Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN DISLOKASI HIP

A. Pengertian
Dislokasi ialah keluarnya (bercerainya) kepala sendi dari mangkuknya.
Dislokasi merupakan suatu kedaruratan yang memerlukan pertolongan segera
(Kapita Selecta Kedokteran, 2000).
Dislocasi panggul (HI) adalah suatu keadaan dimana ter!adi perpindahan
permukaan sentuh caput "emoris terhadap acetabulum. Dislocasi ter!adi ketika
caput "emoris keluar dari acetabulum. Kondisi ini dapat congenital atau didapat
(ac#uired
B. Anatomi Fisiologi
$ulang pel%is adalah penghubung antara badan dan anggota ba&ah yaitu
tulang sakrum dan koksigis bersendi antara satu dengan yang lainnya. ada
sim"asis pubis pel%is terbagi atas 2 bagian '
(. el%is mayor atau rongga panggul besar.
2. el%is minor atau rongga panggul kecil
Di antara ke 2 rongga tersebut dibatasi oleh garis tepi atau linea terminalis.
Sendi ) sendi pel%is antara lain ' sendi sakro iliaka adalah sendi antara ilium
yang disebut aurikuler dan kedua sisi sakrum, gerakan ini sangat sedikit karena
ligamennya sangat kuat menyatukan permukaan sendi sehingga membatasi
gerakan ke seluruh !urusan.
C. Epidemiologi
Dengan meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas, dislocasi panggul
traumatik makin sering ditemukan. Dislocasi panggul ini dapat ter!adi pada
semua kelompok usia. Dislocasi panggul posterior merupakan dislocasi yang
paling sering ter!adi. Dislocasi panggul posterior ter!adi sebanyak *0+ dari
kasus, sedangkan dislocasi panggul anterior ter!adi sebanyak (0+ dari seluruh
kasus dislocasi panggul traumatic.

Gambar 1. Mekanisme cedera pada dislocasi HIP
D. Etiologi
(. ,edera olah raga
-lah raga yang biasanya menyebabkan dislokasi adalah sepak bola dan
hoki, serta olah raga yang beresiko !atuh misalnya ' terperosok akibat
bermain ski, senam, %olley. emain basket dan pemain sepak bola paling
sering mengalami dislokasi pada tangan dan !ari.!ari karena secara tidak
senga!a menangkap bola dari pemain lain.
2. $rauma yang tidak berhubungan dengan olah raga
/enturan keras pada sendi saat kecelakaan motor biasanya menyebabkan
dislokasi
0. $er!atuh
$er!atuh dari tangga atau ter!atuh saat berdansa diatas lantai yang licin
1aktor predisposisi(pengaturan posisi)
akibat kelainan pertumbuhan se!ak lahir.
$rauma akibat kecelakaan.
$rauma akibat pembedahan ortopedi
$er!adi in"eksi disekitar sendi.
E. Klasii!asi
Dislokasi hip ada 0 macam, yaitu dislokasi posterior, dislokasi anterior, dan
dislokasi central.
(. Dislokasi posterior
Dislokasi posterior hip !oint biasa disebabkan oleh trauma. Ini ter!adi pada
a2is longitudinal pada "emur saat "emur dala keadaan "leksi *0o dan sedikit
adduksi.
emeriksaan pada penderita dislokasi posterior hip !oint akan menun!ukkan
tanda yang abnormal. aha (pada bagian yang mengalami dislokasi)
diposisikan sedikit "leksi, internal rotasi dan adduksi. Ini merupakan posisi
menyilang karena kaput "emur terkunci pada bagian posterior asetabulum.
Salah satu bagian pemeriksaan adalah memeriksa kemampuan sensorik dan
motorik e2tremitas ba&ah dari bagian ba&ah hingga ke panggul yang
mengalami dislokasi, karena kurangnya kepekaan sara" pada panggul
merupakan suatu komplikasi masalah yang tidak la3im pada kasus dislokasi
hip !oint.
2. Dislokasi anterior
ada cedera ini pederita biasanya ter!atuh dari suatu tempat tinggi dan
menggeserkan kaput "emur di depan asetabulum.
emeriksaan dislokasi anterior, kaki dibaringkan eksorotasi dan seringkali
agak "leksi. Dalam posisi adduksi tapi tidak dalam posisi menyilang.
enderita tidak dapat bergerak "leksi secara akti" ketika dalam keadaan
dislokasi. Kaput "emur !elas berada di depan triangle "emur.
0. Dislokasi central 4 obturator
Dislokasi obturator ini sangat tidak umum di!umpai. Dislokasi obturator
disebabkan karena gerakan abduksi yang berlebih (hiper.abduksi) dari
panggul yang normal yang disebabkan karena trokantor mayor bergerak
berla&anan dengan pel%is untuk mengungkit kaput "emur keluar dari
asetabulum.
emeriksaan, panggul akan sangat terlihat dalam posisi abduksi dan tidak
dapat diba&a ke posisi normal tanpa penyesuaian dari pel%is. Kelainan sara"
sangat !arang terlihat pada kasus seperti ini.
F. "anda dan #e$ala
(. De"ormitas pada persendiaan
Kalau sebuah tulang diraba secara sering akan terdapat suatu celah.
2. 5angguan gerakan
-tot ) otot tidak dapat beker!a dengan baik pada tulang tersebut.
0. embengkakan
embengkakan ini dapat parah pada kasus trauma dan dapat menutupi
de"ormitas.
6. 7asa nyeri terdapat sering ter!adi pada dislokasi
Sendi bahu, sendi siku, metakarpal phalangeal dan sendi pangkal paha
ser%ikal.
#. Patoisiologi
Dislokasi panggul paling sering dialami oleh de&asa muda dan biasanya
diakibatkan oleh abdukasi. 8kstensi dan ekstra traumatik yang berlebihan.
,ontohnya posisi melempar bola berlebihan. ,aput humeri biasanya bergeser ke
anterior dan in"erior melalui robekan traumatik pada kapsul sendi panggul.
Skema ato"isiologis
9bdukasi
osisi 8kstensi
9kstra $raumatik
ergeseran /erlebihan dan
Dalam :aktu ,epat
Dislokasi In"erior
Kekakuan Sendi
Karena
$er!adi ;Dislokasi<
Dengan tanda '
- =
yeri
- /
engkak
- K
aku sendi
Dislokasi 9nterior
H. Pat%&a'
I. Penatala!sanaan
Dislocasi harus direduksi secepat mungkin di ba&ah anestesi umum. 7eduksi
harus dilakukan dalam &aktu (2 !am se!ak ter!adinya dislocasi.
6(
ada sebagian
besar kasus dilakukan reduksi tertutup, namun !ika reduksi tertutup gagal
sebanyak 2 kali maka harus dilakukan reduksi terbuka untuk mencegah
kerusakan caput femoris lebih lan!ut.
(0
Sebelum melakukan reduksi, sebaiknya
dilakukan pemeriksaan neuro%askular.
Indikasi reduksi tertutup'
Dislocasi dengan atau tanpa de"isit neurologis !ika tidak ada "racture.
Dislocasi yang disertai "racture !ika tidak terdapat de"isit neurologis.
Kontraindikasi reduksi tertutup'
Dislocasi panggul terbuka.
/erikut ini adalah beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mereduksi
dislocasi panggul posterior sederhana (tipe I 8pstein).
(>,0?
(. (an)*er Allis
1. Pasien
berbaring
dalam posisi
supine.
2. Seorang
asisten
menekan
spina iliaca
anterior
superior.
3. Operator
memegang
tungkai yang
mengalami
dislokasi pada
pergelangan
kaki
menggunakan
satu tangan.
4. Lengan
bawah
operator
diletakkan di
bawah lutut
lalu lakukan
traksi
longitudinal
se!a!ar
de"ormitas.
#. Paha dalam
posisi adduksi
dan
endorotasi
lalu di"leksikan
$%%. &indakan
ini
merelaksasikan
ligamen
ilio"emoral.
'.Setelah traksi
dipertahankan
caput "emoris
diungkit ke
dalam
acetabulum
dengan
abduksi rotasi
eksternal dan
ekstensi
pinggul.
2. Manuver Stimson
@anu%er ini menggunakan berat tungkai ba&ah dan gra%itasi untuk
mengurangi dislocasi.
1. Pasien ditempatkan di atas me!a
dalam posisi telungkup.
2. &ungkai yang mengalami
dislokasi digantungkan ke
bawah dan lutut di"leksikan.
3. Seorang asisten memegang
tungkai yang sehat secara
hori(ontal.

4. Operator memberi tekanan ke
bawah secara mantap pada lutut
yang "leksi.
#. Posisi ini tetap dipertahankan
hingga otot-otot relaksasi dan
caput femoris turun ke
acetabulum. )adang-kadang
dengan sedikit mengayunkan
paha dapat mempercepat
reduksi.



0. Maneuver Bigelow

1. Pasien
dibaringkan di
lantai dalam
posisi supine.
2. Seorang
asisten
menekan spina
iliaca anterior
superior.
3. *ngkat
tungkai yang
mengalami
dislokasi dan
"leksikan sendi
pinggul dan lutut.
4. +otasikan
tungkai ke
posisi netral.
#. ,uat traksi
yang mantap pada
tungkai bawah ke
arah atas angkat
caput femoris ke
dalam
acetabulum.
'. Setelah traksi
ke atas selesai
letakkan paha
ke bawah
dalam posisi
ekstensi.
6. Teknik Wistler
anggul yang mengalami dislocasi direlokasikan menggunakan lengan
operator untuk mengangkat dan memanu%er tungkai yang mengalami
dislocasi ketika bahu operator diangkat. $angan operator bertumpu pada
paha kontralateral. Seorang asisten atau tangan lain operator melakukan
kontratraksi pada tibia atau "ibula.
Gambar !1. Teknik Wistler
-.iunduh dari/ http/00www.accessemergencymedicine.com1
+. Kompli!asi
(. Komplikasi yang dapat menyertai dislokasi antara lain '
a. 1raktur.
b. Kontraktur.
c. $rauma !aringan.
2. Komplikasi yang dapat ter!adi akibat pemasangan traksi '
a. Dekubitus
b. Kongesti paru dan pneumonia
c. Konstipasi
d. 9noreksia
e. Stasis dan in"eksi kemih
". $rombosis %ena dalam
"S#H"$ %&P&'"W"T"$ (&$G"$
(IS)*%"SI HIP
A. Peng!a$ian
engka!ian merupakan tahap a&al dan landasan dalam proses kepera&atan,
untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah.masalah klien
sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan kepera&atan.
Keberhasilan proses kepera&atan sangat bergantuang pada tahap ini. $ahap
ini terbagi atas'
a. engumpulan Data
() 9namnesa
a) Identitas Klien
@eliputi nama, !enis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa
yang dipakai, status perka&inan, pendidikan, peker!aan,
asuransi, golongan darah, no. register, tanggal @7S,
diagnosa medis.
b) Keluhan Atama
ada umumnya keluhan utama pada kasus "raktur adalah
rasa nyeri. =yeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung
dan lamanya serangan. Antuk memperoleh pengka!ian yang
lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan'
(() ro%oking Incident' apakah ada peristi&a yang men!adi
yang men!adi "aktor presipitasi nyeri.
(2) Buality o" ain' seperti apa rasa nyeri yang dirasakan
atau digambarkan klien. 9pakah seperti terbakar,
berdenyut, atau menusuk.
(0) 7egion ' radiation, relie"' apakah rasa sakit bisa reda,
apakah rasa sakit men!alar atau menyebar, dan dimana
rasa sakit ter!adi.
(6) Se%erity (Scale) o" ain' seberapa !auh rasa nyeri yang
dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri atau
klien menerangkan seberapa !auh rasa sakit
mempengaruhi kemampuan "ungsinya.
(?) $ime' berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah
bertambah buruk pada malam hari atau siang hari.
(Ignata%icius, Donna D, (**?)
c) 7i&ayat enyakit Sekarang
engumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab
dari "raktur, yang nantinya membantu dalam membuat
rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
ter!adinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa
ditentukan kekuatan yang ter!adi dan bagian tubuh mana
yang terkena. Selain itu, dengan mengetahui mekanisme
ter!adinya kecelakaan bisa diketahui luka kecelakaan yang
lain (Ignata%icius, Donna D, (**?).
d) 7i&ayat enyakit Dahulu
ada pengka!ian ini ditemukan kemungkinan penyebab
"raktur dan memberi petun!uk berapa lama tulang tersebut
akan menyambung. enyakit.penyakit tertentu seperti kanker
tulang dan penyakit pagetCs yang menyebabkan "raktur
patologis yang sering sulit untuk menyambung. Selain itu,
penyakit diabetes dengan luka di kaki sanagt beresiko
ter!adinya osteomyelitis akut maupun kronik dan !uga
diabetes menghambat proses penyembuhan tulang
(Ignata%icius, Donna D, (**?).
e) 7i&ayat enyakit Keluarga
enyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang
merupakan salah satu "aktor predisposisi ter!adinya "raktur,
seperti diabetes, osteoporosis yang sering ter!adi pada
beberapa keturunan, dan kanker tulang yang cenderung
diturunkan secara genetik (Ignata%icius, Donna D, (**?).
") 7i&ayat sikososial
@erupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang
dideritanya dan peran klien dalam keluarga dan masyarakat
serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari.
harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat
(Ignata%icius, Donna D, (**?).
g) ola.ola 1ungsi Kesehatan
(() ola ersepsi dan $ata Daksana Hidup Sehat
ada kasus "raktur akan timbul ketidakutan akan ter!adinya
kecacatan pada dirinya dan harus men!alani
penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan
tulangnya. Selain itu, pengka!ian !uga meliputi kebiasaan
hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat
mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol
yang bisa mengganggu keseimbangannya dan apakah klien
melakukan olahraga atau tidak.(Ignata%icius, Donna D,(**?).
(2) ola =utrisi dan @etabolisme
ada klien "raktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi
kebutuhan sehari.harinya seperti kalsium, 3at besi, protein,
%it. , dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
tulang. 8%aluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan penyebab masalah muskuloskeletal dan
mengantisipasi komplikasi dari nutrisi yang tidak adekuat
terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar matahari
yang kurang merupakan "aktor predisposisi masalah
muskuloskeletal terutama pada lansia. Selain itu !uga
obesitas !uga menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
(0) ola 8liminasi
Antuk kasus "raktur humerus tidak ada gangguan pada pola
eliminasi, tapi &alaupun begitu perlu !uga dika!i "rekuensi,
konsistensi, &arna serta bau "eces pada pola eliminasi al%i.
Sedangkan pada pola eliminasi uri dika!i "rekuensi,
kepekatannya, &arna, bau, dan !umlah. ada kedua pola ini
!uga dika!i ada kesulitan atau tidak. (Keliat, /udi 9nna, (**()
(6) ola $idur dan Istirahat
Semua klien "raktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak,
sehingga hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur
klien. Selain itu !uga, pengka!ian dilaksanakan pada lamanya
tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur, dan kesulitan
tidur serta penggunaan obat tidur (Doengos. @arilynn 8,
(***).
(?) ola 9kti%itas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua
bentuk kegiatan klien men!adi berkurang dan kebutuhan klien
perlu banyak dibantu oleh orang lain. Hal lain yang perlu
dika!i adalah bentuk akti%itas klien terutama peker!aan klien.
Karena ada beberapa bentuk peker!aan beresiko untuk
ter!adinya "raktur dibanding peker!aan yang lain (Ignata%icius,
Donna D, (**?).
(>) ola Hubungan dan eran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam
masyarakat. Karena klien harus men!alani ra&at inap
(Ignata%icius, Donna D, (**?).
(E) ola ersepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien "raktur yaitu timbul
ketidakutan akan kecacatan akibat "rakturnya, rasa cemas,
rasa ketidakmampuan untuk melakukan akti%itas secara
optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan body image) (Ignata%icius, Donna D, (**?).
(F) ola Sensori dan Kogniti"
ada klien "raktur daya rabanya berkurang terutama pada
bagian distal "raktur, sedang pada indera yang lain tidak
timbul gangguan.begitu !uga pada kogniti"nya tidak
mengalami gangguan. Selain itu !uga, timbul rasa nyeri
akibat "raktur (Ignata%icius, Donna D, (**?).
(*) ola 7eproduksi Seksual
Dampak pada klien "raktur yaitu, klien tidak bisa melakukan
hubungan seksual karena harus men!alani ra&at inap dan
keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami klien.
Selain itu !uga, perlu dika!i status perka&inannya termasuk
!umlah anak, lama perka&inannya (Ignata%icius, Donna D,
(**?).
(0) ola enanggulangan Stress
ada klien "raktur timbul rasa cemas tentang keadaan
dirinya, yaitu ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan
"ungsi tubuhnya. @ekanisme koping yang ditempuh klien bisa
tidak e"ekti" (Ignata%icius, Donna D, (**?).
2) emeriksaan1isik
Dibagi men!adi dua, yaitu pemeriksaan umum (status generalisata)
untuk mendapatkan gambaran umum dan pemeriksaan setempat
(lokalis). Hal ini perlu untuk dapat melaksanakan total care karena
ada kecenderungan dimana spesialisasi hanya memperlihatkan
daerah yang lebih sempit tetapi lebih mendalam.
a) 5ambaran Amum
erlu menyebutkan'
(() Keadaan umum' baik atau buruknya yang dicatat
adalah tanda. tanda, seperti'
(a) Kesadaran penderita' apatis, sopor, koma, gelisah,
komposmentis tergantung pada keadaan klien.
(b) Kesakitan, keadaan penyakit' akut, kronik, ringan,
sedang, berat dan pada kasus "raktur biasanya
akut.
(c) $anda.tanda %ital tidak normal karena ada
gangguan baik "ungsi maupun bentuk.
(2) Secara sistemik dari kepala sampai kelamin
b) Keadaan Dokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal
terutama mengenai status neuro%askuler. emeriksaan pada
sistem muskuloskeletal adalah'
(() Dook (inspeksi)
erhatikan apa yang dapat dilihat antara lain'
(a) ,ictriks (!aringan parut baik yang alami maupun
buatan seperti bekas operasi).
(b) ,ape au lait spot (birth mark).
(c) 1istulae.
(d) :arna kemerahan atau kebiruan (li%ide) atau
hyperpigmentasi.
(e) /en!olan, pembengkakan, atau cekungan dengan
hal.hal yang tidak biasa (abnormal).
(") osisi dan bentuk dari ekstrimitas (de"ormitas)
(g) osisi !alan (gait, &aktu masuk ke kamar periksa)
(2) 1eel (palpasi)
ada &aktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita
diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). ada
dasarnya ini merupakan pemeriksaan yang memberikan
in"ormasi dua arah, baik pemeriksa maupun klien. Gang
perlu dicatat adalah'
(a) erubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan
kelembaban kulit.
(b) 9pabila ada pembengkakan, apakah terdapat
"luktuasi atau oedema terutama disekitar
persendian.
(c) =yeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak
kelainan ((40 proksimal,tengah, atau distal).
-tot' tonus pada &aktu relaksasi atau konttraksi,
ben!olan yang terdapat di permukaan atau melekat
pada tulang. Selain itu !uga diperiksa status
neuro%askuler. 9pabila ada ben!olan, maka si"at
ben!olan perlu dideskripsikan permukaannya,
konsistensinya, pergerakan terhadap dasar atau
permukaannya, nyeri atau tidak, dan ukurannya.
(0) @o%e (pergeraka terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan "eel, kemudian
diteruskan dengan menggerakan ekstrimitas dan dicatat
apakah terdapat keluhan nyeri pada pergerakan.
encatatan lingkup gerak ini perlu, agar dapat
menge%aluasi keadaan sebelum dan sesudahnya.
5erakan sendi dicatat dengan ukuran dera!at, dari tiap
arah pergerakan mulai dari titik 0 (posisi netral) atau
dalam ukuran metrik. emeriksaan ini menentukan
apakah ada gangguan gerak (mobilitas) atau tidak.
ergerakan yang dilihat adalah gerakan akti" dan pasi".
(7eksoprod!o, Soelarto, (**?)
B. (iagnosa keperawatan
.2.1 3yeri *kut
3o.iagnosa )eperawatan&u!uan dan )riteria 4asil +encana &indakan +asional
1 3yeri akut
berhubungan dengan
agen penyebab
cedera-
5isik-trauma
kecelakaan dan cedera
olahraga1-
.S/ klien melaporkan
adanya nyeri.-
.O/ klien tampak
berperilaku distraksi
-mondar mandir
akti6itas berulang
memegang daerah
nyeri1 perilaku
ekspresi"-gelisah
meringis menangis
menghela napas
pan!ang1

Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 7224
!am diharapkan dengan
kriteria hasil /
1. 8emperlihatkan
pengendalian nyeri.
2. 8elaporkan tidak
adanya nyeri
3. &idak menun!ukan
adanya nyeri
meningkat.-tidak
ada ekspresi nyeri
pada wa!ahtidak
gelisah atau
ketegangan
otottidak merintih
atau menangis.1

1. Obser6asi keadaan umum
pasien-tingkat nyeri dan &&91
2. ,eri posisi nyaman-semi
"owler1
3. ,erikan kompres hangat pada
lokasi dislokasi
4. *!arkan teknik distraksi dan
relaksasi
#. ,eri 4: tentang penyebab
nyeri dan antisipasi
ketidaknyamanan
'. )olaborasi dalam pemberian
analgetik
.
1. 8engetahui keadaan
umum pasien dan tingkat
nyeri pasien
2. Posisi semi "owler dapat
meminimalkan nyeri
pada dislokasi
3. )ompres hangat
berperan dalam
6asodilatasi pembuluh
darah.
4. &eknik distraksi dan
relaksasi ber"ungsi dalam
mengalihkan "okus nyeri
pasien
#. Penanaman 4: pada
pasien ber"ungsi untuk
mengurangi kecemasan
pasien terhadap
kondisinya
'. *nalgetik dapat
mengurangi rasa nyeri
pada dislokasi
.2 2/ 4ambatan mobilitas "isik
3o .iagnosa )eperawatan &u!uan dan )riteria 4asil +encana &indakan +asional
2 4ambatan mobilitas "isik
berhubungan dengan gangguan
muskuloskletal-
.S/ pasien mengeluh sulit dalam
bergerak-
.O/ tidak dapat melakukan akti6itas
secara mandiri gerakan tidak teratur
atau tidak terkoordinasi
Setelah diberikan asuhan
keperawatan selama 7
224 !am diharapkan
klien dapat melakukan
mobilisasi dengan teratur
dengan kriteria hasil /
1. )lien mengatakan
dapat melakukan
pergerakan
dengan bebas
2. ;erakan pasien
terkoordinir
3. Pasien dapat
melakukan
akti6itas secara
mandiri

1. Obser6asi
keadaan
umum-tingkat
mobilitas dan
kekuatan otot1
2. *!arkan +O8
3. Pengaturan posisi
4. ,erikan bantuan
perawatan diri/
berpindah
#. ,erikan 4:
tentang latihan
"isik
'. )olaborasi
dengan ahli
"isioterapi dalam
memberikan
terapi yang tepat
1. 8enun!ukkan tingkat
mobilisasi pasien dan
menentukan inter6ensi
selan!utnya
2. 8empertahankan atau
meningkatkan kekuatan
dan ketahanan otot
3. 8eningkatkan
kese!ahteraan "isiologis
dan psikologis
4. 8embantu indi6idu
mengubah posisi
tubuhnya
#. 8engubah persepsi
pasien terhadap latihan
"isik
'. 8engembalikan posisi
tubuh autonom dan
6olunter selama
pengobatan dan
pemulihan dari posisi
sakit atau cedera
.2 3/ )etidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3o .iagnosa )eperawatan &u!uan dan )riteria
4asil
+encana &indakan +asional
3 )etidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan kesulitan
mengunyah atau menelan.-
.S/ pasien mengeluh susah
mengunyah pasien mengatakan
na"su makan menurun-
.O/ pasien tampak lemas
mukosa bibir kering tampak
kurang berminat terhadap
makanan
Setelah diberikan
asuhan keperawatan
selama 7224 !am
diharapkan kebutuhan
nutrisi klien dapat
terpenuhi secara adekuat
dengan kriteria
hasil/11 Pasien tidak
melaporkan kesulitan
mengunyah21 3a"su
makan pasien kembali
baik31 )eadaan
umum pasien kembali
normal
1. )a!i "aktor penyabab
kesulitan mengunyah
2. Letakkan makanan pada
bagian mulut yang tidak
mengalami masalah
3. *tur posisi pasien-semi
"owler1
4. )olaborasi dalam
pemasangan alat
in6asi"-3;&1
1. 8engetahui "aktor
penyebab kesulitan
mengunyah dan
menentukan
inter6ensi
selan!utnya
2. 8engurangi akti6itas
pada rahang yang
sakit
3. Posisi semi "owler
dapat mencegah
aspirasi
4. 8empertahankan
asupan nutrisi pasien
D91$97 AS$9K9
/runner, Suddarth. 2002. /uku 9!ar kepera&tan medikal bedah, edisi F
%ol.0. 85,. Hakarta
,arpenito, DH. 200(. /uku Saku Diagnosa Kepera&atan edisi > . Hakarta'
85,
Doengoes, @.8., 2000, 7encana 9suhan Kepera&atan, 85,, Hakarta.
Ircham @ach"oed3, 200E. ertolongan ertama di 7umah, di $empat
Ker!a, atau di er!alanan. Gogyakarta' 1itramaya
Hohnson, @., et all. 2000. =ursing -utcomes ,lassi"ication (=-,) Second
8dition. =e& Hersey' Apper Saddle 7i%er
@ans!oer, 9 dkk. 200E. Kapita Selekta Kedokteran, Hilid ( edisi 0. Hakarta'
@edia 9esculapius
@utta#im, 9ri". (200F). /uku 9!ar 9suhan Kepera&atan Klien gangguan
Sistem @uskuloskeletal. Hakarta.85,
@c ,loskey, ,.H., et all. (**>. =ursing Inter%entions ,lassi"ication (=I,)
Second 8dition. =e& Hersey' Apper Saddle 7i%er
Santosa, /udi. 200E. anduan Diagnosa Kepera&atan =9=D9 200?.
200>. Hakarta' rima @edika
Smelt3er, S.,., 200(, /uku 9!ar Kepera&atan @edikal /edah, 85,,
Hakarta.
LAPORAN PENDAHULUAN DISLOKASI DI RUAN# PERA,A"AN
OR"OPEDI BLUD RSUD ULIN BAN+AR(ASIN
Disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan stage
Kepera&atan @edikal /edah
Di 7SAD ADI=
Dis)s)n Ole%
NO-IA LES"ARI S.KEP
./.NS.012
PRO#RA( PENDIDIKAN PROFESI NERS
SEKOLAH "IN##I IL(U KESEHA"AN SARI (ULIA
30./