Anda di halaman 1dari 11

Analisis Aktivitas Pendanaan

A. KEWAJIBAN
Kewajiban (liabilities) merupakaan klaim pihak luar atas asset dan
sumber daya perusahaan kini dan masa depan. Kewajiban dapat berupa
pendanaan atau operasi dan biasanya didahulukan daripada pemegang ekuitas.
Kewajiban pendanaan (financing liabilities) merupakan seluruh bentuk
pendanaan kredit seperti wesel bayar jangka panjang dan obligasi, pinjaman
jangka pendek, dan sewa. Kewajiban operasi (operating liabilities) merupakan
kewajiban yang timbul dari operasi seperti kreditor perdagangan, kredit yang
ditangguhkan, dan kewajiban pensiun. Kewajiban umumnya dilaporkan sebagai
lancer dan tidak lancar, biasanya didasarkan pada kapan kewajiban tersebut
jatuh tempo, dalam waktu satu tahun atau tidak. Ekuitas (equity) merupakan
klaim pemilik atas asset bersih perusahaan.

1. Kewajiban Lancar
Kewajiban lancar atau jangka pendek merupakan kewajiban yang
pelunasannya memerlukan penggunaan aktiva lancar atau munculnya
kewajiban lancar lainnya. Pada praktiknya, kewajiban lancar dicatat pada
nilai jatuh temponya, bukan pada nilai sekarangnya, karena pendeknya waktu
penyelesaian utang. Terdapat 2 jenis kewajiban lancar. Jenis pertama timbul
dari aktivitas operasi, meliputi utang pajak, pendapatan diterima di muka
(unearned revenue), uang muka, utang usaha dan akrual beban operasi
lainnya. Jenis kedua kewajiban lancar timbul dari aktivitas pendanaan,
meliputi pinjaman jangka pendek dan bagian utang jangka panjang jatuh
tempo dalam waktu 1 tahun.
Perusahaan menunjukkan kemampuan pendapatan kembali jangka
panjang dengan cara :
(1) telah menerbitkan efek utang jangka panjang atau efek ekuitas
untuk menggantikan kewajiban jangka pendek setelah tanggal neraca namun
sebelum diumumkan, atau
(2) telah melakukan kesepakatan dengan sumber pendanaan yang
menyetujui pendanaan kembali utang jangka pendek saat jatuh tempo.
Lesepakatan pendanaan yang dapat dibatalkan karena perlanggaran
persyaratan yang dapat dievaluasi secara berbeda oleh pihak yang bersepakat
(seperti perubahan material yang bertolak belakang atau kegagalan untuk
mempertahankan operasi yang memuaskan) tidak memenuhi kondisi ini.



2. Kewajiban Tak Lancar
Kewajiban tak lancar atau jangka panjang merupakan kewajiban yang
tidak jatuh tempo dalam waktu satu tahun atau 1 siklus operasi, mana yang
lebih panjang. Kewajiban ini meliputi pinjaman, obligasi, utang dan wesel
bayar. Obligasi merupakan bentuk kewajiban tak lancar yang umum. Nilai
nominal obligasi bersama tingkat kuponnya menentukan bunga tunai yang
dibayarkan atas obligasi tersebut. Kewajiban yang umum lainnya adalah
komitmen pembelian. Komitmen seperti ini memerlukan pengungkapan jika
kewajiban pembelian tanpa syarat ini menyediakan pendanaan bagi untuk
pemasok dan tidak diakui dalam neraca pembeli.

3. Analisis Kewajiban
Kewajiban merupakan klaim terhadap perusahaan sehingga kita
memerlukan keyakinan bahwa perusahaan mencatatnya. Pencatatan ini
meliputi pengungkapan jumlah dan tanggal jatuh tempo, termasuk kondisi,
halangan, dan batasan yang diberlakukan pada perusahaan. Auditor
merupakan satu sumber keyakinan dalam identifikasi dan pengukuran
kewajiban. Sumber keyakinan lain adalah akuntansi berpasangan atau ayat
berganda (double-entry accounting) yang mensyaratkan adanya penyeimbang
antara perolehan aktiva, sumber daya atau beban dengan atau pembebanan
sumber daya. Namun demikian, tidak terdapat keharusan perjurnalan untuk
sebagian besar komitmen dan kewajiban kontijen. Dalam kasus ini, analisis
kita sering kali harus didasarkan pada catatan atas laporan keuangan dan
pada komentar manajemen dalam laporan tahunan, serta dokumen-dokumen
terkait.

B. SEWA GUNA USAHA
Sewa guna usaha (lease) merupakan perjanjian kontraktual antara
pemilik (lessor) dan penyewa (lessee). Perjanjian tersebut memberikan hak
kepada lease untuk menggunakan aktiva yang dimiliki oleh lessor, selama masa
sewa guna usaha. Sebagai imbalannya, lease membayar sewa yang disebut
pembayaran sewa guna usaha minimum (minimum lease payment).

1. Akuntansi Dan Pelaporan Sewa Guna Usaha
Klasifikasi dan Pelaporan Sewa Guna Usaha
Lease mengklasifikasikan dan mencatat sewa guna usaha sebagai capital
lease jika pada saat terjadinya, transaksi tersebut memenuhi minimal satu
dari empat kriteria sebagai berikut.
a) Terdapat transfer kepemilikan aktiva kepada lessee pada akhir masa
sewa guna usaha;
b) Terdapat opsi untuk membeli aktiva pada harga murah (bargain
price);
c) Masa sewa guna usaha 75% atau lebih dari estimasi umur ekonomis
aktiva;
d) Nilai sekarang pembayaran sewa dan pembayaran sewa guna usaha
minimum lainnya sebesar 90% atau lebih dari nilai wajar aktiva
dikurangi dengan kredit pajak investasi yang ditahan oleh lessor.
Operating Lease, sewa guna usaha dapat diklasifikasikan sebagai
operating lease bila tidak satupun kriteria di atas terpenuhi. Dalam akuntansi
operating lease, lesse akan mencatat sewa sebagai beban saat terjadinya.
Pengungkapan Sewa Guna Usaha
Perusahaan harus mengungkapkan komitmen sewa guna usaha di masa
depan untuk capital lease dan operating lease yang tidak dapat
dibatalkan.pengungkapan ini berguna untuk tujuan analisis. Perusahaan
mengklasifikasikan seluruh sewa guna usaha sebagai operating lease dan
menyediakan jadwal pembayaran sewa di masa depan dalam catatan atas
laporan keuangan.

2. Analisis Sewa Guna Usaha
Dampak Operating Lease
Walaupun standar akuntansi memperbolehkan metode alternatif untuk
mencerminkan perbedaan ekonomi yang mendasari transaksi sewa guna
usaha, pilihan ini sangat sering disalahgunakan oleh lessee yang
menstrukturkan kontrak sewa guna usaha sehingga mereka dapat
menggunakan metode operating lease. Praktik ini mengurangi manfaat
laporan keuangan. Insentif bagi lessee untuk menstrukturkan sewa guna usaha
sebaai operating lease terkait dengan dampak operating lease terhadap
neraca dan laporan laba rugi. Dampak pada laporan keuangan ini adalah
sebagai berikut.
Operating lease menyajikan kewajiban lebih rendah dari seharusnya
dengan tidak menyajikan pendanaan sewa guna usaha dalam neraca.
Selain menyembunyikan kewajiban dari neraca, hal tersebut juga
menaikkan rasio solvabilitas (seperti debt to equity) yang sering
digunakan dalam analisis kredit.
Operating lease menyajikan aktiva lebih rendah dari seharusnya. Hal ini
dapat meningkatkan rasio tingkat pengembalian investasi, terutama
return on total assets.
Operating lease menunda pengakuan beban dibandingkan dengan capital
lease.
Operating lease menyajikan kewajiban lancar lebih rendah dari
seharusnya dengan tidak menyajikan porsi pembayaran pokok yang jatuh
tempo dalam waktu satu tahun dalam neraca. Hal tersebut menigkatkan
rasio lancar dan pengukuran likuiditas lainnya.
Operating lease memasukkan bunga dalam beban sewa.
Konversi Operating Lease Menjadi Capital Lease
Langkah-langkah mengkonversi operating lease menjadi captal lease
sebagai berikut.
a) Menilai apakah klasifikasi operating lease masuk akal
b) Menentukan estimasi nilai sekarang kewajiban operating lease
c) Menentukan nilai aktiva dan kewajiban sewa guna usaha
d) Mengestimasi dampak reklasifikasi sewa guna usaha pada laba yang
diharapkan.

C. IMBALAN PASCAPENSIUN
Terdapat 2 bentuk imbalan pascapensiun (postretirement benefit) ini:
(1) imbalan pensiun (pension benefit), di mana pemberi kerja menjanjikan
imbalan moneter kepada pekerja pascapensiun, dan (2) imbalan pasca pensium
lainnya (other postretireent employee benefit), di mana pemberi kerja
menyediakan imbalan lain (non-moneter) pascapensiun terutama pemeliharaan
kesehatan dan asuransi jiwa.
1. Imbalan Pensiun
Sifat Kewajiban Pensiun
Program pensiun (pensiun plan) merupakan janji pemberi kerja untuk
menyediakan imbalan pensiun bagi pekerja, dan perjanjian tersebut
melibatkan 3 pihak yaitu pemberi kerja, yang memberikan kontribusi pada
program pensiun, pekerja menerima imbalan dan dana pensiun. Program
pensiun imbalan pasti (defined benefit) menentukan jumlah pensiun yang
dijanjikan oleh pemberi kerja untuk disediakan bagi pensiunan. Program
pensiun imbalan pasti (defined contribution) menentukan jumlah kontribusi
pemberi kerja pada program pensiun.
Kewajiban Pensiun
1. Akumulasi kewajiban imbalan (accumulated benefit obligation)
merupakan nilai sekarang aktuaria kewajiban imbalan pensiun di masa
depan kepada pekerja pada saat pensiun berdasarkan kompensasi saat
ini dan jasa sampai saat ini.
2. Proyeksi kewajiban imbalan (projected benefit obligation) merupakan
estimasi aktuaria atas utang imbalan pensiun di masa depan kepada
pegawai pada saat pensiun berdasarkan kompensasi yang diharapkan di
masa depan dan jasa sampai saat ini.
Aktiva Pensiun dan Status Pendanaan
Perusahaan sering kali menganggap program pensiun yang didanai lebih
sebagai sumber dana untuk mendanai akuisisi mereka. Implikasi program
pensiun yang didanai lebih termasuk :
1. Perusahaan dapat menghentikan atau mengurangi kontribusi dana
pensiun sampai aktiva pensiun sama atau kurang dari proyeksi kewajiban
imbalan (projected benefit obligation/PBO).
2. Perusahaan dapat menarik kelebihan aktiva.
Biaya Pensiun
Biaya pensiun ekonomi (economic pension cost) atau beban merupakan
biaya bersih yang timbul dari perubahan posisi ekonomi bersih selama periode
bersangkutan. Biaya pensiun berulang (recurring pension cost) terdiri dari
atas dua komponen sebagai berikut.
1. Biaya jasa (service cost), yaitu nilai sekarang aktuaris atas imbalan
pensiun yang dihasilkan oleh pegawai berdasarkan rumus imbalan
pensiun.
2. Biaya bunga (interest cost), yaitu penambahan atas PBO yang timbul
karena pembayaran pensiun menjadi satu periode lebih dekat.
Biaya pensiun tidak berulang (nonrecurring pension cost) yang berasal
dari peristiwa seperti perubahan asumsi aktuaria atau perubahan ketentuan
program terdiri atas dua komponen sebagai berikut.
1. Keuntungan atau kerugian aktuaria (actuarial gain or loss), yaitu
perubahan PBO yang terjadi saat asumsi aktuaria dalam penghitungan
PBO direvisi.
2. Biaya jasa lalu (prior service cost) timbul karena perubahan ketentuan
program pensiun atas PBO.
Ketentuan Akuntansi Pensiun
Kerangka akuntansi pensiun diatur dalam SFAS 87 yang berfokus pada
tercapainya ukuran biaya pensiun yang stabil dan permanen.

2. Imbalan Karyawan Pascapensiun Lainnya
Imbalan karyawan pascapensiun lainnya (other posretirement employee
benefits/OPEB) merupakan imbalan yang diberikan oleh pemberi kerja
kepada pensiunan dan anggota keluarganya. Ciri-ciri dasar akuntansi pensiun
OPEB, meliputi: pelaporan biaya bersih, pengakuan yang ditunda, dan saling
hapus. Kewajiban pemberi kerja dalam SFAS 106 disebut akumulasi kewajiban
imbalan pascapensiun. Biaya OPEB yang dilaporkan meliputi komponen-
komponen: biaya jasa, biaya bunga, amortisasi keuntungan dan kerugian
bersih, amortisasi biaya jasa lalu, amortisasi kewajiban transisi, dan
pengembalian yang diharapkan atas aktiva program.
Pelaporan dan Analisis Imbalan Pascapensiun Lainnya
Terdapat prosedur tiga langkah untuk analisis imbalan pascapensiun,
yaitu (a) menentukan dan merekonsialiasi biaya dan kewajiban (atau aktiva)
imbalan ekonomis dan yang dilaporkan, (b) membuat penyesuaian yang
diperlukan atas laporan keuangan, khususnya neraca dan (c) mengevaluasi
asumsi aktuaria dan dampaknya pada laporan keuangan.

D. KONTIJENSI DAN KOMITMEN
Kontijensi (contingencies) merupakan keuntungan dan kerugian
potensial yang penyelesaiannya bergantung pada satu atau lebih peristiwa di
masa depan. Kontijensi rugi yang disebut liabilitas kontijensi (contingencies
liability) merupakan klaim potensial atas sumber daya perusahaan dan timbul
dari perkara hukum, ancaman pengambilalihan, penagihan piutangm klaim atas
garansi produk atau kerusakan produk, garansi kinerja, perhitungan pajak,
risiko yang diasuransikan sendiri dan kerugian properti.
Komitmen (commitments) merupakan klaim potensial atas sumber daya
perusahaan berdasarkan kinerja di masa depan sesuai kontrak. Komitmen tidak
diakui dalam laporan keuangan karena peristiwa sepeeti penandatanganan
kontrak atau penerbitan penerbitan pemesanan (purchase order) bukan
merupakan transaksi yang lengkap.
Analisis Liabilitas Kontijensi
Liabilitas kontijen yang dilaporkan seperti garansi jasa merupakan
estimasi. Keakuratan analisis atas liabilitas ini bergantung pada keakuratan
pada estimasi tersebut yang sering kali didasarkan pada pengalaman masa
lalu perusahaan atau harapan di masa depan. Cadangan untuk kerugian di
masa depan merupakan jenis kontijensi lainnya yang perlu diperiksa.
Konservatisme dalam akuntansi meminta perusahaan untuk mengakui
kerugian saat perusahaan dapat menentukannya atau dapat meramalkannya.

E. PENDANAAN DI LUAR LAPORAN POSISI KEUANGAN
Pendanaan di luar laporan posisi keuangan adalah tidak tercatatnya
liabilitas pendanaan tertentu. Sebagai contoh, salah satu cara mendanai
properti, pabrik dan peralatan adalah meminta pihak luar untuk
mendapatkannya, dan perusahaan sepakat untuk menggunakan aktiva tersebut
serta menyediakan dana yang cukup untuk melunasi utang.
Entitas Bertujuan Khusus (SPE)
Entitas bertujuan khusus (special purpose entities) yang sekarang
menjadi tidak terkenal setelah bangkrutnya Enron, telah menjadi mekanisme
pendanaan yang sah selama lebih dari dua dekade dan menjadi bagian tak
terpisahkan dari keuangan perusahan saat ini. Konsep SPE sebagai berikut.
1. SPE dibentuk oleh perusahaan sponsor dan dikapitalisasi dengan
investasi ekuitas, beberapa di antaranya harus berasal dari pihak ketiga
yang independen
2. SPE meningkatkan investasi ekuitas ini dengan meminjam dari pasar
kredit dan membeli aktiva dari atau untuk perusahaan sponsor
3. Arus kas dari aktiva digunakan untuk membayar utang dan menyediakan
pengembalian bagi investor ekuitas
Terdapat dua alasan kepopuleran SPE sebagai berikut :
1. SPE dapat menyediakan alternatif pendanaan berbiaya rendah daripada
meminjam langsung dari pasar kredit.
2. Dalam GAAP sekarang selama SPE distrukturkan dengan benar, SPE
diperlakukan sebagai entitas terpisah tidak dikonsolidasikan dengan
perusahaan sponsor.

F. EKUITAS PEMEGANG SAHAM
Ekuitas mengacu pada pendanaan oleh pemilik (pemegang saham)
perusahaan. Analisis atas ekuitas harus dipertimbangkan pengukuran dan
pelaporan standar ekuitas pemegang saha, meliputi sebagai berikut.
1. Mengklasifikasi dan memisahkan sumber utama pendanaan ekuitas.
2. Mempelajari hak untuk kelompok-kelompok pemegang saham dan
prioritas mereka pada likuidasi.
3. Mengevaluasi pembatasan hukum untuk distribusi ekuitas.
4. Menelaah kontrak, ketentuan hukum dan pembatasan-pembatasan
lainnya atas distribusi laba ditahan.
5. Menilai ketentuan dan provisi efek yang dapat dikonversi (convertible
securities), opsi saham dan kesepakatan lainnya yang berpotensi
menerbitkan saham.


1. Saham Modal
Pelaporan Saham Modal
Pelaporan Saham Modal, meliputi penjelasan atas perubahan jumlah
lembar modal yang diungkapkan dalam laporan keuangan atau catatan
terkait. Modal Kontribusi, merupakan total pendanaan yang diterima dari
pemegang saham sebagai pembayaran saham modal. Saham diperoleh
kembali (treasury stock atau buyback) merupakan saham perusahaan yang
dibeli kembali setelah sebelumnya diterbitkan dan dibayar penuh.msaham
diperoleh kembali umumnya dicatat pada harga perolehan dengan metode
penyajian yang umum adalah mengurangkan biaya saham diperoleh kembali
dari total ekuitas pemegang saham.
Klasifikasi Saham Modal
Saham modal (capital stock) merupakan saham yang diterbitkan kepada
pemegang saham ekuitas sebagai pembayaran aktiva dan jasa. Terdapat dua
jenis saham modal sebagai berikut.
Saham Preferen (preffered stock), yaitu kelompok khusus saham yang
memiliki fitur yang tidak dimiliki oleh saham biasa. Ciri-ciri umum saham
preferen meliputi :
1. Prioritas atas distribusi dividen termasuk hak partisipasi dan dividen
kumulatif;
2. Prioritas atas likuidasi, terutama penting karena selisih antara nilai
nominal dan nilai likuidasi dan nilai likuidasi saham preferen bisa
besar;
3. Dapat dikonversi menjadi saham biasa;
4. Tidak memiliki hak suara;
5. Harga pembelian kembali biasanya untuk melindungi pemegang saham
preferen dari pembelian kembali yang terlalu awal (harga pembelian
kembali premium sering kali makin menurun).
Saham Biasa (common stock), yaitu kelompok saham yang mencerminkan
hak kepemilikan serta memiliki risiko tinggi dan pengembalian tinggi atas
kinerja perusahaan. Saham biasa mencerminkan bunga sisa (residual
interest) dan tidak diprioritaskan namun mendapatkan laba bersih sisa
dan menyerap rugi bersih.
Analisis Saham Modal
Informasi yang lebih relevan bagi analisis adalah komposisi pos modal
dan pembatasan-pembatasan yang berlaku. Komposisi ekuitas penting karena
dapat memengaruhi hak sisa atas saham biasar, serta hak, risiko dan
pengembalian bagi investor ekuitas.

2. Laba Ditahan
Laba ditahan (retained earnings) merupakan modal yang dihasilkan
sebuah perusahaan. Akun laba ditahan mencerminkan akumulasi laba atau
rugi yang tidak dibagikan sejak berdirinya perusahaan. Laba ditahan
merupakan sumber utama distribusi dividen.
Dividen Tunai dan Dividen Saham
Dividen tunai (cash dividend) merupakan distribusi kas kepada pemegang
saham. Dividen ini merupakan jenis dividen yang paling umum dan saat
didistribusikan menjadi kewajiban bagi perusahaan. Dividen saham (stock
dividend) adalah distribusi saham perusahaan itu sendiri kerpada pemegang
saham secara proporsional. Dividen ini mencerminkan kapitalisasi laba secara
permanen. Akuntansi bagi dividen saham kecil (small stock dividend) atau
dividen saham sederhana (ordinary dividend), umumnya lebih kecil dari 20%
sampai 25% saham beredar, mensyaratkan penilaian dividen saham pada nilai
pasar pada tanggal pengumuman.
Pembatasan Laba Ditahan
Pembatasan atau persyaratan bala ditahan (restriction or convenant of
retained earnings) merupakan pembatasan atau ketentuan laba ditahan
sejumlah tertentu. Pembatasan penting meliputi pembatasan distribusi
dividen. Ketentuan obligasi dan kesepakatan pinjaman merupakan sumbe
rutama pembatasan tersebut. perusahaan sering kali mengungkapkan
pembatasan tersebut dalam catatan penjelas.
Apropriasi Laba Ditahan
Apropriasi laba ditahan (appropriations of retained earnings) merupakan
reklasifikasi laba ditahan untuk tujuan tertentu. Apropriasi laba ditahan
(kadang kala disebut cadangan) merupakan pengakuan bahwa perusahaan
tidak berniat untuk mendistribusikannya sebagai dividen, melainkan
mencadangkannya untuk tuntutan hukum, perluasan pabrik, asuransi diri
sendiri (self-insurance), dan kontijensi bisnis lainnya. Apropriasi juga tidak
membebaskan laporan keuangan dari beban potensial. Apropriasi
direklasifikasi kembalu sebagai laba ditahan bila tujuannya telah tercapai.
Spin-off dan Split-off
Pembagian anak perusahaan kead pemegang saham dapatmengambil
satu dari dua bentuk berikut:
Spin-off yaitu distribusi saham anak perusahaan kepada pemegang
saham sebagai deviden aset(investasi dalam anak perusahaan )dikurangi
sebagai saldo laba
Split-off yaitu pertukaran saham anak perusahaan yang dimiliki oleh
para pemegang saham ;aset(investasi anak perusahaan)dikurangi dan
sahaam yang diterima daripemegang saham di perlakukan sebagia saham
yang di tarik kembali.
Penyesuaian Periode Lalu
Penyesuaian periode lalu (prior period adjustment) terutama merupakan
koreksi kesalahan di periode laporan keuangan lalu. Perusahaan tidak
melaporkannya dalam laporan laba rugi, melainkan melaporkannya sebagai
penyesuaian (setelah pajak) atau saldo awal laba ditahan.
Analisis Laba Ditahan
Analisis pembatasan distribusi laba ditahan oleh pinjaman atau
kesepakatan lain umumnya mengungkapkan cakupan perusahaan dalam area
seperti distribusi dividen atau pencapaian modal kerja pada tingkat tertentu.
Pembatasan tersebut juga mengungkapkan kekuatan tawar-menawar
perusahaan dan posisinya dalam pasar kredit.

3. Nilai Buku per Lembar Saham
Perhitungan Nilai Buku per Lembar Saham
Nilai buku per lembar saham (book value per share) adalah angka per
lembar yang berasal dari likuidasi perusahaan pada jumlah yang dilaporkan
dalam neraca. Nilai buku (book value) merupakan istilah konvensional yang
mengacu pada nilai aktiva bersih, yaitu total aktiva dikurangi dengan klaim
terhadapnya.
Relevansi Nilai Buku per Lembar Saham
Nilai buku memiliki peranan penting dalam analisis laporan keuangan.
Aplikasi meliputi:
1. Nilai buku, dengan potensi penyesuaian, sering kali digunakan dalam
penilaian kesepakatan merger.
2. Analisis perusahaan dengan komposisi besar aktiva likuid (institusi
keuangan, investasi, asuransi, dan bank) sangat bergantung pada nilai
buku.
3. Analisis obligasi kualitas utama dan saham preferen sangat memerlukan
penutupan aktiva (asset coverage).
4. Kewajiban Pada Ujung Ekuitas

Saham Preferen yang Dapat Ditarik Kembali
Analisis harus mewaspadai efek ekuitas (umumnya saham preferen) yang
memiliki provisi penarikan kembali wajib, yang membuatnya lebih mirip
hutang daripada ekuitas. Efek tersebut tersebut mengharuskan perusahaan
untuk membayar dana pada tanggal tertentu.
Hak Minoritas
Hak minoritas (minority interest) dalam perusahaan yang dikonsolidasi
umumnya disajikan dalam laporan posisi keuangan, di antara kewajiban dan
ekuitas. Namun demikian, hak minoritas bukanlah klaim langsung atas sumber
daya perusahaan. Hak minoritas adalah kepemilikan proporsional pemegang
saham minoritas atas anak perusahaan yang dikonsolidasikan tersebut.