Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG
Cytomegalovirus atau disingkat CMV merupakan anggota keluarga virus herpes yang
biasa disebut herpesviridae. CMV sering disebut sebagai virus paradoks karena bila menginfeksi
seseorang dapat berakibat fatal, atau dapat juga hanya diam di dalam tubuh penderita seumur
hidupnya. Pada awal infeksi, CMV aktif menggandakan diri. Sebagai respon, system kekebalan
tubuh akan berusaha mengatasi kondisi tersebut, sehingga setelah beberapa waktu virus akan
menetap dalam cairan tubuh penderita seperti darah, air liur, urin, sperma, lendir vagina, ASI,
dsb.
Penyebaran infeksi CMV dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Penyebaran secara
vertikal adalah penyebaran infeksi CMV dari ibu yang sedang hamil kepada janin dalam
kandungannya. Terdapat 3 jenis infeksi CMV pada ibu hamil yaitu, infeksi primer, reaktivasi
dari infeksi laten, dan reinfeksi. Infeksi primer adalah infeksi CMV pertama kali, mungkin
terjadi pada waktu bayi, anak, remaja atau pada ibu hamil. Reaktivasi atau infeksi rekurens
adalah infeksi laten yang menjadi aktif kembali, sedangkan reinfeksi adalah infeksi berulang
oleh virus galur yang sama atau berbeda. Virus dapat menjadi aktif kembali pada ibu hamil atau
pada seseorang yang sedang mendapat kemoterapi. Pada ibu hamil, insidens infeksi rekurens
lebih sering menyebabkan infeksi kongenital.
Infeksi CMV pada ibu hamil merupakan penyebab resiko tinggi bayi baru lahir untuk
mengalami gangguan perkembangan dikemudian hari. Oleh karena itu diperlukan kewaspadaan
khusu terhadap adanya infeksi virus tersebut. Kecurigaan terhadap adanya infeksi CMV
kongenital dapat diawali dengan ditemukannya manifestasi klinis pada bayi baru lahir. Pada
infeksi transplasenta yang mayoritas disebabkan oleh TORCH (Toxoplasma, Rubella,
Cytomegalovirus, Herpes) dapat menimbulkan sequelae yang bersifat neurologis seperti SNHL
(Sensoryneural Hearing Loss), cerebral palsy dan developmental delay.
Cerebral palsy adalah terminologi yang digunakan untuk mendeskripsikan kelompok
penyakit kronik yang mengenai pusat pengendalian pergerakan dengan manifestasi klinis yang
tampak pada beberapa tahun pertama kehidupan dan secara umum tidak akan bertambah
memburuk pada usia selanjutnya. Istilah cerebral ditujukan pada kedua belahan otak, atau
hemisphere, dan palsy mendeskripsikan bermacam penyakit yang mengenai pusat pengendalian
pergerakan tubuh. Jadi penyakit tersebut tidak disebabkan oleh masalah pada otot atau jaringan
saraf tepi, melainkan, terjadi perkembangan yang salah atau kerusakan pada area motorik otak
yang akan menganggu kemampuan otak untuk mengontrol pergerakan dan postur secara adekuat.
Gejala Cerebral Palsy tampak sebagai spektrum yang menggambarkan variasi beratnya
penyakit. Seseorang dengan Cerebral Palsy dapat menampakkan gejala kesulitan dalam hal
motorik halus, misalnya menulis atau menggunakan gunting; masalah keseimbangan dan
berjalan; atau mengenai gerakan involunter. Gejala dapat berbeda pada setiap penderita. Cerebral
Palsy bukan penyakit menular atau bersifat herediter. Hingga saat ini, Cerebral Palsy tidak dapat
dipulihkan, walau penelitian ilmiah berlanjut untuk menemukan terapi yang lebih baik dan
metode pencegahannya.


B. Tujuan
Pada laporan kasus ini disajikan suatu kasus seorang anak dengan infeksi CMV
congenital dan cerebral palsy yang dirawat di bangsal C
1
L
2
IRNA C RSUP Dr. Kariadi
Semarang. Penyajian kasus ini bertujuan untuk mempelajari lebih dalam tentang cara
mendiagnosis, mengelola dan mengetahui prognosis penderita dengan penyakit tersebut di atas.

C. Manfaat
Penulisan laporan kasus ini diharapkan dapat membantu mahasiswa kedokteran untuk
belajar menegakkan diagnosis, melakukan pengelolaan, dan mengetahui prognosis penderita
infeksi CMV dan cerebral palsy.


BAB II
PENYAJIAN KASUS


A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : An. NE
Umur : 1 tahun 8 bulan ( 12/12/2011)
Jenis kelamin : Perempuan
No. CM : C370456
Agama : Islam
Alamat : Tembalang, Semarang
Masuk RSDK : 4/9/2013

IDENTITAS ORANG TUA
Nama ayah : Tn. A
Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Buruh
Pendidikan : SMP
Nama Ibu : Ny. S
Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Tidak bekerja
Pendidikan : SMP


B. DATA DASAR
Anamnesis
Alloanamnesis dilakukan dengan ibu penderita
Tanggal : 17 September 2013 Pukul : 14.00 WIB
Keluhan utama : Anak kurang respon



Riwayat penyakit sekarang :
1 tahun yang lalu, orang tua memeriksakan anaknya ke klinik tumbuh kembang RSDK
dengan keluhan, sampai usia 8 bulan, anak belum bisa bicara dan belum bisa duduk, demam
(-), kejang (-) setelah diperiksakan anak hanya dilatih sendiri oleh orang tua.
1 bulan yang lalu, orang tua merasa anak masih belum bisa bicara (+), belum bisa
duduk, dan bila di panggil atau diberi mainan yang berbunyi, anak tidak menoleh (+). Saat di
klinik tumbuh kembang, diperiksa dan dilakukan skrining dan dinyatakan perkembangannya
terlambat. Anak kemudian dilakukan pemeriksaan BERA, TORCH, dan CT Scan kepala.
Dari hasil pemeriksaan, anak dinyatakan infeksi CMV kongenital dan cerebral palsy. Hasil
BERA dikatakan normal. Oleh dokter, disarankan untuk menjalani terapi CMV di Rumah
Sakit, namun saat itu orang tua masih belum bersedia karena masalah biaya sehingga anak
dibawa pulang.
Pada tanggal 4 September 2013, orang tua kembali membawa anaknya karena ingin
menjalani terapi CMV. Saat ini anak masih belum bisa duduk dan bicara, demam (-), lemas (-
), bintik kemerahan di kulit (-), kuning di kulit dan mata (-). Anak juga dikatakan lingkar
kepalanya kecil (+) saat diperiksa di poli.
Anak lahir secara spontan di bidan, lahir langsung menangis, riwayat biru-biru (-),
riwayat kuning (-). Riwayat selama kehamilan, ibu tidak pernah skrining TORCH. Riwayat
penyakit selama kehamilan (+), pada saat hamil sekitar bulan ketiga, ibu pernah merasa
lemas (+), demam (+) (38
o
C), hanya diberi obat penurun panas, demam membaik setelah 2-
3 minggu. Setelah lahir anak di rawat di rumah bersama orang tua.
Pada saat dirumah, orang tua merasa tidak ada keterlambatan perkembangan dari anak,
namun saat anak mencapai usia 6 bulan, orang tua mulai merasa jika anak di panggil
panggil namanya, anak tidak menoleh. Oleh orang tua anak tidak dibawa ke dokter untuk
diperiksa, karena saat itu masih mengangggap tidak ada keterlambatan perkembangan, dan
anak jarang dilatih. Riwayat anak minum ASI (+) hingga sekarang. Pasien adalah anak ke 2
dari 2 bersaudara. Kakak pasien berusia 6 tahun dan tidak mengalami penyakit dengan
keluhan yang sama dengan pasien, pertumbuhan baik dan perkembangannya tidak terlambat.



Riwayat Penyakit Dahulu :

Umur Umur
Morbili - Diare -
Pertusis - Disentri Basiler -
Varisela - Disentri Amuba -
Difteri - Tifus Abdominalis -
Malaria - Cacingan -
Tetanus - Operasi -
Angina - Gegar otak -
Pneumoni - Patah tulang -
Bronkhitis - Reaksi obat -
Demam berdarah dengue - Faringitis -
Campak - Batuk Pilek (+) 9 bulan


Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat penyakit keluarga dengan keluhan yang sama disangkal.






Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Ayah penderita bekerja sebagai buruh
dengan penghasilan rata-rata Rp 1.000.000,00/bulan. Ibu penderita tidak bekerja dan sebagai
ibu rumah tangga. Penderita tinggal di rumah orang tua bersama kakeknya. Biaya pengobatan
ditanggung oleh Jamkeskot.
Kakek memelihara burung (+)
Kesan: Sosial ekonomi kurang

2.3 DATA KHUSUS
2.3.1 Riwayat pemeliharaan prenatal :
ANC di puskesmas, teratur, dilakukan >4 kali selama masa kehamilan, mendapat
imunisasi TT 2 kali. Riwayat penyakit selama kehamilan seperti sakit panas (+), darah tinggi
(-), kejang (-), sakit gula (-), penyakit jantung (-) selama hamil disangkal. Riwayat
perdarahan selama kehamilan disangkal. Selama hamil ibu mendapat vitamin dan tablet
penambah darah.

2.3.2 Riwayat kelahiran :
Pasien lahir dari ibu G
2
P
1
A
0
28 tahun, di puskesmas, ditolong oleh bidan, usia
kehamilan 9 bulan, lahir secara spontan, langsung menangis, riwayat biru-biru disangkal,
riwayat kuning pada tubuh anak disangkal, riwayat kejang disangkal, riwayat trauma
kelahiran disangkal, ketuban jernih, jumlah banyak. Berat badan lahir 2500 gram, panjang
badan ibu lupa.
2.3.3 Riwayat Pemeliharaan Postnatal :
Anak imunisasi di puskesmas dan kontrol kesehatan di rumah sakit.

2.3.4 Riwayat Imunisasi :
BCG : 1 kali usia 1 bulan
Difteri : 3 kali usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan
Tetanus : 3 kali usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan
Pertusis : 3 kali usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan
Polio : 4 kali lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan
Hepatitis B : 4 kali lahir, usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan
Campak : 1 kali usia 9 bulan
Parotitis : -
Rubella : -
Hib : -
Tifoid : -
Cacar air : -
Kesan : imunisasi dasar lengkap sesuai usia
2.3.5 Riwayat Makan dan Minum Anak
ASI : ad libithum sejak lahir sampai sekarang
Susu sapi/ buatan : 6 bulan sampai dengan sekarang, 4 botol sehari (120 ml).
Buah/ sayuran : pisang, 6 8 bulan diberikan 3-4x sehari (1 buah).
Bubur susu : bebelac, 2-3x sehari 4-6x sdm

Makanan padat dan lauk :
12 bulan sekarang : Anak diberi nasi ditambah sayur (bayam), tahu, tempe, terkadang
dengan daging ayam atau ikan. 3x sehari -1 mangkok kecil.
Kesan : ASI eksklusif, kualitas dan kuantitas cukup

2.3.6 Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan anak
Riwayat Perkembangan:
Anak bisa senyum 2 bulan
Anak bisa miring 5 bulan
Anak bisa bicara ooo.. aaa.. 5 bulan
Anak bisa tengkurap 6 bulan
Anak belum bisa duduk
Anak belum bisa berdiri
Anamnesis Kuesioner Pra Skrining Perkembangan: 1 jawaban ya untuk usia 21 bulan
Kesan: perkembangan motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan personal sosial tidak
sesuai usia

Riwayat Pertumbuhan:
Longitudinal :
Berat lahir 2500 gram
Berat 1 bulan lalu 8 kg
Berat sekarang 8,7 kg
Kesan: arah garis pertumbuhan N1 = Normal

2.3.7 Riwayat Keluarga Berencana Orang Tua
Ibu pasien menggunakan IUD yang dipasang langsung setelah melahirkan pasien.



2.4 PEMERIKSAAN FISIK
Tanggal 17 September 2013 pukul 14.00 WIB di bangsal anak C1 lantai 2 RSUP Dr.
Kariadi.
Seorang anak perempuan, umur 18 bulan, Berat Badan (BB) : 8,7 kg, Panjang Badan (PB) :
78 cm, LILA : 14 cm, LK : 43 cm
Keadaan umum : sadar, rewel, nafas spontan (+) adekuat
Tanda vital : Denyut Jantung : 100 x / menit
Nadi : reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi nafas : 28x / menit, reguler
Suhu : 36,8C (axilla)

Status Internus :
Kepala : lingkar kepala = 43 cm, mikrosefal
Rambut : warna hitam dan tidak mudah dicabut
Ubun-ubun besar : datar
Turgor : kembali cepat
Mata : cekung (-/-), air mata (-/-), konjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), Exotropia Occuli Sinistra
Telinga : nyeri tekan tragus (-/-), nyeri tekan retroaurikuler (-/-), nyeri tarik (-/-)
discharge (-/-), serumen (-/-)
Hidung : nafas cuping (-), discharge (-/-), mukosa hiperemis (-/-), choncha
hipertrofi (-/-)
Bibir : sianosis (-), kering (-)
Mukosa : sianosis (-), kering (-)
Mulut : sianosis (-), kering (-)
Lidah : kotor (-), hiperemis (-), tremor (-)
Gigi-geligi : karies (-)
Tenggorok : tonsil : T
1-1
, faring hiperemis (-)
Leher : simetris, pembesaran kelenjar getah bening (-/-)

Toraks :
Pulmo
Inspeksi : simetris saat statis dan dinamis, retraksi (-).
Palpasi : stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor seluruh lapangan paru
Auskultasi : suara dasar : vesikuler (+/+) normal
suara tambahan : wheezing (-/-), ronkhi (-/-), hantaran (-/-).
Cor
Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
Palpasi : iktus kordis teraba di sela iga IV 1 cm medial linea medioclavicularis
sinistra, tidak kuat angkat, tidak melebar. thrill (-)
Perkusi : konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi : suara jantung I dan II normal, irama reguler, gallop (-), bising (-).
M1>M2, A1<A2, P1<P2
Abdomen :
Inspeksi : datar, venektasi (-) cembung (-).
Auskultasi : bising usus normal
Perkusi : timpani, pekak sisi normal, pekak alih (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan (-), turgor kulit kembali cepat <2 ,
Hepar tidak teraba
Lien tidak teraba
Ekstremitas : superior inferior
Edema - / - - / -
Sianosis - / - - / -
Petechiae - / - - / -
Akral dingin - / - - / -
Waktu pengisian kapiler <2/<2 <2/<2
Refleks fisiologis +N/+N +N/+N
Refleks patologis - / - - / -
Tonus otot normotonus
Genital : perempuan, dalam batas normal
OUE hiperemis (-), tak tampak kelainan kongenital
Perianal : ekskoriasi (-), hiperemis (-)

Nervi craniales :
1. N. I (Olfaktorius) Sulit dinilai
2. N. II (Opticus) Dekstra Sinistra
Reflek Cahaya + +
3. N. III, N.IV, N.VI
Gerak bola mata segala arah (+)
Dekstra Sinistra
Sela mata 2cm 2cm
Pergerakan bulbus bebas bebas
Strabismus exotropia exotropia
Eksoftalmus - -
Pupil: Besarnya 3 mm 3 mm
Bentuknya bulat (isokor) bulat (isokor)
4. N. V (Trigeminus) Dekstra Sinistra
Membuka mulut : + +
Mengunyah : + +
Sensibilitas muka : + +
5. N. VII (Facialis)
Naso labial fold (+)
6. N. VIII (Vestibulo-cochlearis)
Pendengaran
7. N. IX, N. X
Menelan : +
8. N. XI (Accessorius)
Menoleh (+)
9. N. XII (Hypoglossus)
Deviasi (-)

2.5 STATUS ANTROPOMETRI
Anak perempuan, usia 1 tahun 8 bulan.
BB : 8,5 kg, PB : 77 cm, LILA : 14 cm, LK : 43 cm
Berat badan menurut umur (WAZ) : - 1,88 SD
Tinggi badan menurut umur (HAZ) : - 2,22 SD
Berat badan menurut panjang badan (WHZ) : - 1,02 SD
Kesan : Gizi cukup, perawakan pendek, berat badan sesuai dengan usia

KEBUTUHAN 24 JAM
Cairan (cc) Kalori (kkal) Protein (gr)
Kebutuhan 24 jam 870 1034 14,1
ASI ad libithum ~ ~ ~
Infus D5% 480 170 -
Diet :
3x nasi

300

663

18,75
4x susu 120ml 480 262 7,6
Total ~ ~ ~
AKG (%) ~% ~% ~%


2.6 PEMERIKSAAN LABORATORIUM

TORCH (14 Agustus 2013) Nilai batas
Anti toxoplasma IgG : 9,50 32.00
Anti toxoplasma IgM : 0,30 1.00
Rubella IgG : 0,70 13.00
Rubella IgM : 0,20 1.00
Anti CMV IgG : >18 (positif) 1.10
Anti CMV IgM : 1.10 (positif) 1.00
Anti HSV 1 IgG : 0,20 1.10
Anti HSV 1 IgM : 0,30 1.10
Anti HSV 2 IgG : 0,30 1.10
Anti HSV 2 IgM : 0,20 1.10


2.7 DAFTAR MASALAH
No Masalah Aktif Tanggal No Masalah Pasif Tanggal
1.




2.
3.
4.

5.
6.
Kemunduran pada
sektor bicara,
motorik kasar,
motorik halus,
dan sosial 5,6
Hipotonus 6
Mikrosefal 5,6
Anti CMV IgG (+)
dan IgM (+) 5
Infeksi CMV 6
Cerebral Palsy

17-09-2013




17-09-2013
17-09-2013
17-09-2013

17-09-2013
17-09-2013
1.


Sosial ekonomi
kurang
17-09-2013



2.8 INITIAL PLANS
Assessment: I. Infeksi CMV kongenital
Initial Dx : S : -
O : -
Initial Rx : - Infus D5% 480/20/5 tpm
- Inj. Gancyclovir 50mg/12 jam
Initial Mx :
- Pengawasan keadaan umum dan tanda vital
- Darah rutin ulang tiap minggu

Initial Ex :


Assessment: II. Cerebral Palsy
Initial Dx : S : -
O : -
Initial Rx : Fisioterapi
Terapi wicara
Initial Mx :
- Pengawasan keadaan umum dan tanda vital
- Tumbuh kembang anak

Initial Ex :



Assessment: III. Gizi cukup, perawakan pendek, berat badan sesuai usia
Initial Dx : Subjektif : -
Objektif : -
Initial Tx : - Diet : 4 x 100 cc susu
3 x diet padat
Initial Mx : - Evaluasi akseptabilitas diet
- Berat badan per hari
Initial Ex :
- memberitahu keadaan perawakan anak pada orang tua
- memberitahu bahwa dalam masa pertumbuhan perawakan masih dapat diperbaiki

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1. Cytomegalovirus (CMV)
Cytomegalovirus merupakan virus DNA yang termasuk dalam genus virus Herpes,
menyerang manusia dan mamalia lainnya secara spesifik, karena human CMV hanya
menyebabkan infeksi pada manusia. Dengan menggunakan mikroskop elektron,
morfologi CMV nampak seperti virus Herpes. Bentuknya sferis dan mempunyai ukuran
antara 64-110 nm. Dalam sitoplasma sel yang diserang, ukurannya akan bertambah besar
menjadi sekitar 100-180nm. Setelah CMV menempel pada reseptor yang spesifik di
permukaan sel, virus akan menembus membran sel dan kemudian berada dalam
sitoplasma sel dengan dikelilingi oleh vakuola. Dibutuhkan waktu sekitar 2-4 jam setelah
virus masuk ke dalam sel untuk kemudian mengadakan replikasi yang kontinyu dengan
pola sintesis DNA. Replikasi dapat juga terjadi 36-48 jam setelah CMV masuk ke dalam
sel.
Secara invitro, CMV bereplikasi dalam sel fibroblas, meskipun invivo fibroblas
bukan suatu target virus. Setelah virus berpenetrasi pada sel, protein CMV dengan cepat
terekspresi dalam nukleus. Replikasi CMV dan nukleokapsid dibentuk dalam nukleus,
selubung virus terdapat dalam sitoplasma. Setelah lepas dari sel, virus dapat ditemukan
dalam urin, dan terkadang dalam cairan tubuh, menyerap
2
mikroglobulin, suatu rantai
sederhana dari kelas I molekul antigen leukosit manusia (HLA). Substansi ini melindungi
antigen virus dan mencegah netralisasi oleh antibodi, sehingga meningkatkan
infektifitasnya.

1.1 Epidemiologi dan Penyebaran Infeksi CMV
Infeksi CMV dijumpai secara endemik dan dapat timbul kapan saja tanpa
dipengaruhi oleh perubahan musim. Tidak diketahui vektor yang menyebabkan terjadinya
penularan dari satu manusia ke manusia yang lain. Prevalens infeksi CMV tinggi di
negara sedang berkembang dan kasusnya banyak dijumpai pada masyarakat sisual
ekonomi rendah serta banyak menyerang kelompok usia muda. Sumber infeksi adalah
urin, sekret orofaring, sekret servikal dan vaginal, semen, air susu ibu, air mata, dan darah
pasien.
Insidens infeksi CMV pada bayi sampai usia 6 bulan di Amerika Serikat berkisar
antara 39-56%, hal ini mungkin disebabkan karena pemberian air susu ibu di Amerika
Serikat menjadi populer kembali. Hasil titer sero-=positif pada anak sampai usia 2 tahun
yang berasal dari kalangan sosial ekonomi rendah di Kibbutz, Israel sebesar 76%,
sedangkan di dua daerah perkotaan angka seropositif hanya sebesar 44% dan 54%. Dari
16.218 ibu hamil yang diteliti oleh Stagno ditemuka angka seropositif 36,5% pada ibu
hamil yang berasal dari golongan sosial ekonomi tinggi, sedangkan ibu hamil yang
berasal dari golongan sosial ekonomi rendah, angka sero-positif meningkat menjadi
76,6%.
Media transmisi CMV antara lain saliva, ASI, sekresi vaginal dan servikal, urin,
semen, darah, tinja. Penyebaran CMV membutuhkan kontak yang amat dekat/intim,
karena virus ini amat labil. Penyakit yang berhubungan dengan CMV umumnya terjadi
pada keadaan immunocompromised, misalnya pada pasien HIV ataupun mereka yang
menerima transplantasi organ. Transmisi terjadi melalui kontak langsung, tetapi transmisi
tidak langsung dapat terjadi melalui peralatan yang terkontaminasi. Selain itu,
penyebaran infeksi CMV dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Penyebaran secara
vertikal adalah penyebaran infeksi CMV dari ibu yang sedang hamil kepada janin dalam
kandungannya. Terdapat 3 jenis infeksi CMV pada ibu hamil yaitu, infeksi primer,
reaktivasi dari infeksi laten, dan reinfeksi. Infeksi primer adalah infeksi CMV pertama
kali, mungkin terjadi pada waktu bayi, anak, remaja atau pada ibu hamil. Reaktivasi atau
infeksi rekurens adalah infeksi laten yang menjadi aktif kembali, sedangkan reinfeksi
adalah infeksi berulang oleh virus galur yang sama atau berbeda. Virus dapat menjadi
aktif kembali pada ibu hamil atau pada seseorang yang sedang mendapat kemoterapi.
Pada ibu hamil, insidens infeksi rekurens lebih sering menyebabkan infeksi kongenital.
Beberapa kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya penyebaran horizontal, yaitu
kontak intim dengan pasien, penyebaran melalui transfusi darah atau transplantasi
jaringan, dan pennyebaran melalui hubungan seksual. Sitomegalovirus mempunyai daya
virulensi rendah, tetapi kontak yang intim dengan kasus infeksi CMV dapat
menyebabkan terjadinya penularan infeksi CMV. Kontak intim, melalui air liur dan urin,
memungkinkan terjadinya infeksi. Stagno mendapatkan bahwa tingginya prevalensi
penyebaran infeksi CMV pada anak di daerah perkotaan sangat dipengaruhi oleh faktor
kepadatan jumlah penduduk, bukan oleh karena faktor tempat tinggal, tingkat
pengetahuan orang tua dan dari daerah mana kedua orang tua anak tersebut berasal.
Kejadian infeksi CMV tinggi pada anak usia 1-2 tahun, anak pada usia ini sudah
mulai dapat berjalan, sering memasukkan segala benda yang dipegang ke dalam mulut.
Oleh karena itu walaupun mungkin terjadi penyebaran CMV lewat urin pada anak usia 1-
2 tahun, tetapi infeksi CMV lebih sering terjadi karena kontak tidak langsung, misalnya
melalui mainan anak yang terbuat dari bahan plastik yang dimiliki oleh anak yanng
diketahui mengekskresi CMV dari air liurnya. Anak yang menderita infeksi CMV dapat
menularkan penyakitnya pada ibunya atau pada bibinya yang sedang hamil. Dilaporkan
serokonversi positif sebesar 4,7% pada perawat yang bekerja di ruang perawatan anak.
Diduga 1% dari bayi baru lahir, 13-30% bayi prematur dan 5-10% anak yang urinnya
ditemukan CMV positif yang merupakan sumber infeksi untuk mereka yang bekerja di
rumah sakit. Di tempat penitipan anak penyebaran infeksi CMV dapat juga terjadi karena
anak usia di bawah 2 tahun belum dapat menjalankan toilet training sehingga para
personel di tempat penitipan anak dapat kontak dengan CMV yang diekskresikan lewat
urin. Personel rumah sakit mempunyai resiko yang lebih rendah dibandingkan dengan
mereka yang bekerja di tempat penitipan anak oleh karena dengan adanya prosedur baku
seperti cuci tangan dan kontrol infeksi menyebabkan mereka mempunyai resiko yang
lebih rendah untuk mendapat infeksi non-parenteral.

Tabel?
Gambar?

1.2 Patogenesis
Tidak seperti halnya penyakit infeksi lain, misalnya rubela dan toksoplasma
transmisi in-utero terjadi pada ibu hamil yang pertama kali terinfeksi; pada CMV,
transmisi utero dapat terjadi baik pada infeksi primer atau pada infeksi rekurens.
Sebagian besar infeksi CMV pada ibu hamil tidak memberikan gejala. Infeksi CMV
kongenital, 30-40% lebih sering ditemukan pada infeksi primer. Selain itu, infeksi
rekurens, bayi yang terkena infeksi kongential mempunyai gejala klinis yang lebih ringan
daripada infeksi primer oleh karena imunitas ibu dalam beberapa hal akan melemahkan
infeksi terhadap janin. Umur kehamilan tidak mempengaruhi terjadinya transmisi in-
utero, tetapi infeksi primer terjadi pada umur kehamilan muda mempunyai prognosis
lebih buruk daripada kehamilan tua. Pada kebanyakan ibu hamil, CMV dapat ditemukan
dalam sekret serviks dan urin selama kehamilannya, akan tetapi hasil isolasi CMV dari
ibu hamil tersebut dapat negatif walaupun bayinya menderita infeksi CMV kongenital.
Dengan demikian, hasil isolasi CMV dari urin ibu hamil tidak dapat dijadikan indikator
tidak adanya infeksi CMV kongenital.
Pada infeksi CMV kongenital, janin dalam kandungan akan terinfeksi CMV yang
sebelumnya telah menimbulkan infeksi pada plasenta. Dari plasenta, virus kemudian
meyebar secara hematogen ke janin. Terdapat teori yang menjelaskan kemungkinan
terjadinya infeksi CMV pada janin yang disebabkan rekativasi infeksi CMV yang berasal
dari endometrium, miometrium dan kanalis servikaslis. Teori yang lain mengatakan,
infeksi CMV pada ovarium atau semen yang mengandung CMV dapat menyebabkan
terjadinya infeksi CMV kongenital.

1.3 Patologi
Cytomegalovirus dapat menyerang susunan saraf pusat, mata, sistem hematopoetik,
ginjal, kelenjar endoktrin, saluran cerna, paru dan plasenta. Ukuran sel organ yang
diserang akan menjadi bertambah besar dengan inti yang juga membesar, bulat, oval atau
berbentuk ginjal. Pada sitoplasma dijumpai adanya inclusion yang letaknya terpisah dari
membran inti sel. Inclusion terdiri dari struktur DNA disebut juga owls eye appearance
dengan pewarnaan PAS (Periodic Acid-Schiff) memberikan hasil positif.
Infeksi pada susunan saraf pusat adalah meningitis atau periependimitis. Infeksi pada
SSP dapat menimbulkan kalsifikasi pada otak.
1.4 a

2. a