Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

ELEKTROKIMIA







Disusun Oleh :
Kelompok 3
Kelas C

Affananda Taufik (1307122779)
Yunus Olivia Novanto (1307113226)
Adela Shofia Addabsi (1307114569)

PROGRAM STUDI SARJANA TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014
BAB I
TEORI

1.1 Tujuan Percobaan
1. Menentukan bilangan Avogrado (No) secara elektrolisis
2. Menyusun dan mengukur GGL sel elektrokimia
3. Mencoba menguji persamaan Nernst

1.2 Elektrokimia
Elektrokimia merupakan bagian ilmu kimia yang mempelajari mengenai
perubahan energi kimia menjadi listrik dan perubahan energi listrik menjadi
energi kimia dalam rangkaian yang dinamakan sel elektrokimia (Johari dan
Rachmawati, 2008). Sel elektrokimia dibedakan menjadi dua macam yaitu sel
volta dan sel elektrolisis.
1.2.1 Sel Volta
Sel volta atau sel galvani merupakan sel elektrokimia dimana energi kimia
dari reaksi redoks spontan diubah menjadi energi listrik. Prinsip kerja sel volta
adalah pemisahan reaksi redoks menjadi dua bagian yaitu setengah reaksi oksidasi
di anoda dan setengah reaksi reduksi di katoda sehingga ketika diletakkan dalam
suatu elektrolit dan dihubungkan dengan rangkaian luar, maka elektron akan
mengalir dari anoda ke katoda dan menghasilkan arus listrik (Johari dan
Rachmawati, 2008).
Arus yang dihasilkan pada sel volta terjadi karena adanya beda potensial
antara katoda dan anoda yang diketahui dari pengukuran menggunakan voltmeter.
Rangkaian umum sel volta secara umum terdiri dari:
a. Anoda yang merupakan elektroda tempat terjadinya reaksi oksidasi dan karena
menghasilkan elektron maka anoda bermuatan negatif
b. Katoda yang merupakan elektroda tempat terjadinya reaksi reduksi dan
bermuatan positif karena melepaskan elektron
c. Elektrolit yang merupakan zat penghantar listrik
d. Rangkaian luar berupa kawat atau kabel penghubung anoda dan katoda
e. Jembatan garam sebagai tempat ion mengalir (Johari dan Rachmawati, 2008).

Jembatan garam biasanya berupa pipa kaca berbentuk U yang kedua
ujungnya diisi dengan garam dalam bentuk agar-agar seperti NaCl, KCl dan
K
2
SO
4
. Jembatan garam pada sel volta memungkinkan ion-ion mengalir dari
setengah sel anoda ke setengah sel katoda, dan sebaliknya, namun mencegah
bercampurnya larutan secara berlebihan. Rangkaian sel volta ditunjukkan pada
Gambar 1.1.















Gambar 1.1 Rangkaian Sel Volta

Pada gambar, ion Zn
+
pada larutan setengah sel anoda bergerak menuju
setengah sel katoda melalui jembatan garam. Sedangkan ion SO
4
2-
dalam larutan
setengah sel katoda bergerak menuju setengah sel anoda melalui jembatan garam.
Dengan adanya pergerakan ion, arus listrik dapat terus mengalir dalam rangkaian
sampai logam Zn atau ion Cu
2+
habis dipakai (Johari dan Rachmawati, 2008).
1.2.2 Sel Elektrolisis
Sel elektrolisis merupakan sel elektrokimia yang menggunakan energi
listrik untuk menghasilkan reaksi redoks tidak spontan. Prinsip kerja sel
eletrolisis adalah dengan menghubungkan kutub negatif sumber listrik ke katoda
dan kutub positif sumber listrik ke anoda, kutub negatif sumber listrik mendorong
elektron menglir ke katoda sehingga katoda bermuatan negatif, sedangkan anoda
akan bermuatan positif karena kutub positif sumber listrik akan menarik ion
elektron dari anoda. Katoda akan menarik ion-ion positif dalam elektrolit
sehingga diperoleh setengah reaksi reduksi, sedangkan anoda akan menarik ion
negatif sehingga diperoleh setengah reaksi oksidasi (Johari dan Rachmawati,
2008).
Rangkaian sel elektrolisis secara umum terdiri dari a) sumber listrik yang
menyuplai arus searah (DC), b) katoda yang merupakan elektroda bermuatan
negatif, c) anoda yang merupakan elektroda bermuatan positif, d) elektrolit yang
merupakan zat penghantar listrik yang mana zat inilah yang akan diurai dalam sel
elektrolisis. Rangkaian sel elektrolisis dapat dilihat pada Gambar 1.2.

Gambar 1.2 Rangkaian Sel Elektrolisis
1.3 Persamaan dan Hukum Dasar
1.3.1 Persamaan Nernst
Persamaan Nernst merupakan persamaan yang digunakan untuk
menghitung beda potensial dari sebuah sel elektrokimia sistem reversible
(Riwayati, 2010). Persamaan Nernst menghubungkan konsentrasi dengan E
sel
dan
bentuk persamaannya untuk reaksi aA + bB cC + dD adalah

Dimana

merupakan aktivitas yang dipangkatkan dengan


koefisien reaksi, n merupakan jumlah elektron yang bertukar dan F merupakan
konstanta Faraday (Yelmida, dkk, 2013).

Nilai aktivitas dapat diganti dengan konsentrasi zat apabila perhitungan
yang dilakukan tidak membutuhkan ketelitian yang tinggi. Sehingga persamaan
Nernst dapat diubah menjadi sebagai berikut:

Persamaan Nernst tersebut menunjukkan bahwa nilai E
sel
sebanding
dengan konsentrasi zat, sehingga apabila konsentrasi zat yang digunakan semakin
besar maka nilai E
sel
yang dihasilkan akan semakin besar pula.

1.3.2 Hukum Faraday
Michael Faraday merupakan ahli kimia dan fisika yang mempelajari
mengenai aspek kuantitatif dari elektolisis. Ia menemukan hubungan antara massa
zat yang dihasilkan di elektroda dengan jumlah listrik yang diguanakan dan ia
menyatakanya dalam Hukum Faraday. Bunyi kedua hukum Faraday yaitu:

E
sel
= E
sel
o

R T
n F
ln



E
sel
= E
sel
o

R T
n F
ln
C


1. Hukum Faraday I
Massa zat yang dihasilkan pada suatu elektroda selama proses elektrolisis
berdangding lurus dengan muatan listrik yang digunakan.
2. Hukum Faraday II
Massa zat yang dihasilkan pada elektroda berbanding lurus dengan massa
ekivalen zat (Johari dan Rachmawati, 2008).
Faraday memperoleh bahwa 1 mol elektron terdiri dari muatan listrik
sebesar 96.500 coulumb, sehingga 1 mol elektrol sama dengan 1 Faraday (1F) dari
kedua hukum yang dihasilkannya, Faraday menemukan persamaan yang
menghubungkan antara jumlah listrik yang dihasilkan dengan massa zat yang
dihasilkan pada elektroda sebagai berikut:

Dengan:
G = massa zat yang dihasilkan,
i = arus listrik,
t = waktu
Me = massa ekivalen zat
(Johari dan Rachamwati, 2008).

1.4 Potensial Sel
Reaksi redoks pada sel elektrokimia merupakan gabungan dari setengah
reaksi oksidasi dan reduksi. Oleh karena itu, nilai potensial sel (E
sel
) merupakan
jumlah potensial setengah reaksi oksidasi (E
oksidasi
) dan potesial setengah reaksi
reduksi (E
reduksi
) sesuai persamaan berikut

Nilai E
sel
bergantung pada suhu dan konsentrasi zat sehingga suatu potensial
sel standar (E
0
sel
) telah ditetapkan sebagai nilai E yang diukur pada suhu 25
o
C dan
G =
1
96.500
i . t . Me

E
sel
= E
oksisi
+E
reuksi

zat dalam larutan sebesar 1 M. Pada keadaan standar, nilai E
0
sel
dirumuskan
sebagai berikut (Johari dan Rachmawati, 2008)

Potensial reduksi standar beberapa zat dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Potensial Reduksi Standar (E
o
) pada suhu 25
o
C
Setengah Reaksi Reduksi E
0
(volt)
F
2(g)
+ 2e
-
2F
-
(aq)
+ 2,87
2HOCl
(aq)
+ 2H
+
(aq)

+ 2e
-


Cl
2(g)
+ 2H
2
O
(l)
+ 1,63
MnO
4
-
(aq)
+ 8H
+
(aq)

+ 5e
-


Mn
2+
(aq)
+ 4H
2
O
(l)
+ 1,51
Au
3+
(aq)
+ 3e
-
Au
(s)
+ 1,42
Cl
2(g)
+ 2e
-
2Cl
-
(aq)
+ 1,36
O
2(g)
+ 4H
+
(aq)
+ 4e
-
H
2
O
(l)
+ 1,23
Br
2(aq)
+ 2e
-
2Br
-
(aq)
+ 1,07
Fe
3+
(aq)
+ e
-
Fe
2+
(s)
+ 0,77
Cu
2+
(aq)
+ 2e
-
Cu
(s)
+ 0,34
2H
2+
(aq)
+ 2e
-
H
2(s)
0
Pb
2+
(aq)
+ 2e
-
Pb
(s)
- 0,13
Sn
2+
(aq)
+ 2e
-
Sn
(s)
- 0,14
Zn
2+
(aq)
+ 2e
-
Zn
(s)
- 0,76
Al
3+
(aq)
+ 3e
-
Al
(s)
- 1,66
Mg
2+
(aq)
+ 2e
-
Mg
(s)
- 2,37
Na
+
(aq)
+ e
-
Na
(s)
- 2,71
Ca
2+
(aq)
+ 2e
-
Ca
(s)
- 2,76
Li
+
(aq)
+ e
-
Li
(s)
- 0,35
Sumber: (Johari dan Rachmawati, 2008).

E
sel
o
= E
oksisi
o
+E
reuksi
o


BAB II
METODOLOGI
2.1 Alat-alat
pH meter atau potesioner
kertas saring
kabel, penjepit
kertas amplas
ampere meter
hot plate
labu ukur
gelas piala
penjepit
lembaran seng dan tembaga
termometer
sumber arus DC
stopwatch
pipet ukur

2.2 Bahan-bahan
kristal NaCl
kristal NaOH
CuSO
4
1 M
ZnSO
4
1 M
aquadest
KNO
3
atau KNO
3






2.3 Prosedur Percobaan
A. Elektrolisis untuk menentukan bilangan Avogadro
Disiapkan larutan A (larutan A terdiri dari 100 gr NaCl dan 1 gr NaOH
dalam 1 liter air).
Dua buah lempeng tambaga disiapkan untuk digunakan sebagai elektroda,
dibersihkan dengan amplas.
Salah satu elektroda digunakan sebagai anoda. Elektroda tersebut
ditimbang pada neraca analitik.
Kedua elektroda tembaga dicelupkan ke dalam 80 ml larutan A yang
ditempatkan dalam gelas piala dan rangkaian alatnya disusun.
Larutan dalam gelas piala dipanaskan sampai suhu mencapai 80
o
C dan
suhu dijaga supaya konstan.
Saat suhu sudah konstan 80
o
C, aliran listrik dihubungkan dan dialirkan
melalui larutan A.
Pada waktu yang sama waktu dicatat dengan stopwatch. Arus listrik dijaga
konstan selama percobaan yaitu 1,5 Ampere (dapat dibaca pada
Amperemeter). Aliran ini sering berubah-ubah selama percobaan.
Setelah 10 menit, aliran listrik dimatikan, anoda dibersihkan dengan air
kemudian dikeringkan dengan tisu.
Anoda ditimbang sekali lagi

B. Mengukur GGL sel dan menguji persamaan Nernst
Potongan lembaran tembaga dan seng disiapkan. Permukaan logam
dibersihkan dengan kertas amplas.
Larutan jenuh NH
4
NO
3
atau KNO
3
(10-20 ml) disiapkan. Sebagai
jembatan garam, diambil selembar kertas saring, digulung dan direkatkan
dengan menggunakan selotip pada bagian tengahnya untuk mencegah
gulungan membuka (bisa juga digunakan stepler).
Dua gelas piala 100 ml disiapkan, yang satu diisi dengan CuSO
4
1,0 M
(60 ml) dan yang lain dengan ZnSO
4
1,0 M masing-masing 60 ml.
Elektroda-elektroda logam dicelupkan dan dihubungkan dengan kabel.
Kertas saring yang telah dibentuk jadi gulungan tadi dicelupkan kedalam
larutan jenuh NH
4
NO
3
, kelebihan amonium nitrat dihilangkan dengan
menggunakan kertas saring lain, kemudian ditempatkan sedemikian rupa
sehingga kedua ujung gulungan tercelup kedalam larutan yang berada
pada kedua gelas piala.
Nilai GGL diamati dengan menggunakan pH meter distel pada posisi mV.
Polaritas kedua elektroda dicatat pada pengukurn tersebut, juga suhu
larutan dicatat.
100 ml larutan CuSO
4
1,0 M disiapkan dengan jalan pengenceran larutan
CuSO
4
1,0 M.
Larutan CuSO
4
1,0 M diganti dengan CuSO
4
0,1 M, larutan ZnSO
4
jangan
diganti.
Kedua elektroda dicuci dan dibersihkan kembali dengan kertas amplas.
Jembatan garam diganti dengan yang baru dan kembali diukur dan catat
nilai GGL dengan menggunakan pH meter.
Langkah (7) diulangi, tapi menggunakan larutan CuSO
4
yang lebih encer.

2.4. Pengamatan
Pada percobaan A digunakan kristal NaCl dan NaOH yang dilarutkan
dengan air sehingga terbentuk larutan putih yang keruh. Digunakan dua buah
lempeng tembaga sebagai elektroda yang sebelumnya dibersihkan dengan tisu.
Elektroda tembaga dibersihkan untuk menghilangkan pengotor-pengotor sehingga
dapat mencegah terjadinya kesalahan. Lempengan tembaga ditimbang, salah
satunya digunakan sebgai anoda. Larutan dipanaskan dengan menggunakan
penangas air. Selama proses ini suhu dijaga konstan agar tidak terjadi penguapan
dan terjadi perubahan warna larutan menjadi merah kecoklatan. Perubahan ini
terjadi akibat anoda melarut dan adanya pelepasan elektron (oksidasi). Proses ini
berlangsung selama 10 menit, setelah itu anoda dibersihkan dan ditimbang.
Percobaan B digunakan elektroda yang berbeda yaitu seng dan tembaga.
Larutan yang digunakan yaitu CuSO
4
dan ZnSO
4
. CuSO
4
merupakan larutan yang
berwarna biru. Masing-masing elektroda dicelupkan dan dihubungkan dengan
jembatan garam. Untuk sel elektrokimia anoda (-) dan katoda (+), lalu elektroda
dihubungakan/dijepit dari ampermeter. Larutan CuSO
4
dan ZnSO
4
memiliki
konsentrasi 1,0 M, dan diukur beda potensialnya. Untuk mengetahui pengaruh
konsentrasi terhadap beda potensial maka larutan CuSO
4
dilakukan pengenceran.
Dari percobaan ini dapat bahwa jika konsentrasi CuSO
4
dikurangi maka beda
potensial yang didapat lebih kecil dari yang sebelumnya.












BAB III
HASIL DAN DISKUSI

3.1 Hasil Percobaan
A. Elektrolisis untuk Menentukan Bilangan Avogadro
Waktu percobaan : 600 detik
Berat anoda awal :2,95 gr
Berat anoda akhir : 2,93 gr
Aliran listrik : 1,5 0,05 amper
Pada saat pemanasan larutan hingga 80
0
C, terbentuk gelembung gas pada
kedua elektroda Cu.
Larutan berubah warna dari tidak bewarna menjadi larutan merah.
Terbentuk endapan didasar larutan.
B. Mengukur GGL sel dan menguji persamaan Nernst

Larutan pada bagian
Anoda Zn/Zn
+2
(M)

Larutan pada bagian
Katoda Cu/Cu
+2
(M)

Esel
(volt)
1,0 1,0 0.969
1,0 0,1 0.892
1,0 0,01 0.798
1,0 0,001 0.707





Tabel 3.1 Nilai Esel Anoda Zn/Zn
+2
dengan Katoda Cu/Cu
+2

3.2 Diskusi
A. Elektrolisis untuk Menentukan Bilangan Avogadro
Dalam percobaan ini dilakukan proses elektrolisis yang bertujuan untuk
menentukan bilangan Avogadro dengan cara yang sederhana yaitu elektrolisis
logam Cu dan larutan elektrolit yang berasal dari NaCl dalam suasana basa
(dengan penambahan NaOH sebagai pemberi suasana basa).
Larutan tersebut dicampur dan dipanaskan menggunakan penangas air
hingga suhu mencapai 80
0
C. Suhu dijaga konstan karena apabila melebihi 80
0
C
maka larutan mendidih dan terbentuk Cu
2
O. Tujuan pemanasan dilakukan adalah
untuk mempercepat proses reaksi. Selanjutnya kedua elektroda dicelupkan
kedalam larutan dan dialiri dengan arus 1,5 A dan dilakukan selama 10 menit.
Suhu dan arus dalam kondisi konstan.
Pada saat proses berlangsung mulai terbentuk gelembung-gelembung gas
disekitar elektroda dan endapan didasar larutan. Setelah proses dihentikan berat
anoda berkurang dan warnya menjadi lebih terang. Berat anoda yang sebelumnya
2,95 gr berkurang menjadi 2,93 gr. Hal ini terjadi karena
Secara teoritis hal ini dapat dijelaskan bahwa penyebab timbulnya
gelembung-gelembung gas pada elektroda dikarenakan terjadinya aliran elektron
dari katoda Cu/Cu
+2
menuju ke larutan sehingga ion positif mengalami reduksi
pada katoda Cu/Cu
+2
tersebut sedangkan ion negatif dari larutan akan ditarik ke
anoda Zn/Zn
+2
sekaligus mengalami oksidasi pada anoda Zn/Zn
+2
tersebut.
Adapun mekanismenya sebagai berikut:
Pada larutan NaCl, kation Na
+
berasal dari golongan utama sehingga yang
direduksi adalah H
2
O, sedangkan yang dioksidasi adalah elektroda Cu.
NaCl
(aq)
Na
+

(aq)
+ Cl
-
(aq)

Katoda (Cu) : 2H
2
O
(l)
+ 2e
-
2OH
-
(aq)
+ H
2(g)

Anoda (Cu) : Cu
(s)
Cu
+2
(aq)
+ 2e
-

_____________________________________________________________________________ +

2NaCl + 2H
2
O
(l)
+ Cu
(s)
2Na
+
(aq)
+ 2Cl
-
(aq)
+ 2OH
-
(aq)
+ Cu
+2
+ H
2(g)

Jadi dapat disimpulkan bahwa gelembung-gelembung yang terbentuk disekitar
elektroda merupakan gas H
2
hasil dari reduksi air pada katoda dan endapan yang
menjadikan larutan keruh merupakan logam Cu yang teroksidasi.
B. Mengukur GGL sel dan menguji persamaan Nernst
Percobaan ini dilakukan untuk mengukur GGL sel dan menguji persamaan
Nernst. Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan larutan jenuh NH
4
NO
3
yang akan
digunakan sebagai jembatan garam. Selanjutnya masukkan larutan CuSO
4
1,0 M dan
ZnSO
4
1,0 M dalam gelas kimia yang berbeda. Celupkan lembaran Zn dan Cu kedalam
larutan dan hubungkan dengan kabel. Lalu letakkan jembatan garam diantara gelas kimia
dengan kedua ujungnya tercelup dalam larutan.
Logam Zn akan melepaskan elektron dan berubah membentuk ion

dan
bergabung dalam larutan ZnSO4. Elektron mengalir dari elektroda Zn ke elektroda Cu.
Ion

dalam larutan CuSO4 menerima elektron dan ion tersebut berubah membentuk
endapan logam Cu.
Jembatan garam yang digunakan dalam percobaan ini sebagai penghubung antara
kedua larutan. Fungsi jembatan garam ini adalah penyetara kation dan anion dalam
larutan. Hal ini dikarenakan terjadi kenaikan jumlah ion Zn
+2
dalam larutan ZnSO
4

sedangkan dalam larutan CuSO
4
terjadi penurunan ion Cu
+2
, dalam keadaan normalnya,
maka banyaknya kation dalam hal ini Zn
+2
dan Cu
+2
harus setara dengan anion SO
4
-2
.
Disinilah fungsi jembatan garam yang akan menyetarakan kedua larutan.
Selanjutnya dilakukan percobaan dengan mengganti konsentrasi CuSO
4
1,0 M
menjadi 0,1 M; 0,01 M dan 0,001 M. Konsentrasi larutan CuSO
4
sengaja dibuat semakin
kecil yang tujuannya untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Cu terhadap nilai E sel.
Sedangkan larutan ZnSO
4
tidak diganti.
Berdasarkan hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai E sel menurun seiring
dengan menurunya konsentrasi CuSO
4
yaitu dari 969 mV untuk 1 M hingga

707 mV
pada 0,001 M . Hal ini disebabkan secara teoritis sel konsentrasi (sel yang reaksi
totalnya hanya berupa perubahan konsentrasi) reaksi keseluruhannya merupakan
perpindahan materi dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi yang lebih rendah. Jadi
penurunan konsentrasi CuSO
4
yang dilakukan pada sel percobaan mengakibatkan
perbedaan potensial yang semakin menurun.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Pada sel elektrolisis salah satu elektroda mengalami penambahan
massa
sedangkan elektroda lain mengalami penurunan massa.
Pada sel elektrolisis larutan berubah dari bening menjadi merah
kecoklatan setelah dialiri listrik. Hal ini membuktikan bahwa sel
elektrolisis merupakan sel yang memerlukan energi listrik agar reaksi
kimia dapat berlangsung.
Pada percobaan GGL (Gaya Gerak Listrik), semakin kecil konsentrasi
CuSO
4
.5H
2
O maka GGL yang diperoleh semakin kecil juga, begitu
sebaliknya.

4.2 Saran
Logam yang digunakan pada percobaan elektrolisis dan penentuan
GGL sebaiknya dibersihkan secara teliti
Pahami dengan benar perhitungan dalam pembuatan larutan







BAB V
LAPORAN
A. Elektrolisis untuk menentukan bilangan avogadro
1. Hitung berapa coulomb yang diperlukan untuk mengoksidasi X gram
tembaga!
Jawab : untuk x gram tembaga (Q) :
Q = I t
= 0,5 A 600 sekon
= 300 C

2. Hitung berapa coulomb yang diperlukan untuk mengoksidasi 1 mol tembaga
(berat molekul tembaga 63,54)
Jawab : Untuk 1 mol tembaga, Q =
Q =

= 63,54/0,02 x 300 = 953.100 C



3. Muatan satu ion Cu
+
adalah 1,6 x 10
-19
coulomb. Hitung jumlah ion Cu
+
yang
terbentuk dalam percobaan (jumlah atom Cu dalam satu mol tembaga sama
dengan N
0
)
Jawab : jumlah ion Cu
+
yang terbentuk = Q/muatan = 300 C / 1,6x10
-19


C/ion = 187,5 x 10
19
ion.
No = 953.100/1,6x10
-19
= 5,95687 x 10
23
C

B. Mengukur GGL sel dan menguji persamaan Nernst
1. Tuliskan reaksi sel dan bentuk umum persamaan nerst untuk sel tersebut
Jawab : Zn Zn
2+
+ 2e Anoda
Cu
2+
+ 2e Cu Katoda
Zn + Cu
2+
Zn
2+
+ Cu


Persamaan Nernst :
E
sel
= E
0
sel
RT/nF ln ([Zn
2+
] [Cu]) / ([Zn] [Cu
2+
])


2. Buat kurva E
sel
sebagai fungsi log log [Zn]/ [Cu
2+
]


3. Hitung gradien dan perpotongan kurva dengan sumbu Y!
Jawab: Y = -0,088x + 1,0615
Jadi gradiennya - 0,088

4. Bandingkan hasil yang diperoleh E
0
sel
literatur!
Zn Zn
2+
+ 2e E
0
sel
= 0,76 V
Cu
2+
+ 2e Cu E
0
sel
= 0,34 V

Zn + Cu
2+
Zn
2+
+ Cu E
0
sel
= 1,1 V

E
0
sel
literatur = 1,1 V (keadaan standar 1 M)
E
0
sel
percobaan = 0.969 V (keadaan standar 1 M)

y = -0.088x + 1.0615
R = 0.9982
0
0.2
0.4
0.6
0.8
1
1.2
0 1 2 3
E
s
e
l

(
v
o
l
t
)

Log ([Zn2+]/[Cu2+])
log ([Zn2+]/[Cu2+]) vs Esel
5. Pertanyaan
1. Apakah nama endapan merah/jingga yang terbentuk dalam percobaan
elektrolisis?
Jawab : Endapan merah yang terbentuk pada sel elektrolisis adalah Cu
2
O

2. Apakah yang mungkin menjadi sumber kesalahan dalam pengujian
persamaan Nernst?
Jawab : Sumber kesalahan pada pengujian persamaan Nernts adalah
aktifitas, konsentrasi, dan pengukuran GGL dengan alat ampermeter.

























BAB IV.DAFTAR PUSTAKA

Daintitih. 1994. Kamus Lengkap Kimia. Jakarta: Erlangga.
Johari, J.C.M dan Rachmawati, M. 2008. Kimia 3 Untuk SMA dan MA kelas 3. Jakarta:
Esis
Khinanjar,2013. Laporan praktikum redoks. http://khinanjar.blogspot.com
/2013/09/laporan-praktikum-redoks-dan-sel.html. Diakses tanggal 01 oktober 2014
kirk, R. E. 1979. Kirk-Othmer encylopedia of chemical technology. Taiwan: jhon
willey & sons
Irma,2013. Elektrokimia. http://irmachemistry.blogspot.com/2013/05/
elektrokimia.html. Diakses tanggal 01 oktober 2014
Riwayati, I. 2010. Elektrolisis Amonia. Tesis. Universitas Teknologi Bandung
Yelmida, A., dkk. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Pekanbaru: Universitas Riau