Anda di halaman 1dari 15

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 OTOT
Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya
berkontraksi. Otot memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika
sedang berelaksasi (Pratiwi, dkk, 2007).
Jaringan otot merupakan jaringan yang menunjukkan kerja
mekanis dengan cara berkontraksi. Jika ada sesuatu rangsang (stimulus)
datang pada sel-sel otot, maka sel-sel otot tersebut menyambutnya dengan cara
mengubah sitoplasma sel. Sel sel otot akan memendekkan dirinya dalam arah
tertentu (Irianto, 2012).
Otot adalah sebuah jaringan yang terdapat pada tubuh manusia
maupun hewan yang berfungsi sebagai alat gerak aktif untuk menggerakkan
tulang/ rangka. Otot dapat bergerak karena adanya sel otot. Sel otot adalah
sekumpulan sel dengan banyak nuklei yang terjadi akibat proses fusi dari sel
mioblas. Otot bekerja dengan cara berkontraksi dan relaksasi. Selain itu otot
juga menyebabkan pergerakan pada organisme maupun pergerakan dari organ
dalam organisme tersebut. Manusia sendiri setidaknya memiliki 650 jenis
otot rangka (Purnomo, 2009).
2.1.1 Jenis-jenis Otot
Otot dibedakan menjadi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :
1. Otot Polos
Otot polos disebut juga otot tak sadar atau otot alat dalam
(otot visceral). Otot polos tersusun dari sel-sel yang berbentuk
kumparan halus. Masing-masing sel memiliki satu inti yang terletak di
tengah. Kontraksi otot polos tidak menurut kehendak, tetapi
dipersarafi oleh saraf autonom.
Otot polos terdapat di alat-alat dalam tubuh, misalnya pada :
1. Dinding saluran pencernaan
2. Saluran-saluran pernafasan
3

3. Pembuluh darah
4. Saluran kencing dan kelamin (Pratiwi,dkk,2007).
Ciri-ciri otot polos:
1. Bentuknya bergelendong, kedua ujungnya meruncing dan di
bagian tengahnya menggembung.
2. Di dalam sel terdapat satu inti sel
3. Tidak memiliki garis-garis melintang (polos)
4. Bekerja diluar kesadaran kita, artinya tidak dibawah perintah
otak; karena itu otot polos disebut pula sebagai otot tak sadar
(Irianto, 2012).

2. Otot Lurik
Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang.
Otot ini bekerja di bawah kesadaran. Sel-selnya berbentuk silindris
dan mempunyai banyak inti. Otot lurik dapat berkontraksi dengan
cepat dan mempunyai periode istirahat berkali-kali. Otot lurik ini
memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia propia.
Kumpulan serabut otot yang dibungkus oleh fasia propia dibungkus
oleh selaput fasia superfasialis.
Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri dari bagian:
1. Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang
menggembung
2. Urat otot (tendon), merupakan kedua ujung yang
mengecil
Urat otot (tendon) tersusun dari jaringan ikat dan bersifat
keras serta liat. Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon
dibedakan sebagai berikut ini.
1. Origo, merupakan tendon yang melekat pada tulang
yang tidak berubah kedudukannya ketika otot
berkontraksi.
4

2. Insersio, merupakan tendon yang melekat pada
tulang yang bergerak ketika otot berkontraksi
(Pratiwi,dkk,2007).

Ciri-ciri otot lurik :
1. Bentuk sel silindris, mrmanjang, mempunyai banyak
inti sel
2. Dilihat dengan mikroskop tampak adanya garis-garis
melintang yang tersusun dari daerah dan gelap
berselang seling; karena itu disebut pula sebagai otot
bergaris lintang
3. Bekerja dibawah kesadaran kita, artinya menurut
perintah dari otak kita; karena itu otot lurik disebut
pula sebagai otot sadar (Irianto,2012).

3. Otot Jantung
Otot jantung mempunyai struktur yang sama dengan otot
lurik, hanya saja serabut-serabtnya bercabang-cabang dan saling
beranyaman serta dipersarafi oleh saraf otonom (saraf tak sadar).
Letak inti sel di tengah. Dengan demikian, otot jantung seperti otot
lurik yang bekerja tidak menurut kehendak (Pratiwi,2007).
Ciri-ciri otot jantung:
1. Otot jantung ini hanya terdapat pada jantung.
Strukturnya sama seperti otot lurik, gelap terang
secara berselang seling dan terdapat percabangan
sel.
2. Kerja otot jantung tidak bisa dikendalikan oleh
kemauan kita, tetapi bekerja sesuai dengan gerak
jantung. Jadi otot jantung menurut bentuknya seperti
otot lurik dan dari proses kerjanya seperti otot polos,
oleh karena itu disebut
5

juga otot spesial (Rizki,2012).

2.1.2 Sifat Kerja Otot
Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya
otot berkontraksi bukan karena satu rangsangan, melainkan karena suatu
rangkaian rangsangan yang berurutan. Rangsangan kedua memperkuat
rangsangan pertama dan rangsangan ketiga memperkuat rangsangan yang
kedua.
Sifat kerja otot dibedakan atas antagonis dan sinergis seperti
berikut.
1. Antagonis
Antagonis adalah kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek
gerak berlawanan, contohnya:
1. Ekstensor (meluruskan) dan fleksor
(membengkokkan), misalnya otot trisep dan bisep
2. Abduktor (menjauhi badan) dan adductor
(mendekati badan), misalnya gerak tangan sejajar bahu
dan sikap sempurna
3. Depresor (ke bawah) dan elevator (ke atas),
misalnya gerak kepala menunduk dan menengadah
4. Supinator (menengadah) dan pronator
(menelungkup), misalnya gerak telapak tangan
menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup.
2. Sinergis
Sinergis adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak
searah (Pratiwi,2007).

2.1.3 Kontraksi Otot
Kontraksi otot meliputi pemendekan elemen kontraktil otot.
Kontraksi dapat terjadi tanpa pemendekan yang berarti di seluruh
berkas otot. Kontraksi semacam itu disebut dengan kontraksi isometric.
6

Kontraksi yang melawan beban yang tetap di sertai pemendekan otot,
dinamakan kontraksi isotonic (Ganong,2008).

2.1.4 Mekanisme Kontraksi Otot
Otot bekerja dengan dua cara, yaitu Berkontraksi (memendek
atau mengendur) dan Relaksasi (kembali ke keadaan semula atau
mengendur). Keadaan otot yang memendek (kontraksi) maksimal
disebut Tonus. Tonus biasanya diikuti oleh relaksasi. Namun seringkali
rangsangan tertentu menyebabkan tonus tidak diikuti oleh relaksasi.
Keadaan otot seperti ini disebut Tetanus (kejang). Otot dapat kejang
karena adanya rangsangan yang terus menerus karena racun, misalnya
racun penyakit tetanus, atau karena dipaksa bergerak seperti berlari atau
berenang terus menerus (Koes irianto,2012).
Mekanisme kontraksi otot diawali dengan rangsangan yang
diterima oleh saraf dan di teruskan ke otot pada bagian yang peka, yaitu
asetilkolin. Selanjutnya asetilkolin akan terurai menjadi asetyl dan kolin
sehingga dapat merangsang terbentuknya miogen. Miogen akan
memacu aktin dan miosin untuk bergabung membentuk protein
kontraksi aktomiosin sehingga otot dapat mememdek (kontraksi).
Secara lengkap dan berurutan, mekanisme kontraksi otot dapat
diuraikan sebagai berikut.
1. Pusat motoric pada otak mengirim impuls ke otot melalui
saraf motorik.
2. Rangsangan yang sampai diujung akson akan dilanjutkan ke
neurohumor (hormone saraf) berupa asetilkolin menuju ke
reseptor otot.
3. Setelah sampai pada reseptor otot, energy dilepaskan untuk
menguraikan asetilkolin menjadi asetil dan kolin sehingga
dapat merangsang terbentuknya miogen. Terbentuknya miogen
dapat memacu aktin bergeser untuk bergabung dengan miosin
membentuk aktomiosin sehingga zona H mengecil.
7

Mengecilnya zona H menyebabkan otot memendek, membesar
dan mengeras, yang disebut kontraksi.
4. Setelah otot berkontraksi ujung safar motoric mengeluarkan
zat penetralisir neurohumor yang berupa enzim polinesterasi
dan Mono Amina Oksida (MAO). Ternetralisasinya
neurohumor yang berupa asetilkolin menyebabkan aktomiosin
terpisah lagi menjadi aktin dan miosin sehingga zona H
terbuka kembali dan otot tampak memanjang dan tipis dan
lebih lembek, keadaan ini disebut relaksasi (Gunawan, 2007).

2.1.5 Energi untuk Kontraksi Otot
ATP (Adenosin Tri Fosfat) merupakan sumber energi utama untuk
kontraksi otot. ATP berasal dari oksidasi karbohidrat dan lemak. Kontraksi
otot merupakan interaksi antara aktin dan miosin yang memerlukan ATP.
Fosfokreatin merupakan persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang
terdapat dalam konsentrasi tinggi pada otot. Fosfokreatin tidak dapat di pakai
langsung sebagai sumber energi, tetapi fosfokreatin dapat memberikan
energinya kepada ADP dan mengubahnya menjadi ATP.
Pada otot lurik, jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah
ATP. Pemecahan ATP dan fosfokreatin untuk menghasikan energi tidak
memerlukan oksigen bebas. Oleh sebab itu, fase kontraksi otot sering disebut
fase anaerob.
Otot yang berkontraksi dalam waktu yang lama dapat mengalami
kelelahan. Hal ini disebabkan menurunnya ATP dan fosfokreatin, sedangkan
ADP, AMP, dan Asam Laktat naik konsentrasinya.
Sumber lain untuk memperoleh energi ialah mengubah glikogen
(gula otot) menjadi glukosa. Glikogen merupakan senyawa yang tidak larut.
Untuk itu maka glikogen dilarutkan dulu menjadi laktasidogen. Laktasidogen
akan diubah menjadi glukosa dan asam laktat. Glukosa akan dioksidasi dan
menghasilkan CO2, H2O, dan energi. Energi yang dibebaskan digunakan
untuk pembentukan ATP dan fosfokreatin. Proses pemecahan glikogen
8

menjadi glukosa dan glukosa menjadi CO2 dan H2O berlangsung pada saat
otot dalam keadaan relaksasi dengan menggunakan oksigen bebas. Oleh
sebab itu fase relaksasi disebut juga fase aerob.
Jika didalam otot banyak terdapat timbunan asam laktat yang
menyebabkan kelelahan, maka akan dioksidasi dengan oksigen. Jika oksigen
yang digunakan untuk mengoksidasi asam laktat terlalu banyak akan
menyebabkan nafas tersengal-sengal (Pratiwi,dkk,2007).

2.2 SARAF
Saraf adalah salah satu organ yang berfungsi untuk
menyelenggarakan kerjasama yang rapi dalam organisasi dan koordinasi
kegiatan tubuh. Dengan pertolongan saraf kita dapat menghisap suatu
rangsangan dari luar pengendalian kerja otot (Setiadi,2007). Untuk
menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem
saraf, yaitu :
Reseptor adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita
yang bertindak sebagai reseptor adalah organ indera.
Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari
berkas serabut penghubung (akson). Pada serabut penghubung ada sel-sel
khusus yang memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan
oleh penghantar impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalah
otot dan kelenjar (Budiyono,2011).

2.2.1 Bagian Saraf
a. Sel Saraf (Neuron)
Kesatuan struktural dan fungsional disebut neuron. Neuron tersusun atas
badan sel saraf, serabut-serabut saraf, dan selubung-selubungnya. Badan
sel saraf mengandung inti sel yang berbentuk vesikuler (seperti pembuluh)
dengan membran yang tipis. Inti sel mengandung satu anak inti besar yang
kaya akan RNA (asam ribonukleat) dan sitoplasma yang disebut
9

neuroplasma. Menurut struktur dan fungsinya, neuron dapat
dikelompokkan menjadi tiga.
Neuron sensori
Struktur : Badan selnya bergelombang membentuk ganglion.
Aksonnya pendek,sedangkan dendritnya panjang.
Fungsi : Membawa rangsangan ke sistem saraf pusat.
Neuron intermediet (Interneuron)
Struktur : Dendritnya pendek dan aksonnya ada yang pendek dan
panjang.
Fungsi : Menerima rangsangan dari neuron sensori atau neuron
intermediet yang lain.
Neuron motori
Struktur : Dendrit pendek dan akson panjang.
Fungsi : Membawa atau meneruskan sistem saraf pusat ke reseptor.

Ada dua macam serabut sel saraf, yaitu dendrit dan akson.
a. Dendrit
Dendrit merupakan serabut saraf pendek, biasanya bercabang-cabang
dengan bentuk dan ukuran berbeda-beda. Dendrit berfungsi menerima
impuls (rangsang) yang datang dari ujung akson neuron lain untuk
dibawa menuju ke badan sel saraf (Pratiwi,dkk,2007). Badan sel saraf
merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf Badan sel berfungsi
untuk menerima rangsangan dari dendrit dan meneruskannya ke akson.
Pada badan sel saraf terdapat inti sel, sitoplasma, mitokondria,
sentrosom, badan golgi, lisosom, dan badan nisel. Badan nisel
merupakan kumpulan retikulum endoplasma tempat transportasi
sintesis protein.
b. Akson
Akson merupakan serabut yang panjang dan umumnya tidak
bercabang. Fungsi akson ialah meneruskan impuls dari badan sel saraf
ke kelenjar dan serabut-serabut otot. Panjang akson mencapai ratusan
10

sentimeter. Selubung sel saraf yang mengelilingi akson terdiri dari
substansi lemak sehingga berwarna putih. Selubung ini tidak berinti
dan dinamakan selubung mielin. Selubung myelin tersusun dari
rangkaian sel-sel schwan. Pada pertemuan antara selubung myelin
satu dengan yang lain terdapat bagian akson yang tidak terlindung;
bagian ini disebut nodus ranvier. Nodus ranvier berfungsi
mempercepat jalannya impuls (pratiwi,dkk,2007).

2.2.2 Penghantaran impuls
Impuls (rangsangan) yang diterima oleh neuron sensori dihantarkan
melalui sel saraf dan sinapsis. Sinapsis merupakan titik pertemuan antara
terminal neuron yang satu dengan yang lainnya.
1. Penghantaran lewat sel saraf
Jika tidak ada rangsangan, dikatakan bahwa neuron dalam
keadaan istirahat. Muatan listrik di luar membran neuron
adalah positif, sedangkan muatan listrik di dalam neuron adalah
negatif. Keadaan seperti ini disebut juga polarisasi. Jika neuron
dirangsang dengan kuat, maka permeabilitas membran akan
berubah. Akibatnya, polarisasi membran berubah. Polarisasi
mengalami pembalikan di lokasi tertentu. Kemudian proses
pembalikan polarisasi diulang sehingga menyebabkan rantai
reaksi. Dengan demikian, impuls berjalan sepanjang akson.
Setelah impuls berlalu, membran neuron memulihkan
keadaannya seperti semula. Selama masa pemulihan ini, impuls
tidak bisa melewati neuron tersebut. Waktu ini disebut periode
refraktori (pratiwi,dkk,2007).

2. Penghantaran lewat sinapsis
Sinapsis adalah penghubung yang mengendalikan komunikasi
antarneuron. Pada setiap neuron, aksonnya berakhir pada suatu
tonjolan kecil yang disebut tombol sinapsis. Permukaan
11

membran tombol sinapsis disebut membran prasinapsis yang
berfungsi melkukan transmisi rangsangan. Sementara itu,
permukaan membran dendrit dari sel sel yang dituju disebut
membran post-sinapsis yang berfungsi sebagai penerima
transmisi rangsangan (pratiwi,dkk,2007).

2.2.3 Gerak Refleks
Gerak refleks desebabkan oleh rangsangan tertentu yang biasanya
mengejutkan atau menyakitkan. Misalnya, bila kaki kita menginjak paku,
secara otomatis, kita akan menarik kaki dengan cepat atau berteriak. Refleks
juga terjadi saat kita membaui makanan yang enak, dengan keluarnya air liur
tanpa kita sadari.
Gerak refleks berbeda dengan gerak biasa, karena rangsang tidak
diolah di otak terlebih dahulu. Ada dua macam gerak refleks, yaitu refleks
spinal dan refleks kranial. Jalur perjalanan refleks adalah sebagai berikut :
Rangsangan reseptor neuron sensori sumsum tulang belakang
neuron motor efektor (pratiwi,dkk,2007).

2.2.4.Susunan Sistem Saraf
Sistem saraf dalam tubuh dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat
(sentral) dan sistem saraf tepi (periferi).
a. Sistem saraf pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang.
b. Sistem saraf tepi
Sistem saraf tepi dibagi menjadi sistem sensori somatik dan sistem
autonom (pratiwi,dkk,2007).

2.3 Sistem Rangka
Tulang-tulang dalam tubuh membentuk sistem rangka. Kemudian
sistem rangka ini bersama-sama menyusun kerangka tubuh. Secara garis
12

besar, rangka manusia dibagi menjadi dua, yaitu rangka aksial (sumbu tubuh)
dan rangka apendikuler (anggota tubuh) (pratiwi,dkk,2007).

1. Rangka aksial
Rangka aksial terdiri dari tulang tengkorak, tulang belakang
(vertebra), hyoid, tulang dada, dan tulang rusuk.
1. Tulang tengkorak
Tengkorak berfungsi melindungi otak. Hubungan tulang
yang terdapat pada tenpurung kepala bersifat suture, yaitu
tidak dapat digerakkan
2. Hioid
Merupakan tulang yang berbentuk huruf U, terdapat
diantara laring dan mandibul. Hyoid berfungsi sebagai
tempat pelekatan beberapa otot mulut dan lidah.
3. Tulang belakang
Pada tulang belakang terjadi pelengkungan-pelengkungan
yang berfungsi untuk menyangga berat tubuh. Tulang
belakang memungkinkan manusia melakukan berbagai
macam posisi dan gerakan, misalnya berdiri, duduk, atau
berlari.
4. Tulang dada dan rusuk
Tulang dada dan rusuk bersama-sama membentuk perisai
pelindung bagi organ-organ penting yang terdapat di dada,
yaitu paru-paru dan jantung. Tulang rusuk juga
berhubungan dengan tulang belakang.
(Pratiwi,dkk,2007)

2. Rangka apendikuler
Rangka apendikuler terdiri atas pinggul, bahu, telapak tangan,
tulang-tulang lengan, tungkai, dan telapak kaki. Secara umum rangka
apendikuler menyusun alat gerak, tangan dan kaki.
13


1. Tulang selangka
Tulang selangka atau tulang leher membentuk bagian depan
bahu.
2. Tulang belikat
Tulang belikat terdapat di atas sendi bahu dan merupakan
bagian pembentuk bahu.
3. Tulang pangkal lengan, pengumpil, hasta
Tulang pangkal lengan bersama dengan tulang pengumpil
dan tulang hasta menyusun lengan atas dan lengan bawah.
4. Tangan dan kaki
Tulang tangan tersusun atas tulang-tulang pergelangan
tangan, telapak tangan, dan jari-jari. Jari tangan terdiri dari
tiga ruas, kecuali ibu jari yang mempunyai dua ruas. Tulang
kaki disusun oleh tulang paha, tempurung lutut, tulang
kering, tulang betis, tulang pergelangan kaki, tulang telapak
kaki, dan jari-jari kaki (pratiwi,dkk,2007).

2.3.1 Fungsi sistem rangka
1. Tulang memberikan topangan dan bentuk pada tubuh
2. Pergerakan. Tulang berartikulasi dengan tulang lain pada sebuah
persendian dan berfungsi sebagai pengungkit
3. Perlindungan. System rangka melindungi organ-organ lunak yang
ada dalam tubuh
4. Pembentukan sel darah (hematopoiesis). Sumsum tulang merah,
yang ditemukan pada orang dewasa dalam tulang sternum, tulang iga,
badan vertebra, tulang pipih pada cranium, dan pada bagian ujung
tulang panjang, merupakan tempat produksi sel darah merah, sel darah
putih, dan trombosit darah.
14

5. Tempat penyimpanan mineral. Matriks tulang tersusun dari sekitar
62% garam anorganik, terutama kalsium karbonat dengan jumlah
magnesium, klorida, florida, sitrat yang lebih sedikit (Sloane,2003).

2.3.2 Komposisi jaringan tulang
1. Tulang terdiri dari sel-sel dan matriks ekstraselular. Sel-sel tersebut
adalah osteosit, osteoblast, dan osteoklas.
2. Matriks tulang tersusun dari serat-serat kolagen organic yang
tertanam pada substansi dasar dan garam-garam anorganik tulang
seperti fosfor dan kalsium.
Substansi dasar tulang terdiri dari sejenis
proteodoglikan yang tersusun terutama dari kondroitin
sulfat dan sejumlah kecil asam hialuronat yang
bersenyawa dengan protein.
Garam-garam tulang berada dalam bentuk Kristal
kalsium fosfat yang disebut hidroksiapatit.
Persenyawaan antara kolagen dan Kristal kalsium
hidroksiapatit bertanggung jawab atas daya renggang
dan daya tekan tulang yang besar.
3. Kedua jenis jaringan tulang, tulang cancellus (berongga) dan tulang
kompak. Kedua jenis tulang ini memiliki komposisi yang sama tetapo
porostasinya berbeda.
Tulang kompak adalah jaringan yang tersusun rapat dan
terutama ditemukan sebagai lapisan diatas jaringan tulang
cancellus. Porostasinya bergantung pada saluran mikroskopik
(kanakuli) yang mengandung pembuluh darah, yang
berhubungan dengan saluran havers.
Tulang cancellus tersusun dari batang-batang tulang halus dan
ireguler yang bercabang dan saling bertumpang tindih untuk
membentuk jarring-jaring spikula tulang dengan rongga-
rongga yang mengandung sumsum.
15


Jumlah tulang cancellus dan tulang kompak bervariasi
bergantung pada jenis tulang dan bagisn yang berbeda dari
tulang yang sama (Sloane,2003).

2.3.3 Klasifikasi tulang menurut bentuknya

1. Tulang panjang ditemukan di tungkai. Tulang berbentuk
silindris,serta terdiri dari diafisis dan epifisis. Fungsi tulang
ini adalah untuk menahan berat tubuh dan berperan dalam
pergerakan.
2. Tulang pendek adalah tulang pergelangan tangan (karpal)
dan pergelangan kaki (tarsal). Tulang tersebut berstruktur
kuboidal atau bujur, dan biasanya ditemukan berkelompok
untuk memberikan kekuatan dan kekompakan pada area
yang pergerakannya terbatas. Sebagian besar tulang pendek
adalah tulang cancellius, yang dikelilingi lapisan tipis
tulang kompak.
3. Tulang pipih ada pada tulang tengkorak, iga dan tulang
dada. Struktur tulang yang mirip lempengan ini
memberikan suatu permukaan yang luas untuk perlekatan
otot dan memberikan perlindungan. Dua lempeng tulang
kompak (dikenal sebagai tabula luar dan tabula dalam pada
cranium) membungkus lapisan berongga (diploe).
4. Tulang ireguler adalah tulang yang bentuknya tidak
beraturan dan tidak termasuk kategori diatas; meliputi
tulang vertebra dan tulang osikel telinga. Strukturnya sama
dengan struktur tulang pendek, yaitu tulang cancellus yang
ditutupi lapisan tulang kompak yang tipis.
5. Tulang sesamoid adalah tulang kecil bulat yang masuk ke
formasi persendian atau bersambungan denga kartilago,
16

ligament atau tulang lainnya. Salah satu contohnya adalah
patella (tempurung lutut), yang merupakan tulang sesamoid
terbesar (Sloane,2003).