Anda di halaman 1dari 9

K KL LA AS SI IF FI IK KA AS SI I D DI IA AR RE E

6 6

Diare dibagi menjadi dua kategori :
1. Diare Akut
Diare akut didefinisikan secara konsepsional sebagai suatu keadaan serangan diare tiba-
tiba yang segera berangsur-angsur menyembuh pada seseorang yang sebelumnya sehat
dari beberapa jam sampai 14 hari.
6

2. Diare Kronis
Diare kronis adalah suatu keadaan bertambahnya kekerapan dan keenceran tinja yang
dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan baik secara terus menerus atau
berulang, dapat berupa gejala fungsional atau akibat suatu penyakit berat.

M MA AN NI IF FE ES ST TA AS SI I K KL LI IN NI IS S
Awalnya bayi dan anak menjadi cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja cair dan mugkin disertai
lendir dan atau darah. Warna tinja makin lama berubah kehijau-hijauan karena tercampur
dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin
lama makin asam akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak
dapat diabsorpsi usus selama diare.
2

Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh
lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit.
Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai
tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi
cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
2
Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi berdasarkan:
a. Kehilangan berat badan (Darrow)
5

- Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan BB kurang dari 5 %
- Dehidrasi ringan, bila terjadi penurunan BB 5-6%
- Dehidrasi sedang, bila terjadi penurunan BB 7-10%
- Dehidrasi berat, bila terjadi penurunan BB lebih besar dari 10%
b. Penentuan derajat dehidrasi berdasarkan Maurice King Score (1974)
5

Bagian tubuh
yang dilihat
0 1 2
Keadaan umum Kompos mentis Gelisah, cengeng Mengigau, koma,
syok
Kekenyalan kulit Normal Sedikit kurang Sangat kurang
Mata Normal Cekung Sangat cekung
Nadi Kuat <120x/mnt Sedang 120-
140x/mnt
> 140 x/mnt
Ubun-ubun besar Normal Cekung Sangat cekung
Mulut Normal Kering Sangat kering,
sianosis
Nafas 20-30x.mnt 30-40x/mnt > 40 x/mnt


Catatan:
* Untuk menentukan turgor, kulit perut dijepit antara ibu jari dan telunjuk selama 30-60
detik, kemudian dilepas. Jika kulit kembali normal dalam waktu:
1 detik: turgor agak kurang (dehidrasi ringan)
1-2 detik: turgor kurang (dehidrasi sedang)
2 detik: turgor sangat kurang (dehidrasi berat)
* Berdasarkan skor yang terdapat pada seorang penderita dapat ditentukan derajat
dehidrasinya: 0-2 : dehidrasi ringan
3-6 : dehidrasi sedang
7-10: dehidrasi berat
* Pada anak dengan ubun-ubun besar sudah menutup, nilai ubun-ubun besar diganti dengan
banyaknya frekuensi kencing
c. Penilaian dehidrasi menurut WHO

PENILAIAN Dehidrasi ringan Dehidrasi sedang Dehidrasi berat
1. Lihat :
Ku

Baik, sadar

Gelisah, rewel

Lesu, lunglai/tidak
sadar
Mata Normal Cekung Sangat cekung dan
kering
Air mata Ada Tidak ada Tidak ada
Mulut danLidah Basah Kering Sangat kering
Rasa haus Minum biasa, tidak
haus
Haus, ingin minum
banyak
Malas minum/ tidak
bias minum
2. Periksa
Turgor kulit

Kembali cepat

Kembali lambat

Kembali sangat lambat
3. Hasil
Pemeriksaan
Tanda dehidrasi Dehidrasi ringan/
sedang. Bila ada 1
tanda / lebih dari
satu 1 tanda.
Dehidrasi berat. Bila
ada 1 tanda + 1/ >
tanda lain

Berdasarkan tonisitas darah, dehidrasi dapat dibagi atas :
- Dehidrasi Isotonik, bila kadar Na dalam plasma antara 131 150 mEq/L
- Dehidrasi Hipotonik, bila kadar Na plasma < 131 mEq/L
- Dehidrasi Hipertonik, bila kadar Na plasma >150 mEq/L

Gejala-gejala dehidrasi: Isotonik, hipotonok, dan hipertonik
Gejala Hipotonik Isotonik Hipertonik
Rasa haus (-) (+) (+)
Berat badan Menurun sekali Menurun Tidak jelas
Turgor kulit Menurun sekali Menurun Kering sekali
Kulit/selaput lendir Basah Kering Irritable, kejang-
kejang
Gejala SSP Apatis Koma Hiperrefleksi
Sirkulasi Jelek sekali Jelek Relatif masih baik
Nadi Sangat lemah Cepat & lemah Cepat & keras
Tekanan darah Sangat rendah Rendah Rendah
Banyaknya kasus 20-30% 70% 10-20%




Tabel. Gejala Khas Diare Akut Oleh Berbagai Penyebab
7

Gejala klinik Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Kolera
Masa tunas 12-72 jam 24-48 jam 6-72 jam 6-72 jam 6-72 jam 48-72 jam
Panas ++ ++ ++ - ++ -
Enek dan
muntah
Sering Jarang Sering - - Sering
Nyeri perut Tenesmus Tenesmus
kramp
Tenesmus
kolik
+ Tenesmus
kramp
Kramp
Lamanya sakit 5-7 hari > 7 hari 3-7 hari 2-3 hari Variasi 3 hari

Sifat tinja
Volume Sedang Sedikit Sedikit Banyak Sedikit Banyak
Frekuensi 5-10x/hri >10 x/hari Sering Sering Sering Terus-menerus
Konsistensi Cair Lembek Lembek Cair Lembek Cair
Lendir
Darah - Sering Kadang-kadang - + -
Bau - + Busuk + Tidak Amis khas
Warna Kuning-hijau Merah hijau Kehijauan Tak berwarna Merah-hijau Seperti air
cucian beras
Leukosit - + + - + -
Lain-lain Anorexia Kejang + Sepsis + Metoorismus Infeksi
sistemik
+

Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan
hipovolemik dengan gejala-gejala yaitu denyut jantung menjadi cepat, kecil, tekanan darah
menurun, penderita menjadi lemah, kesadaran menurun (apatis, somnolen dan kadang-kadang
sampai sopor-koma). Akibat dehidrasi, diuresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila
sudah ada asidosis metabolik, penderita akan tampak pucat dengan pernafasan yang cepat dan
dalam (pernafasan Kuszmaul).
2
Asidosis metabolik terjadi karena: 1) Kehilangan NaHCO3 melalui tinja, 2) Ketosis
kelaparan, 3) Produk-produk metabolik yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (oleh
karena oliguria atau anuria), 4) Berpindahnya ion natrium dari cairan ekstrasel ke cairan
intrasel, 5) Penimbunan asam laktat (anoksia jaringan tubuh).
2

Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi:
1. Kehilangan air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak daripada pemasukan air
(input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada penderita diare.
2

2. Gangguan keseimbangan asam-basa (metabolik asidosis)
a. Kehilangan Na-biokarbonat bersama tinja
b. Adanya ketosis kelaparan. Metabolisme lemak tidak sempurna sehingga benda keton
tertimbun dalam tubuh.
c. Terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoksia jaringan
d. Produk metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan
oleh ginjal (terjadi oligura/anuria).
e. Pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler kedalam cairan intraseluler.
2



3. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% dari anak-anak yang menderita diare. Pada anak- anak
dengan gizi cukup/baik, hipoglikemia ini jarang terjadi, lebih sering terjadi pada anak
yang sebelumnya sudah menderita KKP. Hal ini terjadi karena:
a. Penyimpanan/persediaan glikogen dalam hati terganggu.
b. Adanya gangguan absorpsi glukosa (walaupun jarang terjadi)
Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun sampai 40 mg%
pada bayi dan 50 mg% pada anak-anak. Gejala-gejala hipoglikemia tersebut dapat
berupa: lemas, apatis, peka rangsang, tremor, berkeringat, pucat, syok, kejang sampai
koma. Terjadinya hipoglikemi ini perlu dipertimbangkan jika terjadi kejang yang tiba-
tiba tanpa adanya panas atau penyakit lain yang disertai dengan kejang.
4. Gangguan gizi
Sewaktu anak menderita diare, sering terjadi gangguan gizi dengan akiba terjadinya
penurunan berat dalam waktu yang singkat. Hal ini disebabkan karena:
a. Makan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare dan/atau muntahnya akan
bertambah hebat. Orang tua sering hanya memberikan teh saja (teh diet)
b. Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengenceran dan susu yang encer
ini diberikan terlalu lama.
c. Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorpsi dengan baik karena
adanya hiperperistaltik.
5. Gangguan sirkulasi
Sebagai akibat diare dengan/tanpa disertai muntah, dapat terjadi gangguan sirkulasi darah
berupa renjatan (shock) hipovolvemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang dan terjadi
hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat mengakibatkan pendarahan dalam otak,
kesadaran menurun, (soporokomatosa) dan apabila tidak segera ditolong penderita dapat
meninggal.

P Pe em me er ri ik ks sa aa an n K Kh hu us su us s
5 5

1 1. . P Pe em me er ri ik ks sa aa an n T Ti in nj ja a
Yang dapat dilakukan pada pemeriksaan tinja ialah kultur bakteri patogen,
pemeriksaan lekosit, mengukur kadar toksin Clostridium difficile, dan pemeriksaan
parasit). Semua pemeriksaan di atas dapat dikerjakan pada kasus diare berdarah.
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan ialah : mengukur kadar Na
+
dan K
+
pada cairan
tinja untuk mengetahui apakah jenis diare osmotik atau tidak. Diare osmosis ditandai oleh
perbedaan tekanan osmotik tinja >40, dimana nilai tekanan osmotik tinja ialah tekanan
osmolaritas (serum) [ 2X(Na + K) ](tinja). Ditemukannya darah dan lekosit
menandakan inflamasi saluran pencernaan. Adanya gram stain, membuktikan infeksi
staphilococcus, campylobacters atau candida. Steatore membuktikan adanya malabsorpsi
atau insufisiensi pankreas.
5

2 2. . P Pe em me er ri ik ks sa aa an n L La ab bo or ra at to or ri iu um m
Pemeriksaan Total iron Binding Capacity (TiBC) dapat menandakan anemia
(kehilangan darah baik akut maupun kronis, malabsorpsi besi, asam folate, atau vit B
12
),
lekositosis menandakan inflamasi. Pemeriksaan kadar serum kalsium, albumin, besi
kolesterol, asam folat dapat membuktikan adanya gangguan defisit dan malasorbsi dari
intestinum.
5


Pengobatan Diare
2
1. Rehidrasi
Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita diare, harus
diperhatikan hal-hal berikut :
Jumlah cairan yang diberikan harus sama dengan :
Jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan atau muntah (previous water losses
= PWL) ditambah dengan
Banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin dan pernapasan (Normal water
losses = NWL), ditambah dengan
Banyak cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung
(Concomitant water losses = CWL)
Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi serta berat masing-masing anak atau
golongan umur.
Jumlah cairan yang hilang pada anak umur < 2 tahun (berat badan 3-10 kg) sesuai derajat
dehidrasi

Derajat
dehidrasi
PWL NWL CWL Jumlah
D. Ringan 50 100 25 175
D. Sedang 75 100 25 200
D. Berat 125 100 25 250
Jumlah cairan yang hilang pada anak umur 2-5 tahun (berat badan 10-15 kg) sesuai
derajat dehidrasi

Derajat
dehidrasi
PWL NWL CWL Jumlah
D. Ringan 30 80 25 135
D. Sedang 50 80 25 155
D. Berat 80 80 25 185
Jumlah cairan yang hilang pada anak umur > 5 tahun (berat badan 15 > 25 kg)

Derajat
dehidrasi
PWL NWL CWL Jumlah
D. Ringan 25 65 25 115
D. Sedang 50 65 25 140
D. Berat 80 65 25 170


2. Medikamentosa
V. cholera : Tetracyclin 40-50 mg/kgBB/hari, selama 3 hari
Kloramfenikol 50-100 mg/kgBB/hari, selama 5 hari
E. Coli : Neomytcin 50-100 mg/kgBB/hari, selama 5 hari
Colistin 100.000 U/kgBB/hari, selama 5 hari
Shigella : Ampicillin 100 mg/kgBB/hari, selama 5 hari atau
Trimetoprin (TMP), Sulfametoksazole (SMX)
TMP 10 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis, selama 5 hari
Amubiasis : Metronidazole 30 mg/kgBB/hari selama 5-10 hari

3. Diatetik
Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7
kg. Jenis makanan yang dapat diberikan :
Susu (ASI dan PASI yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tidak jenuh)
Makanan setengah padat atau padat rendah serat
Untuk anak di atas 1 tahun dengan berat badan lebih dari 7 kg, dapat diberikan makanan
padat atau makanan cair. Susu sesuai dengan kebiasaan makan di rumah.

4. Edukasi
Menjaga kebersihan alat-alat makanan
Memasak air minum dan makanan dengan matang
Mencuci tangan dengan sabun setelah bunag air besar atau menceboki anak dan
sebelum makan
Bila menggunakan sumber air tanah, hendaknya berjarak minimal 10 meter dari
peresapan septiktank
Tidak membuang air besar di sembarang tempat




















DAFTAR PUSTAKA


1. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Gastroenterologi. Ilmu Kesehatan Anak. Jilid
I. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1985, hal.
283-310.
2. Noerasid N. & dkk. Gastroenteritis (Diare) Akut, Gastroenterologi Anak Praktis. Bagian
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1988, hal. 51-76.
3. Firmansyah A., dkk. Penyakit Radang Usus. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak, ed.
Markum H. dkk., Jilid I, bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, hal. 448-474.
4. Prescilla MP,MD. Pediatric Gastroenteritis. Available at:
http://emedicine.medscape.com/article/964131-overview . Accessed on September 13,
2012.
5. Latief,Abdul et al. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 1.Cetakan X. FKUI. Jakarta :
2002. Hlm 283-294.
6. Juffire M, Mulyani NS. Modul Pelatihan Diare. UKK Gastro-Hepatologi IDAI. 2009.
7. Wiku Adisasmito. Faktor Resiko Diare Pada Bayi dan Balita di Indonesia: Systematic
review Penelitian Akademik Bidang Kesehatan Masyarakat. Makara, Kesehatan Juni
2007; 1-10