Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Neuropati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan
struktur dari saraf tepi. Etiologi dari neuropati abtara lain: trauma, radang
gangguan metabolik, kelainan struktur sekitar saraf dan lain-lain sebab. (Walton,
1977).
Banyak saraf tepi yang mudah terkena cedera mekanikal karena panjangnya saraf
tersebut dan perjalanannya yang berada di superfisial. Oleh karena itu kompresi
neuropati khas ditandai oleh terkenanya 1 saraf tepi pada tempat dimana secara
anatomi paling mudah terkena tekanan. Dengan demikian tingkat kerusakan
ditentukan oleh berbagai faktor, tetapi yang paling penting adalah besar dan
lamanya tenaga cedera dan komposisi serta hubungan anatomi dari bagian saraf.
Penyempitan jalannya saraf secara anatomi, kebiasaan atau trauma berulang yang
berhubungan dengan pekerjaan dan keadaan-keadaan yang sangat rentan terhadap
cedera tekanan adalah faktor-faktor yang biasanya memperberat perkembangan
kompresi neuropati. Banyak penelitian melaporkan bahwa neuropati saraf
peroneus ataupun percabangannya sering terjadi, hanya insiden ygpasti belum
diketahui.(Vinken, 1975)













2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI
N. Peroneus communis dibentuk oleh gabungan 4 divisi postereor
bagian atas pleksus sakral yaitu dari L45 dan S1-2. Pada paha, saraf ini
merupakan komponen N.sciatic sampai bagian atas daerah popliteal, dimana
N.Peroneus communis mulai berjalan sendiri.

Distribusi saraf peroneal
3

Cabang pertama merupakan saraf sensoris yang meliputi
cabangcabang artikular superior daninterior ke sendi lutut dan N.Cutaneous
suralis lateralis, yang mana bergabung dengan N.Cutaneous suralis medial
(cabang N.Tibial) membentuk N. Suralis yang mensarafi kulit tungkai bawah
bagian dorsal, malleolus eksterna dan sisilateral kaki serta jari ke 5.
Tiga cabang terakhir dari N. Peroneal communis adalah N.Recurrent
articular, N.Peroneus superficial dan N.Peroneus profunda. N.Recurrent
articular bersama A.Recurrent tibialis anterior mensarafi tibiofibular dan
sendi lutut serta M.Tibialis anterior. N.Peroneal superficial turun sepanjang
septum intermuskular untuk mensarafi otot-otot peroneus longus dan brevis,
cabang cutaneous tungkai bawah bagian depan dan ujung cabang cutaneous
yang menuju ke dorsum kaki, sebagai ibu jari kaki dan jari kaki ke 2 sampai
ke 5 terus naik sampai ke phalange ke 2.
N.peroneus profunda turun ke bagian anterior tungkai bawah.
Cabangcabang muskularnya mensarafi otot-otot tibialis anterior extensor
digitorum longus, extensor hallucis longus dan peroneus tertius. Filamen
articularnya mensarafi tibiofibular inferior dan sendi pergelangan kaki.
Sedangkan cabang terminal menuju ke kulit 2 jari kaki pertama, M.extensor
digitorum brevis dan sendi sendi kecil jari kaki. N.Peroneus communis
mudah terkena cedera, karena secara anatomi berjalan melingkar collum
fibula dekat periosteum yang hanya ditutupi oleh kulit dan jaringan
subcutaneous. Saraf ini berjalan ke distal melewati suatu terowongan (tunnel)
yang berpangkal pada M.Peroneus longus dan suatu archus fibrosus yang
dibentuk terutama oleh aponeurosis soleus, sehingga secara anatomis
membuatnya rentan terhadap stretch injury. N.Peroneus superficial dan
profunda cenderung keatas tepi jaringan fibrous selama plantar flexi dan
inversi kaki.





4

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 DEFINISI
Peroneal Palsy yaitu keadaan yang ditandai dengan penurunan fungsi
sensorik dan motorik pada tungkai bawah dan kaki akibat lesi pada nervus
peroneal.

3.2 ETIOLOGI
- Tekanan dari luar (seperti penekanan pada saraf selama jongkok/ duduk
bersilang kaki)
- Trauma, Diabetes, Lepra
Meskipun suatu mono neuropati N.peroneal communis ataupun
percabangannya sering terlihat, tetapi kondisi ini sangat jarang disebabkan
oleh suatu entrapment. Penyebab yang sangat sering adalah akibat tekanan
dari luar seperti penekanan pada saraf selama jongkok atau duduk bersilang
kaki, trauma, diabetes dan lepra.
Peroneal nerve palsy paling sering diakibatkan oleh duduk bersilang
kaki yang mana menyebabkan saraf peroneal terjepit antara caput fibula dan
condylus femur externa serta patella pada tungkai yang berlawanan. Kondisi
ini lebih sering terjadi pada mereka dengan penurunan berat badan yang
sangat atau pada masa konvalesen dari suatu penyakit atau tindakan operasi.
Hilangnya lemak (fat) yang sangat akan mengurangi proteksi terhadap saraf
tersebut, sedangkan penurunan berat badan memungkinkan pasen merasa
enak (comfortable) dengan duduk bersilang kaki. Kebiasaan duduk
bersilang kaki dapat menimbulkan dimple sign yang terdiri dari daerah
pressure atropi berbentuk oval yang mengenai jaringan sampai ke saraf
peroneal di caput fibula.
Menurut Woltman (1929), penurunan berat badan yang sangat
disertai dengan kompresi lokal mempunyai peranan yang penting dalam 29
kasus yang ditelitinya. Slocum dan kawan-kawan(1948), Britt dan
5

Gordon(1964) mendapatkan bahwa kerusakan saraf peroneal dapat
diakibatkan oleh malposisi pada saat diatas meja operasi.
Selain itu beberapa pekerjaan yang memerlukan berjongkok atau
bersujud, seperti bertani, penambang akan meningkatkan tekanan pada saraf
terhadap collum fibula sehingga menyebabkan terjadinya occupational
peroneal palsy. Juga gangguan fungsi saraf peroneal dapat terjadi setalah
mengalami keseleo atau terkilir pada pergelangan kaki.
Mekanisme lain yang diketahui sebagai penyebab peroneal nerve
palsy adalah trauma langsung, dislokasi lutut, fraktur tibia dan fibula,
myxedema pretibial, intoksikasi ergot dan malposisi diatas meja operasi.
Lokalisasi lesi sebagian besar ditemukan pada collum fibula tempat saraf
tersebut bercabang menjadi N.Peroneal superficial dan profunda. Pada
daerah initampaknya saraf tersebut paling mudah mengalami kompresi atau
stretching.

Patofisiologi akompresi saraf tepi
N.Peroneus tersusun oleh serabut-serabut fasikel dan dipisahkan
oleh jaringan ikat, ruang interfasikular dan jaringan ikat yang elastis,
keadaan ini memberikan bantalan sebagai proteksi terhadap tekanan.
Serabut-serabut saraf yang terletak superfisial terahdap tekanan.
Serabut-serabut saraf yang terletak superfisial agaknya melindungi
serabut-serabut saraf yang letaknya lebihdalam.
Dilain pihak jika tenaga mekanik externa terjadi secara tangensial
atau jika ada cedera terbatas yang disebabkan oleh pergerakan saraf
tubuh terhadap permukaan tulang yang keras, beberapa fasikel dapat
terkena, sedangkan lainnya selamat. Erb (1876), denny-Brown dan
kawan-kawan(1944) dan Sunderland (1945) dalam penelitiannya
mengatakan bahwa saraf-saraf yang mempersarafi otot adalah lebih
rentan dari pada saraf kulit terhadap efek kompresi. Perbedaan ini
mungkin karena adanya perbedaan sifat biokimiawinya dan komposisi
serabut yang terdapat daiantara otot dan saraf kulit (Brody, 1966).
6

Kepentingan komposisi serabut saraf dikatakan bahwa serabut-
serabut tebal yang bermyelin kurang tahan terhadap tekanan daripada
serabut yang tipis. (Gasser & Erlanger, 1929).
Lehman dan Pretschner (1966) mengatakan bahwa serabut
bermyelin lebih mudah rusak dari pada serabut saraf yang tidak
bermyelin. Menurut Ochoa & Mair (1969) bahwa 75% serabut saraf
kulit adalah tidak bermyelin.
Perbedaan dalam komposisi dan kerentanan terhadap tekanan dapat
menpengaruhi efek tekanan secara keseluruhan pada saraf otot dan saraf
kulit. Besar dan lamanya kompresi juga mempengaruhi sifat dan tingkat
kerusakan saraf.
Bentley dan Schlapp (1943) dalam penelitiannya terhadap hewan
kucing mendapatkan bahwa tekanan yang dipasang pada N.Sciatic
sebesar 120mmHg selama 3 jam, hanya menimbulkan gangguan
konduksi saraf yang moderate, sebaliknya tekanan antara 130-
200mmHg menimbulkan blok konduksi secara lengkap.
Danta dan kawan-kawan(1971) dalam penelitiannya terhadap
hewan baboon dengan tekanan 1000mmHg yang dipasang pada anggota
gerak bawah selama 1-3 jam, menimbulkan blok konduksi segmental
pada N.Popliteal media secara langsung dibawah manset. Pada
pemeriksaan histologi memperlihatkan paranodal invaginasi dari
serabut saraf yang terkompresi, keadaan ini agaknya akibat adanya
displacement myelin secara longitudinal dan berakibat obliterasi dari
nodes of Renvier. Paranodal invaginasi dapat diakibatkan oleh
perbedaan besarnya tekanan antara bagian serabut saraf yang
berkompresi dan yang tidak terkompresi. Kejadian paranodal invaginasi
seawal awalnya 24 jam setelah dipasang tourniquet, ini
menggambarkan bahwa perubahan fungsional tahap dini dapat
diakibatkan oleh oklusi nodal dan iskhemia. (Denny-Brown, 1964,
Martin & Paletta, 1966)


7

Efek tekanan pada sel Schwann
Sel Schwann dari serabut saraf bermyelin terutama rentan
terhadap efek tekanan. Pada stadium dini tourniquet paralise, nodes
of Renvier pada pinggir dari bagian serabut saraf yang tertekan
mengalami obliterasi karena paranodal invaginasi myelin.
Perubahan-perubahan ini memanjang dari 200-300 Um pada setiap
sisi nodal, sedangkan serabut segmen internodal lainnya tidak
memperlihatkan perubahan. Pada stadium lanjut, seluruh internodal
myelin sheath menipis atau hilang. Sekali efek kompresi hilang,
terdapat perbaikan pada segmen demyelinasi. Jika remyelinasi
terjadi, mengakibatkan pembentukan internodal yang panjangnya
bervariasi. Jika terjadi demyelinasi ulang, maka remyelinasinya
disertai dengan perubahan hipertropi yang diakibatkan oleh
penyusunan kembali sel Schwann yang konsentris.

Efek tekanan pada akson
Kapeller dan Mayor (1969),mengatakan meskipun myelin
sheath terutama yang terpengaruh oleh kompresi saraf, kerusakan
akson juga dapat terjadi dan cukup berat mengakibatkan wallerian
degenerasi pada bagian distal dari tempat injury. Pembesaran akson
serta akumulasi organel dan enzim biasanya didapatkan didalam
akson yang terjadi disebelah proksimal dari konstriksi saraf dan
mempengaruhi pada akson yang bermyelin ataupun yang tidak
bermyelin.
Akumulasi enzym dapat diakibatkan oleh sintesa lokal atau
relokasi didalam akson yang rusak. Signifikansi dari pembesaran
akson ini tetap tidak jelas.
Weiss dan Hiscoe (1948) menyatakan bahwa pembesaran
akson akibat bendungan sentrifugal axoplasmik flow. Kapeller dan
kawan-kawan(1969), Dahlstrom dan kawan-kawan (1966)
menyatakan terdapatnya aksonal dilatasi tepat disebelah distal dari
tempat kompresi, agaknya sebagai akibat gangguan sentripetal
8

axonal flow. Selama kompresi batas tahanan membran aksonalm
terhadap regangan dan distorsi dapat menurun dengan demikian
menyebabkan breakdown pada bagian serabut saraf yang rusak.
Aitken dan kawan-kawan(1962), Anderson dan kawan-
kawan(1970) menyatakan terdapat juga perubahan retrograde pada
serabut saraf yang terganggu. Perubahan retrograde ini dapat
mengakibatkan neuronal loss, jika kerusakan terjadi dekat nerve cell
body. Perubahan struktural retrograde agaknya bisa menerangkan
menurunnya konduksi saraf yang didapatkan disebelah proksimal
dari tempat injury (Kiraly, 1959) Regenerasi yang terjadi setelah
aksonal injury dapat menyebabkan pembentukan aksonal sprouts
yang multipel. (Ramon, 1928)

Meningkatnya kerentanan saraf terhadap cedera tekanan
Sekali saraf tepi itu rusak oleh karena penyakit, maka saraf
tersebut menjadi lebih sensitif terhadap efek tekanan. Jadi pada
pasen yang menderita malnutrisi, alkoholisme, diabetes, gagal ginjal,
atau Guillain-Barre Syndrome sering terjadi komplikasi pressure
neuropathy. Kelainan tersebut biasanya tampak pada saraf yang
lazim berpeluang terkena tekanan. Penyebab meningkatnya
kerentanan tetap tidak diketahui. Disamping itu faktor genetik juga
berperan sebagai predisposisi timbulnya pressure neuropati.

3.3 GEJALA KLINIS
Gejala klinis peroneus neuropati dapat dibedakan menurut level
lesinya antara lain:
1. Lesi pada kaput fibula
Sebagian besar kelumpuhan saraf peroneus terjadii pada daerah
kaput fibula, dimana saraf tersebut terletak superfisial dan rentan
terhadap cedera
Cabang profunda lebih sering terkena dari pada saraf yang lain
9

Jika ke 2 cabang terkena (superfisial dan profuna) menimbulkan
parese/paralise jari kaki, dorso fleksi kaki dan jari kaki, serta bagian
lateral distal dari tungkai bawah
Jika hanya cabang profunda yang terkena, menimbulkan deep
peroneal nerve syndrome
2. Anterior tibial (deep peroneal) nerve syndrome
Saraf ini bisa terkena cedera pada kaput fibula atau lebih distal
Kelainan ini menimbulkan parese/paralise jari kaki dan dorsofleksi
kaki
Gangguan sensoris terbatas pada kulit di sela jari-jari antara jari kaki
1 dan 2
Saraf ini dapat juga tertekan pada pergelangan kaki, sehingga
menyebabkan anterior tarsal tunnel syndrome yang menimbulkan
gejala parese danatropi pada M.extensor digitorum brevis.
Sedangkan gangguan sensoris bisa terdapat atau tidak pada kulit di
sela jari-jari antara kaki 1 dan 2
3. Superficial peroneal nerve syndrome
Lesi bisa pada kaput fibula atau lebih distal
Menimbulkan parese dan atropi pada M.Peronei dan gangguan eversi
kaki
Gangguan sensoris pada kulit bagian lateral distal tungkai bawah
dandorsum kaki, sedangkan kulit di sela jari-jari antara jari kaki 1
dan 2 masih baik.
Selain menurut level lesinya, gejala klinis peroneus neuropati juga
dapat dibedakan menurut penyebabnya, yaitu:
1. Anterior tibial sindrom
Sering terlihat pada Volkmanns ischemic contracture
Gejala:
o Dimulai dengan nyeri lokal dan tenderness pada muskulus
tibialis anterior secara mendadak
10

o Daerah pre tibial tampak tegang dan erythematous tetapi
tungkai terasa dingin Paralise otot-otot bagian anterior
berkembang dengan cepat, terutama M.Tibialis anterior
o Musku lus extensor digitorum brevis menjadi lemah
o Gangguan sensoris terbatas pada daerah N.peroneal profunda
o Mekanisme:
Edema lokal otot sebagai reaksi dari trauma lokal dan
secara sekunder meningkatkan tekanan pada compartement
dan oklusi pembuluh darah lokal
Akut oklusi oleh emboli/thrombus A.Tibialis anterior
atau induk percabangannya yang menimbulkan iskhemik
nekrosis sesuai dengan distribusinya
2. Penyakit Oklusi arteriosklerotik
Disebut juga iskhemik neuritis
Gejala:
o Klaudikasio
o Rest pain, gejala nyeri pada extrimitas bawah berhubungan
dengan gangguan pembuluh darah tepi. Rasa nyeri bersifat
difus seperti rasa panas, terbakar, geli dan tertusuk, gejala ini
terutama waktu malam hari.
o Gangguan motoris
o Gangguan reflek
o Atropi otot
3. Penyakit lepra
Defisit neurologis berkembang secara progresif sesuai dengan
perkembangan penyakitnya
Gangguan sensoris intrakutan berkembang ke telapak kaki, tungkai
dan paha
Daerah sparing dapat terdeteksi antara jari-jari kaki, fossa poplitea
dan setengah proksimal medial paha
superfisial N.Peroneal yang berjalan lateral mengelilingi kaput fibula
terinfiltrasi dan membesar.
11

Foot drop merupakan gejala kedua yang tersering
Bila mengenai N.Tibialis posterior 1/3 distal tungkai, menimbulkan
paralisis otot-otot intrinsik pada permukaan volar kaki dan hilangnya
sensibilitas telapak kaki
Stretch reflex masih baik. Keadaan ini merupakan gejala yang paling
membantu untuk membedakan lepra dari polineuropati lainnya
Serabut otonom rusak bersama-sama dengan serabut-serabut motoris
dan sensoris. Hilangnya keringat didaerah yang kurang sensitiv.
Extrimitas menjadi dingin danagak hitam. Tidak didapatkan
hipotensi postural, nocturnal diare, krisis abdominal, gangguan
kandung kemih dan impotensi yang biasa terjadi pada neuropati dan
radikulopati
4. Diabetes
Biasanya pada usia pertengahan dan tua
Kelemahan danatropi otot-otot proksimal extrimitas bawah yang
asimetris
Sering disertai nyeri pada otot-otot paha. Nyeri terasa paling berat
pada malam hari
Reflek patella menurun/hilang
Gangguan sensoris sering tidak begitu menyolok
Terutama mengenai otot-otot iliopsoas, quadrisep dan adduktor. Bila
kelompok otot anterolateral pada tungkai bawah terkena bersamaan
menimbulkan anterior compartement syndrome

3.4 EVALUASI PASIEN
Awalnya, pasien dengan neuropati peroneal mengeluh lateral tungkai
bawah dan kaki sakit punggung. Concurrent low back pain atau nyeri paha
posterolateral menunjukkan radikulopati L5. Nyeri biasanya mendahului
perubahan sensorik pada distribusi yang sama. Pasien mungkin mengeluhkan
kaki drop sebagai manifestasi pertama dari gangguan ini. Tabel 1 menyajikan
berbagai kemungkinan lesi mengakibatkan pergelangan kaki kelemahan asal
neurogenik perifer.
12

Tabel 1
Drop kaki asal perifer
Saraf Motor Indrawi Kelemahan
L5 akar saraf Gluteus maximus / medius / minumus, tensor
fasciae latae, semitendinosus,
semimembranosus, bisep femoris, tibialis
posterior, TA, PL, PB, EDB, EHL
(gastrocnemius / soleus)
Lateral kaki, betis lateral, dorsum kaki, dan
jari kaki medial
Hip penculikan dan rotasi
internal
Lutut fleksi,
Dorsofleksi pergelangan
kaki, inversi, dan eversi
Ekstensi Toe
(plantarflexion)
Plexopathy
lumbosakral
presentasi

variabel: contoh
adalah lesi proksimal
saraf siatik
Gluteus medius / minimus, tensor fasia lata,
semitendinosus, semimembranosus, bisep
femoris, tibialis posterior, fleksor digitorum
longus, halusis penculiknya, fleksor digitorum
brevis, fleksor halusis brevis, abductor digiti
minimi, halusis adduktor, interosei, TA, EDL,
EHL, EDB , EHB, PT, PL, PB,
gastrocnemius, soleus (parsial adduktor
magnus)
Paha posterior, betis lateral, punggung dan
kaki plantar (hemat kaki lateral)
Hip rotasi internal dan
penculikan, fleksi lutut,
pergelangan kaki
dorsofleksi, plantarflexion,
inversi dan eversi
Ekstensi Toe (adduksi
pinggul parsial)
Saraf siatik Semitendinosus, semimembranosus, bisep
femoris, tibialis posterior, fleksor digitorum
longus, halusis penculiknya, fleksor digitorum
brevis, fleksor halusis brevis, abductor digiti
minimi, halusis adduktor, interosei, TA, EDL,
EHL, EDB, EHB, PT, PL, PB, gastrocnemius,
soleus (parsial adduktor magnus)
Betis lateral, punggung dan kaki plantar
(hemat kaki lateral)
Lutut fleksi
Dorsofleksi pergelangan
kaki, plantarflexion,
inversi dan eversi
Ekstensi Toe (adduksi
pinggul parsial)
13

Saraf peroneal umum TA, EDL, EHL, EDB, EHB, PT, PL, PB Betis lateral dan dorsum kaki (hemat kaki
lateral dan plantar)
Ankle dorsofleksi dan
eversi
Ekstensi Toe

Dalam peroneal saraf TA, EDL, EHL, EDB, EHB, PT Daerah antara jari kaki besar dan kedua Dorsofleksi pergelangan
kaki dan eversi parsial>
inversi
Ekstensi Toe
Saraf peroneal
Superficial
PL, PB Betis lateral dan dorsum kaki (hemat kaki
lateral)
Ankle eversi

a
TA = tibialis anterior, PL = peroneus longus, PB = peroneus brevis, ekstensor digitorum EDB = brevis, ekstensor EHL = halusis longus,
EDL = ekstensor digitorum longus, PT = peroneus Tertius, EHB = ekstensor halusis brevis
14

Kaki pasien harus diperiksa untuk ecchymosis, edema, atau borok.
Bukti trauma atau vaskuler terdiri dapat membantu untuk menentukan
penyebab lesi. The peroneal saraf dapat teraba seperti angin di sekitar kepala
fibula. Tapping atas daerah ini dapat mereproduksi dysesthesia di betis lateral
atau kaki.
Pemeriksaan sensorik-hati dapat membantu dengan lokalisasi lesi.
Kedalaman saraf peroneal memasok daerah antara jari kaki pertama dan
kedua. Sisa dorsum kaki dipersarafi oleh saraf peroneal dangkal, kecuali
untuk area kecil lateral. Sensasi kaki plantar nampak pada lesi saraf peroneal.
Semua otot-otot ekstremitas bawah harus diperiksa untuk kelemahan
dan dibandingkan dengan sisi kontralateral. Kelemahan dorsiflexors
pergelangan kaki, ekstensor jari kaki, dan pergelangan kaki evertors, sering
disebut sebagai drop kaki, adalah sugestif dari neuropati peroneal. Dalam
serangkaian 303 pasien dengan kaki drop (termasuk asal neurogenik sentral),
hampir 31% dari lesi ini adalah karena neuropati peroneal. Lain 19,7% dari
kasus tersebut karena L5 radikulopati. Kurang sering, plexopathy
lumbosakral dapat mengakibatkan kelemahan dalam distribusi yang sama.
Seringkali, pasien dengan radikulopati L5 atau neuropati siatik akan
memiliki defisit yang sama seperti orang-orang dengan neuropati peroneal
umum. Tibialis posterior, dipersarafi oleh saraf tibialis, menerima persarafan
segmental utama dari L5. Otot ini menyediakan mayoritas pergelangan kaki
inversi. Jika pergelangan kaki inversi lemah, lesi melibatkan lebih dari saraf
peroneal umum.
Pemeriksaan refleks normal dan patologis dapat lebih mempersempit
diferensial tersebut. Tendon patella refleks dipersarafi oleh L2 melalui L4
akar saraf. Achilles refleks terutama dari S1. Refleks tidak ada atau berkurang
menyarankan asal perifer kaki drop. Kehadiran refleks patologis, seperti
Babinski refleks, menunjukkan kaki drop asal sentral. Tabel 1 di bawah ini
menyajikan penyebab perifer yang paling umum dari kaki drop. Sejak
neuropati peroneal muncul secara klinis paling mirip dengan radikulopati L5,
L4 dan S1 dikeluarkan dari tabel ini. Seperti disebutkan sebelumnya, akar L4,
L5, dan S1 berkontribusi pada saraf peroneal umum.
15


3.5 DIAGNOSIS
Diagnosa peroneus neuropati ditegakkan berdasarkan gejala
klinis,pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang.
Elektromiografi
Yang terpenting yaitu adanya perubahan amplitudo
Adanya blok konduksi dan kegagalan konduksi saraf
Menurunnya kecepatan hantaran saraf
Meningkatnya distal latency
Memperlihatkan tanda-tanda denervasi
Imaging dan pengujian elektrodiagnostik
Radiografi polos dari lutut dan pergelangan kaki harus diperoleh
untuk mengevaluasi fraktur bersamaan, lesi massa, atau arthritis jika
sejarah menunjukkan salah satu etiologi tersebut. Lumbar MRI dapat
memberikan bukti radikulopati L5 jika radiografi negatif. Lutut dan
pergelangan kaki MRI dapat lebih menjelaskan lesi tulang atau
menunjukkan ganglia intraneural. Dalam rangka untuk melihat anatomi
dari saraf yang sebenarnya, 3-tesla MRI diperlukan. Mesin ini sekarang
menjadi tersedia di pusat-pusat besar. Kim dan kelompoknya
menunjukkan bahwa lutut MRI harus dilakukan dalam semua kasus non-
traumatik kelumpuhan saraf peroneal sejak ganglia intraneural mungkin
etiologi yang paling umum. Teknik lain yang lebih baru untuk menilai
daerah sekitar kepala fibula adalah sonografi resolusi tinggi. Visser
menunjukkan bahwa USG merupakan cara yang mudah dan mudah untuk
mengevaluasi saraf peroneal umum di lokasi yang dangkal .
Studi Electrodiagnostic membantu mengkonfirmasikan diagnosis
neuropati peroneal, termasuk diagnosis alternatif, dan menentukan
prognosis. Pemeriksaan yang disarankan termasuk bermotor studi
konduksi saraf dari saraf peroneal dan saraf tibialis dan studi konduksi
saraf sensorik dari sural dan dangkal saraf peroneal. Secara umum, jika
lesi melibatkan demielinasi, perlambatan fokal atau konduksi blok (rugi
amplitudo pada situs stimulasi yang lebih proksimal) dapat dilihat. Jika
16

lesi akibat hilangnya akson, senyawa otot aksi amplitudo potensial akan
menurun pada semua situs stimulasi. Jarum ujian elektromiografi lanjut
dapat melokalisasi lesi. Otot rutin diperiksa untuk penelitian ini meliputi
dua otot dipersarafi oleh saraf peroneal dalam, satu otot diinervasi oleh
saraf peroneal dangkal, tibialis posterior, otot lain dipersarafi oleh saraf
tibialis (yaitu, gastrocnemius medial), dan kepala pendek biseps femoris.
Jika salah satu otot disuplai oleh saraf peroneal tidak normal, otot lebih
lanjut diberikan oleh akar saraf L5 tetapi tidak saraf peroneal (yaitu,
tibialis posterior) harus dievaluasi untuk mengecualikan radiculopathy,
plexopathy lumbosakral, atau sciatic neuropati.

3.6 DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
Radikulopati L5
Post operasi pinggul
High aciatic mononeuropathy yang mengenai serabut peroneus kommunis

3.7 Terapi
Konservatif, menghindari faktor kompresi
Operasi
Physical therapy
Nyeri adalah gejala yang paling awal di neuropati peroneal dan
mungkin yang paling sulit untuk diobati. Agen saat ini tersedia untuk nyeri
neuropatik meliputi: lidokain topikal, capsaicin, selective serotonin reuptake
inhibitor, antiepilepsi, opioid, dan agonis reseptor -. Seperti memberikan
bantuan gejala saja, pilihan pengobatan tergantung pada komorbiditas dan
efek samping yang mungkin. Sebuah tinjauan pilihan ini adalah di luar
lingkup artikel ini, tetapi pengobatan harus individual kepada pasien.
Modalitas seperti panas dan es juga dapat memberikan pereda nyeri
yang efektif. Namun, pasien dengan kehilangan sensori harus hati-hati
diamati selama penggunaan modalitas untuk mencegah kerusakan kulit. Juga,
pengobatan es dangkal dapat melukai saraf peroneal pada kepala fibula ketika
diterapkan secara tidak benar. Hal ini dilaporkan dalam kasus seorang pemain
17

sepak bola yang diterapkan es untuk cedera otot hamstring [ 25 ]. Kerusakan
kulit dari aplikasi dingin dangkal biasanya tidak terjadi dengan penggunaan
lapisan pelindung untuk kulit dan terbatas durasi terapi. Panas dangkal dapat
menyebabkan luka bakar. Hal ini dapat terjadi dengan berbaring di bantal
pemanas atau terapi berkepanjangan.
Iontophoresis telah disarankan untuk menghilangkan nyeri pada
neuropati peroneal. Hal ini melibatkan pengiriman transkutan obat ionik
(iecorticosteroids) ke dalam jaringan lunak dengan menggunakan arus listrik.
Meskipun ada sedikit bukti yang menunjukkan penyerapan yang sebenarnya
steroid ke dalam jaringan lunak manusia, hal ini dapat memberikan bantuan
gejala bagi pasien dan umumnya dapat ditoleransi dengan baik.
Kelemahan dalam neuropati peroneal dapat menyebabkan gangguan
gait fungsional. Atrofi otot dapat menjadi klinis jelas pada 2 minggu setelah
cedera. Jika ada transeksi saraf atau akson lengkap lesi kerugian, maka akan
tidak ada gunanya untuk mencoba untuk memperkuat otot denervated. Jika
ada kompresi, yang terbaik adalah untuk meringankan agen menyinggung
sebelum uji coba penguatan. Jika pasien memiliki cedera saraf peroneal halus,
penguatan dapat membantu pemulihan fungsional. Jika pasien memiliki
kerugian lengkap kekuatan, rentang gerak pasif mungkin semua itu mungkin.
Sangat penting untuk menjaga pergelangan kaki kisaran yang tepat gerak
sehingga contracture kabel tumit sisa tidak akan menghalangi kemampuan
untuk berjalan. Baru-baru ini, stimulator saraf peroneal telah mendapatkan
popularitas untuk pengobatan kaki drop etiologi pusat. Perangkat ini
memerlukan fungsi utuh peroneal saraf dan tidak berguna pada pasien dengan
cedera saraf perifer.
Pasien dengan kehilangan sensori harus memeriksa kaki mereka setiap
hari untuk mencegah perkembangan ulkus. Sebuah renda-up pergelangan
lengan sederhana dengan dukungan medial dan lateral dapat membantu
pasien dengan kehilangan proprioseptif. Pada neuropati perifer, sangat jarang
untuk memiliki kerugian proprioseptif sampai tahap akhir penyakit. Jika
siatik atau peroneal palsy cukup parah untuk menunjukkan kerugian
18

proprioseptif, pasien lebih cenderung memiliki gangguan kiprah dan
memerlukan intervensi.
Jika pasien memiliki kelemahan ekstensor jari kaki saja, seperti yang
akan terjadi di distal neuropati peroneal dalam, alas kaki kokoh mungkin
semua yang diperlukan untuk mengoptimalkan kiprah. Sebuah sepatu rocker-
bottom dapat menurunkan energi yang dibutuhkan untuk ambulation. Jika
pasien telah terisolasi dangkal kelumpuhan saraf peroneal, ia dapat
mengambil manfaat dari sepatu dengan memasukkan irisan lateral mencegah
supinasi kaki dari kelemahan evertors. Jika pasien memiliki neuropati
peroneal proksimal mendalam, ia mungkin tidak dapat dorsofleksi
pergelangan kaki. Ankle dorsofleksi diperlukan untuk membersihkan jari kaki
sambil ambulating. Sebuah kaki orthosis pergelangan mempertahankan kaki
pada posisi netral sehingga pasien dapat mencapai pola gait normal. Jika lesi
pada tingkat saraf peroneal umum, kaki mungkin cenderung ke arah
plantarflexion dan inversi. Pasien ini juga akan membutuhkan kaki orthosis
pergelangan kaki untuk izin kaki selama kiprah. Pasien dengan neuropati
peroneal umum memerlukan lebih solid, AFO kurang fleksibel dibandingkan
dengan neuropati peroneal hanya dalam.
Semua pasien dengan kelemahan harus meluruskan setiap hari untuk
mencegah kontraktur. Equinovarus kaki deformitas adalah komplikasi umum
kelemahan dorsofleksi pergelangan kaki. Sangat penting bahwa pasien
mempertahankan kisaran nya gerak untuk memiliki kemampuan untuk
ambulate. Setelah kontraktur telah dikembangkan, pasien mungkin tidak
dapat mentolerir bracing. Jika bracing tidak efektif, tendon tibialis posterior
dapat ditransfer ke dorsum kaki untuk mengembalikan dorsofleksi aktif. Hal
ini sering dilakukan bersamaan dengan fusi dari sendi subtalar dan setelah
satu tahun pasca-cedera. Penghapusan menyinggung agen, lesi, atau kegiatan
adalah pengobatan terbaik neuropati peroneal. Akibatnya, pengakuan cepat
dan diagnosis sangat penting untuk menjaga fungsi maksimal. Awalnya,
pengobatan mungkin konservatif dalam lesi saraf yang paling peroneal. Luka
terbuka terkait dengan kelumpuhan saraf peroneal harus menjalani eksplorasi
bedah segera. Lesi lainnya yang diikuti secara klinis dan dapat diselidiki
19

electromyographically. Jika tidak ada bukti pemulihan fungsional, operasi
dapat dilakukan pada 3-7 bulan dari cedera. Teknik operasi dan waktu untuk
intervensi bervariasi menurut sifat cedera. Neurolysis menghasilkan hasil
terbaik. Perbaikan jahitan end-to-end adalah lebih baik untuk perbaikan
korupsi, dan cangkok pendek menghasilkan hasil yang lebih baik. Dalam
serangkaian 381 pasien yang menjalani operasi manajemen untuk neuropati
peroneal umum, anti-gravitasi atau fungsi dorsofleksi pergelangan kaki yang
lebih besar dicapai pada 75% pasien dengan cangkok kurang dari 6 cm.
























20

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Peroneal Palsy yaitu keadaan yang ditandai dengan penurunan fungsi
sensorik dan motorik pada tungkai bawah dan kaki akibat lesi pada nervus
peroneal.
Peroneal palsy dapat disebabkan oleh: (1) Tekanan dari luar (seperti
penekanan pada saraf selama jongkok/ duduk bersilang kaki) dan (2) Trauma,
Diabetes, Lepra
Gejala klinis peroneus neuropati dapat dibedakan menurut level lesinya
dan menurut penyebabnya
Terapi peroneal palsy yaitu : (1) Konservatif, menghindari faktor
kompresi, (2) Operasi dan (3) Physical therapy


















21

Daftar Pustaka

Internet
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1962/1/bedah-
iskandar%20japardi41.pdf
http://id.scribd.com/doc/54595171/Neuropati-Peroneal-Palsy
Edwards PH, Wright ML, Hartman JF. . Pendekatan praktis untuk diagnosis
diferensial sakit kaki kronis pada atlet Am J Med Olahraga 2005;. 33 (8)
:1241-9.
Garazzo D, Ferraresi S, Buffatti P. Surgical treatment of common peroneal nerve
injuries: indications and results: a series of 62 cases. J Neurosurg Sci. 2004;
48 (3):10512.
Hagiwara Y, Hatori M, Kokubun S, Miyasaka Y. Gait characteristics of sciatic
nerve palsya report of four cases. Ups J Med Sci. 2003; 108 :2217.
Kim DH, Murovic JA, Teil RL, Kline DG. Manajemen dan hasil di 318 lesi saraf
peroneal umum operasi di Pusat Ilmu Kesehatan LSU Neurosurgery 2004;..
:1421-54 9.
Moeller JL, Munroe J, McKeag DB. Cryotherapy diinduksi umum kelumpuhan
saraf peroneal Clin J Sports Med 1997;.. 7 :212-6.
Preston DC, Shapiro BE. Neuropati peroneal. Dalam: Elektromiografi dan
neuromuskuler gangguan. Philadelphia: Elsevier; 2005. hlm 343-54.
Shefller LR, Hennessey MT, Naples GG, Chae J. Peroneal nerve stimulation
versus an ankle foot orthosis for correction of footdrop in stroke: impact on
functional ambulation. Neurorehabil Neural Repair. 2006; 20 (30):35560.
Spinner RJ, Atkinson JL, Scheithauer BW, Batu MG, Birch R, Kim TA, Kliot M,
Kline DG, Tiel RL. Ganglia intraneural peroneal: pentingnya cabang
artikular. Seri Klinis J Neurosurg 2003;... 99 (2) :319-27
Visser LH. Resolusi tinggi sonografi dari saraf peroneal umum: deteksi ganglia
intraneural Neurology 2006; 67 :1473-5
Weber DJ, Stein RB, Chan KM, Loeb GE, Richmond FJ, Rolf R, James K, Chong
SL. BIONic WalkAide for correcting foot drop. Conf Proc IEEE Eng Med
Biol Soc. 2004; 6 :418992