Anda di halaman 1dari 29

HUKUM BISNIS

HUKUM PENYELESAIAN SENGKETA


Pertemuan 14










Disusun Oleh :
KELOMPOK 2
Bella Chintia L. 1206316881
Charity Olivia W. 1206316931
Devyana Indah F. 1206317032
Dewita Rahmayana 1206317045
Husna Aisyah 1206317373
Risty Rahmaniatami 1206317953


UNIVERSITAS INDONESIA
2014

PENYELESAIAN MELALUI PROSES LITIGASI

Berdasarkan penelusuran kami, tidak ditemukan definisi litigasi secara eksplisit di
peraturan perundang-undangan. Namun, Pasal 6 ayat (1) Undang-Undang Nomor 30 Tahun
1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa (UU Arbitrase dan APS)
berbunyi:
Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui
alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan
mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.
Dr. Frans Hendra Winarta, S.H., M.H. dalam bukunya Hukum Penyelesaian
Sengketa (hal. 1-2) mengatakan bahwa secara konvensional, penyelesaian sengketa dalam
dunia bisnis, seperti dalam perdagangan, perbankan, proyek pertambangan, minyak dan
gas, energi, infrastruktur, dan sebagainya dilakukan melalui proses litigasi.
Dalam proses litigasi menempatkan para pihak saling berlawanan satu sama lain, selain itu
penyelesaian sengketa secara litigasi merupakan sarana akhir (ultimum remidium) setelah
alternatif penyelesaian sengketa lain tidak membuahkan hasil.
Litigasi adalah sistem penyelesaian sengketa melalui lembaga peradilan. Sengketa
yang terjadi dan diperiksa melalui jalur litigasi akan diperiksa dan diputus oleh hakim.
Penyelesaian melalui Litigasi diatur dalam Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang
Kekuasaan Kehakiman, mengatur penyelasaian melalui peradilan umum, peradilan militer,
peradilan agama, peradilan tata usaha negara, dan peradilan khusus seperti peradilan anak,
peradilan niaga, peradilan pajak, peradilan penyelesaian hubungan industrialdan lainnya.
Melalui sistem ini tidak mungkin akan dicapai sebuah win-win solution (solusi yang
memperhatikan kedua belah pihak) karena hakim harus menjatuhkan putusan dimana salah
satu pihak akan menjadi pihak yang menang dan pihak lain menjadi pihak yang kalah.
Litigasi merupakan mekanisme penyelesaian sengketa melalui jalur pengadilan dengan
menggunakan pendekatan hukum dengan lembaga penyelesaian sebagai berikut :
1. Pengadilan umum
Pengadilan Negeri berwenang memeriksa sengketa bisnis, mempunyai karakteristik :
a. Prosesnya sangat formal
b. Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (hakim)
c. Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan
d. Sifat keputusan memaksa dan mengikat (Coercive and binding)
e. Orientasi ke pada fakta hukum (mencari pihak yang bersalah)
f. Persidangan bersifat terbuka

2. Pengadilan niaga
Pengadilan Niaga adalah pengadilan khusus yang berada di lingkungan pengadilan
umum yang mempunyai kompetensi untuk memeriksa dan memutuskan Permohonan
Pernyataan Pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) dan sengketa
HAKI. Pengadilan Niaga mempunyai karakteristik sebagai berikut :
a. Prosesnya sangat formal
b. Keputusan dibuat oleh pihak ketiga yang ditunjuk oleh negara (hakim)
c. Para pihak tidak terlibat dalam pembuatan keputusan
d. Sifat keputusan memaksa dan mengikat (coercive and binding)
e. Orientasi pada fakta hukum (mencari pihak yang salah)
f. Proses persidangan bersifat terbuka
g. Waktu singkat

Kebaikan dan kelemahan sistem litigasi
Kebaikan dari sistem ini adalah:
1. Ruang lingkup pemeriksaannya yang lebih luas (karena sistem peradilan di
Indonesia terbagi menjadi beberapa bagian yaitu peradilan umum, peradilan agama,
peradilan militer dan peradilan Tata Usaha Negara sehingga hampir semua jenis
sengketa dapat diperiksa melalui jalur ini)
2. Biaya yang relatif lebih murah (Salah satu asas peradilan Indonesia adalah
Sederhana, Cepat dan Murah)
Kelemahan dari sistem ini adalah:
1. Kurangnya kepastian hukum (karena terdapat hierarki pengadilan di Indonesia yaitu
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung dimana jika
Pengadilan Negeri memberikan putusan yang tidak memuaskan salah satu pihak,
pihak tersebut dapat melakukan upaya hukum banding ke Pengadilan Tinggi atau
kasasi ke Mahkamah Agung sehingga butuh waktu yang relatif lama agar bisa
berkekuatan hukum tetap)
2. Hakim yang awam (pada dasarnya hakim harus paham terhadap semua jenis
hukum. namun jika sengketa yang terjadi terjadi pada bidang yang tidak dikuasai
oleh hakim, maka hakim tersebut harus belajar lagi. Hal ini dikarenakan para pihak
tidak bisa memilih hakim yang akan memeriksa perkara. Tentunya hal ini akan
mempersulit penyusunan putusan yang adil sesuai dengan bidang sengketa. Hakim
juga tidak boleh menolak untuk memeriksa suatu perkara karena hukumnya tidak
ada atau tidak jelas. Jadi tidak boleh ada hakim yang menolak perkara. apalagi
hanya karena dia tidak menguasai bidang sengketa tersebut.)
Berdasarkan konsekuensi bahwa putusan hakim akan memenangkan salah satu
pihak dan mengalahkan pihak yang lain, maka berdasarkan hukum acara perdata di
Indonesia , hakim wajib memerintahkan para pihak untuk melaksanakan mediasi (nanti
akan dibahas lebih lanjut) untuk mendamaikan para pihak. Jika tidak dicapai perdamaian
maka pemeriksaan perkara akan dilanjutkan. Meskipun pemeriksaan perkara dilanjutkan
kesempatan untuk melakukan perdamaian bagi para pihak tetap terbuka (dan hakim harus
tetap memberikannya meskipun putusan telah disusun dan siap untuk dibacakan).
Jika para pihak sepakat untuk berdamai, hakim membuat akta perdamaian (acte van
daading) yang pada intinya berisi para pihak harus menaati akta perdamaian tersebut dan
tidak dapat mengajukan lagi perkara tersebut ke pengadilan. Jika perkara yang sama
tersebut tetap diajukan ke pengadilan maka perkara tersebut akan ditolak dengan alasan ne
bis in idem (perkara yang sama tidak boleh diperkarakan 2 kali) karena akta perdamaian
tersebut berkekuatan sama dengan putusan yang final dan mengikat (tidak dapat diajukan
upaya hukum).
Sebelum keluarnya Undang-undang Hubungan Industrial penyelesaian sengketa
perburuhan dalam perusahaan diatur didalam Undang-undang No.22 tahun 1957 melalui
peradilan P4D dan P4P. Untuk mengantisipasi penyelesaian dan penyaluran sengketa
Buruh dan Tenaga Kerja sejalan dengan tuntutan kemajuan zaman dibuat dan di undangkan
Undang-undang No.2 Tahun 2004 sebagai wadah peradilan Hubungan Industrial disamping
peradilan umum.
Dalam Pasal 56 Undang-undang No.2 Tahun 2004 mengatakan Pengadilan
Hubungan Industrial bertugas dan berwenang memeriksa dan memutuskan :
1. di tingkat pertama mengenai perselisihan hak
2. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan
3. di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja
4. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat pekerja/serikat
buruh dalam satu perusahaan.
Adapun susunan Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri terdiri
dari:
1. Hakim
2. Hakim ad Hoc
3. Panitera Muda, dan
4. Panitera Pengganti.
Untuk Pengadilan Kasasi di Mahkamah Agung terdiri dari :
1. Hakim Agung
2. Hakim ad Hoc pada Mahkamah Agung ; dan
3. Panitera
Syarat-syarat untuk dapat diangkat menjadi Hakim Ad Hoc pada Pengadilan
Hubungan Industrial dan Hakim Ad Hoc pada Mahkamah Agung RI harus mempunyai
syarat-syarat sebagai berikut :
1. warga negara Indonesia
2. bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
3. setia kepada Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945
4. berumur paling rendah 30 (tiga puluh) tahun
5. berbadan sehat sesuai dengan keterangan dokter
6. berwibawa, jujur, adil, dan berkelakuan tidak tercela
7. berpendidikan serendah-rendahnya Starata Satu (S-1) kecuali bagi Hakim Ad Hoc
pada Mahkamah Agung, syarat pendidikan Sarjana Hukum serta berpengalaman
dibidang hubungan industrial minimal 5 (lima) tahun.
Pengangkatan dan penunjukan Hakim Ad Hoc tersebut pad pengadilan Hubungan
Industrial berdasarkan SK. Presiden atas usul Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Sebelum memangku jabatan Hakim Ad Hoc wajib disumpah atau memberikan janji
menurut agama dan kepercayaannya masing-masing serta Hakim Ad Hoc tersebut tidak
boleh merangkap Jabatan sebagaimana dituangkan dalam Pasal 66 Undang-Undang No.2
Tahun 2004.
Hukum acara yang dipakai untuk mengadili sengketa perburuan tersebut adalah
Hukum Acara Perdata yang berlaku dilingkungan Pengadilan Umum, kecuali di atur secara
khusus oleh Undang-Undang No 2 Tahun 2004 serta menuggu keputusan Presiden untuk
menentukan Tata Cara pengangkatan Hakim Ad Hoc Ketenaga Kerjaan.
Sebelum Undang-Undang ini berlaku secara effektif didalam masyarakat dalam
penyelesaian pemutusan Hubungan Kerja masih memakai KEP/MEN/150 Tahun 2000 dan
Undang-Undang No.13 Tahun 2003, tentang Undang-Undang Ketenagakerjaan .
Penyelesaian Perselisihan Melalui Pengadilan Hubungan Industrial PHI bertugas
dan berwenang memeriksa dan memutus:
1. Tingkat pertama mengenai perselisihan hak;
2. Tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan;
3. Tingkat pertama mengenai perselisihan PHK;
4. Tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat pekerja/serikat
buruh dalam satu perusahaan.
Ketentuan Beracara dalam PHI tidak berbeda seperti Hukum Acara Perdata. Kecuali
hal-hal yang diatur secara khusus dalam UU No. 2 Tahun 2004 (Pasal 81 Pasal 115).
Putusan PHI mengenai Perselisihan Hak dan PHK dapat diajukan ke MA melalui
Upaya Hukum Permohonan Kasasi paling lama 14 hari setelah putusan dibacakan, atau
menerima pemberitahuan putusan.
Para pihak yang terlibat dalam dunia perusahaan ingin agar segala sesuatunya dapat
berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan. Akan tetapi, dalam praktik ada kalanya apa
yang telah disetujui oleh kedua belah pihak tidak dapat dilaksanakan karena salah satu
pihak mempunyai penafsiran yang berbeda dengan apa yang telah disetujui sebagaimana
yang tercantum dalam kontrak sehingga dapat menimbulkan perselisihan.
Apabila suatu sengketa terjadi dan diselesaikan melalui badan pengadilan, hakim
harus memutuskannya berdasarkan sumber hukum yang ada secara teori salah satu yang
dapat dijadikan rujukan sebagai sumber hukum adalah yurisprudensi. Selain untuk menjaga
agar tidak terjadi kesimpangsiuran putusan, yang berakibat pada ketidakpastian hukum bagi
pihak-pihak yang berperkara, yurisprudensi juga berguna untuk menyederhanakan
pertimbangan hukum dalam pengambilan putusan.
Sengketa yang diselesaikan melalui Pengadilan, ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkanoleh kedua belah pihak selain waktu dan biaya yang harus dikeluarkan
cukup banyak, juga identitas para pihak yang bersengketa akan diketahui oleh masyarakat.
Sebagaimana diketahui prinsip yang dianut oleh lembaga peradilan adalah pada asasnya
terbuka untuk umum. Masalah lainnya adalah bahwa penyelesaian sengketa melalui
pengadilan prosesnya cukup lama. Hal ini tiada lain karena proses pengadilan ada beberapa
tingkatan yang harus dilalui, yakn tingkat pertama di pengadilan negeri (PN); tingkat kedua
di pengadilan tinggi (PT) untuk tingkat banding, dan tingkat ketiga adalah mahkamah
agung (MA) sebagai tingkat kasasi yang merupakan instansi terakhir dalam hierarki
lembaga peradilan.
Sengketa terjadi jika salah satu pihak menghendaki pihak lain untuk berbuat atau
tidak berbuat sesuatu tetapi pihak lainnya menolak berlaku demikian. Penyelesaian ini
harus dilakukan menurut hukum atau berdasarkan kesepakatan awal di antara para pihak.
Salah satu penyelesaian sengketa dalam dunia ekonomi yaitu melalui melalui badan
pengadilan (litigasi). Litigasi dianggap sebagai yang paling tidak efisien oleh para pelaku
dunia ekonomi komersial dalam penyelesaian sengketa dibandingkan dengan non-litigasi,
berkaitan dengan waktu dan biaya yang dibutuhkan. Rendahnya kesadaran hukum juga ikut
mempengaruhi, di mana para pihak yang berperkara di pengadilan bukan untuk mencari
keadilan melainkan untuk memenangkan perkara. Beberapa faktor lain yang
mengakibatkan pengadilan bersikap tidak responsif, kurang tanggap dalammerespon
tanggapan umum dan kepentingan rakyat miskin (ordinary citizen). Hal yang palingutama
adalah kemampuan hakim yang sifatnya generalis (hanya menguasai bidang hukum secara
umum tanpa mengetahui secara detil mengenai suatu perkara).




Alternatif Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan

Pengertian autentik alternatif penyelesaian sengketa menurut UU Nomor 30 Tahun
1999 dinyatakan dalam Pasal 1 butir 10 adalah lembaga penyelesaian sengketa atau beda
pendapat melalui prosedur yang disepakati para pihak, yakni penyelesaian di luar
pengadilan dengan cara konsultasi, negosiasi, mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli.
1. Mediasi
Istilah mediasi disebut dalam Pasal 1 butir 10 namun indikasi rumusan tindakan
dan pengertiannya tidak disebutkan dalam Pasal 6, melainkan hanya disebutkan orangnya,
yaitu mediator disebut dalam Pasal 6 ayat (3). Blacks Law Dictionary merumuskan
mediasi sebagai : A Method of non binding dispute resolution involving a neutral third
party who tries to help the disputing parties reach a mutually agreeable solution . Dengan
demikian mediasi adalah proses penyelesaian sengketa dengan melibatkan pihak ketiga
sebagai penghubung (mediator) untuk mencapai kesepakatan penyelesaian di antara para
pihak atas sengketa yang terjadi.
Alasan Melakukan Mediasi
Para pihak sulit mencapai kesepakatan melalui negosiasi.
Para pihak tidak mungkin bertemu karena faktor lokasi tempat tinggal yang
berjauhan atau memang para pihak tidak mau bertemu dikarenakan hambatan-
hambatan psikologis.
Penyelesaian melalui mediasi tidak hanya dilakukan di luar pengadilan saja, akan
tetapi Mahkamah Agung berpendapat prosedur mediasi patut untuk ditempuh bagi
para pihak yang beracara di pengadilan. Langkah ini dilakukan pada saat sidang
pertama kali digelar.
Adapun pertimbangan dari Mahkamah Agung, mediasi merupakan salah satu solusi
dalam mengatasi menumpuknya perkara di pengadilan.
Proses ini dinilai lebih cepat dan murah, serta dapat memberikan akses kepada para
pihak yang bersengketa untuk memperoleh keadilan atau penyelesaian yang
memuaskan atas sengketa yang dihadapi.
Di samping itu institusionalisasi proses mediasi ke dalam ststem peradilan dapat
memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam penyelesaian
sengketa di samping proses pengadilan yang bersifat memutus (ajudikatif).
Unsur-unsur Mediasi
Sebuah proses penyelesaian sengketa berdasarkan perundingan.
Adanya pihak ketiga yang bersifat netral yang disebut sebagai mediator (penengah)
terlibat dan diterima oleh para pihak yang bersengketa dalam perundingan itu.
Mediator tersebut bertugas membantu para pihak yang bersengketa untuk mencari
penyelesaian atas masalah-masalah sengketa.
Mediator tidak mempunyai kewenangan membuat keputusan-keputusan selama
proses perundingan berlangsung.
Mempunyai tujuan untuk mencapai atau menghasilkan kesepakatan yang dapat
diterima pihak-pihak yang bersengketa guna mengakhiri sengketa.
Mediator harus independen dan netral serta mampu menciptakan suasana yang
kondusif. Sekalipun demikian ia tidak mempunyai kewenangan untuk memaksakan kepada
para pihak yang bersengketa agar segera mencapai kesepakatan. Artinya kesepakatan untuk
mengakhiri sengketa tetap berada pada kewenangan dan kehendak para pihak. Secara teknis
dalam menjalankan tugasnya, setelah ditunjuk para pihak, mediator bertemu dengan atau
mempertemukan para pihak untuk mengetahui duduk persoalan sengketa yang sebenarnya,
selanjutnya ia dapat saja membuat catatan-catatan tentang fakta-fakta yang disampaikan
para pihak sambil memberikan pendapat hukumnya tentang kelemahan dan kekuatan
kedudukan hukum masing-masing pihak. Atas dasar itu kemudian membuat rumusan
usulan tentang penyelesaian sengketanya agar dapat dijadikan pertimbangan para pihak ;
apakah mereka akan menyetujuinya atau tidak. Tindakan-tindakan mediator tersebut dapat
dilakukan dalam suatu pertemuan yang dihadiri para pihak maupun dilakukan sendiri
berdasarkan informasi atau fakta-fakta yang diterima dari para pihak dalam kesempatan
yang terpisah.
Berdasar ketentuan Pasal 6 ayat (4) dapat dikatakan bahwa Undang-Undang
membedakan mediator ke dalam:
a) Mediator yang ditunjuk secara bersama oleh para pihak ; dan
b) Mediator yang ditunjuk oleh lembaga arbitrase atau lembaga alternatif
penyelesaian yang ditunjuk para pihak. Pengertian lembaga arbitrase sebagai
dimaksud ketentuan diatas tentunya adalah lembaga arbitase permanen, sebab
arbitrase adhoc hanya diadakan untuk menyelesaikan sengketa bukan untuk
memberikan pendapat. Dengan demikian lembaga arbitrase disamping
berfungsi sebagai lembaga ajudikasi dan pemberi pendapat hukum sebagaimana
telah dikemukakan diatas, juga berfungsi sebagai penyedia mediator.

Adapun tentang lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang permanen
sebagaimana dimaksud ketentuan diatas, keberadaannya masih belum dikenal. Dengan
demikian suatu ketika dapat saja organisasi-organisasi kemasyarakatan tertentu yang
didirikan dengan maksud untuk mengembangkan suatu profesi membentuk lembaga
alternatif penyelesaian sengketa untuk bertindak sebagai penyedia mediator bagi sengketa-
sengketa antar stake holdernya, misalnya saja organisasi Lembaga Pengembangan Jasa
Konstruksi (LPJK) yang keanggotaannya meliputi unsur-unsur wakil perusahaan jasa
konstruksi, perwakilan asosiasi profesi jasa konstruksi, para pakar dan perguruan tinggi
yang berkaitan dengan bidang jasa konstruksi dan instansi Pemerintah yang terkait
membentuk lembaga alternatif penyelesaian sengketa yang permanen. Catatan lain
terhadap rumusan Pasal 6 ayat (3) dan (4) UU Nomor 30 Tahun 1999 adalah tentang
jumlah mediator yang hanya seorang.

Berkaitan dengan lembaga mediasi Mahkamah Agung dengan Surat Edaran
Nomor 1 Tahun 2002 tanggal 39 Januari 2002 telah menerbitkan Surat Edaran tentang
Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Menerapkan Lembaga Dading. Dalam Surat
Edaran tersebut dinyatakan bahwa dalam perkara perdata di pengadilan negeri, sebelum
majelis hakim memeriksa pokok perkaranya hendaknya hakim mengupayakan perdamaian
melalui mediasi dengan menunjuk hakim lain yang bukan anggota mejelis untuk menjadi
mediator guna membantu para pihak menyelesaikan sengketanya dengan damai. Lembaga
ini diadakan guna mengurangi jumlah beban perkara pada pengadilan diatasnya. Sebab bila
perkara dapat diselesaikan dengan damai di peradilan tingkat pertama tentunya tidak akan
ada lagi upaya hukum para pihak untuk meninjau keputusan tersebut.
Mediasi di Pengadilan
Peraturan Mahkamah Agung (Perma) Nomor 2 Tahun 2003 tentang Prosedur
Mediasi di Pengadilan memberikan definisi sebagai:
penyelesaian sengketa melalui proses perundingan para pihak dengan dibantu oleh
mediator.
Mediasi dilaksanakan melalui suatu perundingan yang melibatkan pihak ketiga
yang bersikap netral (non intervensi) dan tidak berpihak (impartial) kepada pihak-
pihak yang bersengketa serta diterima kehadirannya oleh pihak-pihak yang
bersengketa.
Pihak ketiga tersebut adalah mediator atau penengah yang tugasnya hanya
membantu pihak-pihak yang bersengketa dalam menyelesaikan masalahnya dan
tidak mempunyai kewenangan untuk mengambil keputusan.
Dapat dikatakan seorang mediator hanya bertindak sebagai fasilitator saja.
Melalui mediasi diharapkan dicapai titik temu penyelesaian masalah atau sengketa
yang dihadapi para pihak, yang selanjutnya dituangkan sebagai kesepakatan
bersama.
Pengambilan keputusan tidak berada di tangan mediator, tetapi berada di tangan
para pihak yang bersengketa.
Keuntungan Mediasi
Para pihak yang bersengketa dapat tetap berhubungan baik. Hal ini sangat baik bagi
hubungan bisnis karena pada dasarnya bertumpu pada good relationship dan mutual trust
Lebih murah dan cepat
Bersifat rahasia (confidential), sengketa yang timbul tidak sampai diketahui oleh
pihak luar, penting untuk menjaga reputasi pengusaha karena umumnya tabu untuk
terlibat sengketa
Hasil-hasil memuaskan semua pihak
Kesepakatan-kesepakatan lebih komprehensif
Fungsi Mediator
Sebagai katalisator (mendorong suasana yang kondusif).
Sebagai pendidik (memahami kehendak, aspirasi, prosedur kerja, dan kendala usaha
para pihak).
Sebagai penerjemah (harus berusaha menyampaikan dan merumuskan usulan pihak
yang satu kepada pihak yang lain).
Sebagai nara sumber (mendaya gunakan informasi).
Proses Mediasi
Tahap pertama: menciptakan forum.
Rapat gabungan.
Pernyataan pembukaan oleh mediator, dalam hal ini yang dilakukan adalah:
Mendidik para pihak;
Menentukan pokok-pokok aturan main;
Membina hubungan dan kepercayaan.
Pernyataan para pihak, dalam hal ini yang dilakukan adalah:
o dengar pendapat (hearing);
o menyampaikan dan klarifikasi informasi;
o cara-cara interaksi.
Tahap kedua: mengumpulkan dan membagi-bagi informasi.
Dalam tahap ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan mengadakan rapat-
rapat terpisah yang bertujuan untuk:
Mengembangkan informasi selanjutnya;
Mengetahui lebih dalam keinginan para pihak ;
Membantu para pihak untuk dapat mengetahui kepentingannya ;
Mendidik para pihak tentang cara tawar menawar penyelesaian masalah.
Tahap ketiga: pemecahan masalah.
Dalam tahap ketiga yang dilakukan mediator mengadakan rapat bersama atau
lanjutan rapat terpisah, dengan tujuan untuk:
Menetapkan agenda.
Kegiatan pemecahan masalah.
Menfasilitasi kerja sama.
Identifikasi dan klarifikasi isu dan masalah.
Mengembangkan alternatif dan pilihan-pilihan.
Memperkenalkan pilihan-pilihan tersebut.
Membantu para pihak untuk mengajukan, menilai dan memprioritaskan
kepentingan-kepentingannya.
Tahap keempat: pengambilan keputusan.
Dalam tahap ini, kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
Rapat-rapat bersama.
Melokalisasikan pemecahan masalah dan mengevaluasi pemecahan masalah.
Membantu para pihak untuk memperkecil perbedaan-perbedaan.
Mengkonfirmasi dan klarifikasi kontrak.
Membantu para pihak untuk memperbandingkan proposal penyelesaian
masalah dengan alternatif di luar kontrak.
Mendorong para pihak untuk menghasilkan dan menerima pemecahan masalah.
Mengusahakan formula pemecahan masalah berdasarkan win-win solution
dan tidak ada satu pihakpun yang merasa kehilangan muka.
Membantu para pihak untuk mendapatkan pilihannya.
Membantu para pihak untuk mengingat kembali kontraknya.
Untuk mediasi, di sebutkan dalam Pasal 6 ayat (4) yang mediatornya ditunjuk para
pihak, diberi tenggat waktu 14 hari dimana harus sudah diputuskan apakah konsultasi
menghasilkan kesepakatan para pihak. Tidak sama dengan tenggat waktu dalam proses
negosiasi yang kesulitan dalam menentukan saat terhitungnya, maka tenggat waktu untuk
proses konsultasi dan mediasi dapat ditafsirkan terhitung sejak adanya kesepakatan tertulis
tentang penunjukan pihak ketiga sebagai konsultan atau mediator. Adapun untuk mediasi
yang mediatornya ditunjuk lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa
sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (5) ada dua tenggat waktu yaitu tenggat waktu yang
menentukan saat dimulainya proses mediasi yaitu tujuh hari setelah penunjukkan mediator
dan tenggat waktu pelaksanaan proses mediasi yang tidak boleh lebih dari 30 (tiga puluh)
hari sebagaimana diatur dalam Pasal 6 ayat (6).
JG Merrils menyatakan perbedaan antara konsiliasi dengan mediasi adalah dalam
mediasi umumnya usulan-usulan penyelesaian lebih bersifat informal dan fakta-fakta yang
diperoleh mediator terbatas pada informasi para pihak saja, sedangkan pada konsiliasi
fakta-fakta yang diperoleh berdasarkan penyelidikannya sendiri, bahkan John Collier dan
Vaughan Lowe berpendapat bahwa konsiliasi merupakan kombinasi yang di dalamnya
terdapat karakter inquiry (penyelidikan) dan mediasi. Walaupun kemudian JG Merrils
menyatakan bahwa dalam praktek perbedaan antara mediasi dan konsultasi sering menjadi
kabur

Konsiliasi

Ditinjau dari konteks hukum internasional publik, sengketa dapat didefinisikan
sebagai ketidaksepakatan salah satu subyek mengenai sebuah fakta, hukum, atau kebijakan
yang kemudian dibantah oleh pihak lain atau adanya ketidaksepakatan mengenai masalah
hukum atau fakta-fakta atau konflik mengenai penafsiran atau kepentingan antara 2 bangsa
yang berbeda.
Untuk mencegah penggunaan kekerasan oleh negara dalam suatu persengketaan
dengan negara lain perlu ditempuh suatu penyelesaian secara damai. Usaha ini mutlak
diperlukan sebelum perkara itu mengarah pada suatu pelanggaran terhadap perdamaian.
Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa memberikan kewajiban kepada negara anggotanya
bahkan kepada negara-negara lainnya yang bukan anggota PBB untuk menyelesaikan setiap
persengketaan internasional secara damai sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan
perdamaian keamanan internasional serta keadilan.
Konsiliasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa internasional diluar
pengadilan yang berarti bahwa, proses penyelesaian sengketa tersebut dilakukan secara
damai apabila para pihak yang bersengketa telah sepakat untuk menemukan solusi yang
bersahabat. Selain dengan cara konsiliasi, ada beberapa metode penyelesaian sengketa
internasional secara damai lainnya seperti, mediasi, arbitrase, negosiasi, penyelesaian
judicial, jasa-jasa baik, penyelidikan dan penyelesaian di bawah naungan organisasi PBB.

Penyelesaian sengketa melalui cara konsiliasi menggunakan intervensi pihak ketiga.
Pihak ketiga yang melakukan intervensi ini biasanya adalah negara, namun bisa juga
sebuah komisi yang dibentuk oleh para pihak. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh para
pihak dapat saja terlembaga atau bersifat ad hoc, yang kemudian memberikan persyaratan
penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Fungsi komisi konsiliasi adalah untuk
menyelidiki sengketa dan batas penyelesaian yang mungkin, memberikan informasi dan
nasehat tentang pokok masalah posisi pihak-pihak dan untuk menyarankan suatu
penyelesaian yang bertalian dengan apa yang mereka terima, bukan apa yang
mereka tuntut.
1. APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN KONSILIASI?
Konsiliasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian sengketa internasional diluar
pengadilan yang berarti bahwa, proses penyelesaian sengketa tersebut dilakukan secara
damai apabila para pihak yang bersengketa telah sepakat untuk menemukan solusi yang
bersahabat. Selain dengan cara konsiliasi, ada beberapa metode penyelesaian sengketa
internasional secara damai lainnya seperti, mediasi, arbitrase, negosiasi, penyelesaian
judicial, jasa-jasa baik, penyelidikan dan penyelesaian di bawah naungan organisasi PBB.
Konsiliasi (Conciliation) menurut the Institute of International Law melalui the
Regulations the Procedur of International Conciliation yang diadopsi pada tahun 1961
dalam Pasal 1 disebutkan sebagai suatu metode penyelesaian pertikaian bersifat
internasional dalam suatu komisi yang dibentuk oleh pihak-pihak, baik sifatnya permanen
atau sementara berkaitan dengan proses penyelesaian pertikaian.
Istilah konsiliasi (conciliation) mempunyai arti yang luas dan sempit. Pengertian
luas konsiliasi mencakup berbagai ragam metode di mana suatu sengketa diselesaikan
secara damai dengan bantuan negara-negara lain atau badan-badan penyelidik dan komite-
komite penasehat yang tidak berpihak. Pengertian sempit, konsiliasi berarti penyerahan
suatu sengketa kepada sebuah komite untuk membuat laporan beserta usul-usul kepada para
pihak bagi penyelesaian sengketa tersebut.
Sengketa adalah hal yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat, yang dapat
terjadi saat dua orang atau lebih berinteraksi pada suatu peristiwa/ situasi dan mereka
memiliki persepsi, kepentingan, dan keinginan yang berbeda terhadap peristiwa/situasi
tersebut.

Konsiliasi sebagai suatu cara untuk menyelesaikan sengketa internasional mengenai
keadaan apapun dimana suatu Komisi yang dibentuk oleh pihak-pihak, baik yang bersifat
tetap atau ad hoc untuk menangani suatu sengketa berada pada pemeriksaan yang tidak
memihak atas sengketa tersebut dan berusaha untuk menentukan batas penyelesaian yang
dapat diterima oleh pihak-pihak, atau memberi pihak-pihak pandangan
untuk menyelesaikannya seperti bantuan yang mereka pinta.
Konsiliasi merupakan kombinasi antara penyelidikan (enquiry) dan mediasi
(mediation). Pada prakteknya, proses penyelesaian sengketa melalui konsiliasi mempunyai
kemiripan dengan mediasi. Pembedaan yang dapat diketahui dari kedua cara ini adalah
konsiliasi memiliki hukum acara yang lebih formal jika dibandingkan dengan mediasi.
Karena dalam konsiliasi ada beberapa tahap yang biasanya harus dilalui, yaitu penyerahan
sengketa kepada komisi konsiliasi, kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan
para pihak, dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut
komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak disertai dengan kesimpulan
dan usulan penyelesaian sengketa.1[3]
Perbedaan diantaranya yaitu konsiliator memiliki peran intervensi yang lebih besar
daripada mediator. Dalam konsiliasi pihak ketiga (konsiliator) secara aktif memberikan
nasihat atau pendapatnya untuk membantu para pihak menyelesaikan sengketa, sehingga
para pihak memiliki kebebasan untuk memutuskan atau menolak syarat-syarat penyelesaian
sengketa yang diusulkan. Sedangkan mediator hanya mempunyai kewenangan untuk
mendengarkan, membujuk dan memberikan inspirasi bagi para pihak. Mediator tidak boleh
memberikan opini atau nasihat atas suatu fakta atau masalah (kecuali diminta oleh para
pihak). Jadi konsiliasi merupakan proses dari suatu penyelidikan tentang fakta-fakta dimana
para pihak dapat menerima atau menolak usulan rekomendasi resmi yang telah dirumuskan
oleh badan independen.



Perjanjian pertama untuk mengatur konsiliasi diadakan antara Swedia dan Chili (1920).
Tahun 1975 ditandai dengan dua perkembangan penting. Pertama suatu perjanjian antara
Prancis Swiss mendefinisan fungsi komisi konsiliasi pe r ma ne n yaitu tugas komisi
konsiliasi permanen ialah untuk menjelaskan masalah dalam sengketa, dengan
mengumpulkan semua keterangnan yang berguna melalui penyelidikan atau dengan cara
lain,da n be r us a ha unt uk membawa pihak-pihak pada persetujuan. Komisi ini, setelah
mempelajari kasus itu, dapat mendekatkan pada pihak-pihak batas penyelesaian yang
kelihatannya sesuai dan menetapkan batas waktu kapan mereka harus membuat keputusan.
Pada akhir pemeriksaannya komisi konsiliasi akan membuat suatu laporan yang
menyatakan bahwa pihak-pihak harus mencapai persetujuan da n jika perlu, batas
persetujuan, atau bahwa terbukti tidak mungkin untuk melakukan penyelesaian.
Pemeriksaan komisi, kecuali jika pihak-pihak tidak setuju, harus diakhiri dalam waktu
enam bulan terhitung sejak hari diserahkannya sengketa itu pada komisitersebut. Periode
antara tahun 1925 dan Perang Dunia Kedua konsiliasi berkembang luas dan hampir dibuat
200 perjanjian pada tahun 1940. Sebagian 5 besar berdasarkan pada perjanjian antara
Prancis Swiss tahun 1925.

2. KAPAN PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL DILAKUKAN
DENGAN CARA KONSILIASI ?
Proses penyelesaian sengketa yang sudah dikenal sejak lama adalah melalui proses
litigasi di pengadilan. Seiring dengan perkembangan zaman, proses penyelesaian sengketa
di luar pengadilan menjadi alternatif dalam menyelesaikan sengketa. Penyelesaian sengketa
di luar pengadilan yang bersifat tertutup untuk umum dan proses beracara lebih cepat dan
efisien menjadikan penyelesaian sengketa di luar pengadilan lebih banyak diminati dalam
menyelesaikan sengketa. Salah satunya ialah dengan cara konsiliasi.
Konsiliasi sebagai salah satu bentuk penyelesaian sengketa di luar pengadilan (atau
yang sering disebut sebagai penyelesaian sengketa secara damai) lazimnya diadakan
berhubungan dengan jasa baik atau perantaraan. Penyelesaian sengketa melalui cara
konsiliasi menggunakan intervensi pihak ketiga,yang mana pihak ketiga memberikan jasa-
jasanya untuk mempertemukan pihak-pihak yang bersengketa dan menyarankan
penyelesaian secara damai. Pihak ketiga mempunyai peranan yang lebih aktif dan ikut serta
dalam perundingan-perundingan dan memimpin pihak-pihak yang bersengketa sedemikian
rupa sehingga ditemukan penyelesaian secara damai, sekalipun saran-saran perantara tidak
mengikat.
Pihak ketiga yang melakukan intervensi ini biasanya adalah negara, namun bisa
juga sebuah komisi yang dibentuk oleh para pihak. Komisi konsiliasi yang dibentuk oleh
para pihak dapat saja terlembaga atau bersifat ad hoc, yang kemudian memberikan
persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Konsiliasi memiliki hukum acara
yang lebih formal jika dibandingkan dengan mediasi. Karena dalam konsiliasi ada beberapa
tahap yang biasanya harus dilalui, yaitu penyerahan sengketa kepada komisi konsiliasi,
kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan para pihak, dan berdasarkan fakta-
fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut komisi konsiliasi akan
menyerahkan laporan kepada para pihak disertai dengan kesimpulan dan usulan
penyelesaian sengketa.
Proses konsiliasi pada umumnya diberikan kepada sebuah komisi yang terdiri dari
beberapa orang anggota, tapi terdapat juga yang hanya dilakukan oleh seorang konsiliator.
Komisi-komisi Konsiliasi diatur dalam Konvensi-konvensi the Hague 1899 dan 1907 untuk
Penyelesaian Damai Sengketa-Sengketa Internasional. Komisi tersebut dapat dibentuk
melalui perjanjian khusus antara para pihak dan tugasnya harus menyelidiki serta
melaporkan tentang situasi fakta dengan ketentuan bahwa isi laporan itu bagaimanapun
tidak mengikat para pihak dalam sengketa. Ketentuan-ketentuan yang actual dalam
konvensu-konvensi itu menghindari kata-kata yang dapat dapat dianggap mewajibkan para
pihak untuk menerima suatu laporan Komisi.2[5] Laporan dari komisi konsiliasi hanya
sebagai proposal atau permintaan dan bukan merupakan konstitusi yang sifatnya mengikat.
Konsiliasi terbukti paling berguna untuk sengketa-sengketa mengenai hukum, tapi
para pihak menginginkan kompromi yang sama. Sengketa jenis ini ialah sengketa antara
Italian Republic dan Holy See, konsiliasi akan muncul untuk menawarkan suatu alternatif
yang jelas. Pertama, cara konsiliasi itu diatur melalui dialog dengan dan antara pihak-pihak
tidak terdapat resiko konsiliasi yang memberikan akibat yang sangat mengejutkan pihak-
pihak, seperti yang kadang terjadi dalam acara pemeriksaan hukum. Kedua, proposal
komisi tidak mengikat dan jika tidak dapat diterima , boleh di tolak. Komisi konsiliasi pada
daerah landas kontinen antara Islandia dan Jan Mayen 1981, komisi ini telah membuat
rekomendasi tertentu untuk bagian batas daerah khusus kedua belah pihak. Dalam
praktek konsiliasi yang umum, cukup mendapat tempat sederhana di antara prosedur yang
terdapat dalam negara, dan kasus Jan Mayen kebetulan merupakan peringatan akan
nilainya. Seperti penyelidikan, proses yang mengembangkan konsiliasi dapat diterima
dalam semua kebutuhan dan memperlihatkan kelebihan yang berasal dari struktur
keterlibatan pihak luar dalam menyelesaikan sengketa internasional.

3. BAGAIMANAKAH CARA PENYELESAIAN MASALAH DENGAN CARA
KONSILIASI?
Konsiliasi merupakan suatu cara penyelesaian sengketa oleh suatu organ yang
dibentuk sebelumnya atau dibentuk kemudian atas kesepakatan para pihak yang
bersengketa. Organ yang dibentuk tersebut mengajukan usul-usul penyelesaian kepada para
pihak yang bersengketa. Rekomendasi yang diberikan oleh organ tersebut tidak bersifat
mengikat. Organ tersebut disebut dengan komisi konsiliasi.



Fungsi komisi konsiliasi adalah untuk menyelidiki sengketa dan batas penyelesaian
yang mungkin. Fungsi komisi konsiliasi adalah memberikan informasi dan nasehat tentang
pokok masalah posisi pihak-pihak dan untuk menyarankan suatu penyelesaian yang
bertalian dengan apa yang mereka terima, bukan apa yang mereka tuntut. Karena proposal
komisi konsiliasi dapat diterima atau ditolak, praktek yang umum untuk komisi itu adalah
memberikan pihak-pihak jangka waktu tertentu selama beberapa bulan guna
memperlihatkan tanggapan mereka.
Prosedur konsiliasi sangat bermanfaat dan sangat penting, karena dalam
pelaksanaan penyelesaian sengketa melalui konsiliasi ada beberapa tahap yang harus
dilalui, yaitu :
penyerahan sengketa kepada komisi konsiliasi,
kemudian komisi akan mendengarkan keterangan lisan para pihak,
dan berdasarkan fakta-fakta yang diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut
komisi konsiliasi akan menyerahkan laporan kepada para pihak disertai dengan
kesimpulan dan usulan penyelesaian sengketa.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa konsiliasi merupakan kombinasi
antara penyelidikan (enquiry) dan mediasi (mediation). Salah satu penyebab munculnya
sengketa antar negara adalah karena adanya ketidaksepakatan para pihak mengenai fakta.
Untuk menyelesaikan sengketa ini, akan bergantung pada penguraian fakta-fakta para pihak
yang tidak disepakati. Yang mana untuk dapat mengetahui kebenaran fakta-fakta yang
diberikan oleh para pihak secara lisan tersebut komisi konsiliasi akan melakukan
penyelidikan. Tujuan dari suatu penyelidikan, tanpa membuat rekomendasi-rekomendasi
yang spesifik, adalah untuk menetapkan fakta, yang mungkin dengan cara demikian
memperlancar penyelesaian sengketa yang dipermasalahkan.
Sama halnya dengan mediasi, pihak-pihak yang melakukan konsoliasi bersifat aktif
dan ikut serta dalam negosiasi-negosiasi demi tercapainya penyelesaian terhadap sengketa
tersebut, melibatkan pihak ketiga (third party) yang dipilih oleh para pihak yang
bersengketa. Pihak ketiga dapat berupa individu atau kelompok (individual or group),
negara atau kelompok negara atau organisasi internasional. Dalam mediasi, negara ketiga
bukan hanya sekedar mengusahakan agar para pihak yang bersengketa saling bertemu,
tetapi juga mengusahakan dasar-dasar perundingan dan ikut aktif dalam perundingan,
Setelah dapat menyimpulkan duduk perkara yang dipersengketakan oleh masing-
masing pihak, komisi konsiliasi kemudian memberikan persyaratan penyelesaian yang
diterima oleh para pihak. . Namun keputusan yang diberikan oleh komisi konsiliasi ini tidak
mengikat para pihak. Para pihak memiliki kebebasan untuk memutuskan apakah akan
menerima atau menolak syarat-syarat panyelesaian yang diusulkan oleh komisi konsiliasi.
Jika proposal komisi diterima komisi itu membuat proces-verba (persetujuan) yang
mencatat fakta konsiliasi dan menentukan batas penyelesaian.Jika batas penyelesaian yang
diusulkan ditolak, maka konsiliasi itu gagal dan para pihak tidak mempunyai kewajiban
lagi.3[8]
Contoh dari konsiliasi adalah pada sengketa antara Thailand dan Perancis, kedua
belah pihak sepakat untuk membentuk Komisi Konsiliasi. Dalam kasus ini Thailand selalu
menuntut sebagian dari wilayah Laos dan Kamboja yang terletak di bagian Timur tapal
batasnya. Karena waktu itu Laos dan Kamboja adalah protektorat Perancis maka sengketa
ini menyangkut antara Thailand dan Perancis.

ARBITRASE
Pengertian
Menurut Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa, Pasal 1 ayat (1 arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa
perdata diluar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat



secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa.

Objek Arbitrase
Objek perjanjian arbitrase (sengketa yang akan diselesaikan di luar pengadilan
melalui lembaga arbitrase dan atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa lainnya)
menurut Pasal 5 ayat 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 (UU Arbitrase) hanyalah
sengketa di bidang perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan
perundang-undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa.
Adapun kegiatan dalam bidang perdagangan itu antara lain: perniagaan, perbankan,
keuangan, penanaman modal, industri dan hak milik intelektual. Sementara itu Pasal 5 (2)
UU Arbitrase memberikan perumusan negatif bahwa sengketa-sengketa yang dianggap
tidak dapat diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang menurut peraturan
perundang-undangan tidak dapat diadakan perdamaian sebagaimana diatur dalam KUH
Perdata Buku III bab kedelapan belas Pasal 1851 s/d 1854.

Hal-hal Prinsip dalam Arbitrase
1. Penyelesaian sengketa dilakukan diluar peradilan
2. Keinginan untuk menyelesaikan sengketa diluar peradilan harus berdasarkan atas
kesepakatan tertulis yang dibuat oleh pihak yang bersengketa.
3. Sengketa yang dapat diselesaikan melalui arbitrase hanyalah sengketa dalam bidang
perdagangan dan mengenai hak yang menurut hukum dan peraturan perundang-
undangan dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersangkutan.
4. Para pihak menunjuk arbiter/wasit di luar pejabat peradilan seperti hakim, jaksa,
panitera tidak dapat diangkat sebagai arbiter.
5. Pemeriksaan sengketa dilaksanakan secara tertutup. Pihak yang bersengketa
mempunyai hak yang sama dalam mengemukakan pendapat masing-masing.
6. Penyelesaian sengketa melalui arbitrase dapat dilakukan menggunakan lembaga
arbitrase nasional atau internasional.
7. Arbiter/majelis arbiter mengambil putusan berdasarkan ketentuan hukum atau
berdasarkan keadilan dan kepatutan.
8. Putusan diucapkan dalam waktu paling lama 30 hari sejak pemeriksaan ditutup
Putusan arbitrase bersifat final and binding artinya final dan mempunyai kekuatan
hukum tetap serta mengikat.
9. Putusan arbitrase diserahkan dan didaftarkan oleh arbiter kepada panitera
pengadilan Negeri, dan dalam hal para pihak tidak melaksanakan putusan arbitrase
secara sukarela, maka putusan dilaksanakan berdasarkan perintah Ketua PN, atas
permohonan salah satu pihak yang bersengketa. Yang berwenang menangani
masalah pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional adalah
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Klausula Arbitrase
Dalam Pasal 1 angka 3 UU nomor 30/1999 ditegaskan bahwa Perjanjian arbitrase
adalah suatu kesepakatan berupa klausula arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian
tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa atau suatu perjanjian sutau
perjanjian arbitrase tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.

Jenis Arbitrase
1. Arbitrase Ad Hoc (Arbitrase Volunteer)
Arbitrase Ad-hoc dilaksanakan berdasarkan aturan-aturan yang sengaja dibentuk
untuk tujuan arbitrase, misalnya UU No.30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa atau UNCITRAL Arbitarion Rules. Pada
umumnya arbitrase ad-hoc direntukan berdasarkan perjanjian yang menyebutkan
penunjukan majelis arbitrase serta prosedur pelaksanaan yang disepakati oleh para
pihak. Penggunaan arbitrase Ad-hoc perlu disebutkan dalam sebuah klausul
arbitrase.
2. Arbitrase Institusional
Arbitrase institusial adalah suatu lembaga permanen yang dikelola oleh berbagai
badan arbitrase berdasarkan aturan-aturan yang mereka tentukan sendiri. Saat ini
dikenal berbagai aturan arbitrase yang dikeluarkan oleh badan-badan arbitrase
seperti Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI), atau yang internasional seperti
The Rules of Arbitration dari The International Chamber of Commerce (ICC) di
Paris, The Arbitration Rules dari The International Centre for Settlement of
Investment Disputes (ICSID) di Washington. Badan-badan tersebut mempunyai
peraturan dan sistem arbitrase sendiri-sendiri.
BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) memberi standar klausul arbitrase sebagai
berikut:
"Semua sengketa yang timbul dari perjanjianini, akan diselesaikan dan diputus oleh
Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan
prosedur arbitrase BANI,yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang
bersengketa,sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir".
Standar klausul arbitrase UNCITRAL (United Nation Comission ofInternational Trade
Law) adalah sebagai berikut:
"Setiap sengketa, pertentangan atau tuntutan yang terjadi atau sehubungan dengan
perjanjian ini, atau wan prestasi, pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian akan
diselesaikan melalui arbitrase sesuai dengan aturan-aturan UNCITRAL.
Menurut Priyatna Abdurrasyid, Ketua BANI, yang diperiksa pertama kali adalah
klausul arbitrase. Artinya ada atau tidaknya, sah atau tidaknya klausul arbitrase, akan
menentukan apakah suatu sengketa akan diselesaikan lewat jalur arbitrase. Priyatna
menjelaskan bahwa bisa saja klausul atau perjanjian arbitrase dibuat setelah sengketa
timbul.

Keunggulan dan Kelemahan Arbitrase
Keunggulan arbitrase dapat disimpulkan melalui Penjelasan Umum Undang
Undang Nomor 30 tahun 1999 dapat terbaca beberapa keunggulan penyelesaian sengketa
melalui arbitrase dibandingkan dengan pranata peradilan. Keunggulan itu adalah :
kerahasiaan sengketa para pihak terjamin ;
keterlambatan yang diakibatkan karena hal prosedural dan administratif dapat
dihindari ;
para pihak dapat memilih arbiter yang berpengalaman, memiliki latar belakang yang
cukup mengenai masalah yang disengketakan, serta jujur dan adil ;
para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk penyelesaian masalahnya ;
para pihak dapat memilih tempat penyelenggaraan arbitrase ;
putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak melalui prosedur
sederhana ataupun dapat langsung dilaksanakan.
Para ahli juga mengemukakan pendapatnya mengenai keunggulan arbitrase.
Menurut Prof. Subekti bagi dunia perdagangan atau bisnis, penyelesaian sengketa lewat
arbitrase atau perwasitan, mempunyai beberapa keuntungan yaitu bahwa dapat dilakukan
dengan cepat, oleh para ahli, dan secara rahasia. Sementara HMN Purwosutjipto
mengemukakan arti pentingnya peradilan wasit (arbitrase) adalah:
1. Penyelesaian sengketa dapat dilakasanakan dengan cepat.
2. Para wasit terdiri dari orang-orang ahli dalam bidang yang diper-sengketakan, yang
diharapkan mampu membuat putusan yang memuaskan para pihak.
3. Putusan akan lebih sesuai dengan perasaan keadilan para pihak.
4. Putusan peradilan wasit dirahasiakan, sehingga umum tidak mengetahui tentang
kelemahan-kelemahan perushaan yang bersangkutan. Sifat rahasia pada putusan
perwasitan inilah yang dikehendaki oleh para pengusaha.
Disamping keunggulan arbitrase seperti tersebut diatas, arbitrase juga memiliki
kelemahan arbitrase. Dari praktek yang berjalan di Indonesia, kelemahan arbitrase adalah
masih sulitnya upaya eksekusi dari suatu putusan arbitrase, padahal pengaturan untuk
eksekusi putusan arbitrase nasional maupun internasional sudah cukup jelas.

Keterkaitan antara Arbitrase dengan Pengadilan
A. Hubungan Arbitrase dan Pengadilan
Lembaga arbitrase masih memiliki ketergantungan pada pengadilan, misalnya
dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase. Ada keharusan untuk mendaftarkan putusan
arbitrase di pengadilan negeri. Hal ini menunjukkan bahwa lembaga arbitrase tidak
mempunyai upaya pemaksa terhadap para pihak untuk menaati putusannya.
Peranan pengadilan dalam penyelenggaraan arbitrase berdasar UU Arbitrase antara
lain mengenai penunjukkan arbiter atau majelis arbiter dalam hal para pihak tidak ada
kesepakatan (pasal 14 (3)) dan dalam hal pelaksanaan putusan arbitrase nasional maupun
nasional yang harus dilakukan melalui mekanisme sistem peradilan yaitu pendafataran
putusan tersebut dengan menyerahkan salinan autentik putusan. Bagi arbitrase internasional
mengembil tempat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
B. Pelaksanaan Putusan Arbitrase
1. Putusan Arbitrase Nasional
Pelaksanaan putusan arbitrase nasional diatur dalam Pasal 59-64 UU No.30 Tahun
1999. Pada dasarnya para pihak harus melaksanakan putusan secara sukarela. Agar putusan
arbitrase dapat dipaksakan pelaksanaanya, putusan tersebut harus diserahkan dan
didaftarkan pada kepaniteraan pengadilan negeri, dengan mendaftarkan dan menyerahkan
lembar asli atau salinan autentik putusan arbitrase nasional oleh arbiter atau kuasanya ke
panitera pengadilan negeri, dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah putusan arbitase
diucapkan. Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri, final ddan mengikat.
Putusan Arbitrase nasional bersifat mandiri, final dan mengikat (seperti putusan
yang mempunyai kekeuatan hukum tetap) sehingga Ketua Pengadilan Negeri tidak
diperkenankan memeriksa alasan atau pertimbangan dari putusan arbitrase nasional
tersebut. Kewenangan memeriksa yang dimiliki Ketua Pengadilan Negeri, terbatas pada
pemeriksaan secara formal terhadap putusan arbitrase nasional yang dijatuhkan oleh arbiter
atau majelis arbitrase. Berdasar Pasal 62 UU No.30 Tahun 1999 sebelum memberi perintah
pelaksanaan , Ketua Pengadilan memeriksa dahulu apakah putusan arbitrase memenuhi
Pasal 4 dan pasal 5 (khusus untuk arbitrase internasional). Bila tidak memenuhi maka,
Ketua Pengadilan Negeri dapat menolak permohonan arbitrase dan terhadap penolakan itu
tidak ada upaya hukum apapun.

2. Putusan Arbitrase Internasional
Semula pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing di indonesia didasarkan pada
ketentuan Konvensi Jenewa 1927, dan pemerintah Belanda yang merupakan negara peserta
konvensi tersebut menyatakan bahwa Konvensi berlaku juga di wilayah Indonesia. Pada
tanggal 10 Juni 1958 di New York ditandatangani UN Convention on the Recognition and
Enforcement of Foreign Arbitral Award. Indonesia telah mengaksesi Konvensi New York
tersebut dengan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 1981 pada 5 Agustus 1981 dan
didaftar di Sekretaris PBB pada 7 Oktober 1981. Pada 1 Maret 1990 Mahkamah Agung
mengeluarkan Peraturan mahkamah Agung Nomor 1 tahun 1990 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Putusan arbitrase Asing sehubungan dengan disahkannya Konvensi New York
1958. Dengan adanya Perma tersebut hambatan bagi pelaksanaan putusan arbitrase asing di
Indonesia seharusnya bisa diatasi. Tapi dalam prakteknya kesulitan-kesulitan masih ditemui
dalam eksekusi putusan arbitrase asing.