Anda di halaman 1dari 13

KEKERASAN PADA ISTRI DALAM RUMAH TANGGA

BERDAMPAK TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI


OLEH : KEUMALAHAYATI
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tindak kekerasan di dalam rumah tangga (domestic violence) merupakan jenis kejahatan yang kurang
mendapatkan perhatian dan jangkauan hukum. Tindak kekerasan di dalam rumah tangga pada umumnya
melibatkan pelaku dan korban diantara anggota keluarga di dalam rumah tangga, sedangkan bentuk tindak
kekerasan bisa berupa kekerasan fisik dan kekerasan verbal (ancaman kekerasan). Pelaku dan korban tindak
kekerasan didalam rumah tangga bisa menimpa siapa saja, tidak dibatasi oleh strata, status sosial, tingkat
pendidikan, dan suku bangsa.
Tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga merupakan masalah sosial yang serius, akan tetapi kurang
mendapat tanggapan dari masyarakat dan para penegak hukum karena beberapa alasan, pertama: ketiadaan
statistik kriminal yang akurat, kedua: tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga memiliki ruang
lingkup sangat pribadi dan terjaga privacynya berkaitan dengan kesucian dan keharmonisan rumah tangga
(sanctitive of the home), ketiga: tindak kekerasan pada istri dianggap wajar karena hak suami sebagai
pemimpin dan kepala keluarga, keempat: tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga terjadi dalam
lembaga legal yaitu perkawinan. (asbianto, !""#)
Perspektif gender beranggapan tindak kekerasan terhadap istri dapat dipahami melalui konteks sosial.
$enurut %erger (!""&), perilaku individu sesungguhnya merupakan produk sosial, dengan demikian nilai
dan norma yang berlaku dalam masyarakat turut membentuk prilaku individu artinya apabila nilai yang
dianut suatu masyarakat bersifat patriakal yang muncul adalah superioritas laki'laki dihadapan perempuan,
manifestasi nilai tersebut dalam kehidupan keluarga adalah dominasi suami atas istri.
$ave (ormack dan )tathern (!""&) menjelaskan terbentuknya dominasi laki'laki atas perempuan ditinjau
dari teori nature and culture. *alam proses transformasi dari nature ke culture sering terjadi penaklukan.
+aki'laki sebagai culture mempunyai wewenang menaklukan dan memaksakan kehendak kepada
perempuan (nature). )ecara kultural laki'laki ditempatkan pada posisi lebih tinggi dari perempuan, karena
itu memiliki legitimasi untuk menaklukan dan memaksa perempuan. *ari dua teori ini menunjukkan
gambaran aspek sosiokultural telah membentuk social structure yang kondusif bagi dominasi laki'laki atas
perempuan, sehingga mempengaruhi prilaku individu dalam kehidupan berkeluarga.
)ebagian besar perempuan sering bereaksi pasif dan apatis terhadap tindak kekerasan yang dihadapi. ,ni
memantapkan kondisi tersembunyi terjadinya tindak kekerasan pada istri yang diperbuat oleh suami.
-enyataan ini menyebabkan minimnya respon masyarakat terhadap tindakan yang dilakukan suami dalam
ikatan pernikahan. ,stri memendam sendiri persoalan tersebut, tidak tahu bagaimana menyelesaikan dan
semakin yakin pada anggapan yang keliru, suami dominan terhadap istri. .umah tangga, keluarga
merupakan suatu institusi sosial paling kecil dan bersifat otonom, sehingga menjadi wilayah domestik yang
tertutup dari jangkauan kekuasaan publik.
(ampur tangan terhadap kepentingan masing'masing rumah tangga merupakan perbuatan yang tidak pantas,
sehingga timbul sikap pembiaran (permissiveness) berlangsungnya kekerasan di dalam rumah tangga.
$enurut $urray /. )trause (!""#), bahwa kekerasan dalam rumah tangga merupakan moralitas pribadi
dalam rangka mengatur dan menegakkan rumah tangga sehingga terbebas dari jangkauan kekuasaan publik.
*i ,ndonesia data tentang kekerasan terhadap perempuan tidak dikumpulkan secara sistematis pada tingkat
nasional. +aporan dari institusi pusat krisis perempuan, menunjukkan adanya peningkatan tindak kekerasan
terhadap perempuan,. $enurut -omisi Perempuan (0&&1) mengindikasikan 203 dari perempuan
melaporkan tindak kekerasan sudah menikah dan pelakunya selalu suami mereka. $itra Perempuan (0&&1)
4&3 dari perempuan yang melapor pelakunya adalah para suami, mantan suami, pacar laki'laki, kerabat atau
orang tua, 5,13 dari perempuan yang melapor berusia dibawah !4 tahun. Pusat -risis Perempuan di 6akarta
(0&&1)7 " dari !& perempuan yang memanfaatkan pelayanan mengalami lebih dari satu jenis kekerasan
(fisik, fisiologi, seksual, kekerasan ekonomi, dan pengabaian), hampir !23 kasus tersebut berpengaruh
terhadap kesehatan reproduksi perempuan.
asil penelitian yang dilakukan oleh .ifka /nnisa 8omsis (risis (entre (./8((, !""1) tentang kekerasan
dalam rumah tangga terhadap 0#0 responden (istri) menunjukan 543 perempuan (istri) mengalami
kekerasan verbal, dan 03 mengalami kekerasan fisik. Tingkat pendidikan dan pekerjaan suami (pelaku)
menyebar dari )ekolah *asar sampai Perguruan Tinggi ()0)7 pekerjaan dari wiraswasta, P9), %:$9,
/%.,. -orban (istri) yang bekerja dan tidak bekerja mengalami kekerasan termasuk penghasilan istri yang
lebih besar dari suami (./8((, !""1).
asil penelitian kekerasan pada istri di /ceh yang dilakukan oleh ;lower (!""4) mengidentifikasi dari !&&
responden tersebut ada 2# orang merespon dan hasilnya <2 orang mengatakan pernah mengalami tindak
kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan berupa psikologis (<0 orang), kekerasan seksual (!! orang),
kekerasan ekonomi (!" orang), kekerasan fisik (!! orang). Temuan lain sebagian responden tidak hanya
mengalami satu kekerasan saja. *ari <2 responden, 0& responden mengalami labih dari satu kekerasan,
biasanya dimulai dengan perbedaan pendapat antara istri (korban) dengan suami lalu muncul pernyataan'
pernyataan yang menyakitkan korban, bila situasi semakin panas maka suami melakukan kekerasan fisik.
*ari penelitian ini terungkap bahwa sebagai suami yang melakukan tindak kekerasan kepada istri meyakini
kebenaran tindakannya itu, karena prilaku istri dianggap tidak menurut kepada suami, melalaikan pekerjaan
rumah tangga, cemburu, pergi tanpa pamit. al ini diyakini oleh pihak istri, sehingga mereka mengalami
kekerasan dari suaminya dan cenderung diam tidak membantah.
Penelitian yang mengkaitkan tindak kekerasan pada istri yang berdampak pada kesehatan reproduksi masih
sedikit. $enurut asbianto (!""#), dikatakan secara psikologi tindak kekerasan pada istri dalam rumah
tangga menyebabkan gangguan emosi, kecemasan, depresi yang secara konsekuensi logis dapat
mempengaruhi kesehatan reproduksinya. $enurut model *i=on'$udler (!""<) tentang kaitan antara
kerangka seksualitas atau gender dengan kesehatan reproduksi7 pemaksaan hubungan seksual atau tindak
kekerasan terhadap istri mempengaruhi kesehatan seksual istri. 6adi tindak kekerasan dalam konteks
kesehatan reproduksi dapat dianggap tindakan yang mengancam kesehatan seksual istri, karena hal tersebut
menganggu psikologi istri baik pada saat melakukan hubungan seksual maupun tidak.
*ari latar belakang ini, penulis tertarik untuk membahas lebih jauh mengenai tindakan kekerasan pada istri
dalam rumah tangga berdampak terhadap kesehatan reproduksi.
A. Kekerasan Terhaa! Pere"!#an
-omnas Perempuan (0&&!) menyatakan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah segala tindakan
kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan yang berakibat atau kecenderungan untuk mengakibatkan
kerugian dan penderitaan fisik, seksual, maupun psikologis terhadap perempuan, baik perempuan dewasa
atau anak perempuan dan remaja. Termasuk didalamnya ancaman, pemaksaan maupun secara sengaja
meng'kungkung kebebasan perempuan. Tindakan kekerasan fisik, seksual, dan psikologis dapat terjadi
dalam lingkungan keluarga atau masyarakat.
-ekerasan dalam rumah tangga menurut :ndang'undang ., no. 0< tahun 0&&5 adalah setiap perbuatan
terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara
fisik, seksual, psikologis, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau pe'rampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.
Tindakan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga merupakan salah satu bentuk kekerasan yang
seringkali terjadi pada perempuan dan terjadi di balik pintu tertutup. Tindakan ini seringkali dikaitkan
dengan penyiksaan baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan yang
dekat.
Tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga terjadi dikarenakan telah diyakini bahwa masyarakat
atau budaya yang mendominasi saat ini adalah patriarkhi, dimana laki'laki adalah superior dan perempuan
inferior sehingga laki'laki dibenarkan untuk menguasai dan mengontrol perempuan. al ini menjadikan
perempuan tersubordinasi. *i samping itu, terdapat interpretasi yang keliru terhadap stereotipi jender yang
tersosialisasi amat lama dimana perempuan dianggap lemah, sedangkan laki'laki, umumnya lebih kuat.
)esuai dengan yang dinyatakan oleh )ciortino dan )myth, !""27 )uara /P,-,!""2, bahwa menguasai atau
memukul istri sebenarnya merupakan manifestasi dari sifat superior laki'laki terhadap perempuan.
Ke$ener#ngan t%nak kekerasan ala" r#"ah tangga ter&a%n'a karena (akt)r #k#ngan s)s%al an
k#lt#r *+#a'a, %"ana %str% % !erse!s%kan orang nomor dua dan bisa diperlakukan dengan cara apa saja.
al ini muncul karena transformasi pengetahuan yang diperoleh dari masa lalu, istri harus nurut kata suami,
bila istri mendebat suami, dipukul. -ultur di masyarakat suami lebih dominan pada istri, ada tindak
kekerasan dalam rumah tangga dianggap masalah privasi, masyarakat tidak boleh ikut campur
(http:>>kompas.com).
)aat ini dengan berlakunya undang'undang anti kekerasan dalam rumah tangga disetujui tahun 0&&5, maka
tindak kekerasan dalam rumah tangga bukan hanya urusan suami istri tetapi sudah menjadi urusan publik.
-eluarga dan masyarakat dapat ikut mencegah dan mengawasi bila terjadi kekerasan dalam rumah tangga
(http:>>kompas.com).
B. Bent#k-+ent#k kekerasan terhaa! !ere"!#an
$enurut :ndang':ndang 9o. 0< Tahun 0&&5 tindak kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga
dibedakan kedalam 5 (empat) macam :
!. -ekerasan fisik
-ekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat. Prilaku
kekerasan yang termasuk dalam golongan ini antara lain adalah menampar, memukul, meludahi, menarik
rambut (menjambak), menendang, menyudut dengan rokok, memukul>melukai dengan senjata, dan
sebagainya. %iasanya perlakuan ini akan nampak seperti bilur'bilur, muka lebam, gigi patah atau bekas luka
lainnya.
0. -ekerasan psikologis > emosional
-ekerasan psikologis atau emosional adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya dan > atau penderitaan psikis berat
pada seseorang.
Perilaku kekerasan yang termasuk penganiayaan secara emosional adalah penghinaan, komentar'komentar
yang menyakitkan atau merendahkan harga diri, mengisolir istri dari dunia luar, mengancam atau ,menakut'
nakuti sebagai sarana memaksakan kehendak.
<. -ekerasan seksual
-ekerasan jenis ini meliputi pengisolasian (menjauhkan) istri dari kebutuhan batinnya, memaksa melakukan
hubungan seksual, memaksa selera seksual sendiri, tidak memperhatikan kepuasan pihak istri.
-ekerasan seksual berat, berupa:
!. Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa,
merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak>jijik, terteror, terhina dan merasa
dikendalikan.
0. Pemaksaan hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki.
<. Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan.
5. Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu.
1. Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya
dilindungi.
#. Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka,atau
cedera.
5. -ekerasan ekonomi
)etiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang
berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau
pemeliharaan kepada orang tersebut. (ontoh dari kekerasan jenis ini adalah tidak memberi nafkah istri,
bahkan menghabiskan uang istri (http:>>kompas.com., 0&&#).
.. /akt)r-(akt)r 'ang "en)r)ng ter&a% t%nak kekerasan ala"
R#"ah tangga
)trauss /. $urray mengidentifikasi hal dominasi pria dalam konteks struktur masya'rakat dan keluarga,
yang memungkinkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (marital violence) sebagai berikut:
!. Pembelaan atas kekuasaan laki'laki
+aki'laki dianggap sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita, sehingga mampu
mengatur dan mengendalikan wanita.
0. *iskriminasi dan pembatasan dibidang ekonomi
*iskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi wanita untuk bekerja mengakibatkan wanita (istri)
ketergantungan terhadap suami, dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan
kekerasan.
<. %eban pengasuhan anak
,stri yang tidak bekerja, menjadikannya menanggung beban sebagai pengasuh anak. -etika terjadi hal yang
tidak diharapkan terhadap anak, maka suami akan menyalah'kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam
rumah tangga.
5. 8anita sebagai anak'anak
konsep wanita sebagai hak milik bagi laki'laki menurut hukum, mengakibatkan kele'luasaan laki'laki untuk
mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. +aki'laki merasa punya hak untuk
melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap anaknya agar menjadi tertib.
1. ?rientasi peradilan pidana pada laki'laki
Posisi wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya, diterima
sebagai pelanggaran hukum, sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. /lasan yang
la@im dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan
sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga.
D. Da"!ak kekerasan terhaa! kesehatan re!r)#ks%.
-esehatan reproduksi menurut ,(P* (!""5) adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara
utuh, tidak semata'mata bebas dari penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem
reproduksi, serta fungsi dan prosesnya.
$asalah kesehatan perempuan merupakan masalah penting dan serius karena sejak dua dekade terakhir
/ngka -ematian ,bu (/-,) tidak pernah turun. %erdasarkan hasil penelitian )-.T (0&&&) /-, sebesar <"# >
!&&&&&, /borsi tidak aman berkontribusi terhadap /-, : !!'!2 3 (erdayati, 0&&0), bisa mencapai 1& 3
(/@rul /@war, 0&&<). /ngka aborsi 0'0,< juta>tahun (:tomo, 0&&!), pelaku /borsi 42 3 wanita kawin,
penyebab : 12,1 3 Psikososial dan <# 3 gagal -% (A-P, 0&&0).
$enurut )uryakusuma (!""1) efek psikologis penganiayaan bagi banyak perempuan lebih parah dibanding
efek fisiknya. .asa takut, cemas, letih, kelainan stress post traumatic, serta gangguan makan dan tidur
merupakan reaksi panjang dari tindak kekerasan. 9amun, tidak jarang akibat tindak kekerasan terhadap istri
juga meng'akibatkan kesehatan reproduksi terganggu secara biologis yang pada akhirnya meng'akibatkan
terganggunya secara sosiologis. ,stri yang teraniaya sering mengisolasi diri dan menarik diri karena berusaha
menyembunyikan bukti penganiayaan mereka.
)ehubungan dengan dampak tindak kekerasan terhadap kehidupan seksual dan repro'duksi perempuan,
penelitian yang dilakukan oleh .ance (!""5) yang dikutip oleh eise, $oore dan Toubia (!""1) kekerasan
dan dominasi laki'laki dapat membatasi dan membentuk kehidupan seksual dan reproduksi perempuan.
)elain itu, laki'laki juga sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tentang alat kontrasepsi yang
dipakai oleh pasangannya. )elanjutnya penelitian yang dilakukan di 9orwegia oleh )chei dan %akketeig
(!"4") yang dikutip oleh eise, $oore dan Toubia (!""1) juga menyatakan bahwa perempuan yang tinggal
dengan pasangan yang suka melakukan tindak kekerasan menunjukkan masalah'masalah ginekologis yang
lebih berat ketim'bang dengan yang tinggal dengan pasangan>suami normal 7 bahkan problem gineko'logis
ini bisa berlanjut dalam rasa sakit terus menerus.
Tindak kekerasan terhadap istri perlu diungkap untuk mencari alternatif pemberdayaan bagi istri agar
terhindar dari tindak kekerasan yang tidak semestinya terjadi demi terwujudnya hak perempuan untuk
memperoleh kesehatan reproduksi yang sehat.
Perempuan terganggu kesehatan reproduksinya bila pada saat tidak hamil mengalami gangguan menstruasi
seperti menorrhagia (menstruasi yg berlebihan), hipomenorrhagia atau metrorhagia (perdarahan dari vagina
yang tidak berhubungan dengan siklus haid. ) bahkan wanita dapat mengalami menopause lebih awal, dapat
mengalami penurunan libido, ketidakmampuan mendapatkan orgasme, akibat tindak kekerasan yang
dialaminya.
*i seluruh dunia satu diantara empat perempuan hamil mengalami kekerasan fisik dan seksual oleh
pasangannya. Pada saat hamil, dapat terjadi keguguran > abortus, persalinan imatur dan bayi meninggal
dalam rahim.

Pada saat bersalin, perempuan akan mengalami penyulit persalinan seperti hilangnya kontraksi uterus,
persalinan lama, persalinan dengan alat bahkan pembedahan. asil dari kehamilan dapat melahirkan bayi
dengan %%+., terbelakang mental, bayi lahir cacat fisik atau bayi lahir mati.

*ampak lain yang juga mempengaruhi kesehatan organ reproduksi istri dalam rumah tangga diantaranya
adalah perubahan pola fikir, emosi dan ekonomi keluarga. *ampak terhadap pola fikir istri. Tindak
kekerasan juga berakibat mempengaruhi cara berfikir korban, misalnya tidak mampu berfikir secara jernih
karena selalu merasa takut, cenderung curiga (paranoid), sulit mengambil keputusan, tidak bisa percaya
kepada apa yang terjadi. ,stri yang menjadi korban kekerasan memiliki masalah kesehatan fisik dan mental
dua kali lebih besar dibandingkan yang tidak menjadi korban termasuk tekanan mental, gangguan fisik,
pusing, nyeri haid, terinfeksi penyakit menular (www.depkes.go.id).
*ampak terhadap ekonomi keluarga. *ampak lain dari tindakan kekerasan meskipun tidak selalu adalah
persoalan ekonomi, menimpa tidak saja perempuan yang tidak bekerja tetapi juga perempuan yang mencari
nafkah. )eperti terputusnya akses ekono'mi secara mendadak, kehilangan kendali ekonomi rumah tangga,
biaya tak terduga untuk hunian, kepindahan, pengobatan dan terapi serta ongkos perkara.

*ampak terhadap status emosi istri. ,stri dapat mengalami depresi, penyalahgunaan > pemakaian @at'@at
tertentu (obat'obatan dan alkohol), kecemasan, percobaan bunuh diri, keadaan pasca trauma dan rendahnya
kepercayaan diri.
E. Iss# tentang kekerasan ala" r#"ah tangga.
,su penindasan terhadap wanita terus menerus menjadi perbincangan hangat. )alah satunya adalah
kekerasan dalam rumah tangga (-*.T). Perjuangan penghapusan -*.T nyaring disuarakan organisasi,
kelompok atau bahkan negara yang meratifikasi konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi
terhadap perempuan (Convention on the Elimination of All Form of Discrimination>(B*/8) melalui
:ndang'undang 9o 2 tahun !"45. 6uga berdasar *eklarasi Penghapusan -ekerasan Terhadap Perempuan
yang dilahirkan P%% tanggal 0& *esember !""< dan telah di artifikasi oleh pemerintah ,ndonesia. %ahkan di
,ndonesia telah disahkan :ndang'undang 9o 0< Tahun 0&&5 tentang CPenghapusan -ekerasan *alam
.umah TanggaD.
Perjuangan penghapusan -*.T berangkat dari fakta banyaknya kasus -*.T yang terjadi dengan korban
mayoritas perempuan dan anak'anak. al ini berdasarkan sejumlah temuan -omisi 9asional /nti'-ekerasan
terhadap Perempuan (-omnas Perempuan) dari berbagai organisasi penyedia layanan korban kekerasan.
Tanggal 00 )eptember 0&&5 merupakan tanggal bersejarah bagi bangsa ,ndonesia. Pada tanggal tersebut,
perjuangan perempuan ,ndonesia, terutama yang tergabung dalam 6aringan /dvokasi -ebijakan
Penghapusan -ekerasan Terhadap Perempuan (6angka'P-TP), yang merupakan gabungan +)$ perempuan
se',ndonesia, membuahkan hasil disahkannya .:: Penghapusan -ekerasan *alam .umah Tangga menjadi
::.
-elompok mencoba mengidentifikasikan faktor'faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam
rumah tangga yaitu !erta"a (akt)r !e"+elaan atas kek#asaan lak%-lak% dimana laki'laki dianggap
sebagai superioritas sumber daya dibandingkan dengan wanita, sehingga mampu mengatur dan
mengendalikan wanita. -edua, (akt)r D%skr%"%nas% an !e"+atasan %+%ang ek)n)"%, dimana
diskriminasi dan pembatasan kesempatan bagi perempuan untuk bekerja mengakibatkan perempuan (istri)
ketergantungan terhadap suami, dan ketika suami kehilangan pekerjaan maka istri mengalami tindakan
kekerasan. -etiga, (akt)r +e+an !engas#han anak %"ana %str% 'ang t%ak +eker&a, menjadikannya
menanggung beban sebagai pengasuh anak. -etika terjadi hal yang tidak diharapkan terhadap anak, maka
suami akan menyalah'kan istri sehingga tejadi kekerasan dalam rumah tangga. -eempat yaitu (akt)r 0an%ta
se+aga% anak-anak, dimana konsep wanita sebagai hak milik bagi laki'laki menurut hukum, mengakibatkan
keleluasaan laki'laki untuk mengatur dan mengendalikan segala hak dan kewajiban wanita. +aki'laki
merasa punya hak untuk melakukan kekerasan sebagai seorang bapak melakukan kekerasan terhadap
anaknya agar menjadi tertib, -elima (akt)r )r%entas% !era%lan !%ana !aa lak%-lak%, dimana posisi
wanita sebagai istri di dalam rumah tangga yang mengalami kekerasan oleh suaminya, diterima sebagai
pelanggaran hukum, sehingga penyelesaian kasusnya sering ditunda atau ditutup. /lasan yang la@im
dikemukakan oleh penegak hukum yaitu adanya legitimasi hukum bagi suami melakukan kekerasan
sepanjang bertindak dalam konteks harmoni keluarga.
Penerapan sistem itu telah meluluh'lantakkan sendi'sendi kehidupan asasi manusia. *ari sisi ekonomi
misalnya, sistem kapitalisme mengabaikan kesejahteraan seluruh umat manusia. )istem ekonomi kapitalistik
menitikberatkan pertumbuhan dan bukan pemerataan. Pembangunan negara yang diongkosi utang luar
negeri, dan merajalelanya perilaku kolusi dan korupsi pada semua lini pemerintahan, telah meremukkan
sendi'sendi perekonomian bangsa. Tak kurang 2&3 penduduk ,ndonesia berada di bawah garis kemiskinan.
$ereka tidak mampu menghidupi diri secara layak karena negara mengabaikan pemenuhan kebutuhan
pokok mereka. impitan ekonomi inilah yang menjadi salah satu pemicu orang berbuat nekat melakukan
kejahatan, termasuk munculnya -*.T. %anyak kasus -*.T menimpa keluarga miskin, dipicu
ketidakpuasan dalam hal ekonomi.
*ari sisi hukum, ketiadaan sanksi yang tegas dan membuat jera pelaku telah melanggengkan kekerasan atau
kejahatan di masyarakat. )eperti pelaku pemerkosaan yang dihukum ringan, pelaku per@inaan yang malah
dibiarkan, dan lain lain. *ari sisi sosial'budaya, gaya hidup hedonistik yang melahirkan perilaku permisif,
kebebasan berperilaku dan seks bebas, telah menumbuh'suburkan perilaku penyimpangan seksual seperti
homoseksual, lesbianisme dan hubungan seks disertai kekerasan.
*ari sisi pendidikan, menggejalanya kebodohan telah memicu ketidak'pahaman sebagian masyarakat
mengenai dampak'dampak kekerasan dan bagaimana seharusnya mereka berperilaku santun. ,ni akibat
rendahnya kesadaran pemerintah dalam penanganan pendidikan, sehingga kapitalisasi pendidikan hanya
berpihak pada orang'orang berduit saja. +ahirlah kebodohan secara sistematis pada masyarakat. dan
kemerosotan pemikiran masyarakat, sehingga perilakupun berada pada derajat sangat rendah.
:ntuk persoalan ini, dibutuhkan penerapan hukum yang menyeluruh oleh negara. -alau tidak akan terjadi
ketimpangan. )ebagai contoh sulit untuk menghilangkan pelacuran, kalau faktor ekonomi tidak diperbaiki.
)ebab, tidak sedikit orang melacur karena persoalan ekonomi. -ekerasaan dalam rumah tangga, kalau hanya
dilihat dari istri harus mengabdi kepada suami, pastilah timpang. Padahal dalam ,slam, suami diwajibkan
berbuat baik kepada istri. -ekerasaan yang dilakukan oleh suami seperti menyakiti fisiknya bisa diberikan
sanksi diyat. *isinilah letak penting tegaknya hukum yang tegas dan menyeluruh.
$enurut pasal !! :: P-*.T, pemerintah bertanggung jawab dalam upaya pencegahan kekerasan dalam
rumah tangga dan menurut pasal !0 ayat (!) menyelenggarakan advokasi dan sosialisasi tentang kekerasan
dalam rumah tangga juga menjadi tanggung jawab pemerintah. 9amun, nyatanya, sosialisasi dan advokasi
kekerasan dalam rumah tangga masih minim. $asih banyak masyarakat yang belum mengetahui apalagi
memahami :: P-*.T, bahkan di kalangan aparat penegak hukum masih timbul berbagai persepsi.
)ehubungan dengan banyaknya hal baru dalam :: P-*.T yang tidak ditemukan dalam :: lain, seperti
perlindungan sementara dan perintah perlindungan, juga adanya tindak pidana berupa jenis kekerasan lain di
luar kekerasan fisik, diperlukan pendidikan dan pelatihan yang memadai bagi aparat penegak hukum dan
pekerja sosial untuk menyamakan persepsi.
*i samping itu, diperlukan sosialisasi yang memadai bagi masyarakat luas, terutama bagi para pihak yang
berpotensi melakukan -*.T, sebagai upaya pencegahan. %agi pihak yang mungkin menjadi korban -*.T,
sosialisasi perlu, agar bila terjadi -*.T, ia dapat memperbaiki nasibnya karena telah mengetahui hak'
haknya.
:: P-*.T perlu direvisi pada bagian'bagian yang rancu dan perlu penambahan jenis kekerasan, seperti
kekerasan ekonomi dan kekerasan sosial. )elain itu, diperlukan harmonisasi peraturan perundang'undangan
yang tidak sejalan dengan napas kesetaraan gender, antara lain dengan merevisi :: Perkawinan, agar
peraturan perundang'undangan bisa saling mendukung dan tidak saling bertentangan, supaya :: P-*.T
dapat dirasakan efektivitasnya.
Penegakan hukum :: P-*.T tidak akan terlepas dari penegakan hukum pada umumnya. /pabila negara
tidak dapat menciptakan supremasi hukum, perlindungan yang diatur dalam :: P-*.T hanya akan berupa
law in book (teori) belaka, sedangkan dalam law in action (praktik) akan sulit terwujud. ?leh karena itu,
supremasi hukum harus ditegakkan.
/. I"!l%kas% ke!era0atan 'ang a!at %+er%kan #nt#k "en)l)ng ka#"
!ere"!#an ar% t%nak kekerasan ala" r#"ah tangga aalah :
!. $erekomendasikan tempat perlindungan seperti crisis center, shelter dan one stop crisis center.
0. $emberikan pendampingan psikologis dan pelayanan pengobatan fisik korban. *isini perawat dapat
berperan dengan fokus meningkatkan harga diri korban, memfasilitasi ekspresi perasaan korban, dan
meningkatkan lingkungan sosial yang memungkinkan. Perawat berperan penting dalam upaya
membantu korban kekerasan diantaranya melalui upaya pencegahan primer terdiri dari konseling
keluarga, modifikasi lingkungan sosial budaya dan pembinaan spiritual, upaya pencegahan sekunder
dengan penerapan asuhan keperawatan sesuai permasalah'an yang dihadapi klien, dan pencegaha tertier
melalui pelatihan>pendidikan, pem'bentukan dan proses kelompok serta pelayanan rehabilitasi.
<. $emberikan pendampingan hukum dalam acara peradilan.
5. $elatih kader'kader (+)$) untuk mampu menjadi pendampingan korban kekerasan.
1. $engadakan pelatihan mengenai perlindungan pada korban tindak kekerasan dalam rumah tangga
sebagai bekal perawat untuk mendampingi korban.
DA/TAR PUSTAKA
/brar /na 9adhya, Tamtari 8ini (Bd) (0&&!). Konstruksi Seksualitas Antara Hak
dan Kekuasaan. Aogyakarta: :E$.
*ep. -es. .,. (0&&<). rofil Kesehatan !eproduksi "ndonesia #$$%. 6akarta: *ep.
-es. .,
FFFFFFFFFF. (0&&#). Sekilas &entan' (ndan')undan' en'hapusan Kekerasan
Dalam !umah &an''a. *iambil pada tanggal 0# ?ktober 0&&# dari
http:>>www.depkes.co.id.
asbianto, Blli 9. (!""#). Kekerasan Dalam !umah &an''a. otret *uram Kehidupan
erempuan Dalam erkawinan+ *akalah Disa,ikan pada Seminar -asional
erlindun'an erempuan dari pelecehan dan Kekerasan seksual. :E$
Aogyakarta, # 9ovember.
-omnas Perempuan (0&&0). eta Kekerasan en'alaman erempuan "ndonesia.
6akarta: /meepro.
-ompas. (0&&#). Kekerasan Dalam !umah &an''a Dipen'aruhi Faktor "diolo'i.
*iambil pada tanggal 0# oktober 0&&# dari http:>>kompas.com.
-ompas. (0&&2). Kekerasan !umah &an''a .ukan /a'i (rusan Suami "stri. *iambil
pada tanggal 01 $aret 0&&2 dari http:>>kompas.com.
$onemi -ajsa /sling et.al. (0&&<). 0iolence A'aints 1omen "ncreases &he !isk 2f
"nfant and Child *ortality3 a case)referent Study in -icera'ua. The
,nternational 6ournal of Public ealth, 4!, (!), !&'!4.
.ahman, /nita. (0&&#). emberdayaan erempuanDikaitkan Den'an 4# Area of
Concerns 5"ssue .ei,in'+ 46678. Tidak diterbitkan, :niversitas ,ndonesia,
6akarta, ,ndonesia.
)ciortino, .osalia dan ,ne )myth. (!""2). Harmoni3 en'in'karan Kekerasan
Domestik di 9awa. 6urnal Perempuan, Bdisi: <, $ei'6uni.
8?. (0&&#). *en''unakan Hak Asasi *anusia (ntuk Kesehatan *aternal dan
-eunatal3 Alat untuk *emantapkan Hukum+ Kebi,akan+ dan Standar
elayanan. 6akarta: *ep. -es. .,.
FFFF . (0&&2). Dampak Kekerasan dalam !umah &an''a .a'i 1anita. *iambil pada
tanggal 01 $aret 0&&2 dari www.depkes.go.id.
*iagnosa -eperawatan
/dapun diagnosa keperawatan utama pada klien marah dengan masalah utama perilaku kekerasan adalah sebagai berikut :
!. .esiko Prilaku -ekerasan
0. ansietas
<. arga diri rendah
-arakteristik luka yang disebabkan oleh adanya -*.T, biasanya menunjukkan gambaran sebagai berikut:
!) +uka bilateral, terutama pada ekstremitas.
0) +uka pada banyak tempat.
<) -uku yang tergores, luka bekas sundutan rokok yang terbakar, atau bekas tali yang terbakar.
5) +uka lecet, luka gores minimal, bilur.
1) Perdarahan subkonjungtiva yang diduga karena adanya perlawanan yang kuatantara korban dengan pelaku.
KONSELING
PENGERTIAN:
G-onseling adalah hubungan antara dua orang (konselor dan klien) yang bersifat saling membantu, untuk menyelesaikan masalah tertentu
G-onseling merupakan proses kolaborasi yang bertujuan memberdayakan klien dalam menanggapi masalah kehidupan
G-onseling bertujuan mengembangkan mekanisme koping yang efektif dalam menghadapi masalah kehidupan
G*asar Pendekatan -onseling adalah pendekatan humanistik , yaitu keyakinan bahwa seseorang mempunyai kebebasan dan tanggung jawab untuk menentukan bagi
dirinya, mempunyai potensi untuk berkembang yang pada dasarnya baik
G-onselor berperan sebagai fasilitator yang mendorong diwujudkannya potensi yang baik itu, dan ia menghargai klien sebagai individu yang unik dan bebas serta
bertanggung jawab
MENGELOLA PIKIRAN 1 EMOSI NEGATI/:
PENGERTIAN:
H Pikiran negatif atau persepsi salah terhadap kejadian disekitar kehidupan kita akan mempengaruhi suasana emosi dan tindakan kita.
H Pikiran yang salah, memicu emosi dan tindakan yang tidak rasional, misalnya7-*.T
H %elajar mengenali pikiran salah lantas mengelolanya menjadi enerji positif bermanfaat untuk mencegah -*.T
H Pendekatan terapi kognitif perilaku sangat bermanfaat membantu proses perubahan
TU2UAN:
H -lien semakin bisa mengenali perilaku -*.T, siklus -*.T, faktor pemicu, dan dampaknya
H -lien terlatih untuk mengenali pikiran negatif dan motif yang mendorong tindakannya (-*.T)
H -lien mampu mengubah perilakunya dengan melalui perubahan pada pola pikirnya
terhadap masalah
METODE:
H $engenali pemikiran'pemikiran (kognisi) yang salah>keliru
H -ognisi tersebut merefleksikan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri,
kehidupan>dunia mereka, masa lalu I masa depan mereka.
H $engganti>mengoreksi distorsi kognisi tersebut dengan kognisi yang fungsional,
realistik, sehingga akan menuju kepada perbaikan klinis.
MENGELOLA KON/LIK
PENGERTIAN:
H -onflik dalam kehidupan keluarga, konflik sering dijadikan kambing hitam untuk mengesahkan tindakan -*.T oleh suami terhadap istri
H -onflik dalam kehidupan berkeluarga dapat melanggengkan -*.T
H $engelola konflik yang terjadi dalam kehidupan keluarga merupakan salah satu cara untuk mengurangi risiko -*.T
TU2UAN:
H $engubah pola relasi yang penuh konflik menjadi pola relasi yang saling
menghargai
H $engadopsi pola beradaptasi terhadap masalah interpersonal yang penuh
pertentangan menjadi kerjasama
MENGELOLA AMARAH
PENGERTIAN:
H /marah atau sifat tempramental sering dijadikan kambing hitam untuk mengesahkan terjadinya tindak kekerasan
H $engesahkan bahwa memang perilaku tempramentalnya yang menyebabkan klien melakukan -*.T adalah keliru dan tidak bertanggung jawab
H Tapi walau bagaimanapun latihan mengelola amarah tetap merupakan bagian penting yang perlu dilatihkan pada pelaku -*.T
TU2UAN:
H -lien memiliki keterampilan mengelola amarah dengan cara sederhada dan efektif
H -lien menyadari bahwa ledakan kemarahan membawa konsekuensi luasH Terbentuk suatu pola sehat dalam proses kognitif klien dalam merespon situasi yang
biasanya mencetuskan ledakan kemarahan
TEKNIK RELAKSASI
PENGERTIAN:
H $elatih relaksasi berarti melatih mengontrol diri
H $elatih relaksasi berarti menerima diri apa adanya
H $elatih relaksasi membantu berpikir jenih
H .elaksasi dapat mengendalikan berbagai bentuk manivestasi dari stres
H Pada akhirnya relaksasi bermanfaat untuk mengontrol dorongan perilaku
berkekerasan
TU2UAN:
H -lien mampu melakukan tehnik nafas lambat sebagai salah satu alat pereda
ketegangan
H -lien mampu melalukan relaksasi progresif singkat untuk menumbuhkan perasaan
tenang dan terkendali