Anda di halaman 1dari 18

1

EPISODE DEPRESI BERAT


TANPA GEJALA PSIKOTIK (F32.2)

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. TN
Jenis kelamin : Laki-Laki
Umur : 42 tahun
Agama : Islam
Status pernikahan : Sudah Menikah
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Gladiol No. 15 NTI Makassar
Masuk Poli Jiwa RS IBSI : Selasa, 25 Februari 2013

LAPORAN PSIKIATRIK
I. RIWAYAT PSIKIATRI
Diperoleh dari alloanamnesis dari :
Nama : Tn. M
Agama : Islam
Pekerjaan : Pensiunan
Pendidikan : SMA
Alamat : Maros
Hubungan dengan pasien : Ayah Kandung Pasien

Nama : Ny. S
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMA
Alamat : BTP
Hubungan dengan pasien : Adik Kandung Pasien
2

II. RIWAYAT PENYAKIT
A. Keluhan Utama : rasa khawatir

B. Riwayat Gangguan Sekarang
1. Keluhan dan Gejala
Pasien pertama kali datang ke Poliklinik Jiwa Rumah Sakit Ibnu Sina
dengan keluhan khawatir. Pasien pertama kali mengalami rasa khawatir sejak 3
bulan yang lalu saat sholat Jumat di masjid. Pasien merasakan tangan dan kakinya
tiba-tiba gemetar, badan terasa dingin, dan merasa ingin jatuh saat sholat karena
tiba-tiba mengingat masalah hutang piutang yang harus dibayarnya. Dalam
sholatnya, pasien melamunkan bahwa ujian yang sekarang dialaminya merupakan
hukuman dari Tuhan atas segala dosa-dosa yang dilakukan sewaktu masih muda.
Kemudian ia sadar dari lamunannya bahwa sekarang ia sedang sholat dan berfikir
setan telah mengganggu sholatnya. Rasa khawatir yang dialaminya terkadang
hilang dengan melakukan sholat, baca surah Yasin dan bertemu dengan ustadz
untuk meminta nasehat mengenai masalah hidup yang dialaminya. Rasa khawatir
yang dialami tidak tentu waktu datangnya dan sifatnya tidak terus menerus. Pasien
juga mengaku bahwa saat rasa khawatir datang, ia berpikir bagaimana masa depan
anaknya kelak, bagaimana cara ia membiayai sekolah anaknya dengan hutangnya
yang sangat banyak. Pasien mengaku tidak mengalami jantung berdebar-debar,
hanya merasa kepalanya berat dan takut mengalami serangan stroke karena yang
dipahaminya adalah orang yang stress akan berlanjut menjadi depresi dan berakhir
dengan stroke. Pasien tidak ingin terkena penyakit stroke yang pada akhirnya ia
tidak bisa melakukan apa-apa dan berfikir bagaimana nasib anak dan isterinya jika
ia sakit. Selain stroke, pasien juga takut mengidap penyakit gangguan jiwa.
Saat tidak melakukan pekerjaan, kadang pasien tiba-tiba merenungkan dosa-
dosa yang telah dilakukan dimasa lalu, beranggapan bahwa setiap ia melakukan
suatu usaha, selalu saja ada masalah. Jadi, ia menganggap bahwa nasib tidak
berpihak kepadanya. Pasien adalah seorang pengusaha jual-beli mobil pada
perusahannya sendiri dan mengaku tidak mengalami perkembangan, serta sering
ke veteran untuk berbincang-bincang dan bercanda dengan temannya. Saat
3

melamun, pasien merokok dan minum kopi. Pasien juga mengaku bahwa dirinya
menjadi lebih sensitif terhadap orang lain, mudah tersinggung namun tidak marah
ataupun mengamuk, malas mengurus diri, dan sering berkonsultasi dengan
ayahnya yang berada di Maros sehingga ia sering pulang pergi Maros-Makassar.
Pasien mengaku menjadi malas makan, hanya 2 x sehari, sehingga ia mengalami
penurunan berat badan dan sulit tidur.
Di luar rumah, pasien sering bercanda dengan temannya sehingga ia bisa
sedikit melupakan masalahnya, dan merasa tidak ingin pulang ke rumah karena
langsung teringat akan masalah yang dialaminya. Pasien mengaku bahwa sang
isteri acuh tak acuh, tidak perduli dengan masalah yang dihadapinya sehingga ia
lebih suka berada diluar rumah dari pada di rumah.

2. Hendaya / Disfungsi
Hendaya Sosial : (-)
Hendaya Pekerjaan : (+)
Hendaya Penggunaan Waktu Senggang : (+)

3. Hubungan stressor dan psikososial :
Hutang piutang yang dialaminya dan kehidupan masa lalunya yang kelam
sering muncul dalam pikirannya.

C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Gangguan Psikiatrik
Pasien mengaku pertama kali mengalami rasa cemas pada tahun 2005
dengan pemicu yang sama yakni hutang piutang yang dialaminya. Namun saat itu,
ia bisa atasi karena permasalahan jumlah hutangnya tidak sebesar jumlah hutang
sekarang. Pasien menghilangkan rasa stressnya dengan rajin beribadah di rumah
maupun ke masjid, membaca alquran terutam surah Yasin, dan bertemu dengan
ulama-ulama.


4

2. Gangguan Medik
Pasien pernah mengalami kecelakaan yang menyebabkan pasien harus
dirawat di rumah sakit selama 3 hari saat kelas 3 SD dan tidak ada riwayat
penurunan kesadaran. Pasien tidak ada riwayat kejang. Riwayat DM, hipertensi,
sakit ginjal maupun sakit liver sebelumnya tidak diketahui.

3. Gangguan Zat Psikoaktif
Pasien mengaku pernah menggunakan ectasy pada tahun 1996 1997, tidak
tiap hari, 3 x seminggu, dan berhenti atas kemauan sendiri.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi
Riwayat Prenatal dan Perinatal ( 0-1 tahun )
Pasien lahir spontan, cukup bulan dan ditolong oleh bidan. Selama masa
kehamilan, ibu pasien dalam keadaan sehat. Pasien tumbuh dan berkembang
dengan baik.
Masa Kanak Awal ( 1-3 tahun )
Pasien termasuk anak yang sehat dengan proses tumbuh kembang dan
tingkah laku normal seperti anak seusianya. Pasien tidak pernah kejang,
tidak pernah kecelakaan saat usia 3 tahun.
Masa Kanak Pertengahan ( 4-11 tahun )
Pasien pernah TK dan SD pada salah satu sekolah di Maros. Semasa
sekolah pasien dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Pasien termasuk anak
yang sehat dengan proses tumbuh kembang dan tingkah laku normal
seperti anak seusianya.
Masa Kanak Akhir ( 12-17 tahun )
Pasien melanjutkan SMA pada salah satu sekolah di Maros dan
menyelesaikan sekolahnya SLTA dengan prestasi belajar yang cukup
dan tidak pernah tinggal kelas.
Riwayat Pekerjaan
Pasien seorang pengusaha jual beli mobil semenjak tahun 2000 sampai
sekarang dan mengalami kemunduran.
5

Riwayat Kehidupan Beragama
Pasien beragama islam. Pasien merupakan seorang yang rajin beribadah
dan semenjak tahun 2005 sering ke masjid untuk sholat dan meminta
nasehat pada ustadz.

E. Riwayat Kehidupan Keluarga
Pasien merupakan anak kedua dari empat bersaudara ( , , , ). Ayah
pasien mengaku bahwa ada keluarga yang memiliki gangguan jiwa gila (dalam
istilah kedokteran Skizofrenia) yakni keturunan dari neneknya.

F. Situasi Sekarang
Pasien telah menikah pada tahun 2000 dan telah dikaruniai 3 orang anak (,
, ). Tinggal bersama dengan istri dan ketiga orang anaknya di rumah pribadi
yang ditinggalinya di daerah NTI, sedangkan bapak dan ibunya tinggal di Maros.

G. Persepsi (tanggapan) Pasien tentang diri dan kehidupannya
Pasien mengaku bahwa ia sadar saat ini dirinya mengalami stres dan bisa
menjadi depresi. Dari depresi selanjutnya ia bisa menjadi stroke. Dan penyakit
stroke itulah yang menakut-nakuti dirinya, bahwa suatu saat ia akan terkena
stroke. Selain itu juga, pasien takut dan menangis dianggap dirinya mengalami
penyakit gangguan jiwa seperti penyakit gila yang dalam istilah kedokteran
disebut Skizofrenia.

AUTOANAMNESIS
Tanggal : 26 Februari 2013
Pukul : 12.00 14.40 WITA
Tempat : Ruang Poli Jiwa RS Ibnu Sina

DM : Assalamu Alaikum, Pak.
P : Waalaikum salam dok.
DM : Perkenalkan Pak, saya dokter muda Muthmainnah yang bertugas hari
ini, nama bapak siapa ?
Ket : DM (Dokter Muda)
P (Pasien)

6

P : Pak TN dok.
DM : Berapa umur Bapak sekarang ?
P : Saya lahir 13 Juni 1970, jadi sekarang sudah hampir 43 tahun. (
daya ingat jangka panjang baik)
DM : Apa pekerjaan Bapak ?
P : Wiraswasta, dok.
DM : Bapak tinggal di mana ?
P : Jalan Nangka No. 48 Maros, dok.
DM : Kalo boleh tahu Pak, apa yang membuat bapak datang ke sini ?
P : Ini dok, saya selalu merasa khawatir.
DM : Tolong bapak jelaskan, perasaan khawatir seperti apa yang bapak
maksudkan ?
P : Perasaan khawatir, was-was, ada-ada saja yang selalu saya pikirkan.
Pikiran saya itu selalu macam-macam, bahkan teman saya biasa bilang
kalo saya itu orang parno, dok.
DM : Sejak kapan bapak mulai merasa khawatir ?
P : Sejak 3 bulan yang lalu. Begini dok, awalnya itu pada saat saya
sedang sholat Jumat. Tiba-tiba badan saya gemetar, tangan dan kaki
saya gemetar, badan serasa dingin dan saya seperti mau jatuh, tapi
Alhamdulillah Tuhan masih memberi saya kekuatan menyelesaikan
sholat Jumat.
DM : Apa sebenarnya yang bapak pikirkan saat itu ?
P : Serasa ada setan yang sedang bisiki saya, berbicara buruk tentang
kehidupan saya, mau mengganggu sholat saya kepada Tuhan. Saya
saat ini dok selalu mendengarkan nasihat, ketemu dengan ulama
masjid, sehingga saya tahu bahwa setan sedang mengganggu saya
dalam sholat. Dalam hati saya berkata Sialan kau setan, kau mau
ganggu lagi saya sekarang! (pasien sempat berbicara dengan kata
tidak senonoh dalam hatinya). Nah, pada saat itu saya tersadar, apa
yang telah saya lakukan ini, saya sudah menghina-hina Allah. Tiba-
tiba tangan dan kaki saya gemetar. Saya sangat takut dok.(dengan
ekspresi wajah yang sedih dan memelas). ( produktifitas logorhea)
DM : Maaf bapak, bisa dijelaskan lebih lanjut apakah bapak mendengar
suara bisikan setan ditelinga bapak yang orang lain tidak bisa dengar?
P : Saya tidak dengar suara dok, sulit saya jelaskan dok (sambil
memikirkan maksud penyampaian sebelumnya). Begini, saya sedang
sholat dan saya melamunkan hutang-hutang saya, dosa-dosa saya
kenapa saya jadi begini, kemudian saya tersadar bahwa saya tidak
khusyuk dalam sholat dan berfikir bahwa setan sedang mengganggu
7

saya dalam sholat saya kepada Tuhan. ( persepsi : tidak ada
halusinasi)
DM : Ok, bapak. Bisa bapak jelaskan lebih lanjut apa yang bapak pikirkan
saat itu ?
P : Saya memikirkan hutang saya dok. Hutang saya itu sangat banyak
dok. ( stressor psikososial)
DM : Maaf bapak saya bertanya seperti ini, dimana saja bapak berhutang ?
dan bisa dirincikan hutang-hutang bapak ?
P : Begini dok, saya itu punya hutang di Bank, di orang lain, cicilan
mobil, cicilan motor. (Pasien berbicara sambil merincikan semua
hutang-hutangnya di kertas) Itu semua saya pikirkan, dan saya tidak
tahu bagaimana melunasi semuanya. Saya sudah berusaha untuk
bekerja, buka usaha tapi ada-ada saja kendalanya. Ketika saya buka
usaha ini ada kendalanya, beralih ke usaha lain ada lagi kendalanya,
sehingga saya merasa bahwa ini adalah hukuman dari Allah SWT.
Saya waktu muda terkenal suka berbuat dosa, pernah pakai ectasy,
suka minum minuman alkohol, misalnya suka main perempuan.
Banyaklah dok perbuatan dosa yang telah saya lakukan. Sehingga
saya selalu berpikir bahwa ini merupakan akibat dosa-dosa saya dulu.
Kenapa saya seperti ini. (menunduk dan bertumpu pada tangan kedua
tangannya). ( afek labil)
DM : Apakah anda pernah merasa bahwa jantung bapak berdebar-debar ?
Pusing ? sakit kepala ? atau jarang tidur ?
P : Tidak pernah ji dok kalo jantung berdebar-debar atau sakit kepala.
Cuman ini kepalaku terasa berat, terasa diikat dan tidur saya biasa
terganggu kalo tiba-tiba saya pikirkan lagi hutang-hutangku. Ini juga
dok, berat badan saya turun karena malas makan. Saya juga jadi
jarang mengurus diri, pakaian saya berantakan, padahal saya orangnya
rapi. (sambil menunjukkan penampilannya, bahwa dulu dia tidak
seperti sekarang) (perilaku dan aktifitas psikomotor normoaktif).
DM : Bapak pernah mengalami rasa khawatir sebelum 3 bulan ini ?
P : Iya dok pernah, tahun 2005.
DM : Jadi apa yang bapak lakukan jika bapak tiba-tiba merasa khawatir ?
P : Saya langsung baca surah Yasin dok dan seketika rasa cemas saya
hilang. Namun, yang sekarang ini sudah berat saya rasa dok. Saya
sudah parno, sering bertanya-tanya, apakah saya sudah gila ini,
makanya saya datang ke sini untuk periksa dok.
DM : Rasa khawatir yang sekarang bapak rasakan selama 3 bulan terakhir,
bagaimana cara bapak mengatasinya ?
8

P : (pasien langsung mengangkat wajahnya setelah diberi pertanyaan)
Saya langsung baca Alquran, surah Yasin. Setelah baca, saya merasa
tenang. Rasa was-was saya hilang.
DM : Apa yang bapak lakukan sehari-hari ?
P : Saya jalankan usaha ku dok, usaha jual beli mobil. Kadang saya
duduk diam, langsung tiba-tiba saya pikirkan hutang-hutangku, masa
laluku, masa depannya anak-anakku, kenapa saya bisa jadi begini.
Jadi, saya lebih suka keluar rumah, pergi ke daerah X untuk jalan-
jalan, bertemu dan berbincang-bincang dengan teman. Karena saya itu
dok, terkenal orangnya humoris, suka bercanda kalo lagi berkumpul
sama teman. ( hendaya sosial (-), hendaya pekerjaan (+))
DM : Jadi, apa yang bapak lakukan jika berada di rumah?
P : Itu dok, lebih banyak diam, termenung kalo di rumah. Rasanya kalo
keluar rumah, saya malas pulang. Karena saya pasti pikirkan lagi
hutang-hutangku. Saya juga sering mengunjungi rumahnya bapak di
Maros, meminta nasehat kepada beliau. ( hendaya waktu senggang
(+))
DM : Selain rasa khawatir, apa lagi bapak rasakan ?
P : Sebenarnya juga dok, saya takut.
DM : Bisa dijelaskan perasaan takut apa yang bapak maksudkan dan kenapa
bapak merasa takut ?
P : Perasaan khawatir saya ini bikin saya takut, apakah saya termasuk
orang stress, nah orang yang stres itu bisa jadi depresi, dan orang yang
depresi itu bisa jadi stroke. Saya takut terkena stroke, karena
bagaimana masa depan anak-anak dan isteri saya nantinya, siapa yang
melunasi hutang-hutang saya. (pasien sambil menulis di kertas urutan
penyakitnya , stress depresi stroke. Pasien juga meneteskan air
mata). ( taraf pendidikan, pengetahuan umum, dan kecerdasan
sesuai, mood sedih, afek labil, preokupasi khawatir terkan stroke)
DM : Apakah bapak pernah berniat melakukan bunuh diri ?
P : Kalo bunuh diri dok, saya tidak pernah berniat bunuh diri. Tapi
terkadang muncul suara hati untuk menyuruh bunuh diri dan langsung
saya mengatakan bahwa itu bisikan setan. Saya sadar betul bahwa
bunuh diri itu sangat dibenci oleh Allah SWT.
DM : Bapak pernah mendengar suara-suara yang sumber suaranya tidak
ada? dan melihat sesuatu yang sebenarnya tidak dapat dilihat oleh
orang lain?
P : Tidak pernah dok. Dok, apakah saya ini sudah tergolong orang gila ?
(berkata sambil menangis) ( gangguan persepsi (-))
9

DM : Bapak, untuk saat ini memang bapak betul mengalami gangguan jiwa.
Tapi untuk kategori penyakit gila, bapak tidak menderita penyakit
tersebut. Tidak mungkin orang seperti anda bisa menuliskan secara
detail mengenai hutang-hutang bapak.
P : Jadi, dok. Apa yang sebenarnya ini saya alami ?
DM : Bapak, saat ini bapak mengalami gangguan depresi. Jadi, nanti bapak
akan saya berikan obat. Saya sarankan bapak menginap beberapa hari
saja di Maros jika memang harus berbincang dengan bapaknya. Bapak
usahakan isi hari-hari bapak dengan hal-hal yang positif, usahakan
bapak jangan terlalu sering menyendiri. Hari Sabtu, bapak silahkan
datang kembali untuk kontrol. Usahakan ajak isteri bapak, sehingga
beliau bisa mendengarkan keluhan bapak.
P : Iya dok. Terima kasih banyak dok. Insya Allah, hari Sabtu saya akan
ke sini lagi, sekalian saya ajak juga isteri dok. Assalamualaikum Dok.
DM : Wa Alaikumsalam, Pak.

III. STATUS MENTAL
A. Deskripsi umum
1. Penampilan : Seorang pria berpenampilan sesuai
umur. Berkulit sawo matang, rambut pendek berwarna hitam. Saat
wawancara, pasien memakai kemeja berwarna abu-abu dan celana panjang
berwarna cokelat muda, tidak ada bau badan, menggunakan sendal, kuku
tangan dan kaki tampak bersih dan tidak panjang.
2. Kesadaran : Baik
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor : Normoaktif
4. Pembicaraan : Pasien berbicara spontan, lancar dan
bicara cukup banyak, menjawab sesuai dengan pertanyaan. Gangguan bicara
tidak ada.
5. Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif

B. Keadaan afektif (mood), perasaan, empati, dan perhatian
1. Mood : sedih
2. Afek : labil (pasien berubah-ubah saat mengutarakan keluhannya,
kadang tiba-tiba menangis, aktif bicara, dan berintonasi kecil)
10

3. Empati : dapat dirabarasakan

C. Fungsi intelektual (kognitif)
1. Taraf Pendididkan, Pengetahuan Umum Dan Kecerdasan :
Sesuai
2. Daya konsentrasi : baik
3. Orientasi (Waktu, Tempat, dan Orang)
Daya Orientasi Waktu : baik
Daya Orientasi Tempat : baik
Daya Orientasi Personal : baik
4. Daya ingat
Daya Ingat Jangka Panjang : baik
Daya Ingat Jangka Pendek : baik
Daya Ingat Jangka Segera : baik
5. Pikiran abstrak : baik
6. Bakat kreatif : tidak ada
7. Kemampuan menolong diri sendiri : baik

D. Gangguan persepsi
1. Halusinasi : tidak ada
2. Ilusi : tidak ada
3. Depersonalisasi : tidak ada
4. Derealisasi : tidak ada

E. Proses berfikir
1. Arus pikiran
a. Produktivitas : logorhea
b. Kontinuitas : relevan dan koheren
c. Hendaya berbahasa : tidak ada


11

2. I si pikiran
a. Preokupasi : khawatir tentang gejala yang dialaminya dan
berkeinginan untuk melunasi semua hutang-hutangnya serta bisa bersikap
wajar menghadapinya (bisa bersikap enjoy).
b. Gangguan isi pikiran : tidak ada

F. Pengendalian impuls : baik

G. Daya nilai
1. Normo sosial : baik
2. Uji daya nilai : baik
3. Penilaian Realitas : baik

H. Tilikan (insight) : tilikan 6 (pasien merasa sakit dan membutuhkan
pengobatan)

I. Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT
A. Status Internus
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital
> Tekanan Darah : 120/80 mmHg
> Pernapasan : 24 x/mnt

B. Status Neurologik
1. GCS : E
4
V
5
M
6

2. Rangsang Meningeal : tidak dilakukan
3. Tanda ekstrapiramidal
- tremor tangan : -
12

- cara berjalan : normal
- keseimbangan : baik
4. Motorik : normal
5. Sensorik : normal
6. Kesan : normal

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Pasien Tn. TG datang ke poliklinik RS Ibnu Sina dengan keluhan khawatir
dialami sejak 3 bulan yang lalu, merasa gemetar tangan dan kakinya saat sedang
sholat Jumat dimasjid karena memikirkan masalah hutang piutang yang
dialaminya, juga pasien kadang gelisah tidur.
Pasien juga mengeluh malas makan, kepala terasa berat dan terasa seperti
terikat keras, tidak ada riwayat jantung berdebar-debar. Pasien juga merasa lemas,
kurang bergairah untuk memulai aktifitas. Pasien sangat cemas memikirkan
hutang piutangnya dan penyakit stress yang dapat berlanjut menjadi depresi dan
ujung-ujungnya dapat menjadi stroke serta ia takut bahwa suatu saat ia menjadi
gila.
Pasien ada riwayat kecelakaan saat kelas 3 SD dan mendapat perawatan
selama 3 hari di Rumah Sakit. Setelah kecelakaan, pasien sadar dan merasa baik
setelah muntah dan tetap sadarkan diri. Pasien ada riwayat penggunaan ectasy
pada tahun 1996-1997, tidak terus-menerus, 3 x seminggu dan berhenti atas
kemauan sendiri.
Dari status mental didapatkan seorang pria berusia 42 tahun berpenampilan
sesuai umur. Berkulit sawo matang, rambut pendek berwarna hitam. Saat
wawancara, pasien memakai kemeja berwarna abu-abu dan celana panjang
berwarna cokelat muda, tidak ada bau badan, menggunakan sendal, kuku tangan
dan kaki tampak bersih dan tidak panjang. Pasien duduk tenang dengan ekspresi
wajah sedih, kontak mata dengan pemeriksa baik. Sikap pasien tenang dan
kooperatif dalam menjawab pertanyaan. Kesadaran baik, perilaku dan aktivitas
psikomotor tenang, pembicaraan lancar, spontan, sikap terhadap pemeriksa
kooperatif. Keadaan mood sedih, afek labil dan empati dapat dirabarasakan. Pada
13

fungsi Intelektual (Kognitif) taraf pendidikan, pengetahuan umum dan
kecerdasan sesuai dengan pendidikan, daya konsentrasi baik. Orientasi (waktu,
tempat dan orang) baik. Daya ingat (Jangka panjang, jangka sedang dan jangka
pendek) baik. Pikiran abstrak baik, bakat kreatif tidak ada, kemampuan menolong
diri sendiri baik. Gangguan persepsi tidak ada. Arus pikiran: produktivitas
logorhea, kontiniuitas relevan dan koheren dan hendaya berbahasa tidak
ditemukan. Isi pikiran: preokupasi khawatir tentang hutang piutang, kemungkinan
terkena stroke dan gangguan gila, gangguan isi pikiran tidak ada. Pengendalian
Impuls baik. Daya nilai baik. Tilikan (Insight) Tilikan 6 (Pasien merasa sakit dan
membutuhkan pengobatan). Taraf dapat dipercaya dapat dipercaya.

VI. EVALUASI MULTI AKSIAL
1. Aksis I
Episode Depresi Berat Tanpa Gejala Psikotik (F32.2)
Dari autoanamnesis didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna yaitu,
rasa cemas, mengeluh lemah dan kurang bergairah memulai aktifitas, kepala
terasa berat dan seperti terikat, kadang merenung terutama saat sendiri,
kepercayaan diri untuk memulai usaha berkurang, perasaan tidak berguna dan rasa
bersalah, pesimis, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang. Keadaan ini
menimbulkan penderitaan (distress), terdapat hendaya pekerjaan, dan disabilitas
ringan sehingga dapat disimpulkan sebagai gangguan jiwa.
Pada pemeriksaan status mental tidak ditemukan hendaya berat dalam
menilai realita, sehingga digolongkan dalam gangguan jiwa non psikotik.
Pada pemeriksaan status internus dan status neurologis tidak ditemukan
adanya kelainan yang mengindikasikan gangguan medis umum yang
menimbulkan gangguan otak, sehingga penyebab organik dapat disingkirkan,
sehingga pasien di diagnosis sebagai gangguan jiwa non psikotik non-organik.
Dari autoanamnesis serta pemeriksaan status mental didapatkan bahwa
pasien mengalami rasa cemas, kepala terasa berat dan seperti terikat, mengeluh
lemah dan kurang bergairah memulai aktifitas, kadang merenung terutama saat
sendiri, kepercayaan diri untuk memulai usaha berkurang, perasaan tidak berguna
14

dan rasa bersalah, pesimis, tidur terganggu, dan nafsu makan berkurang. Gejala
tersebut menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat sehingga pasien
digolongkan dalam Gangguan Episode Depresi Berat tanpa Gejala Psikotik
(F32.2).

2. Aksis II
Ciri kepribadian tidak khas.

3. Aksis III
Tidak ada (none)

4. Aksis IV
Stressor psikososial yakni masalah ekonomi yang berhubungan dengan
kesulitan pasien dalam melunasi hutang-hutangnya.

5. Aksis V
GAF Scale 80 71 : gejala sementara & dapat diatasi, disabilitas ringan
dalam pekerjaan, penggunaan waktu senggang.

VII. DAFTAR PROBLEM
1. Organobiologik
Status internus dan neurologis tidak didapatkan adanya kelainan.

2. Psikologik
Perilaku dan aktivitas psikomotor normoaktif, afek labil, ekspresi afektif
sedih, empati dapat dirabarasakan, daya ingat jangka panjang tidak terganggu,
intelegensia dan pengetahuan umum sesuai dengan pendidikan dan usia,
halusinasi tidak ada, waham tidak ada, tilikan derajat enam.

3. Keluarga
Gangguan jiwa yang dialami pasien bermula dari masalah hutang yang
15

sangat besar nominalnya tidak sebanding dengan pendapatan yang diperolehnya
dalam sebulan.

VIII. PROGNOSIS
1. Faktor yang mendukung kearah prognosis baik
Dukungan dari keluarga
Sudah menikah dan memiliki anak
2. Faktor yang mendukung kearah prognosis buruk
Riwayat keluarga mengalami gangguan jiwa gila (Skizofrenia) yakni
sepupu dua kali dari nenek pasien.

IX. PEMBAHASAN & DISKUSI
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan psikiatri, menunjukkan
bahwa pasien mengalami depresi akibat masalah hutang-piutangnya yang sangat
banyak. Pasien juga merasa sering melamun, putus asa, tidak bersemangat dalam
menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pasien juga sempat melihat baangan-bayangan sebelumnya. Pasien merasa
putus asa, tidak bersemangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pesimis untuk
memulai usaha lain demi melunasi hutang-hutangnya. Pasien sering melamun dan
tidak ada keinginan untuk melakukan apa-apa. Keluhan susah tidur dirasakan bila
timbul rasa khawatir
Sesuai dengan gejala yang dialami pasien, menurut PPDGJ III, diagnosis
aksis I yang sesuai untuk pasien ini adalah Episode depresif berat tanpa gejala
psikotik (F32.3).
Gejala utama dari episode depresif adalah afek depresif, kehilangan minat
dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan
mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya
aktivitas
1
.
Gejala lainnya adalah konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan
kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna,
16

pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu dan nafsu makan berkurang
1
.
Pasien juga dapat dikategorikan sebagai gangguan anxietas dengan melihat
kekhawatiran yang berlebih terhadap hutang-hutangnya. Namun berdasarkan
PPDGJ III, menyatakan bahwa, bila ditemukan sindrom depresi dan anxietas
yang cukup berat untuk menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua
diagnosis tersebut harus dikemukakan, dan diagnosis gangguan campuran tidak
dapat digunakan. Jika karena sesuatu hal hanya dapat dikemukakan satu
diagnosis maka gangguan depresif harus diutamakan. Sehingga gangguan yang
dialami oleh pasien ini dimasukkan dalam kategori gangguan Episode Depresif
Berat Tanpa Gejala Psikotik (F32.2)
Menurut PPDGJ III, diagnosis Episode depresif berat tanpa gejala psikotik
(F32.2) memiliki kriteria
1
:
Semua 3 gejala utama depresi harus ada
Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan beberapa di
antaranya harus berintensitas berat.
Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psikomotor) yang
mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk
melaporkan banyak gejalanya secara rinci. Dalam hal demikian, penilaian
secara menyeluruh terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan.
Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurang-kurangnya dua
minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka
masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang
dari 2 minggu.
Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat terbatas.
Dari riwayat psikososial dan lingkungan (aksis IV), pasien memiliki
masalah ekonomi. Pasien juga mengalami kendala dalam melunasi seluruh
hutang-hutangnya sehingga ia sering melamunkan cara melunasinya, masa depan
anak dan istri-istrinya.
17

Dilihat dari penilaian fungsi secara global, gangguan yang dialami pasien
tergolong dalam skala GAF scale GAF 80-71, yaitu beberapa disabilitas gejala
sementara & dapat diatasi, disabilitas ringan dalam pekerjaan, penggunaan waktu
senggang.
Penderita ini dianjurkan untuk mendapat terapi psikofarmaka dengan
Kalxetin 2 x 10 mg yang mengandung fluoxetine yaitu obat antidepresi yang
menghambat re-uptake aminergic neurotransmitter dan menghambat
penghancuran oleh enzim monoamine oxidase sehingga terjadi peningkatan
jumlah aminergic neurotransmitter pada celah sinaps neuron tersebut yang dapat
meningkatkan aktivitas reseptor serotonin
2
.
Selain terapi psikofarmaka dilakukan psikoterapi berupa ventilasi
(memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan masalahnya) dan
konseling (meyakinkan pasien dapat mengatasi masalahnya). Penting juga
dilakukan sosioterai yang melibatkan peran keluarga pasien agar dapat memahami
keadaan pasien sekarang ini dan mampu mengerti kebutuhan pasien serta terus
dapat menjaga hubungan dengan pasien.

X. DIAGNOSA BANDING
Gangguan Campuran Anxietas dan Depresi (F41.2)

XI. RENCANA TERAPI
1. Psikofarmaka :
Fluoxatine 10 mg 1 0 1

2. Psikoterapi :
Ventilasi : Memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan
masalahnya dan meyakinkan pasien dapat mengatasi masalahnya.
Konseling : Memotivasi pasien agar selalu berpikir positif agar pasien
memahami kondisi dirinya dan memahami cara menghadapinya, serta
memotivasi pasien agar tetap minum obat secara teratur.

18

3. Sosioterapi
Memberikan pengertian kepada keluarga pasien agar dapat memahami
keadaan pasien sekarang ini dan mampu mengerti kebutuhan pasien serta
terus dapat menjaga hubungan dengan pasien.

XII. FOLLOW UP
Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta
efektivitas terapi dan efek samping dari obat.