Anda di halaman 1dari 21

AMELOBLASTOMA

1.1 LATAR BELAKANG


Ameloblastoma merupakan suatu tumor epitelial odontogenik yang
berasal dari jaringan pembentuk gigi, bersifat jinak, tumbuh lambat,
penyebarannya lokal invasif dan destruktif serta mengadakan proliferasi
kedalam stroma jaringan ikat.
1
Tumor ini mempunyai kecenderungan
untuk kambuh apabila tindakan operasi tidak memadai. Sifat yang mudah
kambuh dan penyebarannya yang ekspansif dan infltratif ini memberikan
kesan malignancy dan oleh karena sifat penyebarannya maupun
kekambuhannya lokal maka tumor ini sering disebut sebagai locally
malignancy.
2
Ameloblastoma merupakan tumor jinak odontogenik yang berasal dari
sisa sisa epitel pada masa pembentukan gigi. Ameloblastoma dapat
tumbuh dari berbagai macam epitel odontogenik yang tersisa di antara
jaringan lunak alveolar dan tulang. Tumor ini tumbuhnya lambat, agresif
secara lokal dan dapat menyebabkan deformitas !ajah yang besar.
Ameloblastoma memiliki angka kejadian rekurensi yang tinggi bila tumor
ini tidak dieksisi secara luas dan hatihati.
"
#ari semua pembengkakan yang terjadi pada rongga mulut, $%
merupakan tumor odontogenik dan kirakira 1% dari lesi tersebut
merupakan ameloblastoma. Ameloblastoma terjadi pada maksila sekitar
2&% kasus, paling sering terjadi pada region kaninus dan antral.
Ameloblastoma terjadi pada mandibula sekitar '&% kasus. (ang mana
)&% terjadi di daerah molar atau pada ramus asendens, 2&% pada regio
premolar dan 1&% di regio anterior. Ameloblastoma biasanya didiagnosa
pada pasien yang umurnya antara dekade empat dan dekade lima,
kecuali pada kasus tipe unikistik yang biasanya terjadi pada pasien yang
berusia antara 2& sampai "& tahun dengan tidak ada predileksi jenis
kelamin. Sekitar 1&1*% tumor ini terjadi berhubungan dengan gigi yang
tidak erupsi.
+
2.1 Defnisi Ameloblastoma
Ameloblastoma ialah tumor yang berasal dari jaringan organ enamel
yang tidak menjalani diferensiasi membentuk enamel. ,al ini telah
dijelaskan sangat tepat oleh -obinson bah!a tumor ini biasanya
unisentrik, nonfungsional, pertumbuhannya bersifat intermiten, secara
anatomis jinak dan secara klinis bersifat persisten.
*
Ameloblastoma adalah tumor yang berasal dari epitelial
odontogenik. Ameloblastoma biasanya pertumbuhannnya lambat,
secara lokal invasif dan sebagian besar tumor ini bersifat jinak.
.
2.2 Etiologi dan Patogenesis
/ada saat ini sebagian penulis mempertimbangkan bah!a tumor
ini tumbuh dari berbagai asal, !alaupun rangsangan a!al dari proses
pembentukan tumor ini belum diketahui.
Tumor ini dapat berasal dari0
Sisa sel dari enamel organ atau sisasisa dental lamina. Struktur
mikroskopis dari beberapa spesimen dijumpai pada area epitelial sel
yang terlihat pada perifer berbentuk kolumnar dan berhubungan
dengan ameloblast yang pada bagian tengah mengalami degenerasi
serta menyerupai retikulum stelata
Sisasisa dari epitel 1alasse2. Terlihat sisasisa epitel yang biasanya
terdapat pada membran periodontal dan kadangkadang dapat
terlihat pada tulang spongiosa yang mungkin menyebabkan
pergeseran gigi dan menstimulasi terbentuknya kista odontogenik
3pitelium dari kista odontogenik, terutama kista dentigerous dan
odontoma. /ada kasus yang dilaporkan oleh 4ahn 51$""6, 7vy
51$*'6, ,odson 51$*)6 mengenai ameloblastoma yang berkembang
dari kista periodontal atau kista dentigerous tapi hal ini sangat
jarang terjadi. Setelah pera!atan dari kista odontogenik, terjadi
perkembangan dan rekurensi menjadi ameloblastoma.
8asal sel dari epitelium permukaan dari tulang rahang. Siegmund
dan 9eber 51$2.6 pada beberapa kasus ameloblastoma
menemukan adanya hubungan dengan epiteluim oral.
*,)
:ambar 1. ;emungkinan sumber penyebab ameloblastoma 5Sapp </, 3versole =-,
9ysocki :/.
Contemporary Oral and Maxillofacial Pathology. 2nd ed. 1issouri 0 1osby, 1$$)0 1".1+"
2. Ti!e Ameloblastoma
Ada tiga tipe subtipe secara klinis untuk tujuan pera!atan antara
lain tipe solid>multikistik, tipe unikistik, dan tipe ekstraosseus>periferal.
1
:ambar 2. Ameloblastoma subtipe klinis A. Tipe multikistik 8. Tipe ?nikistik 4. Tipe
/eriferal 5Sapp </, 3versole =-, 9ysocki :/. 4ontemporary @ral and 1aAillofacial
/athology. 2nd ed. 1issouri 0 1osby, 1$$)0 1".1+".6
2..1. Ti!e solid ata" m"lti#isti#
Tumor ini menyerang pasien pada seluruh lapisan umur. Tumor ini
jarang terjadi pada anak yang usianya lebih kecil dari 1& tahun dan relatif
jarang terjadi pada usia 1& sampai 1$ tahun. Tumor ini menunjukan angka
prevalensi yang sama pada usia dekade ketiga sampai dekade ketujuh.
Tidak ada predileksi jenis kelamin yang signifkan. Sekitar '*% tumor ini
terjadi pada mandibula, paling sering pada daerah molar di sekitar ramus
asendens. Sekitar 1*% tumor ini terjadi pada maksila biasanya pada regio
posterior.
'
Tumor ini biasanya asimptomatik dan lesi yang kecil ditemukan
pada saat pemeriksaan radiografs. :ambaran klinis yang sering muncul
adalah pembengkakan atau ekspansi rahang yang tidak terasa sakit. <ika
tidak dira!at, lesi akan tumbuh lambat membentuk massa yang masif.
-asa sakit dan parastesia jarang terjadi bahkan pada tumor yang besar.
'
Tumor ini muncul dengan berbagai macam gambaran histologis
antara lain variasi dalam bentuk folikular, pleksiform dan sel granular.
9alaupun terdapat bermacam tipe histologis tapi hal ini tidak
memperngaruhi pera!atan maupun prognosis.
1&
Tipe solid atau multikistik tumbuh invasif secara lokal memiliki
angka kejadian rekurensi yang tinggi bila tidak diangkat secara tepat tapi
dari sisi lain tumor ini memiliki kecenderungan yang rendah untuk
bermetastasis.
11
Ameloblastoma tipe solid>multikistik ini ditandai dengan angka
terjadi rekurensi sampai *&% selama * tahun pasca pera!atan. @leh
karena itu, ameloblastoma tipe solid atau multikistik harus dira!at secara
radikal 5reseksi dengan margin jaringan normal disekeliling tumor6.
/emeriksaan rutin jangka panjang bahkan seumur hidup diindikasikan
untuk tipe ini.
1&
2..2 Ti!e "ni#isti#
Ameloblastoma unikistik sering terjadi pada pasien muda, *&% dari
tumor ini ditemukan pada pasien yang berada pada dekade kedua. =ebih
dari $&% ameloblastoma unikisik ditemukan pada mandibula pada regio
posterior.
'
Ameloblastoma tipe unikistik umumnya membentuk kista
dentigerous secara klinis maupun secara radiografs !alaupun beberapa
diantaranya tidak berhubungan dengan gigi yang tidak erupsi.
11
Tipe ini sulit didiagnosa karena kebanyakan ameloblastoma memiliki
komponen kista. Tipe ini umumnya menyerang bagian posterior
mandibula diikuti dengan regio parasimfsis dan anterior maksila. Sebuah
variasi yang disebut sebagai ameloblastoma unikistik pertama sekali
disebut pada tahun 1$)) oleh -obinson dan 1artine2. 1ereka melaporkan
bah!a tipe unikistik ini kurang agresif dan menyarankan enukleasi simple
sebagai pera!atannya. Studi menunjukan secara klinis enukleasi simple
pada ameloblastoma tipe unikistik sebenarnya menunjukan angka
rekurensi yang tinggi yaitu sekitar .&%. #engan demikian enukleasi
simple merupakan pera!atan yang tidak sesuai untuk lesi ini dan
pera!atan yang lebih radikal dengan osteotomi periferal atau terapi krio
dengan cairan nitrogen atau keduanya lebih sesuai untuk tumor ini.
1&
2.. Ti!e !e$i%e$al&e#st$aosse"s
/eriferal ameloblastoma juga dikenal dengan nama ekstraosseus
ameloblastoma atau ameloblastoma jaringan lunak. 8iasanya terjadi pada
gingiva atau mukosa alveolar. Tipe ini menginfltrasi jaringan di
sekelilingnya yaitu jaringan ikat gingiva dan tidak ada keterlibatan tulang
di ba!ahnya. /eriferal ameloblastoma ini umumnya tidak sakit, sessile,
kaku, pertumbuhan eksoftik yang biasanya halus atau granular.
Tumor ini diyakini me!akili 2 % sampai 1&% dari seluruh kasus
ameloblastoma yang didiagnosa. Tumor ini pernah dilaporkan terjadi pada
semua rentang umur dari $ sampai $2 tahun. ;asuskasus melaporkan
bah!a tumor ini terjadi kebanyakan pada pria daripada !anita dengan
perbandingan 1,$ dengan 1.
)&% dari ameloblastoma tipe periferal ini terjadi pada mandibula,
dari bagian ramus
dari anterior mandibula sampai foramen mandibula paling sering terkena.
8eberapa penulis lebih suka mengklasifkasikan mereka ke dalam
hamartoma daripada neoplasma dan tumor ini biasnya bersifat jinak,
tidak mengalami rekurensi setelah eksisi simpel komplit.
1&,11
/era!atan yang direkomendasikan untuk tumor ini berbeda dengan
pera!atan tumor tipe lainnya karena tumor ini biasanya kecil dan bersifat
lokal pada jaringan lunak superfsial. ;ebanyakan lesi berhasil dira!at
dengan eksisi lokal dengan mengikutsertakan sebagian kecil dari margin
jaringan yang normal. 1argin inferior harus diikutkan periosteoum untuk
menyakinkan penetrasi sel tumor ke tulang tidak terjadi.
1
:ambar ". /eriferal Ameloblastoma 5Sapp </, 3versole =-, 9ysocki :/. 4ontemporary
@ral and
1aAillofacial /athology. 2nd ed. 1issouri 0 1osby, 1$$)0 1".1+"6
2.'. Gamba$an (isto!atologis
Ameloblastoma menunjukan berbagai macam variasi pola histologi
bergantung pada arah dan derajat diBerensiasi sel tumor. ;lasifkasi 9,@
membagi ameloblastoma secara histologis terdiri dari follikular,
pleksiform, acanthomatous, sel granular dan tipe sel basal.
12
2.'.1 Ti!e )oli#"la$
Ameloblastoma tipe folikular menunjukan gambaran histologi yang
tipikal dengan adanya sarangsarang folikular dari selsel tumor yang
terdiri dari sebuah lapisan periferal dari selsel kolumnar atau kuboidal
dan sebuah massa sentral dari sel yang tersusun jarang yang menyerupai
retikulum stellata. #egenerasi dari jaringan yang berbentuk seperti
retikulum stellata itu akan menghasilkan pembentukan kista.
12
:ambar + 0 Ameloblastoma tipe follikular 5!!!.pathology@utlines.com6
2.'.2 Ti!e Ple#si%o$m
Ameloblastoma tipe pleksiform ditandai dengan kehadiran sel tumor
yang berbentuk seperti pita yang tidak teratur dan berhubungan satu
sama lain. Stroma terbentuk dari jaringan ikat yang longar dan edematous
fbrous yang mengalami degenerasi kistik.
12
:ambar *0 Ameloblastoma tipe pleksiform 5Shklar :.@ral 4ancer.1st 3d. /hiladelphiaC
9.8.Saunders4ompany, 1$'+0 2*"6
2.'. Ti!e A*ant+omato"s
Ameloblastoma tipe ini ditandai dengan karakteristik adannya
sDuamous metaplasia dari retikulum stelata yang berada diantara pulau
pulau tumor. ;ista kecil terbentuk di tengah sarang sellular. Stroma terdiri
dari jaringan ikat yang fbrous dan padat.
12
:ambar .0 Tipe acanthomatous 5Sapp </, 3versole =-, 9ysocki :/. 4ontemporary @ral
and 1aAillofacial /athology. 2nd ed. 1issouri 0 1osby, 1$$)0 1+&.6
2.'.' Ti!e Sel G$an"la$
/ada ameloblatoma tipe sel granular ditandai dengan adanya
transformasi dari sitoplasma biasanya berbentuk seperti sel retikulum
stelata, sehingga memberikan gambaran yang sangat kasar, granular dan
eosinoflik. Tipe ini sering melibatkan periferal sel kolumnar dan kuboidal.
,artman melaporkan 2& kasus dari ameloblastoma tipe sel granular dan
menekankan bah!a tipe sel granular ini cenderung merupakan lesi agresif
ditandai dengan kecenderungan untuk rekurensi bila tidak dilakukan
tindakan bedah yang tepat pada saat operasi pertama. Sebagai
tambahan, beberapa kasus dari tumor ini dilaporkan pernah terjadi
metastasis.
1"
:ambar )0 Tipe sel granular 5Sapp </, 3versole =-, 9ysocki :/. 4ontemporary
@ral and 1aAillofacial /athology. 2nd ed. 1issouri 0 1osby, 1$$)0 1+&.6
2.'., Ti!e Sel Basal
Ameloblastoma tipe sel basal ini mirip karsinoma sel basal pada
kulit. Sel epithelial tumor lebih primitif dan kurang kolumnar dan biasanya
tersusun dalam lembaranlembaran, lebih banyak dari tumor jenis lainnya.
Tumor ini merupakan tipe yang paling jarang dijumpai.
1"
:ambar '0 Tipe sel basal 5Sapp </, 3versole =-, 9ysocki :/. 4ontemporary @ral and
1aAillofacial /athology. 2
nd
ed. 1issouri 0 1osby, 1$$)0 1+&.6
2.,. Gamba$an Radiologis
Secara radiologis, gambaran ameloblastoma muncul sebagai
gambaran radiolusensi yang multiokular atau uniokular.
12
2.,.1 M"ltio#"la$
/ada tipe ini, tumor menunjukkan gambaran bagianbagian yang
terpisah oleh septa tulang yang memperluas membentuk masa tumor.
)
:ambaran multiokular ditandai dengan lesi yang besar dan memberikan
gambaran seperti soap bubble.
?kuran lesi yang sebenarnya tidak dapat ditentukan karena lesi
tidak menunjukkan garis batasan yang jelas dengan tulang yang normal.
-esopsi akar jarang terjadi tapi kadangkadang dapat dilihat pada
beberapa lesi yang tumbuh dengan cepat.
1
:ambar $0 1ultiokular ameloblastoma
5http0>>!!!.radpod.org>2&&)>&'>&1>ameloblastoma>6
2.,.2 -nio#"la$
/ada tipe lesi uniokular biasanya tidak tampak adanya karakteristik
atau gambaran yang patologis. 8agian periferal dari lesi biasanya licin
!alaupun keteraturan ini tidak dijumpai pada !aktu operasi. /ada lesi
lanjut akan mengakibatkan pembesaran rahang dan penebalan tulang
kortikal dapat dilihat dari gambaran roentgen.
)
:ambar 1&0 Ameloblastoma tipe uniokular 5Sapp </, 3versole =-, 9ysocki :/.
4ontemporary @ral and 1aAillofacial /athology. 2nd ed. 1issouri 0 1osby,1$$)0 1".1+".6
2.. Pe$a/atan
/era!atan tumor ini beragam mulai dari kuretase sampai reseksi
tulang yang luas, dengan atau tanpa rekonstruksi. -adioterapi tidak
diindikasikan karena lesi ini radioresisten. /ada beberapa literatur juga
ditemukan indikasi untuk dielektrokauterisasi, bedah krio dan penggunaan
agen sklorosan sebagai pilihan pera!atan. /emeriksaan kembali 5follo!
up pasca operasi6 penting karena hampir *&% kasus rekurensi terjadi
pada lima tahun pertama pasca operasi.
"
/era!atan untuk tumor ini harus dieksisi dan harus meliputi
neoplasma sampai jaringan sehat yang berada di ba!ah tumor. Setelah
itu, harus dilanjutkan dengan elektrodesikasi atau dengan dira!at lukanya
dengan larutan ;arnoy.
;emungkinan untuk terjadi rekurensi ada dan pasien harus
diinstruksikan untuk mengikuti pemeriksaan secara berkala sampai
bertahuntahun setelah operasi. 7radiasi paska operasi ditujukan untuk
mengurangi insidensi rekurensi dan harus dilakukan secara rutin.
1+
;ebanyakan ahli bedah melakukan reseksi komplit pada daerah tulang
yang terlibat tumor dan kemudian dilakukan bone graft. Tumor ini tidak
bersifat radiosensitif tapi Andra 51$+$6 melaporkan bah!a terapi dengan
Eray dan -adium mempunyai efek dalam menghambat pertumbuhan lesi
ini. 9aldron dan 9orman 51$"16 melakukan enukleasi pada
ameloblastoma yang kecil, sementara sebagian penulis
merekomendasikan reseksi total maupun reseksi sebagian untuk kasus
yang lebih besar. 8agaimanapun, ahli bedah yang pertama kali melakukan
operasi kasus ameloblastoma memiliki kesempatan terbaik untuk
mengobati pasien. 8yars dan Sarnat 51$+*6 menyimpulkan bah!a
ameloblastoma harus dienukleasi bila uniokular, dikauterisasi dengan
panas atau bahan kimia dan jika multiokular direseksi dengan
mengikutkan sedikit tulang yang normal jika ekstensif. -anko! dan ,ickey
51$*+6 meninjau ulang 2$ kasus ameloblastoma dan menemukan bah!a
insidensi terjadi rekurensi sebanyak $1% jika dilakukan kuretase lokal,
sementara tidak terjadi rekurensi jika dilakukan reseksi 51' kasus6.
*
8eberapa prosedur operasi yang mungkin digunakan untuk
mengobati ameloblastoma antara lain0
2...1 En"#leasi
3nukleasi merupakan prosedur yang kurang aman untuk dilakukan.
9eder 51$*&6 pada suatu diskusi menyatakan !alaupun popular, kuretase
merupakan prosedur yang paling tidak efsien untuk dilakukan. 3nukleasi
menyebabkan kasus rekurensi hampir tidak dapat dielakkan, !alaupun
sebuah periode laten dari pengobatan yang berbeda mungkin
memberikan hasil yang salah. ;uretase tumor dapat meninggalkan tulang
yang sudah diinvasi oleh sel tumor.
*
Teknik enukleasi dia!ali dengan insisi, Fap mukoperiostal dibuka.
;adangkadang tulang yang mengelilingi lesi tipis. <ika dinding lesi
melekat pada periosteum, maka harus dipisahkan. #engan pembukaan
yang cukup, lesi biasanya dapat diangkat dari tulang. :unakan sisi yang
konveks dari kuret dengan tarikan yang lembut. Saraf dan pembuluh
darah biasanya digeser ke samping dan tidak berada pada daerah
operasi. ?jung tulang yang tajam dihaluskan dan daerah ini harus diirigasi
dan diperiksa. :igigigi yang berada di daerah tumor jinak biasanya tidak
diperlukan pera!atan khusus. <ika devitalisasi diperlukan, pera!atan
endodontik sebelum operasi dapat dilakukan.
1*
2...2 E#sisi Blo#
;ebanyakan ameloblastoma harus dieksisi daripada dienukleasi.
3ksisi sebuah bagian tulang dengan adanya kontinuitas tulang mungkin
direkomendasikan apabila ameloblastomanya kecil. 7nsisi dibuat pada
mukosa dengan ukuran yang meliputi semua bagian yang terlibat tumor.
7nsisi dibuat menjadi Fap supaya tulang dapat direseksi di ba!ah tepi
yang terlibat tumor. =ubang bur ditempatkan pada outline osteotomi,
dengan bur leher panjang ,enahan. @steotom digunakan untuk
melengkapi pemotongan. Sesudah itu, segmen tulang yang terlibat tumor
dibuang dengan tepi yang aman dari tulang yang normal dan tanpa
merusak border tulang.
Setelah meletakkan Fap untuk menutup tulang, dilakukan
penjahitan untuk mempertahankan posisinya. #engan demikian eksisi
tidak hanya mengikutkan tumor saja tetapi juga sebagian tulang normal
yang mengelilinginya. :igi yang terlibat tumor dibuang bersamaan
dengan tumor. :igi yang terlibat tidak diekstraksi secara terpisah.
*
:ambar 110 3ksisi 8lok 5Thoma ;,, Ganderveen <=. @ral Surgery. *th 3d.Saint =ouisCThe
4.G. 1osby 4ompany,1$.$0 $$"6
2... (emimandib"le#tomi
1erupakan pola yang sama dengan eksisi blok yang diperluas yang
mungkin saja melibatkan pembuangan angulus, ramus atau bahkan pada
beberapa kasus dilakukan pembuangan kondilus. /embuangan bagian
anterior mandibula sampai ke regio simfsis tanpa menyisakan border
ba!ah mandibula akan mengakibatkan perubahan bentuk !ajah yang
dinamakan H Andy :ump #eformityH.
1.
-eseksi mandibula dilakukan setelah trakeostomi dan diseksi leher
radikal 5bila diperlukan6 telah dilakukan. Akses biasanya diperoleh dengan
insisi splitting bibir ba!ah.
1)
8ibir ba!ah dipisahkan dan sebuah insisi
vertikal dibuat sampai ke dagu. 7nsisi itu kemudian dibelokkan secara
hori2ontal sekitar I inchi diba!ah border ba!ah mandibula. ;emudian
insisi diperluas mengikuti angulus mandibula sampai mastoid. Setelah
akses diperoleh, di dekat foramen mentale mungkin saja dapat terjadi
pendarahan karena adanya neurovascular.
:ambar 120 /ola 7nsisi pada ,emimandibulektomi 5;eith #A. Atlas of @ral and
1aAillofacial
Surgery./hiladelphiaC9.8.Saunder 4ompany, 1$$20 2+"6.
/ermukaan dalam mandibula secara perlahanlahan dibuka dengan
mendiseksi mukosa oral. #engan menggunakan gigli sa! pemotongan
dilakukan secara vertikal di daerah mentum. ,al ini akan memisahkan
mandibula secara vertikal. 1andibula terbebas dari otot yang melekat
antara lain muskulus depressor labii inferior, depressor anguli oris dan
platysma. 8agian mandibula yang akan direseksi dibebaskan dari
perlekatannya dari mukosa oral dengan hatihati. Setelah itu, komponen
rahang yang mengandung massa tumor dieksisi dengan margin yang
cukup.
1'
8agian margin dari defek bedah harus dibiopsi untuk
pemeriksaan untuk menentukan apakah reseksi yang dilakukan cukup
atau tidak. <ika bagian itu bebas dari tumor, bagian ramus dan kondilus
mandibula harus dipertahankan untuk digunakan pada rekonstruksi yang
akan datang. -amus paling baik dipotong secara vertikal. ;etika
mandibula disartikulasi, maka ada resiko pendarahan karena insersi
temporalis dan otot pterygoid lateral dipisahkan. ,al ini dapat dihindari
dengan membiarkan kondilus dan prosessus koronoid berada tetap in situ.
Setelah hemimandibulektomi, penutupan luka intraoral biasanya
dilakukan dengan penjahitan langsung.
1)
:ambar 1"0 Tipe umum dari reseksi mandibula A. #engan keterlibatan kondilus 8.Tanpa
pembuangan kondilus 5;eith #A. Atlas of @ral and 1aAillofacial Surgery. /hiladelphiaC
9.8. Saunders 4ompany, 1$$20 2++6
2...'. (emima#sile#tomi
Akses ke maksila biasnya diperoleh dengan insisi 9eber Jergusson.
/emisahan bibir melalui philtrum rim dan pengangkatan pipi dengan insisi
paranasal dan infraorbital menyediakan eksposure yang luas dari !ajah
dan aspek lateral dari maksila dan dari ethmoid.
:ambar 1+0 /ola 7nsisi 9eber Jergusson 58ooth /9, Schendel SA, ,ausamen <3.
1aAillofacial Surgery. 2nd 3d.1issouriC4hurhill =ivingstone 3lsevier, 2&&)0+"16
Setelah diperoleh eksposure yang cukup, dilakukan pemotongan
jaringan lunak dan ekstraksi gigi yang diperlukan. ;emudian dilakukan
pemotongan dengan oscillating sa! dari lateral dinding maksila ke
infraorbital rim kemudian menuju kavitas nasal melalui fossa lakrimalis.
#ari kavitas nasal dipotong menuju alveolar ridge. Setelah itu, dilakukan
pemotongan pada palatum keras. ;emudian pemotongan lateral dinding
nasal yang menghubungkan lakrimal dipotong ke nasofaring dengan
mengunakan chisel dan gunting 1ayo dan kemudian dilakukan
pemotongan posterior. /embuangan spesimen dan packing kavitas
maksilektomi yang tepat diperlukan untuk mengkontrol pendarahan.
1&
:ambar 1*0 /emotongan tulang pada subtotal maksilektomi 58ooth /9, Schendel SA,
,ausamen <3. 1aAillofacial Surgery. 2nd 3d 1issouriC 4hurhill =ivingstone 3lsevier, 2&&) 0
+"26
Setelah hemostasis terjadi, manajemen maksilektomi yang tepat
dapat membantu ahli prostodonsia untuk merehabilitasi pasien. Semua
bagian tulang yang tajam dihaluskan. /rosesus koronoid harus diangkat,
karena dekat dengan margin lateral defek yang akan menyebabkan
penutup protesa lepas ketika mulut dibuka.
Jlap yang ada pada mukosa dikembalikan menutupi margin medial
tulang. Skin graft kemudian dijahit ke tepi luka, lebih baik hanya lembaran
tunggal. /ermukaan diba!ah Fap pipi, tulang, otot periorbita dan bahkan
dura semuanya ditutup. :raft dipertahankan dengan packing iodoform
gau2e yang diisi ben2oin tincture. /acking yang cukup digunakan untuk
mengisi kembali kontur pipi. @bturator bedah yang sudah dibuat oleh ahli
prostodonsi direline dengan soft denture reliner sehingga dapat
mendukung packing dan menutup defek. @bturator dapat dipasangkan ke
gigigigi secara fAed atau tidak, tergantung kondisi individual pasien. Jlap
pipi kemudian dikembalikan dan menutup lapisan.
1)
2.0 Re#ont$"#si !as*a beda+
2.0.1 Pema#aian !$otesa obt"$ato$
/emasangan protesa palatal secara imidiate telah menjadi
pera!atan standard setelah dilakukan maksilektomi atau palatektomi,
kecuali digunakan rekonstruksi free Fap. 4acat bedah dapat memberikan
efek samping terhadap kesehatan fungsional dan psikologis pasien. Tujuan
dari rekonstruksi adalah untuk mengembalikan fungsi bicara, fungsi
pencernaan, menyediakan dukungan terhadap bibir dan pipi dan
membangun kembali proyeksi midfacial.
1$
/asien yang menjalani reseksi maksila akan direhabilitasi dalam tiga
fase masngmasing fase memerlukan protesa obturator yang akan
mendukung kesembuhan pasien. ;etiga obturator protesa ini adalah
obturator bedah, obturator interim, dan obturator defnitif.
2&
2.0.1.1 Obt"$ato$ Beda+
-ehabilitasi prostodontik dimulai dengan obturator bedah yang
mana dimasukkan pada !aktu bedah untuk membantu mempertahankan
packing, mencegah kontaminasi oral dari luka bedah dan skin graft dan
memungkinkan pasien untuk berbicara dan menelan selama periode
postoperasi inisial.
21
/rotesa ini akan digunakan kirakira * sampai 1& hari.
2&
2.0.1.2 Obt"$ato$ 1nte$im
@bturator bedah akan dikonversi menjadi obturator interim dengan
penambahan bahanbahan lining untuk adaptasi terhadap defek. /rotesa
interim ini secara periodik akan direadaptasi dan direline kembali untuk
menyesuaikan terhadap perubahan dimensional selama proses
penyembuhan jaringan defek. /roses ini akan meningkatkan kenyamanan
dan fungsional pasien.
21
Tujuan dari obturator ini adalah mengembalikan
fungsi bicara dengan mengembalikan kontur palatal. /rotesa ini akan
digunakan sekitar dua sampai enam bulan.
2&
2.0.1. Obt"$ato$ De%eniti%
@bturator defenitif akan dibuat ketika penyembuhan jaringan dan
kontraksi telah selesai. /embuatan protesa defenitif sebelum kontur
jaringan stabil memerlukan penyesuaian termasuk perubahan posisi gigi
atau penyesuaian terhadap bagian perifer protesa.
2&
:ambar 1.0 @bturator A. #efek palatal, 8. @bturator bedah, 4. @bturator interim,
#.@bturator defenitif 5Shklar :. @ral 4ancer.1st 3d. /hiladelphiaC 9.8.Saunders 4ompany,
$'+0 21$6
2.0.2 Peng"naan !lat
Tujuan dari rekonstruksi mandibula adalah membangun kontinuitas
mandibula, membangun osseus alvelolar bases dan koreksi terhadap
defek jaringan lunak. /ada umumnya kehilangan mandibula yang
diakibatkan karena proses patologis akan meninggalkan jaringan lunak
yang akan sembuh. 8ila dilakukan mandibulektomi akan menghasilkan
defek tulang yang besar dan jaringan lunak.
#efek pada mandibula bagian lateral lebih dapat ditoleransi dan
tidak membutuhkan rekonstruksi. ;ebalikannya defek pada anterior
mandibula akan menimbulkan kecacatan fungsional dan kosmetik yang
parah. 9aktu yang tepat untuk melakukan rekonstruksi masih
diperdebatkan.
22
/ada literatur disebutkan ada berbagai macam metode yang
digunakan untuk mengembalikan defek pada mandibula. 1etode ini dapat
diklasifkasikan dalam " kategori dasar yaitu bahan alloplastik, bahan
alloplastik dengan tulang dan tulang autogenous. 8ahan alloplastik telah
digunakan secara luas pada rekonstruksi mandibula dalam bentuk ka!at
atau plat, material organik 5kalsium aluminat, kalsium apatit, kalsium
sulfat6 dan bahan sintetik 5metilmetakrilat, proplas dan teFon6. #ari
semuanya, plat rekonstruksi biasanya dibuat dari stainless steel, A@
/lates 5Arbeitsgemeinschaft fur @stheosynthefragen /late6 , vitallium dan
titanium 5titorp plates6. ;omplikasi yang umum terjadi meliputi
ekstrusi>ekspose plat, kehilangan sekrup, dan fraktur plat.
22
/lat rekonstruksi mandibula memiliki keuntungan dari segi0
Tidak membutuhkan donor
/engeluaran
;ontur yang baik
;emampuan untuk membentuk kondilus.22
:ambar 1). /lat A@ 5!!!.emedicine.comKmandibular reconstruction,plating6