Anda di halaman 1dari 7

TUGAS INDIVIDU

BLOK 24
Orthopedi Veteriner
CLOSED REDUCTION DAN LUKSASIO
UNIT PEMBELAJARAN 2

Nama
NIM

Disusun oleh :
: Vania Dinaresty
: 10 / 300345 / KH / 06643

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

I. Learning Objective
1. Mengetahui tentang closed reduction.
II. Pembahasan
1. Closed reduction :
Reduksi didefinisikan sebagai salah satu proses rekonstruksi fragmen tulang yang
mengalami fraktur kembali ke susunan anatomi normalnya atau pemulihan jajaran anggota
badan dengan cara mengembalikan ke susunan normalnya, serta mempertahankan ruang
orientasi dari anggota gerak tersebut. Teknik yang digunakan untuk mereduksi fraktur atau
mensejajarkan anggota badan harus mengatasi proses fisiologis dari kontraksi otot dan
fraktur overriding (Fossum, 2013).
Closed reduction merupakan teknik untuk mereduksi fraktur atau mensejajarkan
anggota badan tanpa operasi yang memperlihatkan bagian fraktur. Closed reduction
meningkatkan lingkungan biologis dengan (1) mempertahankan jaringan lunak dan suplai
darah, yang akan mempercepat kesembuhan; (2) menurunkan resiko infeksi; dan (3)
mempersingkat waktu operasi. Salah satu kekurangan metode ini adalah sulitnya untuk
mendapatkan rekonstruksi yang akurat dari fraktur yang dapat diturunkan (Fossum, 2013).
Fraktur yang dapat diatasi dengan closed reduction, yakni inkomplit atau fraktur
bagian distal dekat siku yang tidak terdislokasi dan bagian tersebut distabilkan dengan
external fixators atau casts, serta fraktur kominutiva yang parah dan nonreducible (fraktur
dengan fragmen kecil yang berjumlah banyak) pada bagian radius dan tibia yang diatasi
dengan external fixators. Tujuan dari closed reduction baik fraktur nondisplaced dan
nonreducible adalah mendapatkan kembali susunan anggota badan yang normal. Perhatian
harus terfokus pada penyisihan deformitas rotasi dan angular dari segmen bagian distal.
Proyeksi radiografi dari lateral dan craniocaudal proximal sendi menuju ke bagian tulang
yang fraktur menjadi pertimbangan ahli bedah untuk menentukan apakah permukaan sendi
di bagian atas atau bawah dari bagian fraktur telah sejajar satu sama lain dan dalam
keselarasan rotasi yang benar (Fossum, 2013).Ehmer Sling (fossum 1053)
Closed reduction, biasanya dengan external fixation dengan cast atau splint, banyak
dilakukan pada fraktur yang terdapat pada hewan kecil. Teknik ini digunakan ketika
fraktur dapat direduksi ke titik yang mana displacement tulang tersebut tidak lebih dari
setengah panjang diafisis dari tulang yang mengalami fraktur. Keselarasan axial dan rotasi
harus benar, dan fraktur harus stabil setelah direduksi sehingga tidak terjadi overriding
ketika dilakukan cast atau splint. Ketika kriteria ini telah terpenuhi, maka fraktur dapat
diatasi dengan baik oleh external fixation (Newton, 1985).
Masalah utama yang berkaitan dengan casting dan splinting adalah imobilisasi pada
sendi bagian bawah dan atas dari daerah fraktur. Walaupun imobilisasi tidak perlu pada

bagian sendi-sendi tersebut, tetapi hal ini memberikan keuntungan untuk kestabilan daerah
fraktur, serta menginisiasi kesembuhan fraktur. Jika imobilisasi pada bagian sendi-sendi
tersebut akan memberikan batasan pada pergerakan sendi diikuti kesembuhan fraktur,
maka bentuk pengobatan fraktur yang lain sangat diperlukan (Newton, 1985).

Closed reduction bisa menjadi digunakan untuk indikasi fraktur physeal Salter tipe I
dan II.

Kontraindikasi dari close reduction dan external fixation adalah fraktur yang tidak
stabil yang tidak bisa direduksi atau mengalami overriding dan memiliki cacat angular dan
rotasi yang tidak benar. Closed reduction juga dikontraindikasikan untuk fraktur yang
diimobilisasi dengan external fixation dengan cast atau splint yang akan menimbulkan
kekakuan sendi atau penyakit tulang. Apabilan close reduction menjadi pilihan, maka
penting untuk melakukannya secepat mungkin. Meskipun penting untuk memastikan
anjing dalam keadaan stabil dalam kondisi sebelum anestesi, penting pula untuk

melakukan closed reduction sebelum adanya bengkak dan hematoma yang dapat
melumpuhkan fragmen. Spasmus otot akan menimbulkan overriding dan bengkak
(Newton, 1985).
Reduksi yang lebih cepat dan memadai dibutuhkan untuk mengurangi trauma
jaringan, hal ini dapat dicapai apabila sebelumnya dilakukan tarikan yang lemah lembut.
Contohnya, pada fraktur bagian radius-ulna, yang diberikan tarikan pelan selama 10 15
menit untuk membantu peregangan pada bagian otot sehingga terhindar dari trauma
sekunder yang diakibatkan oleh manipulasi. Ketika sudah siap dilakukan closed reduction,
bagian kaki diposisikan seperti akan melakukan open reduction, dan diikuti dengan
penggunaan cap steril, mask dan gloves, hal ini dilakukan supaya ketika closed fracture
menjadi open fracture karena manipulasi, maka kontaminasinya rendah dan luka bisa
ditangani dengan baik. Setelah reduksi selesai, bagian tersebut kemudian dilakukan
radiografi untuk memastikan susunannya telah normal kembali (Newton, 1985).
Luka yang tidak stabil haru dikoaptasi untuk mengurangi trauma jaringan lunak dan
meningkatkan kenyamanan pasien. External splint dapat digunakan sebagai penopang
sementara atau sebagai terapu utama untuk kestabilan fraktur. Untuk mengurangi
komplikasi, external splint harus diaplikasikan secara tepat dan dimonitor baik-baik.
Beberapa jenis bandages yang telah diterapkan, antara lain :
1) Robert Jones bandages :
Merupakan bandages yang paling sering digunakan untuk pasien veterinari.
Kain kasa katun tebal biasanya digunakan sebelum atau sesudah operasi untuk
penopang sementara untuk pembidaian anggota badan. Robert Jones bandages
yang original sepanjang 12 inchi biasanya diaplikasikan pada bagian anggota
badan dengan ketebalan 4 6 inchi. Robert Jones bandages modifikasi tidak
berbahan katun sepenuhnya, tapi tetap memberikan kompresi. Lapisan katun yang
tebal akan memberikan kompresi padat pada jaringan lunak dan melumpuhkan
fraktur tanpa menimbulkan kompromi vaskuler. Jaringan lunak dan imobilisasi
akan meningkatkan kenyamanan pasien, selanjutnya mencegah kerusakan jaringan
lunak akibat fragmen fraktur, dan meminimalisir bengkak, yang akan
meningkatkan visualisasi dan palpasi selama operasi.

2) Metal spoon splint :


Metal spoon splint digunakan untuk memberikan dukungan pada kelukaan
bagian radius-ulna, carpus atau tarsus, metacarpus atau metatarsus, dan phalank.
Metasplint digunakan untuk dukungan tambahan dari intenal fiksasi atau sebagai
terapi utama. Spoon splint secara komersial tersedia sebagai alumunium atau
plastik yang bervariasi ukuran dan panjangnya.

3) Spica splint :
Spica splint membungkus torso dan anggota badan yang terkena, serta dapat
digunakan sebagai pembidai sementara atau untuk imobilisasi fraktur humeral
atau femoral atau penstabil setelah fiksasi internal. Pembidai ini jarang digunakan
sebagai terapi utama kecuali bila fraktur nondisplaced dan skor taksiran fraktur
menunjukkan adanya kesembuhan fraktur yang cepat.

4) Ehmer slings :
Ehmer slings mencegah bantalan berat pada pelvis. Umumnya digunakan
sebagai pendukung closed atau open reduction pada hip luxation.

5) Velpeau slings :
Velpeau slings mencegah tumpuan beban dan menimbulkan kestabilan pada
proximal forelimb. Umumnya digunakan untuk mempertahankan hasil closed atau
open reduction pada medial shoulder luxation atau sebagai pendukung fraktur
skapula.

Daftar Pustaka
Fossum, Theresa W., et al. 2013. Small Animal Medicine. Forth edition. USA : Elsevier.
Newton, C. and David M. Nunamaker. 1985. Textbooks of Small Animal Orthopaedics. USA :
Lippincott Williams and Wilkins Publisher.