Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya
mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya dengan baik.
Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
"Retaining wall atau dinding penahan tanah", yang kami sajikan
berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Walaupun makalah ini
kurang sempurna dan memerlukan perbaikan tapi juga memiliki detail
yang cukup jelas bagi pembaca.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, yaitu
pak Pujadi,SP,MM yang telah membimbing penyusun agar dapat
mengerti tentang apa itu retaining wall dan bagaimana cara menyusun
karya tulis ilmiah yang baik dan sesuai kaidah.

Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas
kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kami membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang
membangun.
Terima kasih.
Wassalamualaikum Wr. Wb.






BAB I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Dalam dunia bangunan, struktur sangatlah penting untuk sebuah bangunan.
Tanpa struktur, bangunan yang di desain tidak akan mampu berdiri. Maka dari itu,
makalah ini akan membahas tentang salah satu struktur bangunan, yaitu Retaining
Wall atau dinding penahan tanah.

1.2 Ruang Lingkup Penelitian
Makalah ini mencangkup tentang pengertian retaining wall, kegunaan
retaining wall, struktur retaining wall, pelaksanaan retaing wall.

1.3 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
Membantu pembaca agar lebih mengetahui tentang retaining wall
Memahami kegunaan retaining wall pada bangunan
Manfaat dari pembuatan makalah ini adala :
Memberikan pembaca pengetahuan baru
Membantu pembaca agar mengetahui retaining wall lebih detail





BAB II
Umum
Dinding penahan tanah berfungsi untuk menyokong tanah serta
mencegahnya dari bahaya kelongsoran. Baik akibat beban air hujan, berat tanah itu
sendiri maupun akibat beban yang bekerja di atasnya. Pada saat ini, konstruksi
dinding penahan tanah sangat sering digunakan dalam pekerjaan sipil walaupun
ternyata konstruksi dinding penahan tanah sudah cukup lama dikenal di dunia. Salah
satu bukti peninggalan sejarah bahwa dinding penahan tanah telah digunakan pada
masa lampau adalah Tembok Raksasa China yang mulai dibangun pada zaman
Dinasti Qin (221 SM) sepanjang 6.700 km dari timur ke barat China dengan tinggi 8
meter, lebar bagian atasnya 5 meter, sedangkan lebar bagian bawahnya 8 meter.
Bukti lainnya yaitu taman gantung Babylonia yang dibangun di atas bukit batuan
yang bentuknya berupa podium bertingkat yang ditanami pohon, rumput dan bunga-
bungaan serta ada air terjun buatan berasal dari air sungai Eufrat yang dialirkan ke
puncak bukit lalu mengalir melalui saluran buatan, yang dibangun pada zaman raja
Nebukadnezar (612 SM) dengan tinggi 107 meter. Tembok Barat di Yerusalem (37
SM) juga dicatat sebagai bukti peninggalan sejarah yang telah memakai dinding
penahan tanah dalam konstruksinya, dibangun pada zaman raja Herodes sebagai
tembok penyangga kota Yerusalem. Sekarang, tembok ini lebih populer dengan
sebutan tembok rapatan. Tembok ini terbuat dari batu bata dan batuan gunung.

Pengertian Retaining Wall atau Dinding Penahan Tanah
Dinding penahan tanah adalah sebuah struktur yang didesain dan dibangun
untuk menahan tekanan lateral (horisontal) tanah ketika terdapat perubahan dalam
elevasi tanah yang melampaui sudut at-rest dalam tanah. Faktor penting dalam
mendesain dan membangun dinding penahan tanah adalah mengusahakan agar
dinding penahan tanah tidak bergerak ataupun tanahnya longsor akibat gaya
gravitasi. Tekanan tanah lateral di belakang dinding penahan tanah bergantung
kepada sudut geser dalam tanah (phi) dan kohesi (c). Tekanan lateral meningkat
dari atas sampai ke bagian paling bawah pada dinding penahan tanah. Jika tidak
direncanakan dengan baik, tekanan tanah akan mendorong dinding penahan tanah
sehingga menyebabkan kegagalan konstruksi serta kelongsoran. Kegagalan juga
disebabkan oleh air tanah yang berada di belakang dinding penahan tanah yang
tidak terdisipasi oleh sistem drainase. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk
sebuah dinding penahan tanah mempunyai sistem drainase yang baik, untuk
mengurangi tekanan hidrostatik dan meningkatakan stabilitas tanah.

Klasifikasi Dinding Penahan
Berdasarkan bentuk dan penahanan terhadap tanah, dinding penahan dapat
klasifikasikan ke dalam tiga bentuk, yakni: (1) dinding gravity, (2) dinding semi
gravity dan (3) dinding non gravity. Dinding gravity merupakan dinding penahan
tanah yang mengandalkan berat bahan sebagai penahan tanah umumnya berupa
pasangan batu atau bronjong batu (gabion). Dinding semi gravity selain
mengandalkan berat sendiri, memanfaatkan berat tanah tertahan untuk kestabilan
struktur. Sedangkandinding non gravity mengandalkan konstruksi dan kekuatan
bahan untuk kestabilan.

Tekanan Lateral Tanah
Untuk dapat memperkirakan dan menghitung kestabilan dinding penahan,
diperlukan menghitung tekanan ke arah samping (lateral). Karena massa tanah
berupa butiran, maka saat menerima tegangan normal (_) baik akibat beban yang
diterima tanah maupun akibat berat kolom tanah di atas kedalaman atau duga tanah
yang kita tinjau, akan menyebabkan tekangan tanah ke arah tegak lurus atau ke
arah samping. Tegangan inilah yang disebut sebagai tegangan tanah lateral (lateral
earth pressure). Tengangan tanah akibat kolom tanah tersebut merupakan besaran
tegangan efektif (_eff) yang sebanding dengan _ H. Pengetahuan tentang tegangan
lateral ini diperlukan untuk pendekatan perancangan kestabilan. Tekanan tanah
lateral dibedakan menjadi tekanan tanah lateral aktif dan tekanan lateral pasif.
Tekanan lateral aktif adalah tekanan lateral yang ditimbulkan tanah secara aktif pada
struktur yang kita selenggarakan. Sedangkan tekanan lateral pasif merupakan
tekanan yang timbul pada tanah saat menerima beban struktur yang kita salurkan
pada secara lateral. Besarnya tekanan tanah sangat dipengaruhi oleh fisik tanah,
sudut geser, dan kemiringan tanah terhadap bentuk struktur dinding penahan.
Kestabilan Dinding Penahan Tanah
Besaran tekanan lateral ini menjadi salah satu faktor utama yang
diperhitungkan untuk perancangan kestabilan dinding penahan tanah. Tekanan
lateral tersebut dapat menyebabkan dinding penahan terguling (overturning) atau
bergeser (slidding). Selain besaran tekanan lateral kestabilan dinding penahan
dipengaruhi pula oleh bentuk struktur dan faktor pelaksanaan konsruksi. Buruknya
pemadatan tanah tertahan di belakang dinding penahan merupakan penyebab
keruntuhan undermining.
Kestabilan Geser Dinding Penahan
Untuk memberikan kekuatan yang cukup melawan geseran horisontal, dasar
dinding penahan harus memeiliki kedalaman minimum 3 ft (1m) di bawah muka
tanah. Untuk dinding permanen, kekuatan tersebut harus stabil tanpa adanya
struktur penahan pasif di bagian kaki dinding. Jika syarat kekuatan diatas tak
mencukupi, dapat ditambahkan pengunci geser di bawah telapak pondasi atau tiang
pancang untuk menahan geseran. Selain persyaratan kekuatan tersebut, harus
dipertimbangkan pula adanya kemungkinan bahaya erosi akibat aliran maupun
pengaruh hujan.
Dinding Tanah Distabilisasi secara Mekanis (Mechanically Stabilized Earth
Wall/MSE)
MSE dibuat dari beberapa elemen bahan yang dimaksudkan untuk
penguatan dan perbaikan tanah dengan menggunakan plat baja (steel strip) atau
bahan grid polimer (polymeric grid), geotekstil (geotextile) yang kuat menahan
tarikan dan beban bahan di atasnya. Keuntungan dinding ini dibandingkan dinding
konvensional dari bahan pasangan dan beton bertulang adalah:
1. Fleksibel terhadap adanya kemungkinan penurunan
2. Cukup murah
3. Cukup efisien terhadap waktu pemasangan
4. Kapabilitas yang cukup baik untuk terjadinya drainase (drainage)
Terdapat dua macam produk, produk yang dapat mulur (extensible product), dan
produk yang tak dapat mulur (inextensible product). Produk yang dapat meregang
memungkinkan berubah bentuk akibat beban tanpa mengalami putus karena
kekuatannya telah dirancang melebihi kekuatan tanah. Dinding ini diselenggarakan
untuk keperluan semi permanen dan atau jika lapangan menyulitkan membangun
dinding penahan dari bahan pasangan. Kadang bahan ini digunakan sebagai
stabilisasi saat pelaksanaan pekerjaan dinding penahan yang lebih permanen.
Struktur Dinding dengan Paku
Struktur dinding ini diselenggarakan bersama-sama dengan pekerjaan
penggalian atau pemotongan tanah (excavation). Tanah diperkuat saat dilakukan
pemotongan. Perkuatan dengan paku ini menggunakan batang yang ditanam satu
dengan yang lain dengan sudut miring ke bawah sebesar 38o dari bidang datar
tanah (Gambar 5.29). Penanaman paku dilakukan dari atas ke bawah (Gambar
5.30). Sedangkan penyelenggaraan dinding yang relatif tipis dilakukan dari bawah
ke atas. Kesuksesan pemasangan ini sangat tergantung dari: (1) pemilihan tanah
yang cocok untuk penanaman paku, (2) penggunaan bahan yang berkualitas, dan
kelengkapan peralatan yang cocok. Tanah yang cocok umumnya berupa tanah
kohesif, pasir yang diperkeras, atau batu pecah yang dipadatkan. Tahapan
pemasangan dinding dengan paku (nailed Wall) dilustrasikan seperti sebagaimana
gambar 5.30. Pada tahap 1 dilakukan pemotongan tanah. Tinggi pemotongan ini
harus diperhitungkan agar pemotongan tidak terlalu tinggi untuk mencegah
keruntuhan. Pada tahap 2 dilakukan pengeboran untuk pemasangan paku. Tahap 3
adalah pemasangan paku. Perlu diingat pemasangan disarankan dari atas ke bawah
sebagai upaya untuk keamanan pelaksanaan konstruksi, yakni mengindarkan
keruntuhan tanah saat pelaksanaan. Pada tahap selanjutnya dilakukan pelapisan
dinding, yang disemprotkan untuk kecepatan pelapisan.

Kegunaan Retaining Wall
Dinding penahan tanah sering kali digunakan hubungannya dengan jalan kereta api,
jalan raya, jembatan, kanal,dan banyak pekerjaan bangunan lainnya.
Kegunaan dari dinding penahan tanah yaitu:
- Digunakan pada daerah potongan (cut), daerah urugan (fill), maupun
kombinasinya.
- Digunakan pada daerah yang perlu ditinggikan atau memerlukan elevasi
yang lebih tinggi untuk kepentingan pembuatan jalan, begitu pula bila
memerlukan daerah yang lebih rendah.
- Memperluas dataran apabila tanahnya merupakan lereng (landscaping).
- Sebagai dinding saluran (canals) dan pintu air (locks).
- Untuk menahan erosi.
- Untuk menahan air tampungan (flood walls).
- Sebagai pangkalan jembatan (bridge abutment).
Jenis Dinding
Retaining Wall (Dinding Penahan)
Retaining Wall atau Dinding penahan merupakan dinding yang dibangun untuk
menahan massa tanah di atas struktur atau bangunan yang dibuat. Bangunan
dinding penahan umumnya terbuat dari bahan kayu, pasangan batu, beton hingga
baja.
Fungsi dan aplikasinya
Retaining wall merupakan dinding penahan yang berfungsi menahan, membatasi
dan menstabilkan tanah. Biasanya retaining wall dibuat untuk membatasi area yang
dijadikan fungsi, misalnya area sirkulasi. Tujuannya agar area tersebut lebih aman
dari erosi dan terlihat lebih teratur. Aplikasinya hanya untuk pencegahan erosi kecil,
sehingga tidak memerlukan daya tahan yang ekstra. Karena itu, retaining wall di
Taman dapat dijadikan elemen dekorasi dengan berbagai jenis material
pembentuknya. Tentu tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai penahan.
Resapan dan saluran air di bagian bawahnya perlu diperhatikan untuk menjaga
kestabilan dan kelembaban tanah. Gunakan urugan kerikil atau pipa saluran air di
bagian bawahnya jika diperlukan. Apabila tanah yang akan ditahan dirasa terlalu
tinggi, retaining wall dapat dibuat dengan dua atau tiga undakan. Jika tidak ingin
dibuat berundak, permukaan bagian bawahnya dapat dibuat lebih tebal agar lebih
kuat.
Berbagai jenis retaining wall
Retaining wall beton, digunakan untuk kemampuan menahan yang lebih
kuat. Jika tidak ingin terlihat simpel, kita dapat membentuknya menjadi batu
alam artifisial atau melapisinya dengan batu alam yang berfungsi sebagai
elemen dekoratif. Bahan beton dianggap yang paling kuat dan paling mahal
dalam pembuatannya.
Retaining wall kayu, biasanya diaplikasikan di area yang lebih kecil dengan
undakan yang tidak tinggi. Kemampuan menahannya tidak sekuat retaining
wall yang berbahan beton. Diperlukan juga balok-balok penopang di
konstruksinya agar fungsi penahannya optimal. Karena retaining wall berada
di area luar, sebaiknya gunakan kayu yang tahan cuaca. Lapisan anti air juga
perlu diaplikasikan di antara kayu dan tanahnya agar kelembaban tanah tidak
membuat kayu mudah lapuk. Jika hunian didominasi material kayu, retaining
wall jenis ini cocok untuk menyelaraskannya.
Paving block beton, merupakan material retaining wall yang paling populer
karena kemudahan dalam pengaplikasikannya. Kita dapat dengan mudah
membuat retaining wall sendiri dengan bahan ini. Bentuknya yang simetris
dan presisi membuat pemasangannya menjadi mudah. Jika tekanan tanah
tidak terlalu kuat, kita dapat mengaplikasikan paving block tanpa perekat.
Retaining wall batu alam, merupakan yang paling kuat karakter naturalnya.
Aplikasinya cocok digunakan di hunian bergaya tropis natural. Jangan ragu
menggunakan berbagai ukuran batu, karena kombinasi ukuran tersebut akan
membuat retaining wall tampak lebih indah. Pengaplikasiannya cukup sulit,
karena kita harus menyesuaikan berbagai ukuran batu untuk menghasilkan
permukaan yang rata. Batu-batu tersebut juga perlu direkatkan dengan acian
semen agar kuat.

Ada pula beberapa jenis dinding penahan, yaitu :

Gravity retaining wall
Yaitu jenis retaining wall yeng dibuat dengan sederhana seperti dari pasangan batu
dan dipengaruhi oleh berat itu sendiri. Dan volume tanah yang menahan dinding
sendiri.

Semigravity retaining wall
Yaitu retaining wall yang dibuat denagn perkuatan tulangan, penggunaan tulanagn
ini membantu mereduksi ukuran dinding.

Cantilever retaining wall
Yaitu retaining wall yang diperkuat dengan tulangan baja batang tipis dan disertai
tulangan yang kuat.

Contenfort retaining wall
Yaitu retaining wall yang mirip dengan cantilever retaining wall hanya saja pada
suatu interval tertentu dipasang pengikat antar diding dan landasan dasar berupa
potongantipis beton yang dipasang vertical (counterfort) untuk mengurangi geser
dan momen lentur.

Untuk dapat memperkirakan dan menghitung kestabilan dinding penahan,
diperlukan menghitung tekanan ke arah samping (lateral). Karena massa
tanah berupa butiran, maka saat menerima tegangan normal baik akibat
beban yang diterima tanah maupun akibat berat kolom tanah di atas
kedalaman atau duga tanah yang kita tinjau, akan menyebabkan tekanan
tanah ke arah tegak lurus atau ke arah samping.

Tegangan inilah yang disebut sebagai tegangan tanah lateral (lateral earth
pressure). Tengangan tanah akibat kolom tanah tersebut merupakan besaran
tegangan efektif yang sebanding dengan H. Pengetahuan tentang tegangan
lateral ini diperlukan untuk pendekatan perancangan kestabilan. Tekanan
tanah lateral dibedakan menjadi tekanan tanah lateral aktif dan tekanan
lateral pasif.

Tekanan lateral aktif adalah tekanan lateral yang ditimbulkan tanah secara
aktif pada struktur yang kita selenggarakan. Sedangkan tekanan lateral pasif
merupakan tekanan yang timbul pada tanah saat menerima beban struktur
yang kita salurkan pada secara lateral.

Besarnya tekanan tanah sangat dipengaruhi oleh fisik tanah, sudut geser, dan
kemiringan tanah terhadap bentuk struktur dinding penahan.

Bearing Wall (Dinding Struktur)
Bearing wall atau dinding struktur adalah dinding yang menopang beban yang
ada di atasnya dan menyalurkannya ke pondasi struktur. Bahan yang
biasanya digunakan untuk membangun bearing wall di gedung-gedung besar
adalah beton, kayu dan batu bata.

Berdasarkan jenis bangunannya, dinding struktur diukur dengan ketebalan
yang tepat untuk menopang beban di atasnya. Apabila tidak dilakukan
pengukuran yang tepat, bisa jadi dinding luar menjadi tidak stabil jika beban
melebihi kekuatan material yang digunakan hal ini berpotensi menyebabkan
runtuhnya struktur.

Partition Wall (Dinding Partisi)
Sesuai dengan namanya dinding partisi memang dikhususkan untuk sekat
antar ruang. Karena di desain sebagai sekat antara ruang satu dan yang lain,
dinding ini memiliki desain konstruksi yang lebih praktis dan ringan dibanding
dengan konstruksi dinding yang lain.


Bahan partisi untuk dinding jenis ini termasuk bagus dan murah. Sayangnya
dinding ini tidak bisa digunakan untuk dinding luar (eksterior). Ini disebabkan
sifat bahannya yang kurang menjamin faktor keamanan dari gangguan luar.
Disamping tidak cocok untuk konstruksi terbuka, dinding jenis ini juga tidak
dirancang untuk memikul beban yang berat. Dinding macam ini banyak
digunakan sebagai bahan penyekat ruangan, terutama di perkantoran.

Bahan yang dipakai umumnya terdiri dari lembaran multiplek atau papan
gipsum dengan ketebalan 9-12 mm. Bahan lain yang bagus untuk partisi
adalah papan semen fiber glass. Bahan tersebut terbuat dari campuran
semen dan fiber glass sehingga sangat kuat.

Faktor-faktor pemilihan jenis dinding bangunan

Pertimbangan dan pemilihan jenis dinding didorong oleh beberapa faktor.
Faktor-faktor ini termasuk:
Biaya
Elevasi tempat
Kemudahan dan kecepatan konstruksi
Kondisi air tanah dan karakteristik tanah.

Faktor-faktor lain dapat mencakup tenaga kerja terampil dan ketersediaan bahan,
bangunan, aksesibilitas situs, estetika, bangunan lokal praktek, dan lain-lain Pada
akhirnya, semua dinding penahan berfungsi untuk menahan vertikal atau dekat
vertikal tanah, tanpa retensi memadai, gua, merosot atau geser ke lereng yang lebih
alami.

Di kebanyakan negara, desain dinding penahan lebih tinggi dari sekitar empat kaki
harus didesain oleh atau disetujui oleh yang memenuhi syarat, berlisensi insinyur
profesional. Selain itu, penting untuk memeriksa dan mematuhi peraturan bangunan
setempat sebelum pembangunan apapun, bahkan ketika dinding yang lebih pendek
dari empat kaki.Dinding penahan, dan harus selalu dipandang sebagai anggota
menanggung beban pertama, dan estetika groundscapes kedua.

Merancang apapun jenis dinding penahan membutuhkan pengetahuan tentang
tekanan tanah lateral. Ini termasuk pemeriksaan untuk meruntuhkan tembok,
pangkal geser, dan tanah kapasitas yang bias membawa kegagalan fungsi dari
dinding penahan. Setelah dinding direncanakan, masing-masing dinding anggota
diperiksa kekuatan yang memadai dan ditentukan baja memperkuatnya.

Salah satu yang paling umum tentang kegagalan dinding penahan adalah miring tak
terelakkan, cracking dan membungkuk batu bata, kayu dan dinding penahan blok
beton yang dibangun oleh pemilik rumah, baik yang berarti pembangun, dan
landscapers Ini "asalah" sesungguhnya yang bisa membuat kegagalan, karena
dinding tidak melakukan tugas itu dan itu adalah untuk menahan tanah.

Kegagalan juga jelas menunjukkan kurangnya pengetahuan atau desain yang
diperlukan oleh desain dinding penahan. Dengan memahami bagaimana sebuah
dinding bekerja, dan bagaimana hal itu bisa gagal, sangat mungkin untuk
merancang sebuah struktur penahan yang akan memenuhi segala kondisi
lingkungan, struktural, dan juga memenuhi tuntutan pembangunan.

dan yang paling penting dalam perancangan yang tepat dan pemasangan dinding
penahan adalah bahwa materi tetap berupaya untuk bergerak maju dan downslope
gravitasi. Hal ini menciptakan tekanan tanah lateral di belakang dinding yang
tergantung pada sudut internal gesekan (phi) dan kekuatan kohesif (c) dari materi
yang disimpan, serta arah dan besarnya gerakan struktur mempertahankan yang
terjadi.

Tekanan tanah lateral biasanya terkecil di bagian atas dinding dan meningkat ke
arah bawah. Tekanan bumi akan mendorong dinding maju dan merobohkan dinding
itu jika tidak ditangani dengan benar.Juga, setiap tanah di belakang dinding yang
tidak disebarkan oleh sebuah drainase menyebabkan sistem horisontal tambahan
tekanan hidrostatik di dinding. Sebagai contoh, International Building Code
membutuhkan dinding penahan yang dirancang untuk menjamin stabilitas terhadap
terbalik, perosotan, berlebihan gaya mengangkat tekanan dan air, dan dinding
penahan dirancang untuk faktor keamanan terhadap geser dan hal yang bisa
menjungkir balikkan secara lateral.
Dinding penahan sering digunakan dalam lingkungan laut, di mana mereka yang
dbangun terpisah dari air tanah. Dinding gravitasi (dikenal sebagai seawalls) dapat
dibangun di mana gelombang dan arus kuat yang diberikan pada dinding.Beberapa
bahan yang berbeda dapat digunakan untuk membangun dinding penahan. Batu
dan beton yang sering digunakan, dan ada dinding penahan blok khusus dibuat dari
bahan agregat dan beton ringan yang dirancang untuk tujuan ini.
Beberapa gaya pegang-memegang, membuat perakitan sederhana, lebih murah dan
kurang memakan waktu, karena setiap blok dengan aman sesuai dengan
kebutuhan. Karena kecocokan blok ini aman, mereka tidak membutuhkan
penambahan khusus. Sebuah dinding dapat mempertahankan serangkaian
"langkah" atau tingkatan, yang memungkinkan untuk desain yang lebih menarik
serta pengendalian erosi yang lebih efisien. Desain dapat meliputi berbagai jenis
perkebunan,material atau bahan di setiap tingkatan untuk membawa lebih banyak
tekstur,.Selain nilai estetika, sebuah desain berjenjang juga menyediakan
pengendalian erosi yang lebih baik dengan mendobrak jumlah tanah, dan tekanan,
yang diselenggarakan oleh masing-masing divisi dari tembok penahan. Batu besar
dan rel sering digunakan untuk membangun dinding penahan berjenjang di masa
lalu. Dan yang popular saat ini, ada banyak gaya dan jenis dinding penahan blok.


Sistem Drainase pada Dinding Penahan Tanah

Satu hal yang lebih penting lagi dalam membangun sebuah dinding penahan
tanah adalah memadainya sistem drainase karena air yang berada di belakang
dinding penahan tanah mempunyai pengaruh pada stabilitas struktur. Drainase
berfungsi untuk mengalirkan air tanah yang berada di belakang dinding . Dinding
penahan yang tidak mempunyai sistem drainase yang baik dapat mengakibatkan
peningkatan tekanan tanah aktif di belakang dinding, berkurangnya tekanan pasif di
depan dinding, berkurangnya resistansi friksional antara dasar dinding dan tanah
serta kuat geser tanah yang akhirnya akan berdampak pada berkurangnya daya
dukung tanah. Dapat disimpulkan bahwa dinding penahan tanah dengan sistem
drainase yang buruk akan menyebabkan runtuhnya struktur dinding penahan tanah.
Jenis Drainase pada Dinding Penahan Tanah

Drainase pada dinding penahan tanah dapat dibuat dari yang sederhana
sampai dengan yang lebih baik sesuai fungsi dinding penahan tanah. Adapun jenis
drainase dinding penahan tanah dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Drainase dasar (bottom drain)
Drainase dasar adalah sistem drainase yang paling sederhana, bertujuan
mengumpulkan air yang berada di belakang dinding (air yang terdapat pada tanah
timbunan). Air yang terkumpul tersebut kemudian dialirkan ke depan dinding melalui
saluran yang menembus dinding penahan tanah.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam merancang sistem drainase ini adalah :
- Cara ini tidak dianjurkan untuk tanah timbunan berupa tanah lempung
atau lanau, karena tanah tersebut mempunyai permeabilitas rendah
sehingga kecepatan aliran menuju sistem drainase menjadi lambat,
akibatnya mungkin tekanan air yang ada di bagian belakang dinding
termobilisasi (terutama pada saat hujan).


b. Drainase punggung (back drain)
Sistem drainase ini lebih baik dibandingkan dengan sistem drainase dasar,
dimana pada sepanjang punggung dinding terdapat filter.

c. Drainase inklinasi (inclined drain) dan Drainase horisontal (horisontal drain)
Kedua sistem drainase ini dimaksudkan untuk menghilangkan tekanan air pori yang
berlebihan dan merupakan pengembangan dari sistem drainase dasar. Pada kedua
sistem drainase ini, gaya aliran (seepage forces) berarah ke bawah menuju sistem
drainase.


PERENCANAAN DINDING PENAHAN TANAH

Untuk pelaksanaan perencanaan dinding penahan tanah adapun langkah-langkah
kegiatan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Memperkirakan ukuran atau dimensi dari dinding penahan tanah.
2. Mencari besarnya tekanan tanah,baik secara analitis maupun secara grafis
berdasarkan cara yang sesuai dengan tipe dinding penahan tanahnya.
3. Lebar dasar dinding penahan tanah harus cukup untuk memobilisasi daya dukung
tanahnya.
4. Perhitungan kekuatan struktur dari konsruksi penahan tanah,yaitu dengan
memeriksa tegangan geser dan dan tekanan tekan yang di ijinkan dari dinding
penahan tanah.
5. Dinding penahan harus aman dari stabilitas gesernya(sliding stability)
6. Dinding penahan harus aman dari stabilitas gulingnya(overtuning stability)
7. Tinjauan terhadap lingkungan lokasi dari penempatan dinding penahan.

PERENCANAAN DIMENSI
Pada dasarnya dimensi atau ukuran dinding penahan tanah dibedakan :
a. Dinding gravitasi atau dinding berbotot
Untuk mendapatkan tekanan total tanah yang bekerja,perhitungan dilakukan dengan
grafis apabila digunakan cara Coulomb.Apabila tinggi dinding penahan tanah diatas
6 meter,H>6 m pada umumnya dihitung dengan cara Rankine.

Pekerjaan Retaining Wall
Retaining Wall adalah dinding penahan tanah yang terletak pada sisi pinggir.
Pekerjaan pembuatan retaining wall dimulai dengan melakukan pemasangan
tulangan - tulangan yang diperlukan. Tulangan yang dipergunakan adalah tulangan
konvensional yang dipasang ditempat satu persatu. Setelah pemasangan tulangan
selesai, maka dilanjutkan dengan pemasangan bekistingshear wall dan pengecoran
beton. Pengecoran dilakukan secara bertahap, tidak dilakukan daribasement - 4
sampai permukaan tanah sekaligus, tetapi dilakukan per lantai.
Pengecoran untuk satu bagian dilakukan sekaligus dengan menggunakan Pouring
Bucket danTower Crane. Setelah beton dituangkan lalu diadakan pemadatan
dengan menggunakan concrete vibrator. Bekisting kemudian dibuka paling cepat
setelah 2 hari.


FOTO PENGERJAAN RETAINING WALL























BAB. III

KESIMPULAN

Retaining Wall adalah dinding yang dibangun untuk menahan massa tanah di atas
struktur atau bangunan yang dibuat. Bangunan dinding penahan umumnya terbuat
dari bahan kayu, pasangan batu, beton hingga baja.

Kegunaan Retaing Wall :
- Digunakan pada daerah potongan (cut), daerah urugan (fill), maupun
kombinasinya.
- Digunakan pada daerah yang perlu ditinggikan atau memerlukan elevasi
yang lebih tinggi untuk kepentingan pembuatan jalan, begitu pula bila
memerlukan daerah yang lebih rendah.
- Memperluas dataran apabila tanahnya merupakan lereng (landscaping).
- Sebagai dinding saluran (canals) dan pintu air (locks).
- Untuk menahan erosi.
- Untuk menahan air tampungan (flood walls).
- Sebagai pangkalan jembatan (bridge abutment).
Hal yang diperhatikan untuk Kestabilan Retaining Wall :
- Kestabilan terhadap guling
- Geser
- Eksentrisitas
- Daya dukung tanah pondasi
- Kestabilan seluruh sistem