Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH


SOLIDIFIKASI

DISUSUN OLEH:
1. AHMADAN YUSUF AZLAN (061330401052)
2. DELA REGINA PRATIWI (061330401053)
3. DIAN FEBRIANTI PISCESELIA (061330401056)
4. MALATI FITRI (061330401061)
5. RAMEYZA AROHMAN (061330401065)
6. RIZKY HERLIANA NISWITA (061330401068)
7. SITI YULIANTI (061330401071)

KELAS : 2 KF
KELOMPOK : I (SATU)
JURUSAN : Teknik Kimia
INSTRUKTUR : Hilwatullisan, S.T, M.T


Politeknik Negeri Sriwijaya
2014/2015
SOLIDIFIKASI
I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa dapat melakukan proses
solidifikasi limbah berbahaya agar kontaminan dalam bentuk terlarut
dapat larut atau terekstrak kembali ke air dan tidak menyebar ke
lingkungan.

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Alat yang digunakan:
1. Pengaduk
2. Wadah polytilen
3. Gelas piala 100 ml, 1000 ml, 2000 ml
4. Gelas ukur 100 ml, 500 ml
5. Alat uji tekan
6. pH meter
Bahan yang digunakan:
1. Lumpur dari limbah padat
2. Semen
3. Fly ash

III. DASAR TEORI
Solidifikasi adalah proses pemadatan limbah berbahaya sedimikian
rupa sehingga mempunyai sifat fisik, kimia yang stabil sehingga aman
untuk penanganan. Proses selanjutnya mulai pengangkutan,
penyimpanan, sementara sampai penyimpanan lestarr. Bahan yang
dapat digunakan untuk proses solidifikasi adalah semen, semen fly ash.
TEORI TAMBAHAN
SOLIDIFIKASI
Mekanisme solidifikasi dengan menggunakan semen. Selama
absorbsi air, senyawa mineral terhidrasi membentuk substansi
dispersi koloid yang disebut sol. Sol tersebut kemudian di koagulasi
dan dipresipitasi (pengkondisian akhir). Gel yang terbentuk kemudian
dikristalisasi. Solidifikasi menggunakan semen merupakan asalah
satu alternative pengolahan limbah dengan tujuan untuk mengurangi
interaksi pencemaran lingkungan. Teknologi solidifikasi limbah
didasarkan pada interaksi limbah membentuk padatan limbah baik
secara fisika maupun kimiawi.

- Karakteristik solidifikasi:
1. Solidifikasi logam murni
Logam murni membeku pada temperature konstan yaitu sama
dengan temperature pembekuannya / temperature leburnya.
2. Solidifikasi logam murni (alloy)
Logam padatan pada umumnya membeku pada daerah
pembekuan sebenarnya.
3. Solidifikasi logam panduan eutektik
Suatu panduan yang memiliki komposisi tertentu (komposisi
eutentika) bila mengalami pendinginan ssangat lambat maka
pembekuan akan berlangsung pada temperature konstan.


- Tiga hal yang umumnya dilakukan dalam proses solidifikasi, yaitu:
1. Fisika
Mencangkup kelembapan, kerapatan, kepadatan, kekuatan, dan daya
tahan.
2. Kimia
Mencangkup Ph, reaksi redoks, kapasitas penetralan asam,
kebasahan, dan kandungan senyawa organic.
3. Peluluhan
Mencangkup TCID, prosedur ekstraksi peluluhan dinamis, prosedur
peluluhan pengendapan asam sintesis (SPLP) dan ekstraksi
berurutan.
Keuntungan dan Kerugian Solidifikasi menggunakan Semen
Keuntungan Kerugian
material dan teknologinya mudah
dijangkau
peningkatan volume dan densitas
yang tinggi for shipping dan
disposal
sesuai dengan berbagai jenis
limbah
dapat mengalami keretakan
apabila terekspos dengan air biaya sedikit
produk sememntasi bersifat stabil
terhadap bahan kimia dan
biokimia

produk sementasi tidak mudah
terbakar dan memiliki kestabilan
temperature yang baik

LIMBAH B3
1. Pengertian Limbah B3
Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3
adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan
berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya
dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan atau merusakan lingkungan hidup dan atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta mahluk hidup lain.
Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap
bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung
bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat
(toxicity, flammability,reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau
jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan
manusia.

2. Identifikasi Limbah B3
Pengidentifikasian Limbah B3 digolongkan ke dalam 2 kategori,
yaitu:
1. Berdasarkan sumber
2. Berdasarkan karakteristik





Golongan Limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:
1. Limbah B Limbah B3 dari sumber spesifik;
2. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;
3. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan
dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

Sedangkan golongan limbah B3 yang berdasarkan karakteristik
ditentukan dengan:
1. mudah meledak;
2. pengoksidasi;
3. sangat mudah sekali menyala;
4. sangat mudah menyala;
5. mudah menyala;
6. amat sangat beracun;
7. sangat beracun;
8. beracun;
9. berbahaya;
10. korosif;
11. bersifat iritasi;
12. berbahayabagi lingkungan;
13. karsinogenik;
14. teratogenik;
15. mutagenik.



Karakteristik limbah B3 ini mengalami pertambahan lebih banyak dari PP
No. 18 tahun 1999 yang hanya mencantumkan 6 (enam) kriteria, yaitu:
1. mudah meledak;
2. mudah terbakar;
3. bersifat reaktif;
4. beracun;
5. menyebabkan infeksi;
6. bersifat korosif.

Proses Pengolahan Limbah B3



4. Pengolahan Limbah B3
Jenis perlakuan terhadap limbah B3 tergantung dari karakteristik dan
kandungan limbah. Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan dapat
dilakukan dengan proses sbb:
1. proses secara kimia, meliputi: redoks, elektrolisa, netralisasi,
pengendapan, stabilisasi, adsorpsi, penukaran ion dan pirolisa.
2. proses secara fisika, meliputi: pembersihan gas, pemisahan cairan dan
penyisihan komponen-komponen spesifik dengan metode kristalisasi,
dialisa, osmosis balik, dll.
3. proses stabilisas/solidifikasi, dengan tujuan untuk mengurangi potensi
racun dan kandungan limbah B3 dengan cara membatasi daya larut,
penyebaran, dan daya racun sebelum limbah dibuang ke tempat
penimbunan akhir
4. proses insinerasi, dengan cara melakukan pembakaran materi limbah
menggunakan alat khusus insinerator dengan efisiensi pembakaran
harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya, jika suatu materi limbah
B3 ingin dibakar (insinerasi) dengan berat 100 kg, maka abu sisa
pembakaran tidak boleh melebihi 0,01 kg atau 10 gr.

5. Teknologi Pengolahan
1. Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical
conditioning. Tujuan utama dari chemical conditioning ialah:
1. menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di
dalam lumpur
2. mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam
lumpur
3. mendestruksi organisme pathogen
4. memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioningyang
masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang
dihasilkan pada proses digestion
5. mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam
keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai
berikut:
1. Concentration thickening
2. Treatment, stabilization, and conditioning
3. De-watering and drying
4. Disposal

2. Solidification/Stabilization
Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses
pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan
menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk
mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi
didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya
dengan penambahan aditif.
Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat
dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:
1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam
limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar
2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation
tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur
kristal pada tingkat mikroskopik
3. Precipitation
4. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara
elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
5. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan
menyerapkannya ke bahan padat
6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun
menjadi senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau
bahkan hilang sama sekali


3. Incineration
Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang menarik
dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume
dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat).

SAMPAH B3
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 18 Tahun 2008
Tentang Pengelolaan sampah, sampah B3 merupakan sampah spesifik
yang meliputi:
1. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun.
2. Sampah yang mengandung limbah B3.
3. Sampah yang timbul akibat bencana.
4. Bongkaran puing bangunan.
5. Sampah yang secara teknologi belum dapat diolah.
6. Sampah yang timbul secara periodik.


IV. PROSEDUR KERJA
1. Tahap awal melakukan pencampuran antara semen dan air.
2. Pencampuran dilakukan dengan variasi air (lumpur) dimulai dai 20
sampai 40% dari berat semen. Mengambil pencampuran yang paling
baik.
3. Kemudian menimbang semen dan lumpur dan dimasukkan ke dalam
wadah 2 Liter dan diaduk.
4. Setelah pencampuran semen dan limbah lumpur maka ditambahkan
ke dalam campuran tersebut dengan air lalu diaduk sehingga merata.
5. Kemudian hasil adukan tersebut dimasukkan ke dalam tabung
politelien yang tersedia. Lalu digetarkan lebih kurang 1 menit, setelah
itu tabung ditutup dan diperam selama beberapa hari.
6. Setelah pemeraman selesai dilakukan pengujian terhadap kuat tekan,
menguji permeabilitas dan menguji lindi.
V. DATA PENGAMATAN
Sampel

pH Tititasi Awal Titrasi Akhir
Volume titran (ml) Volume Titran (ml)
1 10 10 0,3
2 11 5 0,3
3 12 3,1 0,2
4 12 1,3 0,2
5 12 1,2 0,1

VI. PERHITUNGAN
Diketahui : gr FeSO
4
= 5 gram
BM = 151,9086 mol/L
V = 200 ml = 0,2 L
Ditanya : M
2
= .?
Jawab :
Gr = M . V . BM





1. Sampel tanpa penambahan
M
1
. V
1
= M
2
. V
2
0,0328 M . 200 ml = M
2
. 100 ml
M
2
=


= 0,0656 M

2. Sampel 1 (penambahan 100 ml + 100 ml)
M
1
. V
1
= M
2
. V
2
0,0328 M . 200 ml = M
2
. 200 ml
M
2
=


= 0,0328 M
3. Sampel 2 (penambahan 100 ml + 200 ml)
M
1
. V
1
= M
2
. V
2
0,0328 M . 200 ml = M
2
. 300 ml
M
2
=


= 0,0218 M
4. Sampel 3 (penambahan 100 ml + 300 ml)
M
1
. V
1
= M
2
. V
2
0,0328 M . 200 ml = M
2
. 400 ml
M
2
=


= 0,0164 M
5. Sampel 4 (penambahan 100 ml + 400 ml)
M
1
. V
1
= M
2
. V
2
0,0328 M . 200 ml = M
2
. 500 ml
M
2
=


= 0,0131 M
6. Sampel 1 (penambahan 100 ml + 100 ml)
M
1
. V
1
= M
2
. V
2
0,0328 M . 200 ml = M
2
. 200 ml
M
2
=

= 0,0328 M
VII. TUGAS
1. Apa yang dimaksud dengan limbah B-3 ?
2. Apa tujuan dari solidifikasi ?
3. Selain semen bahan apa saja yang digunakan untuk solidifikasi ?
4. Apa keuntungan solidifikasi dengan semen ?
5. Pada kondisi pH berapa solidifikasi dapat dilakukan dengan baik,
jelaskan
6. Bagaimana kuat tekan dari hasil solidifikasi yang dilakukan ?
Jawab :
1. Suatu limbah digolongkan sebagai B-3 bila mengandung bahan
berbahaya beracun yang sifat dan konsentrasinya baik langsung
maupun tidak langsung dapat masuk dan mencemarkan lingkungan
hidup atau membahayakan kesehatan.

2. Solidifikasi bertujuan untuk mencegah penyebaran limbah cair ke
lingkungan dengan membentuk padatan sehingga lebih mudah
ditangani.


3. Selain semen dapat digunakan fly ash, kaca, dan termoplastik.

4. Keutungan solidifikasi dengan semen:
Mengandung komposisi yang konsisten
Reaksi setting, pengerasan dan fiksasi berjalan lebih bagus
dibandingkan bahan lainnya.
Murah
5. Pada kondisi pH=7 (netral) karena jika proses pemadatan yang
dilakukan oleh semen berada pada pH yang asam maka hasil
solidifikasi akan mengalami keretakan sehingga dapat dikatakan
solidifikasi yang dilakukan gagal karena memungkinkan bagi limbah
cair keluar dari padatan tersebut.

6. Dari hasil solidifikasi yang dilakukan sampel yang memiliki kuat tekan
yang lebih besar adalah sampel yang memiliki campuran semen yang
lebih besar denga pH netral (pH=7).

VIII. ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat dianalisa bahwa
percobaan solidifikasi bertujuan untuk mencegah penyebaran limbah
cair yang berbahaya dengan mengubahnya dalam bentuk padat
sehingga akan lebih mudah ditangani. Bahan yang digunakan dalam
proses ini adalah semen karena semen dianggap memiliki komposisi
yang konsisten beserta struktur fisik yang kuat.
Semen merupakan bahan yang sering digunakan pada solidifikasi
karena bahannya mudah didapat dan lebih terjangkau. Sampel yang
diuji dibuat dengan variasi keenceran yang berbeda, dengan pH yang
tepat untuk proses solidifikasi yaitu pH 7, untuk pH yang terlalu asam
maupun terlalu basa hasil solidifikasi tidak terlalu baik.



IX. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Solidifikasi bertujuan untuk mencegah migrasi/penyebaran
konstituen berbahaya yang terdapat pada suatumlimbah cair
dengan merubahnya dalam bentuk solid sehingga mudah
ditangani.
2. Proses solidifikasi yang baik dilakukan pada pH = 7 (netral).
3. Semakin sedikit kandungan air dalam sampel maka semakin baik
kualitasnya.
4. Faktor yang diperhatikan di dalam solidifikasi yaitu kemampuan
leaching, uji kuat tekan, kelarutan, dan ketahanan radiasi.



X. DAFTAR PUSTAKA
1. Jobsheet. 2014. Teknik Pengolahan Limbah. Politeknik Negeri
Sriwijaya
2. http://limbahb3-limbahb3.blogspot.com/
3. http://banksampahmelatibersih.blogspot.com/2013/02/sampah-b3-bahan-
berbahaya-dan-beracun.html




XI. GAMBAR ALAT


Gelas Ukur Neraca Analitik


Spatula pH paper universal

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM
TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH
SOLIDIFIKASI

DISUSUN OLEH:
1. DIAH PUSPHASARI (061330401055)
2. KURNIA AINI (061330401059)
3. M. YUDA PRATAMA (061330401060)
4. PUTRI INGGIT ISTIQOMAH (061330401064)
5. SITI HARYANTI (061330401070)
6. ZEFANYA MARANATHA M (061330401072)

KELAS : 2 KF
KELOMPOK : III (TIGA)
JURUSAN : Teknik Kimia
INSTRUKTUR : Hilwatullisan, S.T, M.T


Politeknik Negeri Sriwijaya
2014/2015

SOLIDIFIKASI
I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa dapat melakukan proses
solidifikasi limbah berbahaya agar kontaminan dalam bentuk terlarut
dapat larut atau terekstrak kembali ke air dan tidak menyebar ke
lingkungan.

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
Alat yang digunakan:
7. Pengaduk
8. Wadah polytilen
9. Gelas piala 100 ml, 1000 ml, 2000 ml
10. Gelas ukur 100 ml, 500 ml
11. Alat uji tekan
12. pH meter
Bahan yang digunakan:
4. Lumpur dari limbah padat
5. Semen
6. Fly ash

III. DASAR TEORI
Solidifikasi adalah proses pemadatan limbah berbahaya sedimikian
rupa sehingga mempunyai sifat fisik, kimia yang stabil sehingga aman
untuk penanganan. Proses selanjutnya mulai pengangkutan,
penyimpanan, sementara sampai penyimpanan lestarr. Bahan yang
dapat digunakan untuk proses solidifikasi adalah semen, semen fly ash.
TEORI TAMBAHAN
Pengertian Limbah B3
Menurut PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksud dengan limbah B3
adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan
berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya
dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat
mencemarkan dan atau merusakan lingkungan hidup dan atau
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup
manusia serta mahluk hidup lain.

1. Identifikasi Limbah B3
Pengidentifikasian Limbah B3 digolongkan ke dalam 2 kategori,
yaitu:
1. Berdasarkan sumber
2. Berdasarkan karakteristik
Golongan Limbah B3 yang berdasarkan sumber dibagi menjadi:
1. Limbah B Limbah B3 dari sumber spesifik;
2. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik;
3. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas
kemasan dan buangan produk yang tidak memenuhi
spesifikasi.
Golongan limbah B3 yang berdasarkan karakteristik ditentukan
dengan:
1. mudah meledak;
2. pengoksidasi;
3. sangat mudah sekali menyala;
4. sangat mudah menyala;
5. mudah menyala;
6. amat sangat beracun;
7. sangat beracun;
8. beracun;
9. berbahaya;
10. korosif;
11. bersifat iritasi;
12. berbahayabagi lingkungan;
13. karsinogenik;
14. teratogenik;
15. mutagenik.

2. Teknologi Pengolahan
1. Chemical Conditioning
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical
conditioning. Tujuan utama dari chemical conditioning ialah:
1. menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di
dalam lumpur
2. mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam
lumpur
3. mendestruksi organisme pathogen
4. memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioningyang
masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang
dihasilkan pada proses digestion
5. mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam
keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

2. Solidification/Stabilization
Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses
pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan
menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk
mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi
didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya
dengan penambahan aditif.

3. Incineration
Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang
menarik dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi
mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90%
(volume) dan 75% (berat).

IV. PROSEDUR KERJA
a. Tahap awal melakukan pencampuran antara semen dan air.
b. Pencampuran dilakukan dengan variasi air (lumpur) dimulai dai 20
sampai 40% dari berat semen. Mengambil pencampuran yang paling
baik.
c. Kemudian menimbang semen dan lumpur dan dimasukkan ke dalam
wadah 2 Liter dan diaduk.
d. Setelah pencampuran semen dan limbah lumpur maka ditambahkan
ke dalam campuran tersebut dengan air lalu diaduk sehingga merata.
e. Kemudian hasil adukan tersebut dimasukkan ke dalam tabung
politelien yang tersedia. Lalu digetarkan lebih kurang 1 menit, setelah
itu tabung ditutup dan diperam selama beberapa hari.
f. Setelah pemeraman selesai dilakukan pengujian terhadap kuat tekan,
menguji permeabilitas dan menguji lindi.






VII. TUGAS
1. Apa yang dimaksud dengan limbah B-3 ?
2. Apa tujuan dari solidifikasi ?
3. Selain semen bahan apa saja yang digunakan untuk solidifikasi ?
4. Apa keuntungan solidifikasi dengan semen ?
5. Pada kondisi pH berapa solidifikasi dapat dilakukan dengan baik,
jelaskan
6. Bagaimana kuat tekan dari hasil solidifikasi yang dilakukan ?
Jawab :
1. Suatu limbah digolongkan sebagai B-3 bila mengandung bahan
berbahaya beracun yang sifat dan konsentrasinya baik langsung
maupun tidak langsung dapat masuk dan mencemarkan lingkungan
hidup atau membahayakan kesehatan.

2. Solidifikasi bertujuan untuk mencegah penyebaran limbah cair ke
lingkungan dengan membentuk padatan sehingga lebih mudah
ditangani.

3. Selain semen dapat digunakan fly ash, kaca, dan termoplastik.

4. Keutungan solidifikasi dengan semen:
Mengandung komposisi yang konsisten
Reaksi setting, pengerasan dan fiksasi berjalan lebih bagus
dibandingkan bahan lainnya.
Murah
5. Pada kondisi pH=7 (netral) karena jika proses pemadatan yang
dilakukan oleh semen berada pada pH yang asam maka hasil
solidifikasi akan mengalami keretakan sehingga dapat dikatakan
solidifikasi yang dilakukan gagal karena memungkinkan bagi limbah
cair keluar dari padatan tersebut.

6. Dari hasil solidifikasi yang dilakukan sampel yang memiliki kuat tekan
yang lebih besar adalah sampel yang memiliki campuran semen yang
lebih besar denga pH netral (pH=7).

VIII. ANALISA PERCOBAAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat dianalisa bahwa
percobaan solidifikasi bertujuan untuk mencegah penyebaran limbah
cair yang berbahaya dengan mengubahnya dalam bentuk padat
sehingga akan lebih mudah ditangani. Bahan yang digunakan dalam
proses ini adalah semen karena semen dianggap memiliki komposisi
yang konsisten beserta struktur fisik yang kuat.
Semen merupakan bahan yang sering digunakan pada solidifikasi
karena bahannya mudah didapat dan lebih terjangkau. Sampel yang
diuji dibuat dengan variasi keenceran yang berbeda, dengan pH yang
tepat untuk proses solidifikasi yaitu pH 7, untuk pH yang terlalu asam
maupun terlalu basa hasil solidifikasi tidak terlalu baik.



IX. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Solidifikasi bertujuan untuk mencegah migrasi/penyebaran
konstituen berbahaya yang terdapat pada suatumlimbah cair
dengan merubahnya dalam bentuk solid sehingga mudah
ditangani.
2. Proses solidifikasi yang baik dilakukan pada pH = 7 (netral).
3. Semakin sedikit kandungan air dalam sampel maka semakin baik
kualitasnya.
4. Faktor yang diperhatikan di dalam solidifikasi yaitu kemampuan
leaching, uji kuat tekan, kelarutan, dan ketahanan radiasi.



X. DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet. 2014. Teknik Pengolahan Limbah. Politeknik Negeri Sriwijaya







XI. GAMBAR ALAT


Gelas Ukur Neraca Analitik


Spatula pH paper universal