Anda di halaman 1dari 4

Muhammad Nur Setia Budi

E13113014

A. Positivisme
Darwis (2014) mendeskripsikan bahwa Auguste Comte merupakan Bapak
positivisme. Comte mengemukakan tiga tahap perkembangan akal budi manusia, yaitu; tahap
teologis, metafisik dan positive. Tahap positive ditandai oleh kepercayaan akan data empirik
sebagai sumber pengetahuan terakhir. Namun, karena pengetahuan selalu bersifat sementara
maka semangat positivisme memperlihatkan suatu keterbukaan terus menerus terhadap data
baru yang dengan data baru tersebut pengetahuan dapat ditinjau kembali dan diperluas.

Intinya, positivisme Comte, jelas Silalahi, menekankan bawa pengetahuan harus
berdasat pada pengalaman atau berdasar atas fakta-fakta yang diteliti. Filsafat positif berdasar
pada kekaguman yang mendalam terhadap presisi kuantitatif ilmu-ilmu alam, khususnya
matematika, fisika dan biologi. Comte berusaha menerapkan metode-metode kuantitatif ilmu
alam untuk menemukan prinsip-prinsip keteraturan dan perubahan di dalam masyarakat
sehingga menghasilkan sebuah susunan pengetahuan baru yang bisa digunakan untuk
mengorganisasikan masyarakat demi tujuan untuk memperbaiki umat manusia. Comte
berpendapat bahwa hanya dengan menggunakan filsafat positif untuk mempelajari pikiran
manusia dan interaksi sosial baru dapat difahami kemajuan sosial yang nyata.

Bukan hanya Comte, tokoh sosiologi, Durkheim menggunakan pernyataan-
pernyataan proporsional dalam penelitiannya tentang bunuh diri. Durkheim kemudian
merumukan suatu teori tentang soidaritas sosial. Dari studi yang dilakukan itu, Durkheim
menunjukkan bahwa solidaritas sosial atau kepekaan kelompok dapat dikur secara empiris
melalui fakta-fakta sosial yang dapat diamati.

Teori sosiologi positivisme sangat memperhatikan ketepatan dalam pembentukan
teori (konstruksi teori). Teori terbentuk dari konsep, proposisi dan adanya saling hubungan
antar proposisi. Para ahli teori meyakini bahwa unit dasar suatu teori ialah konsep atau
variabel-variabel yang memberikan dasar pengujian empiris. Variabel-variabel dan batasan
inilah yang kemudian menjadi dasar pembentukan suatu teori.

Selanjutnya, dengan adanya fakta-fakta baru maka sebuah teori dapat
disempurnakan menurut pandangan positivisme. Dalam perkembangannya, paradigma
positivisme ini kemudian disebut pendekatan kuantitatif atau deducto-hipothetico-verivicative
atau pendekatan yang bersifat deduktif, mengacup pada pengujian hopotesis dan setiap
variabel perlu diverifikasi sebagai uji empiris.

Sebagai upaya untuk memahami positivism lebih jauh, McNeill dan Chapman
(2005) menjelaskan bahwa positivism merupakan sebuah konsep filosofis yang secara khusus
menunjukkan pandangan (asumsi) dunia termasuk cara mempelajari dunia tersebut.
Umumnya, para penganut positivisme memandang masyarakat lebih penting dari pada
individu. Sebagai contoh, para positivis mengatakan bahwa individu-individu dalam
masyarakat itu dilahirkan, menempati posisi mereka dalam masyarakat lalu kemudian
meninggal, tapi meskipun individu-individu tersebut telah meninggal masyarakat akan tetap
hidup dan berkelanjutan tanpa mampu dihentikan oleh individu. Jadi, bagi mereka, individu
hanya merupakan bone masyarakat. Dalih yang mereka kembangkan adalah bahwa individu-
individu dikontrol oleh masyarakat melalui organisasi sosial. Hal ini terjadi karena individu-
idividu meyakini bahwa hanya degan mengikuti kontrol masyakat hukum alam dapat
mengatur perilaku kimiawi, tumbuh-tumbuhan, binatang manusia. Dengan demikian, ada
semacam tekanan sosial (social forces) atau hukum yang mengatur dunia sosial khususnya
pengalaman sehari-hari dan perubahan kehidupan.

Dalam hal ini, baik para fungsionalis maupun Marxian merupakan penganut teori-
teori positivis karena mereka yakin bahwa perilaku individual kurang penting dalam
mendukung pemahahaman kita tentang kehidupan sosial dibandingkan dengan struktur sosial
itu sendiri. Para funsionalis menekankan pentingnya untuk individu-individu untuk
disosialisasikan tentang sebuah nilai consensus yang mengontrol perilaku anggota-anggota
masyarakat dan consensus tersebut akan membawa anggota-anggota masyarakat menuju pada
keteraturan tatanan sosial. Tentulah sangat sulit untuk menolak tekanan sosial yang memaksa
agar individu-individu menerima nilai-nilai dan norma-norma masyarakat, seperti pentingnya
pendidikan, pentingnya bekerja untuk mempertahankan hidup dan lainnya.

Demikian halnya dengan pendukung teori Marx (Marxian). Mereka juga jelas
merupakan penganut positivisme karena mereka memandang perilaku manusia sebagai hal
yang ditentukan oleh organisasi ekonomi dari masyarakat kapitalis. Para pengikut teori Marx
berargumentasi bahwa masyarakat kapitalis seperti di Inggris ditandai dengan adanya kelas-
kelas sosial yang tidak setara dalam kekayaan dan distribusi pendapatan, pendidikan,
kesehatan, moralitas dan lainnya. Secara khusus, Marxian berpendapat bahwa perilaku
individu adalah sebuah produk dari posisi sosial individu tersebut yang berada dalam
lingkaran masyarakat kapitalis. Dengan kata lain, kelas sosial sangat menentukan dan
berpengaruh kuat terhadap perubahan kehidupan dan tujuan hidup individu.
A. Perspektif Fenomenologi
Jika positivisme amat gila terhadap penyusunan teori, fenomenologi boleh dikatakan
menolak teori. Fenomenologi sedikit alergi teori. Pendekatan ini lebih menekankan
rasionalisme dan realitas budaya yang ada. Hal ini sejalan dengan penelitian etnografi yang
menitikberatkan pandangan warga setempat. Realitas dipandang lebih penting dan dominan
dibanding teori-teori melulu.
Fenomenologi berusaha memahami budaya lewat pandangan pemilik budaya atau
pelakunya. Menurut paham fenomenologi, ilmu bukanlah values free, bebas nilai dari apa
pun, melainkan values bound, memiliki hubungan dengan nilai. Aksioma dasar fenomenologi
adalah: (a) kenyataan ada dalam diri manusia baik sebagai indiividu maupun kelompok selalu
bersifat majemuk atau ganda yang tersusun secara kompleks, dengan demikian hanya bisa
diteliti secara holistik dan tidak terlepas-lepas; (b) hubungan antara peneliti dan subyek
inkuiri saling mempengaruhi, keduanya sulit dipisahkan; (c) lebih ke arah pada kasus-kasus,
bukan untuk menggeneralisasi hasil penelitian; (d) sulit membedakan sebab dan akibat,
karena situasi berlangsung secara simultan; (e) inkuiri terikat nilai, bukan values free.
Dalam pandangan Natanton (Mulyana, 2002:59) fenomenologi merupakan istilah
generik yang merujuk kepada semua pandangan ilmu sosial yang menganggap bahwa
kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial.
Tentu saja, dalam kaitannya dengan penelitian budaya pun pandangan subjektif informan
sangat diperlukan. Subjektif akan menjadi sahih apabila ada proses intersubjektif antara
peneliti budaya dengan informan.
Metode kualitatif fenomenologi berlandaskan pada empat kebenaran, yaitu kebenaran
empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik
transenden. Atas dasar cara mencapai kebenaran ini, fenomenologi menghendaki kesatuan
antara subyek peneliti dengan pendukung obyek penelitian.
Keterlibatan subyek peneliti di lapangan dan penghayatan fenomena yang dialami
menjadi salah satu ciri utama. Hal tersebut juga seperti dikatakan Moleong (1988:7-8) bahwa
pendekatan fenomenologis berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap
orang-orang biasa dalam situasi-situasi tertentu.
Peneliti fenomenologi tidak berasumsi bahwa peneliti mengetahui arti sesuatu bagi
orang-orang yang sedang diteliti. Maka dari itu, inkuiri dimulai dengan diam. Diam
merupakan tindakan untuk menangkap pengertian sesuatu yang diteliti. Yang ditekankan
adalah aspek subyek dari perilaku orang.
Mereka berusaha untuk masuk ke dunia konseptual para subyek yang ditelitinya
sedemikian rupa sehingga mereka mengerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang mereka
kembangkan di sekitar peristiwa dalam kehidupannya seharihari. Makhluk hidup tersedia
pelbagai cara untuk menginterpretasikam pengalaman melalui interaksi dengan orang lain,
dan bahwa pengertian pengalaman kitalah yang membentuk kenyataan.