Anda di halaman 1dari 6

Analisa Rangkaian Dioda Zener

{0 Comments}
Posted by angga pradana
in Dioda
Bagikan
Analisa rangkaian dioda zener hampir mirip dengan analisa rangkaian dioda biasa. Pertama kita
harus menentukan kondisi dari dioda zener tersebut. Dioda zener dalam kondisi on apabila
tegangan pada dioda zener tersebut lebih tinggi dari spesifikasi tegangan zenernya (V
Z
) dan
polaritas tegangannya harus seperti ditunjukkan pada gambar 1a (dioda dalam kondisi bias
terbalik). Dioda zener yang mengalami on, diganti dengan sumber tegangan yang nilainya sesuai
dengan rating tegangan zenernya. Dioda zener berada dalam kondisi off, apabila tegangan pada
dioda zener kurang dari tegangan zener dan lebih dari 0 V. Dioda zener yang berada dalam
kondisi off diganti dengan open circuit seperti ditunjukkan pada gambar 1b.
Gambar 1 (a) Rangkaian ekivalen dioda zener pada
saat on. (b) rangkaian ekivalem dioda zener pada saat off
Dioda zener pada umumnya digunakan sebagai regulator tegangan seperti ditunjukkan pada
gambar 2 yang terdiri dari sumber tegangan dan resistor beban. Pada dasarnya analisa dibagi
kedalam dua tahap.
Gambar 2 Rangkaian regulator tegangan sederhana dengan
dioda zener
Tahap pertama tentukan kondisi dari dioda zener, apakah dalam kondisi on atau off. Hilangkan
dioda zener dari rangkaian tersebut sehingga menjadi open circuit, lalu hitunglah tegangan pada
terminal yang open circuit tersebut. Kita terapkan langkah pertama ini pada rangkaian gambar 2.
Kita ganti dioda zener dengan open circuit seperti ditunjukkan pada gambar 3, lalu kita hitung
tegangan pada terminal open circuit tersebut.
vGambar 3 Menentukan kondisi dioda zener, on atau off
persamaan 1
Apabila nilai V V
Z
, maka dioda zener berada dalam kondisi on, dan dioda zener tersebut
diganti dengan sumber tegangan sebesar V
Z
. Apabila V < V
Z
, maka dioda zener menjadi off, dan
dioda zener tersebut diganti dengan open circuit.
Langkah kedua, setelah kondisi dioda zener telah ditentukan, dimana dioda zener yang on diganti
sumber tegangan sebesar V
Z
dan dioda zener yang off diganti dengan open circuit. Selanjutnya
kita analisa rangkaiannya dengan analisa rangkaian seperti biasa. Kita bisa menghitung nilai-nilai
arus dan tegangan dalam rangkaian yang ingin kita ketahui.
Apabila dioda zener pada gambar 2 berada dalam kondisi on, maka rangkaian ekivalennya
ditunjukkan pada gambar 4. Kita lihat, dioda zener diganti dengan sumber tegangan sebesar V
Z
.
Karena sumber tegangan V
Z
dirangkai paralel dengan resistor beban, maka dperoleh persamaan
V
L
= V
Z

Gambar 4 Dioda zener yang on (mengalami breakdown)
diganti dengan sumber tegangan
Kita gunakan hukum Kirchoff arus (KCL) pada titik sambungan antara dioda zener dengan
resistor beban, menghasilkan persamaan arus
I
R
= I
Z
+ I
L

I
Z
= I
R
I
L

dimana I
L
= V
L
/R
L
dan I
R
= V
R
/R = (V
i
V
L
)/R
Daya yang diserap oleh dioda zener dapat dihitung dengan persamaan
P
Z
= V
Z
I
Z

dimana daya P
Z
ini harus lebih rendah dari spesifikasi dissipasi daya maksimum dari dioda zener
tersebut, kalau tidak, maka dioda zener tersebut bisa terbakar. Disini yang perlu diingat adalah
pada saat dioda zener telah on, begitu tegangan sumber dinaikkan, maka tegangan zener tidak
akan ikut naik. Dioda zener akan mempertahankan tegangan pada level tegangan zenernya.
Karena sifatnya ini, dioda zener banyak dipakai sebagai rangkaian regulator tegangan atau
sebagai tegangan referensi dalam rangkaian.
Contoh Soal
(a) Hitunglah nilai V
L
, V
R
, I
Z
, dan P
Z
pada rangkaian dioda zener gambar 5
(b) Ulangi soal (a) apabila beban resistor RL dirubah menjadi 3 k
Gambar 5 Rangkaian regulator tegangan dengan
dioda zener
Solusi
(a) Pertama kita harus menentukan kondisi dioda zener terlebih dahulu, apakah dioda itu on atau
off. Kita ganti dioda zener dengan open circuit seperti ditunjukkan pada gambar 6 dan kita hitung
tegangannya
Gambar 6 Menghitung tegangan V untuk menentukan
kondisi dioda zener on atau off
Karena tegangan pada dioda zener hanya sebesar V
= 8.73 V dan tegangan tersebut kurang dari tegangan zenernya yang memiliki nilai sebesar V
Z
=
10 V, maka dioda zener tersebut dalam kondisi off seperti ditunjukkan pada kurva karakteristik
arus tegangan dioda zener pada gambar 7.
Gambar 7 Titik operasional dioda zener pada rangkaian gambar
5. Dioda zener tersebut belum bisa menghantarkan arus listrik
V
L
= V = 8.73 V
V
R
= V
i
V
L
= 16 V 8.73 V = 7.27 V
I
Z
= 0 A
P
Z
= V
Z
I
Z
= VZ (0 A) = 0 W
(b) Sekarang dengan cara yang sama, kita analisa contoh rangkaian dioda zener tersebut, namun
sekarang resistor bebannya diganti menjadi 3 k. Untuk menentukan kondisi zener, kita hitung
tegangannya
Karena tegangannya V = 12 V lebih besar dari
tegangan zener V
Z
= 10 V, maka dioda dalam kondisi on dan dioda zener tersebut diganti dengan
sumber tegangan sebesar 10 V seperti ditunjukkan pada gambar 8. Maka kita bisa menghitung
arus dan tegangan dalam rangkaian tersebut
Gambar 8 Rangkaian ekivalen dari gambar 5 pada
saat dioda zener on
V
L
= V
Z
= 10 V
V
R
= V
i
V
L
= 16 V 10 V = 6 V
I
L
= V
L
/R
L
= 10V/3k = 3.33 mA
I
R
= V
R
/R = 6V/1k = 6 mA
I
Z
= I
R
I
L
= 6 mA 3.33 mA = 2.67 mA
Daya yang terserap oleh dioda zener sebesar
P
Z
= V
Z
I
Z
= (10 V) (2.67 mA) = 26.7 mW
dimana dissipasi daya pada dioda zener ini masih di bawah rating dissipasi daya maksimumnya
yaitu sebesar P
ZM
= 30 mW
Kesimpulan dari kedua contoh soal ini : pada rangkaian (a), beban resistor yang terhubung ke
regulator tersebut memiliki nilai yang terlalu kecil sehingga dioda zener tidak cukup menjadi on.
Pada rangkaian (b), resistor bebannya diperbesar menjadi 3 k sehingga dioda zener bisa on.
Jadi, kemampuan dioda zener dalam meregulasi tegangan dibatasi oleh nilai beban yang ingin
diregulasi tegangannya (tidak bisa terlalu kecil).
Dioda zener sebagai rangkaian clipper
Rangkaian clipper bisa dibentuk dari dioda zener. Seperti susunan dua dioda zener yang dipasang
secara bertolak belakang pada gambar 9a. Rangkaian ini digunakan untuk meregulasi tegangan
AC. Rangkaian tersebut diberi input v
i
berupa tegangan sinus (AC). Pada saat tegangan inputnya
sebesar v
i
= +10V, maka titik kerja dari masing-masing dioda ditunjukkan pada gambar 9b.
Dioda Z
1
mengalami bias maju sehingga menjadi short circuit (impedansinya sangat rendah) dan
tegangan Z
1
kira-kira sebesar 0.7 V. Sedangkan dioda Z
2
mengalami bias terbalik tapi belum
mengalami break down sehingga impedansi Z
2
sangat tinggi (seperti open circuit). Karena Z
2

mengalami open circuit, maka tegangan input sama dengan tegangan output (v
i
= v
o
). Tegangan
input akan terus sama dengan tegangan output hingga v
i
mencapai nilai v
i
= 20 V. Dioda Z
2

menjadi on (break down) dan mejadi sumber tegangan sebesar 20 V. Sedangkan dioda Z
1
tetap
menjadi bias maju dan dianggap mengalami short circuit. Jadi, begitu tegangan input berada di
atas 20 V (v
i
> 20 V) maka dioda zener D
2
akan meregulasi dan memepertahankan tegangannya
sebesar 20 V dan tegangan output v
o
= 20 V. Begitu juga sebaliknya, pada saat tegangan input v
i

< -20V, maka dioda Z
1
mengalami break down dan dioda Z
2
menjadi bias maju. Dioda Z
1
akan
mempertahankan tegangan output sebesar -20 V. Hasil tegangan outputnya tidak lagi sinus
murni, tetapi bentuknya seperti gelombang sinus yang terpotong. Nilai RMS dari tegangan
output lebih rendah dari pada RMS tegangan input.
Gambar 9 Regulator
tegangan AC : (a) Rangkaian regulator tegangan AC dari dioda zener. (b) Operasional rangkaian
pada saat tegangan input sama dengan 10 V.
Model rangkaian seperti ini bisa mengubah gelombang sinus menjadi gelombang kotak (hampir
kotak) apabila amplitudo dari tegangan input dinaikkan hingga 50 V dan menggunakan dioda
zener yang memiliki tegangan zener sebesar 10 V. Perhatikan rangkaian dan bentuk sinyal input
dan output pada gambar 10. Bentuk gelombang output dari rangkaian regulator tegangan AC
tersebut hampir mendekati bentuk kotak.
Gambar 10
Pembangkit gelombang kotak sederhana