Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Osteoporosis adalah kelainan dimana terjadi penurunan masa tulang total.
Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resoprsi tulang
lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, mengakibatkan penuruanan masa tulang
total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah. Tulang menjadi
mudah fraktur dengan stress yang tidak akan menimbulkan pada tulang normal.
Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur konversi vertebra torakalis dan lumbalis,
fraktur daerah koulum femoris dan daerah tronkanter, dan patah tulang coles pada
pergelangan tangan. Fraktur kompresi ganda fertebra mengakibatkan deformitas skeletal.
Osteoporosis dapat dijumpai tersebar diseluruh dunia dan sampai saat ini masih
merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama Negara berkembang. Di
Amerika Serikat osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita
post-menopause dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun.sekitar 80%
penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami
penghentian siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah
menopause meningkatkan resiko terkena osteoposrosis.
Penyakit osteoporosis banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki resiko
terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria
juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga
osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik
414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun
2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015.
Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak
18-36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur diatas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria
38%. Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang diseluruh dunia kemungkinan
terjadi di Asia pada 2050. (Yayasan Osteoporosis International) Mereka yang terserang
rata-rata berusia di atas 50 tahun. Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 2

Indonesia terserang osteoporosis atau keretakan tulang. Dua dari lima orang Indonesia
memiliki resiko terkena penyakit osteoporosis. (Depkes, 2006).
Berdasar data Depkes, jumlah penderita osteoporosis di Indonesia jauh lebih besar
dan merupakan Negara dengan penderita osteoporosis terbesar ke 2 setelah Negara Cina.
Oleh karena itu pentingnya bagi perawat memahami serta memberikan asuhan
keperawatan yang adekuat dan efektif dalam menangani pasien dengan penyakit
osteoporosis. Peran perawat sangat penting disini adalah memberikan pengetahuan
mengenai osteoporosis, program pencegahan, pengobatan, cara mengurangi nyeri dan
mencegah terjadinya fraktur.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Diharapkan mampu mempelajari serta menerapkan asuhan keperawatan lansia dengan
gangguan muskuloskeletal osteoporosis.
2. Tujuan Khusus
a. Diharapkan mampu memahami anatomi fisiologi tulang, defenisi, klasifikasi,
etiologi, tanda dan gejala, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan,
dan komplikasi.
b. Diharapkan mampu menyusun asuhan keperawatan dengan gangguan
osteoporosis.











ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 3

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Anatomi Fisiologi Tulang
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakkan rangka tubuh. Ruang di tengah tulang-tulang
tertentu berisi jaringan hematopoietik, yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga
merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat.
Komponen-komponen nonselular utama dar jaringan tulang adalah mineral-
mineral dan matriks organik (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk
suatu garam kristal (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan
proteoglikan. Mineral-mineral ini memampatkan kekuatan tulang. Matriks organik tulang
disebut juga sebagai osteoid. Materi organik lain yang menyusun tulang berupa
proteoglikan seperti asam hialuronat.
Bagian-bagian khas dari sebuah tulang panjang :
a. Diafisis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder.
Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar.
Sumsum kuning terdapat pada diafisis, terutama terdiri dari sel-sel lemak.
b. Metafisis, adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang.
Daerah ini terutama disusun oleh tulang trabekular atau tulang spongiosa yang
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 4

mengandung sel-sel hematopoietik. Sumsum merah juga terdapat di bagian
epifisis dan diafisis tulang.
c. Lempeng epifisis, adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, dan
bagian ini akna menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis langsung
berbatasan dengan sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisis sehingga
pertumbuhan memanjang tulang berhenti.
Seluruh tulang diliputi oleh lapisan fibrosa yang disebut perioteum yang
mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi yang berperan dalam proses pertumbuhan
transversal tulang panjang. Kebanyakan tulang panjang mempunyai arteria nutrisi
khusus. Lokasi dan keutuhan dari arteri-arteri inilah yang menentukan berhasil atau
tidaknya proses penyembuhan suatu tulang yang patah.
Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang terususun dari tiga jenis sel :
osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk
kolagen tipe I dan prteoglikan sebagai metriks tulang atau jaringan oeteoid melalui suatu
proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jarigan osteoid, osteoblas
mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang peranana penting dalam
mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks
tulang dapat diabsorpsi. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang
memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga
kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. (Sylvia A, 2005).
B. Defenisi
Osteoporosis adalah suatu penyakit tulang metabolik yang ditandai oleh reduksi
kepadatan tulang sehingga mudah terjadi patah tulang. Osteoporosis terjadi sewaktu
kecepatan absorpsi tulang melebihi kecepatan pembentukan tulang. Tulang yang dibentuk
normal, namun, jumlahnya terlalu sedikit sehingga tulang menjadi lemah. Semua tulang
dapat mengalami osteoporosis, walaupun osteoporosis biasanya timbul di tulang panggul,
paha, pergelangan tangan, dan kolumna vetebralis. (J. Corwin Elizabeth, 2000)
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 5

Osteoporosis merupakan penyakit skeletal sistemik yang ditandai dengan massa
tulang yang rendah dan kerusakan mikroarsitektur jaringan tulang, yang mengakibatkan
meningkatnya fragilitas tulang sehingga tulang cendrung untuk mengalami fraktur
spontan atau akibat trauma minimal. (Consensus Development Converence, 1993).
Osteoporosis didefenisikan sebagai penurunan massa tulang. Tulang memiliki
komposisi normal tetapi jumlahnya berkurang. Massa tulang tumbuh cepat pada masa
anak-anak dan sangat cepat pada masa remaja; separuh kepadatan tulang pada masa
dewasa telah tercapai selama perkembangan masa remaja. Masa tulang puncak dicapai
pada usia sekitar 25 tahun. (J.McPhee Stephen, 2010).

C. Klasifikasi
1. Osteoporosis primer
Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang terjadi sesuai dengan
proses penuaan, sedangkan osteoporosis sekunder didefenisikan sebagai kehilangan
massa tulang akibat hal-hal tertentu. Sampai saat ini osteoporosis primer masih
menduduki tempat utama karena lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan
osteoporosis sekunder.
2. Osteoporosis sekunder
Osteoporosis sekunder mungkin berhubungan dengan kelainan patologis tertentu
termasuk kelainan endokrin, efek samping obat-obatan, immobilisasi, pada
osteoporosis sekunder terjadi penurunan densitas tulang yang cukup berat untuk
menimbulkan fraktur traumatik akibat faktor ekstrinsik seperti kelebihan steroid. (La
Ode Sharif, 2012).

D. Etiologi
Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu :
a. Pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan dan
meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause.
Massa tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak sampai usia 40
tahun, pada wanita lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian tulang yang
hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling dan
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 6

memperbaharui cadangan mineralnya sepanjang garis beban mekanik. Faktor
pengatur formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan melalui 2 proses yang selalu
berada dalam keadaan seimbang dan disebut coupling. Proses coupling ini
memungkinkan aktivitas formasi tulang sebanding dengan aktivitas resorpsi tulang.
Proses ini berlangsung 12 minggu pada orang muda dan 16-20 minggu pada usia
menengah atau lanjut. Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per tahun. Proses
remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lokal yang
menyebabkan terjadinya satu rangkaian kejadian pada konsep Activation
Resorption Formation (ARF). Proses ini dipengaruhi oleh protein mitogenik yang
berasal dari tulang yang merangsang preosteoblas supaya membelah membelah
menjadi osteoblas akibat adanya aktivitas resorpsi oleh osteoklas. Faktor lain yang
mempengaruhi proses remodelling adalah faktor hormonal. Proses remodelling akan
ditingkatkan oleh hormon paratiroid, hormon pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin
D. Sedang yang menghambat proses remodelling adalah kalsitonin, estrogen dan
glukokortikoid. Proses-proses yang mengganggu remodelling tulang inilah yang
menyebabkan osteoporosis.
b. Gangguan pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat.
Gangguan metabolisme kalsium dan fosfat dapat dapat terjadi karena kurangnya
asupan kalsium, sedangkan menurut RDA konsumsi kalsium untuk remaja dewasa
muda 1200mg, dewasa 800mg, wanita pasca menopause 1000 1500mgmg,
sdangkan pada lansia tidak terbatas walaupun secara normal pada lansia dibutuhkan
300-500mg. oleh karena pada lansia asupan kalsium kurang dan ekskresi kalsium
yang lebih cepat dari ginjal ke urin, menyebabkan lemahnya penyerapan kalsium.

Selain itu, ada pula factor risiko yang dapat mencetuskan timbulnya penyakit
osteoporosis yaitu :
a. Faktor resiko yang tidak dapat diubah
usia, lebih sering terjadi pada lansia
Jenis kelamin, tiga kali lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria.
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh factor hormonal dan rangka
tulang yang lebih kecil
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 7

Ras, kulit putih mempunyai risiko paling tinggi
Riwayat keluarga/keturunan, pada keluarga yang mempunyai riwayat
osteoporosis, anak-anak yang dilahirkan juga cenderung mempunyai
penyakit yang sama.
Bentuk tubuh, adanya kerangka tubuh yang lemah dan scoliosis
vertebramenyebabkan penyakit ini. Keadaan ini terutam trejadi pada
wanita antara usia 50-60tahundengan densitas tulang yang rendah dan
diatas usia 70tahun dengan BMI yang rendah.
b. Factor risiko yang dapat diubah
Merokok
Defisisensi vitamin dan gizi (antara lain protein), kandungan garam pada
makanan, peminum alcohol dan kopi yang berat. Nikotin dalam rokok
menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsiumdari darah ke
tulang sehingga pembentukan tulang oleh osteoblast menjadi melemah.
Mengkonsumsi kopi lebih dari 3 cangkir perhari menyebabkan tubuh
selalu ingin berkemih. Keadaan tersebut menyebabkan banyak kalsium
terbuang bersama air kencing.
Gaya hidup, aktivitas fisik yang kurang dan imobilisasi dengan penurunan
penyangga berat badan merupakan stimulus penting bagi resorspi tulang.
Beban fisik yang terintegrasi merupakan penentu dari puncak massa
tulang
Gangguan makan (anoreksia nervosa)
Menopause dini, menurunnya kadar estrogen menyebabkan resorpsi tulang
menjadi lebih cepat sehingga akan terjadi penurunan massa tulang yang
banyak.
Penggunaan obat-obatan tertentu seperti diuretic, glukokortikoid,
antikonvulsan, hormone tiroid berlebihan, dan kortikosteroid.
E. Tanda dan Gejala
a. Nyeri tulang akut.. Nyeri terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan
atau tanpa fraktur yang nyata dan nyeri timbul mendadak.
b. Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 8

c. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan aktivitas
d. Deformitas tulang. Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan
kifosis angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga dapat terjadi
paraparesis.
e. Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua) biasanya datang
dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah menopause sedangkan gambaran
klinis setelah terjadi patah tulang, klien biasanya datang dengan keluhan punggung
terasa sangat nyeri (nyeri punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau bengkak
pada pergelangan tangan setelah jatuh.
f. Kecenderungan penurunan tinggi badan
g. Postur tubuh kelihatan memendek

F. Patofisiologi
Osteoforosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara faktor genetik
dan faktor lingkungan.
Faktor genetik meliputi:
- usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh.
Faktor lingkungan meliputi:
- merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas, anoreksia
nervosa dan pemakaian obat-obatan.
Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap
kalsium dari darah ke tulag, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak
tercapainya masa tulang yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat
yang selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada
pembentukan tulang baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut
osteoporosis. (La Ode Sharif, 2012).

G. WOC (Terlampir)


ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 9


H. Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologis
Gejala radiologis yang khas adalah densitas atau masa tulang yang menurun yang
dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya
merupakan lokasi yang paling berat. Penipisan korteks dan hilangnya trabekula
transfersal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra
menyebabkan penonjolan yang menggelembung dari nucleus pulposus ke dalam
ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
2. CT-Scan
CT-Scan dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai
penting dalam diagnostik dan terapi follow up. Mineral vertebra di atas 110 mg/cm
3

biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan, sedangkan mineral
vertebra dibawah 65 mh/cm
3
ada pada semua klien yang mengalami fraktur.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Kadar Ca, P, Fosfatase alkali tidak menunjukan kelainan yang nyata.
Kadar HPT (pada pascamenopause kadar HPT meningkat) dan Ct (terapi estrogen
merangsang pembentukan Ct)
Kadar 1,25-(OH)
2
-D3 absorbsi Ca menurun.
Ekskresi fosfat dan hidroksipolin terganggu sehingga meningkat kadarnya. (La
Ode Sharif, 2012)

I. Penatalaksanaan
Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi dan seimbang sepanjang hidup,
dengan pengikatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi
terhadap demineralisasi skeletal. Terdiri dari 3 gelas vitamin D susu skim atau susu
penuh atau makanan lain yang tinggi kalsium setiap hari.
Pada menopause, terapi pergantian hormone (HRT= hormone replacemenet
therapy) dengan estrogen dan progesteron dapat diresepkan untuk memperlambat
kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang. Wanita yang telah mengalami
pengangkatan ovarium atau telah menjalani menopause premature dapat mengalami
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 10

osteoporosis pada usia cukup muda. Pergantian hormon perlu diperkirakan pada pasien
ini, estrogen menurunkan resorpsi tulang tapi tidak meningkatkan massa tulang.
Penggunaan hormon dalam jangka panjang masih dievaluasi. Estrogen tidak akan
mengurangi kecepatan kehilangan tulang dengan pasti. Terapi estrogen sering
dihubungkan dengan sedikit peningkatan insidensi kanker payudara dan endometrial.
Obat-obatan lain yang dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk
kalsitonin, natrium flourida, dan natrium etidronat. Kalsitonin secara primer menekan
kehilangan tulang dan diberikan secara injeksi subkutan atau intra muscular. Efek
samping (missal gangguan gastrointestinal, aliran panas, frekuensi urin) biasanya
ringan dan kadang-kadang dialami. Natrium fluoride memperbaiki aktifitas
osteoblastik dan pembentukan tulang, namun kualitas tulang yang barumasih dalam
pengkajian. Natrium etridonat, yang menghalangi resorpsi tulang osteoklastik, sedang
dalam penilitian untuk efisiensi penggunaanya sebagai terapi osteoporosis. . (La Ode
Sharif, 2012).

J. Komplikasi
Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan
mudah patah. Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur
kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah
trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan tanggan. (La Ode Sharif, 2012.











ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 11

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
1. Pengkajian
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu dalam menentukan
status kesehatan dan pola pertahanan penderita, mengidentifikasikan, kekuatan dan
kebutuhan penderita yang dapat diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan
riwayat psikososial.
1. Identitas
a. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan,
tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medic, alamat,
semua data mengenai identitas klien tersebut untuk menentukan tindakan
selanjutnya.
b. Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab ini sangat perlu untuk memudahkan dan jadi
penanggung jwab klien selama perawatan, data yang terkumpul meliputi nama,
umur, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
2. Keluhan utama
Merupakan alasan penderita atau pasien untuk masuk ke Rumah sakit.
Data subyektif :
Klien mengeluh nyeri tulang belakang
Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang
tampak dan keterbatasan gerak
Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
Data obyektif :
tulang belakang bungkuk
terdapat penurunan tinggi badan
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 12

klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis
angular
klien tampak gelisah
klien tampak meringis
3. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien masuk kerumah sakit dengan keluhan nyeri tulang akut, nyeri
terutama terasa pada tulang belakang, nyeri dapat dengan atau tanpa fraktur yang
nyata dan nyeri timbul mendadak, nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat
tidur, nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan
aktivitas. Deformitas tulang. Dapat terjadi fraktur traumatic pada vertebra dan
menyebabkan kifosis angular yang menyebabkan medulla spinalis tertekan sehingga
dapat terjadi paraparesis. Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama
wanita tua) biasanya datang dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah
menopause sedangkan gambaran klinis setelah terjadi patah tulang, klien biasanya
datang dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri (nyeri punggung akut), sakit
pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan tangan setelah jatuh.
Kecenderungan penurunan tinggi badan dan postur tubuh kelihatan memendek.
b. Riwayat kesehatan dahulu
Berapa lama klien menderita osteoporosis, obat-obatan yang diminum dalam jangka
panjang, alkohol dan merokok merupakan factor risiko osteoporosis. Penyakit lain
yang juga harus ditanyakan adalahppenyakit ginjal, saluran cerna, hati, endokrin dan
insufisiensi pancreas. Riwayat haid , usia menarke dan menopause, penggunaan obat
kontrasepsi.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Perlu ditanya riwayat anggota keluarga yang menderita osteoporosis sebelumnya.
4. Pola aktivitas sehari hari
Pola aktivitas dan latihan biasanya berhubungan dengan olehraga, pengisian
waktu luang dan rekreasi, berpakaian, makan, mandi, dan toilet. Olahraga dapat
membentuk pribadi yang baik dan individu akan merasa lebih baik. Selain itu,
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 13

olahraga dapat mempertahankan tonus otot dan gerakan sendi. Lansia memerlukan
aktifitas yang adekuat untuk mempertahankan fungsi tubuh. Aktivitas tubuh
memrlukan interaksi yang kompleks antara saraf dan musculoskeletal.
Beberapa perubahan yang terjadi sehubungan dengan menurunnya gerakan
persendian adalah agility (kemampuan gerak cepat dan lancar) menurun, dan stamina
menurun.
5. Pemeriksaan penunjang/diagnostik
a. Radiologi
Gejala radiologi yang khas adalah densitas atau massa tulang yang menurun yang
dapata dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya
merupakan lokasi yang paling berat. Penipisan korteks dan hilangnya trabekula
tranversal merupakan kelainan yang sering ditemukan. Lemahnya korpus
vertebrae menyebabkan penonjolan yang mengelambung dari nucleus pulposus
kedalam ruang intervertebral dan menyebabkan deformitas bikonkaf.
b. CT-Scan
Dapat mengukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting
dalam diagnostic dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110 mg/cm
3
biasanya tidak menimbulkan fraktur vertebra atau penojolan, sedangkan mineral
vertebra dibawah 65 mg/cm
3
ada pada hamper semua klien yang mengalami
fraktur.
6. Pemeriksaan Fisik
a. B1 (Breathing)
Inspeksi : Ditemukan ketidak simetrisan rongga dada dan tulang belakang.
Palpasi : Taktil fremitus seimbang kanan dan kiri.
Perkusi : Cuaca resonan pada seluruh lapang paru.
Auskultasi : Pada kasus lanjut usia, biasanya didapatkan suara ronchi
b. B2 (Blood)
Pengisian kapiler kurang dari 1 detik, sering terjadi keringat dingin dan pusing.
Adanya pulsus perifer member makna terjadi gangguan pembuluh darah atau
edemayang berkaitan dengan efek obat.
c. B3 (Brain)
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 14

Kesadaran biasanya kompos mentis. Pada kasus yang lebih parah, klien dapat
mengeluh pusing dan gelisah.
1. Kepala dan wajah: ada sianosis
2. Mata: Sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis
3. Leher: Biasanya JVP dalam normal
Nyeri punggung yang disertai pembatasan pergerakan spinal yang disadari dan
halus merupakan indikasi adanya satu fraktur atau lebih, fraktur kompresi
vertebra.
d. B4 (Bladder).
Produksi urine biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan pada sistem
perkemihan.
e. B5 ( Bowel).
Untuk kasus osteoporosis, tidak ada gangguan eliminasi namun perlu di kaji
frekuensi, konsistensi, warna, serta bau feses.
f. B6 ( Bone).
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis. Klien osteoporosis sering
menunjukan kifosis atau gibbus (dowagers hump) dan penurunan tinggi badan
dan berat badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length
inequality dan nyeri spinal. Lokasi fraktur yang sering terjadi adalah antara
vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.
7. Riwayat psikososial
Penyakit ini sering terjadi pada wanita. Biasanya sering timbul kecemasan, takut
melakukan aktifitas dan perubahan konsep diri. Perawatperlu mengkaji masalah-
masalah psikologis yang timbul akibat proses ketuaan dan efek penyakit yang
menyertai.

2. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan injury fisik
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal
3. Resiko injury berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal
4. Konstipasi berhubungan dengan imobilitas atau atau terjadinya ileus (obstruksi usus)
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 15

5. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
6. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi yang
berhubungan dengan kurang informasi, salah persepsi ditandai dengan klien
mengatakan kurang ,mengerti tentang penyakitnya, klien tampak gelisah

3. Intervensi keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan gangguan injury fisik ditandai dengan
Data Subyektif
Klien mengeluh nyeri tulang belakang
Klien mengeluh bengkak pada pergelangan tangannya setelah jatuh
Data Obyektif
terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
klien tampak meringis
klien tampak gelisah
NOC : Tingkat nyeri
Menurunkan atau mengurangi nyeri pada tingkat yang masih dapat diterima Pasien.

NIC : (2400) Bantu pasien mengontrol rasa sakit(Patient-Controlled Analgesia
2Assistance.
I ntervensi:
a. Aktivitas manajemen nyeri.
1. Laksanakan penilaian meliputi; lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
intensitas nyeri, dan faktor yang menimbulkan nyeri.
2. Amati isyarat Non-verbal, tidak nyaman, tidak mampu untuk
komunikasikan secara efektif.
3. Pastikan bahwa pasien perlu menerima obat penghilang rasa sakit.
4. Gunakan strategi komunikasi teraupetik untuk menyampaikan adanya
nyeri dan menyatakan pengalaman nyeri terhadap respon nyeri.
5. Pertimbangkan pengaruh budaya pada respon nyeri.
6. Menentukan dampak dari nyeri pada kualitas hidup.
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 16

7. Evaluasi pengalaman masalalu meliputi: riwayat individu atau keluarga
tentang nyeri atau nyeri kronis yang memberi cacat jasmani/ketidak
mampuan, yang sesuai.
8. Evaluasi efektivitas pasien, team pelayanan kesehatan untuk kontrol nyeri
yang telah digunakan.
9. Membantu keluarga dan pasien untuk mencari dan menyediakan
dukungan.
10. Gunakan suatu perkembangan mental sesuai metoda penilaian yang
mempertimbangkan monitor perubahan rasa nyeri dan akan membantu
mengidentifikasi actual dan potensial faktor yang mempercepat.
11. Menentukan frekuensi (skala) bagaimana membuat pasien nyaman dan
rencana monitoring.
b. Aktivitas Bantu pasien mengontrol rasa sakit.
1. Kolaborasi dengan dokter, anggota keluarga dan pasien dalam memilih
jenis narkotik untuk digunakan.
2. Rekomendasikan aspirin dan Non-steroid, antiinflamasi bersama narkotik
yang sesuai.
3. Hindari penggunaan Demerol
4. Pastikan bahwa pasien tidak alergi obat analgesic
5. Beri pengajaran keluarga dan pasien untuk memonitor intensitas nyeri,
qualitas dan jangka waktu.
6. Beri pengajaran keluarga dan pasien untuk memonitor pernapasan dan
tekanan darah.
7. Benar-benar pasien dapat menggunakan PCA(patient controled analgesic)
8. Kolaborasi dengan pasien dan keluarga untuk memilih jenis pengawasan,
yang sesuai.
9. Membantu anggota keluarga atau pasien untuk mengatur dosis obat
analgetik.
10. Membantu keluarga dan pasien untuk menetapkan larangan bekerja sesuai
interval PCA (patient controlled analgesic).
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 17

11. Konsult dokter, pasien dan keluarga untuk melakukan penyesuaian
larangan bekerja sesuai kemampuan reaksi pasien.
12. Konsult klinik tenaga ahli untuk pasien yang mempunyai kesukaran
mengendalikan rasa nyeri.

2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal. Ditandai
dengan
Data Subyektif
Klien mengeluh nyeri tulang belakang
Klien mengeluh kemampuan gerak cepat menurun
Klien mengatakan membatasi pergaulannya karena perubahan yang tampak
dan keterbatasan gerak
Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
Data Obyektif
tulang belakang bungkuk
terdapat penurunan tinggi badan
klien tampak menggunakan penyangga tulang belakang (spinal brace)
terdapat fraktur traumatic pada vertebra dan menyebabkan kifosis angular
NOC : Tingkat mobilitas (0208)
Kemampuan untuk bergerak penuh tujuan.

NIC : Terapi Latihan gerakan tulang sendi (0224)
Menggunakan gerakkan tubuh aktif atau pasif untuk menjaga atau memperbaiki
kelenturan tulang sendi.
Intervensi:
Aktivitas Terapi latihan gerak tulang sendi
1. Menentukan pembatasan pergerakan dan efek pada fungsi.
2. Kolaborasi dengan fisiotherapy dalam mengembangkan dan melaksanakan
suatu program latihan.
3. Menentukan ukuran untuk motivasi, memelihara pergerakan.
4. Jelaskan ke pasien/keluarga tujuan untuk berlatih.
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 18

5. Monitor kegelisahan atau nyeri selama aktivitas
6. Kontrol nyeri sebelum berlatih
7. Pakaian pasien tidak bersifat membatasi
8. Melindungi pasien dari trauma selama latihan
9. Membantu pasien memposisikan badan untuk pergerakan pasif / aktif.
10. Anjurkan latihan gerakan aktif sesuai jadwal rencana tetap.
11. Laksanakan latihan pasif atau aktif
12. Instruksikan pasien/keluarga secara sistimatis melaksanakan latihan ROM
aktif/pasif.
13. Sediakan rancangan instruksi untuk latihan
14. Membantu pasien untuk mengembangkan suatu jadwal latihan ROM aktif.
15. Anjurkan pasien untuk menghayalkan gerakan badan sebelum pergerakan
awal.
16. Membantu dengan mengisyaratkan irama secara tetap, dengan tidak melewati
batas nyeri, ketahanan dan hubungan mobilitas.
17. Anjurkan untuk duduk ditempat tidur atau kursi.
18. Anjurkan berjalan-jalan jika sesuai
19. Menentukan kemajuan kearah pencapaian sasaran.

3. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan
Data Subyektif
Klien mengatakan stamina badannya terasa menurun
Klien mengatakan kurang mengerti tentang proses penyakitnya
Data Obyektif
klien tampak gelisah
NOC : Kontrol kecemasan
NIC : Pengurangan Kecemasan
Peningkatan koping
Intervensi:
Aktivitas peningkatan koping
1. Menilai penyesuaian pasien pada perubahan gambaran diri yang sesuai.
ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 19

2. Menilai dampak dari pada situasi hidup pasien dan hubungan peran
3. Menilai pemahan pasien tentang proses penyakit
4. Menilai dan mendiskusikan alternatif respon situasi
5. Gunakan suatu pendekatan ketenangan untuk menentramkan.
6. Sediakan suasana penerimaan
7. Membantu pasien untuk mengidentifikasi informasi yang menarik akan
diperoleh
8. Evaluasi kemampuan pasien untuk mengmbil keputusan
9. Menganjurkan pasien untuk mengembangkan kesabaran
10. Menganjurkan penerimaan terhadap pembatasan dengan orang lain
11. Mengakui adanya latarbelakang spiritual/budaya pasien
12. Anjurkan penggunaan sumber-sumber rohani jika menginginkan
13. Hadapi perasan bertentangan (pasien marah atau perasaan sedih)
14. Bantu mengungkapkan perasan, persepsi dan takut
15. Kurangi stimuli lingkungan yang bisa disalah tafsirkan seperti mengancam.

Aktivitas Pengurangan kecemasan.
1. Lakukan pendekatan untuk menenangkan, menentramkan pasien.
2. Nyatakan dengan jelas harapan dan perilaku pasien.
3. Berikan informasi mengenai diagnosis, perawatan dan prognosis.
4. Terangkan semua prosedur, termasuk perasan yang mungkin dialami pasien
selama prosedur.
5. Tunggu pasien untuk meningkatkan keamanan dan mengurangi ketakutan.
6. Anjurkan pasien untuk ditunggui keluarga.
7. Dengarkan dengan penuh perhatian.
8. Ciptakan suasanan untuk memudahkan kepercayaan.
9. Sediakan kegiatan yang menghibur untuk mengurangi ketegangan.
10. Ajari pasien tentang penggunaan teknik relaksasi
11. Anjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaan, masalah dan rasa takut.
12. Pantau tekanan darah dan Nadi.

ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 20

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan densitas/matriks/massa tulang,
peningkatan porositas tulang, dan penurunan proses mineralisasi disertai dengan
kerusakan arsitektur mikro jaringan tulang yang mengakibatkan penurunan
kekokohan tulang sehingga tulang menjadi mudah patah (buku ajar asuhan
keperawatan klien gangguan system musculoskeletal).
Dapat dibagi menjadi Osteoporosis primer adalah kehilangan massa tulang yang
terjadi sesuai dengan proses penuaan, sedangkan osteoporosis sekunder didefenisikan
sebagai kehilangan massa tulang akibat hal-hal tertentu. Ada 2 penyebab utama
osteoporosis, yaitu : Pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama
masa pertumbuhan dan meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause
dan angguan pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat.

B. Saran
Dengan adanya makalah ini yang berisikan tentang teori serta asuhan keperawatan
lansia dengan gangguan musculoskeletal osteoporosis, diharapakan pembaca
mengetahui dan memahami topik dari pembahasan tersebut.











ASUHAN KEPERAWATAN LANSI A GANGGUAN MUSKULOSKELETAL 21

DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth J.Corwin, Alih bahasa : Brahm U. Pendit. 2000. Buku saku patofisiologi. Jakarta : EGC
La Ode Sharif. 2012. Asuhan keperawatan gerontik. Yogyakarta : Nuha medika
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. Alih bahasa : Brahm U. Pendit. 2005. Patofisiologi :
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume 1.Edisi 6. Jakarta : EGC.
Stephen J.McPhee. dkk. Alih bahasa : Brahm U.Pendit. 2010. Patofisiologi penyakit : pengantar
menuju kedokteran klinis. Edisi 5. Jakarta : EGC