Anda di halaman 1dari 13

Makna Filosofis Arsitektur Rumah Adat Batak

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah
Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan
Mandailing. Suku Batak Toba adalah masyarakat Batak Toba yang bertempat tinggal sebagai
penduduk asli disekitar Danau Toba di Tapanuli Utara. Pola perkampungan pada umumnya
berkelompok. Kelompok bangunan pada suatu kampung umumnya dua baris, yaitu barisan
Utara dan Selatan. Barisan Utara terdiri dari lumbung tempat menyimpan padi dan barisan
atas terdiri dari rumah adat, dipisahkan oleh ruangan terbuka untuk semua kegiatan sehari-
hari.



Desa-desa di daerah Danau Toba, meskipun saat ini telah kehilangan dibandingkandengan
bentuk desa masa lampau, tetapi ciri yang umum masih ada bahkan pada desa-desa yang
kecil, yaitu dikelilingi oleh sebuah belukar bambu. Pohon-pohon bambu sangat tinggi dan
seringkali sulit untuk melihat rumah-rumahnya dari luar desa itu, kecuali didaerah yang
berbukit. Di sekitar Balige, poros bangunan yang panjang mempunyai arah Utara-Selatan
sedang di daerah bukit poros bangunan yang panjang sering diorientasikan secara melintang
ke arah sudut-sudut yang tepat ke lereng-lereng bukit. Di daerah Samosir, poros bangunan
yang panjang diarahkan ke Timur-Barat.

Pada mulanya Huta, Lumban, atau kampung itu hanya dihuni oleh satu klan atau marga dan
Huta itu pun di bangun oleh klan itu sendiri. Jadi sejak mulanya Huta itu adalah milik
bersama. Sebagaimana ciri khas orang Batak yang suka gotong royong, demikianlah mereka
membangun Huta. Oleh karena Huta didiami oleh sekelompok orang yang semarga, maka
ikatan kekeluargaan sangat erat di Huta itu. Mereka secara gotong royong membangun dan
memperbaiki rumah, secara bersama-sama memperbaiki pancuran tempat mandi,
memperbaiki pengairan, mengerjakan ladang dan sawah, dan bersama-sama pula memetik
hasilnya.

Biasanya Huta hanya didiami beberapa anggota keluarga yang berasal dari satu leluhur.
Disebabkan oleh pertambahan penduduk, kemudian dibangunlah rumah dekat rumah leleuhur
atau ayah yang pertama. Demikian seterusnya bangunan rumah makin bertambah, sehingga
terbentuk perkampungan yang lebih ramai. Sering pula kampung itu terdiri dari beberapa
kelompok kampung-kampung kecil, yang hanya dipisahkan pagar bambu yang ditanam
dipinggiran kampung.

Adanya usaha beberapa orang dari anggota masyarakat dalam satu kampung untuk
memisahkan diri dan membentuk kampung sendiri, dapat membuat berdirinya Huta lain.
Suatu Huta yang baru, hanya dapat diresmikan kalau sudah ada ijin dari Huta yang lama
(Huta induk) dan telah menjalankan suatu upacara tertentu yang bersifat membayar hutang
kepada Huta induk.

Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan ke dalam rumah yang
digunakan untuk tempat tinggal keluarga disebut ruma, dan rumah yang digunakan sebagai
tempat penyimpanan (lumbung) disebut Sopo. Bahan-bahan bangunan terdiri dari kayu
dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh. Dinding dari papan atau tepas, lantai juga dari
papan sedangkan atap dari ijuk. Tipe khas rumah adat Batak Toba adalah bentuk atapnya
yang melengkung dan pada ujung atap sebelah depan kadang-kadang dilekatkan tanduk
kerbau, sehingga rumah adat itu menyerupai kerbau.

Punggung kerbau adalah atap yang melengkung, kaki-kaki kerbau adalah tiang-tiang pada
kolong rumah. Sebagai ukuran dipakai depa, jengkal, asta dan langkah seperti ukuran-ukuran
yang pada umumnya dipergunakan pada rumah-rumah tradisional di Jawa, Bali dan daerah-
daerah lain. Pada umumnya dinding rumah merupakan center point, karena adanya ukir-
ukiran yang berwarna merah, putih dan hitam yang merupakan warna tradisional Batak.
Ruma Gorga Sarimunggu yaitu ruma gorga yang memiliki hiasan yang penuh makna dan arti.
Dari segi bentuk, arah motif dapat dicerminkan falsafah maupun pandangan hidup orang
Batak yang suka musyawarah, gotong royong, suka berterus terang, sifat terbuka, dinamis
dan kreatif.

Ruma Parsantian didirikan oleh sekeluarga dan siapa yang jadi anak bungsu itulah yang
diberi hak untuk menempati dan merawatnya. Di dalam satu rumah dapat tinggal beberapa
keluarga , antara keluarga bapak dan keluarga anak yang sudah menikah. Biasanya orangtua
tidur di bagian salah satu sudut rumah. Seringkali keluarga menantu tinggal bersama orangtua
dalam rumah yang sama.

Rumah melambangkan makrokosmos dan mikrokosmos yang terdiri dari adanya tritunggal
benua, yaitu : Benua Atas yang ditempati Dewa, dilambangkan dengan atap rumah; Benua
Tengah yang ditempati manusia, dilambangkan dengan lantai dan dinding; Benua Bawah
sebagai tempat kematian dilambangkan dengan kolong. Pada jaman dulu, rumah bagian
tengah itu tidak mempunyai kamar-kamar dan naik ke rumah harus melalui tangga dari
kolong rumah, terdiri dari lima sampai tujuh buah anak tangga. Bersambung.

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah
Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan
Mandailing. Sebelum meletakkan pondasi lebih dahulu diadakan sesajen, biasanya berupa
hewan, seperti kerbau atau babi. Caranya yaitu dengan meletakkan kepala binatang tersebut
ke dalam lubang pondasi, juga darahnya di tuang kedalam lubang. Tujuannya supaya pemilik
rumah selamat dan banyak rejeki di tempat yang baru.

Ada tiang yang dekat dengan pintu (basiha pandak) yang berfungsi untuk memikul bagian
atas, khususnya landasan lantai rumah dan bentuknya bulat panjang. Balok untuk
menghubungkan semua tiang-tiang disebut rassang yang lebih tebal dari papan. Berfungsi
untuk mempersatukan tiang-tiang depan, belakang, samping kanan dan kiri rumah dan
dipegang oleh solong-solong (pengganti paku). Pintu kolong rumah digunakan untuk
jalannya kerbau supaya bisa masuk ke dalam kolong.

Tangga rumah terdiri dari dua macam, yaitu : pertama, tangga jantan (balatuk tunggal),
terbuat dari potongan sebatang pohon atau tiang yang dibentuk menjadi anak tangga. Anak
tangga adalah lobang pada batang itu sendiri,berjumlah lima atau tujuh buah. Biasanya
terbuat dari sejenis pohon besar yang batangnya kuat dan disebut sibagure. Kedua, tangga
betina (balatuk boru-boru), terbuat dari beberapa potong kayu yang keras dan jumlah anak
tangganya ganjil.

Tiang-tiang depan dan belakang rumah adat satu sama lain dihubungkan oleh papan yang
agak tebal (tustus parbarat), menembus lubang pada tiang depan dan belakang. Pada waktu
peletakannya, tepat di bawah tiang ditanam ijuk yang berisi ramuan obat-obatan dan telur
ayam yang telah dipecah, bertujuan agar penghuni rumah terhindar dari mara bahaya.

Rumah adat Batak Toba pada bagian-bagian lainnya terdapat ornamen-ornamen yang penuh
dengan makna dan simbolisme, yang menggambarkan kewibawaan dan kharisma. Ornamen-
ornamen tersebut berupa orang yang menarik kerbau melambangkan kehidupan dan semangat
kerja, ornament-ornamen perang dan dan sebagainya. Teknik ragam hias terdiri dari dua cara,
yaitu dengan teknik ukir teknik lukis. Untuk mengukir digunakan pisau tajam dengan alat
pemukulnya (pasak-pasak) dari kayu. Sedangkan teknik lukis bahannya diolah sendiri dari
batu-batuan atau pun tanaga yang keras dan arang. Atap rumah terbuat dari ijuk yang terdiri
dari tiga lapis. Lapisan pertama disebut tuham-tuham ( satu golongan besar dari ijuk, yang
disusun mulai dari jabu bona tebalnya 20 cm dan luasnya 1x1,5 m2). Antara tuham yang satu
dan dengan tuham lainnya diisi dengan ijuk agar permukaannya menjadi rata. Lapisan kedua,
yaitu lalubaknya berupa ijuk yang langsung diambil dari pohon Enau dan masih padat,
diletakkan lapis ketiga. Setiap lapisan diikat dengan jarum yang terbuat dari bambu dengan
jarak 0,5 m.

Sebelum mendirikan bangunan diadakan musyawarah terlebih dahulu. Hasil musyawarah
dikonsultasikan kepada pengetua untuk memohon nasihat atau saran. Setelah diadakan
musyawarah, tindakan berikutnya adalah peninjauan tempat. Apabila tempat tersebut
memenuhi persyaratan, maka ditandai dengan mare-mare yakni daun pohon enau yang masih
muda dan berwarna kuning, yang merupakan pertanda atau pengumuman bagi penduduk
disekitarnya bahwa tempat tersebut akan dijadikan bangunan.
Tahap pertama adalah pencarian pohon-pohon yang cocok kemudian ditebang dan
dikumpulkan disekitar tempat-tempat yang akan didirikan rumah. Kemudian bahan-bahan
tersebut ditumpuk ditempat tertentu agar terhindar dari hujan dan tidak cepat lapuk atau
menjadi busuk.

Dalam mendirikan suatu rumah adat biasanya memakan waktu sampai lima tahun. Sudah
barang tentu memakan biaya banyak, karena banyaknya hewan yang dikorbankan, untuk
memenuhi syarat-syarat dan upacara-upacara yang diadakan, baik sebelum mendirikan
bangunan (upacara mengusung bunti), pada waktu mendirikan bangunan (upacara parsik
tiang) pada waktu memasang tiang, dan panaik uwur (pada waktu memasang uwur) maupun
pada waktu bangunan telah selesai, yaitu upacara memasuki rumah baru (mangopoi jambu)
dan upacara memestakan rumah (pamestahon jabu)

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah
Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan
Mandailing.
Daerah yang ditempati oleh suku Batak Simalungun terletak diantara daerah Karo dan Toba
di Sumatera Utara. Pada waktu ini sudah hampir tidak terdapat lagi desa-desa tradisional dari
suku Batak Simalungun, yang dahulunya merupakan sebuah desa yang besar sekali
dikelilingi oleh pohon-pohon beracun. Desa tersebut dibangun di atas sebuah bukit, dan sulit
sekali untuk dimasuki kecuali melewati terowongan-terowongan yang langsung dapat
mencapai tengah-tengah desa.

Arsitektur tradisional dari suku Batak Simalungun masih dapat dipelajari dari empat jenis
bangunan yang masih ada, dalam bentuk Balai Buttu (pintu gerbang rumah), Jambur
(gudang), Bolon adat (rumah raja) dan Balai Bolon Adat (gedung pertemuan dan pengadilan).
Balai Buttu dicapai dengan anak tangga dari kayu, luasnya kira-kira 6m2 dan tingginya 6 m.
Dasarnya adalah balok-balok horisontal yang dibangun dalam bentuk persegi, di susun di atas
empat buah batu kali dengan alas ijuk diantara batu dan papan . jambur digunakan untuk
menyimpan beras, tetapi dipakai juga sebagai tempat tinggal tamu laki-laki dan tempat
dimana para bujangan tidur.

Fungsi dari bangunan ini seperti yang ada di Pematang Purba, tampaknya telah menyimpang
dari penggunaan aslinya dan terlihat pada tungku perapiannya. Bagian atas menunjukkan
bahwa kegunaan utamanya telah menjadi tempat tinggal dan bukan dipergunakan sebagai
tempat penyimpanan beras. Bangunan ini kira-kira luasnya 25 m2 dan tingginya 7m.
Strukturnya di atas dua belas batu kali yang tiga menyilang ke depan dan empat dari depan ke
belakang. Lantai yang lebih rendah hanya 75 cm dari tanah dan ditopang tiga lapis palang
balok. Lumbung digantungkan di atas tungku di tingkat atas, dimana penggunaan utama dari
bangunan tersebut tetap sebagai tempat penyimpanan beras.

Balai Balon Adat semula digunakan untuk tempat pertemuan-pertemuan dan untuk
membahas masalah penting dalam hukum adat. Sistem pembangunannya sama seperti Balai
Buttu, tetapi dalam skala lebih besar. Perbedaan utamanya adalah pada tiang penyangga
struktur atap yang diletakkan di atas balok lantai. Tiang berdiameter 35 cmdan dibuat dari
kayu yang sangat keras. Dasar dari tiang ini sangat penting dan ditutupi dengan ukiran,
lukisan dan tulisan yang berhubungan dengan hukum adat. Bagian depan (Timur) adalah
pintu, lebarnya 80 cm dan tingginya 1,5 m, dikelilingi dengan ukiran, lukisan dan tulisan dan
dengan dua kepala singa pada ambang pintu.
Potongan yang lebih rendah dari dinding yang miring pada setiap sisi pintunya dipenuhi
dengan papan tiang jendela vertikal yang membiarkan masuknya cahaya dan angin. Rumah
Balon Adat (rumah raja) terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang besar dibangun pada tiang-
tiang vertikal, sedangkan yang kecil disusun pada tumpukan balok horisontal, pintu masuk
pada sisi sebelah Timur diapit oleh balkon atas dan bawah, menopang pada sambungan dari
bagian atap ke bagian depan bangunan. Ujung atapnya sederhana, dua puluh tiang yang
menopang lantai dibentuk menjadi ortogal dan dicat dengan motifgeometris hitam putih.

Tidak seperti bangunan lainnya, bangunan ini mempunyai lantai ganda dengan gang yang
menurun ke pusat pada lantai yang lebih rendah. Lantai yang rendah berada 2,80 m dari tanah
dan gang digantungkan dengan rota yang diikat pada dua pusat kayu, dilengkapi dengan
kumpulan papan yang terbentuk dengan indah sebagai dekorasinya. Tungku perapian
dibangun dari sisa pembakaran kayu dan dipenuhi dengan tanah. Di atas tungku dipasang
ayunan dimana peralatan memasak disimpan dan bahan makanan dikeringkan serta diasapi.

Pintu pada ujung sebelah Timur kamar raja berisi ruangan tidur kecil dan dua tungku api.
Konstruksi pada bagian bangunan ini sama dengan rumah pertemuan (Balai Balon adat)
kecuali struktur lantainya sedikit rumit sebagai akibat dari tungku tersebut. Penutup atap
keseluruhan adalah jalinan ijuk pada kaso dan papan kecil dari bambu. Bumbungan dikat
dengan ijuk dengan hiasan kepala kerbau pada puncaknya.

Pada bangunan Simalungun susunan strukturnya terdiri dari tiang-tiang bergaris tengah 40
sampai 50 cm. Sebagian besar adalah balok-balok dan tiang-tiang yang dibiarkan dalam
potongan bundar yang ditebang dari hutan. Kayu yang digunakan pada umumnya adalah
kayu keras, kayu tongkang dan kadang-kadang keseluruhan bambu digunakan dalam jalinan
ijuk yang diikat dengan rotan atau bambu belah. Struktur tersebut ditata di atas batu-batu kali
yang besar kecuali untuk rumah raja. Tiang-tiangnya ditanam di dalam tanah. Pusat tiang
terpenting dari gedung pertemuan diukir dari kayu keras yang tebal. Paku tidak digunakan
dalam konstruksi, hanya pasak dan tali ijuk baji (sentung).
Bangunan rumah adat Batak Karo merupakan sebuah bangunan yang sangat besar, terdiri dari
empat sampai enam tungku perapian, satu untuk setiap unit keluarga besar (jabu) atau untuk
dua jabu. Oleh karena itu antara empat sampai duabelas keluarga dapat tinggal di rumah
tersebut dan dengan ukuran rata-rata keluarga besar terdiri dari lima orang (suami, istri dan
tiga orang anak). Rumah adat Batak Karo dapat ditempati oleh dua puluh sampai enam puluh
orang. Anak-anak tidur dengan orangtua sampai menjelang usia dewasa, pada pria dewasa
(bujangan) tidur di bale-bale lumbung dan para gadis bergabung dengan keluarga lain di
rumah lainnya.

Rumah adat Batak Karo berukuran 17x12 m2 dan tingginya 12m. Bangunan ini simetris pada
kedua porosnya, sehingga pintu masuk pada kedua sisinya kelihatan sama. Hal ini sulit untuk
membedakan yang mana pintu masuk utamanya. Rumah adat Batak Karo dibangun dengan
enam belas tiang yang bersandar pada batu-batu besar dari gunung atau sungai. Delapan dari
tiang-tiang ini menyangga lantai dan atap, sedangkan yang delapan lagi hanya penyangga
lantai saja. Dinding-dindingnya juga merupakan penunjang atap. Kedua pintumasuk dan
kedelapan jendela dipasang di atas dinding yang miring, di atas lingkaran balok. Tinggi pintu
setinggi orang dewasa dan jendela ukurannya lebih kecil. Pintu mempunyai daun pintu ganda
sedangkan jendela mempunyai daun jendela tunggal.

Bagian luar dari kusen jendela dan pintu umumnya diukir dalam versi yang rumit dari
susunan busur dan anak panah. Atap dijalin dengan ijuk hitam dan diikatkan kepada sebuah
kerangka dari anyaman bambu yang menutupi bagian bawah kerangka dari pohon aren atau
bambu. Bumbungan atap terbuat dari jerami yang tebalnya 15 sampai 20 cm. Bagian terendah
dari atap pertama di bagian pangkalnya ditanami tanaman yang menjalar pada semua dinding
dan berfungsi sebagai penahan hujan deras. Ujung dari atap yang menonjol ditutup dengan
tikar bambu yang sangat indah.

Fungsi utama dari ujung atap yang menonjol ini adalah untuk emmungkinkan asap keluar
dari tungku dalam rumah. Pada bagian depan dan belakang rumah adalah panggung besar
yang disebut ture, konstruksinya sederhana dari potongan bambu melingkar dengan diameter
6 cm. Panggung ini dugunakan untuk tempat mencuci, menyiapkan makanan, sebagai tempat
pembuangan (kotoran hewan) dan sebagai ruang masuk utama. Jalan masuk menuju ture
adalah tangga bambu atau kayu.

Bagian pokok dari tungku perapian adalah untuk memasak, dibuat antara dua lantai sehingga
bagian dasarnya bersandar di atas bambu dan ujungnya adalah setingkat dengan lantai utama.
Sisi-sisi dari bagian pokok tersebut dibuat dari sisa-sisa kayu bakar dan ditempatkan pada
tanah yang keras. Sepanjang pertengahan dari rumah adalah gang yang sempit setingkat
dengan lantai dasar, dan sepanjang sisi-sisi dinding dibangun tempat tidur.

Interior dari rumah sangat gelap karena jendela-jendelanya yang kecil serta asap dari perapian
yang telah menghitamkan seluruh papan dan kayu-kayu. Tempat penyimpanan makanan dan
peralatan rumah tangga diletakkan dibagian atas rumah, dimana balok bulat yang
menghubungkan tiang-tiang penunjang yang menembus lantai pada setiap sisi rumah dan
menunjang struktur atap dan podium. Lumbung untuk menyimpan padi, yang dalam bahasa
daerah Batak disebut jambur, didirikan dalam tiga tingkatan. Selesai.
Makna Filosofis Arsitektur Rumah Adat Batak
Suku Batak terdiri dari
enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati daerah Sumatera Utara,
terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba, Angkola dan Mandailing. Suku
Batak Toba adalah masyarakat Batak Toba yang bertempat tinggal sebagai
penduduk asli disekitar Danau Toba di Tapanuli Utara. Pola perkampungan pada
umumnya berkelompok. Kelompok bangunan pada suatu kampung umumnya dua
baris, yaitu barisan Utara dan Selatan. Barisan Utara terdiri dari lumbung tempat
menyimpan padi dan barisan atas terdiri dari rumah adat, dipisahkan oleh ruangan
terbuka untuk semua kegiatan sehari-hari.

Desa-desa di daerah Danau Toba, meskipun saat ini telah kehilangan
dibandingkandengan bentuk desa masa lampau, tetapi ciri yang umum masih ada
bahkan pada desa-desa yang kecil, yaitu dikelilingi oleh sebuah belukar bambu.
Pohon-pohon bambu sangat tinggi dan seringkali sulit untuk melihat rumah-
rumahnya dari luar desa itu, kecuali didaerah yang berbukit. Di sekitar Balige, poros
bangunan yang panjang mempunyai arah Utara-Selatan sedang di daerah bukit
poros bangunan yang panjang sering diorientasikan secara melintang ke arah sudut-
sudut yang tepat ke lereng-lereng bukit. Di daerah Samosir, poros bangunan yang
panjang diarahkan ke Timur-Barat.

Pada mulanya Huta, Lumban, atau
kampung itu hanya dihuni oleh satu klan atau marga dan Huta itu pun di bangun
oleh klan itu sendiri. Jadi sejak mulanya Huta itu adalah milik bersama.
Sebagaimana ciri khas orang Batak yang suka gotong royong, demikianlah mereka
membangun Huta. Oleh karena Huta didiami oleh sekelompok orang yang semarga,
maka ikatan kekeluargaan sangat erat di Huta itu. Mereka secara gotong royong
membangun dan memperbaiki rumah, secara bersama-sama memperbaiki pancuran
tempat mandi, memperbaiki pengairan, mengerjakan ladang dan sawah, dan
bersama-sama pula memetik hasilnya.

Biasanya Huta hanya didiami beberapa anggota keluarga yang berasal dari satu
leluhur. Disebabkan oleh pertambahan penduduk, kemudian dibangunlah rumah
dekat rumah leleuhur atau ayah yang pertama. Demikian seterusnya bangunan
rumah makin bertambah, sehingga terbentuk perkampungan yang lebih ramai.
Sering pula kampung itu terdiri dari beberapa kelompok kampung-kampung kecil,
yang hanya dipisahkan pagar bambu yang ditanam dipinggiran kampung.

Adanya usaha beberapa orang dari anggota masyarakat dalam satu kampung untuk
memisahkan diri dan membentuk kampung sendiri, dapat membuat berdirinya Huta
lain. Suatu Huta yang baru, hanya dapat diresmikan kalau sudah ada ijin dari Huta
yang lama (Huta induk) dan telah menjalankan suatu upacara tertentu yang bersifat
membayar hutang kepada Huta induk.

Rumah adat Batak Toba berdasarkan fungsinya dapat dibedakan ke dalam rumah
yang digunakan untuk tempat tinggal keluarga disebut ruma, dan rumah yang
digunakan sebagai tempat penyimpanan (lumbung) disebut Sopo. Bahan-bahan
bangunan terdiri dari kayu dengan tiang-tiang yang besar dan kokoh. Dinding dari
papan atau tepas, lantai juga dari papan sedangkan atap dari ijuk. Tipe khas rumah
adat Batak Toba adalah bentuk atapnya yang melengkung dan pada ujung atap
sebelah depan kadang-kadang dilekatkan tanduk kerbau, sehingga rumah adat itu
menyerupai kerbau.

Punggung kerbau adalah atap yang melengkung, kaki-kaki kerbau adalah tiang-
tiang pada kolong rumah. Sebagai ukuran dipakai depa, jengkal, asta dan langkah
seperti ukuran-ukuran yang pada umumnya dipergunakan pada rumah-rumah
tradisional di Jawa, Bali dan daerah-daerah lain. Pada umumnya dinding rumah
merupakan center point, karena adanya ukir-ukiran yang berwarna merah, putih
dan hitam yang merupakan warna tradisional Batak.
Ruma Gorga Sarimunggu yaitu ruma gorga yang memiliki hiasan yang penuh makna
dan arti. Dari segi bentuk, arah motif dapat dicerminkan falsafah maupun
pandangan hidup orang Batak yang suka musyawarah, gotong royong, suka
berterus terang, sifat terbuka, dinamis dan kreatif.

Ruma Parsantian didirikan oleh sekeluarga dan siapa yang jadi anak bungsu itulah
yang diberi hak untuk menempati dan merawatnya. Di dalam satu rumah dapat
tinggal beberapa keluarga , antara keluarga bapak dan keluarga anak yang sudah
menikah. Biasanya orangtua tidur di bagian salah satu sudut rumah. Seringkali
keluarga menantu tinggal bersama orangtua dalam rumah yang sama.

Rumah melambangkan makrokosmos dan mikrokosmos yang terdiri dari adanya
tritunggal benua, yaitu : Benua Atas yang ditempati Dewa, dilambangkan dengan
atap rumah; Benua Tengah yang ditempati manusia, dilambangkan dengan lantai
dan dinding; Benua Bawah sebagai tempat kematian dilambangkan dengan kolong.
Pada jaman dulu, rumah bagian tengah itu tidak mempunyai kamar-kamar dan naik
ke rumah harus melalui tangga dari kolong rumah, terdiri dari lima sampai tujuh
buah anak tangga. Bersambung.

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati
daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba,
Angkola dan Mandailing. Sebelum meletakkan pondasi lebih dahulu diadakan
sesajen, biasanya berupa hewan, seperti kerbau atau babi. Caranya yaitu dengan
meletakkan kepala binatang tersebut ke dalam lubang pondasi, juga darahnya di
tuang kedalam lubang. Tujuannya supaya pemilik rumah selamat dan banyak rejeki
di tempat yang baru.

Ada tiang yang dekat dengan pintu (basiha pandak) yang berfungsi untuk memikul
bagian atas, khususnya landasan lantai rumah dan bentuknya bulat panjang. Balok
untuk menghubungkan semua tiang-tiang disebut rassang yang lebih tebal dari
papan. Berfungsi untuk mempersatukan tiang-tiang depan, belakang, samping
kanan dan kiri rumah dan dipegang oleh solong-solong (pengganti paku). Pintu
kolong rumah digunakan untuk jalannya kerbau supaya bisa masuk ke dalam
kolong.

Tangga rumah terdiri dari dua macam, yaitu : pertama, tangga jantan (balatuk
tunggal), terbuat dari potongan sebatang pohon atau tiang yang dibentuk menjadi
anak tangga. Anak tangga adalah lobang pada batang itu sendiri,berjumlah lima
atau tujuh buah. Biasanya terbuat dari sejenis pohon besar yang batangnya kuat
dan disebut sibagure. Kedua, tangga betina (balatuk boru-boru), terbuat dari
beberapa potong kayu yang keras dan jumlah anak tangganya ganjil.

Tiang-tiang depan dan belakang rumah adat satu sama lain dihubungkan oleh papan
yang agak tebal (tustus parbarat), menembus lubang pada tiang depan dan
belakang. Pada waktu peletakannya, tepat di bawah tiang ditanam ijuk yang berisi
ramuan obat-obatan dan telur ayam yang telah dipecah, bertujuan agar penghuni
rumah terhindar dari mara bahaya.

Rumah adat Batak Toba pada bagian-bagian lainnya terdapat ornamen-ornamen
yang penuh dengan makna dan simbolisme, yang menggambarkan kewibawaan dan
kharisma. Ornamen-ornamen tersebut berupa orang yang menarik kerbau
melambangkan kehidupan dan semangat kerja, ornament-ornamen perang dan dan
sebagainya. Teknik ragam hias terdiri dari dua cara, yaitu dengan teknik ukir teknik
lukis. Untuk mengukir digunakan pisau tajam dengan alat pemukulnya (pasak-
pasak) dari kayu. Sedangkan teknik lukis bahannya diolah sendiri dari batu-batuan
atau pun tanaga yang keras dan arang. Atap rumah terbuat dari ijuk yang terdiri
dari tiga lapis. Lapisan pertama disebut tuham-tuham ( satu golongan besar dari
ijuk, yang disusun mulai dari jabu bona tebalnya 20 cm dan luasnya 1x1,5 m2).
Antara tuham yang satu dan dengan tuham lainnya diisi dengan ijuk agar
permukaannya menjadi rata. Lapisan kedua, yaitu lalubaknya berupa ijuk yang
langsung diambil dari pohon Enau dan masih padat, diletakkan lapis ketiga. Setiap
lapisan diikat dengan jarum yang terbuat dari bambu dengan jarak 0,5 m.

Sebelum mendirikan bangunan diadakan musyawarah terlebih dahulu. Hasil
musyawarah dikonsultasikan kepada pengetua untuk memohon nasihat atau saran.
Setelah diadakan musyawarah, tindakan berikutnya adalah peninjauan tempat.
Apabila tempat tersebut memenuhi persyaratan, maka ditandai dengan mare-mare
yakni daun pohon enau yang masih muda dan berwarna kuning, yang merupakan
pertanda atau pengumuman bagi penduduk disekitarnya bahwa tempat tersebut
akan dijadikan bangunan.
Tahap pertama adalah pencarian pohon-pohon yang cocok kemudian ditebang dan
dikumpulkan disekitar tempat-tempat yang akan didirikan rumah. Kemudian bahan-
bahan tersebut ditumpuk ditempat tertentu agar terhindar dari hujan dan tidak
cepat lapuk atau menjadi busuk.

Dalam mendirikan suatu rumah adat biasanya memakan waktu sampai lima tahun.
Sudah barang tentu memakan biaya banyak, karena banyaknya hewan yang
dikorbankan, untuk memenuhi syarat-syarat dan upacara-upacara yang diadakan,
baik sebelum mendirikan bangunan (upacara mengusung bunti), pada waktu
mendirikan bangunan (upacara parsik tiang) pada waktu memasang tiang, dan
panaik uwur (pada waktu memasang uwur) maupun pada waktu bangunan telah
selesai, yaitu upacara memasuki rumah baru (mangopoi jambu) dan upacara
memestakan rumah (pamestahon jabu)

Suku Batak terdiri dari enam kelompok Puak yang sebagian besar menempati
daerah Sumatera Utara, terdiri dari Batak Karo, Simalungun, Pak-Pak, Toba,
Angkola dan Mandailing.
Daerah yang ditempati oleh suku Batak Simalungun terletak diantara daerah Karo
dan Toba di Sumatera Utara. Pada waktu ini sudah hampir tidak terdapat lagi desa-
desa tradisional dari suku Batak Simalungun, yang dahulunya merupakan sebuah
desa yang besar sekali dikelilingi oleh pohon-pohon beracun. Desa tersebut
dibangun di atas sebuah bukit, dan sulit sekali untuk dimasuki kecuali melewati
terowongan-terowongan yang langsung dapat mencapai tengah-tengah desa.

Arsitektur tradisional dari suku Batak Simalungun masih dapat dipelajari dari empat
jenis bangunan yang masih ada, dalam bentuk Balai Buttu (pintu gerbang rumah),
Jambur (gudang), Bolon adat (rumah raja) dan Balai Bolon Adat (gedung pertemuan
dan pengadilan). Balai Buttu dicapai dengan anak tangga dari kayu, luasnya kira-
kira 6m2 dan tingginya 6 m. Dasarnya adalah balok-balok horisontal yang dibangun
dalam bentuk persegi, di susun di atas empat buah batu kali dengan alas ijuk
diantara batu dan papan . jambur digunakan untuk menyimpan beras, tetapi dipakai
juga sebagai tempat tinggal tamu laki-laki dan tempat dimana para bujangan tidur.

Fungsi dari bangunan ini seperti yang ada di Pematang Purba, tampaknya telah
menyimpang dari penggunaan aslinya dan terlihat pada tungku perapiannya. Bagian
atas menunjukkan bahwa kegunaan utamanya telah menjadi tempat tinggal dan
bukan dipergunakan sebagai tempat penyimpanan beras. Bangunan ini kira-kira
luasnya 25 m2 dan tingginya 7m. Strukturnya di atas dua belas batu kali yang tiga
menyilang ke depan dan empat dari depan ke belakang. Lantai yang lebih rendah
hanya 75 cm dari tanah dan ditopang tiga lapis palang balok. Lumbung
digantungkan di atas tungku di tingkat atas, dimana penggunaan utama dari
bangunan tersebut tetap sebagai tempat penyimpanan beras.

Balai Balon Adat semula digunakan untuk tempat pertemuan-pertemuan dan untuk
membahas masalah penting dalam hukum adat. Sistem pembangunannya sama
seperti Balai Buttu, tetapi dalam skala lebih besar. Perbedaan utamanya adalah
pada tiang penyangga struktur atap yang diletakkan di atas balok lantai. Tiang
berdiameter 35 cmdan dibuat dari kayu yang sangat keras. Dasar dari tiang ini
sangat penting dan ditutupi dengan ukiran, lukisan dan tulisan yang berhubungan
dengan hukum adat. Bagian depan (Timur) adalah pintu, lebarnya 80 cm dan
tingginya 1,5 m, dikelilingi dengan ukiran, lukisan dan tulisan dan dengan dua
kepala singa pada ambang pintu.
Potongan yang lebih rendah dari dinding yang miring pada setiap sisi pintunya
dipenuhi dengan papan tiang jendela vertikal yang membiarkan masuknya cahaya
dan angin. Rumah Balon Adat (rumah raja) terbagi menjadi dua bagian, yaitu yang
besar dibangun pada tiang-tiang vertikal, sedangkan yang kecil disusun pada
tumpukan balok horisontal, pintu masuk pada sisi sebelah Timur diapit oleh balkon
atas dan bawah, menopang pada sambungan dari bagian atap ke bagian depan
bangunan. Ujung atapnya sederhana, dua puluh tiang yang menopang lantai
dibentuk menjadi ortogal dan dicat dengan motifgeometris hitam putih.

Tidak seperti bangunan lainnya, bangunan ini mempunyai lantai ganda dengan gang
yang menurun ke pusat pada lantai yang lebih rendah. Lantai yang rendah berada
2,80 m dari tanah dan gang digantungkan dengan rota yang diikat pada dua pusat
kayu, dilengkapi dengan kumpulan papan yang terbentuk dengan indah sebagai
dekorasinya. Tungku perapian dibangun dari sisa pembakaran kayu dan dipenuhi
dengan tanah. Di atas tungku dipasang ayunan dimana peralatan memasak
disimpan dan bahan makanan dikeringkan serta diasapi.

Pintu pada ujung sebelah Timur kamar raja berisi ruangan tidur kecil dan dua
tungku api. Konstruksi pada bagian bangunan ini sama dengan rumah pertemuan
(Balai Balon adat) kecuali struktur lantainya sedikit rumit sebagai akibat dari tungku
tersebut. Penutup atap keseluruhan adalah jalinan ijuk pada kaso dan papan kecil
dari bambu. Bumbungan dikat dengan ijuk dengan hiasan kepala kerbau pada
puncaknya.

Pada bangunan Simalungun susunan strukturnya terdiri dari tiang-tiang bergaris
tengah 40 sampai 50 cm. Sebagian besar adalah balok-balok dan tiang-tiang yang
dibiarkan dalam potongan bundar yang ditebang dari hutan. Kayu yang digunakan
pada umumnya adalah kayu keras, kayu tongkang dan kadang-kadang keseluruhan
bambu digunakan dalam jalinan ijuk yang diikat dengan rotan atau bambu belah.
Struktur tersebut ditata di atas batu-batu kali yang besar kecuali untuk rumah raja.
Tiang-tiangnya ditanam di dalam tanah. Pusat tiang terpenting dari gedung
pertemuan diukir dari kayu keras yang tebal. Paku tidak digunakan dalam
konstruksi, hanya pasak dan tali ijuk baji (sentung).
Bangunan rumah adat Batak Karo merupakan sebuah bangunan yang sangat besar,
terdiri dari empat sampai enam tungku perapian, satu untuk setiap unit keluarga
besar (jabu) atau untuk dua jabu. Oleh karena itu antara empat sampai duabelas
keluarga dapat tinggal di rumah tersebut dan dengan ukuran rata-rata keluarga
besar terdiri dari lima orang (suami, istri dan tiga orang anak). Rumah adat Batak
Karo dapat ditempati oleh dua puluh sampai enam puluh orang. Anak-anak tidur
dengan orangtua sampai menjelang usia dewasa, pada pria dewasa (bujangan) tidur
di bale-bale lumbung dan para gadis bergabung dengan keluarga lain di rumah
lainnya.

Rumah adat Batak Karo berukuran 17x12 m2 dan tingginya 12m. Bangunan ini
simetris pada kedua porosnya, sehingga pintu masuk pada kedua sisinya kelihatan
sama. Hal ini sulit untuk membedakan yang mana pintu masuk utamanya. Rumah
adat Batak Karo dibangun dengan enam belas tiang yang bersandar pada batu-batu
besar dari gunung atau sungai. Delapan dari tiang-tiang ini menyangga lantai dan
atap, sedangkan yang delapan lagi hanya penyangga lantai saja. Dinding-dindingnya
juga merupakan penunjang atap. Kedua pintumasuk dan kedelapan jendela
dipasang di atas dinding yang miring, di atas lingkaran balok. Tinggi pintu setinggi
orang dewasa dan jendela ukurannya lebih kecil. Pintu mempunyai daun pintu ganda
sedangkan jendela mempunyai daun jendela tunggal.

Bagian luar dari kusen jendela dan pintu umumnya diukir dalam versi yang rumit
dari susunan busur dan anak panah. Atap dijalin dengan ijuk hitam dan diikatkan
kepada sebuah kerangka dari anyaman bambu yang menutupi bagian bawah
kerangka dari pohon aren atau bambu. Bumbungan atap terbuat dari jerami yang
tebalnya 15 sampai 20 cm. Bagian terendah dari atap pertama di bagian pangkalnya
ditanami tanaman yang menjalar pada semua dinding dan berfungsi sebagai
penahan hujan deras. Ujung dari atap yang menonjol ditutup dengan tikar bambu
yang sangat indah.

Fungsi utama dari ujung atap yang menonjol ini adalah untuk emmungkinkan asap
keluar dari tungku dalam rumah. Pada bagian depan dan belakang rumah adalah
panggung besar yang disebut ture, konstruksinya sederhana dari potongan bambu
melingkar dengan diameter 6 cm. Panggung ini dugunakan untuk tempat mencuci,
menyiapkan makanan, sebagai tempat pembuangan (kotoran hewan) dan sebagai
ruang masuk utama. Jalan masuk menuju ture adalah tangga bambu atau kayu.

Bagian pokok dari tungku perapian adalah untuk memasak, dibuat antara dua lantai
sehingga bagian dasarnya bersandar di atas bambu dan ujungnya adalah setingkat
dengan lantai utama. Sisi-sisi dari bagian pokok tersebut dibuat dari sisa-sisa kayu
bakar dan ditempatkan pada tanah yang keras. Sepanjang pertengahan dari rumah
adalah gang yang sempit setingkat dengan lantai dasar, dan sepanjang sisi-sisi
dinding dibangun tempat tidur.

Interior dari rumah sangat gelap karena jendela-jendelanya yang kecil serta asap
dari perapian yang telah menghitamkan seluruh papan dan kayu-kayu. Tempat
penyimpanan makanan dan peralatan rumah tangga diletakkan dibagian atas
rumah, dimana balok bulat yang menghubungkan tiang-tiang penunjang yang
menembus lantai pada setiap sisi rumah dan menunjang struktur atap dan podium.
Lumbung untuk menyimpan padi, yang dalam bahasa daerah Batak disebut jambur,
didirikan dalam tiga tingkatan. Selesai.