Anda di halaman 1dari 4

29

BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Diabetes Mellitus adalah suatu sindrom yang ditandai hiperglikemia
kronis, lama kelamaan akan menyebabkan komplikasi yaitu mikroangiopati yang
menyebabkan komplikasi pada mata (retinopati), ginjal (nefropati), saraf
(neuropati) dan makroangiopati yaitu terjadinya aterosklerosis yang
mengakibatkan penyakit jantung koroner dan stroke (Widodo, 1997; Kurniati,
2004).
Pengobatan diabetes mellitus meliputi diet, olahraga dan obat
antidiabetik. Obat antidiabetik sendiri ada yang berasal dari tanaman yang
berkhasiat obat. Beberapa tanaman yang biasa digunakan sebagai obat diabetes
mellitus adalah alpukat, mahkota dewa, buah naga, jambu biji, pare, dan tanaman
seledri. Salah satu tumbuhan dari sekian banyak tanaman di Indonesia yang juga
mempunyai khasiat menurunkan kadar glukosa darah adalah Bungur
(Lagerstroemia). Kulit batang bungur diketahui mengandung senyawa flavonoid
dan tanin (Dalimarta, 2003).
Dari hasil penelitian sebelumnya, penggunaan air rebusan daun Bungur
(Lagerstroemia speciosa Pers.) dengan kepekatan 10% dan 20% yang diberikan
secara oral pada kelinci mampu menurunkan kadar gula darah sebesar 85,97% dan
96,27% dibandingkan dengan tolbutamid 250 mg/kg b.b (Astiti, 1990), serta
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2008), pada ekstrak n-

29

30

butanol kulit batang bungur diduga mengandung senyawa flavonoid golongan
flavanon. Menurut Kakuda et al (1996), ekstrak daun bungur mampu menekan
peningkatan kadar glukosa darah secara signifikan pada tikus diabetes tipe 2 yang
dibandingkan dengan tikus kontrol. Hayashi (2001) telah meneliti tentang
elagitanin pada fraksi aseton daun bungur yang dapat menurunkan kadar glukosa
darah.
Monica (2006) telah meneliti tentang penurunan kadar glukosa darah
pada tikus Wistar yang diberi air seduhan serbuk biji alpukat, diduga karena
adanya kandungan tanin yang bersifat sebagai astringent pada permukaan lapisan
usus halus sehingga menghambat penyerapan glukosa yang pada akhirnya akan
menurunkan kadar glukosa dalam darah.
Dalimartha (2005) menyebutkan bahwa tanin diketahui dapat memacu
metabolisme glukosa dan lemak, sehingga timbunan kedua sumber kalori ini
dalam darah dapat dihindari. Tanin mempunyai aktivitas antioksidan. Senyawa ini
juga mempunyai aktivitas hipoglikemik yaitu dengan meningkatkan glikogenesis.
Selain itu tanin juga berfungsi sebagai astringent atau pengelat yang dapat
mengkerutkan membran epitel usus halus sehingga mengurangi penyerapan sari
makanan akibatnya menghambat asupan glukosa dan laju peningkatan glukosa
darah tidak terlalu tinggi. Bagi tubuh manusia, tanin adalah zat yang dibutuhkan
untuk memacu metabolisme glukosa dan lemak sehingga timbunan kedua sumber
kalori ini dalam darah dapat dihindari. Pada penelitian yang dilakukan oleh Ezaki
et al (1984) melaporkan bahwa tanin terkondensasi mempunyai aktivitas biologi.
31

Berdasarkan fakta tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
mengenai isolasi senyawa tanin dan uji efek hipoglikemik ekstrak kulit batang
bungur terhadap darah mencit yang diinduksi aloksan. Adapun kerangka
pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.1

Gambar 3.1 Kerangka Berpikir dan Konsep Penelitian


32

3.2 Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas maka dapat dirumuskan suatu
hipotesis bahwa kulit batang bungur mengandung senyawa tanin yang dapat
menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes.