Anda di halaman 1dari 20

INJEKSI SURFACTANT

Chemical Flooding (Injeksi Kimia) adalah salah satu jenis metode pengurasan minyak tahap lanjut (EOR)
dengan jalan menambahkan zat-zat kimia ke dalam air injeksi untuk menaikkan perolehan minyak
sehingga akan menaikkan efisiensi penyapuan dan atau menurunkkan saturasi minyak sisa yang
tertinggal di reservoir.
Injeksi kimia memiliki prospek yang bagus, pada reservoir-reservoir yang telah sukses dilakukan injeksi
air dengan kandungan minyak yang masih bernilai ekonomis. Tetapi pengembangannya masih lambat,
karena biaya dan resiko yang tinggi serta teknologinya yang kompleks. Beberapa faktor yang dirasakan
penting dalam menentukan keberhasilan suatu injeksi kimia ialah :
Kedalaman
Tingkat heterogenitas reservoir
Sifat-sifat petrofisik
Kemiringan
Mekanisme pendorong
Cadangan minyak tersisa
Saturasi minyak tersisa
Viskositas minyak

Ada 3 tipe umum yang termasuk dalam injeksi kimia, yaitu Injeksi Polymer, Injeksi Surfactant, dan Injeksi
Alkaline. Tetapi seiring dengan perkembangan penelitian, ada kombinasi antara injeksi surfactant dan
injeksi polymer atau yang lebih dikenal dengan nama Micellar-Polymer Flooding.

Injeksi Polymer meliputi penambahan bahan pengental (thickening agent) ke dalam air injeksi untuk
meningkatkan viskositasnya. Bahan pengental yang biasa dipakai adalah polymer. Metode ini memiliki
keuntungan dapat mengurangi volume total air yang diperlukan untruk mencapai saturasi minyak sisa
dan meningkatkan efisiensi penyapuan karena memperbaiki perbandingan mobilitas minyak-air.

Kadang sering dipakai berselang-seling dengan surfactant. Injeksi surfactant betujuan untuk menurunkan
tegangan antar muka dan mendesak minyak yang tidak terdesak hanya dengan menggunakan
pendorong air sehingga menaikkan efisiensi pendesakan dalam skala pori. Injeksi alkaline merupakan
sebuah proses dimana pH air injeksi dikontrol pada harga 12-13 untuk memperbaiki perolehan minyak,
biasanya dilakukan dengan penambahan NaOH. Untuk micellar-polymer flooding akan memberikan
tingkat perolehan minyak yang lebih besar dibanding dengan ketiga injeksi kimia lainnya, dikarenakan
micellar-polymer flooding dapat meningkatkan efisiensi penyapuan dan efisiensi pendesakan sehingga
akan meningkatkan mobilitas minyak di reservoir.

Injeksi Surfactant
Injeksi surfactant digunakan untuk menurunkan tegangan antarmuka minyak-fluida injeksi supaya
perolehan minyak meningkat. Jadi effisiensi injeksi meningkat sesuai dengan penurunan tegangan
antarmuka (L.C Uren and E.H Fahmy). Ojeda et al (1954) mengidentifikasikan parameter-parameter
penting yang menentukan kinerja injeksi surfactant, yaitu :
Geometri pori
Tegangan antarmuka
Kebasahan atau sudut kontak
P atau P/L
Karakteristik perpindahan kromatografis surfactant pada sistem tertentu

Injeksi surfactant ini ditujukan untuk memproduksikan residual oil yang ditinggalkan oleh water drive,
dimana minyak yang terjebak oleh tekanan kapiler, sehingga tidak dapat bergerak dapat dikeluarkan
dengan menginjeksikan larutan surfactant. Percampuran surfactant dengan minyak membentuk emulsi
yang akan mengurangi tekanan kapiler.
Setelah minyak dapat bergerak, maka diharapkan tidak ada lagi minyak yang tertinggal. Pada surfactant
flooding kita tidak perlu menginjeksikan surfactant seterusnya, melainkan diikuti dengan fluida pendesak
lainnya, yaitu air yang dicampur dengan polymer untuk meningkatkan efisiensi penyapuan dan akhirnya
diinjeksikan air.

Untuk memperbaiki kondisi reservoir yang tidak diharapkan, seperti konsentrasi ion bervalensi dua,
salinitas air formasi yang sangat tinggi, serta absorbsi batuan reservoir terhadap larutan dan kondisi-
kondisi lain yang mungkin dapat menghambat proses surfaktan flooding, maka perlu ditambahkan
bahan-bahan kimia yang lain seperti kosurfaktan (umumnya alkohol) dan larutan NaCl. Disamping
kedua additive diatas, yang perlu diperhatikan dalam operasi surfaktan flooding adalah kualitas dan
kuantitas dari zat tersebut.

Pada dasarnya ada dua konsep yang telah dikembangkan dalam penggunaan surfactant untuk
meningkatkan perolehan minyak. Konsep pertama adalah larutan yang mengandung surfactant dengan
konsentrasi rendah diinjeksikan. Surfactant dilarutkan di dalam air atau minyak dan berada dalam jumlah
yang setimbang dengan gumpalan-gumpalan surfactant yang dikenal sebagai micelle. Sejumlah besar
fluida (sekitar 15 60% atau lebih) diinjeksikan ke dalam reservoir untuk mengurangi tegangan
antarmuka antara minyak dan air, sehingga dapat meningkatkan perolehan minyak.

Pada konsep kedua, larutan surfactant dengan konsentrasi yang lebih tinggi diinjeksikan ke dalam
reservoir dalam jumlah yang relatif kecil (3 20% PV). Dalam hal ini, micelles yang terbentuk bisa berupa
dispersi stabil air di dalam hidrokarbon atau hidrokarbon di dalam air.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya surfactant pada permukaan air/minyak antara lain :
Jenis asam organik yang terkandung
Komposisi kimiawi minyak mentah
Kadar wax, dan sebagainya
Penelitian yang mendalam mengenai faktor-faktor ini belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, didalam
prakteknya, harus kasus perkasus perlu diteliti. Dengan melihat kenyataan bahwa penurunan tegangan
antarmuka yang drastis dapat memperbesar recovery, maka percobaan pemakaian surfactant yang
dimanufaktur kemudian banyak dilakukan. Dan juga jenis minyak buminya tidak lagi tergantung pada
berapa acid numbernya.

Dasar pertimbangan yang diguankan untuk memilih metoda pendesakan surfactant pada suatu reservoir,
yang diperoleh dari data empiris diantaranya meliputi
1. Sifat fisik fluida reservoir yang terdiri dari : gravity minyak, viskositas minyak, komposisi
dan kandugan kloridanya.
2. Sifat fisik batuan reservoir yang terdiri dari : saturasi minyak sisa, tipe formasinya,
ketebalan, kedalaman, permeabilitas rata-rata dan temperaturnya.
Kriteria seleksi untuk injeksi surfactant yang diharapkan dapat menghasilkan perolehan optimum adalah
sebagai berikut :
1.Kualitas crude oil
Gravity : > 25 API
Viskositas : < 30 cp
Permeabilitas rata-rata (mD) : < 250
Kandungan klorida : < 20000 ppm
Saturasi minyak sisa : > 20
Jenis batuan : Sandstone
Komposisi diutamakan minyak menengah ringan (Light Intermediate)
2.Surfactant dan polimer
Ukuran dari slug adalah 5 15% dari volume pori (PV) untuk sistim surfactant yang tinggi
konsentrasinya sedangkan untuk yang rendah besarnya 15 50% dari volume pori (PV).
Konsentrasi polimer berkisar antara 500 2000 mg/i
Volume polimer yang diinjeksikan kira-kira 50% dari volume pori.
3.Kondisi reservoir
Saturasi minyak >30% PV
Tipe fomasi diutamakan sandstone
Ketebalan formasi > 10 ft
Permeabilitas > 20 md
Kedalaman < 8000 ft
Temperatur < 175F
4.Batasan lain
Penyapuan areal oleh water floding sebelum injeksi surfactant diusahakan lebih besar dari 50%
Diusahakan formasi yang homogen
Tidak terlalu banyak mengandung annydrite, pysum atau clay.
Salinitas lebih kecil dari 20000 ppm dan kandungan ion divale (Ca dan Mg) lebih kecil dari 500
ppm.
Sifat sifat Surfactant
Surfactant adalah bahan kimia yang molekulnya selalu mencari tempat diantara dua fluida yang tidak
mau bercampur dan surfactant mengikat kedua fluida tersebut menjadi emulsi. Surfactant yang berada di
dalam slug harus dibuat agar membentuk micelle, yaitu surfactant yang aktif dan mampu mengikat air
dan minyak pada konsentrasi tertentu. Jika konsentrasinya masih kecil, maka campuran surfactant
tersebut masih berupa monomor (belum aktif). Untuk itu setiap slug perlu diketahui CMC-nya (Critical
Micelles Cocentration) yaitu konsentrasi tertentu, sehingga campuran surfactant yang semula monomor
berubah menjadi micelle.

Surfactant yang umum dipakai dalam proses eksploitasi EOR adalah sodium sulfonate yang ionik
bermuatan negatif. Sedangkan jenis lain jarang dipakai. Larutan surfactant yang biasa digunakan di
lapangan untuk pendesakan minyak sisa hasil pendorongan air, terdiri dari komponen surfactant, air,
minyak dan alkohol sebagai kosurfactant. Campuran cairan surfactant ini diijeksikan ke dalam reservoir
sebagai slug kemudian didorong oleh larutan polimer untuk memperbaiki mobilitas aliran, selanjutnya
diikuti pendorongan air agar hemat bahan polimer. Slug yang biasa digunakan dari 5 - 15 % PV (Pore
Volume), diharapkan kemampuannya menghasilkan tambahan perolehan diatas perolehan jika
digunakan secondery recovery.

Variabelvariabel yang mempengaruhi Injeksi Surfactant
Variabel-variabel yang mempengaruhi injeksi surfactant diantaranya adalah adsorbsi, konsentrasi slug
surfactant, clay, salinitas.
Adsorbsi
Persoalan yang dijumpai pada injeksi surfactant adalah adsorbsi batuan reservoir terhadap larutan
surfactant. Adsorbsi batuan reservoir pada slug surfactant terjadi akibat gaya tarik-menarik antara
molekul-molekul surfactant dengan batuan reservoir dan besarnya gaya ini tergantung dari besarnya
afinitas batuan reservoir terhadap surfactant. Jika adsorbsi yang terjadi kuat sekali, maka surfactant yang
ada dalam slug surfactant menjadi menipis, akibatnya kemampuan untuk menurunkan tegangan
permukaan minyak-air semakin menurun.
Mekanisme terjadinya adsorbsi adalah sebagai berikut, surfactant yang dilarutkan dalam air yang
merupakan microemulsion diinjeksikan ke dalam reservoir. Slug surfactant akan mempengaruhi tegangan
permukaan minyak-air, sekaligus akan bersinggungan dengan permukaan butiran batuan. Pada saat
terjadi persinggungan ini molekul-molekul surfactant akan ditarik oleh molekul-molekul batuan reservoir
dan diendapkan pada permukaan batuan secara kontinyu sampai mencapai titik jenuh. Akibatnya kualitas
surfactant menurun karena terjadi adsorbsi sehingga mengakibatkan fraksinasi, yaitu pemisahan
surfactant dengan berat ekivalen rendah didepan dibandingkan dengan berat ekivalen tinggi.
Konsentrasi Slug Surfactant
Konsentrasi surfactant juga berpengaruh besar terhadap terjadinya adsorbsi batuan reservoir pada
surfactant. Makin pekat konsentrasi surfactant yang digunakan, maka akan semakin besar adsorbsi yang
diakibatkannya mencapai titik jenuh.
Clay
Terdapatnya clay dalam reservoir harus diperhitungkan karena clay dapat menurunkan recovery minyak,
disebabkan oleh sifat clay yang suka air (Lyophile) menyebabkan adsorbsi yang terjadi besar sekali.
Untuk reservoir dengan salinitas rendah, peranan clay ini sangat dominan.
Salinitas
Salinitas air formasi berpengaruh terhadap penurunan tegangan permukaan minyak-air oleh surfactant.
Untuk konsentrasi garam-garam tertentu, NaCl akan menyebabkan penurunan tegangan permukaan
minyak-air tidak efektif lagi. Hal ini disebabkan karena ikatan kimia yang membentuk NaCl adalah ikatan
ion yang sangat mudah terurai menjadi ion Na+ dan ion Cl-, begitu juga halnya dengan molekul-molekul
surfactant.Di dalam air ia akan mudah terurai menjadi ion RSO3- dan H+. Konsekuensinya bila pada
operasi injeksi surfactant terdapat garam NaCl, maka akan membentuk HCl dan RSO3Na, dimana HCl
dan RSO3Na buakan merupakan zat aktif permukaan dan tidak dapat menurunkan tegangan permukaan
minyak-air.

Selain mempengaruhi tegangan permukaan minyak-air, garam NaCl juga mengakibatkan fraksinasi
surfactant yang lebih besar, sampai batuan reservoir tersebut mencapai titik jenuh.

Mekanisme Injeksi Surfactant
Larutan surfactant yang merupakan microemulsion yang diinjeksikan ke dalam reservoir, mula-mula
bersinggungan dengan permukaan gelembung-gelembung minyak melalui film air yang tipis, yang
merupakan pembatas antara batuan reservoir dan gelembung-gelembung minyak. Surfactant memulai
perannya sebagai zat aktif permukaan untuk menurunkan tegangan permukaan minyak-air. Pertama
sekali molekul-molekul surfactant yang mempunyai rumus kimia RSO3H akan terurai dalam air menjadi
ion-ion RSO3- dan H+. Ion-ion RSO3- akan bersinggungan dengan gelembung-gelembung minyak, ia
akan mempengaruhi ikatan antara molekul-molekul minyak dan juga mempengaruhi adhesion tension
antara gelembung-gelembung minyak dengan batuan reservoir, akibatnya ikatan antara gelembung-
gelembung minyak akan semakin besar dan adhesion tension semakin kecil sehingga terbentuk oil bank
didesak dan diproduksikan.

Pada operasi di lapangan, setelah slug surfactant diinjeksikan kemudian diikuti oleh larutan polimer. Hal
ini dilakukan untuk mencegah terjadinya fingering dan chanelling. Karena surfactant + kosurfactant
harganya cukup mahal, di satu pihak polymer melindungi bank ini sehingga tidak terjadi fingering
menerobos zone minyak dan di lain pihak melindungi surfactant bank dari terobosan air pendesak.

Agar slug surfactant efektivitasnya dalam mempengaruhi sifat kimia fisika sistem fluida di dalam batuan
reservoir dapat berjalan baik, maka hal-hal diatas harus diperhatikan. Misalnya mobilitas masing-masing
larutan harus dikontrol. Mobilitas slug surfactant harus lebih kecil dari mobilitas minyak dan air
didepannya. Pelaksanaan di lapangan untuk injeksi surfactant meliputi sistem perlakuan terhadap air
injeksi, sistem pencampuran slug surfactant dan sistem injeksi fluida.

Sistem Injeksi Fluida
Injeksi fluida ke dalam reservoir dengan melalui beberapa sumur umumnya dilakukan dengan memakai
sistem manifold. Karena biasanya digunakan pompa positive displacement untuk menginjeksikan fluida di
dalam reservoir, laju aliran volumetris total dapat dikontrol, untuk melihat program injeksi secara
keseluruhan.

Tanpa alat pengontrol aliran pada masing-masing sumur, aliran relatif ditentukan dengan mengukur daya
tahan aliran dalam aliran masing-masing sumur injeksi. Untuk mengimbangi injeksi yang tak terkontrol,
dibutuhkan beberapa jenis kontrol aliran pada masing-masing sumur.

Jika fluida yang diinjeksikan adalah atau slug tercampur (miscible slug), throttling valve sederhana cukup
untuk mengukur aliran. Jika sejumlah sumur mendapat fluida dari satu pompa dalam jumlah yang besar,
alat-alat pengontrol dapat menjadi tidak stabil karena seluruh sistem saling berhubungan. Perubahan
sedikit saja pada perawatan throttling pada sumur menyebabkan perubahan aliran di sebuah sumur yang
lainnya, karena laju alir total tetap konstan. Namun sistem ini tetap dapat bekerja jika cukup
memonitoring terhadap laju injeksi pada masing-masing sumur.

Performance Reservoir Setelah Injeksi Surfactant
Performance reservoir setelah injeksi surfactant pada dasarnya tidak sama antara satu reservoir dengan
reservoir lainnya, tergantung pada karakteristik reservoir tersebut yang lebih sesuai atau tepat untuk
pelaksanaan injeksi surfactant. Namun dari data-data yang diperoleh dari keberhasilan injeksi surfactant
pada sumur-sumur produksi yang telah dilakukan, dapat diambil performance reservoir setelah injeksi
surfactant.

Perolehan minyak yang dapat diharapkan dari injeksi surfactant adalah sekitar 82% dari OOIP, atau
bahkan lebih jika dilkakukan injeksi surfactant di laboratorium dengan memakai model batupasir. Namun
keseluruhan dari injeksi surfactant dapat dihasilkan perolehan minyak yang lebih besar daripada injeksi
air konvensional. Sedangkan perolehan minyak tambahan adalah sekitar 15% dari residual oil reserves.
Untuk reservoir dengan kandungan minyak kental atau reservoir minyak berat, perolehan yang mungkin
didapat adalah sekitar 30%. Selain itu, reservoir dengan solution gas drive perolehan yang dapat
diharapkan lebih kecil, yaitu sekitar 15% dan untuk reservoir dengan water drive, injeksi gas atau gravity
drainage sekitar 10%.

Laju produksi minyak selama injeksi surfactant meningkat. Perolehan minyak bertambah jika ukuran
buffer mobilitas semakin besar. Perolehan minyak maksimum dengan injeksi surfactant terjadi pada
harga salinitas (kadar garam) yang optimal.

3.1. Pengertian Injeksi Air
Pada lapangan yang sudah melewati batas primary recovery-nya, dilakukan optimasi
produksi dengan cara yang lain salah satunya adalah injeksi air (water flooding). Mekanisme
kerjanya adalah dengan menginjeksikan air ke dalam formasi yang berfungsi untuk
mendesak minyak menuju sumur produksi (produser) sehingga akan meningkatkan
produksi minyak ataupun dapat juga berfungsi untuk mempertahankan tekanan reservoir
(pressure maintenance), untuk lebih jelasnya lihat Gambar 3.1.

Gambar 3.1 : Mekanisme waterflood
3.1.1. Sejarah Perkembangan Dan Aplikasi Waterflood
Penemuan minyak mentah oleh Edwin L. Drake di Titusville pada tahum 1859 menandai
dimulainya era industri minyak bumi. Penggunaan minyak bumi yang semakin meluas
membuat orang mulai berpikir untuk meningkatkan perolehan produksi minyak bumi. Maka
pada awal 1880-an, J.F. Carll mengemukakan pendapatnya bahwa kemungkinan perolehan
minyak dapat ditingkatkan melalui penginjeksian air dari suatu sumur injeksi untuk
mendorong minyak ke sumur produksi adalah sangat besar.
Eksperimen waterflood pertama tercatat dilakukan di lapangan Bradford, Pennsylvania
pada tahun 1880-an. Dari eksperimen pertama ini, mulai terlihat bahwa program waterflood
akan dapat meningkatkan produksi minyak. Maka pada awal 1890-an, dimulailah
penerapan waterflood di lapangan-lapangan minyak di Amerika Serikat.
Pada 1907, ditemukan metoda baru dalam pengaplikasian waterflood di Lapangan
Bradford, Pennsylvania, yang disebut sebagai metoda lingkar (circular method), yang juga
tercatat sebagai pengaplikasian flooding pattern pertama. Karena adanya regulasi pemerintah
yang melarang penerapan waterflood di masa itu, proyek ini dilakukan secara sembunyi-
sembunyi, sampai larangan itu dicabut pada 1921.
Mulai tahun 1921, penerapan waterflood mulai meningkat. Pola pattern waterflood berubah
dari circular method menjadi line method. Pada 1928, pola five spot ditemukan dan diterapkan
secara meluas di lapangan-lapangan minyak. Selain tahun-tahun tersebut, operasi
waterflood juga tercatat dilakukan di Oklahoma pada tahun 1931, di Kansas pada tahun
1935, dan di Texas pada tahun 1936.
Dibandingkan dengan masa sekarang, penerapan waterflood pada masa dahulu boleh
dibilang sangat sedikit. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena pada zaman dahulu
pemahaman tentang waterflood masih sangat sedikit. Selain itu, pada zaman dahulu
produksi minyak cenderung berada diatas kebutuhan pasar.
Signifikansi waterflood mulai terjadi pada akhir 1940-an, ketika sumur-sumur produksi mulai
mencapai batasan ekonomis (economic limit)nya dan memaksa operator berpikir untuk
meningkatkan producable reserves dari sumur-sumur produksi. Pada 1955, waterflood tercatat
memberikan konstribusi produksi lebih dari 750000 BOPD dari total produksi 6600000
BOPD di Amerika Serikat. Dewasa ini, konstribusi waterflood mencapai lebih dari 50% dari
total produksi minyak di Amerika Serikat.
Injeksi air ini sangat banyak digunakan, alasannya antara lain:
Mobilitas yang cukup rendah
Air mudah didapatkan
Pengadaan air cukup murah
Berat kolom air dalam sumur injeksi turut memberikan tekanan, sehingga cukup banyak mengurangi
tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan
Mudah tersebar ke daerah reservoir, sehingga efisiensi penyapuannya cukup tinggi
Memiliki efisiensi pendesakan yang sangat baik
Penginjeksian air bertujuan untuk memberikan tambahan energi kedalam reservoir. Pada
proses pendesakan, air akan mendesak minyak mengikuti jalur-jalur arus (stream line) yang
dimulai dari sumur injeksi dan berakhir pada sumur produksi, seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 3.2, yang menunjukkan kedudukan partikel air yang membentuk batas air-
minyak sebelum breakthrough (a) dan sesudah breakthrough (b) pada sumur produksi.

Gambar 3.2.
Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus
(a) sebelum dan (b) sesudah Tembus Air Pada Sumur Produksi
3.1.2. Perencanaan Waterflood
Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya.
Analisa ekonomis tergantung pada perkiraan hasil dari proses waterflood itu sendiri.
Perkiraan ini bisa baik atau buruk tergantung pada kebutuhan khusus dari proyek atau
keinginan pelaksana. Lima langkah utama dalam perencanaan waterflood adalah ;
1. Evaluasi reservoir meliputi hasil hasil produksi dari primary recovery
2. Pemilihan waterflood plan yang potensial
3. Perkiraan laju injeksi dan produksi
4. Prediksi oil recovery untuk setiap perencanaan proyek waterflood
5. Identifikasi variabel-variabel yang menyebabkan ketidaktepatan analisa secara teknik
Analisa teknik produksi waterflood dilakukan dengan memperkirakan jumlah volume dan
kecepetan fluida. Perkiraan diatas juga berguna untuk penyesuaian atau pemilihan
peralatan serta sistem pemeliharaan ( treatment ) fluida.
a. Penentuan Lokasi Sumur Injeksi-Produksi
Pada umumnya dipegang prinsip bahwa sumur-sumur yang sudah ada sebelum injeksi
dipergunakan secara maksimal pada waktu berlangsungnya injeksi nanti. Jika masih
diperlukan sumur-sumur baru maka perlu ditentukan lokasinya. Untuk memilih lokasi
sebaiknya digunakan peta distribusi cadangan minyak tersisa. Pada daerah yang sisa
minyaknya masih besar mungkin diperlukan lebih banyak sumur produksi daripada daerah
yang minyaknya tinggal sedikit. Peta isopermeabilitas juga membantu dalam memilih arah
aliran supaya penembusan fluida injeksi (breakthrough) tidak terjadi terlalu dini.
b. Penentuan Pola Sumur Injeksi-Produksi
Salah satu cara untuk meningkatkan faktor perolehan minyak adalah dengan membuat pola
sumur injeksi-produksi, yang bertujuan untuk mendapatkan pola penyapuan yang seefisien
mungkin. Tetapi kita harus tetap memegang prinsip bahwa sumur yang sudah ada sebelum
injeksi harus dapat digunakan semaksimal mungkin pada waktu berlangsungnya injeksi
nanti.
Pertimbangan-pertimbangan dalam penentuan pola sumur injeksi produksi tergantung
pada:
Tingkat keseragaman formasi, yaitu penyebaran permeabilitas ke arah lateral maupun ke arah
vertikal.
Struktur batuan reservoir meliputi patahan, kemiringan, dan ukuran.
Sumur-sumur yang sudah ada (lokasi dan penyebaran).
Topografi.
Ekonomi.
Pada operasi waterflood sumur-sumur injeksi dan produksi umumnya dibentuk dalam suatu
pola tertentu yang beraturan, misalnya pola garis lurus, empat titik, lima titik, tujuh titik, dan
sebagainya (seperti yang terlihat pada Gambar 3.3).
Pola sumur dimana sumur produksi dikelilingi oleh sumur-sumur injeksi disebut dengan pola
normal. Sedangkan bila sebaliknya yaitu sumur-sumur produksi mengelilingi sumur injeksi
disebut dengan pola inverted. Masing-masing pola mempunyai sistem jaringan tersendiri
yang mana memberikan jalur arus berbeda-beda sehingga memberikan luas daerah
penyapuan yang berbeda-beda.

Gambar 3.3. Pola-pola Sumur Injeksi-Produksi
c. Penentuan Debit dan Tekanan Injeksi
Debit injeksi yang akan ditentukan di sini adalah untuk sumur-sumur dengan pola tertutup
dengan anggapan bahwa mobility ratio (M) sama dengan satu. Besarnya debit injeksi
tergantung pada perbedaan tekanan injeksi di dasar sumur dan tekanan reservoirnya.
Bentuk persamaan dikembangkan dari persamaan Darcy sesuai dengan pola sumur injeksi-
produksi,sebagai berikut :

Persamaan yang disebutkan diatas adalah laju injeksi dari fluida yang mempunyai mobilitas
yang sama (M=1) karena reservoir minyak terisi oleh cairan saja.
Untuk menentukan laju injeksi sampai dengan terjadinya interferensi digunakan persamaan:

Untuk mencapai keuntungan ekonomis yang maksimal, biasanya diinginkan debit injeksi
yang maksimal, namun ada batasan yang harus diperhatikan. Batas bawah debit injeksi
adalah debit yang menghasilkan produksi minyak yang merupakan batas ekonomisnya.
Batas atas debit injeksi adalah debit yang berhubungan dengan tekanan injeksi yang mulai
menyebabkan terjadi rekahan di reservoir.
Analisa berikutnya adalah injeksi air dari interface sampai dengan fill-up. Besarnya laju
injeksi pada perioda ini dinyatakan dengan persamaan :
i
wf
= t x i . (3-6)
Dengan diketahuinya laju injeksi pada setiap periode dari perilaku water flood, maka
diramalkan waktu injeksi dari setiap periode.
3.2. Konsep Interaksi Batuan dan Fluida
Fluida dua fasa atau lebih dikatakan immiscible (tidak bercampur) pada tekanan atau
temperatur tertentu jika terbentuk suatu lapisan kasat mata antar fasa setelah fasa- fasa
fluida tersebut dicampurkan satu sama lain sampai mencapai kesetimbangan kimia.
Kehadiran fasa-fasa immiscible ini di reservoir akan mengubah kemampuan batuan dalam
menyalurkan fluida. Fasa-fasa immiscible di reservoir seperti : minyak-air, minyak-gas, air-
gas, atau air-minyak-gas.
Pada waterflood dalam skala mikro, efesiensi pendesakan dipengaruhi oleh faktor interaksi
fluida dan media yang di tempatinya.. Karena di reservoir terdapat lebih dari satu fasa,
maka secara alamiah telah terjadi interaksi antara batuan dan fluida di reservoir yang
sekaligus mempengaruhi pendesakan fluida. Karena itulah, pemahaman tentang sifat-sifat
dasar batuan reservoir perlu dilakukan
Karena interaksinya dengan fluida, sifat-sifat batuan reservoir ini menjadi terbagi atas dua
kelompok :
1. Sifat absolut dari batuan itu sendiri, antara lain porositas, permeabilitas, dan distribusi ukuran pori.
2. Sifat batuan reservoir akibat interaksi batuan dengan fluida reservoir yang bersifat statis, antara lain
tekanan kapiler, wettability, dan contact angle.
3. Sifat batuan reservoir akibat interaksi batuan dengan fluida reservoir yang bersifat dinamis,
diantaranya mobilitas, dan permeabilitas relatif
Untuk itu, konsep dasar sifat-sifat batuan dan fluida reservoir telah menjadi bahan
pertimbangan penting dalam studi waterflood karena dalam proses injeksi air akan terjadi
kontak antara fluida yang diinjeksikan dengan batuan dan fluida formasi, sehingga dapat
dipelajari kondisi efisiensi pendesakan yang lebih efektif untuk mendesak minyak sebagai
efisiensi pendesakan pada skala mikroskopis.
Adapun sifat-sifat itu antara lain :
3.2.1. Porositas
Porositas diartikan sebagai perbandingan volume pori dengan volume total batuan, lebih
umum dinyatakan dalam fraksi dibandingkan dengan persentase. Porositas terbagi dua :
1. Porositas efektif
Merupakan perbandingan antara rongga pori yang saling berhubungan dengan volume bulk
(total) batuan
1. Porositas absolut
Merupakan perbandingan total volume pori dengan volume total batuan
Porositas dari sebuah media permeabel merupakan fungsi yang kuat dari variansi distribusi
ukuran pori dan fungsi yang lemah dari ukuran pori itu sendiri.

3.2.2.Permeabilitas
Bisa diartikan sebagai kemampuan batuan dalam menyalurkan fluida, terbagi atas tiga :
1. Permeabilitas absolut
Merupakan kemampuan batuan dalam mendistribusikan semua fasa fluida yang
dikandungnya
2. Permeabilitas efektif
Didefinisikan sebagai kemampuan batuan dalam mendistribusikan salah satu fasa fluida
jika batuan tersebut mengandung lebih dari satu fasa fluida
3. Permebilitas relatif
Merupakan rasio antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut, merupakan
sifat fisik batuan yang sangat urgen dalam proses EOR. Atau perbandingan antara
permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut.

Permeabilitas relatif reservoir terbagi berdasarkan jenis fasanya, sehingga didalam
reservoir akan terdapat permeabilitas relatif air (K
rw
), permeabilitas relatif minyak (K
ro
),
permeabilitas relatif gas (K
rg
), dimana persamaannya adalah :

dimana K
w
, K
o
, K
g
berturut-turut adalah permeabilitas relatif air, minyak, dan gas.
Permeabilitas relatif dipengaruhi variable-variabel seperti sejarah saturasi dan kebasahan
batuan. Karakteristik dari permeabilitas relatif ditunjukkan pada gambar 3.10.
Gambar 3.4. Karakteristik Permeabilitas Relatif
Pada Gambar 3.4 menunjukkan pengaruh sejarah saturasi terhadap permeabilitas relatif.
Itu dicatat bahwa arah aliran tidak berpengaruh pada perilaku aliran untuk fasa pembasah.
Bagaimanapun, suatu perbedaan penting ada antara kurva drainage dan imbibition untuk
tahap fasa non-pembasah. Untuk sistim water-wet, kita dapat memilih data imbibisi,
sedangkan, data drainage diperlukan untuk mengoreksi prediksi dari reservoir oil-wet.
Sedangkan pengaruh wettability sangat penting untuk diketahui, hal ini dapat dilihat pada
sistim water-wet dan oil-wet. Ada beberapa perbedaan antara kurva oil-wet dan kurva
water-wet dimana :
1. Saturasi air pada permeabilitas minyak dan air adalah jumlah (titik persimpangan kurva) yang akan
lebih besar dari 50 % untuk sistim water-wet dan lebih kecil dari 50 % untuk sistim oil-wet.
2. Saturasi air connate untuk sistim water-wet lebih besar dari 20 % dan untuk sistim oil-wet lebih kecil
dari 15 %.
3. Permeabilitas realtif untuk air pada saturasi air maksimum (residual oil saturation) akan lebih kecil
dari 0.3 untuk sistim water-wet tetapi akan lebih besar dari 0.5 untuk sistim oil-wet.
Gambar 3.5. Pengaruh Sejarah Saturasi
Terhadap Permeabilitas Relatif

Gambar 3.6. Pengaruh Kebasahan Terhadap Permeabilitas Relatif
Untuk nilai permeabilitas yang tinggi { (k
o
)Swir > 100 md}, penemuan ini tidak
mungkin benar. Sebagai contoh, Batuan water-wet dengan pori-pori besar kadang-kadang
memperlihatkan kejenuhan air tak bergerak kurang dari 10 hingga 15 persen. Meskipun
demikian, pada Gambar 3.5. menunjukkan pentingnya kurva permeabilitas relatif yang
dapat mengindikasikan tingkat kebasahan suatu reservoir untuk permeabilitas ke level
rendah (k
o
)
Swir
< 100 md.
Rumus tes permeabilitas relatif air-minyak untuk contoh batuan core sering disebut
sebagai end pointkarena merupakan refleksi dari S
wir
, S
or
, (k
o
)
Swir
dan (k
w
)
Sor
. Hasil tes ini
sedikit lebih mahal dari tes permeabilitas realtif normal, tapi tes ini dapat menyediakan
informasi dari karakteristik- karakteristik reservoir
Berbeda dengan porositas, permeabilitas lebih dipengaruhi oleh ukuran pori batuan
dibandingkan dengan distribusi butiran batuan tersebut.
3.3. Pengawasan Waterflood
(Reservoir Susveillance)
Kunci kesuksesan sebuah proyek waterflood terlelak pada perencanaan dan pelaksanaan
program pengawasan serta monitoring pada sumur. Program ini disesuaikan dengan
lapangan atau proyek yang bersangkutan, sebab masing-masing proyek waterflood
mempunyai karakter yang beragam. Hal yang penting untuk diperhatikan pada program
monitoring well khususnya system waterflood terdapat pada Gambar 3.7. Sebelumnya
proyek waterflood hanya terfokus pada hasil produksi dan injeksi saja. Dewasa ini dengan
pengetahuan manajemen reservoir modern, telah menjadi praktek industri untuk
menjadikan sumur, fasilitas, water system dan kondisi pengoperasian menjadi program
surveillance secara comprehensive.
Gambar 3.7.Waterflood Injection
System
Managemen reservoir yang baik terdiri dari reservoir, well dan surface facilities sebagai
komponen dari satu kesatuan system. Telah diakui bahwa karakteristik reservoir, fluida dan
bentuk alirannya akan mempengaruhi operasi sumur dan proses produksi fluida di
permukaan. Pelaksanaan program surveillance yang komprehensif dapat dilihat pada tabel
berikut :

Tabel 3.1. Pelaksanaan Program Surveillance

Saat ini, pelaksanaan surveillance tidak hanya difokuskan pada kinerja reservoir, namun
melibatkan sumur-sumur, fasilitas dan sistem air. Informasi tentang sejarah kinerja
waterflood pada suatu lapangan lebih detail dapat diperoleh, memberikan suatu penilaian
terhadap behavior waterflood yang tengah berjalan. Informasi ini mencakup :
Deskripsi reservoir yang akurat dan lebih detail
Kinerja reservoir, estimasi efisien penyapuan dan recovery minyak untuk tiap stage (at
various stage of depletion)
Sumur injeksi dan sumur produksi, beserta laju alir, tekanan, dan profil fluida
Treatment dan kualitas air
Performansi fasilitas dan perawatan
Perbandingan performasi actual dan teoritis untuk memonitor behavior dan efektfitas
waterflood
Diagnosa terhadap permasalahan yang ada/potensial, dan solusinya.
5 jenis data yang sangat penting dalam Surveillance dan monitoring :
1. Data reservoir
Litologi, pengendapan, patahan, WOC/GOC, bentuk perangkap, jenis drive
Pemetaan bentuk unit aliran
Data petrofisik (nilai rata-rata k, h, f)
Kompresibilitas (rock, gas, oil dan water)
Tipe rekahan
1. Data statik
Pressure (RFT, Psi static, built up/fall off, step rate test)
Saturasi (resistivity, core, simulasi saturasi)
Volume produksi
1. Sifat batuan dan fluida
PVT data (psi, volume, Rs, Viskositas, temperature)
Permeabilitas relative (Kro, Krg, Krw sebagai fungsi dari saturasi)
Sorw, Sorg (titik akhir dari proses pendesakan)
1. Data injeksi/produksi sumur
Kecepatan produksi dan injeksi
Fluid entry/exit (PLT Logging)
Pwf
Productivity dan injectivity index
Kekuatan semen
1. Facilities/operating condition
Kualitas air
Injection facilities operation
Production facilities operation
Monitoring equipment operation
3.4. Efisiensi Pendesakan Minyak
Effisiensi pendesakan minyak diantaranya :

3.4.1.Areal Sweep Efficiency
Pada pelaksanaan waterflood, air diinjeksikan dari beberapa sumur injeksi dan produksi
akan terjadi dari sumur yang berbeda. Ini akan menyebabkan terbentuknya distribusi
tekanan dan streamlines di daeah antara sumur injeksi dengan sumur produksi. Dua faktor ini
akan menentukan seberapa besar kontak waterflood dengan daerah antara tersebut. Besar
daerah reservoir yang mengalami kontak dengan air ini yang disebut dengan Areal sweep
efficiency.
Gambar 3.8.
(a) Areal Sweep effisiensi, (b) Vertical Sweep effisiensi
Secara rumus, Areal sweep efficiency didefinisikan sebagai :

3.4.2. Mobility Efficiency
Efisiensi mobilitas merupakan efisiensi yang dipengaruhi oleh nilai saturasi minyak
tersisa dan sifat pembasahan batuan. Didefinisikan sebagai fraksi minyak pada awal proses
yang dapat diambil pada 100 % area vertikal.
Persamaan efisiensi mobilitas adalah sebagai berikut :

Untuk nilai Bo
i
konstan, maka persamaan (3.12) diatas menjadi :

dimana
E
M
= efisiensi mobilitas
S
oi
= saturasi minyak awal
S
orp
= saturasi minyak residual/immobile oil
3.4.3.Vertical Sweep Efficiencies
Bervariasinya nilai permeabilitas pada arah vertikal dari reservoir menyebabkan fluida
injeksi akan bergerak dengan bentuk front yang tidak beraturan. Semakin sedikit daerah
berpermeabilitas bagus, semakin lambat pergerakan fluida injeksi.
Ukuran ketidakseragaman invasi air adalah vertical sweep efficiency (Gambar 3.8), yang juga
sering disebut sebagai invasion efficiency. Vertical sweep efficiency ini bisa didefinisikan sebagai
bidang tegak lurus yang mengalami kontak dengan air injeksi dibagi dengan keseluruhan
bidang tegak lurus di darah belakang front. Secara sederhana, vertical sweep efficiency ini
menyatakn seberapa banyak bagian tegak lurus (vertikal) reservoir yang dapat dijangkau
oleh air injeksi.
Persamaan untuk vertical sweep efficiency adalah :

Ada beberapa hal yang mempengaruhi vertical sweep efficiency, ini :
1. Mobility Ratio
Term injektivitas relatif ini adalah perbandingan indeks injekstivitas pada sembarang waktu
dengan injektivitas pada saat dimulainya waterflood. Pada M = 1, injekstivitas relatif
cenderung konstan. Pada M < 1, terlihat bahwa injektivitas menurun seiring menaiknya
radius flood front. Sedangkan untuk M > 1, injektivitas relatif meningkat seiring naiknya
radius flood front.
1. Gaya Gravitasi
Karena air merupakan fluida dengan densitas yang tinggi, maka ia cenderung untuk
bergerak di bagian bawah reservoir. Efek ini disebut dengan gravity segregation dari fluida
injeksi, merupakan akibat dari perbedaan densitas air dan minyak.
Terlihat bahwa baik untuk sistem linear maupun untuk sistem five spot, derajat dari gravity
segeragationini tergantung dari perbandingan antara gaya viscous dengan gaya gravitasi,
. Sehingga laju alir yang lebih besar akan menghasilkan vertical sweep efficiency yang
lebih baik pula.
1. Gaya kapiler
Penelitian membuktikan bahwa volume hanya menurun sedikit walaupun laju alir injeksi
dinaikkan sampai sepuluh kali lipat.
1. Crossflow antar lapisan
2. Laju alir
Perhatikan semua properties yang mempengaruhi vertical sweep efficiency diatas.
Keseluruhannya dipengaruhi oleh laju alir

3.4.4.Volumetric sweep efficiency
Volumetric sweep efficiency ini merupakan ukuran pendesakan tiga dimensi. Definisi volumetric
sweep efficiency adalah perbandingan antara total volume pori yang mengalami kontak
dengan air injeksi dibagi dengan total volume pori area injeksi. Volumetric sweep
efficiency dirumuskan dalam persamaan berikut :

Faktor-faktor yang mempengaruhi volumetric sweep efficiency sama dengan faktor-faktor
yang mempengaruhi vertical sweep efficiency.

3.4.5. Displacement Efficiency
Displacement Efficiency didefinisikan sebagai jumlah total minyak yang berhasil didesak
dibagi dengan total Oil in Place yang ada di daerah sapuan tersebut. Berdasarkan pengertian
tersebut,Displacement Efficiency dapat dirumuskan dengan persamaan :

Efisiensi pendesakan ini merupakan efisiensi pendesakan tak bercampur dalam skala
makroskopik yang digunakan untuk menggambarkan efisiensi pendesakan volume spesifik
minyak oleh injeksi air pada batuan reservoir, sehingga dapat ditentukan seberapa
efektifnya fluida pendesak menggerakkan minyak pada saat fluida pendesak telah
membentuk kontak dengan minyak.
Efisiensi pendesakan fluida reservoir dapat dilihat pada dua konsep berikut :
1. Konsep desaturasi
Terjadi perubahan saturasi fluida dibelakang front seharga satu dikurangi saturasi residual
fluida yang didesak, sehingga terdapat dua fasa yang mengalir yaitu minyak dan air.
Sedangkan di depan front hanya minyak yang mengalir.
2. Konsep pendesakan
Saturasi fluida pendesak pada front sama dengan satu dikurangi saturasi residual fluida itu
sendiri. Dianggap minyak telah habis didesak sehingga yang dibelakang front hanya fluida
pendesak yang mengalir.
Displacement Efficiency mempunyai nilai maksimum, yang dirumuskan sebagai berikut :

Sedangkan nilai displacement efficiency pada saat breakthrough adalah :

Gambar 3.9. Effisiensi Displacement