Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANALISIS INSTRUMEN


ANALISIS METILEN BIRU SECARA SPEKTROFOTOMETRI



NAMA : KARMI NDA AGUSTA SI KI
NI M : 1101061021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
Kupang
2014

TUJUAN PRAKTIKUM


Tujuan praktikum ini adalah
1. Menentukan panjang gelombang maksimum
2. Membuat kurva standar kalibrasi
3. Menentukan konsentrasi larutan yang tidak
diketahui













BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
Spektofotometri adalah ilmu yang mempelajari tentang penggunaan spektofotometer.
Spektofotometer adalah alat yang terdiri dari spektofotometer dan fotometer. Spektofotometer
adalah alah yang digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut
ditransmisikan, direfleksikan, atau diemisikan sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spectrum dengan panjang gelombang tertentu, dan
fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi.
Pada umumnya ada beberapa jenis spektrofotometri yang sering digunakan dalam analisis
secara kimiawi, antara lain :
a. Spektrofotometri Vis (visibel)
b. Spektrofotometri UV (ultra violet)
c. Spektrofotometer UV-VIS
Yang digunakan dalam praktikum ini adalah spektrofotometri UV-VIS.
Spektrofotometri UV-VIS merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible.
Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible.
Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai
sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan monokromator. Untuk sistem
spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling populer digunakan. Kemudahan
metode ini adalah dapat digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak berwarna.
Spektroskopi ultraviolet-visible atau spektrofotometri ultraviolet-visible (UV-Vis atau UV / Vis)
melibatkan spektroskopi dari foton dalam daerah UV-terlihat. Ini berarti menggunakan cahaya
dalam terlihat dan berdekatan (dekat ultraviolet (UV) dan dekat dengan inframerah (NIR))
kisaran. Penyerapan dalam rentang yang terlihat secara langsung mempengaruhi warna bahan
kimia yang terlibat. Di wilayah ini dari spektrum elektromagnetik, molekul mengalami transisi
elektronik. Teknik ini melengkapi fluoresensi spektroskopi, di fluoresensi berkaitan dengan
transisi dari ground state ke eksited state.
Penyerapan sinar uv dan sinar tampak oleh molekul, melalui 3 proses yaitu :
a. Penyerapan oleh transisi electron ikatan dan electron anti ikatan.
b. Penyerapan oleh transisi electron d dan f dari molekul kompleks
c. Penyerapan oleh perpindahan muatan.
Interaksi antara energy cahaya dan molekul dapat digambarkan sbb :
E = hv
Dimana , E = energy (joule/second)
h = tetapan plank
v = frekuensi foton
Penyerapan sinar uv-vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional/gugus kromofor
(gugus dengan ikatan tidak jenuh) yang mengandung electron valensi dengan tingkat eksitasi
yang rendah. Dengan melibatkan 3 jenis electron yaitu : sigma, phi dan non bonding electron.
1. Prinsip Kerja Uv Vis
Pada prinsipnya spektroskopi UV-Vis menggunakan cahaya sebagai tenaga yang
mempengaruhi substansi senyawa kimia sehingga menimbulkan cahaya.Cahaya yang
digunakan merupakan foton yang bergetar dan menjalar secara lurus dan merupakan
tenaga listrik dan magnet yang keduanya saling tagak lurus. Tenaga foton bila
mmepengaruhi senyawa kimia, maka akan menimbulkan tanggapan (respon), sedangkan
respon yang timbul untuk senyawa organik ini hanya respon fisika atau Physical event.
Tetapi bila sampai menguraikan senyawa kimia maka dapat terjadi peruraian senyawa
tersebut menjadi molekul yang lebih kecil atau hanya menjadi radikal yang dinamakan
peristiwa kimia atau Chemical event.
Senyawa-senyawa yang diukur dengan metoda spektrofotometri harus memenuhi hukum
Lambert-Beer, yaitu
Sinar yang digunakan dianggap monokromatis.
Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai penampang yang sama.
Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang
lain dalam larutan tersebut.
Tidak terjadi fluorensensi atau fosforisensi.
Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.
Hukum Lambert-Beer dinyatakan dalam rumus sbb :
A= E.b.c
dimana :
A = absorban
E= absorptivitas molar
b = tebal kuvet (cm)
c = konsentrasi
Cara kerja alat spektrofotometer UV-Vis yaitu sinar dari sumber radiasi
diteruskan menuju monokromator, Cahaya dari monokromator diarahkan terpisah melalui
sampel dengan sebuah cermin berotasi, Detektor menerima cahaya dari sampel secara
bergantian secara berulang ulang, Sinyal listrik dari detektor diproses, diubah ke digital
dan dilihat hasilnya, perhitungan dilakukan dengan komputer yang sudah terprogram.

2. Bagian-bagian Spektrofotometer UV-Vis
Sumber cahaya
Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki panacaran radiasi yang
stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber cahaya pada spektrofotometer UV-Vis
ada dua macam :
a. Lampu Tungsten (Wolfram)
Lampu ini digunakan untuk mengukur sampel pada daerah tampak. Bentuk
lampu ini mirip dengna bola lampu pijar biasa. Memiliki panjang gelombang
antara 350-2200 nm. Spektrum radiasianya berupa garis lengkung.
Umumnya memiliki waktu 1000jam pemakaian.
b. Lampu Deuterium
Lampu ini dipakai pada panjang gelombang 190-380 nm. Spektrum energy
radiasinya lurus, dan digunakan untuk mengukur sampel yang terletak pada
daerah uv. Memiliki waktu 500 jam pemakaian.
Monokromator
Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis
menjadi cahaya tunggal (monokromatis) dengan komponen panjang gelombang
tertentu. Bagian-bagian monokromator, yaitu :
a. Prisma
Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin
supaya di dapatkan resolusi yang baik dari radiasi polikromatis.
b. Grating (kisi difraksi)
Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses spektroskopi. Dispersi
sinar akan disebarkan merata, dengan pendispersi yang sama, hasil dispersi
akan lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat digunakan dalam seluruh
jangkauan spektrum.
c. Celah optis
Celah ini digunakan untuk mengarahkan sinar monokromatis yang
diharapkan dari sumber radiasi. Apabila celah berada pada posisi yang tepat,
maka radiasi akan dirotasikan melalui prisma, sehingga diperoleh panjang
gelombang yang diharapkan.
d. Filter
Berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang
diteruskan merupakan cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang
gelombang yang dipilih.
Kompartemen sampel
Kompartemen ini digunakan sebagai tempat diletakkannya kuvet. kuvet
merupakan wadah yang digunakan untuk menaruh sampel yang akan dianalisis.
Pada spektrofotometer double beam, terdapat dua tempat kuvet. Satu kuvet
digunakan sebagai tempat untuk menaruh sampel, sementara kuvet lain
digunakan untuk menaruh blanko.
Sementara pada spektrofotometer single beam, hanya terdapat satu kuvet. Kuvet
yang baik harus memenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
a) Permukaannya harus sejajar secara optis
b) Tidak berwarna sehingga semua cahaya dapat di transmisikan
c) Tidak ikut bereaksi terhadap bahan-bahan kimia
d) Tidak rapuh
e) Bentuknya sederhana
Terdapat berbagai jenis dan bentuk kuvet pada spektrofotometer. Umumnya
pada pengukuran di daerah UV, digunakan kuvet yang terbuat dari bahan kuarsa
atau plexiglass. Kuvet kaca tidak dapat mengabsorbsi sinar uv, sehingga tidak
digunakan pada saat pengukuran di daerah UV. Oleh karena itu, bahan kuvet
dipilih berdasarkan daerah panjang gelombang yang digunakan. Gunanya agar
dapat melewatkan daerah panjang gelombang yang digunakan.
Detektor
Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar kemudian
diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan ditampilkan
dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer).
Syarat-syarat ideal sebuah detector adalah :
a. Mempunyai kepekaan tinggi
b. Respon konstan pada berbagai panjang gelombang
c. Waktu respon cepat dan sinyal minimum tanpa radiasi
d. Sinyal listrik ayng dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi
Visual display
Merupakan system baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik,
menyatakan dalam bentuk % Transmitan maupun Absorbansi.

3. Kegunaan spektroskopi UV-VIS
UV / Vis spektroskopi secara rutin digunakan dalam kuantitatif penentuan larutan dari
logam transisi ion dan sangat dikonjugasikan senyawa organik.
a. Larutan ion logam transisi dapat berwarna (misalnya, menyerap cahaya) karena
elektron dalam atom logam dapat tertarik dari satu negara elektronik lainnya.
Warna larutan ion logam sangat dipengaruhi oleh kehadiran spesies lain, seperti
anion tertentu atau ligan. Sebagai contoh, warna larutan encer tembaga sulfat
adalah biru yang sangat terang; menambahkan amonia meningkat dan perubahan
warna panjang gelombang serapan maksimum (
m a x).

b. Senyawa organik, terutama mereka yang memiliki tingkat tinggi konjugasi, juga
menyerap cahaya pada daerah UV atau terlihat dari spektrum elektromagnetik.
Pelarut untuk penentuan ini sering air untuk senyawa larut dalam air, atau etanol
untuk senyawa organik yang larut. (Pelarut organik mungkin memiliki
penyerapan sinar UV yang signifikan; tidak semua pelarut yang cocok untuk
digunakan dalam spektroskopi UV. Ethanol menyerap sangat lemah di paling
panjang gelombang.).Polaritas pelarut dan pH dapat mempengaruhi penyerapan
spektrum senyawa organik. Tirosin, misalnya, peningkatan penyerapan
maksimum dan koefisien molar kepunahan ketika pH meningkat 6-13 atau ketika
polaritas pelarut berkurang.
c. Sementara kompleks transfer biaya juga menimbulkan warna, warna sering terlalu
kuat untuk digunakan dalam pengukuran kuantitatif. Hukum Beer-Lambert
menyatakan bahwa absorbansi larutan berbanding lurus dengan konsentrasi
spesies menyerap dalam larutan dan panjang jalan. Jadi, untuk tetap jalan panjang,
UV / VIS spektroskopi dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi dalam
larutan penyerap. Perlu untuk mengetahui seberapa cepat perubahan absorbansi
dengan konsentrasi. Ini dapat diambil dari referensi (tabel koefisien molar
kepunahan), atau lebih tepatnya, ditentukan dari kurva kalibrasi.
4. Zat Warna Metilen Biru
Zat warna adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk memberi
warna ke suatu objek atau suatu kain. Proses terjadinya warna yang paling umum adalah
adanya absorpsi cahaya dari panjang gelombang tertentu oleh suatu zat. Senyawa organik
dengan konjugasi yang tinggi dapat menyerap cahaya pada panjang gelombang sekitar
4000 . Warna juga dapat dibentuk dari senyawa organometalik ataupun senyawa
anorganik kompleks. Zat warna tekstil mempunya sifat sulit diuraikan oleh bakteri biasa
ataupun panas. Oleh karena itu kadar zat warna yang tinggi dalam perairan dapat
mempengaruhi kehidupan air.
Fenomena absorpsi ini berhubungan erat dengan vibrasi elektron yang distimulasi
oleh cahaya dengan isolasi frekuensi yang spesifik. Apabila elektronnya tetap
(tunggal/jenuh) maka molekul ini akan merespon dan mengabsorpsi cahaya dengan
panjang gelombang rendah. Vibrasi elektron yang terjadi memerlukan energi tinggi untuk
mengeksitasi elektron dari tingkat dasar ke tingkat yang lebih tinggi. Elektron yang
bergerak bebas bervibrasi pada panjang gelombang yang lebar. Energi yang diperlukan
dalam mengeksitasi elektron dari keadaan dasar ketingkat yang lebih tinggi relatif lebih
kecil.
Secara umum terjadinya warna desebabkan oleh absorspsi panjang gelombang
tertentu suatu cahaya putih oleh senyawa organik. Tipe struktur parsial yang berhubungan
dengan terbentuknya warna (gugus tak jenuh yang dapat mengalami transisi dari -* dan
n-*) disebut dengan kromofor. Beberapa kromofor dapat diintensifkan warnanya dengan
menambah suatu gugus lain yaitu auksokrom. Gugus auksokrom antara lain: -OH, -OR, -
NH
2
, -NHR, -NR
2
, -X, dan SO
3
(Fessenden dan Fessenden, 1982).
Metilen biru merupakan salah satu zat warna thiazine yang sering digunakan,
karena harganya ekonomis dan mudah diperoleh. Zat warna metilen biru merupakan zat
warna dasar yang penting dalam proses pewarnaan kulit, kain mori, dan kain katun,
Penggunaan metilen biru dapat menimbulkan beberapa efek, seperti iritasi saluran
pencernaan jika tertelan, menimbulkan sianosis jika terhirup, dan iritasi pada kulit jika
tersentuh oleh kulit.






















BAB II
PERCOBAAN
2.1 ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain :








Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Metilen biru
Aquades



Labu ukur Pipet
Erlenmeyer
Spektrometer Uv-Vis
2.2 PROSEDUR KERJA
Penyiapan Larutan Standar


Penentuan Panjang Gelombang maksimum













Metilen Biru
3 ppm 1,8 ppm 1,2 ppm
0,6 ppm
x ppm
Metilen Biru 3 ppm Aquades (blanko)
Mengatur dari 660 670 nm
Menentukan maksimum
HASIL
Penentuan Kurva Standar












Penentuan Konsentrasi Sampel (x ppm)








Menentukan nilai x melalui
regresi
Metilen Biru
1,8 ppm
Metilen Biru
1,2 ppm
Metilen Biru
X ppm
Metilen Biru
0,6 ppm
Membuat kurva Standar
Menentukan nilai absorbansi
HASIL
A = 0,082
(0,6 ppm)
A = 0,581
(3 ppm)
A = 0,206
(1,2 ppm)
A = 0,3251,8
(1,8 ppm)
A = 0,127
(x ppm)
Nilai x
BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
3.1 HASIL PENGAMATAN
Penentuan Panjang Gelombang maksimum

Panjang Gelombang (nm) Absorbansi
660 0,564
661 0,569
662 0,575
663 0,578
664 0,580
665 0.581
666 0,580
667 0.579
668 0,571
669 0,567
670 0,562

Ket. Garis putus putus menunjukkan panjang gelombang
maksimum.

Penentuan Konsentrasi Sampel

Konsentrasi (ppm) Absorbansi
3 0.581
1,8 0,325
1,2 0,206
0,6 0,082
X 0,127

Y = bx + a.dimana , y : absorbansi
X : Konsentrasi (ppm)
Hasil regresi linear x Vs y , menghasilkan :
a = - 0,044228571
b = 0,207714285
Persamaannya menjadi : y = 0,207714285x + (- 0,044228571)
= 0,207714285x - 0,044228571
Berdasarkan data ke (5) nilai absorbansi (A) dari x = 0,127 atau y = 0,127,
maka :
y = 0,207714285x - 0,044228571
0,127 = 0,207714285x - 0,044228571
0,207714285x = 0,127 + 0,044228571
= 0,171228571
x = 0,171228571 : 0,207714285
= 0,82434663
= 0,82 ppm (dibulatkan)

3.2 PEMBAHASAN
Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk menentukan panjang gelombang
maksimum, membuat kurva standar dan menentukan konsentrasi larutan yang tidak
diketahui. Alat alat yang digunakan anatara lain : labu ukur, Erlenmeyer, pipet,
spectrometer Uv-Vis. Spektrometri berperan sebagai alat utama. Prinsip kerja
spektrometri adalah ketika suatu sinar dilewatkan ke dalam suatu sampel, maka terjadi
serapan yang dinyatakan sebgai absorbansi (A).Spektrofotometer digunakan untuk
mengukur energy secara relative jika energy tersebut ditransmisikan , direfleksikan atau
diemisikansebagai fungsi dari panjang gelombang. Adapun bahan yang digunakan
adalah metilen biru dan aquades. Metilen biru disini sebagai samoel yang akan diteliti.
Zat warna metilen biru adalah senyawa organik berwarna yang digunakan untuk
memberi warna ke suatu objek atau suatu kain. Digunakan metilen biru karena berwarna
sehingga dapt menyerap cahaya. Sebagai pelarutnya, digunakan air karena memiliki sifat
melarutkan cuplikan; Meneruskan radiasi dalam daerah panjang gelombang yang sedang
dipelajari; Tidak mengandung system ikatan rangkap terkonjugasi pada struktur
molekulnya; tidak berwarna; memiliki kemurnian yang tinggi atau derajat untuk
dianalisis tinggi.
Penyiapan larutan standar metilen biru
Pertama tama, dibuat larutan standar metilen biru dengan konsentrasi 3
ppm, 1.8 ppm, 1.2 ppm, dan 0.6 ppm. Selain itu, dibuat juga larutan metilen biru
dengan konsentrasi x. Pembuatan larutan ini, menggunakan metode
pengenceran, dimana sejumlah air yang volumenya (volume pengenceran ) dan
konsentrasinya telah diketahui ditempatkan ke dalam labu ukur, sejumlah jumlah
metilen biru yang ditambahkan yang konsentarsinya telah diketahui, disesuaikan
dengan hasil perhitungan. Untuk menentukan volume metilen biru yang harus
ditambahkan, digunakan rumus pengenceran, yaitu :
V
1
N
1
= V
2
N
2
Penentuan Panjang Gelombang Pengukuran
Setelah dibuat larutan standar dengan beberapa konsentrasi yang berebeda,
ditentukan panjang gelombang pengukuran dari sampel metilen biru. Tujuan dari
penentuan panjang gelombang pengukuran ini adalah untuk menentukan panjang
gelombang maksimum. Penentuan panjang gelombang ini menggunakan
instrument spektrofotometri Uv-Vis. Pertama tama, menempatkan larutan
pembanding, blangko dalam kuvet (1) Sedangkan larutan yang akan dianalisis
pada kuvet (2). Dalam praktikum ini, untuk larutan blangko digunakan aquades,
sedangkan larutan yang akan dianalisis merupakan larutan metilen biru dengan
konsentrasi 3 ppm. Digunakan larutan metilen biru dengan konsentrasi tertinggi (
3 ppm ) karena, semakin pekat suatu larutan, kemampuan mengabsorbsinya
semakin tinggi. Untuk larutan blanko, digunakan air, karena sifat sifatnya yang
telah disebutkan sebelumnya, diantaranya tidak berwarna. Selanjutnya
dimasukkan larutan sampel dan larutan blanko ke dalam instrument
spektrofotometri untuk dianalisis. Kemudian, menentukan panjang gelombang
yang diinginkan,yaitu dari 660 nm 670nm, lalu dilewatkan berkas cahaya pada
larutan sampel yang dianalisis (metilen biru). Skala absorbansi yang terlihat,
menunjukkan absorbansi larutan sampel.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, nilai absorbansi yang diperoleh
pada tiap panjang gelombang adalah sebagai berikut :
Panjang
Gelombang
(nm)
Absorbansi
Panjang
Gelombang
(nm)
Absorbansi
660 0,564 666 0,580
661 0,569 667 0,579
662 0,575 668 0,571
663 0,578 669 0,567
664 0,580 670 0,562
664 0,580
665 0,581
Garis putus putus menunjukkan panjang gelombang maksimum, yaitu 665
nano meter dengan absorbansi terbesar yaitu 0,581.
Pembuatan Kurva Standar
Setelah diketahui panjang gelombang maksimum, dibuat kurva
standar. Untuk membuat kurva standar, ditentukan terlebih dahulu nilai
absorbansi dari masing masing larutan standar yang telah disiapkan terlebih
dahulu dengan beberapa konsentrasi ( 3 ppm, 1.8 ppm, 1.2 ppm, 0,6 ppm).
Absorbansi larutan standar yang digunakan adalah absorbansi pada panjang
gelombang maksimum, yaitu 665 nano meter. Digunakan absorbansi pada
panjang gelombang maksimum karena panjang gelombang maksimum
menghasilkan absorbansi maksimal. Hal ini dikarenakan pada panjang
gelombang maksimum, kepekaan alat terhadap tingkat absorbansi sampel
semakin tinggi. Selain itu, pada panjang gelombang maksimum akan terbentuk
kurva absorbansi yang datar sehingga hukum Lambert-Beer dapat terpenuhi dan
tingkat kesalahan pada pengukuran ulang akan semakin kecil. Berdasarkan
percobaan, diperoleh absorbansi larutan standar pada panjang gelombang
maksimum sebagai berikut :
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
3 0.581
1,8 0,325
1,2 0,206
0,6 0,082

Dari hasil di atas, dibuat kurva standarnya (terlampir). Berdasarkan kurva
tersebut, dapat dilihat hubungan antara absorbansi dan konsentrasi. Dimana
keduanya berbanding lurus. Hal ini berarti terbukti persamaan :
A = abC
Dimana, A : absorbansi dan C : konsentrasi

Penentuan Konsentrasi Sampel
Berdasarkan percobaan, diperoleh nilai absorbansi dari sampel dengan
konsentrasi x = 0,127. Dari data tersebut dialkukan regresi linear pada larutan
standar dengan persamaan sebgai berikut :
Y = bx + a dimana , y : absorbansi
X : Konsentrasi (ppm)
Hasil regresi linear x Vs y , menghasilkan :
a = - 0,044228571
b = 0,207714285
Persamaannya menjadi : y = 0,207714285x + (- 0,044228571)
= 0,207714285x - 0,044228571
Berdasarkan data ke (5) nilai absorbansi (A) dari x = 0,127 atau y = 0,127,
maka :
y = 0,207714285x - 0,044228571
0,127 = 0,207714285x - 0,044228571
0,207714285x = 0,127 + 0,044228571
= 0,171228571
x = 0,171228571 : 0,207714285
= 0,82434663
= 0,82 ppm (dibulatkan)

Penentuan konsentrasi x ini,juga dapat ditentukan menggunakan persamaan garis
dari kurva standar.

















BAB IV
PENUTUP
4.1 KESIMPULAN
Pada percobaan dengan menggunakan larutan metilen biru 3 ppm, nilai
absorbansi yang didapat pada panjang gelombang 660 670 dapat dilihat pada
table hasil pengamatan. Untuk panjang gelombang 665 nm, didapatkan
absorbansinya sebesar 0,581. Oleh karena itu panjang gelombang panjang
gelombang maksimum adalah 665 nm, karena memiliki nilai absorbansi tertinggi.
Setelah diperoleh panjang gelombang maksimum, menentukan nilai absorbansi
pada panjang gelombang maksimum dari larutan metilen biru dengan
konsentrasi 1,8 ppm, 1,2 ppm, 0,6 ppm dan x ppm. Selanjutnya kurva standar
dapat dibuat menggunakan nilai absorbansi Vs konsentrasi.
Konsentrasi larutan yang tidak diketahui dapat ditentukan dengan menggunakan
regresi linear absorbansi Vs konsentrasi. Selain itu dapat juga ditentukan
menggunakan persamaan garis dari kurva standar yang dibuat. Berdasarkan hasil
perhitungan, diperoleh konsentrasi dari larutan metilen biru, dengan nilai
absorbansi 0,127 adalah sebesar 0,82 ppm.









BAHAN DISKUSI
1. Jelaskan mengapa pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum. ?
Jawab :
Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum karena panjang gelombang
ini menghasilkan absorbansi maksimal. Hal ini dikarenakan pada panjang gelombang
maksimum, kepekaan alat terhadap tingkat absorbansi sampel semakin tinggi. Selain itu,
pada panjang gelombang maksimum akan terbentuk kurva absorbansi yang datar
sehingga hukum Lambert-Beer dapat terpenuhi dan tingkat kesalahan pada pengukuran
ulang akan semakin kecil.
2. Apa perbedaan spectrometer single beam dengan double beam ?
Jawab :
Perbedaan spectrometer single beam dengan double beam adalah :
Pada spektrofotometer double beam blanko dan sampel dimasukan atau disinari secara
bersamaan, sedangkan spektrofotometer single beam blanko dimasukan atau disinari
secara terpisah.
3. Tuliskan beberapa contoh penggunaan spectrometer Uv-Vis dalam kehidupan sehari
hari ?
Jawab :
Niacin
Pyridoxine
Vitamin B12
Metal Determination (Fe)
Fat-quality Determination (TBA)
Enzyme Activity (glucose oxidase)
Penentuan konsentrasi sampel : Ukur panjang gelombang maksimum, membuat
kurva standar, mengukur sampel, Konversi sampel dengan kurva standar.
4. Hukum Lamber-Beer, tidak berlaku pada konsentrasi yang terlalu pekat, mengapa ?
Jawab :
Hukum lamber Beer tidak berlaku pada konsentrasi terlarut pekat karena pada
konsentrasi larutan yang terlalu pekat, Absorbansi yang terbaca terlalu tinggi, sehingga
grafik tidak linear . Oleh karena itu larutan yang diukur harus encer.

DAFTAR PUSTAKA
Tim Dosen Kimia Instrumen.2014.PENUNTUN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS INSTRUMEN.
Kupang : Universitas Nusa Cendana.

Lawa,Yosep.2013.KIMIA INSTRUMEN. Kupang : Universitas Nusa Cendana

Zysk AM dkk. 2007. Needle Based Reflection Refractometry of Scattering Samples Using
Coherence Gated Detection. Di dalam Opticts Express (15) No. 8. USA: University of
Illinois at Urbana Champaign.
Anonim. 2011. Portable Salinity Refractometer with ATC: Users Guide.
http://www.extech.com/instruments/resources/manuals/rf20_um.pdf
Spektrometri_UV-Vis.pdf
http://wenimandasari.blogspot.com/2011/12/laporan-spektofotometri.html