Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

BAHAN DAN SEDIAAN OBAT MIKONAZOL KRIM



Hari/tanggal : Senin/ 6 Oktober 2014
Waktu : 14.30 16.30 WIB
PJ Dosen : Dr. Hj. Ietje Wientarsih, Apt., MSc.
Rini Madyastuti Purwono, Apt.,Msi.






Kelompok 4

Ade Ariesta Putri J3P113019
Annisa Nintyarifa J3P113017
Tio Mulyawarman J3P1130




















PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER
DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah
yang berjudul Bahan dan Sediaan Obat Mikonazol Krim dengan baik dan tepat
pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai bentuk sediaan,
kandungan yang terdapat pada obat, aktivitas, dan interaksi dan kontrandiksi yang
terdapat pada obat tersebut.
Makalah ini dibuat dengan berbagai sumber informasi dan beberapa
bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan makalah ini. Oleh
karena itu, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada
makalah ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran
serta kritik yang dapat membangun kami.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita
sekalian.

Bogor, 5 Oktober 2014

Penulis












PENDAHULUAN
Obat adalah semua bahan tunggal atau campuran yang digunakan oleh
semua makhluk untuk bagian dalam maupun bagian luar, guna mencegah,
meringankan, maupun menyembuhkan penyakit. Menurut undang-undang yang
dimaksud dengan obat adalah suatu bahan atau campuran bahan yang
dimaksudkan untuk digunakan dalam menentukan diagnosis, mencegah,
mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit, luka atau kelainan
badaniah atau rohaniah pada manusia atau hewan, termasuk memperindah tubuh
atau bagian tubuh manusia. Sediaan obat dibuat dan disimpan sedemikian rupa
dengan memperhatikan sifat bahan obat yang digunakan, sehingga efektivitas
optimal dan sifat tidak merusaknya, terjamin. Konsentrasi dan jumlah bahan
penolong yang digunakan dalam pembuatannya harus tersatukan dengan bahan
aktifnya (Voigt 1994).


TINJAUAN PUSTAKA
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung
air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Krim
merupakan obat yang digunakan sebagai obat luar yang dioleskan ke bagian kulit
badan. Obat luar adalah obat yang pemakaiannya tidak melalui mulut,
kerongkongan, dan ke arah lambung. Menurut definisi tersebut yang termasuk
obat luar adalah obat luka, obat kulit, obat hidung, obat mata, obat tetes telinga,
obat wasir, injeksi, dan lainnya.
Kualitas dasar krim yang pertama yaitu stabil selama masih dipakai
mengobati. Krim harus bebas dari inkopatibilitas, stabil pada suhu kamar, dan
kelembaban yang ada dalam kamar. Kedua, krim harus lunak, yaitu semua zat
dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak dan homogen. Ketiga,
krim harus mudah dipakai, umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah
dipakai dan dihilangkan dari kulit. Dan yang terakhir, krim harus terdistribusi
merata, obat harus terdispersi merata melalui dasar krim padat atau cair pada
penggunaan (Anief 1994).
Krim ada dua tipe, yaitu krim tipe minyak dalam air (m/a) dan tipe air
dalam minyak (a/m). krim yang dapat dicuci dengan ai ditujukan untuk
penggunaan kosmetik dan estetika. Krim juga dapat digunakan untuk pemberian
obat melalui vagina (Syamsuni 2006).
Stabilitas krim akan rusak jika sistem campurannya terganggu oleh
perubahan suhu dan komposisi, misalnya adanya penambahan salah satu fase
secara berlebihan. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika sesuai dengan
pengenceran yang cocok yang harus dilakukan dengan teknik asepti. Krim yang
sudah diencerkan harus digunakan dalam waktu satu bulan (Syamsuni 2006).
Bahan pengelmusi krim harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim
yang dikehendaki. Sebagai bahan pengelmusi krim, dapat digunakan emulgid,
lemak bulu domba, setasium, setilalkohol, stearilalkohol, golongan sorbitan,
polisorbat, PEG dan sabun. Bahan pengawet yang sering digunakan umumnya
adalah metilparaben (nipagin) 0,12% 0,18% dan propilparaben (nipasol) 0,02%
0,05% (Syamsuni 2006).
Prinsip pembuatan krim adalah berdasarkan proses penyabunan
(safonifikasi) dari suatu asam lemak tinggi dengan suatu basa dan dikerjakan
dalam suasana panas yaitu temperatur 70
o
80
o
C (Dirjen POM 1995). Fungsi
krim adalah sebagai bahan pembawa substansi obat untuk pengobatan kulit,
sebagai bahan pelumas bagi kulit dan sebagai pelindung untuk kulit yaitu
mencegah kontak langsung dengan zat-zat berbahaya (anief 1999).


HASIL DAN PEMBAHASAN
Mikonazol adalah obat antifungi golongan imidazol, yang dikembangkan
pertama kali oleh Janssen Pharmacetical, dan biasanya digunakan secara topikal
(seperti kulit) atau pada membran mukosa untuk mengobati infeksi yang
disebabkan fungi. Mikonazol Nitrat memiliki aktivitas antifungi terhadap
dermatofit dan khamir, serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap basil dan
kokus gram positif. Mikonazol melakukan penetrasi ke dinding sel fungi,
mengubah membran sel dan memengaruhi enzim intraseluler dan biosentesa
ergosterol. Miconazole nitrate adalah suatu turunan sintetik dari phenethyl
imidazole yang mempunyai khasiat anti jamur, bekerja mempengaruhi
permiabilitas jamur dengan mengganggu biosintesa ergosterol yang
mengakibatkan terganggunya membran plasma. Obat ini berbentuk kristal putih,
tidak bewama dan tidak berbau, sebagian kecil larut dalam air tapi lebih larut
dalam pelarut organik.



Mikonazol Nitrat diindikasikan untuk infeksi kulit yang disebabkan oleh
dermatofit atau khamir dan fungi lainnya seperti Pityriasis versicolor (panu),
Tinea corporis (kurap di leher/badan), Tinea cruris (kurap di selangkangan), dan
Tinea pedis (kutu air di telapak kaki atau athletes foot). Karena memiliki khasiat
antibakteri terhadap bakteri gram positif, maka Mikonazol Nitrat dapat digunakan
untuk mengobati penyakit fungi yang mengalami infeksi sekunder bakteri. Untuk
dermatofitosis sedang atau berat yang mengenai kulit kepala, telapak dan kuku
sebaiknya dipakai griseofulvin.
Dosis dan pemakaian mikonazol adalah dioleskan pada kulit yang terkena
fungi 2 kali sehari. Gosokkan krim dengan jari sampai krim menyerap ke dalam
kulit. Lamanya terapi bervariasi antara 2-6 minggu tergantung dari tempat dan
berat ringannya penyakit. Agar penyakitnya tidak kambuh lagi, pengobatan harus
dilanjutkan 10 hari setelah semua gejala hilang. Kontraindikasi mikonazol adalah
tidak boleh digunakan pada pasien yang alergi terhadap Mikonazol atau bahan
tambahan yang terdapat pada krim.
Peringatan dan perhatian dari obat ini yaitu bila terjadi reaksi sensitifitas
atau iritasi, obat harus dihentikan, tidak boleh kontak dengan mukosa mata dan
penggunaan secara topical hanya sejumlah kecil Mikonazol Nitrat yang
diabsorpsi, namun penggunaan pada wanita hamil perlu diawasi. Penyakit panu
mengakibatkan gangguan pigmentasi kulit. Setelah pengobatan, gangguan
pigmentasi belum kembali normal. Untuk mendapatkan pigmentasi normal
dianjurkan berjemur di pagi hari.
Biasanya krim Mikonazol Nitrat dapat ditoleransi dengan baik. Pada orang
yang terlalu sensitif (sangat jarang terjadi) dapat timbul iritasi dan
hipersensitivitas kulit. Jika kelebihan pemakaian dapat meyebabkan iritasi, yang
akan hilang setelah penghentian terapi. Jika sampai tertelan, lakukan pengosongan
lambung dengan teknik yang sesuai. Penyimpanan mikonazol disimpan pada suhu
kamar (di bawah 30 C). Sediaan obat ini adalah krim 5 gram atau 10 gram yang
mengandung 2% Mikonazol Nitrat.
Mekanisme kerja obat ini belum diketahui sepenuhnya. Mikonazol masuk
kedalam sel jamur dan menyebabkan kerusakan dinding sel sehingga
permeabilitas terhadap berbagai zat intrasel meningkat. Mungkin pula terjadi
gangguan sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel jamur yang
akan menyebabkan kerusakan. Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan
tanduk kulit akan menetap di sana sampai 4 hari.
Merk dagang (pabrik) mikonazol pada beberapa komposisi tunggal yaitu
Kalpanax Krim 5 Gram (Kalbe Farma), Daktarin Cream 5 dan 10 Gram (Janssen-
Cilag), Daktarin Liq. Soap 50 ml (Janssen-Cilag), Daktarin Powder 20 Gram
(Janssen-Cilag), Daktarin Oral Gel 10 dan 20 Gram (Janssen-Cilag), Fungares 5
dan 10 Gram (Guardian Pharmatama), Micoskin 5 dan 10 Gram (Corsa), Micrem
5 Gram (Merck) dan Moladerm 10 Gram (Molex Ayus). Kombinasi dengan obat
lain yaitu Benoson-M Cream 5 Gram (Berno) kombinasi dengan Betametason
Valerat 0.1%, Brentan Cream 5 Gram (Janssen-Cilag) kombinasi dengan
Hidrokortisom Asetat 1%, dan Daktarin Diaper Ointment 10 Gram (Janssen-
Cilag) kombinasi dengan Seng Oksida 1,5%.







KESIMPULAN
Mikonazol adalah obat antifungi golongan imidazol, yang dikembangkan
pertama kali oleh Janssen Pharmacetical, dan biasanya digunakan secara topikal
(seperti kulit) atau pada membran mukosa untuk mengobati infeksi yang
disebabkan fungi. Mikonazol Nitrat diindikasikan untuk infeksi kulit yang
disebabkan oleh dermatofit atau khamir dan fungi. Dosis dan pemakaian
mikonazol adalah dioleskan pada kulit yang terkena fungi 2 kali sehari. Sediaan
obat ini adalah krim 5 gram atau 10 gram yang mengandung 2% Mikonazol
Nitrat.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, M.1999. Sistem Dispersi, Formulasi Suspensi dan Emulsi. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta
Anief, M.1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal.
130
Ditjen POM.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Evelyn R, Hayes. 1996. Alih Bahasa: Farmakologi Pendekatan Proses
Perawatan,Jakarta: EGC
Syamsuni.2006.Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi.Jakarta : Penerbit
EGC.
Voigt, R.1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Penerjemah Soendani
Noerono .Yogyakarta : Gajah Mada University Press.