Anda di halaman 1dari 14

Stratigrafi Zona Rembang

Zona ini umumnya terdiri dari sekuen Eosen-Pliosen yang meliputi endapan tepian paparan
seperti sedimen klastik laut dangkal dan endapan karbonat yang luas. Batuandasar yang
mengalasi Zona Rembang didominasi oleh berbagai jenis batuan metamorf berumur Kapur
seperti batusabak (Sumur Purwadadi-1), filit (Sumur Kujung-1) dan batuan beku diorit (Sumur
NCJ-1). Endapan tertua di zona ini, yang disebut Formasi Pra-Ngimbang, yang dijumpai di
bagian timur Zona Rembang berdasarkan data sumur. Formasi ini terdiri dari batupasir,
batulanau, dan serpih dengan sisipan batubara dan berdasarkan kandungan fosil nanno
menunjukkan umur Paleocene sampai Eosen Awal (Phillips et al., 1991). Walaupun tidak tegas
namun diinterpretasikan batasnya tidak-selaras dengan Formasi Ngimbang yang diendapkan di
atasnya. Formasi Ngimbang yang berumur Eosen Tengah terdiri dari tiga anggota: Anggota
Klastik Ngimbang, Anggota Karbonat Ngimbang, dan Anggota Serpih Ngimbang (Phillips et al.,
1991). Anggota Klastik Ngimbang, yang menyusun bagian bawah Formasi Ngimbang, terdiri
dari batupasir dan konglomerat yang ke atas berangsur menjadi batupasir, serpih dan lapisan
batubara. Bagian bawah umumnya diendapkan di lingkungan terestrial sedangkan bagian atas
diendapkan di lingkungan laut dangkal. Anggota Karbonat Ngimbang diendapkan sebagai
akibat terjadinya transgresi dari arah selatan yang menggenangi Daratan Sunda ke arah barat
dan utara. Puncak transgresi ini ditandai dengan pengendapan Anggota Serpih Ngimbang,
yang terdiri dari serpih gampingan, di lingkungan neritik luar sampai bathyal. Batupasir Formasi
Ngimbang banyak mengandung kuarsa dan diperkirakan memiliki sumber kontinental lokal
(Sribudiyani et al., 2003). Sekuen transgresif ini, yang oleh Smyth et al. (2005) disebutSynthem
One Zona Rembang, diakhiri oleh ketidakselarasan Intra-Oligosen dan ditumpangi oleh
endapan karbonat Formasi Kujung. Bidang perlapisan di atas dan di bawah bidang
ketidakselarasan mempunyai orientasi yang tidak jauh berbeda sehingga ketidakselarasan ini
diinterpretasikan sebagai akibat penurunan muka air laut (Smyth et al., 2005).

Sekuen di atas endapan Formasi Pra-Ngimbang dan Formasi Ngimbang didominasi oleh
endapan karbonat Formasi Kujung dan Formasi Prupuh yang berumur Oliogosen. Dominasi
endapan karbonat ini menunjukkan berkurangnya input material klastik yang kemungkinan
disebabkan baik oleh naiknya muka air laut ataupun oleh berkurangnya kondisi relief di daerah
sumbernya. Menurut Smyth et al. (2005) endapan karbonat Oligo-Miosen ini, yang disebut
sebagai Synthem Two Zona Rembang, ada yang mengandung lapisan material volkanik yang
diinterpretasikan sebagai hasil endapan jatuhan dari Busur Volkanik Pegunungan
Selatan. Pengendapan suatu seri batuan siliklastik dan karbonat di atas Formasi Kujung
menandai priode terjadinya perubahan pola sedimentasi secara besar-besaran. Hal ini
ditunjukkan oleh Endapan karbonat murni Formasi Kujung ke arah atas berubah menjadi
endapan asal-daratan Formasi Tuban dan Formasi Ngrayong yang berumur Miosen Tengah.
Formasi Ngrayong merupakan endapan terestrial sampai laut dangkal yang dicirikan oleh
banyaknya kandungan kuarsa. Di atas Formasi Ngrayong, endapannya dicirikan kembali oleh
endapan karbonat berumur Miosen Akhir sampai Pliosen dari Formasi-formasi Bulu, Wonocolo,
Ledok dan Mundu. Fase regresi menandai bagian atas Zona Rembang seperti ditunjukkan oleh
endapan batupasir globigerina Formasi Selorejo dan batulempung Formasi Lidah sebelum
diendapkan Formasi Paciran sebagai satuan batugamping termuda di zona ini (Pringgoprawiro,
1983).


Geologi Zona Rembang

Geomorfologi
Zona ini meliputi pantai utara Jawa yang membentang dari Tuban ke arah timur melalui Lamongan,
Gresik, dan hampir keseluruhan Pulau Madura. Merupakan daerah dataran yang berundulasi dengan
jajaran perbukitan yang berarah barat-timur dan berselingan dengan dataran aluvial. Lebar rata-rata
zona ini adalah 50 km dengan puncak tertinggi 515 m (Gading) dan 491 (Tungangan). Litologi
karbonat mendominasi zona ini. Aksesibilitas cukup mudah dan karakter tanah keras.
Jalur Rembang terdiri dari pegunungan lipatan berbentuk Antiklinorium yang memanjang ke arah
Barat Timur, dari Kota Purwodadi melalui Blora, Jatirogo, Tuban sampai Pulau Madura. Morfologi di
daerah tersebut dapat dibagi menjadi 3 satuan, yaitu Satuan Morfologi dataran rendah, perbukitan
bergelombang dan Satuan Morfologi perbukitan terjal, dengan punggung perbukitan tersebut
umumnya memanjang berarah Barat Timur, sehingga pola aliran sungai umumnya hampir sejajar
(sub-parallel) dan sebagian berpola mencabang (dendritic). Sungai utama yang melewati daerah
penyelidikan yaitu S. Lusi, yang mengalir ke arah Baratdaya, melalui Kota Blora dan bermuara di
Bengawan Solo.
Stratigrafi
Menurut Sutarso dan Suyitno (1976), secara fisiografi daerah penelitian termasuk dalam Zona
Rembang yang merupakan bagian dari cekungan sedimentasi Jawa Timur bagian Utara (East Java
Geosyncline). Cekungan ini terbentuk pada Oligosen Akhir yang berarah Timur Barat hampir sejajar
dengan Pulau Jawa (Van Bemmelen, 1949).
Menurut Koesoemadinata (1978), cekungan Jawa Timur bagian Utara lebih merupakan geosinklin
dengan ketebalan sedimen Tersier mungkin melebihi 6000 meter. Suatu hal yang khas dari cekungan
Jawa Timur bagian Utara berarah Timur-Barat dan terlihat merupakan gejala tektonik Tersier Muda.
Tiga tahap orogenesa telah dikenal berpengaruh terhadap pengendapan seri batuan Kenozoikum di
Indonesia (Van Bemmelen, 1949). Yang pertama terjadi di antara interval Kapur Akhir Eosen
Tengah, kedua pada Eosen Tengah (Intramiocene Orogeny) dan ketiga terjadi pada Plio-Pleistosen.
Orogenesa yang terjadi pada Miosen Tengah ditandai oleh peristiwa yang penting di dalam distribusi
sedimen dan penyebaran flora dan fauna, terutama di daerah Indonesia bagian Barat dan juga
menyebabkan terjadinya fase regresi (susut laut) yang terjadi dalam waktu singkat di Jawa dan
daerah Laut Jawa. Fase orogenesa Miosen Tengah ditandai juga oleh hiatus di daerah Cepu dan
dicirikan oleh perubahan fasies yaitu dari fasies transgresi menjadi fasies regresi di seluruh Zona
Rembang. Selain hal tersebut diatas, fase orogenesa ini ditandai oleh munculnya beberapa batuan
dasar Pra Tersier di daerah pulau Jawa Utara (Van Bemmelen, 1949).
Perbedaan yang mencolok perihal sifat litologi dari endapan endapan yang berada pada
Mandala Kendeng, Mandala Rembang, dan Paparan laut Jawa yaitu sedimen. Mandala
Kendeng pada umumnya terisi oleh endapan arus turbidit yang selalu mengandung batuan piroklastik
dengan selingan napal dan batuan karbonat serta merupakan endapan laut dalam. Umumnya
sedimen-sedimen tersebut terlipat kuat dan tersesar sungkup ke arah Utara, sedangkan Mandala
Rembang memperlihatkan batuan dengan kadar pasir yang tinggi disamping meningkatnya kadar
karbonat serta menghilangnya endapan piroklastik. Sedimen-sedimen Mandala Rembang memberi
kesan berupa endapan laut dangkal yang tidak jauh dari pantai dengan kedalaman dasar laut yang
tidak seragam. Hal ini disebabkan oleh adanya sesar-sesar bongkah (Block faulting) yang
mengakibatkan perubahan-perubahan fasies serta membentuk daerah tinggian atau rendahan.
Daerah lepas pantai laut Jawa pada umumnya ditempati oleh endapan paparan yang hampir
seluruhnya terdiri dari endapan karbonat.
Mandala Rembang menurut sistem Tektonik dapat digolongkan ke dalam cekungan belakang busur
(retro arc back arc) (Dickinson, 1974) yang terisi oleh sedimen-sedimen berumur Kenozoikum yang
tebal dan menerus mulai dari Eosen hingga Pleistosen. Endapan berumur Eosen dapat diketahui dari
data sumur bor (Pringgoprawiro, 1983).
Litostratigrafi Tersier di Cekungan Jawa Timur bagian Utara banyak diteliti oleh para pakar geologi
diantaranya adalah Trooster (1937), Van Bemmelen (1949), Marks (1957), Koesoemadinata (1969),
Kenyon (1977), dan Musliki (1989) serta telah banyak mengalami perkembangan dalam susunan
stratigrafinya. Kerancuan tatanama satuan Litostratigrafi telah dibahas secara rinci oleh
Pringgoprawiro (1983) dimana susunan endapan sedimen di Cekungan Jawa Timur bagian Utara
dimasukkan kedalam stratigrafi Mandala Rembang dengan urutan dari tua ke muda yaitu Formasi
Ngimbang, Formasi Kujung, Formasi Prupuh, Formasi Tuban, Formasi Tawun, Formasi Bulu, Formasi
Ledok, Formasi Mundu, Formasi Lidah dan endapan yang termuda disebut sebagai endapan Undak
Solo. Anggota Ngrayong Formasi Tawun dari Pringgoprawiro (1983) statusnya ditingkatkan menjadi
Formasi Ngrayong oleh Pringgoprawiro, 1983. Anggota Selorejo Formasi Mundu (Pringgoprawiro,
1983) statusnya ditingkatkan menjadi Formasi Selorejo oleh Pringgoprawiro (1985) serta Djuhaeni
dan Martodjojo (1990). Sedangkan Formasi Lidah mempunyai tiga anggota yaitu Anggota
Tambakromo, Anggota Malo (sepadan dengan Anggota Dander dari Pringgoprawiro, 1983) dan
Anggota Turi (Djuhaeni, 1995).
Rincian stratigrafi Cekungan Jawa Timur bagian Utara dari Zona Rembang yang disusun oleh Harsono
Pringgoprawiro (1983) terbagi menjadi 15 (lima belas) satuan yaitu Batuan Pra Tersier, Formasi
Ngimbang, Formasi Kujung, Formasi Prupuh, Formasi Tuban, Formasi Tawun, Formasi Ngrayong,
Formasi Bulu, Formasi Wonocolo, Formasi Ledok, Formasi Mundu, Formasi Selorejo, Formasi Paciran,
Formasi Lidah dan Undak Solo. Pembahasan masing masing satuan dari tua ke muda adalah sebagai
berikut :
1. Formasi Tawun
Formasi Tawun mempunyai kedudukan selaras di atas Formasi Tuban, dengan batas Formasi Tawun
yang dicirikan oleh batuan lunak (batulempung dan napal). Bagian bawah dari Formasi Tawun, terdiri
dari batulempung, batugamping pasiran, batupasir dan lignit, sedangkan pada bagian atasnya
(Anggota Ngrayong) terdiri dari batupasir yang kaya akan moluska, lignit dan makin ke atas dijumpai
pasir kuarsa yang mengandung mika dan oksida besi. Penamaan Formasi Tawun diambil dari desa
Tawun, yang dipakai pertama kali oleh Brouwer (1957). Formasi Tawun memiliki penyebaran luas di
Mandala Rembang Barat, dari lokasi tipe hingga ke Timur sampai Tuban dan Rengel, sedangkan ke
Barat satuan batuan masih dapat ditemukan di Selatan Pati. Lingkungan pengendapan Formasi Tawun
adalah paparan dangkal yang terlindung, tidak terlalu jauh dari pantai dengan kedalaman 0 50
meter di daerah tropis. Formasi Tawun merupakan reservoir minyak utama pada Zona Rembang.
Berdasarkan kandungan fosil yang ada, Formasi Tawun diperkirakan berumur Miosen Awal bagian
Atas sampai Miosen Tengah.
2. Formasi Ngrayong
Formasi Ngrayong mempunyai kedudukan selaras di atas Formasi Tawun. Formasi Ngrayong disusun
oleh batupasir kwarsa dengan perselingan batulempung, lanau, lignit, dan batugamping bioklastik.
Pada batupasir kwarsanya kadang-kadang mengandung cangkang moluska laut. Lingkungan
pengendapan Formasi Ngrayong di daerah dangkal dekat pantai yang makin ke atas lingkungannya
menjadi littoral, lagoon, hingga sublittoral pinggir. Tebal dari Formasi Tawun mencapai 90 meter.
Karena terdiri dari pasir kwarsa maka Formasi Tawun merupakan batuan reservoir minyak yang
berpotensi pada cekungan Jawa Timur bagian Utara. Berdasarkan kandungan fosil yang ada, Formasi
Ngrayong diperkirakan berumur Miosen Tengah.
3. Formasi Bulu
Formasi Bulu secara selaras berada di atas Formasi Ngrayong. Formasi Bulu semula dikenal dengan
nama Platen Complex dengan posisi stratigrafi terletak selaras di atas Formasi Tawun dan Formasi
Ngrayong. Ciri litologi dari Formasi Bulu terdiri dari perselingan antara batugamping dengan kalkarenit,
kadang kadang dijumpai adanya sisipan batulempung. Pada batugamping pasiran berlapis tipis
kadang-kadang memperlihatkan struktur silang siur skala besar dan memperlihatkan adanya sisipan
napal. Pada batugamping pasiran memperlihatkan kandungan mineral kwarsa mencapai 30 %,
foraminifera besar, ganggang, bryozoa dan echinoid. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut
dangkal antara 50 100 meter. Tebal dari formasi ini mencapai 248 meter. Formasi Bulu diperkirakan
berumur Miosen Tengah bagian atas.
4. Formasi Wonocolo
Lokasi tipe Formasi Wonocolo tidak dinyatakan oleh Trooster, 1937, kemungkinan berasal dari desa
Wonocolo, 20 km Timur Laut Cepu. Formasi Wonocolo terletak selaras di atas Formasi Bulu, terdiri
dari napal pasiran dengan sisipan kalkarenit dan kadang-kadang batulempung. Pada napal pasiran
sering memperlihatkan struktur parallel laminasi. Formasi Wonocolo diendapkan pada kondisi laut
terbuka dengan kedalaman antara 100 500 meter. Tebal dari formasi ini antara 89 meter sampai
339 meter. Formasi Wonocolo diperkirakan berumur Miosen Akhir bagian bawah sampai Miosen Akhir
bagian tengah.

Gambar Kolom Stratigrafi Mandala Rembang (Harsono Pringgoprawiro, 1983)
Struktur Geologi
Pada masa sekarang (Neogen Resen), pola tektonik yang berkembang di Pulau Jawa dan sekitarnya,
khususnya Cekungan Jawa Timur bagian Utara merupakan zona penunjaman (convergent zone),
antara lempeng Eurasia dengan lempeng Hindia Australia (Hamilton, 1979, Katili dan Reinemund,
1984, Pulonggono, 1994).
Evolusi tektonik di Jawa Timur bisa diikuti mulai dari Jaman Akhir Kapur (85 65 juta tahun yang
lalu) sampai sekarang (Pulonggono, 1990). Secara ringkasnya, pada cekungan Jawa Timur mengalami
dua periode waktu yang menyebabkan arah relatif jalur magmatik atau pola tektoniknya berubah,
yaitu pada jaman Paleogen (Eosen Oligosen), yang berorientasi Timur Laut Barat Daya (searah
dengan pola Meratus). Pola ini menyebabkan Cekungan Jawa Timur bagian Utara, yang merupakan
cekungan belakang busur, mengalami rejim tektonik regangan yang diindikasikan oleh litologi batuan
dasar berumur Pra Tersier menunjukkan pola akresi berarah Timur Laut Barat Daya, yang
ditunjukkan oleh orientasi sesar sesar di batuan dasar, horst atau sesar sesar anjak
dan graben atau sesar tangga. Dan pada jaman Neogen (Miosen Pliosen) berubah menjadi relatif
Timur Barat (searah dengan memanjangnya Pulau Jawa), yang merupakan rejim tektonik kompresi,
sehingga menghasilkan struktur geologi lipatan, sesar sesar anjak dan menyebabkan cekungan
Jawa Timur Utara terangkat (Orogonesa Plio Pleistosen) (Pulonggono, 1994). Khusus di Cekungan
Jawa Timur bagian Utara, data yang mendukung kedua pola tektonik bisa dilihat dari data seismik dan
dari data struktur yang tersingkap.
Menurut Van Bemmelen (1949), Cekungan Jawa Timur bagian Utara (North East Java Basin) yaitu
Zona Kendeng, Zona Rembang Madura, Zona Paparan Laut Jawa (Stable Platform) dan Zona Depresi
Randublatung.
Keadaan struktur perlipatan pada Cekungan Jawa Timur bagian Utara pada umumnya berarah Barat
Timur, sedangkan struktur patahannya umumnya berarah Timur Laut Barat Daya dan ada beberapa
sesar naik berarah Timur Barat.
Zona pegunungan Rembang Madura (Northern Java Hinge Belt) dapat dibedakan menjadi 2 bagian
yaitu bagian Utara (Northern Rembang Anticlinorium) dan bagian Selatan (Middle Rembang
Anticlinorium).
Bagian Utara pernah mengalami pengangkatan yang lebih kuat dibandingkan dengan di bagian
selatan sehingga terjadi erosi sampai Formasi Tawun, bahkan kadang kadang sampai Kujung Bawah.
Di bagian selatan dari daerah ini terletak antara lain struktur struktur Banyubang, Mojokerep dan
Ngrayong.
Bagian Selatan (Middle Rembang Anticlinorium) ditandai oleh dua jalur positif yang jelas berdekatan
dengan Cepu. Di jalur positif sebelah Utara terdapat lapangan lapangan minyak yang penting di
Jawa Timur, yaitu lapangan : Kawengan, Ledok, Nglobo Semanggi, dan termasuk juga antiklin
antiklin Ngronggah, Banyuasin, Metes, Kedewaan dan Tambakromo. Di dalam jalur positif sebelah
selatan terdapat antiklinal-antiklinal / struktur-struktur Gabus, Trembes, Kluweh, Kedinding Mundu,
Balun, Tobo, Ngasem Dander, dan Ngimbang High.
Sepanjang jalur Zona Rembang membentuk struktur perlipatan yang dapat dibedakan
menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Bagian Timur, dimana arah umum poros antiklin membujur dari Barat Laut Timur Tenggara.
2. Bagian Barat, yang masing masing porosnya mempunyai arah Barat timur dan secara
umum antiklin-antiklin tersebut menunjam baik ke arah barat ataupun ke arah timur.

Gambar Kerangka tektonik Cekungan Jawa Timur bagian Utara (Katili dan Reinemund, 1984).


Sejarah Perkembangan Daerah Pegunungan Rembang
Zona Rembang mempunyai batas dari ujung barat perbukitan di selatan Demak, memanjang ke arah timur dan timur laut
memasuki Jawa Timur sampai Pulau Madura, ke timur lagi berakhir di Pulau Kangean.
Morfologi
- Terdapat 3 satuan morfologi, yaitu satuan Dataran Rendah, Satuan Perbukitan Bergelombang, dan Satuan
Perbukitan Terjal.
- Jalur Rembang terdiri dari pegunungan lipatan berbentuk antiklinorium dengan arah kelurusan barat timur
- Bagian utara antiklinorium rembang mengandung formasi batuan berumur miosen awal.
- Suatu kelompok antiklin yang terdapat di bagian selatan dikenal sebagai Zona Rembang Tengah dan Selatan (Cepu
trend).
- Pada bagian utara terdapat 2 gunung api pleistosen, yakni Gunung Muria dan Gunung Lasem.
Stratigrafi
- Zona Rembang termasuk dalam cekungan Jawa Timur yang terbentuk pada oligosen akhir (barat-timur) hampir
sejajar dengan Pulau Jawa (Van Bemmelen, 1949)
- Fase orogenesa Miosen Tengah ditandai oleh hiatus di daerah Cepu dan dicirikan oleh perubahan fasies yaitu dari
fasies transgresi menjadi fasies regresi di seluruh Zona Rembang.
- Urutan formasi dari tua ke muda yaitu: Formasi Kujung, Formasi Prupuh, Formasi Tuban, Formasi Tawun, Formasi
Ngrayong, Formasi Bulu, Formasi Ledok, Formasi Wonocolo, Formasi Mundu, Formasi Lidah, Formasi Undak Solo.

Sruktur Geologi
Terdapat 2 kali fase tektonik:
1. Zaman Paleogen (Eosen Oligosen) : Arah timur laut barat daya (searah dengan Pola Meratus), yang
menyebabkan terbentuknya cekungan Jawa Timur karena regangan.
2. Zaman Neogen ( Miosen Pliosen) : arah menjadi relatif timur barat, gaya yang terjadi adalah kompresi
sehingga terbentuk lipatan serta pengangkatan cekungan.
Sepanjang jalur Zona Rembang membentuk struktur perlipatan yang dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Bagian Timur, dimana arah umum poros antiklin membujur dari Barat Laut Timur Tenggara.
2. Bagian Barat, yang masing masing porosnya mempunyai arah Barat timur dan secara umum antiklin-antiklin
tersebut menunjam baik ke arah barat ataupun ke arah timur.
Rencana gambar
Kolom stratigrafi, Pola tektonik, kenampakan antiklinorium dari google earth, foto kenampakan struktur lipatan pada Zona
Rembang.
Outline
1. Perkenalan mengenai zona rembang :
cakupan wilayah
Kondisi geologi zona rembang secara umum
1. Fase tektonik yang membentuk struktur zona rembang selama Kenozoik :
Zaman Paleogen (Eosen Oligosen)
Zaman Neogen ( Miosen Pliosen)
1. Perkembangan daerah Rembang pada masa sekarang
2. 4. Rencana gambar : Kolom stratigrafi, Pola tektonik, kenampakan antiklinorium dari google earth, foto
kenampakan struktur lipatan pada Zona Rembang
3. 5. Kesimpulan

Evolusi Morfotektonik Zona Rembang
BAB I. STRATIGRAFI
Mandala Rembang termasuk dalam cekungan Jawa Timur utara. Secara historis penggunaan nama-nama
satuan stratigrafis pada zona ini semula hanya digunakan secara terbatas, tak terpublikasikan, pada
dilingkungan perusahaan minyak Belanda BPM (Batafsche Petroleum Maatschapij), yaitu pendahulu
perusahaan Shell, yang dulu memegang konsesi daerah Cepu. Nama-nama formasi secara resmi baru
mulai digunakan oleh Van Bemmelen (1949) dan Stratigraphic Lexicon of Indonesia oleh Marks (1957).
Harsono (1983) melakukan perubahan dari nama-nama tak resmi seperti globigerina
marl atau Orbitoiden-Kalk dengan memberikan nama yang baru, menetapkan lokasi tipe, sesuai dengan
Sandi Stratigrafi Indonesia. Penentuan umur secara teliti dari setiap formasi dengan menggunakan
pertolongan fosil foraminifera plangtonik telah dilakukan oleh Harsono (1983).
Zona rembang dimulai dari ujung barat perbukitan di selatan Demak, memanjang ke arah timur dan timur
laut memasuki wilayah Jawa Timur, memanjang melewati Pulau Madura, terus ke arah timur hingga ke
Pulau Kangean. Arah memanjang perbukitan tersebut mengikuti sumbu-sumbu lipatan, yang pada
umumnya berarah barat-timur. Di beberapa tempat sumbu-sumbu ini mengikuti pola en echelon yang
menandakan adanya sesar geser lateral kiri (left lateral wrenching faulting).
Bagian utara dari antiklinorium rembang yang mengandung formasi batuan berumur miosen awal, telah
mengalami pengangkatan dan erosi. Suatu kelompok antiklin yang terdapat di bagian selatan dikenal
sebagai zona rembang tengah dan selatan, juga sering disebut sebagai Cepu Trend. Batuan tertua yang
tersingkap di bagian ini berumur miosen akhir, yang kebanyakan mengandung minyak. Batuan yang
berfungsi sebagai reservoar hidrokarbon yang utama di daerah rembang adalah batupasir ngrayong
(miosen tengah) sedangkan penyumbat atau (seal)nya adalah batulempung wonocolo yang berumur
miosen akhir.
Pada zona rembang bagian utara terdapat 2 gunung api pleistosen, yaitu Gunung Muria dan Lasem.
Gunung api yang telah padam ini mempunyai komposisi batuan yang lain apabila dibandingkan dengan
gunung api yang lain. Komposisinya bukan andesit tetapi berupa batuan beku yang kaya akan leucite
(feldspatoid), mirip dengan batuan yang tergolong pada kelompok gunung api mediteranian suite, seperti
yang dijumpai di Atlantika.
Zona Rembang terbentang sejajar dengan zona Kendeng dan dipisahkan oleh depresi Randublatung, suatu
dataran tinggi terdiri dari antiklinorium yang berarah barat-timur sebagai hasil gejala tektonik Tersier
Akhir membentuk perbukitan dengan elevasi yang tidak begitu tinggi, rata-rata kurang dari 500 m.
Beberapa antiklin tersebut merupakan pegunungan antiklin yang muda dan belum mengalami erosi lanjut
dan nampak sebagai punggungan bukit. Zona Rembang merupakan zona patahan antara paparan
karbonat di utara (Laut Jawa) dengan cekungan yang lebih dalam di selatan (cekungan Kendeng). Litologi
penyusunnya campuran antara karbonat laut dangkal dengan klastika, serta lempung dan napal laut dalam.
Stratigrafi Zona Rembang tersusun atas Formasi Ngimbang, F. Kujung, F. Prupuh, F. Tuban, F. Tawun, F.
Ngrayong, F. Bulu, F. Wonocolo, F. Ledok, F. Mundu, F. Selorejo, dan F. Lidah.
Formasi Kujung
Tersusun oleh serpih dengan sisipan lempung dan secara setempat berupa batugamping baik klastik
maupun terumbu. Diendapkan pada lingkungan laut dalam sampai dangkal pada kala Oligosen Akhir
sampai Miosen Awal.
Formasi Tuban
Tersusun oleh lapisan batulempung dengan sisipan batugamping. Semakin ke selatan berubah menjadi
fasies serpih dan batulempung (Soejono, 1981, dalam PanduanFieldtrip GMB 2006). Diendapkan pada
lingkungan neritik sedang-neritik dalam.
Formasi Tawun
Tersusun oleh serpih lanauan dengan sisipan batugamping. Pada bagian atas formasi ini didominasi oleh
batupasir yang terkadang lempungan dan secara setempat terdapat batugamping. Satuan di bagian atas
ini sering disebut sebagai Anggota Ngrayong. Diendapkan pada laut terbuka agak dalam sampai laut
dangkal di bagian atas pada Miosen Tengah (N9-N13) (Rahardjo & Wiyono, 1993, dalam
Panduan Fieldtrip GMB 2006).
Formasi Tawun dimasa lalu disebut sebagai Lower Orbitoiden-Kalk (Lower OK) dan dimasukkan dalam apa
yang disebut Rembang beds (Van Bemmelen, 1949). Selanjutnya Koesoemadinata (1978) menamakannya
sebagai Anggota Tawun dari Formasi Tuban. Pada tahun 1983, Harsono menaikkan status anggota ini
menjadi Formasi (tabel III.1). Menurut Harsono Formasi Tawun ini tersusun oleh perselingan
antara gypsiferous carbonaceous shale dengan struktur gelembur arus, serta batugamping yang kaya akan
foraminifera besar golongan Orbitoidae seperiLepidocyclina. Singkapan yang dijumpai merupakan bagian
teratas dari Formasi ini, tersusun oleh batulempung abu-abu kehijauan dengan sisipan batugamping dan
batupasir. Didaerah sekitar desa Ngampel terdapat singkapan dari Formasi ini setebal 30 m. Perlapisannya
mengandung fosil foraminifera plangtonik yang menunjukkan umur N 8 (Akhir Miosen Awal) berupa
kumpulan spesies : Globigerinoides diminutus, Pareorbulina transtoria dan Globigerinoides sicanus.
Sedangkan kandungan foraminifera bentoniknya menunjukkan bahwa Formasi ini diendapkan pada
kondisi laut sangat dangkal pada kondisi penguapan yang sangat tinggi. Ke arah atas litologi ini
ditumpuki oleh batupasir merah hingga merah jambu, dengan gejala struktur silang siur yang menjadi ciri
dari batupasir Ngrayong.
Formasi Ngrayong
Anggota ini juga disebut Upper Orbitoiden-Kalak oleh Trooster (1937), Van Bemmelen (1949)
menamakan Upper Rembang beds. Nama batupasir anggota Ngrayong telah diperkenalkan Brouwer (1957),
yang mengajukan tipe local pada desa Ngrayong, Jatirogo, dimana susunan utamanya batupasir
dengan intercalation batubara dan sandy clay.
Harsono (1983), mendeskripsi Ngrayong sebagai anggota formasi Tawun, terdiri dariorbitoid
limestone dan shale dalam bagian bawah dan batupasir dengan intercalation batugamping dan lignit di
bagian atas. Umur dari unit ini Miosen Tengah, pada area N9-N12. Lingkungan pengendapan dari anggota
ini fluvial atau submarine dalam singkapan di sebelah utara (Jatirogo, Tawun) dan menjadi lingkungan laut
pada bagian selatan. Di dekat Ngampel sekuen pasir endapan laut yang mendangkal ke atas darishore
face ke pantai akan terlihat anggota ini mungkin berhubungan dengan haitus di atas area mulut laut jawa.
Anggota ini merupakan reservoar utama dari lapangan minyak Cepu, tetapi terlihat adanya shale yang
hadir di bagian selatan dan timur dari lapangan ini. Ketebalan dari unit ini bervarian (lebih dari 300 m).
Formasi Bulu
Semula formasi ini disebut sebagai PlatenComplex oleh Trooster (1937). Tersusun oleh batugamping
pasiran yang keras, berlapis baik, berwarna putih abu-abu, dengan sisipan napal pasiran. Pada
batugampingnya dijumpai banyak foraminifera yang berukuran sangat besar dari
spesies Cycloclypeus (Katacycloclypeus) annulatusberasosiasi dengan fragmen koral dan alga serta
foramnifera kecil. Harsono (1983) menggunakan nama Formasi Bulu sebagai nama Resmi, dengan
memasang lokasi tipe di Sungai Besek, dekat desa Bulu, Kabupaten Rembang. Posisi stratigrafi, umur dan
litologinya dapat dilihat pada tabel III.1.
Pada peta geologi lembar Rembang (1 : 100.000), formasi ini melampar luas terutama di wilayah
antiklonorium Rembang Utara. Satuan ini menebal ke arah barat, mencapai ketebalan hingga 360 m di
sungai Larangan. Dibagian timur di sungai Besek dekat desa Bulu ketebalannya hanya 80 meter. Kondisi
litologi dan kandungan fosilnya menunjukkan bahwa Formasi ini diendapkan pada laut dangkal, terbuka
pada Kala Miosen Tengah Awal Miosen Akhir (N 13 N 15).
Formasi Wonocolo
Tersusun dari napal kuning-coklat, mengandung glaukonit, terdapat sisipan kalkarenit dan batulempung.
Menurut Purwati (1987, dalam Panduan Fieldtrip GMB 2006) lingkungan pengendapan formasi ini adalah
neritik dalam hingga bathyal tengah pada Miosen Tengah-Miosen Atas (N14-N16).
Formasi Wonocolo semula disebut sebagai anggota bawah dari Formasi Globigerina oleh Trooster (1937).
Formasi ini menumpang secara selaras di atas formasi bulu dan ditumpangi oleh Formasi Ledok. Pada
umumnya tersusun oleh napal dan napal lempungan yang tidak berlapis, kaya akan kandungan
foraminifera plangtonik. Pada bagian bawahnya dijumpai sisipan batugamping pasiran dan batupasir
gampingan dengan ketebalan bervariasi antara 520 cm. Urutan ini menunjukkan bahwa selama
pengendapannya terjadi kondisi transgresif. Marks (1957) dan Harsono (1983) menyimpulkan bahwa umur
dari formasi ini adalah Miosen Tengah Miosen Akhir kisaran umur N 14 N 16. (lihat tabel III.1).
Singkapan dari Formasi Wonocolo dijumpai mulai dari daerah Sukolilo, barat daya Pati. Ketebalan dari
Formasi ini sangat bervariasi. Ke arah utara formasi ini berubah fasies menjadi batugamping dari Formasi
Paciran. Melimpahnya fauna plangtonik pada batuan penyusun formasi ini menunjukkan bahwa
pengendapannya berlangsung pada laut yang relatif dalam, wilayah ambang luar hingga batial atas.
Formasi Ledok
Secara selaras di atas Formasi Wonocolo terdapat Formasi Ledok. Trooster (1937) menganggap satuan ini
sebagai anggota dari Formasi Globigerina, namun para peneliti sesudahnya menganggap berstatus
formasi (Marks, 1957; Harsono, 1983). Formasi Ledok secara umum tersusun oleh batupasir glaukonitan
dengan sisipan kalkarenit yang berlapis bagus serta batulempung yang berumur Miosen Akhir (N 16N 17).
Posisi stratigrafi, umur dan litologinya dapat dilihat pada tabel III.1.
Ketebalan dari Formasi Ledok ini sangat bervariasi. Pada lokasi tipenya, yaitu daerah antiklin Ledok,
ketebalannya mencapai 230 m. Di daerah sungai Panowan mencapai 160 m, sedangkan di sungai Cegrok
tinggal 50 m. Batupasirnya kaya akan kandungan glaukonit dengan kenampakan struktur silang siur. Di
beberapa tempat batupasir tersebut terutama tersusun oleh hanya oleh test foraminifera plangtonik
dengan sedikit mineral kuarsa. Secara keseluruhan bagian bawah dari formasi ini cenderung tersusun oleh
batuan yang berbutir lebih halus dari bagian atas, menunjukkan kecendrungan kondisi pengendapan laut
yang semakin mendangkal (shallowing-upward sequence). Ke arah utara, seperti halnya Formasi Wonocolo,
Formasi Ledok ini juga mengalami perubahan fasies menjadi batugamping dari formasi Paciran.
Formasi Mundu
Satuan stratigrafi ini semula disebut sebagai Mundu stage oleh Trosster (1937). Selanjutnya oleh Van
Bemmelen (1949) disebut sebagai Globigerina Marls. Oleh Marks (1957) satuan ini diresmikan sebagai
Formasi. Formasi ini tersusun oleh napal masif berwarna putih abu-abu, kaya akan fosil foraminifera
plangtonik. Secara stratigrafis Formasi Mundu terletak tidak selaras di atas formasi ledok, penyebarannya
luas, dengan ketebalan 200 m300 m di daerah antiklin Cepu area, ke arah selatan menebal menjadi
sekitar 700 m. Formasi ini terbentuk antara Miosen Akhir hingga Pliosen (N 17N 21), pada lingkungan
laut dalam (bathyial).
Formasi Selorejo
Unit ini pembentukannya disebut Selorejo Beds oleh Trooster, 1937, yang telah diklasifikasikan sebagai
anggota dair Formasi Lidah oleh Udin Adinegoro (1972) dan Koesoemadinata (1978). Sejak Harsono
(1983) tidak melakukan pengamatan ketidakselarasan antara Formasi Lidah dan Mundu. Dia memasukkan
anggota Selorejo dalam Formasi Mundu. Tipe lokalnya dari Desa Selorejo dekat Cepu dan terdiri lebih
keras dan lebih lunak antar lapisan, menyisakan kebanyakan glaukonit. Dari foraminifera dianggap
lingkungan laut dalam.
Satuan batuan ini semula oleh Trooster (1937) disebut sebagai Selorejo beds. Selanjutnya Udin Adinegoro
(1972) dan Koesoemadinata (1978) menyebutnya sebagai anggota dari Formasi Lidah. Harsono (1983)
menyimpulkan bahwa Selorejo ini merupakan anggota dari Formasi Mundu. Lokasi tipenya terletak di desa
Selorejo dekat kota Cepu. Anggota Selorejo ini tersusun oleh perselingan antara batugamping keras dan
lunak, kaya akan foraminifera palngtonik serta mineral glaukonit.
Penyebaran dari Anggota Selorejo ini tidak terlalu luas, terutama meliputi daerah sekitar Blora, sebelah
utara Cepu (desa Gadu) dan di selatan Pati. Ketebalannya berkisar antara 0 hingga 100 meter. Berdasarkan
kandungan foraminifera palngtonik, umur dari Anggota Selorejo adalah Pliosen ( N 21).
Formasi Lidah
Formasi ini terdiri atas batulempung kebiruan, napal berlapis dengan sisipan batupasir dengan lensa-
lensa coquina. Dahulu Trooster (1937) menyebutnya sebagai Mergetton, yang terbagi menjadi dua bagian,
yaitu Tambakromo dan TuriDomas. Harsono (1983) kemudian meresmikan satuan ini menjadi berstatus
formasi, yaitu Formasi Lidah (tabel III.1).
Bagian terbawah dari formasi ini diduga merupakan endapan neritik tengah hingga neritik luar, yang
tercirikan oleh banyaknya fauna plangtonik tetapi masih mengandung foraminifera bentonik yang
mencirikan air relatif dangkal seperti pseudorotalia sp. danAsterorotalia sp. Ke arah atas, terjadi urutan
yang mendangkal ke atas (shallowing upward sequence), yang dicirikan oleh lapisan-lapisan yang kaya
akan moluska.
I.1.7 Formasi Paciran
Satuan ini semula oleh Van Bemmelen (1949) disebut sebagai Karren Limestone. Secara umum
penyusunnya terdiri atas batugamping pejal, dengan permukaan singkapan-singkapannya mengalami
erosi membentuk apa yang disebut sebagai karren surface. Harsono (1983) secara resmi menggunakan
nama Paciran dan menempatkannya pada status formasi, dengan lokasi tipenya berada di daerah bukit
piramid di sekitar Paciran, kabupaten Tuban. Formasi ini dijumpai hanya dibagian utara dari Zona
Rembang. Posisi stratigrafi, umur dan litologinya dapat dilihat pada tabel III.1. Umur dari Formasi ini
masih memicu terjadinya perbedaan. Harsono (1983) menempatkannya pada Kala PliosenAwal Pleistosen,
yang secara lateral setara dengan Formasi Mundu dan Lidah. Namun di beberapa tempat terdapat bukti
umur yang menunjukkan bahwa Formasi Paciran telah berkembang pada saat pembentukan Formasi
Ledok dan Wonocolo.
BAB II STRUKTUR GEOLOGI
Pulau jawa mempunyai dua macam konfigurasi struktur (structural grains) yang berbeda. Di bagian utara
tercirikan oleh kecendrungan mengikuti arah timur-barat. Pola timurlautbaratdaya diduga mengikuti
konfigurasi basement. Basement-nya sendiri diduga merupakan bagian dari kerak benua yang berumur
Pre Tersier, tersusun oleh mlange, ofiolit dan bagian dari jenis kerak benua lain. Pola struktur yang
berarah timurbarat ini sesuai dengan busur volkanik Tersier yang juga berarah timurbarat (Hamilton,
1978). Cekungan Jawa Timur, dimana Kendeng dan Rembang terletak, kemungkinan terletak pada kerak
perantara (intermediate crust) dari kelompok mlange yang berangsur berubah menjadi kerak samudra,
yang mungkin terdapat pada penghujung timur dari cekungan ini.
Pada bagian barat cekungan Jawa Timur nampak adanya kecendrungan arah morfologi dan struktur timur
barat (gambar IV.1). Hal ini dapat dibandingkan dengan cekungan selatan (Southern Basin). Daratan
tersebut mencakup zona Rembang dan Zona Kendeng serta kelanjutannya, yang dibagian utara dibatasi
oleh tinggian Kujung-KangeanMaduraSepanjang yang terbentuk sebagai akibat sesar geser (wrench
related). Ke arah selatan zona ini dibatasi oleh jalur gunung api kuarter. Cekungan ini kemungkinan
terbentuk sejak Eosen hingga akhir Oligosen oleh suatu tektonik ekstensional, yang kemudian diikuti oleh
fase tektonik inverse sejak awal Miosen hingga Holosen. Pada fase inversi ini dibagian utara dari cekungan
ini mengalami pengangkatan (zona Rembang) sedangkan pada bagian selatannya masih berupa cekungan
laut dalam (zona Kendeng).
Dalam kerangka tektonik regional maka proses pembentukan struktur Tersier di Pulau Jawa dapat dibagi
menjadi 3 periode :
1. Paleogen Extension Rifting
2. Neogen Compressional Wrenching
3. Plio Pleistocene Compressing Thrust Folding
Fase ekstensional Paleogene menghasilkan graben / half graben dan sesar-sesar yang mempunyai arah
pemanjangan timurbarat. Selanjutnya pada fase kompresi pada Awal Miosen terjadi reaktivasi dari sesar
ekstensional yang sebelumnya telah ada, yang menunjukkan adanya kontrol tektonik terhadap
pembentukan awal cekungan.
Periode Neogen Compressional Wrenching ditandai oleh pembentukan sesar-sesar geser, yang terutama
terjadi akibat gaya kompresif dari tumbukan lempeng Hindia. Sesar geser yang terjadi membentuk
orientasi tertentu, yang berhubungan dengan kompresi utama. Sebagian besar pergeseran sesar
merupakan reaktivasi dari sesar-sesar normal yang terbentuk pada periode Paleogen.
Periode Plio Pleistocene Compressional Thrust Folding ditandai oleh pembentukan lipatan yang
berlanjut pada pembentukan sesar-sesar naik. Antiklinorium dan thrust belt yang terjadi memiliki
orientasi tertentu yang berhubungan dengan arah kompresi dan kinematika pembentukannya. Pada
zaman Neogen cekungan Jawa Timur bagian utara mengalami rezim kompresi yang menyebabkan
reaktivasi sesar-sesar normal tersebut dan menghasilkan sesar-sesar naik.
Pada jaman Pre-Tersier lempeng Jawa Timur mengalami penunjaman dibawah lempeng Sunda, mengkuti
arah memanjang zona penunjaman kurang lebih N 60
0
E, penunjaman ini berakibat pemendekan lempeng
pada arah tegaklurus arah penunjaman. Pada saat itu cekungan Jawa Timur barangkali masih berupa
cekungan muka busur (fore arc basin). Pada Awal Miosen atau lebih tua, tektonik ekstensi bekerja di zona
Rembang. Ekstensi ini kemudian diikuti oleh serangkaian tegasan kompresif yang menjadi aktif sejak
Akhir Miosen hingga Holosen dengan arah yang bergeser dari arah timur laut. Kompresi ini juga bekerja
pada zona Kendeng sejak Akhir Miosen dan seterusnya. Namun rekaman stratigrafis dari peristiwa ini
hanya dapat diamati pada bagian bawah dari Formasi Kerek. Kompresi ini juga menjadi semakin lemah
selama pembentukan sedimen yang lebih muda.
BAB III. MORFOTEKTONIK
Evolusi Morfotektonik zona rembang berdasarkan data stratigrafi dan struktur geologinya dapat dibagi
menjadi 4 fase:
1. Fase Tektonik pertama yang terjadi selama tersier sampai awal Oligocene yang mengendapkan
formasi Ngimbang dan Kujung yang diendapkan diatas basement yang berupa mlange dan ofiolit.
Formasi Ngimbang yang tersusun oleh batupasir dan batulanau yang terdapat sisipan batugamping
mengindikasikan bahwa pengendapannya merupakan syn-rift post rift sehingga terbentuk
cekungan laut dangkal. Cekungan ini mulai stabil pada saat terendapkannya formasi Kujung yang
berupa batugamping. Pada fase ini gaya yang bekerja dominannya adalah gaya ekstensional.
Cekungan ini berupa fore arc basin
2. Fase yang kedua terjadi pada oligocen tengah sampai miosen akhir. Pada waktu ini penunjaman
lempeng hidia ke pulau Jawa yang oblique. Penunjaman yang oblique ini membentuk struktur lipatan
dan sesar yang berarah timur laut barat daya (pola meratus). Pada fase ini rembang masih berupa
fore arc basin dan telah memasuki fase sagging inverse. Pada waktu inilah terendapkan formasi
Prupuh, Tawun, Ngrayong, Bulu, Wonocolo, dan Ledok. Kedudukan muka air laut pada kala ini relative
regresi sehingga menyebabkan pola progadasional yang menyebabkan perebahan facies secara
lateral kearah darat ke arah utara. Hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan facies dari
batugamping (formasi Prupuh) ke batupasir, batulempung yang kaya mineral Glaukonit (formasi
Ngrayong dan ledok). Batupasir ini kemungkinan diendapkan di lingkungan delta.
3. Fase yang ketiga terjadi pada Miosen akhir sampai pleistocen awal. Pada fase ini terjadi transgresi
air laut yang menyebabkan kenaikan muka air laut secara relative yang mengendapkan formasi
Mundu, Paciran, Selorejo, dan Lidah. Pada fase ini rembang masih berupa fore arc basin. Memasuki
pengendapan formasi Pacerain dan selorejo terjadi regresi muka air laut sehingga terjadi perubahan
lingkungan pengendapan lagi dari laut dalam (bathial) ke laut dangkal (neritik tengah).
4. Fase yang keempat terjadi pada Pleistocene akhir Holosen. Pada fase ini penunjaman lempeng
Hindia sudah tegak lurus dengan pulau jawa sehingga terbentuklah lipatan, sesar, dan struktur-
struktur geologinya lainnya yang berarah timur-barat. Penunjaman ini juga menyebabkan terjadinya
partial melting, sehingga terjadi vulkanisme di sebelah selatan zona rembang. Sehingga zona
rembang berubah menjadi back arc basin. Vulkanis me ini juga menyebabkan terendapkan batuan
batuan gunung api seperti tuff, breksi andesit, aglomerat. Dan juga terjadi intrusi-intrusi andesit.
Peristiwa ini menyebabkan zona rembang menjadi daerah yang prospek dalam eksplorasi
hidrokarbon. Dimana formasi Ngimbang merupakan source rock yang poetensial. Pematangan source
rock ini disebabkan karena naiknya astenosfer yang diakibatkan penunjaman ini. Daerah back arc
basin lebih potensial terjadi pematangan source rock daripada fore arc basin. Sedangkan batuan
penutup dan reservoir banyak ditemui di formasi Tawun dan Tuban dimana banyak mengandung
batulanau-batulempung sedangkan reservoarnya bayak ditemui pada formasi Ngrayong, dan Ledok
yang mengendapkan batupasir. Reservoir lainnya yang berupa batugamping juga ditemukan.