Anda di halaman 1dari 26

LABORATORIUM FARMASETIK

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
LAPORAN LENGKAP KELOMPOK
KELARUTAN
OLEH :
KELOMPOK III
W1-A
HERMAL MALIK
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2012
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Lata B!"a#a$%
Larutan memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari.Dialam
kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air, tubuh menyerap mineral,
vitamin dan makanan dalam bentuk larutan.Pada tumbuhan nutrisi diangkut
dalam larutan air ke semua bagian jaringan.Obat-obatan biasanya merupakan
larutan air atau alkohol dari senyawa fisiologis aktif.Banyak reaksi-reaksi kimia
yang dikenal, baik didalam laboratorium atau di industri terjadi dalam larutan.
ntuk meramalkan sifat larutan tidak dapat langsung dari sifat
komponennya, karena dalam !ampuran terdapat banyak interaksi antara
komponen penyusunnya.Oleh sebab itu, perlu dibuat suatu model larutan sebagai
standar untuk mengungkapkan hubungan antara komposisi dengan sifat larutan.
Pengetahuan tentang sifat larutan penting untuk ahli farmasi,sebab dapat
membantu memilih medium pelarut yang baik untuk obat atau kmbinasi obat,
membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul pada waktu
pembuatan larutan farmasetis."elarutan suatu senyawa bergantung pada sifat
fisika dan kimia #at terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur,
tekanan, p$ larutan dan untuk jumlah yang lebih ke!il, bergantung pada hal
terbaginya #at terlarut.
Dalam per!obaan ini akan dilihat pengaruh temperatur terhadap aswam
salisilat,asetosal, kofein an asam ben#oat dari kelarutan masing-masing sampel
dalam air suling pada suhu kamar, %&'( dan )*'(.
I.2 T&'&a$ Pa#t(#&)
+. ,enentukan kelarutan suatu #at se!ara kuantitatif
-. ,enerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu #at
.. ,enjelaskan usaha-usaha yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan
suatu #at aktif dalam air dalam pembuatan sediaan !air.
BAB II
TIN*AUAN PUSTAKA
II.1 T!+( U)&)
Larutan adalah sebagai /sediaan !air yang mengandung satu atau lebih #at
kimia yang dapat larut biasanya di larutkan dalam air, yang karena bahan-
bahannya, !ara pera!ikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan kedalam
golongan produk lainnya0 12nsel, +3435.
Larutan adalah !ampuran homogen termodinamika stabil dari dua atau lebih
komponen, larutan terdiri dari satu atau lebih #at terlarut molekuler tersebar
1terlarut5 dalam satu atau lebih pelarut. 6at terlarut dan pelarut mungkin dapat
menjadi #at !airan atau padatan 1(ode7, +33%5.
"elarutan adalah suatu bentuk kuantitatif sebagai konsentrasi #at terlarut
dalam suatu larutan jenuh pada temperat tertentu, se!ara kualitatif, di definisikan
sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih #at untuk membentuk dispersi
molekular homogen 18inko, -**&5.
Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana #at terlarut berada dalam
kesetimbangan dengan fase padat 1#at terlarut5. Larutan tak jenuh atau hampir
jenuh adalah suatu larutan yang mengandung #at terlarut dalam konsentrasi
dibawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk menjenuhkan sempurna pada
temperatur tertentu 1,artin, +33.5.
Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung #at terlarut dalam
konsentrasi lebih banyak dari pada yang seharusnya ada pada temperatur tertentu
dan terdapat juga #at terlarut yang tidak larut 18inko, -**&5.
Peribahasa sederhana /like dissolves like0 dapat diungkapkan dengan !ara
lain, yang dengan menyatakan bahwa kelarutan suatu #at umumnya dapat
diperkirakan hanya dengan !ara kualitatif dan hanya setelah mempertimbangkan
polaritas, konstanta dielektrik, asosiasi, solvasi, tekanan internal, reaksi asam
basa dan faktor-faktor lain. 8olvasi adalah kombinasi khusus pelarut dengan #at
terlarut. 6at terlarut sering kali lebih larut dalam daripada dalam satu pelarut saja.
9ejala ini dikenal sebagai melarut bersama 1(osolven!y5. Dan pelarut 1yang ada
dalam kombinasi tersebut5 yang meningkatkan kelarutan #at terlarut disebut
kosolvent 1(osolvent518inko, -**&5.
Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa + gram #at padat atau + ml
#at !air dalam sejumlah ml pelarut jika kelarutan suatu #at tidak diketahui dengan
pasti, kelarutannya dapat ditunjukkan dengan istilah berikut 1Didjen PO,,+3:35.
;stilah kelarutan <umlah bagian pelarut diperlukan
untuk melarutkan + bagian #at
8angat mudah larut
,udah larut
Larut
2gak sukar larut
8ukar larut
8angat sukar larut
praktis tidak larut
"urang dari +
+ sampai +*
+* sampai .*
.* sampai +**
+** sampai +***
+*** sampai +*.***
lebih dari +*.***
Persen dinyatakan dengan salah satu dari empat !ara berikut ini 1=; ;;;, +3:35>
a5 Persen bobot per bobot ? b@b, menyatakan jumlah gram #at dalam +** gram
bahan atau hasil akhir.
b5 Persen bobot per volume ? b@v, menyatakan jumlah gram #at dalam +** ml
bahan atau hasil akhir.
!5 Persen volume per volume ? v@v, menyatakan jumlah ml dalam +** ml bahan
atau hasil akhir.
d5 Persen volume per bobot ? v@b, menyatakan jumlah ml dalam +** gram
bahan atau hasil akhir.
"e!uali dinyatakan lain, dimaksud dengan persen ? tanpa penjelasan
selanjutnya adalah persen bobot per bobot 1=; ;;;, +3:35.
"elarutan obat dapat dinyatakan dalam beberapa !ara. ,enurut .8.
Pharma!opeia dan Aational. =ormulary, definisi kelarutan obat adalah jumlah ml
pelarut dimana akan larut + gram #at terlarut. 8ebagai !ontoh, kelarutan asam
borat dalam .8. Pharma!opeia dikatakan sebagai + gram asam borat larut dalam
+4 ml air, dalam +4 ml alkohol, dan dalam % ml gliserin. "elarutan se!ara
kuantitatif juga dinyatakan dalam molalita, molarita, dan persentase 1,artin,
+33.5.
ntuk #at kelarutannya tidak di ketahui pasti, harga kelarutannya
digambarkan dalam kompendia farmasi dengan menggunakan istilah umum
tertentu. "elarutan obat dalam Bhe ,ar!k ;ndeks dinyatakan dalam berbagai
satuan. ntuk kelarutan yang pasti dari beberapa #at pemba!a dapat melihat buku
8eidell, Londolt-Bronstein, ;nternational (riti!al, Bables dan LangeCs $andbook
of (hemestry. Beknik yang sesuai untuk penentuan kelarutan senyawa padat
dalam !airan yang teliti dan kelarutan bersama dua !airan telah dibi!arakan oleh
,ader dan 9rady 1,artin, +33.5.
=aktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan yaitu sebagai berikut,
1(ode7, +33%5 >
a5 8ifat #at terlarut
Dalam senyawa kimia, se!ara umum dapat diamati bahwa, berat molekul
dari suatu material bertambah, gaya antar molekul juga meningkat dan
kelarutan menurun. Bitik lebur men!erminkan interaksi ukuran antar molekul,
sehingga senyawa dengan titik lebur tinggi memiliki kelarutan yang rendah,
gaya antar molekul juga dipengaruhi oleh struktur kristal dengan solvasi.
8enyawa yang menunjukkan polimorfisme atau dengan angka yang berbeda,
dari molekul pelarut #at terlarut dalam kristal menunjukkan kelarutan benda
padat juga dipengaruhi oleh interaksi dengan pelarut.
b5 p$
"ebanyakan obat-obat organik sekarang digunakan dalam farmasi adalah
asam lemah atau basa. ;onisasi ion tersebut ditentukan oleh nilai p"a dan p$
medium, bentuk terionisasi.
!5 8ifat #at pelarut
Pelarut polar memiliki momen dipol yang besar karena muatan elektrik
yang dinyatakan, didistribusikan pada ikatannya tidak sama dengan atom
pusatnya. ;katannya terpolarisasi dengan satu atom bermuatan positif dan
lainnya ber,uatan negatif. Pada penambahan senyawa lain pada pelarut polar,
bentuk pasangan ion antara unsur tambahan dan pelarut. Pelarut nonpolar
memiliki konstanta dielektrik yang ke!il, ke!epatan disolusinya dipengaruhi
oleh gaya Dan der Ealls.
d5 Bemperatur
8uatu senyawa menunjukkan peningkatan kelarutan pada suhu yang tinggi,
tapi itu tidak selamanya terjadi, seperti kalsium hodroksida yang lebih mudah
larut dalam air yang dingin dari pada air panas.
e5 Penambahan larutan
Penambahan pelarut dapat meningkatkan atau mengurangi kelarutan.
Flektrolit lemah dapat bersifat seperti elektrolit kuat dan seperti
monoelektrolit dalam larutan. 2pabila larutan berada pada p$ di mana obat
seluruhnya berbentuk ion, maka larutan tersebut bersifat sebagai larutan elektrolit
kuat dan kelarutan tidak merupakan masalah yang serius. Betapi, apabila p$
disesuaikan pada harga p$ di mana molekul tidak terdisosiasi diproduksi dalam
konsentrasi yang !ukup untuk men!apai kelarutan dalam bentuk ini, terjadilah
pengendapan 1,artin 2lfred, +33.5.
,etode-metode yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan, yaitu sebagai
berikut 1(ode7, +33%5 >
a. ,odifikasi kimia
"elarutan dapat ditingkatkan dengan modifikasi kimia, !ontohnya seperti
kelarutan #at !air, yang dapat ditingkatkan dengan meningkatkan jumlah
gugus polar dari suatu molekul ini dapat di!apai dengan pembentukan garam.
(ontohnya kelarutan suatu #at !airan dari !hloroproma#in hidroklorida sekitar
-*.*** lebih besar dari pada basa bebasnya, sehingga molekul dapat
dimodifikasi untuk menghasilkan enfietas kimia baru untuk prodrag.
"elarutan #at !air dari natrium salisilat kloramfenikol, misalnya sekitar %**
kali lebih besar dari pada kloramfenikol. Prodragnya, bagaimana harus
kembali ke molekul asalnya setelah administrasi 1pengolahan5.
b. "ompleksasi
Penambahan bahan ketiga yang dapat membentuk antar molekul kompleks
dengan #at terlarut dapat meningkatkan kelarutan suatu #at terlarut. 8etelah
kompleksasi, kelarutan ditentukan oleh lingkungan kimia baru dimana #at
terlarut menemukan dirinya. 8ejumlah senyawa, seperti nikotinamid dan B-
klikodestrin, telah diamati sebagai agen 1perantara5 yang dapat meningkatkan
kelarutan dari air yang kurang baik kelarutan obat-obat.
!. (onsolven!y
"elarutan dari elektrolit lemah dan senyawa nonpolar dalam #at !air dapat
ditingkatkan dengan penambahan !osolvent seperti etanol, gliserol,
propilenglikol,atau sorbitol. 2gen ini dapat bekerja dengan menurunkan
tegangan antarmuka #at terlarut hidrofilik, dan hubungan #at !air atau dengan
mengubah konstanta dielektriknya.
d. $idrotropisme
2dalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan
kelarutan air yang di!apai dengan konsentrasi tinggi 1-*?-&*?5 dan
penambahan sesuatu. 2ditif 1penambahan5 !enderung sangat larut dalam air
dan memiliki anion@kation yang besar. (ontohnya seperti sodium asetatt,
natrium ben#oat, natrium !osilate, dan natrium salisilat. "elarutan dari kopi
misalnya, dapat ditingkatkan dengan penambahan natrium ben#oat.
$idrotropisme jarang diterapkan untuk formulasi farmasi. "arena peningkatan
kelarutan #at !air umumnya tidak memadai. ,ekanisme dari bahan
hidrotropik jelas meningkatkan kelarutan #at !air, molekul #at terlarut dapat
tersebar pada agregat dari hidrotropisme tersebut, peningkatan kelartuan
mungkin timbul melalui kompleksasi.
e. 8olubilisasi
8urfaktan digunakan sebagai bahan kelarutan dalam kebanyakan aplikasi
farmasi. 8urfaktan mempengaruhi pemisahan dengan proses yang dikenal
sebagai solubilisasi misel. ,isel terbentuk karena molekul surfaktan memiliki
area hidrofilik dan lipofilik yang seimbang. Pemisahan se!ukupnya akan
menjadi dalam medium air jika molekul sebagian besar hidrofili dan
sebaiknya prepifasi akan terjadi jika molekul sebagian besar lipofilik.
I$t!a#,( -at t!"a&t .a"a) /!"a&t 0a$% 1!,(2at /+"a
"elarutan obat sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu
oleh dipol momemnya. Pelarut polar melarutkan #at terlarut ionik dan #at polar
lainnya. 8esuai dengan itu, air ber!ampur dengan alkohol dalam segala
perbandingan dan melarutkan gula dan senyawa polihidroksi yang lain 1,artin,
+33.5.
8ingkatnya, pelarut polar seperti air bertindak sebagai pelarut menurut
mekanisme berikut ini 1,artin, +33.5>
a. Disebabkan karena tingginya tetapan dielektrik yaitu sekitar 4* untuk air,
pelarut polar mengurangi gaya tarik-menarik antara ion dalam kristal yang
berlawanan seperti natrium klorida.
b. Pelarut polar meme!ahkan ikatan kovalen dari elektrolit kuat dengan reaksi
asam basa karena pelarut ini amfrotik.
!. 2khirnya pelarut polar mampu mengsolvasi molekul dari ion dengan adanya
gaya interaksi dipol, terutama pambentukan hidrogen.
I$t!a#,( -at t!"a&t .a"a) /!"a&t 0a$% 1!,(2at $+$-/+"a
Pelarut nonpolar tidak dapat mengurangi gaya tarik-menarik antara ion-ion
elektrolit kuat dan lemah. "arena tetapan dielektrik pelarut yang rendah juga
tidak dapat membentuk jembatan hidrogen dengan nonelektrolit oleh karena itu,
#at terlarut ionik dan polar tidak larut atau hanya dapat larut sedikit dalam pelarut
nonpolar 1,artin, +33.5.
Betapi senyawa nonpolar dapat melarutkan #at terlarut nonpolar dengan
tekanan dalam yang sama melalui interaksi dipol induksi 1,artin, +33.5.
I$t!a#,( -at t!"a&t .a"a) /!"a&t 0a$% 1!,(2at ,!)(/+"a
Pelarut semipolar seperti keton dan alkohol dapat menginduksi suatu derajat
polaritas tertentu dalam molekul pelarut nonpolar, sehingga menjadi dapat larut
dalam alkohol !ontohnya ben#ena yang mudah dapat dipolarisasikan
kenyatannya, senyawa semi polar dapat bertindak sebagai pelarut perantara yang
dapat menyebabkan ber!ampurnya !airan polar dan nonpolar1,artin, +33.5.
II.2 Ua(a$ Ba3a$
+. 2ir suling 1=; ;;;, hal 3)5
Aama resmi > 2Gua Destillata
Aama lain > 2ir suling
H,@B, > $-O @+4,*-
Humus struktur > $ - O - $
Pemerian > (airan jernih tidak berwarna dan tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
Penyimpanan > dalam wadah tertutup rapat
"egunaan > 8ebagai pelarut
-. 2sam salisilat 1=; ;;;, hal &)5
Aama resmi > 2!idum sali!yli!um
Aama lain > 2sam salisilat
H,@B, > (:$)O. @ +.4,+-
Pemerian > $ablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna
putih, hampir tidak berbau, rasa agak amnis daan
tajam.
"elarutan > Larut dalam &&* bagian air dan dalam % bagian
etanol13&?5 P, mkudah larut dalam kloroform P dan
dalam eter P, larut dalam laruatn ammonium.
.. Propilenglikol 1=; ;;;, hal. &.%5
Aama resmi > PHOPILFA9LI(OL,
Aama lain > Propilenglikol
H,@B, > (.$4O-
Pemerian > (airan kental, jernih, tidak berwarna, tidakberbau,
rasa agak manis, higroskopik
"elarutan > Dapat !ampur dengan air, dengan etanol 13&?5 P
dan dengan kloroform P, larut dalam ) bagian eter
P, tidak dapat !ampur dengan eter minyak tanah P
dan dengan minyak lemak.
Penyimpanan > Dalam wadah tertutup baik
%. 2lkohol 1=; ;;;, hal )&5
Aama resmi > 2FB$2AOL,
Aama lain > Ftanol, alkohol
Pemerian > (airan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan
mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap
"elarutan > 8angat mudah larut dalam air
Penyimpanan > Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari !ahaya
II.4 P+,!.& K!'a5A$+$()6 20127
a. ,enentukan kelarutan suatu #at se!ara kuantitatif
+. ,asukkan + gram asam salisilat dalam &* ml air dan ko!ok selama +,& jam
dengan stirer, jika ada endapan yang larut selama pengo!okan tambakan
lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh.
-. 8aring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masing-
masing larutan.
b. Pengaruh pelarut !ampur terhadap kelarutan #at
+. Buatlah +** ml !ampuran bahan pelarut yang tertera pada table di bawah
ini
-. 2mbil &* ml !ampuran pelarut, larutkan asam salisilat sebanyak + gram ke
dalam masing-masing !ampurn pelarut.
.. "o!ok
larutan
dengan
stirer
selama
+,& jam.
<ika ada
endapan
yang
larut selama pengo!okan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat
sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.
%. 8aring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut
&. Buatlah kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga konstanta
dielektrik bahan pelarut !ampur yang ditambahkan.
!. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu #at
+. Buatlah &* ml larutan tween 4* dengan konsentrasi *J *,+J *,&J +*,*J &*,*J
dan +** mg@ +** ml
-. Bambahkan + gram asam salisilat ke dalam masing-masing larutan
.. "o!ok larutan stirer selama +,& jam. <ika ada endapan yang larut selama
pengo!okan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai
diperoleh larutan yang jenuh kembali.
%. 8aring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut
&. Buat kurva antara kelarutan asam salisilat dengan konsentrasi teween 4*
yang digunakan, dan tentukan misel 1","5
2ir ? 1v@v5
2lkohol ?
1v@v5
Propilen glikol ?
1v@v5
)*
)*
)*
)*
)*
)*
)*
)*
*
&
+*
+&
-*
.*
.&
%*
%*
.&
.*
-&
-*
+*
&
*
BAB III
METODE KER*A
III.1 A"at .a$ Ba3a$
III.1.1 A"at 0a$% D(%&$a#a$
+. Batang pengaduk
-. Botol semprot
.. (awan porselin
%. (orong
&. Frlenmeyer -&* ml
). 9elas ukur -&* ml
:. 9elas kimia
4. "ertas saring
3. "ertas timbang
+*. Label
++.Bermometer
+-.Bissue
+..Penangas
III.1.2 Ba3a$ 8a$% D(%&$a#a$
+. 2Guadest
-. 2sam salisilat
.. 2lkohol
%. Propilenglikol
III.2 La$%#a3 K!'a
+. ,enentukan kelarutan suatu #at se!ara kuantitatif
a. Dimasukkan + gram asam salisilat dalam &* ml air dan ko!ok atau aduk
selama +,& jam dengan sendok tanduk
b. Ditambahkan lagi asam slisilat jika endapannya larut selama pengadukan
hingga di peroleh larutan yang jenuh
!. Disaring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masing-
masing larutan
-. Pengaruh pelarut !ampur terhadap kelarutan #at
a. Dibuat +** ml !ampuran bahan pelarut yang terdiri dari air, alkohol da
propilen glikol dgn konsentrasi yg berbeda-beda sebanyak 4 buah pelarut
b. Diambil &* ml !ampuran pelarut, larutan asam salisilat sebanyak + gram
ke dalam masing- msaing !ampuran pelarut
!. Diadul larutan dengan batang pengaduk selama +,& jam. <ika ada endapan
yang larut selama pengadukan ditambahkan lagi asam salisilat sampai di
peroleh larutan yang jenuh kembali
d. Disaring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut
.. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu #at
a. Dibuat &* ml larutan tween 4* dengan konsentrasi *J *,+J *,&J +,*J &,*J
+*,*J &*,*J dan +** mg@ +** ml
b. Ditambahkan + gram asam salisilat ke dalam masing-masing larutan
!. Diaduk larutan dengan batang pengaduk selama +,& jam. <ika ada
endapan yang larut selama pengadukan tambahkan lagi asam salisilat
sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali
d. Disaring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut
e. Ditentukan konsentrasi misel kritik 1","5 tween 4*
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Ha,(" .a$ /!3(t&$%a$
IV.1.1 Ha,("
a. ,enentukan kelarutan suatu #at se!ara kuantitatif
(uplikan@data ke- Dolume titran 1ml5 "onsentrasi
; &* ml + g @ +4:,%: ml
;; &* ml + g @ +)+,-3 ml
;;; &* ml + g @ +:3,*+4 ml
b. Pengaruh pelarut !ampur terhadap kelarutan #at
Pelarut Dolume titran 1ml5 "onsentrasi 1?5
2 - )* > * > %*
B - )* > & > .&
( - )* > +* > .*
D - )* > +& > -&
F - )* > -* > -*
= - )* > .* > +*
9 - )* > .& > &
$ - )* > %* > *
Data istilah kelarutan
Pelarut Data hasil timbangan Berat sampel 8ampel yang larut
2 *,-3*. *,3343 *,:*4)
B *,.:*+ +,***) *,).*&
( *,%*)3 +,***& *,&3.)
D *,)%-: +,**** *,.&:.
F *,&.%: *,333: *,%)&*
= *,..4- +,***: *,))-&
9 *,)3&. +,**+- *,.*&.
$ *,:.%. +,**** *,-)&:
!. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu #at
Pelarut larutan Bween
dalam air 1mg@+**ml5
Dolume titran 1ml5 "onsentrasi 1?5
+ ? - +%+,.-
. ? - 34,+:
& ? - :&,:&
: ? - &.,:%)
3 ? - &.,:*&
IV.1.2 P!3(t&$%a$
a. ,enentukan kelarutan suatu #at se!ara kuantitatif
Data ;
+ g K *,:.. g L *,-)): g
*,-)): g L + g
&* ml 7
M L +4:,%: ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada data yaitu + g@+4:,%: ml
tergolong sukar larut
Data ;;
+ g K *,)3 g L *,.+ g
*,.+ g L + g
&* ml 7
M L +)+,-3 ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada data ;; yaitu + g@+:3,*+4 ml
tergolong sukar larut
Data ;;;
+ g K *,:-*: L *,-:3. gr
*,-:3. g L + g
&* ml 7
M L +:3,*+4 ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada data ;;; yaitu + g@+:3,*+4 ml
tergolong sukar larut
b. Pengaruh pelarut !ampur terhadap kelarutan #at
Pelarut 2 L )* > * > %*
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L * 7 -%,. L *
+**
Propilenglikol L %* 7 .- L +-,4
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N * N +-,4 L )+,*%
Pelarut B L )* > & > .&
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L & 7 -%,. L +,+-&
+**
Propilenglikol L .& 7 .- L ++,-
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N +,+-& N ++,- L )*,%+&
Pelarut ( L )* > +* > .*
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L +* 7 -%,. L -,%.
+**
Propilenglikol L .* 7 .- L 3,)
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N -,%. N 3,) L )*,-:
Pelarut D L )* > +& > -&
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L +& 7 -%,. L .,)%&
+**
Propilenglikol L -& 7 .- L 4
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N .,)%& N 4 L &3,44&
Pelarut F L )* > -* > -*
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L -* 7 -%,. L %,4%
+**
Propilenglikol L -* 7 .- L ),%
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N %,4% N ),% L &3,%4
Pelarut = L )* > .* > +*
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L .* 7 -%,. L :,-3
+**
Propilenglikol L +* 7 .- L .,-
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N :,-3 N .,- L &4,:.
Pelarut 9 L )* > .& > &
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L.& 7 -%,. L 4,&*&
+**
Propilenglikol L & 7 .- L +,)*
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N 4,&*& N +,)* L &4,.%&
Pelarut $ L )* > %* > *
2ir L )* 7 4*,% L %4,-%
+**
2lkohol L %* 7 -%,. L 3,:-
+**
Propilenglikol L * 7 .- L *
+**
<umlah konsentrasi L %4,-% N 3,:- N * L &:,&+
P!3(t&$%a$ (,t("a3 #!"a&ta$
Pelarut 2
*,3343 g K *,-3*. g L *,:*43 g@&*ml
*,:*43 g L + g
&* ml 7
M L :*,&)- ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut 2 yaitu + gram @ :*,&)-
ml adalah agak sukar larut.
Pelarut B
+,***) g K *,.:*+ g L *,).*& g@&*ml
*,).*& g L + g
&* ml 7
M L :3,.*- ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut B yaitu + gram @ :3,.*-
ml adalah agak sukar larut.
Pelarut (
+,***& g K *,%*)3 g L *,&3.) g@&*ml
*,&3.) g L + g
&* ml 7
M L 4%,-.- ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut B yaitu + gram @ 4%,-.-
ml adalah agak sukar larut.
Pelarut D
+,**** g K *,)%-: g L *,.&:. g@&*ml
*,.&:. g L + g
&* ml 7
M L +.3,3.4 ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut B yaitu + gram @ +.3,3.4
ml adalah sukar larut.
Pelarut F
*,333: g K *,&.%: g L *,%)&* g@&*ml
*,%)&* g L + g
&* ml 7
M L +*:,&-) ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut B yaitu + gram @ +*:,&-)
ml adalah sukar larut.
Pelarut =
+,***: g K *,..4- g L *,))-& g@&*ml
*,))-& g L + g
&* ml 7
M L :&,%:+ ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut B yaitu + gram @ :&,%:+
ml adalah agak sukar larut.
Pelarut 9
+,**+- g K *,)3&. g L *,.*&3 g@&*ml
*,.*&3 g L + g
&* ml 7
M L +).,%&- ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut B yaitu + gram @ +).,%&-
ml adalah sukar larut.
Pelarut $
+,**** g K *,:.%. g L *,-)&: g@&*ml
*,-)&: g L + g
&* ml 7
M L +44,+4- ml
;stilah kelarutan asam salisilat pada pelarut B yaitu + gram @ +44,+4-
ml adalah sukar larut.
!. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu #at
+. 2sam salisilat N tween + ?
2sam salisilat L +,% g, asam salisilat +,*%)- g, volume &* ml,
tween + ? L + g
+,% g - +,*%)- g L *,.&.4 g
*,.&.4 g L + g
&* ml 7
M L +%+,.- ml
;stilah kelarutan pada pada tween + ? L + g@+%+,.- ml tergolong
sukar larut
-. 2sam salisilat N tween . ?
2sam salisilat L +,*3:& g, asam salisilat *,&44- g, volume &*
ml, tween . ? L . g
+,*3:& g - *,&44- g L *,&*3. g
*,&*3. g L + g
&* ml 7
M L 34,+:. ml
;stilah kelarutan pada pada tween . ? L + g@34,+:. ml tergolong
agak sukar larut
.. 2sam salisilat N tween & ?
2sam salisilat L - g, asam salisilat +,.% g, volume &* ml, tween
& ? L & g
- g - +,.% g L *,)) g
*,)) g L + g
&* ml 7
M L :&,:&: ml
;stilah kelarutan pada pada tween & ? L + g@:&,:&: ml tergolong
agak sukar larut
%. 2sam salisilat N tween : ?
2sam salisilat L + g, asam salisilat *,*)3: g, volume &* ml,
tween : ? L : g
+ g - *,*)3: g L *,3.*. g
*,3.*. g L + g
&* ml 7
M L &.,:%) ml
;stilah kelarutan pada pada tween : ? L + g@&.,:%) ml tergolong
agak sukar larut
&. 2sam salisilat N tween 3 ?
2sam salisilat L 3 g, asam salisilat +,*)3 g, volume &* ml,
tween 3 ? L 3 g
- g - +,*)3 g L *,3.+ g
*,3.+ g L + g
&* ml 7
M L &.,:*& ml
;stilah kelarutan pada pada tween & ? L + g@&.,:*& ml tergolong
agak sukar larut
IV.2 P!)1a3a,a$
8e!ara kuantitatif, kelarutan suatu #at dinyatakan sebagai konsentrasi #at
terlarut di dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. "elarutan
dinyatakan dalam satuan mililiter pelarut yang dapat melarutkan suatu gram #at.
Data kelarutan suatu #at dalam air sangat penting untuk diketahui dalam
pembuatan sediaan farmasi. Data ini ditetapkan dan diperlukan karena didalam
saluran !erna obat harus dapat melarut dalam !airan saluran !erna yang
komponen utamanya adalah air agar dapat diabsorbsi.
=aktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu > p$, temperatur,
bentuk ukuran partikel, pelarut dan konstanta dielektrik, penambahan #at lain
seperti syrfaktan, #at pengkompleks, dan ion sejenis dan tidak sejenis.
Pada praktikum kali ini akan ditentukan kelarutan suatu #at se!ara
kuantitatif. 2sam salisilat ini dilarutkan dalam air dan diko!ok selama +,& jam
kemudian disaring dan dikeringkan hasil filtrat larutan tersebut.
8uatu larutan di bagi menjadi . yaitu >
a. Larutan jenuh adalah suatu #at terlarut dimana konsentrasinya telah
men!apai titik keseimbangan.
b. Larutan tidak jenuh adalah suatu #at terlarut dimana konsentrasinya lebih
rendah dari #at pelarutnya.
!. Larutan lewat jenuh adalah suatu #at terlarut dimana konsentrasinya lebih
besar@tinggi dari konsentrasi #at pelarutnya.
Berdasarkan penentuan kelarutan suatu #at se!ara kuantitatif diperoleh
pada data ; dengan volume titran didapat konsentrasi + g @ +4:,%: ml yang
menandakan istilah kelarutan asam salisilat adalah sukar larut. Pada dat ;;
dengan volume &* ml di dapat konsentrasi + g @ +)+,-3 ml yang menandakan
istilah kelarutan asam salisilat adalah sukar larut. Data ke ;;; dengan volume &*
ml di dapat konsentrasi + g @ +:3, *+4 ml yang menandakan istilah kelarutan
asam salisilat adalah sukar larut pula.
Berdasrakan pengaruh pelarut !ampur terhadap kelarutan #at, dimana
pelarut !ampurnya terdiri dari air, alkohol, dan propilenglikol. ;stilah kelarutan
pada pelarut 2 yaitu + g @ :*,&)- ml adalah agak sukar larut, pelarut B yaitu +
g @ :3,.*- ml adalah agak sukar larut, pelarut ( yaitu + g @ 4%,-.- ml adalah
agak sukar larut, pelarut D yaitu + g @ +.3,3.4 ml adalah sukar larut, pelarut F
yaitu + g @ +*:,&-) ml adalah sukar larut, pelarut = yaitu + g @ :&,%:+ ml adalah
agak sukar larut, pelarut 9 yaitu + g @ +).,%&- ml adalah sukar larut, dan pelarut
$ yaitu + g @ +44,+4- ml adalah sukar larut.
Berdasarkan pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu
#at. ;stilah kelarutan pada Bween + ? yaitu + g @ +%+,.- ml adalah sukar larut,
pada Bween . ? yaitu + g @ 34,+:. ml adalah agak sukar larut, pada Bween & ?
yaitu +g @ :&,:&: ml adalah agak sukar larut, pada Bween : ? yaitu + g @ &.,:%)
ml adalah agak sukar larut, pada Bween 3 ? yaitu + g @ &.,:*& ml adalah agak
sukar larut.
$asil per!obaan yang diperoleh tidak sama dengan literature atau teori
yang ada, hal ini disebabkan oleh >
+. "esalahan dalam hal pengeringan1penggunaan oven5
-. "esalahan dalam melarutkan sampel
.. "esalahan dalam hal penimbangan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
VI.1 K!,()/&"a$
Dari hasil per!obaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa>
+. "elarutan dari asam salisilat ternyata berbada-beda oleh karena
disebabkan pemberian suhu yang dilakukan pada per!obaan ini juga
bervariasi, semakin tinggi suhu dari suatu larutan maka, semakin depat
saut #at dapat alrut apada pelarutnya yang sesuai.dam asam asetil salisilat
ini, merupakam suatu #at yang sukar larut.
-. Berdasarkan penentuan kelarutan suatu #at se!ara kuantitatif
istilah kelarutan asam salisilat dinyatakan sukar larut dari ketiga data
tersebut dengan masing konsentrasi yaitu + g @ +4:,%: ml, + g @ +)+,-3 ml,
dan + g @ +:3,*+4 ml. Berdasarkan pengaruh pelarut !ampur terhadap
kelaruta #at, istilah kelarutan asam salisilat dengan pelarut 2, B, (, dan =
adalah agak sukar larut denagn masing- masing konsentrasi + g @ :*,&)-
ml, + g @ :3,.*- ml, + g @ 4%,-.- ml, dan + g @ :&,%:+ ml. Dan istilah
kelarutan asam salisilat dengan pelarut D, F, 9, dan $ adalah sukar larut
dengan masing-masing konsentrasi yaitu + g @ +.3,3.4 ml, + g @ +*:,&-)
ml, + g @ +).,%&- ml, dan + g @ +44,+4- ml. Berdasarkan pengaruh
surfaktan terhadap kelarutan suatu #at pada pelarut larutan Bween + ?
istilah kelarutan asam salisilat adalah sukar larut dengan konsentrasi + g @
+%+,.- ml, pada pelarut larutan Bween . ?, & ?, : ?, dan 3 ? istilah
kelarutannya adalah agak sukar larut pada konsentrasi + g @ 34,+:. ml, + g
@ :&,:&: ml, + g @ &.,:%) ml, dan + g @ &.,:*& ml.
VI.2 Saa$
8ebaiknya sebelum praktikum kooordinator alat harus mensterilkan
alat-alat yang akan digunakan agar hasil yang diperoleh akur
DAFTAR PUSTAKA
2nonim, -*+-. P!$&$t&$ Pa#t(#&) Fa)a,( F(,(#a. niversitas ,uslim
;ndonesia.,akasar.
Dirjen Pom,+3:3. Fa)a#+/! I$.+$!,(a E.(,( III.Depkes H;.<akarta.
$oward (,2nsel. +343. P!$%a$ta 1!$t&# ,!.(aa$ 2a)a,(. Fdisi keempat.;-
Press.<akarta.
Lund Ealter. +33%. P3a)a9!&t(9a" :+.!;. Bhe Pharma!euti!al Press> London.
,artin,alferd.+33.. Fa)a,( F(,(#.Fdisi ketiga.Penerbit ;-Press.<akarta.
8inko, P. -**&. Mat($<, P309(9a" P3a)a90 a$. P3a)a9!&t(9a" S($9! =
t3
E.(t(+$. Lipin!ott Eilliams O Eillkins, Baltimore.