Anda di halaman 1dari 177

PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN DALAM JUAL BELI OBAT-OBATAN

TRADISIONAL (CINA)
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas
Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum
Oleh :
NENNY MERINA SARAGIH
NIM : 000200124
Raglan : Hukum Keperdataan
Program Kekhususan : Hukum Perdata Dagang

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2004





PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN DALAM
DUAL BELI OBAT-OBATAN TRADISIONAL (CINA)
SKRIPSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas
Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum
Oleh
NENNY MERINA SARAGIH
NMI: 000200124
Bagian: Hukum Keperdataan.
Program Kekhususan : Perdata Dagang

Disetujui Ole
Ke laBagian Hukum p7r
/
4
r/e-
6C't

( H. ABDUL MUI SH CIS
NIP: 130.702.285


Dosen Pem imbing II
4,
L
_Q
s
j, rkZ
( Dr. RUNTUNG S ) ( RAMLI SIREGAR, SH. M:Hum )
NIP : 131.281.010
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2004

NIP: 131.460.769


PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN
DALAM JUAL BELI OBAT-OBATAN TRADISIONAL (UNA)
SKR1PSI
Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas
Dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum
Oleh
NENNY MERINA SARAGIH
NMI :000200124
Bagian : Hukum Keperdataan
Program Kekhususan : Perdata Dagang
Dis ujui Oleh
B
i c
5 1 a t a a h
r
ABD L MUIS, SH, MS )
NIP: 130.702.285

( Dr. RUNTUNG MHum ) ( RAMLI SIREGAR, SH. MHum ) NIP:
131.460.769 NIP : 131.281.010
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2004


Dosen Pembimbing II




KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Allah yang telah
memberikan berkat kekuatan dan berkatNya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi ini disusun guna melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syaratsyarat
guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara Medan. Guna maksud tersebut, penulis telah memilih judul :
" Perlindungan Hukum Konsumen Dalam Jual Beli Obat-obatan Tradisional
(Cina)"
Dalam penyelesaian skripsi ini, kiranya tidak tercipta begitu saja
melainkan merupakan hasil pelajaran yang penulis terima selama mengikuti
perkuliahan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan juga data dan
informasi yang penulis dapatkan dari hasil riset di Balai Pengawas Obat dan
Makanan dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Medan.
Disamping itu, hingga selesainya skripsi ini penulis banyak mendapat
bimbingan, pengarahan, saran dan bantuan baik berupa tenaga, materi maupun
dorongan semangat dari berbagai pihak yang sangat bermanfaat bagi penulis.
Untuk itu penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak H. Hasnu Bash siregar, SH, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara
2. Bapak Dr. Runtung, SH. MHum, sebagai Dosen Pembimbing I penulis



3. Bapak Ram Siregar, SH, MHum, sebagai Dosen Pembimbing II penulis
4. Bapak H. Abdul Muis, SH, MS, sebagai Kepala Bagian Hukum Keperdataan di
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
5. Guru-guru besar serta seluruh civitas akademi Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama kuliah di
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
6. Kepada Balai Pengawas Obat dan Makanan dan juga Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia (YLKI)
Tidak terlupa ucapan terimakasih penulis kepada orang-orang yang sangat
istimewa dihati penulis. Penulis persembahkan karya penulis ini kepada kedua
orangtua penulis yang tercinta yang telah membesarkan penulis dan memberikan cinta
kasih yang begitu besar kepada penulis, memberikan kehangatan dan senyuman
yang tulus. Kepada Ayahanda tercinta aim. P.Saragih dan Ibunda tersayang D.
Purba. Juga kepada semua kakak dan abang penulis yang begitu
memperhatikan,mendoakan dan menasehati penulis, buat Dra. Ronnyta Saragih,
Ropince Saragih Amd, Ir. Farida Saragih, Pronika Saragih, SE, Benson Saragih, SE,
Dra. Lisbet Saragih, Desliana Saragih, SE dan juga semua keponakanku yang kusayangi
( Tessa, Fhilip, Zepanya, Michael, Batistuta, Yehezkiel)
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua teman-teman yang telah
mewarnai hidup penulis dengan sukacita, kepada semua pengurus UP KMK FH USU,
K'Masta, K'Anna, Katarina, Ocha,Tesa, Nora, Patriana, Novi, Hani, Dede,
Johanes, Maurids, Echy, Putri. Juga kepada adik-adik yang paling disayangi,
bunt Yanti, Dona, Olin, Silvana, Berthy, especially Riris (makasih ya



ifi
dek bust bantuannya). Dan sahabat-sahabat terbaik penulis, Masta, Akun, Heryani yang
telah banyak mewarnai hidup penulis dan membantu penulis, juga kepada seluruh
pihak dan rekan-rekan yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.
Akhir kata penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak, walaupun penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna.
Medan, Maret 2004
Hormat Saya
NENNY MERINA SARAGIH
NIM :000200124




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................
DAFTAR 1ST
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................ 1
B. Perumusan Masalah .............................................................. 9
C. Tujuan clan Manfaat Penulisan ................................................. 10
D. Keaslian Penulisan ........................................................... 10
E. Tinjauan Kepustakaan ......................................................... 11
F. Metode Penulisan ........................................................... 12
G. Sistemati ka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 13
BAB 11. GAMBARAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
A. Pengertian dan Konsepsi Mengenai Konsumen ............................ 15
B. Latar Belakang Lahirnya Hukum Perlindungan Konsumen ............. 21
C. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen .................................... 27
D. Hak dan Kewajiban Konsumen ................................................ 35
E. Hak dan Kewajiban Produsen ..................................................... 44
BAB HI. GAMBARAN UMUM TENTANG JUAL BELI
A. Pengertian Jual Beli ............................................................... 49
B. Objek Jual Beli ................................................................ 56



C. Kewajiban Para Pihak Dalam Jual Beli .................................... 60
D. Resiko Yang Timbul Dalam Jual Beli ............................................ 71
BAB IV. PERLTNDUNGAN HUKUM KONSUMEN DALAM JUAL BELI
OBAT-OBATAN TRADISIONAL (CINA)
A. Perlindungan Hukum Konsumen Dalam Jual Beli
Obat-Obatan Tradisional (Cina) ................................................................ 79
B. Perbuatan Yang Dilarang Bagi Penjual Obat-obatan
Tradisional (Cina) ............................................................................................ 90
C. Peranan Balai Pengawas Obat dan Makanan Dalam
Perlindungan Hukum Konsumen Dalam Jual Beli Obat-obatan Tradisional
(Cina) ................................................................................................................ 97
D. Upaya Hukum Yang Dilakukan Konsumen Akibat
Penggunaan Obat-obatan Tradisional (Cina) ........................................... 104
BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................ 112
13. Saran ...................................................................................................... 114
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tantangan bagi bangsa Indonesia dalam pembangunan jangka panjang kedua
adalah untuk meningkatkan kesejahteraan agar dapat mewujudkan keadilan, kemajuan,
kemakmuran dan kemandirian bagi masyarakat. Selain itu masyarakat Indonesia juga
mempunyai tujuan untuk membangun manusia seutuhnya, dimana seluruh rakyat
Indonesia berhak memperoleh kesejahteraan dan keadilan. Untuk mencapai tujuan itu
maka segala kegiatan pembangunan yang dilakukan dinegara ini harus transparan,
dan transparansi itu akan memacu setiap orang untuk bersaing secara kuat dan
sehat. Transparansi itu juga akan memberikan begitu banyak tantangan, tantangan bagi
konsumen, produsen/pengusaha ataupun sebagai pemerintah.
Perlindungan konsumen merupakan masalah kepentingan manusia, ()Leh
karenanya menjadi harapan bagi semua bangsa didunia untuk dapat
mewujudkannya. Mewujudkan perlindungan konsumen adalah mewujudkan
hubungan berbagai dimensi yang satu dengan yang lainnya mempunyai
keterkaitan dan saling ketergantungan antara konsumen, pengusaha dan
pemerintah.
Menurut Undang-undang RI No. 8 Tahun 1999, yang dimaksud dengan
perlindungan konsumen adalah: "Segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen"



2
Sedangkan yang dimaksud dengan konsumen adalah: "Setiap orang pemakai barang
dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
keluarga, orang lain, maupun mahkluk hidup lain dan tidak untuk
diperdagangkan".
Pelaku usaha adalah:
Setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan
hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan atau berkedudukan atau
melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik
sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha
dalam berbagai bidang ekonomi'.
Mengenai pengobatan terdapat berbagai cara dan model pengobatan yang
dilakukan. Namun orang akan lebih senang mengelompokkannya kepada dua
kelompok besar, yaitu pengobatan modem dan pengobatan tradisional.
Kedua model ini memang bertolak belakang, tetapi ada kalanya kedua
model ini bisa duduk bersarna dalam menyembuhkan anggota masyarakat yang
sedang menderita penyakit. Dalam hal ini pengobatan tradisional Cina merupakan salah
satu pengobatan tradisional yang cukup penting dan turut mewarnai ilrnu medical
tradisional. Tidak dapat dipungkiri bahwa kemampuan dan kehebatannya selalu menjadi
buah bibir baik bagi yang sedang diderita sakit, maupun mereka yang sedang sehat.
Penyembuhan tradisional Cina sangat terkenal dari dulu hingga kini. Sebagai obat
yang dikenal mujarab dan dipakai secara luas oleh masyarakat maka sangat
diperlukan perlindungan terhadap konsumen2.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999
tentang Perlindungan Konsumen
2
Nurman Achmad, Karya
Ilmiah (Etnomedieine Gina), 2000, hal 1

3

Menurut buku "Menggeser Neraca Kekuatan" (panduan latihan pendidikan
konsumen terbitan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, YLKI) 1990 ada empat
hal yang hams diperhatikan konsumen, yaitu:
Pertama, dari aspek ekonomi mikro. Disini ada beberapa pertanyaan, seperti:
(1) berapa harga suatu produk?
(2) apakah harga itu wajar jika dibandingkan dengan barang yang sama mutu
dan jumlahnya?
(3) apakah ada barang pengganti sejenis yang lebih murah, lebih sehat dan
dapat diperoleh ditempat yang sama?
Kedua, dari aspek lingkungan. Apakah kemasan, balk berupa botol atau kaleng produk
tersebut tercemar secara kimiawi maupun biologis? Juga, apakah kemasan produk
tersebut menggunakan secara boros bahan baku yang langka dan merusak lingkungan
hidup?
Ketiga, dari aspek hukum. Ada sejumlah pertanyaan:
(1) Soal legalitas produk tersebut. Artinya apakah produk tersebut sudah
terdaftar pada instansi terkait?
(2) Jika konsumen tidak puns dengan tersebut, dapatkah dikembalikan
kepada penjual/produsen?
(3) Jika isinya kurang dari yang seharusnya, sudikah produsenlpenjual
membeii ganti rugi kepada konsumen?
(4) Apakah pelabelan dan iklan produk tersebut sudah sesuai dengan
peraturan yang berlaku?

4

Keempat, dari aspek kesehatan dan keamanan. Seperti apakah produk tersebut
mengandung bahan berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan konsumen? Dan
sisi kepentingan konsumen keempat sudut pandang tersebut apabila
dipraktekkan, sudah memberi proteksi yang memadai bagi konsumen. Namun dalam
perkembangan gerakan konsumen global, konsumen dituntut tidak hanya secara
mandiri dapat melindungi diri, tetapi juga secara eksternal dituntut peduli terhadap
masalah yang lebih luas
3
.
Sebagai suatu konsep "konsumen" telah diperkenalkan beberapa puluh tahun
lalu diberbagai negara dan satnpai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-
undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen
termasuk meyediakan sarana peradilannya. Sejalan dengan itu, berbagai negara
telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan
pengaturan perlindungan kepada konsumen. Secara umum dikenal ada empat hak
dasar konsumen, yaitu:
1. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety);
2. hak utnuk mendapatkan informasi (the right to he infOrmed);
3. hak untuk memilih (the right to choose);
4. hak untuk didengar (the right to be heard)
4

Disamping itu telah pula berdiri organisasi konsumen internasional, yaitu
International Organization of Consumer Union (IOCU). Di Indonesia telah pula
berdiri berbagai organisasi konsumen seperti
Yayasan Letnbaga Konsumen
3
Sudaryatmo, Ilukurn elan Adl.olcasi Konsumen, PT. Ora Aditya BAIL
Bandung, 1999,
hal 1
4
Shidarta, Nakuru Perlindungan Konstunen Indonesia, PT. Grasindo, Jakarta,
2000, hal
16
5


6

Indonesia (YLKI) di Jakarta dan organisasi instrumen lain di Bandung,
Yogyakarta, Surabaya dan lain sebagainya. Demikian pentingnya masalah
perlindungan konsumen, maka dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara senantiasa
dicantumkan perlunya dilakukan perlindungan konsumen. GBHN 1998 tetap
mencantumkan pentingnya perlindungan kepada konsumen. Hal ini merupakan salah
satu konsistensi untuk tetap memperjuangkan kepentingan konsumen Indonesia.
Untuk memberikan perlindungan keamanan, keselamatan atau kesehatan kepada
rakyat Indonesia saat ini da.pat dijumpai dalam berbagai undang-undang, peraturan
pemerintah dan berbagai peraturan/atau keputusan menteri dari berbagai departemen yang
pernah ada di Indonesia dimana perlindungan itu dapat dilihat dari 2 (dua) aspek, yaitu:
a. perlindungan tersebut berlaku untuk semua pihak yang berposisi sebagai konsumen
maupun pengusaha sebagai pengelola produksi barang atau jasa atau instansi apapun
b. perlindungan tersebut semata-mata dikaitkan dengan masalah kesehatan manusia
atau apapun kepada konsumen yang dirugikan
Dilihat dari segi konsep perlindungan konsumen, peraturan perundang-undangan yang
disebutkan dibawah ini belum mampu memberikan perlindungan khusus kepada
konsumen. Ketentuan-ketentuan hukum yang pernah ada dan berlaku itu adalah:
Nanny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen
dalam jual-beli... 2004 USU Repository 2008.
7

a. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 202, 203, 204, 205, 263, 364, 266,
283 dan lain sebagainya. Pasal-pasal tersebut mengatur pemidanaan dari perbuatan-
perbuatan:
1. memasukkan bahan berbahaya kedalam sumber air minum umum
2. menjual, menawarkan, menerima atau membagikan barang yang dapat
membahayakan jiwa atau kesehatan orang
3. memalsukan surat
4. melakukan persaingan curang
5. melakukan penipuan terhadap pembeli
6. menjual, menawarkan atau menyerahkan makanan, minuman dan obatobatan
palsu
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1473-1512; Pasal 1320-1338. Pasal-
pasal tersebut mengatur perbuatan yang berkaitan dengan perlindungan kepada pembeli
dan perlindungan kepada pihak-pihak yang terkait dalam perj anjian.
b. Ordonansi bahan-bahan berbahaya tahun 1949
Ordonansi yang menentukan larangan untuk setiap pemasukan, pembuatan,
pengangkutan, persediaan, penjualan, penyerahan, penggunaan dan pemakaian bahan
berbahaya yang bersifat racun atau berposisi terhadap kesehatan manusia.
c. Undang-undang tentang Obat Keras tahun 1949

8

Undang-undang ini memberikan kewenangan pengawasan oleh pemerintah
terhadap pemasukan, pengeluaran, pengangkutan bahan-bahan obat keras yang akan
diproduksi atau diedarkan.
d. Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
Undang-undang ini memberikan kewenangan pengawasan pemerintah terhadap hal-
hal yang berkaitan dengan kesehatan. Undang-undang ini merupakan landasan
untuk mengatur hal-hal seperti pengawasan produksi yang baik dan lain
sebagainya. Sebagai pengganti dari berbagai undang-undang yang mengatur
hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan manusia.
e. Undang-undang No.10 tahun 1961 tentang Barang
Undang-undang ini merupakan landasan untuk mengatur hal-hal yang
berkaitan dengan standar barang. Salah satu pelaksanaan dan undang-undang ini
adalah terbitnya Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Indonesia (SNI).
f. Undang-undang No. 2 tahun 1981 tentang Metrologi Legal
Kewenangan kepada pemerintah untuk mengelola standar-standar satuan,
pelaksanaan tera dan tera ulang terhadap setiap alat ukur, takar, timbangan dan
perlengkapannya, termasuk kegiatan pengawasan, penyidikan serta pengenaan
sanksi terhadap pihak-pihak yang didalam melakukan setiap transaksi
menggunakan satuan alat ukur yang tidak benar.
g. Undang-undang No. 22 tahun 1954 tentang Undian
Undang-undang ini ditetapkan untuk mengatur kegiatan undian dan karena
bersifat umum, maka untuk melindungi kepentingan umum tersebut perlu

9

adanya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga terjaminnya setiap
janji pengelola kepada peserta undian
h. Peraturan perundang-undangan yang maksudnya memberikan perlindungan dan dalam
bentuk keputusan atau peraturan Menteri, dapat ditemui dalam bidang kesehatan
seperti produksi dan pendaftaran makanan dan minuman, wajib daftar makanan,
makanan daluwarsa, bahan tambahan makanan, penandaan, label, dan sebagainya
s
.
Untuk meningkatkan martabat dan kesadaran konsumen dan mendorong pelaku usaha
untuk menyelenggarakan kegiatan usahanya dengan penuh tanggung jawab maka dibuatlah
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Pengaturan
perlindungan konsumen dilakukan dengan:
a. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
keterbukaan akses dan informasi serta menjamin kepastian hukum
b. melindungi kepentingan konsumen pada khususnya dan kepentingan seluruh
pelaku usaha
c. meningkatkan kualitas barang dan pelayanan jasa
d. memberikan perlindungan kepada konsumen dart praktek usaha yang nnenipu dan
menyesatkan
e. memadukan penyelenggaraan, pengembangan dan pengaturan perlindungan
konsumen dengan bidang-bidang perlindungan pada bidang-bidang lain

.
A ,
1
1
,11111111 et al, 'Inborn Perfinchingatt Xonsumen, CV. Mundar Maju,
Bandung, 2000, hal 8
6
!bid, Iin! 7

10

Keperluan adanya hukum untuk memberikan perlindungan konsumen
Indonesia merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan, sejalan dengan tujuan
pembangunan nasional kita, yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya..
Membahas keperluan hukum untuk memberikan perlindungan bagi konsumen Indonesia,
hendaknya terlebih dahulu kita melihat situasi peraturan perundangundangan Indonesia,
khususnya peraturan atau keputusan yang memberikan perlindungan bagi masyarakat.
Sehingga bentuk hukum perlindungan konsumen yang ditetapkan, sesuai dengan yang
diperlukan bagi konsumen Indonesia dan keberadaannya tepat apabila diletalckan didalam
kerangka sistem hukum nasional Indonesia.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan judul skripsi ini yaitu mengenai "Perlindungan Hukum
Konsumen Dalam Dual Beli Obat-Obatan Tradisional (Cina)" maka perlu dilakukan
perumusan masalah yang menjadi judul skripsi ini.
Persoalan yang akan dibahas, dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa syarat yang hams dipenuhi oleh pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan
usaha penjualan obat-obatan tradisional (Cina)?
2. Bagaimana hak konsumen atas kerugian-kerugian yang dialaminya sebagai akibat
dari tindakan pelaku usaha obat-obat tradisional (Cina)?
3. Bagaimana pemerintah (pihak yang berwenang) berperan untuk melindungi konsumen
dari penyalahgunaan obat-obatan tradisional (Cina)?



11
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan pembahasan dapat diuraikan sebagai berikut:
1. untuk mengetahui sejauhmana Undang-undang Nomor 8 Tabun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen dapat berperan melindungi konsumen
2. untuk mengetahui hat-hat yang menjadi pedoman bagi pelaku usaha/produsen dalam
melaksanakan kegiatan usahanya
3. untuk mengetahui akibat hukum yang dapat terjadi apabila terjadi pelanggaran atas
peraturan yang berlaku
4. untuk mengetahui hal-hal yang harus dilakukan oleh pelaku usaha/produsen agar
tidak melakukan pelanggaran hukum.
Manfaat penulisan yang dapat dikutip dari skripsi ini antara lain:
1. manambah pengetahuan mengenai tanggungjawab hukum sebagai pelaku
usaha/produsen dalam melaksanakan kegiatan usahanya
2. memberikan informasi khususnya kepada masyarakat tentang perlindungan hukum
yang menjadi hak-haknya sebagai konsumen
3. memberikan masukan/saran-saran terhadap Undang-Undang Perlindungan
Konsumen
4. menambah khasanah referensi tentang Perlindungan hukum Konsumen di Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.
D. Keaslian Penulisan
"Perlindungan Hukum Konsumen Dalam Jual Beli Obat-Obatan
Tradisional (Cina)" yang diangkat menjadi judul skripsi ini merupakan hasil karya



12
dari penulis sendiri melalui pemikiran, referensi dari buku-buku, bantuan dad pant nara
sumber dan pihak-pihak lain.
E. Tinjauan kepustakaan
lstilah konsumen berasal dari kata consumer (Inggris-Amerika) atau
consument/konsumen (Belanda)
7
. Kamus Bahasa Inggris-Indonesia memberi arti kata
consumer sebagai pamakai atau konsumen
8
. Ada juga yang memberi batasan, bahwa
konsumen adalah setiap orang yang mendapatkan barang atau jasa digunakan untuk
tujuan tertentu
9
.
Hukum konsumen menurut Az. Nasution adalah: "Keseluruhan asas-asas dan
kaidah-kaidah yang mengatur hubungan dan masalah penyediaan dan penggunaan
produk (barang dan/atau jasa) antara penyedia dan penggunanya, dalam kehidupan
berrnasyarakat".
Sedangkan batasan berikutnya adalah batasan Hukum Perlindungan Konsumen, yaitu:
"Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah yang mengatur dan melindungi konsumen dalam
penyedia dan penggunanya, dalam kehidupan bermasyarakat"
1
.
Sedangkan yang dimaksud dengan obat adalah sesuatu yang dipakai untuk
menyembuhkan penyakit
l I
. Obat tradisional adalah obat yang berasal dari bahan tumbuh-
tumbuhan, hewan, mineral dan atau campuran dari
bahan-bahan tersebut
7 Az. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, Diadit Media, Jakarta Pusat,
2002, hal 3
g
John M. Echols & Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia,
Gramedia, Jakarta, 1986,
hal 124
9
Az. Nasution, Op.Cii, ha1 13
10
Ibid, hal 13
11
W.J.S. Poerwadartninta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,


1993,
hal 682



12
yang belum mempunyai data klinis dan dipergunakan dalam usaha pengobatan
berdasarkan pengalaman
12
.
F. Metode penulisan
I. Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan dikota Medan di Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)
dan di Balai Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM)
2. Teknik Pengumpulan Data
a. Studi Kepustakaan
Untuk memperkuat dasar penelitian, maka terlebih dahulu dikumpulkan dan
dibaca referensi yang relevan melalui peraturan perundang-undangan, buku-buku
bacaan, koran, majalah_ Setelah data-data terkumpul maka langkah seianjutnya
adalah menyeleksi data-data yang layak untuk dipergunakan dalam penulisan
skripsi ini. Data-data yang diperoleh dari riset pustaka lebih banyak dipergunakan
dalam penulisan skripsi ini.
b. Studi Lapangan
Studi lapangan yang dilakukan bertujuan untuk mandapatkan data-data yang
relevan dengan penulisan
3. Teknik Analisis data
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan
menggunakan metode kualitatif
Proyek Peningkaian Perlindungan Konsumen Direktorat Penthinaan Sarana Perdagangan,
Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Departemen Perdagangan Dan
Koperasi Tahun Anggaran 1982/1983, Sebaiknya Anda Tabu, hal 22

13

G. Sistematika
Penulisan skripsi ini dibagi atas 5 (Lima) bab, dimana masing-masing bab
dibagi lagi atas beberapa sub bab. Uraian singkat atas bab-bab dan sub-sub bab
tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1. Bab Pertama merupakan Bab Pendahuluan yang menguraikan tentang:
A. Lat ar Bel akang
B. Perumusan Masalah
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
D. Keasliaan Penulisan
E. Tinjauan Kepustakaan
F. Metode Penulisan
G. Sistematika
2. Bab Kedua merupakan bab yang berisi tentang Gambaran Umum Tentang
Perlindungan Konsumen. Bab ini terdiri dari beberapa sub bab seperti:
A. Pengertian dan Konsepsi Mengenai Konsumen
B. Latar Belakang Lahirnya Hukum Perlindungan Konsumen
C. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
D. Hak dan Kewajiban Konsumen
E. Hak dan Kewajiban Produsen
3. Bab Ketiga merupakan bab yang menguraikan tentang garnbaran umum tentang jual
beli. Bab ini juga terdiri atas beberapa sub bab seperti:
A. Pengertian Jual Beli
13. Objek Jual 13eli

14

C. Kewajiban Para Pihak Dalam Jual Beli
D. Resiko Yang Timbul Dalam Jual Beli
4. Bab Keempat merupakan bab yang membahas tentang Perlindungan Hukum
Konsumen Dalam Alai Beli Obat-Obatan Tradisional (Cina). Untuk
mendukung pembahasan atas bab ini maka bab ini dibagi lagi atas beberapa sub bab
yang meliputi:
A. Perlindungan Hukum Konsumen dalam jual beli obat-obatan tradisional (Cina)
B. Hak dan Kewajiban pelaku usaha
C. Perbuatan yang Dilarang bagi Penjual Obat-Obatan dan Makanan dalam Jual
Beli Obat-Obatan Tradisional (Cina)
D. Peranan Balai Pengawas Obat dan Makanan dalam Jual Beli Obat-Obatan
Tradisional (Cina)
E. Upaya Hukum Yang Dilakukan Akibat Penggunaan Obat-Obatan
Tradisional (Cina)
5. Bab Kelima merupakan bab penutup yang berisi tentang:
A. Kesimpulan
B. Saran



BAB II
GAMBARAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
A. Pengertian dan Konsepsi Mengenai Konsumen
Dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen (selanjutnya disebut UUPK) telah diberikan suatu defenisi konsumen,
konsumen adalah setiap orang pemakai barang danfjasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun
mahkluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Menurut Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha
Tidak Sehat (yang berlaku 5 Maret 2000), konsumen adalah setiap pemakai dan
atau pengguna barang dan atau jasa, baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk
kepentingan orang lain
13
. Rumusan mengenai konsumen ini sangat beraneka
ragam, seperti halnya di Perancis, defenisi konsumen mengandung dua unsur,
yaitu (1) konsumen hanya orang, dan (2) barang atau jasa yang digunakan untuk
keperluan pribadi atau keluarganya. Di Spanyol, pengertian konsumen
didefenisikan secara lebih luas, bahwa konsumen diartikan tidak hanya individu
(orang), tetapi juga suatu perusahaan yang menjadi pembeli atau pemakai terakhir.
Dalam undang-undang perlindungan konsumen India dinyatakan, konsumen
adalah setiap orang (pembeli) atas barang yang disepakati, menyangkut harga dan

13
Shidarta, Op.Cit, hal 2
15



16
cara pembayarannya, tetapi tidak termasuk mereka yang mendapatkan barang untuk
dijual kembali atau keperluan komersia1
14
.
Pengertian konsumen bukan hanya beraneka ragam, tetapi juga merupakan
pengertian yang luas, seperti yang dilukiskan secara sederhana oleh mantan presiden
Amerika Serikat, John F. Kennedy dengan mengatakan, "Consumers by defenition include
us all "
15
. Meskipun beraneka ragam dan luas, dapat juga diberikan beberapa unsur
terhadap defenisi konsumen, yaitu:
1. Setiap orang
Disebut sebagai konsumen berarti setiap orang yang berperanan sebagai pemakai
barang dan/atau jasa. Istilah "orang sebetulnya tidak membatasi pengertian
konsumen itu sebatas pada orang perseorangan, narnun konsumen juga hams
mencakup badan usaha, dengan makna lebih luas daripada badan hukum, Dalam
UUPK digunakan kata "pelaku usaha", istilah ini dipilih untuk memberi anti sekaligus
bagi kreditur (penyedia dana), produsen, penyalur, penjual, dan terminologi lain yang
lazim diberikan
2. Pemakai
Konsumen memang tidak sekedar pembeli, tetapi semua orang (perorangan atau
badan usaha) yang mengkonsumsi jasa danlatau barang. Jadi yang paling penting
terjadinya transaksi konsumen berupa peralihan barang danlatau jasa, termasuk peralihan
kenikmatan dalam menggunakannya.
3. Barang dan/atau jasa
14
/hid, ha! 3
boi



17
UUPK mengartikan barang sebagai setiap bends, balk berwujud maupun tidak berwujud,
balk bergerak maupun tidak bergerak, balk dapat dihabiskan maupun tidak dapat
dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau
ditnanfaatkan oleh konsumen.
4. Yang tersedia dalam masyarakat
Barang dan/atau jasa yang ditawarkan kepada masyarakat sudah harus tersedia di
pasaran. Dalam perdagangan yang semakin kompleks dewasa ini, syarat itu tidak mutlak
lagi dituntut oleh masyarakat konsumen.
5. Bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, mahkluk hidup lain Transaksi
konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain dan mahkluk
hidup lain.Unsur yang diletakkan dalam defenisi itu mencoba untuk memperluas pengertian
kepentingan. Kepentingan ini tidak sekedar ditujukan untuk diri sendiri dan keluarga,
tetapi juga barang dan/atau jasa itu diperuntukkan bagi orang lain (di luar diri sendiri dan
keluarganya).
6. Barang dan/atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan
Batasan ini terasa cukup baik untuk mempersempit ruang lingkup pengertian konsumen,
walaupun dalam kenyataannya sulit untuk menetapkan Batas-batas seperti itu.
Dalam pengertian masyarakat umum saat ini, bahwa konsumen itu adalah pembeli,
penyewa, nasabah (penerima kredit) lembaga jasa perbankan atau asuransi, penumpang
angkutan umum atau pada pokoknya langganan dari Para pengusaba
16
. Pengertian
masyarakat ini tidaklah salah satu sebab secara yuridis,
1
"Az. Nasution, Konsumen Dan Hukum, Pustaka Sinar
Harapan, Jakarta, 1995, hal 68



18
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, terdapat subjek-subjek hukum dalam
hukum perikatan yang bernama pembeli, penyewa, peminjam-pakai dan sebagainya.
Konsumen (sebagai alih bahasa dari Consumer), secara harfiah berarti
seseorang yang membeli barang atau menggunakan jasa atau seseorang/sesuatu
perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan jasa tertentu juga
sesuatu atau seorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang. Ada
pula yang memberikan arti lain, yaitu konsumen adalah setiap orang yang
menggunakan barang atau jasa
17
.
Dalam hukum positip kita, terlihat pengertian konsumen digunakan
berbagai istilah-istilah, beberapa diantaranya adalah:
a. Undang-unclang Barang
Dari Undang-undang Barang ini, terlihat dua hal:
1. Rakyat yang ingin dijaga kesehatan atau keselamatan (tubuhnya) dan
keamanan (jiwanya) dari barang dan/atau jasa yang mutunya kurang atau tidak
baik
2. Mengatur tentang mutu, susunan bahan dan bungkusan barang dagangan
Pengaturan mutu, susunan bahan dan pembungkusan barang tentulah
ditujukan pada mereka yang mempunyai kegiatan mengenai pembuatan atau
pembungkusan barang tersebut. Mereka itu adalah para pengusaha atau
pelaku usaha, sedangkan rakyat yang ingin dijaga kesehatan atau
keselamatan tubuhnya dan keamanan jiwanya dari barang bermutu kurang atau
tidak baik, tentulah dalam kaitan penggunaan barang
tersebut (pemakai
17
Az. Nasution, Perlinchorgan Konsumen, Diadil Media, Jakarta Pusat, 2002,
hal 69



19
pengguna). Dan hal ini dapat dipahami bahwa hanya pengguna manusia
alamiah yang dapat terganggu keselamatan tubuhnya atau keamanan
jiwanya karena produk yang kurang atau tidak bermutu, karena itu dapat
diketahui adanya rakyat pemakai, pengguna dan/atau pemanfaat barang/jasa, serta
pengusaha atau pelaku usaha pembuat barang dan/atau jasa dengan kewajiban-
kewajibannya masing-masing.
b. Undang-undang Kesehatan
Undang-undang Kesehatan ini tidak menggunakan istilah konsumen untuk
pemakai, pengguna barang dan/atau pemanfaat jasa kesehatan. Untuk maksud itu
digunakan berbagai istilah, antara lain istilah setiap orang, masyarakat.
c. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, terdapat, berbagai istilah yang
perlu diperhatikan, antara lain istilah pembeli, penyewa, penerima hibah,
peminjam pakai, peminjam dan sebagainya.
d. Penyelenggaraan studi balk yang bersifat akademis, maupun untuk tujuan
mempersiapkan dasar-dasar penerbitan suatu peraturan perundang-undangan
tentang perlindungan konsumen, antar
I. Badan Pembinaan Hukum Nasional Departernen Kehakiman (BPHN),
menyusun batasan tentang konsumen akhir, yaitu: pemakai akhir dari
barang, digunakan untuk keperluan din sendiri atau orang lain, dan tidak untuk
diperjualbelikan
2. Batasan konsumen dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia



20
P
emakai barang atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, bagi kepentingan diri
sendiri, keluarga atau orang lain dan tidak untuk diperdagangkan kembali
Sedang dalam naskah akademis yang dipersiapkan Fakultas Hukum-
Universitas Indonesia bekerjasama dengan Departemen Perdagangan
Republik, berbunyi: konsumen adalah setiap orang atau keluarga yang
mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan
ls
.
Sebagai suatu konsep, konsumen telah diperkenalkan beberapa puluh tahun
yang lalu di berbagai negara dan sarnpai saat ini sudah puluhan negara memiliki
undang-undang atau peraturan yang khusus rnemberikan perlindungan kepada konsumen
termasuk penyediaan sarana peradilannya. Sejalan dengan perkernbangan itu, berbagai
negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan
pengaturan perlindungan kepada konsumen. Demikian pentingnya masalah
perlindungan kepada konsumen, maka dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara
senantiasa dicantumkan perlunya dilakukan perlindungan kepada konsumen.
Sebagaimana disebutkan dimuka GBHN 1998 tetap mencantumkan pentingnya
perlindungan kepada konsumen. Hal ini merupakan salah satu bukti konsistensi untuk
tetap memperjuangkan kepentingan konsumen Indonesia. Alasan yang dapat
dikemukakan untuk menerbitkan peraturan
perundang-undangan yang secara khusus mengatur dan
melindungi kepentingan konsumen dapat disebutkan sebagai bed kut:
'
s
Az. Nasution, Op. Cii, ha] 10



21
a. Konsumen memerlukan pengaturan tersendiri, karena dalam suatu hubungart hukum
dengan penjual, konsumen merupakan pengguna barang dan jasa untuk kepentingan diri
sendiri dan tidak untuk diproduksi ataupun diperdagangkan.
b. Konsumen memerlukan sarana atau Kara hukum tersendiri sebagai upaya
melindungi atau memperoleh haknya.
Dari pengertian dan konsepsi mengenai konsumen, ada hal penting yang menjadi
pokok keperluan konsumen, yaitu bahwa konsumen rnemerlukan produk yang aman bagi
kesehatan tubuh atau keamanan jiwa, serta pada umumnya untuk kesejahteraan keluarga
atau rumah tangganya, karena itu diperlukan kaidahkaidah hukum yang menjamin
syarat-syarat aman setiap produk konsumen bagi konsumsi manusia, dilengkapi
dengan informasi yang benar, jujur dan bertanggungjawab.
B. Latar Belakang Lahirnya Macaw Perlindungan Konsumen
Petaka yang menimpa konsumen Indonesia tidaklah jarang terjadi. Selama beberapa
dasawarsa sejumlah peristiwa penting yang menyangkut keamanan konsumen dalam
mengkonsumsi barang dan jasa, mencuat keperrnukaan sebagai keprihatinan nasional
yang tidak kunjung mendapat perhatian dari sisi perlindungan hukum bagi para
konsumen, padahal saat ini kurang lebih 210 juta penduduk Indonesia tidak akan mungkin
dapat meninggalkan predikat konsumen. Diundangkannya UUPK pada tanggal 20 April
1999 oleh pemerintahan transisi (Kabinet Retbmiasi Pembangunan) Presiden BJ.
Habibie tampaknya diiringi dengan harapan terwujudnya wacana haru huhungan
konsumen dengan pelaku



22
usaba (produsen, distributor, pengecer/pengusaha/perusahaan dan sebagainya) dalam
milenium baru ini.
Kritik dan berbagai keluhan berbagai pihak terhadap penegakan hukum dan
perlindungan hukum bagi yang lemah menjadi referensi utama dalam perumusan
norma-norma perlindungan konsumen dalam undang-undang baru itu. Seperangkat
norma-norma bukum baru, termasuk perumusan tindakan pidana/delik barn
berusaha menjawab kekaburan norma-norma perlindungan konsumen dan institusi-
institusi perlindungan konsumen.
Sebelum berlakunya IMPK, konsumen dapat memperjuangkan kepentingan-
kepentingan hukumnya dengan memanfaatkan instrumen-instrumen pokok (hukum
perdata, hukutn pidana, hukum dagang, hukum acara perdata, hukum acara pidana,
hukum internasional), meskipun secara empirik itu tidak begitu meningkatkan
martabat konsumen, apalagi mengayomi konsumen. Konsumen masih tetap berada
pada posisi yang lemah. Tetapi itu tidak berarti konsumen tidak dilindungi sama sekali,
betapapun lemahnya instrumen-instrumen hukum pokok.
Hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang
memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat mengatur, dan juga mengandung
sifat yang melindungi kepentingan konsumen. Secara universal berbagai basil penelitian
dan pendapat para pakar, temyata konsumen umumnya berada pada posisi yang lebih lemah
dalam hub ungannya dengan pengusaha, balk secara ekonomis, tingkat pendidikan
maupun kemampuan atau daya bersaing.

23

Kedudukan konsumen ini, baik yang bergabung dalam suatu organisasi, apalagi secara
individu, tidak seimbang dibandingkan dengan kedudukan pengusaha.
Oleh sebab itu, untuk menyeimbangkan kedudukan tersebut dibutuhkan
perlindungan pada konsumen. Adapun pokok-pokok dan pedomannya telah termuat
dalam Undang-Undang Dasar 1945 dart Ketetapan MPR. Disamping itu, beberapa materi
tertentu secara sporadis termuat didalam peraturan perundangundangan kita, sekalipun
penerbitan peraturan perundang-undangan sebenarnya ditujukan untuk keperluan lain dari
mengatur dan/atau melindungi kepentingan konsumen sejalan dengan batasan hukum
konsumen. Hukum Konsumen pada pokoknya lebih berperan dalam hubungan dan
masalah konsumen yang kondisi para pihaknya berimbang dalam kedudukan sosial
ekonomi, daya saing maupun tingkat pendidikan. Rasionya adalah sekalipun tidak
selalu tepat, bagi mereka yang berkedudukan seimbang demikian, maka mereka
masing-masing lebih mampu mempertahankan dan menegakkan hak-hak mereka yang
sah.
Hukum perlindungan konsumen dibutuhkan apabila kondisi pihak-pihak yang
mengadakan hubungan hukum atau bermasalth dalam masyarakat itu tidak seimbang.
Merupakan kenyataan bahwa kedudukan konsumen yang berjumlah besar itu, secara
kelompok apalagi individu, sangat lemah dibandingkan dengan para penyedia kebutuhan
konsumen, baik penyedia swasta maupun pemerintah (publik). Dinegara-negara yang
sekarang ini disebut negara-negara maju telah menempuh pembangunannya melalui tiga
tingkat: unifikasi, industrialisasi dan negara kesejahteraan. Pada tingkat pertama yang
menjadi masalah berat adalah bagaintana meneapai inlegrasi politik untuk meneiptakan
persatuan dan kcsai.uan

24

nasional. Tingkat kedua, peijuangan untuk pembangunan ekonomi dan
rnodernisasi politik. Akhimya dalam tingkat ketiga, togas negara yang terutama adalah
melindungi rakyat dari sisi negatif industrialisasi, rnembetulkan kesalahankesalahan pada
tahap-taliap sebelumnya, dengan menekankan kesejahteraan masyarakat.
Pada suatu waktu, dalam posisi tunggal/sendiri maupun berkelompok bersama
orang lain, dalam keadaan apapun pasti menjadi konsumen untuk suatu produk barang atau
jasa tertentu. Keadaan yang universal ini pada beberapa sisi menunjukkan adanya berbagai
kelemahan pada konsumen sehingga konsumen tidak mempunyai kedudukan yang
aman. Oleh karena itu secara mendasar konsumen juga membutuhkan perlindungan
hukum yang sifatnya universal juga. Mengingat lemahnya kedudukan konsumen pada
umumnya dibandingkan dengan kedudukan produsen yang lebih kuat dalam banyak hal,
maka hal perlindungan konsumen ini selalu penting untuk dikaji. Perlindungan
terhadap konsumen dipandang secara materil maupun formal makin terasa sangat penting,
mengingat makin lajunya ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan motor
penggerak bagi produktivitas dan efisiensi produsen atas barang atau jasa yang dihasilkannya
dalam rangka mencapai sasaran usaha. Dalam rangka mengejar dan mencapai kedua
hal tersebut, akhimya balk langsung atau tidak langsung, maka konsumenlah yang
pada umumnya akan merasakan dampaknya. Dengan demikian upaya-upaya untuk
memberikan memberikan perlindungan yang memadai segera dicari solusinya, terutama
dilndonesia, mengingat sedemikian kompleksnya permasalahan yang menyangkut
perlindungan konsumen.

25

Konsumen yang keberadaannya sangat tidak terbatas, dengan strata yang
sangat bervariasi menyebabkan produsen melakukan kegiatan pemasaran dan
distribusi produk barang atau jasa dengan cara-cara yang seefektif mungkin agar
dapat mencapai konsumen yang sangat majemuk tersebut. Untuk itu semua cara
pendekatan diupayakan sehingga mungkin menimbulkan berbagai dampak,
termasuk keadaan yang menjurus pada tindakan yang bersifat negatif bahkan tidak
terpuji yang berawal dari itikad buruk. Dampak buruk yang lazim terjadi, antara
lain menyangkut kualitas, atau mutu barang, infonnasi yang tidak jetas bahkan
menyesatkan pemalsuan dan sebagainya. Beranjak dari situasi yang sedemikian
komplit maka perlindungan terhadap konsumen juga menabutuhkan pemikiran
yang luas pula. Hal ini sangat penting mengingat kepentingan konsumen pada
dasarnya sudah ada sejak awal sebelum barang/jasa diproduksi selama dalam
proses produksi sampai pada saat distribusi sehingga sampai ditangan konsumen
untuk dimanfaatkan secara maksimal. Keberpihakan kepada konsumen
sebenarnya merupakan wujud nyata dari ekonomi keralcyatan
19
. Dalam praktek
perdagangan yang merugikan konsumen, diantaranya penentuan harga barang dan
hal-hal lain yang tidak patut, pemerintah hams secara konsisten berpihak kepada
konsumen yang pada umumnya orang kebanyakan. Dalam hubungan ini,
penjabaran perlindungan terhadap konsumen yang pada umumnya orang
kebanyakan. Dalam hubungan ini, penjabaran perlindungan terhadap konsumen
juga dituangkan dalam Garis-Garis Besar Hainan Negara 1993 melalui Ketetapan
Majelis Pennusyawaratan Rakyat (MPR) No.WMPR/1993, pada Bab IV, huruf F
I'leasur shale, Perlindungan Konsumen dan
Instrumen-Instrumen liukumnya, PT Cilra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal 2
Nenny Marina Saragih: Perlindungan hukum konsumen dalam
jual-beli... 2004 USU Repository 2008.
26

butir 4a, yaitu: "...perlindungan perdagangan ditujukan untuk memperlancarkan
ants barang dan jasa dalam rangka menunjang peningkatan produksi dan days
saing, meningkatkan pendapatan produsen terutarna produsen hasil pertanian
rakyat dan pedagang, melindungi kepentingan konsumen... "
20

Komitmen melindungi kepentingan konsumen (konsumen akhir, bukan
konsumen pedagang) rupanya masih menjadi huruf-huruf mati dalam naskah
GBHN 1993, karena tidak jelas peraturan perundang-undangan pelaksanaannya
yang memang ditujukan untuk itu. Ketidakjelasan itu bukannya karena belum
adanya pengkajian dan penelitian nonna-nonna perlindungan konsumen macam
apa yang sesuai dengan situasi dan kondisi konsumen Indonesia, bahkan sebagian
besar konsumen Indonesia enggan mengadukan kerugian yang dialaminya
walaupun konsumen telah (sangat) dirugikan oleh produsen/pengusaha.
Keengganan ini bukaniah karena mereka (konsumen) tidak sadar hukum, bahkan
mereka Iebih sadar hukum ketimbang sebagian daripada para penegak hukumnya
sendiri, keengganan para konsumen lebih didasarkan pada:
I. tidak jelasnya norma-norma perlindungan konsumen
2. praktek peradilan kita yang tidak lagi sederhana, cepat dan biaya ringan
3. sikap menghindari kontlik walaupun hak-haknya sebagai konsumen dilanggar
pengusaha.
Dan segala kondisi yang telah dikemukakan maka jelaslah bahwa posisi
konsumen itu Iemah sehingga is hams dilindungi oleh hukum, karena salah satu
2
"Ibid



27
sifat, sekaligus tujuan hukum itu adalah memberikan perlindungan (pengayoman)
kepada masyarakat
21

C. Asas dan Tujuan Perlindungan Konsumen
Kata konsumen pertamakali masuk dalam substansi GBHN 1983
22
.
Pembangunan nasional pada umumnya dan pembangunan ekonomi pada
khususnya, menurut GBHN hams menguntungkan konsumen. Lima Tahun
kemudian kata-kata itu dirasakan tetap relevan untuk dimuat kembali sehingga dalam
GBHN 1988 dikatakan, pembangunan ekonomi itu hams menjamin kepentingan
konsumen, Selanjutnya dalam GBHN 1993 kembali dinyatakan, pembangunan
ekonomi itu hares melindungi kepentingan konsumen. Kata-kata menguntungkan,
menjamin kepentingan, atau melindungi kepentingan itu peda hakikatnya merupakan
rumusan yang sangat abstrak dan normatif.
Ada sinyalemen dan beberapa kalangan di pemerintahan yang
menyatakan, Rancangan Undang-undang Perlindungan Konsumen yang sejak 1980
disusun diprioritaskan untuk dibahas di DPR. Terbukti 19 tahun kemudian keinginan
itu direalisasikan, yakni dengan lahimya Undang-Undang No. 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen
Sejumlah peraturan yang tidak pernah disebut-sebut sebagai prioritas,
dalam kenyataannya justru lebih banyak didahulukan pengesahannya daripada
UUPK. Hal ini memperkuat dugaan yang beredar selama ini, pemerintah biasanya
mendahulukan peraturan-peraturan yang
menguntungkan pihaknya, contohnya
21
/bid hal 9
22
Shidarta, Op. Cit., hal 47

28

peraturan dibidang perpajakan daripada peraturan-peraturan yang membebaninya
dengan kewajiban yang besar, seperti di bidang perlindungan konsumen sekarang
ini.
Terlepas dari kekurangan yang ada prinsip-prinsip pengaturan
perlindungan konsumen di Indonesia bukan berarti tidak ada sama sekali sebelum
UUPK. Untuk itu ada tiga bidang hukum yang memberikan perlindungan secara
umum bagi konsumen, yaitu bidang hukum perdata, pidana dan administrasi
negara.
Perlindungan di bidang keperdataan diadakan bertitik tolak dari tarik
menarik kepentingan antar sesama anggota masyarakat. Jika seseorang merasa
dirugikan oleh warga masyarakat, tentu is menggugat pihak lain itu agar
bertanggungjawab secara hukum atas perbuatannya. Dalam hal ini diantara
mereka mungkin saja sudah terdapat hubungan hukum berupa perjanjian di
lapangan hukum keperdataan,tetapi dapat pula sebaliknya sama sekali tidak ada
hubungan demkian, akan tetapi perikatan itu dapat muncul dari perjanian atau karena
undang-undang. Jika seorang sebagai konsumen mempunyai hubungan hukum
berupa perjanjian dengan pihak lain, dan pihak lain itu melanggar perjanjian yang
disepakati bersama, maka konsumen berhak menggugat Iawannya berdasarkan dalih
melakukan wanprestasi (cidera janji). Jika sebelumnya tidak ada perjanjian maka
konsumen tetap saja memiliki hak untuk menuntut secara perdata, yakni melalui
ketentuan perbuatan melawan hukum (onrechtmatigedaad). Dalam konsepsi perbuatan
melawan hukum seseorang diberi kesempatan untuk



29
menggugat sepanjang terpenuhi tiga unsur, yaitu ada kesalahan (yang dilakukan pihak
lain atau tergugat), ada kerugian (yang diderita sipenggugat) dan ada hubungan
kausalitas antara kesalahan dan kerugian itu.
Secara pidana tuntutannya tidak lagi semata-mats karena pihak lain
melanggar petjanjian. Filosophi dari penuntutan secara pidana lebih luas daripada itu,
yaitu untuk melindungi masyarakat dari tindak pidana tertentu. Perlindungan demikian
diberikan oleh negara kepada warga masyarakatnya. Untuk itu, penuntutan secara
pidana tidak dibebankan kepada perorangan tetapi kepada suatu instansi pemerintah,
tepatnya kejaksaan.
Dalam lapangan hukum administrasi negara, perlindungan yang diberikan
biasanya lebih bersifat tidak langsung, preventif dan proaktif Pemerintah
biasanya mengeluarkan berbagai ketentuan normatif yang membebani pelaku usaha
dengan kewajiban tertentu. Sebagai contoh, hash produksi harus memenuhi standar
kualitas yang ditetapkan, limbah (polutan)nya harus dibawah ambang batas, harga
jual dikendalikan oleh pemerintah dengan melakukan operasi pasar. Kamm
pemerintah sebagai instansi pengeluar perizinan, maka dalam bidang administratif,
pemerintah berwenang meninjau kembali setiap izin yang dinilai disalahgunakan.
Menurut Hans W. Micklitz, dalam perlindungan konsumen secara garis besar
dapat ditempuh dua model kebijakan. Pertama, kebijakan yang bersifat
komplementer, yaitu kebijakan yang mewajibkan pelaku usaha memberikan
informasi yang memadai kepada konsumen (hak atas informasi). Kedua,
kebijakan kompensatoris, yaitu kebijakan yang berisikan perlindungan terhadap



30
kepentingan ekonomi konsumen (hak atas kesehatan dan keamanan). Dalam
berbagai kasus, konsumen tidak cukup dilindungi hanya berdasarkan kebijakan
komplementer (memberikan informasi), tetapi juga harus ditindakianjuti dengan
kebijakan kompensatoris (meminimalisasi resiko yang hams ditanggung
konsumen), misalnya dengan mencegah produk berbahaya untuk tidak mencapai pasar
sebelum lulus pengujian oleh suatu lembaga perizinan pemerintah (hal ini disebut
kontrol pra pasar), atau menarik dan peredaran produk berbahaya yang sudah
terlanjur beredar di pasaran (kontrol pasta pasar).
Selain ditinjau dari bidang-bidang hukum yang mengatur perlindungan
konsumen dan dua macam kebijakan umum yang dapat ditempuh, juga terdapat
prinsip-prinsip pengaturan dibidang perlindungan konmsumen. Undang-undang
perlindungan konsumen menyebutkan lima prinsip pengaturan-pengaturan yang
dikaitkan dengan asas-asas pembangunan nasional, yaitu asas manfaat, keadilan,
keseimbangan, keamanan dan keselamatan serta kepastian hukum. Hakikat
perlindungan konsumen menyiratkan keberpihakan kepada kepentingan-
kepentingan (hukum) konsumen. Ada beberapa kepentingan-kepentingan
konsumen menurut Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa No.39/248 Tahun 1995
tentang Guidelines for Consumer Protection, sebagai berikut:
(a). Perlindungan konsumen dan bahaya-bahaya terhadap kesehatan dan
keamanannya;
(b). Promosi dan perlindungan kepentingan sosial ekonomi konsumen;



31
(c) Tersedianya informasi yang memadai bagi konsumen untuk memberikan
kemampuan mereka melakukan pilihan yang tepat sesuai kehendak dan
kebutuhan pribadi;
(d) Pendidikan konsumen;
(e) Tersedianya upaya ganti rugi yang efektif;
(f) Kebebasan untuk membentuk organisasi konsumen atau organisasi lainnya yang
relevan dan memberikan kesempatan kepada organisasi tersebut untuk
menyuarakan pcndapatnya dalam proses pengambilan keputusan yang
menyangkut kepentingan mereka.
Adanya undang-undang perlindungan konsumen memberikan dampak ekonomi yang
positif bagi dunia usaha, yakni dunia usaha dipacu untuk meningkatkan
kualitas/mutu produk barang dan jasa sehingga produknya memiliki keunggulan
kompetitif. Kekhawatiran adanya undang-undang perlindungan konsumen bisa
menghancurkan perkembangan industri, perdagangan, dan pengusaha kecil, hal ini tidak
masuk akal. Pengusaha kecil yang sudah ada pada awal munculnya isu
perlindungan konsumen di Indonesia hampir seperempat abad yang lalu, sampai saat
ini tidak bangkit, bahkan tergilas dari pengusaha-pengusaha yang besar.
Hukum perlindungan konsumen merupakan bagian dari hukum konsumen yang
memuat asas-asas atau kaidah-kaidah mengatur, dan juga mengandung sifat yang
melindungi kepentingan konsumen. Secara universal, berdasarkan berbagai hasil
penelitian dan pendapat para pakar, ternyata konsumen umumnya berada pada posisi
yang lebih lemah dalam hubungannya dengan pengusaha. Kedudukan konsumen ini,
balk yang bergabung dalam suatu organisasi apalagi secara
"
32

individu, tidak seimbang dibandingkan dengan kedudukan pengusaha. Oleh sebab itu
untuk menyeimbangkan kedudukan konsumen tersebut dibutuhkan
perlindungan pada konsumen. Hukum perlindungan konsumen dibutuhkan apabila kondisi
pihak-pihak yang mengadakan hubungan hukum atau bermasalah dalam masyarakat
itu tidak seimbang. Merupakan kenyataan bahwa kedudukan konsumen yang
berjumlah besar itu sangat lemah dibandingkan dengan para penyedia kebutuhan
konsumen, baik penyedia swasta maupun pemerintah.
Dalam Pasal 2 UUPK dinyatakan bahwa perlindungan konsumen
berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan keselamatan
konsumen, serta kepastian hukum.
Sedangkan dalam Pasal 3 undang-undang ini disebutkan bahwa perlindungan
konsumen bertujuan:
a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri;
b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
akses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam
Nanny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen dalam
jual-beli... 2004 USU Repository 2008.
33

f Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan
konsumen
23
.
Secara umum dan mendasar hubungan antara produsen (perusahaan
penghasil barang dan/atau jasa) dengan konsumen (pemakai akhir dari barang
dan/atau jasa untuk diri sendiri atau keluarganya) merupakan hubungan yang terus
menerus dan berkesinambungan. Hubungan tersebut terjadi karena keduanya
memang sating menghendaki dan mempunyai tingkat ketergantungan yang cukup tinggi
antara yang satu dengan yang lain.
Produsen sangat membutuhkan dan sangat bergantung atas dukungan
konsumen sebagi pelanggan. Tanpa dukungan konsumen, tidak mungkin produsen dapat
terjamin kelangsungan usahanya. Sebaliknya konsumen kebutuhannya sangat
bergantung dari has produksi produsen. Saling ketergantungan karena kebutuhan
tersebut dapat menciptakan suatu hubungan yang tents menerus dan berkesinambungan
sepanjang masa, sesuai dengan tingkat ketergantungan akan kebutuhan yang tidak
terputus-putus. Hubungan antara produsen dan konsumen yang berkelanjutan terjadi
sejak proses produksi, distribusi dipemasaran dan penawaran. Rangkaian kegiatan
tersebut merupakan rangkain perbuatan hukum yang tidak mempunyai akibat hukum
dan yang mempunyai akibat hukum baik terhadap semua pihak maupun hanya
kepada pihak-pihak tertentu saja. Hal tersebut secara sisitematis dimanfaatkan
oleh produsen dalam suatu sistem
2
Vbid, hat 170

34

distribusi dan pemasaran produk barang guna mencapai suatu tingkat
produktivitas dan efektifitas tertentu dalam rangka mencapai sasaran usaha.
Sampai pada tahapan hubungan penyaluran atau distribusi tersebut
menghasilkan suatu hubungan yang sifatnya massal. Karena sifatnya yang massal
tersebut maka peran negara sangat dibutuhkan dalam rangka melindungi
kepentingan konsumen pada umumnya. Untuk itu perlu diatur perlindungan
konsumen berdasarkan undang-undang antara lain mutu barang, cara dan prosedur
produksi, syarat kesehatan, syarat pengemasan, syarat lingkungan dan sebagainya.
Perlunya UUPK tidak lain karena lemahnya posisi konsumen dibandingkan dengan
posisi produsen karena mengenai proses sampai hasil produksi barang atau jasa
yang telah dihasilkan tanpa campur tangan konsumen sedikitpun.
Bertolak dan luas dan kompleksnya hubungan antara produsen dan
konsumen, serta banyaknya mata rantai penghubung keduanya, maka untuk
melindungi konsumen sebagai pemakai akhir dari produk barang atau jasa
membutulikan berbagai aspek hukum agar benar-benar dapat dilindungi dengan adil.
Sejak awal produksi perlindungan konsumen hares sudah dimulai. Pada masa sekarang
ini hubungan antara produsen dan konsumen makin dekat, oleh karena itu campur
tangan negara sangat dibutuhkan yaitu, guna mengatur pola hubungan antara produsen,
konsumen dan sistem perlindungan konsumen. Hubungan antara produsen dan
konsumen yang bersifat massal tersebut, hubungan antara pihak secara
individual/personal dapat menciptakan hubungan-hubungan hukum yang spesipik.
Hubungan hukum yang spesipik ini sangat bervariasi, yang sangat dipengaruhi oleh
berbagai keadaan antara lain:

35

1. kondisi, harga dari suatu jenis komoditas tertentu
2. penawaran dan syarat perjanjian
3. fasilitas yang ada
4. kebutuhan para pihak pada rentang waktu tertentu
Keadaan-keadaan seperti tersebut diatas, pada dasamya sangat
mempengaruhi dan menciptakan kondisi perjanjian yang juga sangat bervariasi.
Meskipun demikian didalam praktek hubungan hukum yang terjadi bahkan
semakin melemahkan posisi konsumen karena secara sepihak para
produsen/distributor sudah menyiapkan suatu kondisi perjanjian dengan adanya
perjanjian baku yang syarat-syaratnya secara sepihak ditentukan pula oleh
produsen atau jaringan distributornya. Bertolak dari keadaan yang demikian, rnaka
perlindungan hukum terhadap hak-hak konsumen tidak dapat diberikan oleh satu aspek
hukum saja, melainkan oleh satu sistem perangkat hukum yang mampu memberikan
perlindungan yang simultan dan komprehensif sehingga terjadi persaingan yang
jujur yang secara langsung atau tidak langsung akan menguntungkan
konsumen.
D. Hak dan Kewajiban Konsumen
Istilah perlindungan konsumen berkaitan dengan perlindungan hukum. Oleh
karena itu, perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Adapun materi
yang mendapdatkan perlindungan itu bukan sekedar fisik, melainkan terlebih-lebih
haknya yang bersifat abstrak. Dengan kata lain perlindungan konsumen
sesungguhnya identik dengan perlindungan yang diberikan hukum



36
terhadap hak-hak konsumen. Secara umum ada dikenal ada empat hak dasar
konsumen, yaitu:
1. hak untuk mendapatkan keamanan (the right to safety);
2. hak untuk mendapatkan informasi (the right to be informed);
3. hak untuk memilih (the right to choose);
4. hak untuk didengar (the right to be heard).
Empat hak dasar ini diakui secara internasional. Dalam perkembangannya,
organisasi-organisasi konsumen yang tergabung dalam The International
Organization of Consumers Union (IOCU) menambahkan lagi beberapa hak
seperti hak mendapatkan pendidikan konsumen, hak mendapatkan ganti kerugian, dan
hak mendapatkan lingkungan hidup yang balk dan sehat.
Namur, tidak semua organisasi konsumen menerima penambahan hak-hak
tersebut. Mereka bebas untuk menerima semua atau sebagian . YLKI misalnya,
memutuskan untuk menambahkan satu hak lagi sebagai pelengkap empat hak dasar
konsumen, yaitu hak mendapatkan lingkungan hidup yang balk dan sehat sehingga
keseluruhannya dikenal sebagai panca hak konsumen
24
. Dalam rancangan
akademik Undang-undang Perlindungan Konsumen yang disusun oleh tim Fakultas
Hukum Universitas Indonesia dan Departemen Perdagangan (1992), hak-hak dasar
konsumen ditambahkan lagi dengan hak untuk mendapatkan barang-barang
sesuai dengan nilai tukar yang diberikan dan hak untuk mendapatkan upaya
penyelesalan hukum.
24
1hid, ha! 16



37
Hak konsumen untuk mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, tidak
dimasukkan dalam UUPK ini karena UUPK secara khusus mengecualikan hak-hak
yang diatur dalam undang-undang di bidang Hak-hak Atas Kekayaan Intelektual
(HAKI) dan dibidang pengelolaan lingkungan. Ada 9 hak konsumen yang dituangkan
dalam Pasal 4 UUPK, yaitu:
1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa;
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang di j anj
ikan;
3. Hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa;
4. Hak untuk didengar pendapat dan keiuhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya peyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
8. Hak untuk mendapatkan dispensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, jika barang
dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana
mestinya;



38
9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang lain.
Disamping hak-hak dalam Pasal 4, juga terdapat hak-hak konsumen yang
dirumuskan dalam pasal-pasal berikutnya, khususnya Pasal 7, yang mengatur
tentang kewajiban pelaku usaha. Kewajiban dan hak merupakan suatu kesatuan yang
tidak dapat dipisahkan, sehingga kewajiban pelaku usaha dapat juga dilihat sebagai hak
konsumen.
Selain hak-hak yang disebutkan itu, ada juga hak untuk dilindungi dari akibat
negatif persaingan curang. Hal ini berangkat dari pertimbangan, kegiatan bisnis yang
dilakukan pengusaha sering dilakukan secara tidak jujur yang sering dikenal dengan
persaingan curang (unfair competition). Dalam hukum positif Indonesia, masalah
persaingan curang ini diatur secara khusus pada Pasal 382 bis Undang-undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat.
Ketentuan-ketentuan ini sesungguhnya diperuntukkan bagi sesama pelaku usaha,
tidak bagi konsumen langsung. Kendati demikian, kompetisi tidak sehat diantara
mereka pada jangka panjang pasti berdampak negatif bagi konsumen karena pihak
yang dijadikan sasaran rebutan adalah konsumen itu sendiri, Akhirnya, jika semua
hak-hak yang disebutkan itu disusun kembali secara sistematis (mulai dari yang
diasumsikan paling mendasar), akan diperoleh urutan sebagai berikut:
1. Hak konsumen mendapatkan keamanan
Konsumen berhak mendapatkan keamanan dari barang dan jasa yang
dilawarkan kepadanyn. Produk barang dan jasa 1W tidak bole]) tnembahayakan



39
jika dikonsumsi sehingga konsumen tidak dirugikan baik secara jasmani atau
rohani. Hak untuk memperoleh keamanan ini penting ditempatkan pada
kedudukan utama karena selama berabad-abad berkembang suatu falsafah berpikir
bahwa konsumen adalah pihak yang wajib berhati-hati, bukan pelaku usaha. Dalam
barang danlatau jasa yang dihasilkan dan dipasarkan oleh pelaku usaha beresiko
sangat tinggi terhadap keamanan konsumen, maka pemerintah selayaknya
mengadakan pengawasan secara ketat. Sam hal jugs yang suing dilupakan dalam
kaitan dengan hak untuk mendapatkan keamanan adalah penyediaan fasilitas
umum yang memenuhi syarat yang ditetapkan.
2. Hak untuk mendapatkan informasi yang benar
Setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai
informasi yang benar. Informasi ini diperlukan agar konsumen tidak sampai
mempunyai gambaran yang keliru atas produk barang dan jasa. Informasi ini dapat
disampaikan dengan berbagai cara, seperti lisan kepada konsumen, melalui iklan
diberbagai media, atau meneantumkan dalam kemasan produk (barang). Jika dikaitkan
dengan hak konsumen atas keamanan, mak setiap produk yang mengandung
risiko terhadap keamanan konsumen, wajib disertai informasi berupa petunjuk
pemakaian yang jelas.
Hak untuk mendapatkan informasi menurut Hans W. Micklitz, seorang ahli
hukum konsumen dari jerman, dalam ceramah di Jakarta 26-30 Oktober 1998
membedakan konsumen berdasarkan hak ini. Ia menyatakan sebelum kita
melangkah lebih detail dalam perlindungan konsumen, terlebih dahulu harus ada
persamaan persepsi tentang tipe konsumen yang akan mendapatkan perlindungan.

40

Menurutnya, secara garis besar dapat dibedakan dua tipe konsumen, yaitu
konsumen yang terinformasi (well informed) dan konsumen yang tidak
terinformasi. Ciri-ciri tipe pertama, antara lain
1. Memiliki tingkat pendidikan tertentu
2. Mempunyai sumber daya ekonomi yang cukup, sehingga dapat berperan
dalam ekonomi pasar
3. Lancar berkomunikasi
Dengan memiliki tiga potensi, konsumen jenis ini mampu bertanggungjawab dan
relatif tidak memerlukan perlindungan. Tipe konsumen kedua memiliki ciri, antara
lain:
1. kurang berpendidikan
2. termasuk kategori kelas menengah kebawah
3. tidak lancar berkomunikasi
Konsumen jenis ini perlu dilindungi, dan khususnya menjadi tanggungjawab
negara untuk memberikan perlindungan
25
. Selain ciri-ciri konsumen yang tidak
terinformasikan, karena hal-hal khusus dapat juga dimasukkan kelompok anakanak,
orangtua, dan orang asing ( yang tidak dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat)
sebagai jenis konsumen yang wajib dilindungi oleh negara.
Infonnasi ini hams diberikan secara seragam bagi semua konsumen (tidak
diskriminatif), karena tidak semua konsumen memiliki kemampuan yang soma
untuk akses informasi. Itulah sebabnya, hukum perlindungan konsumen
memberikan hak konsumen atas informasi yang benar, yang didalamnya tercakup
25
/bid, hal 20

41

juga hak atas informasi yang proporsional dan diberikan secara tidak
dishiminatif
3. Hak untuk didengar
Hak yang erat kaitannya dengan hak untuk mendapatkan informasi adalah hak
untuk didengar. Ini disebabkan informasi yang diberikan pihak yang
berkepentingan atau berkompeten sering tidak cukup memuaskan konsumen. Untuk
itu, konsumen berhak mengajukan permintaan informasi lebih lanjut.
4. Hak untuk memilih
Dalam mengkonsumsi suatu produk, konsumen berhak menentukan
pilihannya. Ia tidak boleh mendapat tekanan dari pihak luar sehingga ia tidak lagi
bebas untuk membeli atau tidak membeli. Seandainya ia jadi pembeli, ia juga
bebas menentukan produk mana yang akan dibeii. Hak untuk memilih ini erat
kaitannya dengan situasi pasar. Jika seseorang atau suatu golongan diberikan hak
monopoli untuk memproduksi dan memasarkan barang atau jasa, maka besar
kemungkinan konsumen kehilangan hak untuk
5. Hak untuk mendapatkan produk barang dan/atau jasa sesuai dengan nilai tukar yang
diberikan
Dengan hak ini berarti konsumen harus dilindungi dari permainan harga yang
tidak wajar. Dengan kata lain, kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa yang
dikonsumsi hams sesuai dengan nilai uang yang dibayar sebagai
penggantinya. Namun, dalam ketidak bebasan pasar, pelaku usaha dapat saja
mendikte pasar dengan menaikkan harga, dan konsumen menjadi korban dari

42

ketiadaan pilihan. Konsumen dihadapkan pada kondisi take it or leave it.Jika setuju
silahkan Beli, jika tidak setuju silahkan mencari tempat lain. Dalam situasi demikian,
biasanya konsumen terpaksa mencari produk alternatif (bila masih ada), yang boleh jadi
kualitasnya malahan lebih buruk.
6. Hak untuk mendapatkan ganti kerugian
Jika konsumen merasakan, kuantitas dan kualitas barang dan/atau jasa yang
dikonsumsinya tidak sesuai dengan nilai tukar yang diberikannya, is berhak mendapatkan
ganti kerugian yang pantas. Jenis dan jumlah ganti kerugian itu tentu raja harus sesuai
dengan ketentuan yang berlaku atau atas kesepakatan masing-masing pihak. Untuk
menghindar dan kewajiban memberi ganti kerugian, sering terjadi pelaku usaha
mencantumkan klausula-klausula didalam hubungan hukum antara produsen/penyalur
produk dan konsumennya. Klausula seperti "barang yang dibeli tidak dapat
dikembalikan" merupakan hal yang lazim ditemukan ditoko-toko. Pencantuman secara
sepihak demikian tetap tidak dapat menghilangkan hak konsumen untuk mendapatkan
ganti kerugian.
7. Hak untuk mendapatkan penyelesaian hukum
Hak untuk mendapatkan ganti kerugian harus ditempatkan lebih tinggi daripada
hak pelaku usaha (produsen/penyalur produk) untuk membuat klausula eksonerasi secara
sepihak. Jika permintaan yang diajukan konsumen dirasakan tidak mendapat tanggapan
yang layak dari pihak terkait dalam hubungan hukum dengannya, maka konsumen berhak
mendapatkan penyelesaian hukum termasuk advokasi. Dengan kata lain, konsumen
berhak menuntut pertanggungjawaban



43
hukum dan pihak-pihak yang dipandang merugikan karena mengkonsumsi pihak itu.
Hak untuk mendapatkan penyelesaian hukum ini sebenarnya meliputi juga untuk
mendapatkan ganti kerugian, tetapi kedua hak tersebut tidak berarti identik. Untuk
memperoleh ganti kerugian, konsumen tidak selalu harus menempuh upaya hukum
terlebih dahulu sebaliknya, setiap upaya hukum pada hakikatnya berisikan tuntutan ganti
kerugian oleh salah satu pihak.
8. Hak Untuk Mendapatkan Lingkungan Hidup Yang Balk dan Sehat
Lingkungan hidup yang baik dan sehat berarti sangat luas dan setiap
mahkluk hidup adalah konsumen atas lingkungan hidupnya. Hak konsumen atas
lingkungan yang baik dan sehat merupakan hak yang diterima sebagai salah satu hak
dasar konsumen oleh berbagai organisasi konsumen didunia.
Menurut Heindrad Steiger, sebagaimana dikutip oleh Koesnadi
Hardjasoemantri, hak atas lingkungan yang baik dan sehat merupakan bagian dari hak-
hak subjektif sebagai bentuk yang paling luas dari perlindungan seseorang. Ini
berarti setiap pemilik hak dapat mengajukan tuntutan agar kepentingannya terhadsp
lingkungan yang baik dan sehat dapat selalu dipenuhi
26
.
9. Hak untuk dilindungi dari akibat negatif persaingan curang
Persaingan curang atau dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
disebut dengan Persaingan Usaha Tidak Sehat dapat terjadi seorang pengusaha
berusaha menarik langganan atau klien pengusaha lain untuk memajukan
usahanya atau memperluas penjualan atau
pemasarannya, dengan menggunakan
26
/bid, hal 25



44
alat atau sarana yang bertentangan dengan itikad baik dan kejujuran dalam pergaulan
perekonomian. Walaupun persaingan terjadi antara pelaku usaha, dampak dari
persaingan itu selalu dirasakan oleh konsumen. Jika persaingan sehat maka konsumen
diuntungkan, sebaliknya jika persaingan curang, konsumen pula yang dirugikan.
Kerugian itu boleh jadi tidak dirasakan dalam jangka pendek tetapi cepat atau lambat,
pasti terjadi.
10. Hak untuk mendapatkan perlindungan konsumen
Dinegara kita masih banyak konsumen yang belum menyadari hakhaknya.
Kesadaran akan hak sejalan dengan kesadaran hukum. Makin tinggi tingkat kesadaran
hukum masyarakat, makin tinggi penghormatannya pada hakhak dirinya dan orang
lain. Upaya pendidikan konsumen tidak selalu harus melewati jenjang pendidikan
formal, tetapi dapat melalui media masa dan kegiatan lembaga swadaya masyarakat.
E. flak Dan Kewajiban Produsen
Suatu perkembangan baru dalam masyarakat dewasa ini, khususnya dinegara-
negara maju, adalah makin meningkatnya perhatian terhadap masalah perlindungan
konsumen. Apabila dimasa-masa yang lalu pihak produsen dipandang sangat berjasa
bagi perkembangan perekonomian negara mendapat perhatian lebih besar, maka dewasa
ini perlindungan konsumen lebih mendapat perhatian sesuai dengan makin
meningkatnya perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Namun hingga sekarang
masalah hak dan terutama kewajiban produsen tetap menarik perhatian dimana
hak dan kewaj than produsen



45
mempermudah pemberian kompensasi bagi yang menderita kerugian akibat produk
yang diedarkan dimasyarakat.
Dalam Pasal 6 UUPK, dituangkan beberapa hal yang menjadi hak dari
pelaku usaha yaitu:
a. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai
kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
b. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beritikad baik;
c. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya didalam penyelesaian hukum
sengketa konsumen;
d. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa
kerugian konsumen tidak diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan;
e. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya
Sedangkan dalam Pasal 7 UUPK, menyebutkan:
a. beritikad balk dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan,
perbaikan dan pemeliharaan;
c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak di
skrim inatif;



46
d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang dan/atau jasa yang
berlaku;
e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji dan/atau mencoba barang
dan/atau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau jasa yang diperdagangkan;
f memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan;
g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang
dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian
Dalam teori let the buyer beware, pelaku usaha adalah dua pihak yang sangat
seimbang sehingga tidak perlu ada proteksi apapun bagi konsumen. Tentu saja dalam
perkembangannya, konsumen tidak mendapatkan akses informasi yang sama terhadap
barang atau jasa yang dikonsumsikannya. Ketidak mampuan itu bisa karena keterbatasan
pengetahuan konsumen, tetapi terlebih-lebih lagi banyak disebabkan oleh
ketidakterbukaan pelaku usaha terhadap produk yang ditawarkannya. Akhirnya,
konsumen pun didikte oleh pelaku usaha. Jika konsumen mengalami kerugian,
pelaku usaha dapat dengan ringan berdalih, semua itu karena kelalaian konsumen
sendiri. Namun ha] seperti ini tidak dapat dibiarkan terjadi, pelaku usaha hams
memenuhi kewajibannya untuk menjadi pelaku usaha yang terbuka terhadap produk
yang ditawarkannya.



47
Sedangkan dalam The due care theory menyatakan, bahwa pelaku usaha
mempunyai kewajiban untuk berhati-hati dalam memasyarakatkan produk, balk barang
maupun jasa. Selama berhati-hati dengan produknya, is tidak akan dapat
dipersalahkan. Jadi jika ditafsirkan secara akontrario, maka untuk
mempersalahkan sipelaku usaha, seseorang harus dapat membuktikan, pelaku usaha
itu melanggar prinsip kehati-hatian. Dalam realita agak sulit bagi konsumen untuk
menghadirkan bukti-bukti guna memperkuat gugatannya. Sebaliknya, sipelaku
usaha dengan berbagai keunggulan (secara ekonomis, sosial, psikologis, bahkan
politis), relatif lebih mudah berkelit, menghindar dari gugatan demikian.
Prinsip The Privity of Contract menyatakan, bahwa pelaku usaha
mempunyai kewajiban untuk melindungi konsumen, tetapi hal itu barn dilakukan jika
diantara mereka telah terjalin suatu hubungan kontraktual. Pelaku usaha tidak dapat
disalahkan atas hal-hal diluar yang diperjanjikan. Artinya, konsumen boleh menggugat
berdasarkan wanprestasi. Ditengah minimnya peraturan perundangundangan dibidang
konsumen, sangat sulit menggugat dengan dasar perbuatan melawan hukum.
Seandainya sudah terdapat hubungan hukum, persoalannya tidak begitu saja selesai.
Walaupun secara yuridis dinyatakan, antara pelaku usaha dan konsumen berkedudukan
sama, tetapi faktanya, konsumen adalah pihak yang biasanya selalu didikte menurut
kemauan sipelaku usaha.
Kurangnya kesadaran akan, kewajiban sebagai pelaku usaha akan
berakibat fatal dan menghadapi resiko bagi kelangsungan hidup/kredibilitas
usahanya. Rendahnya kualitas produk atau adanya cacat pada produk yang



48
dipasarkan sehingga menyebabkan kerugian bagi konsumen, disamping akan
menghadapi tuntutan kompensasi (ganti ntgi).



BAB III
GAMBARAN UMUM TENTANG JUAL BELI
A. Pengertian Jual Beli
Dalam rumusan Pasal 1233 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
disebutkan bahwa, "tiap-tiap perikatan dilahirkan balk karena perjanjian, balk
karena undang-undang'
,27
. Rumusan tersebut menunjukkan pada kita semua bahwa
setiap kewajiban yang ada pada suatu perikatan dapat terwujud .karena dua hal. Pertama,
karena ditentukan demikian oleh undang-undang, dan kedua karena memang dikehendaki
oleh para pihak aengan mengadakan atau membuat suatu perjanjian. Dengan demikian,
setiap pihak yang membuat perjanjian dengan pihak lainnya secara sadar memang
bermaksud untuk mengikatkan dirinya untuk melaksanakan suatu kewajiban dalam
lapangan harta kekayaan yang mentpakan perikatan atau utang bagi dirinya terhadap
lawan pihaknya dalam perjanjian tersebut. Pada umumnya seseorang tidaklah berjanji
secara sukarela, tanpa adanya imbalan dari pihak lawannya, dan oleh karena itulah, maka
dalam perjanjianperjanjian yang dijumpai dalam praktek, senantiasa terdapat
prestasi atau kewajiban atau perikatan atau utang yang bertimbal-balik antara para pihak
yang membuat perjanjian tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap manusia tidak akan luput dad
kebutuhan hidupnya sehari-hari. Untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya tersebut
27
R. Subekti, R. Tjitrosudibio,tab Undang-Undang Rifkin??
Pen/W(1, PT. ' PradityaParairlitn, Jakarta, I4
{
)2, hal 264
Nenny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsugan
dalam jual-beli... 2004 USU Repository 2008.
50

manusia mengembangkan kemampuan dan akalnya. Dari yang semula berburu
untuk rnemenuhi kebutuhan hidupnya, manusia kemudian hidup berkelompok
dengan pembagian tugas antara anggota kelompok yang satu dan anggota
kelompok yang lain. Masing-masing saling memberikan (atau mempertukarkan satu
hal dengan hal lain). Lambat laun dengan mempergunakan perkembangan akalnya,
manusia mulai menciptakan suatu bentuk alat tukar yang berlaku universal,
mulai dari logam-logam mulia hingga pada akhirnya memperoleh bentuk alat tukar
dalam wujud uang, yang dikenal sekarang ini. Dengan demikian maka setiap
kebutuhan manusia akan sesuatu hal dapat dipertukarkan uang, yang menjadi alat
tukarnya. Pertukaran antara kebutuhan tersebut dengan uang, kita namakan dengan
jualbeli. Ini berarti jualbeli tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia.
Jualbeli merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dihindari baik oleh setiap
individu, dengan tujuan pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari yang paling
sederhana, hingga setiap badan usaha (baik berbentuk badan hukum atau tidak
berbentuk badan hukum).
Pasal 1457 BW menentukan: jualbeli adaiah suatu persetujuan yang
mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan suatu barang/benda (zaak), dan pihak
lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat din berjanji untuk membayar harga
28
.
Berdasarkan pada rumusan yang diberikan tersebut dapat kita lihat bahwa jualbeli
merupakan suatu bentuk perjanjian yang melahirkan kewajiban atau perikatan
untuk memberikan sesuatu, yang dalam hal ini
terwujud dalam bentuk
2g
Mid

51

penyerahan kebendaan yang dijual oleh penjual, dan penyerahan uang oleh
pembeli kepada penjual.
Land mengemukakan: "hanya ada satu persetujuan, apa yang menjadi
persetujuan Beli bagi satu pihak, merupakan persetujuan jual bagi pihak
lawannya"
29
. Tentang persetujuan jualbeli, dianggap sudah berlangsung antara pihak
penjual dan pembeli, apabila mereka telah menyetujui dan bersepakat tentang
"keadaan benda" dart "harga barang" tersebut, sekalipun barangnya belum diserahkan dan
harganya belum dibayarkan (Pasal 1458 BW). Jualbeli tiada lain daripada persesuaian
kehendak antara penjual dan pembeli mengenai barang dan harga. Barang dan hargalah
yang menjadi unsur penting dalam perjanjian jualbeli. Tanpa ada barang yang hendak
dijual, maka tidak mungkin terjadi jualbeli. Sebaliknya jika barang objek jual beli
tidak dibayar dengan sesuatu harga, jualbeli dianggap tidak ada.
Kesepakatan dalam perjanjian merupakan perwujudan dan kehendak dua atau
lebih pihak dalam perjanjian mengenai apa yang dikehendaki oleh para pihak.
Kesepakatan tersebut pada dasarnya berisikan hal-hal yang disebut dengan nama:
1. Unsur esensialia
2. Unsur naturalia
3. Unsur aksidenialia
Semua unsur-unsur tersebut menyusun isi perjanjian secara keseluruhan. Pada
dasarnya sebelum para pihak sampai pada kesepakatan mengenai hal-hal tersebut,
29
Mid

52

maka salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian tersebut akan menyampaikan
terlebih dahulu suatu bentuk pernyataan mengenai apa yang dikehendaki oleh
masing-masing pihak tersebut, yang pada umumnya merupakan unsur naturalia
maupun unsur aksidentalia. Pernyataan yang disampaikan dikenal dengan nama
penawaran, yang memuat segala macam persyaratan yang mungkin dan
diperkenankan oleh hukum untuk disepakati oleh para pihak. Jadi penawaran itu
berisikan kehendak dari salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian, yang
disampaikan kepada lawan pihaknya, untuk memperoleh kesepakatan atau
persetujuan dan lawan pihaknya tersebut.
Pihak lawan dari pihak yang melakukan penawaran selanjutnya harus
menentukan apakah ia akan menerima penawaran yang disampaikan oleh pihak yang
melakukan penawaran tersebut. Dalam hal pihak lawan dari pihak yang melakukan
penawaran menerima penawaran yang diberikan, maka tercapailah kesepakatan
tersebut. Sedangkan jika pihak lawan dan pihak yang melakukan penawaran tidak
menyetujui penawaran yang disampaikan tersebut maka ia dapat mengajukan
penawaran batik yang memuat ketentuan-ketentuan yang dianggap dapat dipenuhi
atau yang sesuai dengan kehendaknya yang dapat dilaksanakan dan diterima
olehnya. Dalam hal demikian maka kesepakatan belum tercapai. Keadaan tawar-
menawar ini akan tents berlanjut hingga pada akhirnya kedua belah pihak mencapai
kesepakatan mengenai hal-hal yang hams dipenuhi dan dilaksanakan oleh para pihak
dalm perjanjian tersebut. Saat penerimaan yang paling akhir dan rangkaian penawaran
atau tawar-menawar yang disampaikan dan dimajukan oleh para pihak secara
bertimbal-balik adalah saat. tercapainya

53

kesepakatan. Dengan demikian berarti, dapat dikatakan bahwa saat tercapainya
kesepakatan adalah saat penerimaan dan penawaran yang terakhir disampaikan.
Cara dan terbentuknya persetujuan jualbeli, bisa terjadi secara terbuka,
seperti yang terjadi pada penjualan atas dasar eksekutorial. Penjualan eksekutorial, hams
dilakukan melalui lelang di muka umum oleh pejabat kantor lelang. Akan tetapi cara
dan bentuk penjualan eksekutorial yang bersifat umum ini, jarang sekali terjadi.
Penjualan demikian hams memerlukan keputusan pengadilan karena itu jualbeli yang
terjadi dalam lalu-Iintas kehidupan masyarakat sehari-hari adalah jualbeli yang
dilakukan antara penjual dan pembeli tanpa campur tangan pihak resmi, dan tidak
perlu di muka umum. Bentuk jualbelinya pun, terutama jika objeknya barang-barang
bergerak, cukup dilakukan dengan lisan, kecuali bendabenda tertentu, terutama
mengenai objek benda-benda tidak bergerak pada umumnya selalu memerlukan
bentuk akte jualbeli.
Sebenarnya yang menjadi persoalan bukanlah kapan kesepakatan tersebut
dianggap terjadi, melainkan adalah bagaimana jika antara selang waktu
penerimaan dilakukan oleh satu pihak dalam perjanjian dan saat penerimaan
tersebut diketahui oleh lawan pihaknya dalam perjanjian terjadi sesuatu atas objek
perjanjian. Pihak mana yang akan menanggung resiko atas terjadinya hal-hal yang
membawa kerugian pada salah satu pihak dalam perjanjian yang telah dibuat dan
disepakati oleh para pihak tersebut? Dalam perjanjian konsensuil, Kitab UndangUndang
I Iukum Perdata menentukan bahwa segera setelah terjadi kesepakatan maka Iahirlah
perjanjian, yang pada saat bersamaan juga menerbitkan perikatan diantara para pihak
yang telah hersepakat dan herjanji tersebut.

54

Menurut Wirjono Prodjodikoro jual beli suatu barang adalah suatu
penerahan barang oleh penjual kepada pembeli dengan maksud memindahkan hak
milik atas barang itu dan dengan syarat pembayaran harga tertentu berupa uang oleh
pembeli kepada penjual. Wirjono Prodjodikoro tidak menambahkan ketentuan
itu bahwa penyerahan hak milik atas benda yang dibeli harm memenuhi syarat-syarat
pengesahan dan tidak membedakan jual Beli benda bergerak dengan benda tidak
bergerak. Keadaan yang sedemikian masih terdapat juga didalam penghidupan
sehari-hari, umpamanya jual Beli tanah hanya disaksikan atau diketahui oleh
Kepala Desaikebiasaan setempat tanpa dicatatkan kekantor pendaftaran tanah.
Mungkin tindakan yang diarnbil itu akibat pengaruh hukum adat, yang tidak
membedakan penjualan benda bergerak dengan benda tidak bergerak, yaitu
mengenai pemindahan hak milik atas benda objek penjualan. liak milik atas benda
bergerak segera terjadi dengan dipindah tangankan benda tersebut dart penjual
kepada pembeli dan benda tidak bergerak seperti tanah memerlukan waktu yang
lebih lama dengan adanya ketentuan tentang balik nama dan pendaftaran ke kantor
pendaftaran tanah
3
.
Dalam perjanjian formil, maka kesepakatan ba' terjadi dan ada pada saat
formalitas yang disyaratkan oleh undang-undang telah dipenuhi. Dengan
demikian, maka kesepakatan lisan saja yang dihasilkan dart tercapainya perjanjian
mengenai pokok perjanjian, yang terwujud dalam bentuk penerimaan oleh salah satu
pihak dalam perjanjian atas kondisi dan syarat-
syarat serta ketentuan-
!bid, Era[ 4

55

ketentuan khusus yang ditawarkan oleh lawan pihaknya belum menerbitkan
perikatan.
Dari uraian yang telah diberikan tersebut diatas, dapat kita simpulkan,
bahwa pada dasarnya, sebagaimana halnya suatu perjanjian riil dalam
kesepakatan baru dianggap ada apabila telah ada penerimaan dari pihak yang
diberikan penawaran dan dalam hal terjadi penawaran bertimbal balik, maka
penerimaan yang terakhir adalah saat berlakunya perjanjian yang menunjukkan saat
kesepakatan tercapai. Penetimaan oleh pihak yang terakhir tersebut, bukanlah suatu
bentuk penerimaan yang ada dalam benak dari pihak yang menerima, melainkan
haruslah terwujud dalam bentuk perbuatan untuk memberitahukan kepada piha.k
yang mengajukan penawaran terakhir. Jika jualbeli dilakukan secara lisan maka ha!
penerimaan tersebut pada dasarnya dapat dinyatakan secara lisan oleh pihak yang
menerima penawaran terakhir tersebut kepada pihak yang melakukan penawaran
terakhir. Saat itulah yang merupakan saat lahimya jualbeli. Namun demikian tidak
tertutup kemungkinan bahwa pembicaraan secara lisan tidak dapat dilakukan,
maka dalam hal yang demikian saat penyampaian penerimaan penawaran
dianggap sebagai saat lahimya jual beli dengan ketentuan:
1. Dalam hal disampaikan melalui surat maka bukti cap pos merupakan saat
terjadinya kesepakatan;
2. Kantor kurir atau kantor pos tercatat adalah saat terjadinya kesepakatan;
3. Jika disampaikan melalui melalui kurir, atau poster catat maka saat
kesepakatan tercapai adalah saat mesin faksimili mengeluarkan bukti pengi
rirnan;

56

4. Dalam hal disampaikan melalui e-mail maka kesepakatan adalah saat
komputer menunjukkan bukti pengiriman e-mail tersebut.
Objek Jual Beli
Yang harus diserahkan dalam persetujuan jual beli adalah sesuatu yang
berwujud benda/ barang (zaak). Bertitik tolak dal
-
1 pengertian benda/barang ialah
segala sesuatu yang dapat dijadikan objek harta benda atau harta kekayaan
31
. Kalau
begitu yang dapat dijadikan objek jual beli adalah segala sesuatu yang bernilai harta
kekayaan. Kedalamnya termasuk perusahaan dagang, porsi warisan dan sebagainya.
Bukan hanya benda yang dapat dilihat wujudnya, tapi semua benda bernilai harta
kekayaan, baik yang nyata maupun tidak berwujut. Asalkan benda yang dijadikan
objek jual beli tersebut sudah ada atau tidak gugur pada saat persetujuan jual beli
diperbuat maka jual beli dianggap sah. Mengenai maksud penyerahan benda yang
dijual, tentu termasuk penyerahan hak milik. Kurang tepat rasanya, seseorang yang
membeli barang, hanya menerima barangnya saja, tanpa ada maksud untuk menguasai
dan memilikinya. Memang seperti yang dituangkan didalam Pasal 1459 BW, hak
milik tidak dengan sendirinya menurut hukum berpindah kepada pembeli.
Melainkan milik itu baru berpindah sesudah barang yang dibeli diserahkan sesuai
dengan aturan penyerahan yang ditetapkan. Oleh karena itu penyerahan barang objek
jual beli tidak hanya penyerahan barangnya semata-mata tapi meliputi penyerahan
barang dan penguasaan serta hak milik dari barang kepada pembeli.
'
11
M, Yi ()p.Cit, hal 182

57

Jual beli sebagai perjanjian yang melahirkan perikatan untuk menyerahkan
sesuatu, maka dalam konteks kebendaan yang diperjualbelikan, sebagaimana
ditentukan dalam Pasal 1332 dan Pasal 1333 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata yang menyatakan bahwa:
Pasal 1332: "hanya kebendaan yang dapat diperdagangkan saja yang dapat
menjadi pokok perjanjian".
Pasal 1333: " suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok perjanjian berupa suatu
kebendaan yang paling sedikit ditentukan jenisnya. Tidaklah menjadi
halangan bahwa jumlah kebendaan tidak tentu, asal saja jumlah itu
kemudian dapat ditentukan atau dihitung"
32
.
Dengan demikian jelaslah bahwa, kebendanan yang merupakan objek perjanjian yang
diperjualbelikan merupakan suatu hal yang mutlak sudah hams ditentukan, dan
bahwa sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata bahwa jual beli dianggap telah terjadi antara kedua belah pihak setelah
tercapai kesepakatan tentang benda tersebut dan harganya, meskipun benda itu
belum diserahkan maupun belum dibayar.
Tanpa adanya objek jualbeli yang tertentu tersebut yang telah ditentukan dan
disepakati oleh pembeli dan penjual maka tidak mungkin ada jualbeli. Jika bukan
benda tersebut yang akan diuperjualbelikan, maka jual beli itu tidak akan tejadi. Hal
ini sesungguhnya sejalan dengan syarat objektifnya sahnya suatu perjanjian. Tetapi
dalam pandangan ini, undang-undang melihat bahwa pada dasarnya kesalahan
tersebut telah terjadi atau dilakukan oleh subjeknya
yang
12 Mid

58

membuat perjanjian (dalam hal ini jualbeli), yang tanpa adanya kesalahan (yang
menurut undang-undang disebut dengan kekhilafan) maka jual beli tidak mungkin akan
dilaksanakan. Dalam perspektif yang demikian, maka subjek yang mengalami
kekhilafan tersebut harus membuktikan bahwa kebendaan yang menjadi objek jual
Beli bukanlah kebendaan yang dimaksudkan. Undang-undang tidak mempersoalkan
terhadap siapa jual beli dilaksanakan, selama dan sepanjang kebendaan yang merupakan
objek yang diperjualbelikan adalah sama dan sesuai. Dalam hal yang demikian undang-
undang tidak memperlakukannya sebagai suatu kekhilafan, oleh karena dalam
pandangan undang-undang, tujuan dari jualbeli adalah memperoleh kepemilikan dan
suatu kebendaan tertentu yang ditetapkan sebagai objek jual beli, terlepas dari siapa
penjualnya.
Disamping benda/barang yang menjadi objek dari jualbeli, harga juga
merupakan suatu unsur yang penting dalam jualbeli. Harga berarti sesuatu jumlah yang
harus dibayarkan dalam bentuk uang. Pembayaran harga dengan uanglah yang dapat
dikategorikan kedalam jualbeli. Harga yang berbentuk lain diluar uang, berada
diluar jangkauan persetujuan jualbeli. Kalau harga barang yang dibeli tadi dibayar
dengan benda lain yang bukan berbentuk uang, jelaslah bahwa persetujuan itu bukan
jualbeli tapi yang terjadi adalah persetujuan tukar menukar barang. Harga barang itu
harus benar-benar harga yang sepadan dengan nilai yang sesungguhnya. Kesepadanan
antara harga dengan barang sangat perlu untuk dapat melihat hakekat persetujuan yang
diperbuat. Sebab kalau harga barang yang dijual sangat murah atau sama sekali tidak
ada, jelaslah persetujuan yang terjadi dalam kenyataannya bukan jual Beli sudah lebih
tepat disebut hibah.

59

Kesepadanan antara harga dengan nilai barang bukan merupakan syarat
sahnya suatu persetujuan jualbeli. Akan tetapi kesepadanan harga ini dapat kita
kembalikan kepada tujuan jualbeli itu sendiri, yakni jualbeli tiada lain bermaksud untuk
mendapatkan pembayaran yang pantas atas barang yang dijual. Kalau harga yang
pantas/sepadan tidak dipergunakan sebagai patokan, penjual yang kena paksa atau
tipu dengan harga yang murah, penjual tidak dapat menuntut pembatalan
persetujuan, sehingga penjual tidak bisa dilindungi atas tindakan pemaksaan dan
penipuan. Harga yang pantas dan sepadan, ditentukan oleh persetujuan kedua
belah pihak. Penjual dan pembelilah yang menetapkan harga yang pantas tersebut.
Merekalah yang paling utama berhak untuk menentukannya.
Namun demkian, jika diantara penjual dan pembeli tidak terdapat
kesepakatan tentang harga yang pantas, kedua belah pihak dapat menyerahkan
penentuan harga kepada pihak ketiga. Sekalipun boleh menyerahkan penentuan harga
kepacla pihak ketiga. Sekalipun boleh menyerahkan penentuan harga kepada pihak
ketiga, nampaknya pihak ketiga tidak mutlak mesti menetapkan harga.
Dari uraian yang telah disebutkan diatas, jelaslah bahwa yang menjadi
objek dalam jual Beli adalah barang/benda, dimana dalam proses jual Beli
ditetapkanlah suatu harga yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Karena
merupakan keinginan sipenjual untuk menjual benda/barang yang dimilikinya
dengan suatu harga tertentu, dimana keadaan ini harus diimbangi dengan
keinginan pembeli untuk membeli benda/barang itu dengan membayarkan sejumlah
uang.

60

C. Kewajiban Para Pihak Dalam Jual Beli
a. Kewajiban Penjual
Penjual memiliki tiga kewajiban pokok, mulai dari sejak jualbeli terjadi
menurut ketentuan Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Menurut
ketentuan tersebut, secara prinsip penjual memiliki kewajiban untuk:
1. memelihara clan merawat kebendaan yang akan diserahkan kepada pembeli
hingga saat penyerahannya;
2. menyerahkan kebendaaan yang dijual pada saat yang telah ditentukan atau jika tidak
telah ditentukan saatnya, atas permintaan pembeli;
3. menanggung kebendaaan yang dijual tersebut
Kewajiban untuk memelihara dan merawat kebendaan hingga saat
penyerahan. Kewajiban penjual untuk memelihara dan merawat kebendaan hingga saat
kebendaan adalah kewajiban yang dibebankan berdasarkan ketentuan umum mengenai
perikatan untuk menyerahkan atau memberikan sesuatu sebagaimana diatur dalam
Pasal 1235 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa: "Dalam
tiap-tiap perikatan untuk memberikan sesuatu adalah termaktub kewajiban untuk
menyerahkan kebendaan yang bersangkutan dan untuk merawatnya sebagai
seorang kepala nunah tangga yang baik, sampai saat penyerahan"
33
.
Pada dasarnya penjual tidak diwajibkan untuk memberikan suatu perhatian
yang berlebih dalam kewajibannya memelihara dan merawat kebendaan yang masih
berada padanya sebel um penyerahan diberikan
kepada penjual. Kewajiban
33
lbid, lull 128

61

tersebut pada dasarnya hanya membebankan penjual untuk memelihara dan
merawat kebendaan yang dijual tersebut, sebelum penyerahan sebagaimana
halnya ia memelihara dan merawat kebendaan miliknya. Dalam hal terjadi
kerugian atas kebendaan yang dijual tersebut, maka hams diperhatikan:
a. jika pada saat penjualan kebendaan yang dijual sama sekali musnah, maka ini
berarti tidak pernah terjadi jual beli dan akibatnya adalah jual beli tersebut adalah
batal demi hukum, sedangkan jika hanya sebagian dari kebendaan yang dijual
tersebut yang musnah, maka dalam hal ini pembeli sebagai pihak yang
berkepentingan mengenai kebendaan yang akan dibeli diberikan hak untuk
menentukan apakah jual beli akan dibuat dengan keadaan seperti saat jual beli ini
dilangsungkan.
b. Jika setelah jual beli dilakukan, dan kebendaan tersebut musnah, maka:
1) Sesuai ketentuan Pasal 1460 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, jika
barang tersebut musnah sebelum ia lalai untuk menyerahkan kebendaan
tersebut, dan pembeli juga tidak bersalah atas musnahnya barang tersebut,
maka perikatan atau kewajiban penjual menjadi hapus demi hukum, namun
demikian tidaklah berarti kewajiban dari pembeli, sesuai ketentuan Pasal 1460
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjadi hapus, melainkan pembeli
tetap berkewajiban untuk membayar harga belinya
2) Alasan pembenar tentang adanya keadaan memaksa atau kejadian yang tidak
disengaja, yang merupakan dua ha! yang bersifat alternatif, dengan
pengertian bahwa jika salah sate peristiwa terjadi, maka penjual dihapuskan dari
kewajiban dun perianaungjawahunnya, mcskipun penjual tidak

62

memenuhi kewajibannya, yaitu dalam hal ini merawat dan memelihara
kebendaan yang dijual hingga saat penyerahan. Jika pernyataan keadaan
memaksa tersebut dikaitkan dengan pernyataan kejadian yang tidak
disengaja, maka jelas rumusan tersebut menunjuk pada suatu keadaan yang
merupakan kejadian yang berada diluar kekuasaan manusia. Dalam hal ini
dapat ditunjukkan dengan peristiwa banjir, gempa bumi, tanah longsor.
Kewajiban untuk menyerahkan kebendaan yang dijual, penyerahan barang
dalam jualbeli, merupakan tindakan pemindahan barang yang dijual kedalam
kekuasaan dan pemilikan pembeli. Kalau pada penyerahan barang tadi diperlukan
penyerahan yuridis disamping penyerahan nyata, agar pemilikan pembeli menjadi
sempurna, pembeli harus menyelesaikan penyerahan tersebut (Pasal 1475 BW).
Misalnya penjualan rumah atau tanah. Penjual menyerahkan kepada pembeli, baik secara
nyata maupun secara yuridis dengan jalan melakukan akte balik nama dari nama
penjual kepada pembeli. Penyerahan nyata yang dibarengi dengan penyerahan
yuridis umumnya terdapat pada penyerahan Benda-benda tidak bergerak. Lain
halnya dengan benda-benda bergerak, penyerahannya sudah cukup sempurna dengan
penyerahan nyata saja.
Demikian juga halnya dengan penyerahan barang yang telah dikuasai oleh
pihak yang hendak menerima penyerahan, harus disempurnakan pihak penjual. Ada
dua ketentuan perolehan hak milik berdasarkan penyerahan, yaitu:
1. Adanya peristiwa perdata untuk memindahkan hak milik;
2. Dilakukannya penyerahan itu sendiri,

63

yang semuanya hams dibuat dan dilakukan oleh seorang yang berhak untuk
berbuat bebas terhadap kebendaan yang akan dialihkan tersebut.
Mengenai ongkos penyerahan barang, tentang biaya ongkos penyerahan
barang yang dijual, diatur dalam Pasal 1476 BW.
- ongkos penyerahan barang ditanggung oleh penjual
biaya untuk datang mengambil barang dipikul oleh pembeli
Namun demikian kedua belah pihak dapat mengatur lain, diluar ketentuan yang
disebut diatas. Karena Pasal 1476 BW itu sendiri ada menegaskan, ketentuan
pembayaran ongkos penyerahan yang dimaksud tadi berlaku, sepanjang para pihak
penjual dan pembeli tidak memperjanjikan lain. Dalam praktek sering kita jumpai,
pembelilah yang menanggung semua ongkos penyerahan. Jika demikian halnya, sedikit
banyak harga penjualan akan lebih tinggi dari jika pembeli yang menanggung ongkos
penyerahan.
Tempat penyerahan, jika para pihak tidak menentukan tempat penyerahan
dalam persetujuan jualbeli, maka penyerahan dilakukan "ditempat terletak" barang
yang dijual pada saat persetujuan jualbeli terlaksana.
Penyerahan tidak wajib dilakukan kalau penjual tidak ada memberi
kelonggaran tentang pembayaran, pembeli hams melakukan pembayaran atas seluruh
harga barang serentak pada waktu penyerahan barang dilakukan. Apabila pembeli
belum juga membayar harga, penjual tidak wajib melaksanakan penyerahan
barang (Pasal 1478 BW). Kalau kita bertitik tolak agar penyerahan dilaksanakan
menurut sepatutnya, penyerahan yang paling tepat atas barang yang

64

dijual kepada pembeli ialah secara bersamaan setelah pembeli melaksanakan
penyerahan harga barang
34
.
Penjual lupa menyerahkan barang, jika penjual lupa atau lalai
menyerahkan barang yang dibeli kepada pembeli, pernbeli dapat menuntut
pembatalan jual Beli. Sesuai dengan Pasal 1266 BW pada perjanjian timbal balik,
bilamana salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, maka kelalaian atau
keingkaran demikian adalah merupakan syarat yang membatalkan perjanjian.
Tetapi perlu diingat, sekalipun tidak menunaikan kewajiban merupakan syarat yang
membatalkan, batalnya itu tidak dengan sendirinya. Pembatalan harus dimintakan
kepengadilan. Karena syarat yang membatalkan tersebut bukan dengan sendirinya
batal, tetapi sifatnya dapat diminta pembatalan. Apabila salah satu pihak tidak
menepati perjanjian, pihak lain dapat memilih:
a. memaksa pihak lain supaya menepati kewajiban yang diperjanjikan, bilamana
pelaksana masih mungkin
b. menuntut pembatalan atau pembubaran perjanjian yang dibarengi dengan
tuntutan ganti rugi, yang terdiri dari ongkos, kerugian dan bunga.
Adapun barang yang diserahkan harus dalarn keadaan sebagaimana adanya
pada saat persetujuan dilakukan. Mulai saat terjadinya penjualan, segala hasil dan buah
yang timbul dari barang, menjadi kepunyaan pembeli (Pasal 1481 BW). Berarti
sejak terjadinya persetujuan jual beli, pembeli berhak atas segala hasil dan buah yang
dihasilkan barang, sekalipun barang bel um diserahkan kepada pembeli. Sejak
terjadinya persetujuan jual hell, resiko atas barang
juga teiah berpindah
14
M. Yn 111111dt:1p, (Jp.hal 192

65

menjadi tanggungan pembeli, sekalipun barangnya belum diserahkan kepadanya, dan
penjual sejak saat itu berhak menuntut pembayaran harga atas kemusnahan barang.
Atas pembebanan resiko yang demikian, tentu pantas untuk
mensejajarkannya dengan kemungkinan keuntungan yang akan diperoleh dari
benda sejak persetujuan jual Beli diadakan, adalah pantas menjadi hak pembeli
sekalipun barangnya belum diserahkan. Karena itu semua hasil atau buah yang
timbul sebelum saat penyerahan, harus dipelihara dan diurus oleh penjual,
sebagaimana layaknya seorang bapak yang berbudi baik.
Penyerahan wajib dilakukan secara keseluruhan, kalau ha) itu tidak
ditentukan atas persetujuan kedua belah pihak, dengan perincian:
1. Jika penyerahan benda tak bergerak telah dinyatakan luas dan besarnya maupun
isinya serta harganya untuk setiap ukuran, penjual wajib menyerahkan benda itu
secara keseluruhan sesuai dengan penjelasan yang terdapat dalam surat
perjanjian. Jika penyerahan seperti diatas tidak mungkin dilaksanakan atau
pembeli sendiri tidak menuntut penyerahan atas keseluruhan, penjual wajib
menerima harga dengan pemotongan atau pengurangan harga yang berimbang
dengan bahagian yang tidak diserahkan.
2. Jika yang diserahkan jauh lebih besar dari yang ditentukan dalam perjanjian jual
beli (mengenai barang tidak bergerak), pembeli boleh memilih
- menambahkan harga atas kelebihan
- mengurungkan pembelian, jika kelebihan itu meliputi sampai seperduapuluh dari
apa yang tersebut dalam surat perjanjian
Nanny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen
dalam jual-beli... 2004 USU Repository 2008.


66
Kalau lelebihan sampai meliputi seperduapuluh bahagian, pembeli dapat memilih
untuk meneruskan pembelian dengan penambahan harga atas kelebihan atau dapat
mengurungkan pembelian. Namun, jika kekurangan itu mencapai seperduapuluh maka
dapat dipergunakan prinsip a kontrario dari ketentuan mengenai kelebihan
seperduapuluh bahagian, jika barang yang diserahkan mencapai kelebihan
seperdupuluh bagian, pembeli dapat memilih apakah dia menambah harga atau
mengurungkan pembelian. Demikian juga halnya dengan kekurangan yang
mencapai seperduapuluh bahagian. Pembeli dapat memilih meneruskan pembelian
dengan jalan pengurangan harga atau mengurungkan saja pembelian.
Pembeli dapat mengurungkan pembelian disebabkan kekurangan atau
kelebihan, penjual wajib mengembalikan pembayaran yang diterimanya kepada
pembeli. Memang demikinlah semestinya, jika jual Beli tidak jadi terlaksana,
keadaan kembali kepada keadaan semula. Gugatan penjual terhadap pembeli untuk
menambah harga kelebihan atau gugatan pembeli terhadap penjual untuk mengurangi
harga atas kekurangan barang maupun tuntutan pembatalan jual Beli hanya dapat
dimajukan dalam tempo satu bulan sesudah terjadinya penyerahan. Lewat dari
tenggang satu bulan tersebut, hak menggugat gugur karena dianggap telah lampau
waktu (Pasal 1489 BW).
Kewajiban menjamin dan menanggung, kewajiban kedua dari penjual ialah
menjamin barang yang dijualnya (Pasal 1491 BW). Penjual hams
menanggung/menjamin barang yang dijual dalam keadaan:
1. tentram dan damai dalam kekuasaan pemilikan pembeli, tanpa ganggu-gugat dari
siapapun juga



67
2. Menjamin, bahwa barang yang dijual tidak mempunyai carat tersembunyi dan
meat yang nyata. Kedua bentuk jaminan tersebut sama-samamerupakan alasan
menuntut ganti rugi dan pembatalan persetujuan jual Beli. Jaminan atas gangguan
dan carat barang, merupakan kewaj iban yang hares ditanggung oleh penjual.
Tujuan penjaminan ini adalah agar:
a. pembeli jangan mengalami kerugian, balk atas sebahagian atau seluruh
barang yang dibeli
b. Juga agar barang yang dibeli benar-benar terlepas dari beban yang dimiliki
pihak ketiga
Namun demikian penjual dan pembeli dapat membuat persetujuan istemewa yang
memperluas atau mengurangi jaminan yang diwajibkan kepada penjual diluar yang
telah ditentukan undang-undang. Malahan penjual dan pembeli boleh membuat
persetujuan yang sama sekali membebaskan penjual dan segala jaminan (Pasal 1493
BW).
Tanggungan/jaminan penjual yang terpenting atas barang yang dijualnya
adalah:
1. Menanggung/menjamin barang yang dijual atas segala tuntutan dan
eksekutarial beslag. Jaminan penjual atas eksekusi hams mengenai seluruh atau
sebagian barang. Penjual hams menjamin dari kemungkinan adanya melekat
hak orang ketiga. Mengenai dasar hak orang ketiga diatas benda yang dijual tadi,
bisa saja berupa milik. Barang yang dijuai itu ternyata milik orang ketiga, sehingga
benar-benar penjual bukan orang yang berhak atas barang yang dijualtiya.
Seandainyn lerhadap barang lath dilakukto beslaglsita guna



68
membayar hutang penjual kepada pihak ketiga, pembeli berhak menggugat
penjual (Pasal 1492 BW):
- untuk mengembalikan harga penjual
- buah dan hasil yang timbul, jika pembeli diwajibkan mengembalikan barang
kepada pemilik yang sebenarnya
- segala ongkos-ongkos yang dikeluarkan pembeli yang timbul selama proses
perkara berjalan dipengadilan
segala biaya dan uang ganti rugi serta bunganya
- juga ongkos-ongkos surat pembelian dan penyerahan yang telah dikeluarkan
pembeli
2. a. Penjual wajib menanggungfmenjamin barang atas setiap pembebanan pihak
ketiga. Pasal 1502 BW merupakan pasal khusus yang mengatur tanggungan
penjual atas segala beban yang diletakkannya atas barang yang dijual. Akan tetapi
Pasal 1502 hanya menyebutkan pembebanan atas hak pekarangan atau servitut
saja. Jadi bukan mengatur pembebanan pada umumnya. Jika terhadap tanah
yang dijual dibebani dengan hak servitut, dan hat ini tidak diberitahukan penjual,
pembeli dapat:
- meminta pembatalan jual Beli
meminta ganti rugi atas beban yang terletak pada barang itu
b. Jaminan/tanggungan atas cacat yang terdapat pada barang yang dijual. Pasal 1504
BW mewajibkan penjual untuk menjamin cacat yang tersembunyi yang
terdapat pada barang yang dijualnya. Cacat itu mesti cacat yang
menyebabkan barang itu tidak dapat dipergunakan dengan sempuma, sesuai



69
dengan
keperluan yang semestinya dihayati oleh benda itu sendiri. Atau cacat itu
mengakibatkan berkurangnya manfaat benda tersebut dari tujuan pemakaian
yang semestinya. Baik penjual mengetahui atau tidak akan adanya cacat,
penjual harus menjamin atas segala cacat yang tersembunyi pada barang yang
dijualmya.
Terhadap semua cacat tersembunyi, pembeli dapat memajukan tuntutan atau aksi
pembatalan jual beli dengan ketentuan as& tuntutan dimajukan dalam waktu singkat,
dengan perincian sebagaimana yang ditentukan Pasal 1508 BW:
a. kalau cacatnya memang dari semula diketahui oleh penjual, maka penjual
waj ib:
mengembalikan harga penjual kepada pembeli
- ditambahkan dengan pembayaran ganti rugi yang terdiri dari ongkos,
kerugian dan bungs
b. kalau cacat memang benar-benar tidak diketahui oleh penjual sendiri, penjual
hanya berkewajiban mengembalikan harga penjualan serta perongkosan yang
dikeluarkan pembeli waktu pembelian dan penyerahan barang
c. kalau barang yang dibeli musnah sebagai akibat yang ditimbulkan oleh cacat
tersembunyi, penjual tetap wajib mengembalikan harga penjualan kepada pembeli
b. Kewajiban pembeli
1) Kewajiban membayar harga. Datam Pam! 1513 BW disebutkan kewajiban
utama pembeli ialah membayar harga pembelian pada waktu dan ditempat



70
sebagaimana ditetapkan menurut persetujuan
35
. Kewajiban membayar harga
merupakan kewajiban yang paling utama bagi pihak pembeli. Pembeli harus
menyelesaikan pelunasan harga bersamaan dengan penyerahan barang. Jualbeli tidak
akan ada artinya tanpa pembayaran harga. Itulah sebabnya Pasal 15113 sebagai
pasal yang menentukan kewajiban pembeli dicantumkan sebagai pasal pertama, yang
mengatur kewajiban pembeli membayar harga barang yang dibeli. Oleh karena itu
sangat beralasan sekali menganggap, pembeli yang menolak melakukan pembayaran
berarti telah melakukan perbuatan melawan hukum.
2) Tempat Pembayaran. Tempat dan saat pembayaran pada prinsipnya bersamaan
dengan tempat dan saat penyerahan barang. Inilah prinsip umumnya mengenai
tempat dan saat pembayaran. Tentu tempat dan saat pembayaran yang utama harus
dilakukan ditempat dan saat yang telah ditentukan dalam persetujuan. Jika tempat dan
saat pembayaran tidak ditentukan daldam perjanjian, barulah dipedomani prinsip
umum diatas. Pembeli wajib melakukan pembayaran ditempat dan saat dilakukan
penyerahan barang.
Disamping kewajiban, pembeli juga memiliki hak untuk menunda
pembayaran. Flak menangguhkan/menunda pembayaran terjadi sebagai akibat
gangguan yang dialami oleh pembeli atas barang yang dibelinya. Gangguan itu bisa
merupakan hal yang sedemikian rupa, sehingga pembeli benar-benar terganggu
menguasai dan melindungi barang tersebut.
35
Gunawan Widjaja, Kartini Muljadi, lual Beli, PT, Grasindo Persada,
Jakarta, 2000 hal
189



71
Flak menunda pembayaran sengaja diberikan kepada pembeli, demi untuk
melindungi kepentingan pembeli atas kesewenangan penjual yang tidak
bertanggung jawab atas jaminan barang yang dijualnya terbatas dari gangguan dan
pembebanan. Oleh karena itu, hak menangguhkan pembayaran akibat gangguan ban'
berakhir sampai ada kepastian lenyapnya gangguan. Jika yang terganggu hanya
sebahagian saja pembeli dapat memilih:
- menuntut pembatalan jual beli
- jual beli berjalan terus dan menangguhkan pembayaran hanya untuk sejumlah harga
yang terganggu saja
Dari hal-hal yang telah disebutkan diatas maka dengan sendirinya telah dapat diatasi
permasalahan penangguhan pembayaran atas gangguan yang terjadi atas sebahagian
yang terjadi ats sebahagian barang.
D. Resiko Yang Timbul Dalam Jual Beli
Resiko atas barang objek jual beli tidak sama, terdapat perbedaan sesuai
dengan sifat keadaan barang yang jadi objek jual Beli. Objek jual beli terdiri dari
barang tertentu. Jika objek jual beli terdiri dari barang tertentu, resiko atas barang
berada pada pihak pembeli, terhitung sejak saat terjadinya persetujuan pembelian.
Sekalipun penyerahan barang belum terjadi, penjual berhak menuntut pembayaran
harga seandainya barang musnah (Pasal 1460 BW). Dari ketentuan Pasal 1460 BW,
yang menyatakan:



72
"Jika kebendaan yang dijual itu berupa barang yang sudah ditentukan, maka
pembelian adalah atas tanggungan pembeli, meskipun penyerahannya belum
dilakukan, dan penjual berhak menuntut harganya"
36
.
Jual beli mengenai barang tertentu, sekejap setelah penjualan berlangsung, resiko
berpindah kepada pembeli. Seandainya lebih memenuhi Jogika, bahwa dalam
perjanjian timbal balik seperti pada jualbeli, apabila salah satu prestasi gugur,
dengan sendirinya prestasi yang lainpun hams gugur. Dengan demikian lebih msuk
akal, jika barang yang dijual musnah sebelum diserahkan pada pembeli, gugurlah
kewajiban pembeli untuk membayar harga. Merupakan hal yang lebih rasional untuk
menentukan resiko dalam jualbeli barang tertentu tetap berada pada pihak penjual
selama barang belum diserahkan pada pembeli. Paling tidak, resiko kemusnahan barang
tidak menyebabkan pembeli hams membayar harga.
Ganjil rasanya pembeli dibebani membayar harga barang yang musnah, jika
tetap ada kewajiban membayar sesuatu yang telah musnah nilainya. Jika debitur
melakukan kealpaan, debitur hams rnenanggung kealpaan tersebut, terhitung sejak
debitur melakukan kealpaan tersebut. Objek jualbeli terdiri dari barang yang dijual
dengan timbangan, bilangan dan ukuran, resiko atas barang tetap berada pada pihak
penjual, sampai saat barang itu ditimbang, diukur atau dihitung. Tetapi jika barang telah
dijual dengan tumpukan atau onggokan, barangbarang menjadi resiko pembeli,
meskipun barang-barang itu belum ditimbang, diukur atau dihitung. Pada
prakteknya, penentuan mengenai penimbangan,
36
/bid, hal 99



73
penghitungan dan pengukuran dan penumpukan tidaklah demikian mudah dan jelas
untuk menentukan peruntukan kebendaan tersebut bagi pembeli.
Dalam praktek perdagangan internasional, untuk memberikan dan
menentukan secara pasti kapan suatu kebendaan yang dijual dianggap telah
ditentukan, dan karenanya resiko dianggap telah beralih dari penjual kepada
pembeli, telah ditetapkan suatu ketentuan baku yang diatur dalam INCOTERMS
(International Commercial Terms).
a. Tentang Incoterms pada umumnya
Incoterms merupakan seperangkat peraturan internasional yang mengatur
mengenai syarat-syarat perdagangan guna memberikan kepastian tentang rumusan
resiko dan tanggungjawab hukum masing-masing pihak dalam transaksi
perdagangan (jualbeli) secara sederhana dan aman. Istilah-istilah dalam
Incoterms, secara sederhana dapat dikelompokkan dalam 4 kategori dasar yang
berbeda, yang penamaannya didasarkan pada saat penentuan resiko atas
kebendaan dalam perdagangan beralih, yang dinyatakan secara sederhana sebagai suatu
keadaan dimana penjual menyediakan barng yang dijual untuk kepentingan dan resiko
pembeli
b. Syarat perdagangan kelompok "E"
Kelompok "E" merupakan syarat perdagangan dimana kewajiban dan
resiko penjual berada pada titik minimum. Dalam kelompok E ini, barang yang dijual
dianggap telah ditentukan peruntukkannya pada pembeli ditempatnya sendiri.
Dalam hal demikian, maka terhiung sejak saat peruntukkannya disampaikan
kepada pembeh, maka terNiung sejak saat ilu Pula pembeli

74

menanggung resiko atas barang yang dibeli tersebut. Berarti, penjual tidak lagi
menaggung resiko atas baamg yang dijual, manakala is telah menyediakan
barang-barang bersangkutan ditempatnya sendiri atau nama tempat lainnya untuk
keperluan pembeli.
c. Syarat perdagangan kelompok "F"
1. Free Carrier (FCA)
"FCA" berarti bahwa penjual menyerahkan barang-barang (yang sudah
mendapat izin ekspor) kepada pengangkut yang ditunjuk pembeli pada suatu
tempat tertentu yang disebut oleh pembeli. Dalam ha/ ini hams dicatat
bahwa pemilihan tempat penyerahan mempunyai dampak pada kewajiban
pemuatan dan pembongkaran barang-barang ditempat itu. Jika ditentukan
bahwa penjual berkewajiban untuk menyediakan barang ditempat penjual, maka
penjual bertanggungjawab atas resiko barang tersebut hingga dimuat, sedangkan
jika penjual diwajibkan untuk menyediakan barang pada tempat lain , maka
penjual tidak bertanggungjawab atas resiko pembongkaran barang dari
pengangkut yang ditunjuk oleh penjual kepada pengangkut yang ditunjuk oleh
pembeli, termasuk untuk melakukan pembongkaran
2. Free Alongside Ship (FAS)
Free Alongside Ship berarti bahwa penjual menyediakan barang-barang
dengan menempatkan barng-barang tersebut disamping (alongside) kapal
dipelabuhan pengapalan tersebut, artinya pembeli wajib memikul semua
biaya dan resiko kehilangan atau kenasalcan barang-barang mulai saat itu.
3. Free On Board (FOB)

75

Free On Board berarti bahwa penjual menyediakan barng-barang yang dijual
diatas kapal dipelabuhan yang disebut, yang dalam prakteknya dinyatakan
dengan lewatnya barang yang dijual tersebut dari pagar kapal dipelabuhan
pengapalan yang disebut. Hal ini berarti bahwa pembeli wajib memikul semua
biaya dan resiko atas kehilangan atau kerusakan barangbarang mulai dari titik
itu.
d. Syarat perdagangan kelompok "C"
1. Cost and Freight (C&F/CFR)
Cost and Freight berarti bahwa penjual menyediakan barang-barang yang diatas
kapal pada pelabuhan pengapalan yang disebutkan. Walau demikian, penjual
rnasih diwajibkan untuk membayar biaya-biaya dan ongkos angkut yang perlu
untuk mengangkut baarng-barang itu sampai kepelabuhan tujuan yang disebut,
tetapi resiko hilang atau kerusakan atas barang-barang, telah berpindah dari
penjual kepada pembeli pada saat barang-barang yang dijual tersebut telah
disediakan oleh penjual diatas kapal pada pelabuhan pengapalan yang
disebut.
2. Cost Insurance and Freight (CIF)
Dalam Cost Insurance and Freight ini peralihan resiko dari penjual kepada
pembeli alas barang-barang yang dijual, juga dianggap terjadi pada saat
penjual menyediakan barang-barang yang dijual diatas kapal pada pelabuhan
pengapalan yang ditunjuk. Penjual wajib membayar semua biaya dan
ongkos angkut yang perlu untuk mengangkut barang-barang itu sampai kepelabuhan
tujuan yang disebut, termasuk asuransi dari barang-barang

76

yang dijual tersebut, tetapi resiko hilang atau kerusakan atas barang-barang
yang dijual diatas kapal pada pelabuhan pengapalan yang disebutkan.
3. Carrier Paid To (CPT)
Carrier Paid To peralihan resiko dan penjual kepada pembeli atas barangbarang
yang dijual terjadi pada saat penjual menyediakan barang-barang yang dijual
pada pelabuhan pada pelabuhan pengapalan yang disebutkan.
4. Carriage and Insurance Paid To (CIP)
Dalam Carriage and Insurance Paid To peralihan resiko dari penjual kepada
pembeli atas barang-barang yang dijual terjadi pada saat penjual
menyediakan barang-barang yang dijual pada pelabuhan pengapalan yang
disebutkan. Dalam hal CIP, penjual juga diwajibkan untuk menutup asuransi
terhadap resiko kerugian dan kerusakan atas barang yang menimpa pembeli
selama barang dalam perjalanan.
e. Syarat perdagangan kelompok "D"
I. Delivered at Frontier (DAF)
Delivered at Frontier berarti bahyva kewajiban penjual untuk menanggung resiko
atas barang-barang yang dijual berakhirlah jika is telah menyediakan barang-
barang yang dijual kedalam kewenangan pembeli pada saat datangnya alat
angkut yang ditunjuk oleh pembeli. Namun, jika pihak-pihak terkait menginginkan
penjual untuk bertanggungjawab membongkar barangbarang dari alat angkut
yang ba' tiba itu dan memikul resiko dan biaya pembongkaran, maka hal ini
harus dibuat sejelas-jelasnya dengan kata-kata yang tegas didalam kontrak jual
beli bersangkutan.

77

2. Delivered Ex Ship (DES)
Delivered Ex Ship berarti bahwa resiko penjual barn jika is telah
menyediakan barang-barang yang dijual tersebut diatas kapal, yang belum diurus
formalitas impornya, dipelabuhan tujuan yang disebut. Penjual wajib memikul
semua biaya dan resiko yang terkait dengan pengangkutan barangbarang itu
sampai kepelabuhan tujuan yang disebut sebelum dibongkar.
3. Delivered Ex Quay (DEQ)
Delivered Ex Quay berarti bahwa resiko penjual barn berakhir jika is telah
menyediakan barang-barang yang dijual tersebut diatas dermaga
dipelabuhan yang disebut, tetapi belum diurus formalitas impornya. Penjual wajib
memikul semua biaya clan resiko yang terkait dengan pengangkutan barang-
barang itu sampai kepelabuhan tujuan yang disebut dan membongkar barang-
barang diatas dermaga.
4. Delivered Duty Unpaid (DDU)
Delivered Duty Unpaid berarti resiko penjual baru berakhir jika telah
menyediakan barang-barang yang dijual tersebut diatas alat angkut yang baru
datang ditempat tujuan yang disebut, tetapi belum diurus formalitas impornya.
Dalam hal ini penjual wajib memikul semua biaya dan resiko yang terkait
dengan pengangkutan barang-barang itu sampai kesana, kecuali bea masuk. Bea
masuk semacam itu hams dipikul oleh pembeli.
5. Delivered Duty Paid (DDP)
Delivered Duty Paid berarti resiko penjual baru berakhir jika telah
menyediakan barang-harang yang dijual tersebut disuatu tempat tertentu,

78

namun belum dibongkar dari atas alat angkut tersebut, dan belum diurus
formalitas impornya. Penjual wajib memikul semua biaya dan resiko yang
terkait dengan pengangkutan barang itu sampai kesana.
Dari penjelasan-penjelasan yang telah disebutkan, maka sesungguhnya saat
peralihan resiko dari kebendaan yang dijual dapat diatur secara khusus oleh para
pihak berdasarkan pada kesepakatan, yang juga bergantung pada ketentuan Pasal
1476 dan Pasal 1477 BW.
Pasal 1476: biaya penyerahan dipikul oleh penjual, sedangkan biaya pengambilan
dipikul oleh pembeli, jika tidal( telah diperjanjikan sebaliknya
Pasal 1477: Penyerahan harus terjadi ditempat dimana barang yang terjual berada pada
waktu penjualan, jika tentang itu tidak diadakan persetujuan lain37
37
Mid, hal 114



BAB IV
PERLINDUNGAN HUKUM KONSUMEN
DALAM JUAL BELI[ OBAT-OBATAN TRADISIONAL (CINA)
A. Perlindungan Hukum Konsumen Dalam JualBeli Obat-Obatan
Tradisional (Cina)
Untuk menciptakan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas tinggi,
sebagai sumber daya manusia dalam pembangunan maka pembenahan kesehatan
yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat bagi setiap
penduduk dalam mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal sangat perlu
ditingkatkan. Pemerintah bersama dengan masyarakat mempunyai tanggung jawab
yang besar dalam pembangunan kesehatan. Oleh karena itu upaya
menggerakkan peran serta masyarakat perlu senantiasa ditingkatkan dan
dimantapkan, salah atu bentuk peran serta masyarakat yang disebutkan dalam
Sistem Kesehatan Nasional (SKN) ialah pengobatan tradisional yang meliputi obat
tradisional.
Fakta menunjukkan bahwa upaya kesehatan tradisional telah dikenal dari dulu
kala dan diIaksanakan jauh sebelum pelayanan kesehatan formal dengan obat-obat
modem menyentuh masyarakat luas, dan sampai saat ini masyarakat masih
mengakui dan memanfaatkan obat tradisional ini. Oleh karena itu sejalan dengan
dekiarasi Alma Ata dan anjuran World Health Organization (WHO), dalam
rangka peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,
upaya kesehatan dengan obat tradisionalnya perlu dimanfaatkan
79



80
sebaik-baiknya, dikembangkan dan dilestarikan agar lebih berdaya guna dan
berhasil guna
38
.
Dewasa ini, khususnya terhadap obat tradisional Cina, sudah sangat
banyak menyentuh kehidupan kesehatan masyarakat, bahkan tampaknya pelaku usaha
semakin bebas menjual obat-obatannya. Obat tradisional Cina yang selama ini
dikenal sebagai penolong, namun belum tentu selamanya tidak akan membawa efek
pada masyarakat, apalagi jenis obat tradisional Cina modern. Oleh karena itu sudah
saatnya para konsumen mendapat perlindungan dari segala kemungkinan efek
tersebut, sebab pada umurnnya konsumen selalu ada dipihak yang lemah, dan konsumen
juga kurang menyadari akan haknya. Misalnya hak atas keamanan, hak at as
i nf or masi , hak unt uk sert a hak at as gant i r ugi bi l a t erj adi
sesuatu/musibah terhadapnya. Jadi yang terpenting sekarang adalah bagaimana upaya
kita supaya masyarakat terlindungi keselamatannya dari .obat-obatan khususnya
obat tradisional Cina yang tidak memenuhi persyaratan.
Permenkes RI No. 246/Menkes/Per/V/1990 dan Permenkes No. 760/1992
tentang Fitofarmaka sepertinya perlu untuk ditinjau kembali, khususnya terhadap usaha
obat tradisional Cina racikan yang dapat beredar tanpa izin di pasaran. Karena hal
ini sesuai dengan salah satu dasar dikeluarkannya Permenkes RI No.
246/Menkes/Per/V/1990 adalah untuk melindungi masyarakat terhadap hal yang
dapat mengganggu dan merugikan kesehatan perlu
dicegah beredamya obat
38
Midian Laporan Tim Analisa Dan Evaluasi Hukum Temang Perlindungan Dan
Pengawasan Terhadap Pemakaian bat Tradisional, Badan Pembinaan Hukum
Nasional Departemen Kehakiman, Jakarta, 1993, hal 1



81
Paul 40
Ayat (1): Sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan obat harus memenuhi syarat
farmakope Indonesia dan atau buku standar lainnya.
Ayat (2): Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat
kesehatan harus memenuhi standar dan atau persyaratan yang
ditentukan.
Pasal 62 ayat (3)
Pemerintah mendorong, membina dan mengarahkan pemanfaatan obat tradisional yang
dapat dipertanggung jawabkan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal
Pasal 73
Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan
dengan penyelenggaraan upaya kesehatan
Pasal 76
Pemerintah melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan
dengan penyelenggaraan upaya kesehatan, baik yang dilakukan dengan
pemerintah maupun masyarakat.
Pasal 82
Ayat (2) huruf b: Barangsiapa dengan sengaja memproduksi dan atau
mengedarkan sediaan farmasi berupa obat tradisional yang tidak memenuhi standar
dan atau persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.
100.000.000,- (seratus j uta rupiah).



82
Pasal 40
Ayat (1): Sediaan farmasi yang berupa obat dan bahan obat harus memenuhi syarat
farmakope Indonesia dan atau buku standar lainnya.
Ayat (2): Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat
kesehatan hams memenuhi standar dan atau persyaratan yang
ditentukan.
Pasal 62 ayat (3)
Pemerintah mendorong, membina dan mengarahkan pemanfaatan obat tradisional yang
dapat dipertanggung jawabkan dalam rangka mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal
Pasal 73
Pemerintah melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan
dengan penyelenggaraan upaya kesehatan
Pasal 76
Pemerintah melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan
dengan penyelenggaraan upaya kesehatan, baik yang dilakukan dengan
pemerintah maupun masyarakat.
Pasal 82
Ayat (2) huruf b: Barangsiapa dengan sengaja memproduksi dan atau
mengedarkan sediaan farmasi berupa obat tradisional yang tidak memenuhi standar
dan atau persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 40 (2) dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.
100.000.000,- (seratus juta rupiah).



83
Dari gambaran pasal tersebut berarti pengaturan mengenai "Obat
Tradisional" secara menyeluruh sudah cukup terjangkau dalam undang-undang tersebut
khususnya mengenai hal yang berkaitan dengan upaya perlindungan balk bagi
produsen maupun konsumen dan pengawasannya, pengembangannya serta
pembinaannya oleh pemerintah. Demikian juga dengan keberadaan obat-obatan
tradisional Cina, obat-obatan tradisional Cina yang sebahagian telah dikemas
secara modern ini belum tentu bebas dad efek, sehingga perlindungannyapun harus
diatur dan diketahui oleh masyarakat luas, namun bagi pengobatan tradisional
Cina racikan atau sinshe belum ada pengaturannya, sehingga belum ada pengujian
secara klinis terhadap obat-obatan jenis ini, padahal peminatnya didalam kehidupan
kesehatan sangatlah besar.
Dengan semakin banyaknya minat masyarakat dunia maupun dalam negeri
sendiri akan penggunaan obat tradisional Cina, merupakan angin segar bagi
pengusaha industri obat tradisional Cina untuk rnengembangkan usahanya. Obat
tradisional Cina sudah menyerbu pasaran toko-toko obat dan optik. Baban-bahan alamiah
tersebut sudah dijual baik dalam bentuk bubukan kemasan maupun dalam bentuk kapsul
dan diindikasikan dapat mengganggu dan merugikan masyarakat, maka perlu
dicegah beredarnya obat tradisional Cina yang tidak memenuhi persyaratan
keamanan, kegunaan dan mutu dengan pengaturan, perizinan dan pendaftaran.
Obat tradisional sudah sejak lama digunakan secara luas di Indonesia,
khususnya mengenai obat tradisional Cina dan dalam perkembangan pelayanan
kesehatan formal peranan obat tradisionai Cina sebagai pendamping obat modern
Nenny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsuinen
dalam jual-beli... 2004 USU Repository 2008.


84
masih nyata dan terasa. Namun sampai sekarang masih ada golongan obat
tradisional Cina yang belum pernah dinilai secara ilmiah balk mengenai
efektivitas maupun keamanannya. Masyarakat kedokteran pun seharusnya ikut
memikirkan akan keselamatan para pemakai obat tradisional Cina ini. Walaupun
disadari bahwa pengembangan antara obat modern dan obat tradisional Cina ini sangat
berbeda, namun demi keamanan masyarakat perlu diterapkan prinsip dasar pengujian
obat yang diberlakukan. Berbagai kendala kuat masih terasa menghambat
pelaksanaan pengujian obat tradisional Cina secara ilmiah. Kendala utama adalah
kenyataan bahwa para pengusaha obat tradisional Cina cenderung merahasiakan
komposisi temuannya, suatu sikap yang bertentangan dengan prinsip dasar
pengujian obat.
Namun merupakan suatu langkah maju bagi hukum perlindungan
konsumen, sejak dikeluarkannya UUPK yang diharapkan mampu memberikan
perlindungan bagi masyarakat konsumen. Perlindungan konsumen harus
diutamakan dengan tujuan agar obat tradisional Cina yang digunakan oleh
konsumen aman, bermanfaat dan bermutu. Pembangunan dan perkembangan
perekonomian umumnya dan khususnya dibidang perindustrian dan perdagangan
nasional telah menghasilkan berbagai variasi barang dan/atau jasa yang dapat
dikonsumsi, dan salah satunya adalah obat tradisional Cina yang telah lama ada
namun semakin terasa manfaatnya dalam kehidupan kesehatan masyarakat.
Kondisi yang demikian pada satu pihak mempunyai manfaat bagi konsumen
karena kebutuhan konsumen akan barang dan/atau jasa yang diinginkan dapat
terpenuhi. Disisi lain, kondisi dan fenomena tersebut dapat mengakibatkan



85
kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang dan konsumen berada
pada posisi yang lemah, konsumen menjadi objek aktivitas bisnis.
Faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat kesadaran
konsumen akan haknya yang masih rendah. Hal ini terutama disebabkan oleh rendahnya
pendidikan konsumen. Oleh karena itu, UUPK dimaksudkan menjadi landasan hukum yang
kuat bagi pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk
melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan
konsumen. Upaya pemberdayaan ini penting karena tidak mudah mengharapkan
kesadaran pelaku usaha yang pada dasarnya prinsip ekonomi pelaku usaha itu adalah
mendapatkan keuntungan yang semaksimal mungkin dengan modal seminimal
mungkin. Prinsip ini juga sangat potensial merugikan kepentingan konsumen, balk secara
langsung maupun tidak langsung. Atas dasar kondisi sebagaimana disebutkan diatas,
perlu upaya pemberdayaan konsumen melalui pembentukan undang-undang yang
dapat melindungi kepentingan konsumen, balk secara langsung maupun tidak langsung.
Disamping itu undang-undang tentang perlindungan konsumen ini dalam
pelaksartaannya tetap memberikan perhatian yang dalam pack konsumen, sebagai
contohnya:
Pasal 3 ayat (1) bumf d
Perlindungan konsumen bertujuan menciptakan sistem perlindungan konsumen yang
mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk
mendapatkan informasi
Nanny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen dalam
jual-beli... 2004 USU Repository 2008.


86
Pasal 4 huruf a
Hak konsumen adalah hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa
Pasal 7 huruf d
Kewajiban pelaku usaha adalah menjamin mutu barang dan/atau jasa yang
diproduksi dan/atau
diperdagangkan berdasarkan
ketentuan standar mutu
barang dan/atau jasa yang
berlaku Pasal 8 huruf a
Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang dan/atau jasa
yang tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan
standar yang dipersyaratkan
dan ketentuan peraturan
perundang- undangan Pasal
19 ayat (1) Pelaku usaha bertanggung
jawab memberikan ganti rugi atas
kerusakan, pencemaran, dan/atau
kerugian konsumen akibat mengkonsumsi
barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan Pasal 29 ayat (1)
Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan
konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha serta
dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha
Pasal 45 ayat (1)
Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang
bertugas menyelesaikan sengketa konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan
yang berada dilingkungan peradilan umum.







87
Dan beberapa pasal yang dimuat dalam UUPK ini, maka dapat dilihat
bahwa keberadaan konsumen semaksimal mungkin untuk dijaga dan dilindungi.
Namun hal ini tidak dimaksudkan untuk mematikan usaha para pelaku usaha, tetapi
justru sebaliknya perlindungan konsumen dapat mendorong iklim berusaha yang
sehat yang mendorong lahirnya pelaku usaha yang tangguh dalam menghadapi
persaingan melalui penyediaan barang dan atau/jasa yang berkualitas. Demikian pula
dengan keberadaan obat-obatan tradisional Cina, UUPK juga berusaha memberi
perlindungan yang semaksimal mungkin bagi konsumennya dari peredaran obat
yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan baik mutu, keamanan dan
kemanfaatannya.
Dalam Surat Edaran Kepala Direktorat Pengawasan Obat Tradisional,
tanggal 24 Februari 1994 kepada Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan
Republik Indonesia dan Kepala Balai Pemeriksaaan Obat dan Makanan
dinyatakan bahwa sekarang ini telah banyak beredar obat tradisional asing,
khususnya obat tradisional Cina yang tergolong obat tradisional gelap. Untuk
melindungi masyarakat dari penggunaan obat tradisional Cina yang tidak
diketahui dengan jelas keamanan, kemanfaatan, mutu dan keabsahannya maka
diharapkan agar diberikan informasi kepada toko obat, distributor, pengecer dan yang
sejenisnya agar tidak menjual obat tradisional asing, khususnya obat tradisional
yang tidak terdaftar dan atau tidak memenuhi ketentuan penandaan yang berlaku.
Demikian juga dalam Surat Edaran Direktur Jendral Pengawasan Obat dan
Makanan Kepala Direktorat Pengawasan Obat Tradisional, tanggal 4
Rini 1994 kepada Kantor WO9rt\I p(.11T-rpn (.e.sehatan Republik Indonesia
. A



88
seluruh Indonesia, yang menyatakan adanya obat tradisional khususnya obat
tradisional asing yang tidak terdaftar dan atau tidak membuat ketentuan
penandaan dimana pada penarikan obat tradisional asing khususnya obat
tradisional Cina perlu memperhatikan adanya:
1. obat tradisional asing yang belum terdaftar
2. obat tradisional asing yang sudah terdaftar tetapi belum memenuhi persyaratan
penandaan
Selain itu dalam surat edaran Direktur Jenderal POM Kepala Direktorat
Pengawasan Obat Tradisional, tanggal 11 Oktober 1994 kepada Kepala Kantor
Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi Seluruh , Indonesia juga menyatakan
bahwa masih banyak dijumpai obat tradisional khususnya obat tradisional Cina yang
belum atau tidak terdaftar pada Departemen Kesehatan RI masuk ke dan diedarkan
diwilayah Indonesia, sehingga balk keamanan, khasiat, mutu serta keasliannya
tidak diketahui dengan jelas dan untuk melindungi masyarakat terhadap hal-hal
yang dapat merugikan dan membahayakan kesehatan sebagai akibat penggunaan
obat tradisional yang dimaksudkan diatas, Departemen Kesehatan RI berusaha
menertibkan peredaran obat tradisional asing tersebut. Bahkan dalam surat edaran ini
dimohonkan bantuan untuk memperingatkan agar distributor, toko obat, dan penjual
obat tradisional lainnya agar:
1. Tidak rnenyimpan, menjajakan dan atau menjual obat tradisional asing yang belum
atau tidak terdaftar pada Departemen Kesehatan RI dan tidak dibubuhi stiker
pendaftaran



89
2. Menarik dari peredaran semua obat tradisional asing yang tidak terdaftar pada
Departemen Kesehatan Republik Indonesia"
Dari segala hal yang disebutkan diatas, maka dapat dilihat bahwa
perlindungan terhadap konsumen demikian giatnya diberikan kepada masyarakat
walaupun mungkin dalam praktek dilapangan hal ini tidak berjalan dengan
sebagaimana harusnya. Perlindungan hukum konsumen terhadap obat tradisional Cina
ini pun diselenggaralcan sebagai usaha bersama berdasarkan 5 (lima) asas yang
relevan dalam pembangunan nasional, yaitu:
I. Asas manfaat dimaksudkan untuk mengamanatkan bahwa segala upaya dalam
penyelenggaraan perlindungan konsumen memberikan manfaat sebesar-
besamya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara keseluruhan
2. Asas keadilan dimaksudkan agar partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan
secara maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku
usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara adil
3. Asas keseimbangan dimaksudkan untuk memberikan kesinambungan antara
kepentingan konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materil
ataupun spirituil
4. Asas keamanan dan keselamatan konsumen dimaksudkan untuk memberikan
jaminan atas keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalam
pcnggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang
dikonsumsi atau digunakan
40
Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Departernen
Kesehatan RI, Perairiran Permulang-widagati di Bidang (Mat
tradisional, 1999, hal 39-43

90

5. Asas kepastian hukum dimaksudkan agar balk pelaku usaha maupun
konsumen menaati hukum dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan
perlindungan konsumen, serta negara menjamin kepastian hukum
41

Jadi, keberadaan UUPK ini dibuat untuk memberikan perlindungan kepada
konsumen obat-obatan tradisional Cina dengan mengacu pada filosofi
pembangunan nasional bahwa pembangunan nasional termasuk pembangunan
hukum yang memberikan perlindungan terhadap konsumen dalam rangka
membangun manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah
kenegaraan Republik Indonesia yaitu dasar negara Pancasila dan konstitusi negara
Undang-Undang Dasar 1945.
B. Perbuatan Yang Dilarang Bagi Penjual Obat-Obatan Tradisional (Cina)
Dalam UUPK telah dimuat secara jelas mulai Pasal 8-17 mengenai
perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha. Seperti yang telah disebutkan dalam bab-
bab sebelumnya bahwa salah satu tujuan pembentukan undang-undang
perlindungan konsumen adalah untuk mengangkat harkat kehidupan konsumen
dengan menghindarkan akibat negatif dari pemakaian barang atau jasa, dalam hal ini
khususnya obat-obatan tradisional Cina. Hal ini berarti bahwa upaya untuk
melindungi kepentingan konsumen yang dilakukan melalui perangkat hukum,
diharapkan mampu menciptakan norma hukum perlindungan konsumen dan sisi lain
memberikan rasa tanggung jawab kepada dunia usaha. Dalam kenyataannya posisi
konsumen Indonesia sebagai pemakai, pengguna atau
pemanfaat barang
41
Mid, halaman 130
Nanny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen dalam
jual-beli... 2004 USU Repository 2008.


91
atau jasa pada umumnya kurang mengerti atau kurang paham terhadap barang atau jasa.
Namun dalam UUPK ini berusaha memberi penjelasan kepada konsumen
mengenai perlindungan hukum melalui perbuatan-perbuatan yang dilarang bagi penjual
obat-obatan tradisional Cina.
1. Produk
Memperhatikan posisi konsumen sebagaimana disebutkan diatas, maka didalam
mengatur ketentuan hal-hal yang berkaitan dengan larangan-larangan tersebut, UUPK
menetapkan berbagai larangan yang diberlakukan kepada:
a. produk barang atau jasa yang akan diproduksi, diperdagangkan atau
dipromosikan
b. pengusaha yang akan memproduksi, menawarkan, memperdagangkan atau
mempromosikan
Kaitannya dengan coal produk barang, antara lain ditentukan bahwa produk obat
tradisional Cina tersebut harus rnemenuhi ketentuan standar mutu, sesuai dengan
ukuran, takaran atau timbangan, memenuhi atau sesuai dengan jaminan, gaya
atau model yang sesuai dengan janji dalam label, etiket promosi. Termasuk dalam
ketentuan tersebut, juga diatur tentang kewajiban mencantumkan tanggal
kadaluwarsa, informasi atau petunjuk pengoperasian dan memasang label yang
memuat tentang penjelasan barang, termasuk identitas lengkap produsen. Hakekat
dari ketentuan larangan tersebut diatas adalah untuk mengupayakan agar barang
dan atau jasa yang beredar dimasyarakat merupakan produk yang layak edar,
antara lain anal usul, mutu aiau kualitas sesuai dengan informasi pengusaha baik
melalui label, etiket,

92

iklan dan lain sebagainya. Dalam arti lain, menurut ketentuan perundang-
undangan, produk tersebut dapat diperjualbelikan atau dilarang
diperjualbelikan.
2. Perilaku Pengusaha
Ketentuan lain yang menjadi muatan UUPK adalah pengaturan perilaku
pengusaha, tujuan dari pengaturan ini adalah mengupayakan terciptanya tertib
perdagangan obat tradisional Cina dalam rangka menciptakan iklim usaha yang
sehat. Ketertiban tersebut, dalam rangka perlindungan konsumen adalah
memastikan produk yang diperjual belikan dalam masyarakat, dilakukan
dengan eara tidak melawan hukum, seperti praktek yang menyesatkan pada saat
menawarkan, mempromosikan (mengiklankan), memperdagangkan atau
mengedarkan produk barang atau jasa yang palsu, atau basil dari suatu
kegiatan pembajakan. Bentuk pengaturan tersebut dalam UUPK, yaitu
larangan untuk berperilaku menyesatkan, seperti mengumumkan atau
menawarkan produk tersebut memiliki sponsor dan lain sebagainya. Ketentuan lain
yang diatur seperti penjualan secara obral, atau lelang, promosi dengan khusus,
pemberian hadiah atau euma-cuma dan lain sebagainya
3. Periklanan
Selain pengaturan seperti tersebut diatas, UUPk mengatur tersendiri masalah
periklanan. Maksud pengaturan tersebut mengingat bahwa iklan sebagai media
promosi merupakan upaya pengusaha untuk menggambarkan produk obat
tradisional Cina secara audio visual atau melalui media cetak yang diproduksi dan
diperdagangkan, oleh karena iklan merupakan media positif bagi



93
konsumen untuk memperoleh informasi guna dapat melakukan perbandingan
antar produk, sehingga hams dicegah hal-hal yang dapat menimbulkan akibat
yang cenderung memasukkan unsur negatif yang bersifat tidak benar,
menyesatkan dan lain sebaginya. Hakekat iklan dalam kerangka perlindungan
konsumen merupakan janji dari pihak yang mengumumkan, dengan demikian, iklan
dalam berbagai bentuknya mengikat pihak yang mengumumkan dengan segala
akibatnya. Sebagai sumber informasi obat-obatan tradisional Cina yang ditawarkan,
hams dicegah penggunaan iklan yang menyesatkan, menipu atau mengelabui
konsumen. Mengenai periklanan, UUPK tidak mengatur secara spesipik, karena
diharapkan ketentuan periklanan dapat diatur dalam peraturan perundang-undangan
tersendiri. Muatan yang akan diatur dibatasi kepada kegiatan atau perbuatan
pengusaha yang menawarkan barang melalui iklan, termasuk pentsahaan atau
media periklanan.
4. Cara-cara penjualan
Dewasa ini berbagai macam cara penjualan dilakukan untuk mencapai target
penjualan atau mengutamakan mampu meraih pangsa pasar serta
keuntungannya, dilakukan oleh pengusaha dengan mengupayakan produk yang
ditampilkan menarik dengan harga yang terjangkau. Beberapa cara untuk memikat
konsumen, antara lain dilakukan melalui obral, undian, pemberian hadiah atau
sejenisnya dengan maksud ingin memperoleh perhatian atas produk atau usaha
yang dilakukan. Namun adakalanya ada akibat yang terjadi, seperti penjualan obral
dilakukan pada saat barangnya berada dalam posisi kelebihan persediaan atau
mode produk tersebut sudah tidak mutahir.



94
Penjualan dengan cara obral umumnya digemari konsumen karena akan
memperoleh produk yang sama kualitasnya dengan harga yang lebih murah, untuk
itu hams dihindari kegiatan mengelabui, menyesatkan atau perbuatan yang
semacam tersebut, walaupun dalam obat-obatan tradisional Cina hal seperti ini
jarang terjadi.
5. Perbuatan lain-lain
Perbuatan lain yang dapat diklasifikasikan sebagai kegiatan yang
menempatkan posisi konsumen menjadi lemah, antara lain kegiatan penjualan dari
orang ke orang. Perbuatan lain yang juga sering terjadi adalah perbuatan yang
dilakukan saat menjalankan usaha dengan cara membedakan pelayanan atau
menentukan harga yang berbeda diantara konsumen, berdasarkan suku, agama, ras
atau status sosial dan lain sebagainya.
Sehubungan dengan berbagai hal yang dimuat dalam undang-undang
perlindungan konsumen, dapat dikatakan bahwa diantara muatan undang-undang
tersebut ada yang pernah diatur melalui berbagai peraturan perundnag-undangan.
Penyusunan undang-undang perlindungan konsumen beranggapan bahwa
walaupun tujuannya memberikan perlindungan kepada masyarakat, termasuk
konsumen, namun belum berada dalam sistem hukum perlindungan konsumen yang
dikembangkan melalui undang-undang perlindungan konsumen ini. Dapat diberikan
contoh sebagai berikut:
a. Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/MEN-KES/XII/76 tentang Produksi dan
Peredaran Makanan dan Minuman



95
b. Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 314/KPNII/74 tentang peredaran,
impor, dan ekspor obat, makanan-minuman, alat kecantikan dan alat kesehatan
c. Peraturan Pemerintah No. 15 Tabun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia\
d. Peraturan Menteri Penerangan RI No. 01/PER/MENPEN/1984 tentang surat izin
penerbitan pen yang dalam Pasal 26 menyatakan kewajiban mentaati kode etik,
termasuk kode etik periklanan, dan Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan
Menteri Penerangan dan Pengawasan Iklan Obat, MakananMinuman, Kosmetik
dan Alat Kesehatan.
Ketentuan peraturan perundang-undangan tersebut pada hakelcatnya bertujuan
melindungi kepentingan masyarakat atau setiap pihak (termasuk konsumen obat-
obatan tradisional Cina), termasuk juga produsen dengan memberikan
kewenangan kepada pemerintah melakukan pembinaan term asuk pemberian sanksi
atas suatu pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha obat-obatan tradisional Cina yang
bersangkutan.
Dengan demikian apabila sanksi telah diberikan kepada pelaku usaha,
kewajiban pemerintah untuk melakukan pembinaan telah selesai. Disisi lain
konsumen yang mengalami kerugian atas perbuatan pelaku usaha tersebut tidak
memiliki daya apapun untuk menuntut ganti ru.gi kepada pelaku usaha yang
bersangkutan. Adakalanya Peraturan Menteri merujuk kepada ketentuan yang
mengharuskan pelaku usaha utnuk mentaati kode etik suatu kegiatan, sehingga
apabila terjadi pelanggaran yang dirujuk adalah kode etik tersebut.

96

Dalam Pasal 18 UUPK dinyatakan bahwa:
1. Pelaku usaha dalam menawarkan barang danlatau jasa yang ditunjukkan untuk
diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausula baku pada setiap
dokumen clan/atau perjanjian apabila:
a. menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha
b. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali
barang yang dibeli konsumen
c. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang
yang dibayarkan atas barang daniatau jasa yang dibeli oleh konsumen
d. menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha balk secara
langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang
berkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran
e. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau jasa yang
dibeli oleh konsumen
f. memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi objek jual Beli jasa
g. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan barn,
tambahan, lanjutan yang dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa
konsumen memanfaatkan jasa yang dibetinya
h. menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk
pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang
dibeli oleh konsumen secara angsuran
Nenny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen
,
dalam
jual-beli... 2004 USU Repository 2008.
97

3. Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau
bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas atau yang
pengungkapannya sulit dimengerti
42,
Demikian juga bagi para pelaku usaha obat-obatan tradisional Cina, bahwa
ketentuan pencantuman klausula baku itu hares diikuti, karena pada dasamya hal ini
dilakukan untuk melindungi kepentingan konsumen yang pada dasarnya adalah pihak
yang tidak meiniliki kemampuan untuk menolak perjanjian atau klausula baku
seperti yang dimaksud dalam undang-undang perlindungan konsumen ini. Pengaturan
ini dimaksudkan untuk melindungi dan memebrikan keseimbangan didalam hubungan
hukum antara produsen dengan konsumen. Oleh karena itu dalam jual beli obat-
obatan tradisional Cina ini pun hanya dapat diterapkan didalam hubungan hukum
antara pelaku usaha dan konsumen.
C. Peranan Balai Pengawas Obat dan Makanan Dalam perlindungan Hukum
Konsumen Dalam Jual Beli Obat-Obatan Tradisional (Cina)
Obat tradisional telah dikenal dan dulu hingga kini, bahkan obat
tradisional ini mendapat kepercayaan yang besar ditengah-tengah masyarakat.
Kemajuan teknologi yang membawa perubahan-perubahan yang cepat dan
signifikan pada obat-obatan, yang dengan menggunakan teknologi modem
industri obat-obatan khususnya kini mampu memproduksi dalam skala yang sangat
besar, dengan dukungan kemajuan teknologi, maka produk-produk obat tersebut
dalam waktu yang amat singkat dapat menyebar
dengan jaringan
42
Sudargo Gautama, Himpunan Peraturan-Peraluran Baru Bidang Hukum
Ekonomi Yang Penang (Mink Prakiek Sehari-hari, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2001, hal 53

98

distribusi yang sangat luas dan menjangkau masyarakat, namun obat tradisional tetap
memegang peranan dalam masyarakat, begitu juga dengan obat tradisional Cina.
Konsumsi masyarakat terhadap obat-obatan tradisional Cina ini pun cukup
tinggi, sementara itu pengetahuan masyarakat tentang obat-obatan tradisional Cina ini
masih belum memadai dalam segala sesuatunya, sehingga reali tas itu
meningkatkan resiko dengan implikasi yang luas pada kesehatan dan keselamatan
konsumen. Apabila terjadi produk sub standar, rusak atau terkontaminasi oleh
bahan berbahaya maka resiko yang terjadi akan berskala besar dan luas.
Untuk itu Indonesia harus memiliki Sistem Pengawasan Obat (SISPOM)
yang efektif dan efisien yang mampu mendeteksi, mencegah dan mengawasi
produk-produk termasuk untuk melindungi keamanan, keselamatan dan kesehatan
konsumennya. Untuk itu dibentuklah Badan POM yang memiliki jaringan
nasional dan internasional serta kewenangan penegakan hukum, yang menjadi visi Badan
POM adalah menjadi institusi terpercaya yang diakui secara internasional dibidang
pengawasan obat dan makanan untuk melindungi kesehatan masyarakat
43
,
sedangkan misi Badan POM adalah:
I. Melindungi kesehatan masyarakat dari resiko peredaran produk terapetik, alat
kesehatan, obat tradisional, produk komplemen dan kosmetik yang tidak
memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan khasiatlkemanfaatan serta produk
pangan yang tidak aman dan tidak layak dikonsumsi.
43
Penyeharan Informasi, Badan FOM, Unit
Layanan Informasi Konsumen Balai Besar Pengawas Obat Dan Makanan, Medan,
2003, hat I

99

2. Melindungi masyarakat dari bahaya penyalahgunaan dan penggunaan yang salah
dari produk obat, narkotik, psikotopik dan zat-zat aditif serta resiko akibat
penggunaan produk dan bahan berbahaya
3. Mengembangkan obat ash Indonesia dengan mutu, khasiat dan keamanan yang
dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dan dapat digunakan untuk
meningkatkan kesehatan masyarakat
4. Memperluas akses obat bagi masyarakat luas dengan mutu yang tinggi dan harga
yang terjangkau
44
.
Dari visi dan misi yang telah disebutkan diatas, maka jelaslah bahwa
peranan Balai POM sangat diperlukan untuk semakin memberi perlindungan
kepada konsumen obat-obatan tradisional Cina. Bahkan obat tradisional Cina yang
tidak modern (sinshe) yang juga banyak dikonsumsi masyarakat periu mendapat
perhatian yang khusus untuk diawasi oleh balai POM, karena alangkah baiknya jika
semua obat-obatan tradisional Cina yang ada telah terlebih dahulu diuji secara ilmiah
agar lebih diketahui secara pasti kegunaannya, karena bukan tidak mungkin suatu
saat pengguna/konsumen obat-obatan tradisional Cina mendapatkan efek negatif
dari obat-obatan tersebut dan hal ini hams segera untuk mendapat tanggapan dari
pemerintah.
Terhadap obat-obatan tradisional Cina ini, Balai POM juga melaksanakan
fungsinya untuk melakukan pengaturan, regulasi dan standarisasi, membuat
lisensi dan sertifikasi industri dibidang farmasi berdasarkan cara-cara produksi yang
baik; melakukan evaluasi produk sebelum diizinkan
beredar; pengujian
44
Profile, National Agency of Drug And Food Control Republic of Indonesia;
Badan POM RI, hal 2
Nanny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen dalam
jual-beli... 2004 USU Repository 2008.
100

laboratoriurn; pemeriksaan sarana produksi dan distribusi; penyidikan dan
penegakan hukum; melakukan riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan that
dan makanan, komunikasi, informasi dan edukasi publik termasuk peringatan publik.
Sebagai badan yang mengawasi peredaran obat-obatan dipasaran, maka
Balai POM harus togas mengawasi setiap obat-obatan tradisional Cina yang
beredar, jika ada obat-obatan tradisional Cina yang tidak memiliki izin namun
beredar dipasaran maka Balai POM harus menariknya demi kepentingan
konsumen dan demi penegakan hukum. Pengawasan dilakukan dalam rangka
melindungi konsumen dan obat tradisional Cina yang tidak memenuhi
persyaratan, selain itu pengawasan yang dilakukan j uga berdampak dalam
pembinan cara produksi dan eara mengedarkan obat tradisional Cina yang baik.
Pengawasan obat tradisional Cina tnemang memiliki aspek permasalahan
berdimensi luas, oleh karena itu diperlukan sistem pengawasan yang
komprehensif, semenjak awal proses suatu produk hingga produk itu beredar
ditengah masyarakat. Untuk menekan sekecil mungkin resiko yang bisa terjadi, maka
dilakukan Sistem Pengawasan Obat dan Makanan (SISPOM) tiga lapis, yakni:
1. Sub sistem pengawasan produsen
Sistem pengawasan internal oleh produsen obat tradisional Cina melalui
pelaksanaan cara-cara produksi yang baik agar setiap bentuk penyimpangan dari
standar mutu dapat dideteksi sejak awal. Secara hukum pelaku usaha obal-
obatan tradisional Cina bertanggung jamb atas mutu dan keamanan
Nanny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen
dalam jual-Beli... 2004 USU Repository 2008.
101

produk yang dihasilkannya. Apabila terjadi penyimpangan dan pelanggaran
terhadap standar atau peraturan yang telah ditetapkan maka pelaku usaha obatobatan
tradisional Cina akan dikenakan sanksi
2. Sub sistem pengawasan konsumen
Sistem pengawasan oleh masyarakat konsumen obat-obatan tradisional Cina
sendiri melalui peningkatan kesadaran hukum dan peningkatan kualitas obatobatan
tradisional Cina yang rasional. Pengawasan oleh masyarakat sendiri sangat
penting dilakukan karena pada akhirnya masyarakatlah yang mengambil
keputusan untuk membeli dan menggunakan obat-obatan tradisional Cina
itu. Konsumen dengan kesadaran yang tingkat pengetahuan yang tinggi terhadap
mutu dan kegunaan obat-obatan tradisional Cina, disatu sisi dapat membentengi
dirinya sendiri terhadap penggunaan obat-obatan tradisional Cina yang tidak
memenuhi syarat dan tidak dibutuhkan, sedang pada sisi lain akan mendorong
pelaku usaha untuk ekstra Kati-hati dan menjaga kualitas obat-obatan
tradisional yang akan dipasarkannya.
3. Sub sistem pengawasan Pemerintah/Balai POM
Sistem pengawasan oleh pemerintah melalui pengaturan dan standardisasi,
penilaian keamanan, khasiat dan mutu obat-obatan tradisional Cina sebelum
diizinkan beredar dipasaran, inspeksi, pengambilan sampel dan pengujian
laboratorium obat-obatan tradisional Cina terhadap mutu, khasiat dan
keamanan produk maka pemerintah juga melaksanakan kegiatan konnmikasi,
informasi dan edukasi45
45
Profile, Op.Cit, hal 7

102

Sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen Pasal 30 ayat (1): "Pengawasan terhadap
penyelenggaraan perlindungan konsumen serta penerapan ketentuan peraturan
perundang-undangannya diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat dan
lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat"
46
.
Pengaturan dibidang pengawasan harus ditingkatkan dan sanksi bagi pelanggaran yang
tercantum dalam undang-undang kesehatan perlu lebih ditegakkan. Pengawasan
dilakukan terhadap produksi, distribusi, yaitu:
1. Produksi
a. Bahan baku
Pengawasan terhadap pembuatan, pengedaran, cam penyimpanan dan mutu
bahan baku merupakan hal yang penting harus dilakukan. Hasil pengawasan
harus digunakan untuk rancangan pembinaan selanjutnya
b. Pemeriksaan harus mengatur agar dapat memberi manfaat kepada pelaku
usaha obat-obatan tradisional Cina, untuk meningkatkan cara pengelolaan obat
tradisional Cina
c. Sampli ng
Sampling diperlukan untuk mengawasi mutu bahan baku. Pelaksanaan
sampling disamping melihat dari dekat mutu produk obat -obatan
tradisional Cina juga diambil dan diperiksa dilaboratorium
46
Sudaryatmo, Op.Cit, hal 147

103

2. Distribusi
Bahan Baku: bahan baku yang ada didalam pasaran dilakukan pengambilan
sampling
Pemeriksaan Setempat: pemeriksaan distribusi bertujuan untuk melakukan
pengawasan obat-obatan tradisional Cina, menyangkut penyimpanan, cara
pengaturan dipasaran dan produk yang dijual. Obat-obatan tradisional Cina yang
dijual hams memenuhi persyaratan mutu dan keabsahan.
Selain melakukan pengawasan, halal POM juga diarahkan terutama pada kegiatan yang
memiliki efek yang besar terhadap tujuan perlindungan masyarakat konsumen
yang luas, mencakup antara lain:
a. Evaluasi mutu, keamanan dan khasiat produk obat-obatan tradisional Cina yang
beresiko oleh tenaga ahli berdasarkan bukti-bukti ilmiah.
b. Standardisasi mutu produk untuk melindungi konsumen sekaligus
meningkatkan daya saing.
c. Pelaksanaan cara-cara produksi dan distribusi obat-obatan tradisional Cina yang
baik.
d. Operasi pemeriksaan dan penyidikan terhadap produksi, distribusi dan produkproduk
obat-obatan tradisional Cina yang ilegal.
e. Komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat untuk meningkatkan
kesadaran dan pengetahuan terhadap mutu, khasiat dan keamanan produk dari
obat-obatan tradisional Cina.
Dalam Badan POM juga terdapat Deputi Bidang Pengawasan Obat
Tradisional (termasuk juga obat-obatan tradisional Cina) yang melaksanakan

104

penilaian dan registrasi obat tradisional, selanjutnya juga melakukan pengawasan
peredaran obat tradisional termasuk penandaan dan periklanan. Penegakan hukum
dilakukan dengan Inspeksi cara produksi yang balk, sampling, penarikan produk.
Balai POM juga mempunyai tempat pengujian secara laboratorium,
pengembangan prosedur pengujian dan penilaian mutu obat yang beredar
(termasuk juga obat-obatan tradisional Cina), selain itu juga ada pusat penyidikan obat
untuk melaksanakan kegiatan penyidikan terhadap perbuatan melawan hukum
dibidang produk obat tradisional (Cina), dan yang tidak kalah penting adalah Balai
POM juga menyediakan pusat Informasi Obat.
Dilihat dari segala hal dan kegiatan Balai POM maka sangatlah besar
harapan semua pihak bahwa perlindungan konsumen terhadap jualbeli obatobatan
tradisional Cina semakin kuat dan terjamin. Balai POM yang mempunyai kinerja yang
tinggi juga diharapkan memberikan kontribusi yang besar terhadap masyarakat /
konsumen obat-obatan tradisional Cina.
D. UPAYA HUKUM YANG DILAKUKAN KONSUMEN AKIBAT
PENGGUNAAN OBAT-OBATAN TRADISIONAL (CINA)
Sengketa konsumen adalah sengketa berkenaan dengan pelanggaran hakhak
konsumen. Sebagaimana konsumen dapat melakukan upaya hukum terhadap segala hal
yang merugikannya, maka demikianlah juga terhadap konsumen obatobatan tradisional
Cina ini. Dalam UUPK telah diatur hal tentang penyelesaian sengketa konsumen. Para
pihak yang berselisih, khususnya dari pihak konsumen, dimungkinklm nionyelesaikan
sengkeia ilu mengikuii behenipa lingkungan



05
peradilan, misalnya peradilan umum; peradilan tata usaha negara atau konsumen memilih
jalan penyelesaian di luar pengadilan.
A. Penyelesaian di Peradilan Umum.
Pasal 45 ayat (1) TJUPK menyatakan "setiap konsumen yang dirugikan dapat
menggugat pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara
konsumen dan pelaku usaha atau melalui peradilan yang beredar ditingkunagn peradilan
umum". Ketentuan ayat berikutnya mengatakan, "penyelesaian sengketa konsumen
dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para
pihak yang bersengketa".
Dalam kasus perdata di Pengadilan Negeri, pihak konsumen yang diberi hak
mengajukan gugatan menurut Pasal 46 UUPK adalah:
1. seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan
2. sekelompok konsumen yang mempurtyai kepentingan yang sama
3. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat, yaitu
berbentuk badan hukuni atau yayasan yang dalam anggaran dasarnya menyebutkan
dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi itu adalah untuk kepentingan
perlindungan konsumen dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya.
4. pemerintah dan/atau instansi terkait jika barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau
dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak
sedikit.
Pada klasifikasi pertama, yaitu seorang konsumen (atau ahli warisnya) tidak
ada hal yang terlalu istimewa, namun pada klasifikasi kedua, gugatan ini

106

adalah gugatan yang mencakup kepentingan orang banyak yang mempunyai
keasamaan kepentingan, dalam hal ini adalah kesamaan dalam akibat penggunaan dan jual
Beli obat-obatan tradisional Cina. Ada juga yang menyatakan class action sebagai beberapa
orang yang merasa dirugikan oleh suatu produk rnenuntut ganti rugi dipengadilan bukan
untuk diri mereka sendiri akan tetapi juga untuk semua orang yang telah mengalami
kerugian yang sama, namun kesulitan acara ini adalah:
sulit menentukan orang yang merasa dirugikan
- kalau gugatan diterima, pengadilan harus membuka daftar tempat orang yang merasa
dirugikan oleh hal yang sama mendaftarkan diri
- memakan waktu lama dan biaya mahal
Dalam perkara class action semua subjek atau individu yang mempunyai tuntutan hak tidak
perlu berlaku sebagai pihak cukup diwakili oleh kelompok. Hambatan untuk melakukan hal
seperti itu daladm pengadilan Indonesia adalah adanya ketentuan bahwa individu yang
mewakilkan kepada pihak lain harus disertai kuasa. Penjelasan Pasal 46 UUPk
menyebutkan gugatan kelompok ini dengan istilah class ation.
Kemudian klasifikasi ketiga adalah lembaga swadaya masyarakat dan yang
keempat adalah pemerintah dan/atau instansi terkait. Mereka barn akan menggugat
pelaku usaha jika ada kerugian materi yang besar dan/atau korban yang tidak sedikit.

107

B. Penyelesaian diluar Pengadilan
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) merupakan suatu
lembaga khusus yang dibentuk dan diatur dalam undang-undang perlindungan
konsumen, yang tugas utamanya adalah menyelesaikan sengketa atau perselisihan
antara konsumen dan pelaku usaha. Jika kita baca ketentuan Pasal 23 UUPK dikatakan
bahwa dalam hal pelaku usaha tidak memberi tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti
rugi atas tuntutan konsumen, maka diberikan hak untuk menggugat pelaku usaha
dan menyelesaikan perselisihan yang timbul melalui Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen.
Penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan melalui BPSK
bukanlah suatu keharusAn untuk ditempuh konsumen sebelum pada akhirnya
diselesaikan melalui peradilan. Untuk mengakomodasikan kewenangan yang
diberikan oleo undang-undang perlindungan konsumen kepada BPSK, selaku
lembaga yang bertugas untuk menyelesaikan persengketaan konsumen diluar
pengadilan, undang-undang perlindungan konsumen memberikan kewenangan
kepada BPSK untuk menjatuhkan sanksi administratif bagi pelaku usaha yang
melanggar larangan-larangan tertentu yang dikenakan bagi pelaku usaha, dalam
UUPK penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada Pasal 45 ayat
(2) UUPK ini tidak menutup kemungkinan penyelesaian damai oleh para pihak
yang bersengketa, pada setiap tahap diusahakan untuk menggunakan penyelesaian
damai oleh kedua belah pihak yang bersengketa. Yang dimaksud dengan penyelesaian
secara damai adalah penyelesaian yang di lakukan oleh kedua belah pihak yang
bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa melalui

108

pengadilan atau Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen. Namun saat ini akan
dibahas mengenai BPSK, BPSK merupakan suatu lembaga khusus yang dibentuk oleh
pemerintah ditiap-tiap daerah tingkat II untuk penyelesaian sengketa konsumen
diluar pengadilan.
Menurut Pasal 52 UUPK, BPSK mempunyai wewenang sebagai berikut:
a. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen dengan cara
melalui mediasi atau arbitrase atau koalisi;
b. memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
c. melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;
d. melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan
dalam undang-undang ini;
e. menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen
tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen;
g. memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen;
h. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang
dianggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini;
i. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli atau
setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g, dan huruf f, yang tidak bersedia
memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa konsumen;
j. mendapatkan, meneliti dan/atau menilai surat, dokurnen atau alat bukti guna
penyel idi dan/aiau pemeriksaan;

109

k memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian dipihak
konsumen;
I. memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen;
m. menjatuhkan sanksi adrninistratif kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang
Dalam menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen BPSK
mernbentuk majelis, dengan jumlah anggota yang haws berjumlah ganjil terdiri dart
sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang yang mewakili semua unsur, dan dibantu oleh seorang
panitera. Menurut ketentuan dalam Pasal 54 ayat (4) UUPK, ketentuan teknis dart
pelaksanaan tugas majelis BPSK yang akan menangani dan menyelesaikan
sengketa konsumen akan diatur tersendiri oleh Menteri Perindustrian dan
Perdagangan, yang jelas BPSK diwajibkan untuk menyelesaikan sengketa
konsumen yang diserahkan kepadanya dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu hart)
terhitung sejak gugatan diterima &eh BPSK.
Lembaga penyelesaian diluar pengadilan, yang dilaksanakan melalui Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) ini memang dikhususkan bagi konsumen
perorangan yang memiliki perselisihan dengan pelaku usaha. Sifat penyelesaian
sengketa yang cepat dan murah, yang memang dibutuhkan oleh konsumen terutama
konsumen perorangan yang memiliki perselisihan dengan pelalu usaha. Sifat
penyelesaian sengketa yang cepat dan murah yang memang
47
Gunawan Widjaja, Alternatif Penyelesaian Sengketa, PT, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2001, hal 77



110
dibutuhkan oleh konsumen terutama konsumen perorangan tampaknya sudah cukup
terakomodasi dalam undang-undang perlindungan konsumen.
Sanksi administratif merupakan suatu hak khusus yang diberikan oleh undang-
undang perlindungan konsumen, yaitu Pasal 60 kepada Badan Penyelesaian
Sengketa Konsumen atas tugas dan/atau kewenangan yang diberikan oleh UUPK ini
kepada BPSK untuk menyelesaikan persengketaan konsumen diluar pengadilan.
Menurut ketentuan Pasal 60 ayat (2) jo Pasal 60 ayat (1) UUPK, sanksi administratif
yang dapat dijatuhkan oleh BPSK adalah berupa penetapan ganti rugi sampai setinggi-
tingginya Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) terhadap para usaha yang melakukan
pelanggaran terhadap:
1. tidak dilaksanakannya pemberian ganti rugi oleh pelaku usaha kepada
konsumen, dalam bentuk pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau
jasa yang sejenis, maupun perawatan kesehatan atau pemberian santunan atas
kerugian yang diderita konsumen;
2. terjadinya kerugian sebagai akibat kegiatan produksi iklan yang dilakukan oleh
pelaku usaha periklanan;
3. pelaku usaha yang tidak dapat menyediakan fasilitas jaminan, baik dalam bentuk
suku cadang maupun pemeliharaannya, serta pemberian jaminan atau garansi yang telah
ditetapkan sebelumnya, baik berlaku terhadap pelaku usaha yang mennperdagangkan
barang dan/atau jasa.
Ketentuan ini memperjelas bahwa Badan Penyelesaian Sengketa
Konsumen (BPSK) memang tidak memiliki kewenangan untuk menjatuhkan
sanksi alas setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha. ini sejalan



dengan kctentuan I'asal 47 UUM yang menyaatakan bahwa penycicsaian
sengketa konsumen diluar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai
kesepakatan mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi
kembali atau tidak akan terulang kembali kerugian yang diderita konsumen.
Walau demikian, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999, guna menegakkan
kepastian hukum, sesuai proporsinya, telah memberikan hak dan kewenangan
kepada BPSK untuk menjatuhkan sanksi administrasi bagi pelaku usaha yang tidak
memberikan ganti rugi kepada konsumen obat-obatan tradisional Cina atas tindakannya
yang merugikan konsumen.



BAB V
PEN tin P
A. KESIMPLILAN
Pembangunan manusia Indonesia tidak terlepas dari pembangunan
kesehatan yang berupaya untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat bagi setiap
penduduk dalam mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Oleh karena
itu salah satu sistem dan bentuk peran serta masyarakat adalah pengobatan tradisional
yang meliputi juga obat tradisional Cina. Namun dikhawatirkan, bahwa peran serta
masyarakat itu merupakan suatu hal yang membahayakan bila tidak diatur
keberadaannya secara tegas oleh pemerintah melalui peraturan perundang-
undangan. Dalam kehidupan masyarakat sekarang ini, obat tradisional Cina sudah
banyak beredar bahkan dimanfaatkaniclipergunakan oleh masyarakat, hal ini memang
baik karena obat tradisional Cina ini memang diakui khasiatnya oleh masyarakat
namun setiap obat tradisional Cina yang beredar itu harus terlebih dahulu diteliti
secara klinis agar benar-benar diketahui mutunya, bukan malahan menimbulkan hal-
hal yang tidak diinginkan.
1. Terhadap kegiatan usaha penjualan obat-obatan tradisional Cina ini maka
pelaku usaha harus memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya sebagaimana yang
telah dituangkan dalam UUPK dan segala ketentuan yang mengatur kegiatan
usaha penjualan obat-obatan tradisional Cina yang berlaku di dalam negara
Republik Indonesia
2. Mengingat kedudukan konsumen yang relatif lemah dibandingkan produsen maka
konsumen memperoleh hak untuk mendapatkan perlindungan hukum atas
112



kerugian-kerugian yang dialaminya, dimana perlindungan hukum kepada
konsumen obat-obalan tradisional Cina 1ni diarahkan untuk Iereapainva tujuan:
a. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung
keterbukaan informasi serta menjamin kepastian hukum
b. melindungi konsumen pada khususnya dan seluruh pelaku usaha
c. meningkatnya kualitas obat-obatan tradisional Cina
d. memberi perlindungan kepada konsumen dari praktek usaha yang menipu
3. Peranan pemerintah sangat diperlukan untuk memberi perlindungan kepada
konsumen obat-obatan tradisional Cina. Pemerintah melaksanakan fungsinya
dalam hal pengaturan, regulasi, standarisasi, evaluasi produk sebelum
diizinkan beredar, pengujian laboratorium, pemeriksaan sarana produk dan
distribusi, penyidikan dan penegakan hukum. Pemerintah juga melakukan
pengawasan, komunikasi, informasi dan edukasi melalui badan yang terkait.
B. SARAN
Dalam rangka meningkatkan perlindungan hukum konsumen terhadap
jualbeli obat-obatan tradisional Cina maka menjadi hal yang sangat mendukung
bahwa konsumen itu mempunyai hak untuk mendapatkan perlindungan, sehingga
diharapkan:
1. sosialisasi melalui informasi yang sebanyak-banyaknya kepada konsumen.
2. badan-badan yang terkait dalam hal penegakan perlindungan hukum konsumen obat-
obatan tradisional Cina ini juga sangat diharapkan sumbangsih badanbadan yang
terkait melalui pelaksanaan tugasnya yang dilakukan dengan penuh tanggung
jawab.



Akhirnya cita-cita untuk memberikan upaya perlindungan konsumen
terhadap obat tradisional Cina yang optimal hendaknya dilakukan dengan hati-hati
dan tidak berlebihan sehingga dapat merugikan atau menghentikan kegiatan
pengembangan usaha obat-ohatan tradisional Cina,



DAFTAR PUSTAKA
Az. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, Diadit Media, Jakarta Pusat, 2002
______________ , Perlindungan Konsumen, Diadit Media, Jakarta Pusat, 2002
Erman Rajagukguk et al, Hukum Perlindungan Konsumen, CV. Mandar Maju,
Bandung, 2000
Gunawan Widjaja, Kartini Mu1jadi, Hukum Perikatan Seri J ual Beli, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 2001
Gunawan Widjaja, Alternatif Pentelesaian Sengketa, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2001
Midian Sirait, Laporan Tim Anallsa dan Evaluasi Hukum Perlindungan Pan
Pengawasan Terhadap pemakaian Obat Tradisional, Badan
Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman, Jakarta, 1993 Shidarta,
Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia, PT. Grasindo, Jakarta, 2000 Sudargo Gautama,
Himpunan Peraturan Baru Bidang Hukum Ekonomi Yang
Penang Untuk Praktek Sehari-hari, PT. Citra Aditya Sakti, Bandung,
2001
Sudaryatmo, Hukum Perlindungan dan Advokasi Konsumen, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 1999
Yusuf Shofie, Perlindungan Konsumen dan Instrumen-Instrumen Hukumnya, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2000
Badan POM Republik Indonesia, Profile National Agency of Drug and Food Control
Republic Indonesia



Direktoral Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
Peraturan Perundang-undangan di Bidang Obat Tradisional, 1999
Penyebaran Informasi Badan Pengawas Obat dan Makanan, Unit Layanan Informasi
Balal Besar Pengawas Obat dan Makanan, Medan, 2003
Proyek Peningkatan Perlindungan Konsumen Direktorat Pembinaan sarana
Perdagangan, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri,
Departemen Perdagangan Dan Koperasi, Tahun Anggaran 1982/1983,
Sebaiknya Anda Tahu
Nurman Achmad, Darya Ilmiah (Etnomedieine Chia)
W.J.S. Poerwadarminta, Karma Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1993
John M. Echols & Hasan Sadily, Kamus Inggris-Indonesia, Gramedia, Jakarta, 1986 R.
Subekti, R. Tjitrosudibio, Kitab undang-Undang IlukumPerdata, PT. Pradnya Paramita,
Jakarta, 1992
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999, Perlindungan Konsumen




FIRES' DEN
MEP UBLIK INDONESIA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 8 TAHUN 1999
TENTANG
PERLINDUNGAN KONSUMEN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAMA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
I . bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil
dan makmur yang merata materiil dan spiritual dalam era dernokrasi ekonomi
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
2. bahwa pembangunan perekonomian nasional pada era globalisasi harus dapat
mendukung tumbuhnya dunia usaha sehingga mampu menghasilkan beraneka
barang dan/atau jasa yang memiliki kandungan teknologi yang dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat banyak dan sekaligus mendapatkan
kepastian atas barang dan/atau jasa yang diperoleh dari perdagangan tanpa
mengakibatkan kerugian konsumen;
3. bahwa semakin terbukanya pasar nasional sebagai akibat dari proses
globalisasi ekonomi harus tetap menjamin peningkatan kesej ahteraan
masyarakat serta kepastian atas mutu, jumlah, dan keamanan barang dan/atau jasa
yang diperolehnya di pasar;
4. bahwa untuk meningkatkan harkat dan martabat konsumen perlu
meningkatkan kesadaran, pengetahuan, kepedulian, kemampuan. dan kem an


di ri an konsumen untuk melindungi diriny a serta
menumbuhkembangkan sikap pelaku usaha yang bertanggung jawab;
5. bahwa ketentuan hukum yang melindungi kepentingan konsumen di Indonesia
belum memadai;
6. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas diperlukan perangkat
peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan keseirnbangan
perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha sehingga tercipta
perekonomian yang sehat;



7. bahwa untuk itu perlu dibentuk Undang-undang tentang Perlindungan
Konsamcw
Mengingat .
Pasal 5 Ayat (1), Pasal 21 Ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945;
Dengan persetujuan
L) WAN PERWAKILAN RAKYA I' REPUBLIK INDONESIA
M.EMUTUSKAN :
Menetapkan
UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUN GAN KONSUMEN,
BAB I
KET.ENTUAN UMUM
Pasal
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :
1. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian
hukum untuk memberi perlindungan kepada konsumen.
2. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia
dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain,
maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan,
3. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang
berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan
berkedudukan atau inelakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara
Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian
menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
4. Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik
bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat
dihabiskan, yang dapat untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh
konsumen.


5. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang
disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
6. Promosi adalah kegiatan pengenalan atau penyebarluasan informasi suatu barang dan/atau jasa
untuk menarik minat beli konsumen terhadap barang dan/atau jasa yang akan dan
sedang diperdagangkan.




7. Impor barang adalah kegiatan rnemasukkan barang ke dalam dacrah pabean.
8. hnpor jasa adalah kegiatan penyediaan jasa asing untuk digunakan di dalam
wilayah Republik Indonesia.
9. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat adalah lembaga non-
Pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah yang mempunyai
kegiatan menangani perlindungan konsumen.
10. Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat yang telah
dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak oleh pelaku usaha
yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian yang mengikat
dan wajib dipenuhi oleh konsumen.
11. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen adalah badan yang bertugas
menangani dan menyelesaikan sengketa antara pelaku usaha dan konsumen.
12. Badan Perlindungan Konsumen Nasional adalah badan yang dibentuk untuk
membantu upaya pengembangan perlindungan konsumen.
1. meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi did;
2. mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
3. meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
7. Merited adalah menteri yang ruang lingkup tugas dan tanggung jawabnya
meliputi bidang perdagangan.
BAB II

ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2



Perlindungan konsumen berasaskan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan
dan keselamatan konsumen, serta kepastian hukum.
Perlindungan konsumen bertujuan :


menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
4. menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan
informasi;



5. menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam
berusaha;
6. meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan, dan keselamatan
konsumen.
BAB III
FLAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Pertama
Hak dan Kewajiban Konsumen
Pasal 4
Hak konsumen adalah :
1. hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa;
2. hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa
tersebut sesuai dengan nitai tukar dan kondisi serta jarninan yang dijanjikan;
3. hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa;
4. hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan;
5. hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian
sengketa perlindungan konsumen secara patut;
6. hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak
diskriminatif;
8. hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila
barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak


sebagaimana mestinya;
9. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.



Pasal 5
Kewajiban konsumen adalah :
a. membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau
pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselarnatan;
b. beritikad balk dalammelakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
c. membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen
secara patut.
Bagian Kedua
Hak dan Kewajiban Pelaku Usaha
Pasal 6
Hak pelaku usaha adalah :
a. hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan
mengenai kondisi dan nilai tukar barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan;
b. hak untuk mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang
beritikad tidak baik;
c. hak untuk melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam penyelesaian
hukum sengketa konsumen;
d. hak untuk rehabilitasi nama baik apabila terbukti secara hukum bahwa
kerugian konsumen tidak diakibatkan old] barang dart/atau jasa yang
diperdagangkan;
e. hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan
lainnya.
Pasal 7
Kewajiban pelaku usaha adalah :
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;


b. memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan
jarninan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan
perneliharaan;



c. memperlakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujus serta tidak
diskriminatif;
d. menjamin mutu barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau
diperdagangkan berdasarkan ketentuan standar mutu barang daniatau jasa yang
berlaku;
e. memberi kesempatan kepada konsumen untuk menguji, dan/atau mencoba
barang danlatau jasa tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi atas
barang yang dibuat dan/atau yang diperdagangkan;
f. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat
penggunaan, pemakaian dan pernanfaatan barang danlatau jasa yang
diperdagangkan;
g. memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa
yang dterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.
BAB IV
FERBUATAN YANG DILARANG
BAGI PELAKU USALIA
Pasal 8
(I) Pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang
dan/atau jasa yang :
a. tidak memenuhi atau tidak sesuai dengan standar yang dipersyaratkan dan
ketentuan peraturan perundang-undangan;
b. tidak sesuai dengan berat bersih, isi bersih atau netto, dan jumlah dalam
hitungan sebagaimana yang dinyatakan dalam label atau etiket barang
tersebut;
c. tidak sesuai dengan ukuran, takaran, timbangan dan jumlah dalam hitungan
menurut ukuran yang sebenarnya;
d. tidak sesuai dengan kondisi, jaminan, keistimewaan atau kemanjuran


sebagaimana dinyatakan dalam label, etiket atau keterangan barang danlatau jasa
tersebut;
e. tidak sesuai dengan mutu, tingkatan, komposisi, proses pengolahan, gaya,
mode, atau penggunaan tertentu sebagaimana dinyatakan dalam label atau
keterangan barang dan/atau jasa tersebut;
f. tidak sesuai dengan janji yang dinyatakan dalam label, etiket, keterangan, iklan
atau promosi penjualan barang dan/atau jasa tersebut;



g. tidak mencantumkan tanggal kadaluwarsa atau jangk a waktu
penggunaan/pemanfaatan yang paling baik atas barang tertentu;
h, tidak mengikuti ketentuan berproduksi secara halal, sebagaimana pernyataan "halal"
yang dicanturnkan dalarn label;
i. tidak memasang label atau membuat penjelasan barang yang memuat nama
barang, ukuran, berat/isi bersih atau netto, komposisi, aturan pakai, tanggal
pembuatan, akibat sampingan, nama dan alamat pelaku usaha serta keterangan lain
untuk penggunaan yang menurut ketentuan hams di pasang/dibuat;
tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam
bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan barang yang rusak, cacat atau bekas, dan
tercemar tanpa memberikan informasi secara lengkap dan benar atas barang dimaksud.
(3) Pelaku usaha dilarang memperdagangkan sediaan farmasi dan pangan yang rusak,
cacat atau bekas dan tercernar, dengan atau tanpa memberikan informasi secara
lengkap dan benar,
(4) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran pada ayat (1) dan ayat (2) dilarang
memperdagangkan barang dan/atau jasa tersebut serta wajib menariknya dari
peredaran.
Pasal 9
(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklan-kan suatu
barang dan/atau jasa secara tidak benar, dan/atau seolah-olah :
a. barang tersebut telah memenuhi dan/atau memiliki potongan harga, harga
khusus, standar mutu tertentu, gays atau mode tertentu, karakteristik tertentu,
sejarah atau guna tertentu;
b. barang tersebut dalam keadaan baik dan/atau baru;
c. barang dan/atau jasa tersebut telah mendapatkan dan/atau memiliki sponsor,
persetujuan, perlengkapan tertentu, keuntungan tertentu, ciri-ciri kerja atau
aksesori tertentu;


d. barang dan/atau jasa tersebut dibuat oleh perusahaan yang mempunyai
sponsor, persetujuan atau afiliasi;
e. barang dan/atau jasa tersebut tersedia;
f. barang tersebut tidak mengandung cacat tersembunyi;



g. barang tersebut nierupakan kelengkapan dari barang tertentu;,
h. barang tersebut berasal dari daerah tertentu;
i. secara langsung atau tidak langsung merendahkan barang dan/atau jasa lain;
j. menggunakan kata-kata yang berlebihan, seperti aman, tidak berbahaya, tidak
mengandung risiko atau efek sampingan tanpa keterangan yang lengkap;
k. menawarkan sesuatu yang mengandung janji yang belum pasti.
(2) Barang dan/atau jasa sebagaiinana dimaksud pada ayat (1) dilarang untuk
diperdagangkan.
(3) Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap ayat (1) dilarang
melanjutkan penawaran, promosi, dan pengiklanan barang dan/atau jasa tersebut.
Pasal 10
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dilarang menawarkan, mempromosikan, mengiklankan atau
membuat pernyataan yang tidak benar atau rnenyesatkan mengenai :
a. harga atau tarif suatu barang dan/atau jasa;
b. kegunaan suatu barang dan/atau jasa;
c. kondisi, tanggungan, jaminan, hak atau ganti rugi atas suatu barang dan/atau jasa;
d. tawaran potongan harga atau hadiah menarik yang ditawarkan;
e. bahaya penggunaan barang dan/atau jasa.
Pasal 11
Pelaku usaha dalam hal penjualan yang dilakukan melalui cara obral atau lelang,
dilarang mengelabui/menyesatkan konsumen dengan :
a. menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolah-olah telah mernenuhi standar
mutu tertentu;
b. menyatakan barang dan/atau jasa tersebut seolaholah tidak mengandung cacat
tersembunyi;
c. tidak bemiat untuk menjual barang yang ditawarkan melainkan dengan


maksud untuk menjual barang lain;



d. tidak menyediakan barang dalam jumlah tertentu dan/atau jumlah yang cukup
dengan maksud menjual barang yang lain;
e. tidak menyediakan jasa dalam kapasitas tertentu atau dalam jumlah cukup
dengan maksud menjual jasa yang lain;
f. menaikkan harga atau tarif barang dan/atau jasa sebelum melakukan obrat.
Pasal 12
Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan suatu
barang dan/atau jasa dengan harga atau tarif khusus dalam waktu dan jumlah
tertentu, jika pelaku usaha tersebut tidak bermaksud untuk melaksanakannya sesuai
dengan waktu dan jumlah yang ditawarkan, dipromosikan, atau diiklankan.
Pasal 13
(1) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan, atau mengiklankan suatu
barang dan/atau jasa dengan cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang
dan/atau jasa lain secara cuma-cuma dengan maksud tidak memberikannya atau
memberikan tidal( sebagaimana yang dijanjikannya.
(2) Pelaku usaha dilarang menawarkan, mempromosikan atau mengiklankan obat, obat
tradisional, suplemen makanan, alat kesehatan, dan jasa pelayanan kesehatan dengan
cara menjanjikan pemberian hadiah berupa barang dan/atau jasa lain.
Pasal 14
a. Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dengan memberikan hadiah melalui cara undian, dilarang untuk
:
b. tidak melakukan penarikan hadiah setelah batas waktu yang dijanjikan;
c. mengumumkan hasilnya tidak melalui media masa;
d. memberikan hadiah tidak sesuai dengan yang dijanjikan;
e. mengganti hadiah yang tidak setara dengan nilai hadiah yang dijanjikan.
Pasal 15


Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa dilarang melakukan dengan cara
pemaksaan atau cara lain yang dapat menimbulkan gangguan baik fisik maupun
psikis terhadap konsumen.



Pasal 16
Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa me1alui pesanan dilarang
untuk :
a. tidak menepati pesanan dan/atau kesepakatan waktu penyelesaian sesuai
dengan yang dijanjikan;
b. tidak menepati janji atas suatu pelayanan dan/atau prestasi.
Pasal 17
(1) Pelaku usaha periklanan dilarang memproduksi iklan yang :
a. mengelabui konsumen mengenai kualitas, kuantitas, bahan; kegunaan dan
harga barang dan/atau tarif jasa serta ketepatan waktu penerimaan barang
dan/atau jasa;
b. mengelabui jaminan/garansi terhadap barang dan/atau jasa;
c. memuat infonnasi yang keliru, salah, atau tidak tepat mengenai barang
dan/atau jasa;
d. tidak memuat informasi mengenai risiko pemakaian barang dan/atau jasa;
e. mengeksploitasi kejadian dan/atau seseorang tanpa seizin yang berwenang atau
persetujuan yang bersangkutan;
f. melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangai mengenai
periklanan.
(2) Pelaku usaha periklanan dilarang melanjutkan peredaran iklan yang telah
melanggar ketentuan pada ayat (1).
BAB V
KETENTUAN PENCANTUMAN KLAUSULA BAKU
Pasal 18
(1) Pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa yang ditujukan untuk
diperdagangkan dilarang membuat atau rnencantumkan klausula baku pada setiap
dokumen dan/atau perjanjian apabila:


a. menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku usaha;



b. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang
dibeli konsumen;
c. menyatakan bahwa pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali uang
yang dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang dibeli oleh konsumen;
d. menyatakan pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara
langsung maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak
yang bcrkaitan dengan barang yang dibeli oleh konsumen secara angsuran;
e. mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan birang .atau
pemanfaatan jasa yang dibeli oleh konsumen;
f. memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi rnanfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa;
g. menyatakan tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan barn,
tambahan, lanjutan danlatau pengubahan lanjutan yang dibuat sepihak oleh
pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;
h. menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk
pembebanan hak tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan terhadap barang yang
dibeli oleh konsumen secara angsuran.
(2) Pelaku usaha dilarang mencanturnkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit
terhhat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit
dimengerti.
(3) Setiap klausula baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau
pelanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat
(2) dinyatakan batal demi hukum.
(4) Pelaku usaha wajib menyesuaikan klausula baku yang bertentangan dengan
Undang-undang ini.
BAB VI
TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA


Pasal 19
(1) Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, danlatau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang danlatau jasa
yang dihasilkan atau diperdagangkan.
(2) Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian
uang atau penggantian barang danlatau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau



perawatan kesehatan dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari
setelah tanggal transaksi.
(4) Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak
menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana, berdasarkan pembuktian
lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tidak berlaku
apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan
kesalahan konsumen.
Pasal 20
Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas iklan yang diproduksi dan segala
akibat yang ditimbulkan oleh iklan tersebut.
Pasal 21
(1) Importir barang bertanggung jawab sebagai pembuat barang yang diirnpor
apabila importasi barang tersebut tidak di!akukan oleh agen atau perwakilan
produsen luar negeri.
(2) Importir jasa bertanggung jawab sebagai penyedia jasa asing apabila
penyediaan jasa asing tersebut tidak dilakukan oleh agen atau perwakilan
penyedia jasa asing.
Pasal 22
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam kasus pidana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4), Pasal 20, dan Pasal 21 merupakan beban
dan tanggung jawab pelaku usaha tanpa menutup kemungkinan bagi jaksa untuk
melakukan pembuktian.
Pasal 23
Pelaku usaha yang menolak dan/atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak


memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4), dapat digugat melalui badan
penyelesaian sengketa konsumen atau mengajukan ke badan peradilan di tempat
kedudukan konsumen.
Pasal 24
(1) Pelaku usaha yang menjual barang danlatau jasa kepada pelaku isaha lain
bertanggung jawab atas tuntutan ganti rugi danlatau gugatan konsumen apabila:



a. pelaku usaha lain menjual kepada konsumen tanpa melakukan perubahan apa pun
atas barang dan/atau jasa tersebut;
b. pelaku usaha lain, di dalam transaksi jual bet i tidak mengetahui adanya
perubahan barang dan/atau jasa yang dilakukan oleh pelaku usaha atau tidak sesuai
degan contoh, mutu, dan komposisi.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibebaskan dari tanggung
jawab atas tuntutan ganti rugi dan/atau gugatan konsumen apabila pelaku usaha lain
yang membeli barang dan/atau jasa menjual kembali kepada konsurnen dengan
melakukan perubahan atas barang dan/atau jasa tersebut.
Pasal 25
(1) Pelaku usaha yang memproduksi barang yang pemanfaatannya berkelanjutan
dalam batas waktu sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun wajib menyediakan suku
cadang danlatau fasilitas puma jual dan wajib memenuhi jaminan atau garansi
sesuai dengan yang diperjanjikan.
(2) Pelaku usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab atas
tuntutan ganti rugi danlatau gugatan konsumen apabila pelaku usaha tersebut
a. tidak menyediakan atau lalai menyediakan suku cadang dan/atau fasilitas
perbaikan;
b. tidak memenuhi atau gagal memenuhi jaminan atau garansi yang
diperjanjikan.
Pasal 26
Pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan dan/atau
garansi yang disepakati danlatau yang diperjanjikan.
Pasal 27
Pelaku usaha yang memproduksi barang dibebaskan dari tanggung jawab atas
kerugian yang diderita konsumen, apabila :
a. barang tersebut terbukti seharusnya tidak diedarkan atau tidak dimaksudkan untuk


diedarkan;
b. cacat barang timbul pada kemudian hari;
c. cacat timbul akibat ditaatinya ketentuan mengenai kualifikasi barang;
d. kelalaian yang diakibatkan oleh konsumen;



e. lewatnya jangka waktu penuntutan 4 (empat) tahun sejak barang dibeli atau
lewatnya j angka waktu yang diperj anj ikan.
Pasal 28
Pembuktian terhadap ada tidaknya unsur kesalahan dalam gugatan ganti rugi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19, Pasal 22, dan Pasal 23 merupakan beban dan
tanggung jawab pelaku usaha,
BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGAWASAN
Bagian Pertama
Pembinaan
Pasal 29
(1) Pemerintah bertanggung jawab atas pembinaan penyelenggaraan perlindungan
konsumen yang menjamin diperolehnya hak konsumen dan pelaku usaha Serta
dilaksanakannya kewajiban konsumen dan pelaku usaha.
(2) Pembinaan oleh pemerintah atas penyelenggaraan perlindungan konsumen
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Menteri dan/atau menteri
teknis terkait.
(3) Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (2) melakukan koordinasi atas
penyelenggaraan perlindungan konsumen.
(4) Pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) meliputi upaya untuk
a. terciptanya iklim usaha dan tumbuhnya hubungan yang sehat antara pelaku
usaha dan konsumen;
b. berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;
c. meningkatnya kualitas sumber daya manusia serta meningkatnya kegiatan
penelitian dan pengembangan di bidang perlindungan konsumen.
(5) Ketentuan Iebih lanjut mengenai pembinaan penyelenggaraan perlindungan


konsumen diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Bagian Kedua
Pengawasan
Pasal 30
(1) Pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan konsumen serta
penerapan ketentuan peraturan perundang-undangannya diselenggarakan oleh



pemerintah, masyarakat, dan lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat.
(2) Pengawasan oleh pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan oleh Menteri dan/ataa menteri teknis terkait.
(3) Pengawasan oleh masyarakat dan lembaga perlindungan konsumen swadaya
masyarakat dilakukan terhadap barang dan/atau jasa yang beredar di pasar..
(4) Apabila basil pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ternyata
menyimpang dari peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
membahayakan konsumen, Menteri dan/atau menteri teknis mengambil tindakan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(5) Hasil pengawasan yang diselenggarakan masyarakat dan lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat dapat disebarluaskan kepada
masyarakat dan dapat disampaikan kepada Menteri dan menteri teknis.
(6) Ketentuan pelaksanaan tugas pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), dan ayat (3) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
BAR VIII
BADAN PERLINDUNGAN ICONS UMEN NASIONAL
Bagian Pertama
Nama, Kedudukan, Fungsi, dan Tugas
Pasal 31
Dalam rangka mengembangkan upaya perlindungan konsumen dibentuk Badan
Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 32
Badan Perlindungan Konsumen Nasional berkedudukan di Ibu Kota Negara
Republik Indonesia dim bertanggung jawab kepada Presider.
Pasal 33
Badan Perlindungan Konsumen Nasional mempunyai fungsi memberikan saran dan


pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen
di Indonesia.
Pasal 34
(1) Untuk menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam Pam]. 33, Badan
Perlindungan Konsumen Nasional mempunyai tugas:



a. memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka
penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen;
b. melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku di bidang perlindungan konsumen;
c. melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut
keselamatan konsumen;
d. mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen, swadaya
masyarakat;
e. menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan
memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen;
f menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dari masyarakat,
lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat, atau pelaku usaha;,
g. melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsurnen.
(2) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Badan
Perlindungan Konsumen Nasional dapat bekerja sama dengan organisasi
konsumen internasional.
Bagian Kedua
Susunan Organisasi dan Keanggotaan
Pasal 35
(1) Badan Perlindungan Konsumen Nasional terdiri atas seorang ketua merangkap
anggota, seorang wakil ketua merangkap anggota, serta sekurang-kurangnya 15 (lima
betas) orang dan sebanyak-banyaknya 25 (dua puluh lima) orang anggota yang
mewakili semua unsur.
(2) Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden atas usul Menteri, setelah dikonsultasikan kepada Dewan Perwakilan
Rakyat Republik Indonesia.
(3) Masa jabatan ketua, wakil ketua, dan anggota Badan Perlindungan Konsumen


Nasional selama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa
jabatan berikutnya.
(4) Ketua dan wakil ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional dipilih oleh
anggota.
Pasal 36
Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional terdiri atas unsur :



a. pemerintah;
b. pelaku usaha;
c. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat;
d. akademisi ; dan
e. tenaga ahli.
Pasal 37
Persyaratan keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional adalah:
a warga negara Republik Indonesia;
b. berbadan sehat;
c. berkelakuan baik;
d. tidak pernah dihukum karena kejahatan;
e. memiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen; dan
f. berusia sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun. Pasal 38
Keanggotaan Badan Perlindungan Konsumen Nasional berhenti karena :
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri atas permintaan sendiri; c_ bertempat
tinggal di luar wilayah negara Republik Indonesia;
d. sakit secara terns menerus;
e. berakhir masa jabatan sebagai anggota; atau
f. diberhentikan.
Pasal 39
(I) Untuk kelancaran pelaksanaan tugas, Badan Perlindungan Konsumen Nasional
dibantu oleh sekretariat.



(2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh seorang
sekretaris yang diangkat oleh Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
(3) Ftmgsi, tugas, dan tata kerja sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dalam keputusan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 40
(1) Apabila diperlukan Badan Perlindungan Konsumen Nasional dapat
membentuk perwakilan di Ibu Kota Daterah Tingkat I untuk membantu
pelaksanaan tugasnya.
(2) Pembentukan perwakilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih
lanjut dengan keputusan Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional.
Pasal 41
Dalam pelaksanaan tugas, Badan Perlindungan Konsumen Nasional berkerja
berdasarkan tata kerja yang diatur dengan keputusan Ketua Badan Perlindungan
Konsumen Nasional.
Pasal 42
Biaya untuk pelaksanaan tugas Badan Perlindungan Konsumen Nasional
dibebankan kepada anggaran pendapatan dan belaa negara dan sumber lain yang
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 43
Ketentuan lebih lanjut inerigenai pembentukan Badan Perlindungan Konsumen
Nasional diatur dalam Peraturan Pemerintah.
BAB IX
LEMBAGA PERLIND UNGAN KON s u MEN
SWADAYA MASYARAKAT
Pasal 44
(1) Pemerintah rnengakui lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang
memenuhi syarat.


(2) Lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat memiliki kesempatan
untuk berperan aktif dalam mewujudkan perlindungan konsumen.
(3) Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat meliputi
kegiatan:



a. menyebarkan informasi dalam rangka rneningkatkan kesadaran atas hak dan
kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. memberikan nasihat kepada konsumen yang'memerlukannya;
e. bekerja sarna dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan perlindungan
konsunaen;
d. membantu konsurnen dalam memperjuangkan haknya, termasuk ,menerima
keluhan atau pengaduan konsurnen;
e. melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap
pelaksanaan perlindungan konsurnen.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tugas lembaga perlindungan konsumen
swadaya masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan
Pemerintah.
BAB X
FEN YELESAIAN SENGKETA
Bagian Pertama
Umum
Pasal 45
(1) Setiap konsumen yang dirugikan dapat naenggugat pelaku usaha melalui
lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen dan pelaku usaha
atau melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum
(2) Penyelesaian sengketa konsumen dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar
pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa.
(3) Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak
menghilangkan tanggungjawab pidana sebagaimana diatur dalam Undangundang.
(4) Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa konsumen di luar
pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut
dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa.


Pasal 46
(1) Gugatan atas pelanggaran pelaku usaha dapat dilakukan oleh:
a. seorang konsumen yang dirugikan atau ahli waris yang bersangkutan;



b. sekelompok konsumen yang mempunyai kepentingan yang sama;
C. lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat yang memenuhi syarat, yaitu
berbentuk badan hukum atau yayasan, yang dalam anggaran dasarnya
menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut
adalah untuk kepentingan perlindungan konsumen dan telah melakianakan
kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya;
d. pemerintah dan/atau instansi terkait apabila barang dan/atau jasa yang
dikonsumsi atau dimanfaatkan mengakibatkan kerugian materi yang besar
dan/atau korban yang tidak sedikit.
(2) Gugatan yang diajukan oleh sekelompok konsumen, lembaga perlindungan
konsumen swadaya masyarakat atau pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b, huruf c, atau huruf d diajukan kepada peradilan umum.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kerugian materi yang besar dan/atau korban yang
tidak sedikit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d diatur dengan Peraturan
Pemerintah.
Bagian Kedua
Penyelesaian Sengketa di luar Pengadilan
Pasal 47
Penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan diselenggarakan untuk
mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau
mengenai tindakan tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi kembali atau tidak akan
terulang kembali kerugian yang diderita oleh konsumen.
Bagian Ketiga
Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan
Pasal 48
Penyelesaian sengketa konsumen melalui pengadilan mengacu pada ketentuan
tentang peradilan umum yang berlaku dengan memperhatikan ketentuan dalam Pasal


45.
BAB XI
BADAN YENYELESAIAN SENGKETA KONSUMEN
Pasal 49
(1) Pemerintah membentuk badan penyelesaian sengketa konsumen di Daerah
Tingkat II untuk penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan.



(2) Untuk dapat diangkat menjadi anggota badan penyelesaian sengketa
konsumen, seseorang hams memenuhi syarat sebagai berikut :
a. warga negara Republik Indonesia;
b. berbadan sehat;
c. berkelakuan balk;
d. tidak pernah dihukum karma kejahatan;
e. inemiliki pengetahuan dan pengalaman di bidang perlindungan konsumen;
f. berusia selcurang-kurangnya 30 (tiga puluh) tahun.
(3) Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas unsur pemerintah, unsur
konsumen, dan unsur pelaku usaha.
(4) Anggota setiap unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berjumlah sedikitdikitnya
3 (tiga) orang, dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang.
(5) Pengangkatan dan pemberhentian anggota badan penyelesaian sengketa
konsumen ditetapkan oleh Menteri.
Pasal 50
Badan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat
(1) terdiri atas :
a. ketua merangkap anggota;
b. wakil ketua merangkap anggota;
c. anggota.
Pasal 51
(1) Badan penyelesaian sengketa konsumen dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh
sekretariat.
(2) Sekretariat badan penyelesaian sengketa konsumen terdiri atas kepala
sekretariat dan anggota sekretariat.
(3) Pengangkatan dan pemberhentian kepala sekretariat dan anggota sekretariat
badan penyelesaian sengketa konsumen ditetapkan oleh Menteri.


Nenny Merina Saragih: Perlindungan hukum konsumen dalam
jual-beli... 2004 USU Repository . 2008.


Pasal 52
Tugas dan wewenang badan penyelesaian sengketa konsumen meliputi:
a. melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara
melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
c. melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku;
d. melaporkan kepada penyidik umum apabi la terjadi pelanggaran ketentuan dalam
Undang-undang ini;
e. menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen
tentang terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f. melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa perlindungan konsumen,
g. memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen;
h. memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan/atau setiap orang yang
dianggap mengetahui pe1anggaran terhadap Undang-undang ini;
i. meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli,
atau setiap orang sebagaimana dimaksud pada huruf g dan huruf h, yang tidak
bersedia memenuhi panggilan badan penyelesaian sengketa konsumen;
mendapatkan, meneliti danlatau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna
penyelidikan dan/atau pemeriksaan;
k. memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak
konsumen;
1. memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen;
m. menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan Undang-undang ini.
Pasal 53


Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas dan wewenang badan
penyelesaian sengketa konsumen Daerah Tingkat II diatur dalam surat keputusan
menteri.
Pasal 54



(1) Untuk menangani dan menyelesaikan sengketa konsumen, badan penyelesaian
sengketa konsumen membentuk majelis.
(2) Jurnlah anggota majelis sebagaimana dimaksud pada ayat (1.) hams ganjil dan
sedikit-dikitnya 3 (tiga) orang yang mewakili semua unsur sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 49 ayat (3), serta dibantu oleh seorang panitera.
(3) Putusan majelis bersifat final dan mengikat.
(4) Ketentuan teknis lebih lanjut mengenai pelaksanaan tugas majelis diatur dalam surat
keputusan merited.
Pasal 55.
Badan penyelesaian sengketa konsumen wajib mengeluarkan putusan paling
lambat dalam waktu 21 (dua puluh satu) had kerja setelah gugatan diterima.
Pasal 56
(1) Dalam waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak menerima putusan badan
penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 pelaku usaha
wajib melaksanakan putusan tersebut.
(2) Para pihak dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri paling
lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah menerima pemberitahuan putusan
tersebut.
(3) Pelaku usaha yang tidal( mengajukan keberatan dalam jangka waktu
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap menerima putusan badan
penyelesaian sengketa konsumen.
(4) Apabila ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tidak
dijalankan oleh pelaku usaha, badan penyelesaian sengketa konsumen
menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik untuk melakukan penyidikan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(5) Putusan badan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada ayat
(3)merupakan bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan


penyidikan.
Pasal 57
Putusan majelis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 ayat (3) dimintakan
penetapan eksekusinya kepada Pengadilan Negeri di tempat konsumen yang
dirugikan.
Pasal 58






Pasal 63
Terhadap sanksi pidana sebagaimana dirnaksud dalam Pasal 62, dapat dijatuhkan
hukuman tambahan, berupa:
a. perampasan barang tertentu;
b. pengumuman keputusan hakim;
c. pembayaran ganti rugi;
d. perintah penghentian kegiatan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian
konsumen;
e. kewajiban penarikan barang dari peredaran; atau
f. pencabutan izin usaha.
BAB XIV
KETENTUAN PERALMAN
Pasal 64
Segala ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertujuan melindungi
konsumen yang telah ada pada saat Undang-undang ini diundangkan, dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak diatur secara khusus dan/atau tidak bertentangan dengan
ketentuan dalam Undang-undang ini.
BAB XV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 65
Undang-undang ini mulai berlaku setelah 1 (satu) tahun sejak diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-undang ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Disahkan di Jakarta
pada tanggal 20 April 1999
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Ttd,


BACIIARUDDIN JUSUF 1-IABIBIE



Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 20 April 1999
MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
Ttd.
AKBAR TANDJUNG
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1999 NOMOR 42