Anda di halaman 1dari 13

1.

Mayoritas bayi mengalami kuning


Banyak bayi mengalami kuning, baik yang lahir normal maupun prematur. Kejadian kuning pada
bayi baru lahir (BBL) cukup bulan sekitar 5060% dan 7580% pada bayi kurang bulan
(BBLR). Pada bayi normal, umumnya kadar bilirubin akan mengalami peningkatan di hari ke-2
sampai ke-3 dan mencapai puncaknya di hari ke-8 (terhitung semenjak bayi dilahirkan).
Selanjutnya di hari ke-9 berangsur-angsur turun kembali menuju angka normal (10 mg/dL).
Sedangkan pada bayi prematur, kadar bilirubin akan mencapai puncaknya di hari ke-14. Itulah
mengapa, setelah pulang dari rumah sakit atau rumah bersalin, umumnya bayi disarankan
menjalani pemeriksaan ulang pada hari ke-3 sampai ke-5 setelah kepulangan si bayi. Tujuannya
untuk memantau kadar bilirubin sehingga dokter dapat memberikan tindakan yang cepat dan
tepat bila terjadi peningkatan.
2. Peningkatan kadar bilirubin terjadi akibat belum sempurnanya fungsi hati pada bayi baru lahir
Umumnya, usia sel darah merah (eritrosit) adalah 120 hari. Pada bayi, usia sel darah merahnya
ada yang lebih pendek, kira-kira 90 hari. Sel darah merah yang sudah tua ini mengalami
pemecahan dan terurai menjadi zat yang disebut heme dan globin. Heme akan diubah
menjadi biliverdin dan melalui proses selanjutnya diubah menjadi bilirubin bebas (indirek).
Semestinya, sisa pemecahan ini (bilirubin indirek) diproses oleh hati bayi menjadi bilirubin direk
yang larut dalam air dan melalui saluran empedu selanjutnya dibuang melalui usus besar serta
bercampur dengan feses atau kotoran. Namun, saat lahir, hati bayi belum cukup baik untuk
melakukan tugasnya. Akibat proses pengolahan yang tidak sempurna itulah yang menyebabkan
kuning pada bayi
3. Ada kuning fisiologis, ada pula kuning patologis
Penyebab tingginya kadar bilirubin pada bayi dapat dikelompokkan menjadi dua yakni fisiologis
dan patologis. Penyebab kuning fisiologis adalah peningkatan volume sel darah (eritrosit), usia
sel darah yang pendek, dan belum sempurnanya fungsi hati dalam mengolah bilirubin. Kuning
fisiologis ini umumnya akan sembuh sendiri seiring dengan semakin sempurnanya fungsi hati.
Sedangkan kuning patologis, salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian golongan darah ibu
dan anak. Yang paling sering terjadi bila ibu bergolongan darah O sedangkan bayinya A atau B.
Demikian pula dengan perbedaan rhesus antara ibu dan anak; si ibu memiliki rhesus positif
sedangkan bayinya negatif. Terjadinya infeksi atau sepsis dan hepatitis juga merupakan pemicu
tingginya kadar bilirubin. Khusus kuning patologis perlu dilakukan pemantauan karena
umumnya kadar bilirubin mengalami peningkatan sampai hari ke-14 dan tidak akan turun dengan
sendirinya. Biasanya juga diiringi gejala lain seperti demam dan berat badan bayi yang tidak
mengalami peningkatan.
4. ASI dapat membantu menurunkan kadar bilirubin
Hubungan antara pemberian ASI dan penurunan kadar bilirubin telah lama terbukti. Itulah
mengapa, bayi kuning amat disarankan banyak menyusu ASI. Tingkatkan frekuensi
menyusui sekitar 1012 kali dalam sehari. Patut diketahui, asupan cairan yang kurang (termasuk
pemberian ASI) dapat menyebabkan kuning pada bayi. Ini biasanya tampak pada hari ke-3
sampai ke-5 dengan tanda penambahan berat badan yang minim dan urine berwarna pekat.
5. Batas kadar bilirubin pada bayi baru lahir harus terus dipantau
Pemeriksaan akan terus berlanjut selama kurun waktu 48 jam bayi di rumah sakit. Pada bayi
cukup bulan yang sehat akan dilakukan pemeriksaan klinis untuk menentukan perlu tidaknya
pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan dengan mengamati gejala-
gejala yang muncul dan tampak di seluruh tubuh bayi. Pemeriksaan, menurut APP (The
American Academy of Pediatrics), dilakukan oleh tenaga medis. Pemeriksaan klinis dapat
meningkat menjadi pemeriksaan laboratorium bila terdapat gejala berikut:
* Kuning yang jelas secara klinis dalam 24 jam pertama kehidupan bayi.
* Peningkatan kadar bilirubin total yang lebih dari 5 mg/dL sehari.
* Kadar bilirubin total yang lebih dari 13 mg/dL dalam 4 hari pertama kehidupan bayi yang lahir
cukup bulan.
6. Pentingnya pemantauan oleh ibu selama kurun waktu 48 jam setelah bayi berada di rumah
Ibu dapat memantau tingginya kadar bilirubin pada bayi dengan melihat tanda-tanda, seperti:
* Warna kulit yang tampak kuning ketika ditekan beberapa detik dengan ibu jari. Kadar bilirubin
kemungkinan di atas 14 mg/dL, jika bagian bawah tubuh (kaki) pun berwarna kuning.
* Bagian putih di dekat bola mata juga tampak kuning.
* Bayi tidur terus-menerus dan malas menyusu.
Segera bawa ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
7. Berjemur di sinar matahari pagi tidak cukup untuk menurunkan kadar bilirubin pada bayi
Buang anggapan berjemur di sinar matahari pagi dapat menurunkan kadar bilirubin secara
efektif. Hal ini terkait dengan penyinaran dari sinar matahari yang hanya dapat dilakukan di pagi
hari (pukul 07.0008.00) dan itu pun tidak lama, hanya 1520 menit.
8. Pada beberapa kasus kuning diperlukan fototerapi
Salah satu cara efektif menurunkan kadar bilirubin yang tinggi pada bayi adalah dengan
fototerapi. Rekomendasi yang telah disepakati untuk memulai fototerapi sesuai dengan AAP
Guidelines (lihat bok).
Bayi yang sedang menjalani fototerapi tidak menggunakan busana sehingga sinar dapat merata
ke seluruh permukaan kulit. Bagian mata akan ditutup agar tidak merusak retina mata.
Penggunaan krim atau losion apa pun pada bayi tidak diperkenankan karena ada risiko terbakar.
9. Transfusi tukar dilakukan bila tidak memungkinkan lagi melaksanakan fototerapi
Transfusi tukar adalah suatu tindakan pengambilan sejumlah kecil darah yang dilanjutkan
dengan pengembalian darah dari donor dalam jumlah sama, yang dilakukan berulang-ulang
sampai sebagian besar darah penderita tertukar. Transfusi tukar disarankan bila kadar bilirubin
mencapai 2529 mg/dL pada bayi sehat, sedangkan pada bayi sakit dengan kadar bilirubin 17
23 mg/dL.
10. Kondisi bayi kuning yang dibiarkan dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan
Kadar bilirubin yang tinggi dan tidak diatasi segera, dapat menimbulkan risiko pada sistem saraf
pusat. Gejala klinis yang ditemukan seperti mengantuk, refleks isap menurun, muntah, dan
kejang. Dampak lebih lanjut adalah keterbelakangan mental, kelumpuhan serebral, gangguan
pendengaran, atau kelumpuhan otot motorik mata.















Penyebab, Gejala & Pengobatan Kadar
Bilirubin Tinggi

Bilirubin adalah produk limbah yang diperoleh selama proses daur ulang sel darah merah yang
telah usang.
Limpa dan hati merupakan dua organ tubuh yang berperan penting dalam daur ulang sel darah
merah.
Bilirubin bekerja sebagai antioksidan seluler. Tingkat normal bilirubin langsung atau
terkonjugasi dalam darah adalah 0-0,3 mg/dL (miligram per desiliter). Sedangkan kadar bilirubin
total harus antara 0,3 hingga 1,9 mg/dL.
Peningkatan level bilirubin dalam urin juga merupakan indikasi masalah kesehatan yang
memerlukan perhatian medis segera.
Penyebab Kadar Tinggi Bilirubin
1. Penyumbatan saluran empedu dapat mempengaruhi tingkat bilirubin. Dalam beberapa kasus,
penyempitan saluran empedu juga memicu kenaikan moderat bilirubin.
2. Sirosis hati dapat mempengaruhi fungsi hati, yang mengarah ke tingkat bilirubin abnormal.
3. Selain sirosis hati, fungsi hati bisa dipengaruhi oleh berbagai masalah lain seperti gagal hati,
kista hati, dll.
4. Kelainan genetik metabolisme bilirubin dapat menyebabkan kenaikan ringan level bilirubin.
5. Virus hepatitis merupakan salah satu penyebab utama kenaikan level bilirubin.
6. Sindrom Crigler Najjar atau gangguan langka yang mempengaruhi metabolisme bilirubin
dapat pula menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dalam darah.
7. Choledocholithiasis atau adanya batu empedu dalam saluran empedu merupakan salah satu
penyebab utama kadar bilirubin tinggi.
8. Sindrom Dublin Johnson atau peningkatan bilirubin terkonjugasi tanpa peningkatan enzim hati
dapat menyebabkan kadar bilirubin melebihi normal.
9. Penyakit kuning merupakan kondisi ketika seseorang memiliki bilirubin yang berlebihan
dalam darah.
10. Penyakit hati yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan dapat mempengaruhi fungsi hati
secara serius dan memicu peningkatan kadar bilirubin.
11. Hemolisis atau perusakan abnormal sel-sel darah merah bisa menjadi penyebab bilirubin
berlebih dalam darah.
12. Berbagai jenis kanker bisa menyebar ke hati dan mempengaruhi fungsi hati.
13. Hepatitis alkoholik adalah penyebab umum dari kadar bilirubin tinggi dalam darah.
14. Tumor yang mempengaruhi hati, saluran empedu, atau kandung empedu dapat menjadi
penyebab penumpukan bilirubin dalam darah.
15. Beberapa obat-obatan, terutama obat antipsikotik atau obat yang mengandung hormon seks
dan obat yang digunakan selama kemoterapi dapat menyebabkan kadar bilirubin tinggi.
16. Peningkatan bilirubin umumnya terlihat saat seseorang menderita sindrom Gilbert atau
gangguan metabolisme bilirubin.
17. Primary sclerosing cholangitis (peradangan progresif saluran empedu di dalam dan di luar
hati yang diikuti oleh jaringan parut dan kerusakan saluran empedu) bertanggung jawab pula
terhadap peningkatan kadar bilirubin.
Gejala Kadar Tinggi Bilirubin
- Kehilangan nafsu makan
- Sering demam
- Mual, muntah
- Perut bengkak atau sakit
- Urin berwarna kuning atau kecoklatan
- Urin memiliki bau menyengat
- Tingkat energi rendah dan sering lelah
- Warna tinja pucat atau seperti tanah liat
- Sensasi gatal
- Kulit dan putih mata menjadi kuning
Kulit kekuningan adalah salah satu gejala utama peningkatan kadar bilirubin pada bayi baru
lahir.
Tingkat bilirubin tinggi umum terjadi pada bayi prematur pada saat kelahiran.
Pada orang dewasa, gangguan ini bisa menjadi tanda dari penyakit hati serius dan mengakibatkan
kelelahan, pembengkakan pada pergelangan kaki, pengecilan otot, ascites (penumpukan cairan
dalam rongga perut), kebingungan mental, atau bahkan koma dan perdarahan usus.
Pengobatan Kadar Tinggi Bilirubin
1. Tidak ada pengobatan medis diperlukan untuk hepatitis A. Penyakit ini biasanya sembuh
dengan sendirinya.
2. Batu empedu dan batu pada hati dapat diangkat melalui pembedahan. Dalam kasus parah,
transplantasi hati bisa menjadi pilihan untuk mengobati disfungsi hati.
3. Pengobatan untuk kanker atau kanker hati metastatik tergantung pada keparahan kondisi dan
kesehatan pasien secara keseluruhan.
4. Dokter perlu mempelajari sejarah pasien. Penyalahgunaan alkohol atau narkoba yang
mengarah pada gangguan hati perlu diperhatikan oleh dokter untuk merencanakan perawatan
yang sesuai.
5. Peningkatan kadar bilirubin dapat diobati dengan bantuan pengobatan rumah, jika kondisi
tidak terlalu serius. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan pengobatan rumah yang
tepat.
6. Bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia ringan tidak memerlukan perlakuan khusus. Untuk
kasus hiperbilirubinemia moderat, bayi yang baru lahir biasanya disinari dengan lampu bilirubin
untuk mengatasi kondisi tersebut.[]














Ini saya ada artikel mungkin bisa membantu ...

Devi, mama Gabby

RAGAM TERAPI UNTUK BAYI KUNING
Penelitian menunjukkan sekitar 70 persen bayi baru lahir mengalami kuning.
Meskipun dikategorikan wajar, orang tua tetap harus waspada.

"Bayi ibu kuning? Alaaa itu biasa, kok. Jemur saja di bawah sinar matahari
tiap pagi. Nanti juga baik sendiri." Saran seperti itu kerap diberikan
kepada ibu bila bayi yang baru dilahirkannya dinyatakan kuning.

Cara mengetahui kadar bilirubin bayi baru lahir adalah dengan pemantauan.
Bayi "kuning", yang dalam istilah medis disebut ikterus neonatus, terjadi
karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah hingga melebihi ambang
batas normal. Gejalanya, kulit dan bagian putih mata bayi tampak kuning
tapi suhu badannya normal.

Namun, tidak semua bayi kuning bisa diobati hanya dengan menjemurnya di
bawah sinar matahari pagi. Ada juga yang perlu dirawat inap di rumah sakit
untuk menjalani beberapa terapi. Menurut dr. Dewi Murniati, Sp.A.,
rekomendasi dirawat inap akan diberikan bila bayi terdeteksi memiliki kadar
bilirubin di atas ambang normal.

Mengapa sinar matahari yang merupakan sinar ultra-violet dianggap kurang
efektif? Padahal sinar ini memang bisa membantu memecahkan kadar bilirubin
dalam darah bayi. Seperti diketahui sinar surya yang efektif untuk
mengurangi kadar bilirubin adalah saat jam 07.00 sampai 09.00. Ini berarti
bayi tak bisa sepanjang waktu disinari, sehingga penurunan kadar
bilirubinnya akan lama.

Cuaca yang mendung bahkan hujan juga dapat mengganggu proses penyinaran.
Selain itu, merawat bayi kuning di rumah berisiko terhadap keterlambatan
deteksi peningkatan kadar bilirubin. Beda kalau bayi dirawat di rumah
sakit, ia akan terpantau oleh dokter dari waktu ke waktu.

KAPAN BAYI DINYATAKAN KUNING
Untuk bayi yang lahir cukup bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah
12,5 mg/dl (miligram perdesiliter darah). Sedangkan bayi yang lahir kurang
bulan, batas aman kadar bilirubinnya adalah 10 mg/dl. "Jika kemudian kadar
bilirubin diketahui melebihi angka-angka tersebut, maka ia dikategorikan
hiperbilirubin," papar Dewi.
Lalu bagaimana bayi baru lahir bisa mengalami hiperbilirubin? Bilirubin
merupakan zat hasil pemecahan hemoglobin (protein sel darah merah yang
memungkinkan darah mengangkut oksigen). Hemoglobin terdapat dalam eritrosit
(sel darah merah) yang dalam waktu tertentu selalu mengalami destruksi
(pemecahan). Proses pemecahan tersebut menghasilkan hemeglobin menjadi zat
heme dan globin. Dalam proses berikutnya, zat-zat ini akan berubah menjadi
bilirubin bebas atau indirect.
Dalam kadar tinggi bilirubin bebas ini bersifat racun; sulit larut dalam
air dan sulit dibuang. Untuk menetralisirnya, organ hati akan mengubah
bilirubin indirect menjadi direct yang larut dalam air. Masalahnya, organ
hati sebagian bayi baru lahir belum dapat berfungsi optimal dalam
mengeluarkan bilirubin bebas tersebut. Barulah setelah beberapa hari, organ
hati mengalami pematangan dan proses pembuangan bilirubin bisa berlangsung
lancar.
Masa "matang" organ hati pada setiap bayi tentu berbeda-beda. Namun
umumnya, pada hari ketujuh organ hati mulai bisa melakukan fungsinya dengan
baik. Itulah mengapa, setelah berumur 7 hari rata-rata kadar bilirubin bayi
sudah kembali normal. Tapi ada juga yang menyebutkan organ hati mulai bisa
berfungsi pada usia 10 hari.

RAGAM TERAPI

Jika setelah tiga-empat hari kelebihan bilirubin masih terjadi, maka bayi
harus segera mendapatkan terapi. Bentuk terapi ini macam-macam, disesuaikan
dengan kadar kelebihan yang ada. Berikut penjelasan dari Dewi yang
berpraktek di RSIA Hermina Daan Mogot, Jakarta.

1.Terapi Sinar (fototerapi)
Terapi sinar dilakukan selama 24 jam atau setidaknya sampai kadar bilirubin
dalam darah kembali ke ambang batas normal. Dengan fototerapi, bilirubin
dalam tubuh bayi dapat dipecahkan dan menjadi mudah larut dalam air tanpa
harus diubah dulu oleh organ hati. Terapi sinar juga berupaya menjaga kadar
bilirubin agar tak terus meningkat sehingga menimbulkan risiko yang lebih
fatal.
Sinar yang digunakan pada fototerapi berasal dari sejenis lampu neon dengan
panjang gelombang tertentu. Lampu yang digunakan sekitar 12 buah dan
disusun secara paralel. Di bagian bawah lampu ada sebuah kaca yang disebut
flexy glass yang berfungsi meningkatkan energi sinar sehingga intensitasnya
lebih efektif.

Sinar yang muncul dari lampu tersebut kemudian diarahkan pada tubuh bayi.
Seluruh pakaiannya dilepas, kecuali mata dan alat kelamin harus ditutup
dengan menggunakan kain kasa. Tujuannya untuk mencegah efek cahaya
berlebihan dari lampu-lampu tersebut. Seperti diketahui, pertumbuhan mata
bayi belum sempurna sehingga dikhawatirkan akan merusak bagian retinanya.
Begitu pula alat kelaminnya, agar kelak tak terjadi risiko terhadap organ
reproduksi itu, seperti kemandulan.

Pada saat dilakukan fototerapi, posisi tubuh bayi akan diubah-ubah;
telentang lalu telungkup agar penyinaran berlangsung merata. Dokter akan
terus mengontrol apakah kadar bilirubinnya sudah kembali normal atau belum.
Jika sudah turun dan berada di bawah ambang batas bahaya, maka terapi bisa
dihentikan. Rata-rata dalam jangka waktu dua hari si bayi sudah boleh
dibawa pulang.

Meski relatif efektif, tetaplah waspada terhadap dampak fototerapi. Ada
kecenderungan bayi yang menjalani proses terapi sinar mengalami dehidrasi
karena malas minum. Sementara, proses pemecahan bilirubin justru akan
meningkatkan pengeluarkan cairan empedu ke organ usus. Alhasil, gerakan
peristaltik usus meningkat dan menyebabkan diare. Memang tak semua bayi
akan mengalaminya, hanya pada kasus tertentu saja. Yang pasti, untuk
menghindari terjadinya dehidrasi dan diare, orang tua mesti tetap
memberikan ASI pada si kecil.

2.Terapi Transfusi

Jika setelah menjalani fototerapi tak ada perbaikan dan kadar bilirubin
terus meningkat hingga mencapai 20 mg/dl atau lebih, maka perlu dilakukan
terapi transfusi darah. Dikhawatirkan kelebihan bilirubin dapat menimbulkan
kerusakan sel saraf otak (kern ikterus). Efek inilah yang harus diwaspadai
karena anak bisa mengalami beberapa gangguan perkembangan. Misalnya
keterbelakangan mental, cerebral palsy, gangguan motorik dan bicara, serta
gangguan penglihatan dan pendengaran. Untuk itu, darah bayi yang sudah
teracuni akan dibuang dan ditukar dengan darah lain.

Proses tukar darah akan dilakukan bertahap. Bila dengan sekali tukar darah,
kadar bilirubin sudah menunjukkan angka yang menggembirakan, maka terapi
transfusi bisa berhenti. Tapi bila masih tinggi maka perlu dilakukan proses
tranfusi kembali. Efek samping yang bisa muncul adalah masuknya kuman
penyakit yang bersumber dari darah yang dimasukkan ke dalam tubuh bayi.
Meski begitu, terapi ini terbilang efektif untuk menurunkan kadar bilirubin
yang tinggi.

3.Terapi Obat-obatan
Terapi lainnya adalah dengan obat-obatan. Misalnya, obat phenobarbital atau
luminal untuk meningkatkan pengikatan bilirubin di sel-sel hati sehingga
bilirubin yang sifatnya indirect berubah menjadi direct. Ada juga
obat-obatan yang mengandung plasma atau albumin yang berguna untuk
mengurangi timbunan bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hati.

Biasanya terapi ini dilakukan bersamaan dengan terapi lain, seperti
fototerapi. Jika sudah tampak perbaikan maka terapi obat-obatan ini
dikurangi bahkan dihentikan. Efek sampingnya adalah mengantuk. Akibatnya,
bayi jadi banyak tidur dan kurang minum ASI sehingga dikhawatirkan terjadi
kekurangan kadar gula dalam darah yang justru memicu peningkatan bilirubin.
Oleh karena itu, terapi obat-obatan bukan menjadi pilihan utama untuk
menangani hiperbilirubin karena biasanya dengan fototerapi si kecil sudah
bisa ditangani.

4. Menyusui Bayi dengan ASI

Bilirubin juga dapat pecah jika bayi banyak mengeluarkan feses dan urin.
Untuk itu bayi harus mendapatkan cukup ASI. Seperti diketahui, ASI memiliki
zat-zat terbaik bagi bayi yang dapat memperlancar buang air besar dan
kecilnya. Akan tetapi, pemberian ASI juga harus di bawah pengawasan dokter
karena pada beberapa kasus, ASI justru meningkatkan kadar bilirubin bayi
(breast milk jaundice). Di dalam ASI memang ada komponen yang dapat
mempengaruhi kadar bilirubinnya. Sayang, apakah komponen tersebut belum
diketahui hingga saat ini.

Yang pasti, kejadian ini biasanya muncul di minggu pertama dan kedua
setelah bayi lahir dan akan berakhir pada minggu ke-3. Biasanya untuk
sementara ibu tak boleh menyusui bayinya. Setelah kadar bilirubin bayi
normal, baru boleh disusui lagi.

5. Terapi Sinar Matahari

Terapi dengan sinar matahari hanya merupakan terapi tambahan. Biasanya
dianjurkan setelah bayi selesai dirawat di rumah sakit. Caranya, bayi
dijemur selama setengah jam dengan posisi yang berbeda-beda. Seperempat jam
dalam keadaan telentang, misalnya, seperempat jam kemudian telungkup.
Lakukan antara jam 7.00 sampai 9.00. Inilah waktu dimana sinar surya
efektif mengurangi kadar bilirubin. Di bawah jam tujuh, sinar ultraviolet
belum cukup efektif, sedangkan di atas jam sembilan kekuatannya sudah
terlalu tinggi sehingga akan merusak kulit.

Hindari posisi yang membuat bayi melihat langsung ke matahari karena dapat
merusak matanya. Perhatikan pula situasi di sekeliling, keadaan udara harus
bersih.

DUA JENIS KUNING

Hiperbilirubin, tutur Dewi, dibagi menjadi dua, yakni ikterus neonatus
fisiologis dan ikterus neonatus patologis.

1. Ikterus neonatus fisiologis (hiperbilirubin karena faktor fisiologis)
merupakan gejala normal dan sering dialami bayi baru lahir. Terjadi pada
2-4 hari setelah bayi lahir, dan akan "sembuh" pada hari ke-7. Penyebabnya
organ hati yang belum "matang" dalam memproses bilirubin. Jadi,
hiperbilirubin karena faktor fisiologis hanyalah gejala biasa. Meski
begitu, orang tua harus tetap waspada. Bisa saja di balik itu terdapat
suatu penyakit.

2. Ikterus neonatus patologis; hiperbilirubin yang dikarenakan faktor
penyakit atau infeksi. Misalnya akibat virus hepatitis, toksoplasma,
sifilis, malaria, penyakit/kelainan di saluran empedu atau ketidakcocokan
golongan darah (rhesus).
Hiperbilirubin yang disebabkan patologis biasanya disertai suhu badan yang
tinggi (demam) atau berat badan tak bertambah. Biasanya bayi kuning
patologis ditandai dengan tingginya kadar bilirubin walau bayi sudah
berusia 14 hari.
















Bayi kuning atau jaundice adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah tinggi dan
terjadi pada minggu pertama kehidupan sang bayi. Kadar bilirubin dalam darah bersifat toksik
bagi perkembangan system saraf pusat bayi, hal tersebut dapat mengakibatkan kerusakan saraf
yang tidak bisa diperbaiki lagi. Oleh karena itu, butuh penanganan dokter dengan segera dan
tepat.
Hampir 60% bayi yang baru lahir akan terlihat kuning pada minggu pertama setelah mereka
lahir. Sekitar 5-10% dari mereka membutuhkan penanganan khusus karena kadar bilirubinnya
yang secara signifikan tinggi, sehingga dibutuhkan fototerapi. Tetapi jangan khawatir, pada
kebanyakan kasus kondisi tersebut tidak berbahaya sehingga tidak dibutuhkan penanganan
khusus.
1. Jaundice Fisiologi.
Keadaan ini disebabkan oleh ketidakmampuan bayi dalam menangani terjadinya
peningkatan produksi bilirubin, karena fungsi-fungsi organnya yang belum sempurna.
Bayi akan terlihat kuning pada kurun waktu 24-72 jam setelah lahir. Normalnya kadar
bilirubin dalam darah pada bayi yang lahir cukup waktu akan mencapai puncaknya di
level 6-8 mg/dL pada hari ketiga lalu akan turun di hari berikutnya. Sedangkan bayi
dikatakan mengalami jaundice fisiologi jika peningkatan kadar bilirubin mencapai 12 mg
/dL, dan tidak lebih dari 15 mg/dL. Setelah hari ke-14 bayi sudah tidak tampak kuning
lagi.
Dalam keadaan jaundice fisiologi sebenarnya tidak dibutuhkan perawatan, hanya saja
peran sang ibu sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, ibu harus senantiasa menyusui bayinya.
Bayi yang kuning harus disusui secara eksklusif, tanpa tambahan asupan yang lain, baik
itu air ataupun dextrose. Pada dasarnya jaundice fisiologi tidak berbahaya, pemberian
ASI akan sangat membantu bayi dalam menangani tingginya kadar bilirubin dalam
tubuhnya. Tetapi perlu diingat, jika kuningnya sudah menyebar sampai bagian kaki, maka
bayi harus segera dibawa lagi ke rumah sakit, karena hal itu pertanda bahwa kadar
bilirubin sudah semakin tinggi dan segera butuh penanganan tim medis.
2. Jaundice Patologi.
Pada keadaan ini kadar bilirubin sudah melebihi 17 mg/dL, sehingga harus segera
diobservasi penyebabnya dan juga dibutuhkan penanganan khusus, seperti fototerapi. Jika
bayi terlihat kuning dalam kurun waktu 24 jam, peningkatan kadar bilirubin melebihi
batas normal (5 mg/dL/hari), dan bayi masih terlihat kuning bahkan setelah 3 minggu
usia kelahirannya, maka hal tersebut sudah dikategorikan sebagai jaundice patologi.
Tidak hanya itu, feses bayi yang seperti tanah liat dan urine-nya yang berwarna gelap
sehingga pakaian bayi menjadi kuning adalah tanda lain dari jaundice patologi. Pada
jaundice patologi juga akan didapati kadar bilirubin yang lebih dari 2 mg/dL ketika
sampel darah diambil kapan saja / direct bilirubin (tidak ada interval waktu).
Semua bayi yang mendapat perawatan fototerapi harus melalui serangkaian pengujian,
seperti tes golongan darah dan Coombs test (uji deteksi antibodi dan protein komplemen
pada penyakit hemolitik pada bayi yang baru lahir, untuk lebih lengkapnya lihat di
Wikipedia); perhitungan darah komplit dan smear for hemolysis serta morfologi sel darah
merah; perhitungan retikulosit dan estimasi enzim G6PD. Hal tersebut dilakukan guna
mengetahui penyebab jaundice pada si kecil. Pengulangan pengukuran kadar bilirubin
dalam darah, biasanya pada interval 24 jam, harus dilakukan selama bayi difototerapi.
3. Hemolytic Jaundice.
Ada beberapa tanda dari hemolitik jaundice, yaitu jaundice muncul dalam waktu 24 jam,
bayi tampak pucat, terjadinya hepato-splenomegali, meningkatnya jumlah retikulosit
(>8%), peningkatan bilirubin yang cepat (>5 mg/dL dalam waktu 24 jam atau > 0,5
mg/dL/jam), serta adanya riwayat jaundice pada keluarganya. Hemolytic jaundice
disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya seperti penyakit hemolitik rhesus (Rh), ABO
inkompatibiliti, serta defisiensi enzim G6PD.
Bayi yang lahir dari ibu dengan Rh-negatif dan ayah Rh-positif harus dilakukan
identifikasi Rh dan uji Direct Coombs. Begitu juga dengan bayi yang lahir dari ibu
dengan golongan darah O dan Rh-positif harus terus dimonitor dan dilakukan
serangkaian pengujian, seperti test golongan darah dan uji direct antibody. Hemolitik
jaundice akibat ABO inkompatibiliti biasanya muncul dalam waktu 24 jam pertama (ciri
yang sama dengan jaundice patologi). Penanganan hemolitik jaundice akibat defisiensi
G6PD serupa dengan hemolitik jaundice akibat ABO inkompatibiliti. Pemeriksaan
defisiensi G6PD harus ditegakkan pada bayi yang diberikan terapi cahaya (fototerapi),
baik itu pada bayi yang lahirnya cukup waktu (full-term) ataupun yang hampir cukup
waktu (near-term).
4. Menyusui dan jaundice.
Jaundice pun juga bisa terjadi pada bayi yang disusui oleh ibunya. Jaundice ini biasanya
muncul antara 24-72 jam dengan puncaknya pada hari ke-5 sampai hari ke-15 dan akan
hilang pada minggu ketiga. Studi yang dilakukan Schneider menunjukkan bahwa 13%
bayi yang menyusui memiliki kadar bilirubin puncak sebesar 12 mg/dL atau lebih tinggi
4% jika dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula. Hal tersebut dapat
terjadi bukan karena kandungan zat di dalam ASI, tetapi lebih karena pola menyusui yang
belum optimal. Frekuensi menyusui yang kurang dapat menyebabkan munculnya
jaundice fisiologi. Oleh karena itu, ibu harus selalu senantiasa berusaha untuk menyusui
bayinya, meskipun terkadang pada awal-awal kelahiran ASI ibu belum keluar. Itulah
sebabnya dukungan suami mutlak diperlukan mengingat perannya yang tidak sedikit.

5. Breast Milk jaundice.
Sekitar 2-4% bayi yang secara eksklusif disusui oleh sang ibu memiliki jaundice dengan
kadar bilirubin lebih dari 10 mg/dL pada minggu ketiga. Jaundice yang tetap ada setelah
3 minggu pertama kehidupan seorang bayi disebut prolonged jaundice (jaundice
diperpanjang). Bunda jangan khawatir, bunda cukup menyusui si buah hati secara teratur.
Seiring dengan waktu kadar bilirubin akan berkurang. Tetapi jika si kecil semakin kuning
(sudah sampai ke kaki) atau kadar bilirubin sudah melebihi 20 mg/dL segera hubungi
dokter.

6. Penanganan jaundice
Dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya adalah terapi cahaya (fototerapi).
Fototerapi dilakukan dengan cara meletakkan bayi yang hanya mengenakan popok (untuk
menutupi daerah genital) dan matanya ditutup di bawah lampu yang memancarkan
spektrum cahaya hijau-biru dengan panjang gelombang 450-460 nm. Selama fototerapi
bayi harus disusui dan posisi tidurnya diganti setiap 2 jam. Pada terapi cahaya ini
bilirubin dikonversi menjadi senyawa yang larut air untuk kemudian diekskresi, oleh
karena itu harus senantiasa disusui (baik itu langsung ataupun tidak langsung).
Keuntungan dari fototerapi ini adalah non-invasiv (tidak merusak), efektif, relative tidak
mahal, dan mudah dilaksanakan.
Dengan kita sedikit mengetahui tentang jaundice, saya harap kita juga jadi lebih tahu mengenai
apa yang harus dilakukan jika bayi kita mengalami hal itu (semoga tidak ya, amin), tidak semata-
mata dihantui rasa cemas yang mendalam. Karena sesungguhnya jaundice adalah masalah yang
penting yang banyak dijumpai pada bayi yang baru lahir, tidak heran jika jaundice menjadi
sumber kecemasan bagi orang tua. Saya harap bayi kita selalu dalam keadaan sehat, amin.