Anda di halaman 1dari 24

PERCOBAAN IV

EMULSIFIKASI

A. Tujuan
1. Menghitung jumlah emulgator golongan surfaktan yang digunakan dalam
pembuatan emulsi
2. Membuat emulsi dengan menggunakan emulgator golongan surfaktan
3. Mengevaluasi ketidakstabilan emulsi
4. Menentukan HLB butuh minyak yang digunakan dalam pembuatan
emulsi
B. Dasar Teori
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan
obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat pengemulsi
atau surfaktan yang cocok (Ditjen POM, 1979).
Emulsi merupakan sistem dua fase, yang salah satu cairannya terdispersi
dalam cairan lain dalam bentuk tetesan kecil (globul) yang stabil dengan
adanya penambahan emulgator. Sebagai emulgator, gelatin mengelilingi
tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis atau film yang diad-sorpsi pada
permukaan dari tetesan fase terdis-persi. Lapisan tersebut mencegah
terjadinya kontak atau berkumpulnya kembali globul atau fase terdispersi,
sehingga kestabilan emulsi terjaga (Marzuki, 2011).
Tujuan emulsi adalah untuk membuat suatu sediaan yang stabil dan rata
dari dua cairan yang tidak dapat bercampur, untuk pemberian obat yang
mempunyai rasa lebih enak, serta memudahkan absorpsi obat (Ansel, 1989).
Salah satu cara yang diterapkan oleh industri farmasi saat ini untuk
meningkatkan kelarutan suatu obat yang bersifat lipofilik atau hidrofobik
adalah dengan membuat sediaan emulsi. Penerimaan oleh pasien menjadi
alasan yang paling penting mengapa emulsi menjadi bentuk sediaan farmasi
yang terkenal. Untuk obat yang mempunyai rasa tidak menyenangkan dapat
dibuat lebih enak pada pemberian oral bila diformulasikan menjadi emulsi.
Sebagai contoh minyak mineral yang mempunyai efek sebagai laksatif,
vitamin yang larut dalam minyak, dan preparat- preparat makanan yang
berkadar lemak tinggi dapat diberikan dalam bentuk emulsi m/a. Penggunaan
sediaan emulsi dapat meningkatkan absorpsi dari obat tersebut (Jufri, 2004).
Cairan yang terkandung dalam emulsi umumnya tidak terlarut. Sepertiga
dari bahan ditambahkan untuk memastikan keseragaman dispersi dan untuk
memberikan kestabilan pada campuran bahan. Ketiga bahan tersebut
diketahui sebagai agen pengemulsi. Emulsi sendiri mempunyai tiga bagian
yaitu fase internal, fase kontinu atau fase luar dan agen pengemulsi.
(Jeanskins, 1956)
Agen pengemulsi adalah sebuah agen pengaktif permukaan yang secara
nyata menurunkan tegangan permukaan dan secara bersamaan
meempertahankan bentuk lapisan tipis dari globul terdispersi. Pengawet
dalam farmasi digunakan untuk melawan pertumbuhan mikroorganisme.
Efektifitas pengawet bergantung pada unsur dari produk tersebut serta
kehadiran berbagai jenis mikroorganisme (Parrot, 1971)
Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang
disebut emulgator (emulsyifing agent) atau surfaktan yang dapat mencegah
koalesensi, yaitu penyatuan globul kecil menjadi globul besar dan akhirnya
menjadi satu fase tunggal yang memisah. Surfaktan menstabilkan emulsi
dengan cara menempati antar-permukaan globul dan fase eksternal, dan
dengan membuat batas fisik disekeliling globul yang akan berkoalesensi.
Surfaktan juga mengurangi tegangan permukaan antarfase sehingga
meningkatkan proses emulsifikasi selama pencampuran.
Surfaktan dapat dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu kationik,
anionik, nonionik dan amfoter. Surfaktan anionik memiliki kepala yang
bermuatan negatif. Surfaktan kationik memiliki kepala yang bermuatan
positif di dalam air. Surfaktan nonionik tidak memiliki muatan, sehingga
menjadi penghambat bagi dekativasi kesadahan air. Kebanyakan surfaktan
nonionik berasal dari ester alkohol lemak. Contoh surfaktan ini adalah ester
gliserin asam lemak dan ester sorbitan asam lemak atau Tween dan Span.
Surfaktan ini memiliki muatan positif dan negatif. Ia dapat berupa anionik,
kationik atau nonionik dalam suatu larutan tergantung pada pH air yang
digunakan. Surfaktan amfoter bisa terdiri dari dua gugus muatan dengan
tanda yang berbeda. Contoh dari surfaktan amfoter adalah alkil betain.
Surfaktan ionik banyak digunakan karena surfaktan ini stabil, baik dalam
kondisi basa, asam, pH tinggi maupun pada kondisi netral. Surfaktan
nonionik juga dapat menurunkan tegangan antar muka yang kaku dan sebagai
penghambat mekanisme terjadinya koalesensi yaitu penggabungan partikel.
Selain itu, surfaktan nonionik stabil pada pembekuan, tidak toksik serta cocok
dengan banyak bahan. sedangkan surfaktan anionik kurang stabil pada
kondisi basa dan surfaktan kationik hanya stabil pada kondisi asam. Selain itu
surfaktan kationik adalah emulgator yang lemah dan umumnya digunakan
sebagai emulgator pembantu.
(Syamsuni, 2006)
Berdasarkan jenisnya, emulsi dibagi dalam 2 golongan, yaitu:
1. Emulsi jenis m/a
Emulsi yang terbentuk jika fase dalam berupa minyak dan fase luarnya
air, disebut emulsi minyak dalam air (m/a).
2. Emulsi jenis a/m
Emulsi yang terbentuk jika fase dalamnya air dan fase luar berupa
minyak, disebut emulsi air dalam minyak (a/m).
(Anonim, 1978)
Pembuatan emulsi minyak lemak biasanya dibuat dengan emulgator gom
arab, dengan perbandingan untuk 10 bagian minyak lemak dibuat 100 bagian
emulsi. Gom arab yang digunakan adalah separo jumlah minyak lemak.
Sedangkan air yang digunakan adalah 1,5 x berat PGA. (Anief., 2005).
Pemberian lemak-lemak atau minyak-minyak secara peroral, baik
sebagai obat yang diberikan tersendiri atau sebagai pembawa untuk obat-obat
yang larut dalam minyak dapat diformulasikan sebagai emulsi minyak dalam
air (m/a). Emulsi untuk pemberian intravena dapat dalam bentuk m/a,
sedangkan untuk pemberian intramuskular dapat diformulasikan dalam
bentuk a/m jika obat yang larut air dibutuhkan untuk depot terapi. Untuk
penggunaan luar dapat digunakan tipe m/a atau a/m (Aulton, 1988).
Beberapa teori emulsifikasi berikut menjelaskan bagaimana zat
pengemulsi bekerja dalam menjaga stabilitas dari dua zat yang tidak saling
bercampur:
1. Teori tegangan permukaan
Emulsi terjadi bila ditambahkan suatu zat yang dapat menurunkan
tegangan antarmuka di antara dua cairan yang tidak tercampurkan,
sehingga mengurangi tolak-menolak antara kedua cairan tersebut dan
mengurangi tarik-menarik antarmolekul dari masing-masing cairan, atau
menyebabkan cairan menjadi tetesan-tetesan yang lebih kecil.
2. Teori orientasi bentuk baji
Emulsi terjadi bila ditambahkan suatu zat yang terdiri dari bagian polar
dan non polar. Karena kedua cairan yang akan dibuat emulsi berbeda
pula muatannya, maka zat ini akan menempatkan dirinya sesuai dengan
kepolarannya.
3. Teori film plastik
Emulsi terjadi bila ditambahkan zat yang dapat mengelilingi antarmuka
kedua cairan, mengelilingi tetesan fase dalam sebagai suatu lapisan tipis
atau film yang diadsorpsi pada permukaan dari tetesan tersebut. Semakin
kuat dan semakin lunak lapisan tersebut maka emulsi yang terbentuk
akan semakin stabil.
(Anief, 1999; Ansel, 1989)
Emulsi dapat dibuat dengan berbagai macam metode, diantaranya adalah
1. Metode Gom Kering (metode kontinental /metode 4:2:1)
Metode ini khusus untuk emulsi dengan zat pengemulsi gom kering.
Basis emulsi (corpus emuls) dibuat dengan 4 bagian minyak, 2 bagian air
dan 1 bagian gom, lalu sisa air dan bahan lain ditambahkan kemudian.
Caranya, minyak dan gom dicampur, dua bagian air kemudian
ditambahkan sekaligus dan campuran tersebut digerus dengan segera dan
dengan cepat serta terus-menerus hingga terdengar bunyi lengket,
bahan lainnya ditambahkan kemudian dengan pengadukan.
2. Metode Gom Basah (metode inggris)
Metode ini digunakan untuk membuat emulsi dengan musilago atau gom
yang dilarutkan sebagai zat pengemulsi. Dalam metode ini digunakan
proporsi minyak, air dan gom yang sama seperti pada metode gom
kering. Caranya, dibuat musilago kental dengan sedikit air, minyak
ditambahkan sedikit demi sedikit dengan diaduk cepat. Bila emulsi
terlalu kental, air ditambahkan lagi sedikit agar mudah diaduk dan bila
semua minyak sudah masuk, ditambahkan air sampai volume yang
dikehendaki.
3. Metode Botol
Metode ini digunakan untuk membuat emulsi dari minyak-minyak
menguap yang juga mempunyai viskositas rendah. Caranya, serbuk gom
arab dimasukkan ke dalam suatu botol kering, ditambahkan dua bagian
air kemudian campuran tersebut dikocok dengan kuat dalam wadah
tertutup. Minyak ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus
mengocok campuran tersebut setiap kali ditambahkan air. Jika semua air
telah ditambahkan, basis emulsi yang terbentuk bisa diencerkan sampai
mencapai volume yang dikehendaki
(Anief, 1999; Ansel, 1989)
Evaluasi sediaan emulsi dilakukan untuk mengetahui kestabilan dari
suatu sediaan emulsi pada penyimpanan. Evaluasi ini dapat dilakukan melalui
pengamatan secara organoleptis (rasa, bau, warna, konsistensi), pengamatan
secara fisika (rasio pemisahan fase, viskositas, redispersibilitas, uji tipe
emulsi, ukuran globul fase dalam, sifat aliran), pengamatan secara kimia
(pengukuran pH), secara biologi (angka cemaran mikroba).
Beberapa hal yang dapat menyebabkan ketidakstabilan emulsi secara
fisika diantaranya:
a. Creaming adalah terpisahnya emulsi menjadi dua lapisan, dimana lapisan
yang satu mengandung butir-butir tetesan (fase terdispersi) lebih banyak
daripada lapisan yang lain dibandingkan keadaan emulsi awal. Walaupun
masih boleh, terbentuknya cream tidak baik dilihat dari nilai estetika
sediaan, sehingga sebisa mungkin harus dicegah.
b. Koalesensi (breaking)
Koalesensi adalah peristiwa penggabungan globul-globul minyak sebagai
fase dalam menjadi lebih besar yang menyebabkan emulsi tidak
terbentuk kembali (pecah). Hal ini dikarenakan koalesensi bersifat
ireversibel
c. Inversi
Inversi adalah peristiwa berubahnya jenis emulsi dari m/a menjadi a/m atau
sebaliknya
(Aulton, 1988; Gennaro, 1990)
Mikroemulsi merupakan suatu sistem dispersi yang dikembangkan dari
sediaan emulsi. Tetapi karakteristik sediaan mikroemulsi memiliki banyak
kelebihan dibandingkan dengan emulsi biasa. Karakteristik tersebut antara
lain bersifat stabil secara termodinamika, jernih, transparan atau translucent,
viskositasnya rendah, serta mempunyai tingkat solubilisasi yang tinggi
sehingga dapat meningkatkan bioavailabilitas obat tersebut di dalam tubuh.
Selain bermanfaat sebagai pembawa dalam penghantaran obat,
mikroemulsi juga bermanfaat sebagai lubrikan, cutting oils, penghambat
korosi, textile finishing, pembawa bahan bakar, membran liquid, dan berbagai
manfaat lainnya. Sebagai sistem penghantaran obat, mikroemulsi dapat
digunakan untuk pemberian secara oral, intradermal, intramuskular, okular,
maupun pulmonal (Jufri, 2006).







C. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Batang pengaduk
b. Cawan porselin
c. Gelas kimia 50 mL; 100 mL
d. Gelas ukur 50 mL
e. Mortir dan stamper
f. Penangas air
g. Timbangan analitik
2. Bahan
a. Aquades
b. Alumunium foil
c. Lap kasar
d. Lap halus
e. Paraffin cair
f. Span 80
g. Tween 80

D. Prosedur Kerja
1. Dihitung jumlah Tween dan Span yang diperlukan untuk setiap nilai
HLB butuh.
2. Ditimbang masing-masing minyak, air, Tween dan Span sejumlah yang
dibutuhkan.
3. Dicampurkan minyakdengan Span dan air dengan Tween, dipanaskan
keduanya diatas penangas air bersuhu 60
o
.
4. Ditambahkancampuran minyak ke dalam campuran air dan segera diaduk
menggunakan batang pengaduk selama 5 menit.
5. Dimasukkan emulsi ke dalam tabung sedimentasi dan diberi tanda sesuai
dengan nilai HLB masing-masing.
6. Diusahakan tinggi emulsi dalam tabung sama dan dicatat waktu mulai
memasukkan emulsi ke dalam tabung,
7. Diamati jenis ketidakstabilan emulsi yang terjadi selama 6 hari. Bila
terjadi creaming, diukur tinggi emulsi yang membentuk cream.
8. Ditentukan pada nilai HLB berapa emulsi tampak relatif paling stabil.



E. Hasil Pengamatan
1. Tabel hasil pengamatan
a. HLB Lebar


b. HLB Sempit
Konsentrasi
(% b/b)
Parafin
liquid
(%
b/b)
HLB
butuh
Hv/Ho hari ke-
Tween
80
Span
80
0 1 2 3 4 5 6
0,84 0,41 20 11,5 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 - 0,73
0,87 0,37 20 11,75 0,84 0,82 0,82 0,82 0,82 - 0,82
0,89 0,35 20 12 0,73 0,73 0,73 0,73 0,73 - 0,73
0,92 0,32 20 12,25 0,75 0,75 0,75 0,75 0,75 - 0,75
0,95 0,29 20 12,5 0,72 0,72 0,72 0,72 0,72 - 0,72


2. Perhitungan (HLB Butuh parafin cair jarak lebar )
a. Perhitungan Span 80 dan Tween 80
Emulgator
(% b/b)
Parafin
cair
(%
b/b)
HLB
butuh
Hv/ Ho Hari ke
Twee
n 80
(g)
Span
80
(g)
0 1 2 3 4
, , 20 4 1 0,97 0,95 0,95 0,95
, , 20 5 1 0,76 0,79 0,76 0,79
, , 20 6 1 0,83 0,83 0,83 0,80
0,315 0,934
20 7 1 0,82 0,82 0,82 0,88
0,432 0,817
20 8 1 0,83 0,83 0,83 0,86
, ,
20 9 1 0,8 0,8 0,83
, ,
20 10 1 0,88 0,88 0,88 0,88
, ,
20 11 1 0,80 0,80 0,80 0,80
, ,
20 12 1 0,87 0,87 0,9 0,9
0,016 0,233
20 13 1 , , , 0,85
Diketahui : HLB Span 80 = 4,3
HLB Tween 80 = 15
R/ Emulgator = 5 % = 5 % x 25 gram = 1,25 gram
Parafin cair = 20% = 20 % x 5 gram = 5 gram
Air suling ad 100 % (25 gram)
umlah emulgator

g
, gram
b. Perhitungan HLB Jarak Lebar
1) HLB Butuh 4
Tween 80 (15) 0,3
4
Span 80 (4,3) 11
11,3
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,033 gram dan Span 80
adalah 1,216 gram.
2) HLB Butuh 5
Tween 80 (15) 0,7
5
Span 80 (4,3) 10
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,081 gram dan Span 80
adalah 1,168 gram.
3) HLB Butuh 6
Tween 80 (15) 1,7
+
+
6
Span 80 (4,3) 9
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,198 gram dan Span 80
adalah 1,051 gram.
4) HLB Butuh 7
Tween 80 (15) 2,7
7
Span 80 (4,3) 8
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,315 gram dan Span 80
adalah 0,934 gram.
5) HLB Butuh 8
Tween 80 (15) 3,7
8
Span 80 (4,3) 7
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,432 gram dan Span 80
adalah 0,817 gram.
6) HLB Butuh 9
Tween 80 (15) 5,7
9
+
+
+
Span 80 (4,3) 6
11,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,549 gram dan Span 80
adalah 0,700 gram.
7) HLB Butuh 10
Tween 80 (15) 5,7
10
Span 80 (4,3) 5
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,665 gram dan Span 80
adalah 0,584 gram.
8) HLB Butuh 11
Tween 80 (15) 6,7
11
Span 80 (4,3) 4
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,782 gram dan Span 80
adalah 0,467 gram.
9) HLB Butuh 12
Tween 80 (15) 7,7
12
+
+
+
Span 80 (4,3) 3
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,889 gram dan Span 80
adalah 0,350 gram.
10) HLB Butuh 13
Tween 80 (15) 8,7
13
Span 80 (,3) 2
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,016 gram dan Span 80
adalah 0,233 gram.


c. Perhitungan HLB Sempit
1) HLB Butuh 11,5
Tween 80 (15) 7,2
11,5
Span 80 (,3) 3,5
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
+
+
+
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,841 gram dan Span 80
adalah 0,408 gram.
2) HLB Butuh 11,75
Tween 80 (15) 7,45
11,75
Span 80 (,3) 3,2
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,870 gram dan Span 80
adalah 0,379 gram.
3) HLB Butuh 12
Tween 80 (15) 7,7
12
Span 80 (,3) 3
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang

,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,889 gram dan Span 80
adalah 0,350 gram.
4) HLB Butuh 12,25
Tween 80 (15) 7,95
12,25
Span 80 (,3) 2,7
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
+
+
+
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,928 gram dan Span 80
adalah 0,321 gram.
5) HLB Butuh 12,5
Tween 80 (15) 8,2
12,5
Span 80 (,3) 2,5
10,7
ween yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
pan yang ditimbang
,
,
x , gram , gram
Jadi, Tween 80 yang ditimbang adalah 0,957 gram dan Span 80
adalah 0,292 gram.
d. Volume Emulsi
1) Hari pertama

, m
m
0,976

m
m
0,764

m
m
0,833

m
m
0,823

, m
m
0,833

m
m
0,8

, m
, m
0,885

m
m
0,805

, m
m
0,875

, m
, m
0,853
2) Hari kedua
+

m
m
0,952

m
m
0,794

m
m
0,833

m
m
0,823

, m
m
0,833

m
m
0,8

, m
, m
0,885

m
m
0,805

, m
m
0,875

, m
, m
0,853
3) Hari ketiga

m
m
0,952

m
m
0,794

m
m
0,833

m
m
0,823

, m
m
0,833

m
m
0,833

, m
, m
0,885

m
m
0,805

m
m
0,9

, m
, m
0,853
4) Hari keempat

m
m
0,952

m
m
0,794

m
m
0,809

m
m
0,882

m
m
0,866

m
m
0,833

, m
, m
0,885

m
m
0,805

m
m
0,9

, m
, m
0,853
e. Volume Emulsi HLB Jarak Sempit
1) Hari ke-0
,

m
m
0,73
,

, m
m
0,84

m
, m
0,73
,

m
, m
0,75
,

, m
m
0,72
2) Hari ke-1
,

m
m
0,73
,

, m
m
0,82

m
, m
0,73
,

m
, m
0,75
,

, m
m
0,72
3) Hari ke-2
,

m
m
0,73
,

, m
m
0,82

m
, m
0,73
,

m
, m
0,75
,

, m
m
0,72
4) Hari ke-3
,

m
m
0,73
,

, m
m
0,82

m
, m
0,73
,

m
, m
0,75
,

, m
m
0,72
5) Hari ke-4
,

m
m
0,73
,

, m
m
0,82

m
, m
0,73
,

m
, m
0,75
,

, m
m
0,72
6) Hari ke-6
,

m
m
0,73
,

, m
m
0,82

m
, m
0,73
,

m
, m
0,75
,

, m
m
0,72



F. Pembahasan
Emulsi adalah suatu sistem yang secara termodinamika tidak stabil,
terdiri dari paling sedikit dua fasa sebagai globul-globul dalam fasa cair
lainnya. Sistem ini biasanya distabilkan dengan emuulgator. Dalam bidang
farmasi, emulsi biasanya terdiri dari minyak dan air. Berdasarkan fasa
terdispersinya dikenal dua jenis emulsi, yaitu emulsi minyak dalam air, yaitu
bila fasa minyak terdispersi di dalam fasa dan emulsi air dalam minyak, yaitu
bila fasa air terdispersi di dalam fasa minyak.
Emulsi dapat distabilkan dengan penambahan bahan pengemulsi yang
mencegah koalesensi, yaitu penyatuan tetesan kecil menjadi tetesan besar dan
akhirnya menjadi satu fase tunggal yang memisah. Ada beberapa mekanisme
kerja zat pengemulsi yaitu dengan menurunkan tegangan permukaan air dan
minyak, pembentukan filem untuk mencegah koalesensi, pembentukan
lapisan rangkap elektrik yang berperan sebagai penghalang partikel agar tidak
saling bergabung, dan melapisi minyak dengan partikel mineral. Zat
pengemulsi yang umum digunakan dibagi menjadi empat kelompok yaitu
elektrolit, surfaktan, koloid hidrofil dan partikel padat halus.
Dalam pembuatan suatu emulsi, pemilihan emulgator merupakan faktor
yang penting untuk diperhatikan karena mutu dan kestabilan suatu emulsi
banyak dipengaruhi oleh emulgator yang digunakan. Salah satu emulgator
yang aktif permukaan atau lebih dikenal dengan surfaktan. Mekanisme
kerjanya adalah menurunkan tegangan antarmuka permukaan air dan minyak
serta membentuk lapisan film pada permukaan globul-globul fasa
terdispersinya. Mekanisme kerja emulgator surfaktan, yaitu (1) membentuk
lapisan monomolekuler, surfaktan yang dapat menstabilkan emulsi bekerja
dengan membentuk sebuah lapisan tunggal yang diabsorbsi molekul atau ion
pada permukaan antara minyak/air. Menurut hukum Gibbs kehadiran
kelebihan pertemuan penting mengurangi tegangan permukaan. Ini
menghasilkan emulsi yang lebih stabil karena pengurangan sejumlah energi
bebas permukaan secara nyata adalah fakta bahwa tetesan dikelilingi oleh
sebuah lapisan tunggal koheren yang mencegah penggabungan tetesan yang
mendekat, (2) membentuk lapisan multimolekuler, koloid lifofilik
membentuk lapisan multimolekuler disekitar tetesan dari dispersi minyak.
Sementara koloid hidrofilik diabsorbsi pada pertemuan, mereka tidak
menyebabkan penurunan tegangan permukaan. Keefektivitasnya tergantung
pada kemampuan membentuk lapisan kuat, lapisan multimolekuler yang
koheren.
HLB (Hidrofilic Lifofilic Balance) adalah nomor yang diberikan bagi
tiap-tiap surfaktan. Makin rendah nilai HLB suatu surfaktan maka akan
makin lipofil surfaktan tersebut, sedang makin tinggi nilai HLB surfaktan
akan makin hidrofil.Secara kimia, molekul surfaktan terdiri atas gugus polar
dan non polar. Apabila surfaktan dimasukkan ke dalam sistem yang dari air
dan minyak, makaguugus polar akanterarahkefasa air sedangkan gugus non
polar terarah ke fasa minyak. Surfaktan yang mempunyai gugus polar lebih
kuat akan cenderung membentuk emulsi minyak dalam air, sedangkan bila
gugus non polar yang lebih kuat maka akan cenderung membentuk emulsi air
dalam minyak.
Kestabilan suatu emulsi adalah kemampuan suatu emulsi untuk
mempertahankan distribusi yang teratur dari fase terdispersi dalam jangka
waktu yang lama. Penurunan stabilitas dapat dilihat jika terjadi campuran (Bj
fase terdispersi lebih kecil dari Bj fase pendispersi ). Hal ini menyebabkan
pemisahan dari kedua fase emulsi.
Pada percobaan ini mula-mula dilakukan adalah menentukan jumlah span
dan tween yang akan digunakan dan bahan yang lainnya. Pencampuran bahan
berdasarkan dari sifat bahan itu sendiri.Bahan yang berfase air dicampur
dengan fase air itu dan untuk fase minyak juga pada fase minyak. Pada
percobaan ini untuk fase air digunakan tween 80 dan air, sedangkan untuk
fase minyak yaitu span 80 dan paraffin cair yang dicampurkan di dalam
cawan porselen. Kemudian pencampuran dilakukan pada suhu 60
o
C.
Alasannya, kedua fase tersebut memiliki suhu lebur yang sama yaitu pada
suhu 60
o
C sehingga dapat diperoleh emulsi yang baik dan tidak pecah.
Kemudian campuran ini diaduk dengan menggunakan batang pengaduk.
Pengadukan ini dilakukan untuk memberikan kesempatan pada minyak untuk
terdispersi ke dalam air dengan baik serta emulgator dapat membentuk
lapisan film pada permukaan fase terdispersi.
Pengamatan emulsi dilakukan selama 5 dari hari ke-0 sampai hari ke-
4yang bertujuan untuk melihat pemisahan antara fase air dan fase minyak,
perubahan warna dari kedua fase tersebut, dan volume dari emulsi setelah 5
hari kemudian.Emulsi dapat dikatakan stabil apabila nilai perbandingan
Hv/Ho emulsi yang diperoleh memiliki atau mendekati angka yang stabil atau
mendekati nilai satu dari perbandingan yang diperoleh pada hari pertama,
dimana Hv adalah tinggi emulsi pada awal pengamatan dan Ho adalah tinggi
awal dari emulsi. Dari hasil pengamatan, maka diperoleh data bahwa
pemisahan atau perubahan warna pada sediaan emulsi tidak jauh berbeda dan
menunjukkan hasil yang sama mulai dari hari ke 0 hingga hari ke 5.
Perbedaan yang terjadi hanya ditunjukkan oleh emulsi dengan HLB 4 dan
HLB 12. Pada HLB 4, pemisahan yang terbentuk di hari ke 1 adalah 0,97 dan
pada hari ke 2 hingga hari ke 4 pemisahan yang terbentuk menunjukkan
angka yang stabil yaitu 0,95. Selanjutnya adalah HLB 12 yang pada hari ke 1
adalah 0,87 dan pada hari ke 3 dan ke-4 adalah 0,9. Menurut literatur, emulsi
yang stabil seharusnya dapat mempertahankan nilai perbandingan Hv/Ho ,
namun berbeda dengan HLB 4 dan HLB 12. Ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi kestabilan, yaitu teknik pembuatan, penambahan garam atau
elektrolit lemah dalam konsentrasi besar mempengaruhi kestabilan emulsi,
pengocokan yang keras, apabila emulsi dikocok keras-keras maka partikel-
partikel kecil akan mengadakan kontak menjadi partikel yang lebih besar
sehingga emulsi akan pecah dan faktor penyimpanan.
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh bahwa pada emulsi dengan HLB
4 dan HLB 12 memiliki nilai yang mendekati satu yang menandakan bahwa
nilai HLB tersebut mampu menjaga tingkat kestabilannya dengan
mempertahankan distribusi yang teratur dari fase terdispersi dalam jangka
waktu yang lama. Hal ini menandakan bahwa nilai HLB butuh minyak adalah
HLB 4.
G. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan
bahwa:
1. Emulsi adalah sistem dua fase yang salah satu cairannya terdispersi
dalam cairan yang lain, dalam bentuk tetesan kecil.
2. Zat pengemulsi yang umum digunakan dibagi menjadi empat kelompok
yaitu elektrolit, surfaktan, koloid hidrofil dan partikel padat halus.
3. HLB (Hidrophyl Liphopyl Balance) adalah angka yang menunjukkan
perbandingan antar kelompok lipofil dan hidrofilik.
4. Emulsi dikatakan stabil apabila nilai perbandingan Hv/Ho emulsi
memiliki angka yang stabil dari perbandingan yang didapatkan konstan
selama pengamatan.
5. Nilai HLB butuh minyak yang diperoleh adalah HLB 4.



DAFTAR PUSTAKA

Anief, M..1999. Sistem Dispersi, Formulasi Suspensi dan Emulsi. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

Anonim.1978. Formularium Nasional, Edisi Kedua. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta.

Ansel, H. C.1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, Edisi Keempat.
Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Aulton, M. E. 1988. Pharmaceutics, The Science of Dosage Form Design.
Churchill Livingstone. London.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes R. Jakarta.

Gennaro, A. R. 1990. Remingtons Pharmaceutical Science, Volume 2 Easton.
Mack Publishing Company. Pennsylvania.

Jufri, Mahdi.,dkk. 2004. Formulasi Gameksan Dalam Bentuk Mikroemulsi. Jurnal
Ilmu Kefarmasian Volume I Nomor III.

Jufri, Mahdi., dkk. 2006. Uji Stabilitas Sediaan Mikroemulsi Menggunakan
Hidrolisa Pati (DE 3540) Sebagai Stabilizer. Jurnal Ilmu Kefarmasian
Volume III Nomor I.

Marzuki, Asnah., dkk. 2011. Ekstraksi dan Penggunaan Gelatin Dari Limbah
Tulang Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) Sebagai Emulgator Dalam
Formulasi Sediaan Emulsi. Jurnal Farmasi dan Farmakologi Volume 15
Nomor 2.

Parrot, E.L. 1971. Pharmaceutical Technology. Burgess Publishing. USA.

Syamsuni, H. A., 2006. Ilmu Resep. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.