rutin selama
kehamilan.
(Sarwono Prawirohardjo, dkk, 2009)