Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Tonsil merupakan kumpulan besar jaringan limfoid di belakang faring yang memiliki
keaktifan imunologik.
1
Tonsilitis adalah infeksi atau peradangan pada tonsil. Tonsilitis akut
merupakan infeksi tonsil yang sifatnya akut, sedangkan tonsilitis kronik merupakan tonsilitis
yang terjadi berulang kali (kronik).
2
Tonsilitis merupakan penyakit yang paling sering terjadi pada tenggorokan, terutama
pada usia muda. Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7 proinsi di !ndonesia pada
tahun 1""#$1""%, prealensi tonsillitis kronik #,%& tertinggi setelah nasofaringitis akut (',(&).
)edangkan penelitian di *)+, -r. Hasan )adikin pada periode .pril 1""7 sampai dengan /aret
1""( ditemukan 102# pasien tonsillitis kronik atau %,71& dari seluruh jumlah kunjungan. -ata
morbiditas pada anak menurut )urey 2esehatan *umah Tangga ()2*T) 1""1 pola penyakit
anak laki$laki dan perempuan umur 1$1# tahun yang paling sering terjadi. /enurut Badan
,enelitian dan ,engembangan -epartemen 2esehatan, tonsillitis kronik menempati urutan
kelima (10,1& pada laki$laki, 1',7& pada perempuan).
'
Tonsillitis disebabkan peradangan pada tonsil oleh karena infeksi bakteri atau irus,
kegagalan atau ketidaksesuaian pemberian antibiotik pada penderita tonsillitis akut.
2etidaktepatan terapi antibiotik pada penderita tonsillitis akut akan mengubah mikroflora pada
tonsil, mengubah struktur pada kripta tonsil, dan adanya infeksi irus menjadi faktor predisposisi
bahkan faktor penyebab terjadinya tonsilitis kronik.
#
Tonsilitis menjadi lesi yang paling sering terjadi diantara semua peradangan pada faring
dengan banyak kompikasi regional maupun lokal, misalnya 3titis /edia .kut, )inusitis,
4lomerulonefritis, dan 5ndokarditis.
'
3leh karena itu, penulis akan membahas tentang tonsillitis kronik se6ara lebih luas
melalui definisi, epidemiologi, etiologi, patogenesis, diagnosis, diagnosis banding,
penatalaksanaan, komplikasi, prognosis, dan pen6egahan
1
I.2 Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum penulisan referat ini untuk mendapatkan gambaran se6ara menyeluruh
mengenai Tonsilitis.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penulisan referat ini adalah7
1. /engetahui definisi dari Tonsilitis
2. /engetahui epidemiologi dari Tonsilitis
'. /engetahui etiologi dari Tonsilitis
#. /engetahui faktor predisposisi dari Tonsilitis
1. /engetahui proses patogenesis terjadinya Tonsilitis
%. /engetahui gejala klinik pada Tonsilitis
7. /engetahui 6ara menegakkan diagnosis pada Tonsilitis
(. /engetahui penatalaksanaan untuk Tonsilitis
". /engetahui komplikasi dari Tonsilitis
10. /engetahui pen6egahan dari Tonsilitis
I.3 an!aat Penulisan
a. Bagi Institusi Pen"i"ikan
-iharapkan refarat ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan memberikan 8a8asan
!lmu ,enyakit Telinga Hidung Tenggorok.
b. Bagi Penulis
,enulisan refarat dapat menambah pengetahuan penulis mengenai Tonsilitis.
c. Bagi Pem#a$a
,enulisan ini diharapkan menambah ilmu pengetahuan dan diharapkan menambah
keingintahuan pemba6a tentang !lmu ,enyakit Telinga Hidung Tenggorok.
I.% et&"e Penulisan
/etode yang dipakai adalah tinjauan kepustakaan dengan merujuk kepada beberapa literatur
berupa buku teks, jurnal dan makalah ilmiah.
2
BAB II
TIN'AUAN PU(TAKA
II.1 T)N(IL
A. Em#ri&l&gi
,ada permulaan pertumbuhan tonsil, terjadi inaginasi kantong brakial ke !!
kedinding faring akibat pertumbuhan faring ke lateral. )elanjutnya terbentuk fosa tonsil
pada bagian dorsal kantong tersebut, yang kemudian ditutupi epitel. Bagian yang
mengalami inaginasi akan membagi lagi dalam beberapa bagian, sehingga terjadi kripta.
2ripta tumbuh pada bulan ke ' hingga ke % kehidupan janin, berasal dari epitel
permukaan. ,ada bulan ke ' tumbuh limfosit di dekat epitel tersebut dan terjadi nodul
pada bulan ke %, yang akhirnya terbentuk jaringan ikat limfoid. 2apsul dan jaringan ikat
lain tumbuh pada bulan ke 1 dan berasal dari mesenkim, dengan demikian terbentuklah
massa jaringan tonsil.
B. Anat&mi
Tonsil ialah suatu jaringan yang berkapsul sebagian dengan jaringan limfoid di
dalamnya dan memiliki kontak dengan epitel dari rongga mulut dan faring. Berdasarkan
letaknya, tonsil dibagi menjadi tonsil palatina, faringeal dan lingual.
#
1. T&nsil *aringeal +A"en&i",
3
.denoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan limfoid
yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. 9obus atau segmen tersebut tersusun teratur
seperti suatu segmen terpisah dari sebuah 6eruk dengan 6elah atau kantong diantaranya.
9obus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian tengah, dikenal
sebagai bursa faringeus. .denoid tidak mempunyai kriptus. .denoid terletak di dinding
belakang nasofaring. :aringan adenoid di nasofaring terutama ditemukan pada dinding
atas dan posterior, 8alaupun dapat meluas ke fosa *osenmuller dan orifisium tuba
eusta6hius. +kuran adenoid berariasi pada masing$masing anak. ,ada umumnya
adenoid akan men6apai ukuran maksimal antara usia '$7 tahun kemudian akan
mengalami regresi.
2,#
2. T&nsil Palatina
Tonsilla palatina adalah dua massa jaringan limfoid berbentuk ooid yang terletak
pada dinding lateral orofaring dalam fossa tonsillaris. Tiap tonsilla ditutupi membran
mukosa dan permukaan medialnya yang bebas menonjol kedalam faring. Tonsil palatina
berbentuk oal dengan panjang 2$1 6m, permukaannya tampak berlubang$lubang ke6il
yang berjalan ke dalam jaringan tonsil ;<ryptae Tonsillares= yang berjumlah %$20 kripta.
,ada bagian atas permukaan medial tonsilla terdapat sebuah 6elah intratonsil dalam.
,ermukaan lateral tonsilla ditutupi selapis jaringan fibrosa yang disebut <apsula tonsilla
palatina, terletak berdekatan dengan tonsilla lingualis. Tonsil terletak di lateral orofaring
dan dibatasi oleh7
9ateral > muskulus konstriktor faring superior
4
.nterior > muskulus palatoglosus
,osterior > muskulus palatofaringeus
)uperior > palatum mole
!nferior > tonsil lingual
)e6ara mikroskopik permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang
juga melapisi inaginasi atau kripti tonsiladi dalam kripti biasanya ditemukan leukosit,
limfosit, epitel yang terlepas. Banyak limfanodulus terletak di ba8ah jaringan ikat dan
tersebar sepanjang kriptus. 9imfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular
dan jaringan limfatik difus. 9imfonoduli merupakan bagian penting mekanisme
pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik.
?oduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat germinal
'. T&nsil Lingual
Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum
glosoepiglotika. -i garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum
pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumalata.
*)(A T)N(IL
@ossa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot$otot orofaring, yaitu batas anterior
adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot konstriktor faring
superior. ,ada bagian atas fossa tonsil terdapat ruangan yang disebut fossa supratonsil.
*uangan ini terjadi karena tonsil tidak mengisi penuh fossa tonsil.
1
5
-A(KULA.I(A(I
Tonsil mendapat pendarahan dari 6abang$6abang ..karotis eksterna, yaitu7
1
1. .. maksilaris eksterna (.. fasialis)A 6abangnya.. tonsilaris dan.. palatina asendens
2. .. maksilaris internaA 6abangnya .. palatina desendens
'. .. lingualisA 6abangnya .. lingualis dorsalis
#. .. faringeal asendens
)kema askularisasi daerah tonsil
palatina dan tonsil faringeal
(adenoid).
1
2et7
1. .. 6arotis eksternaA
2. .. 6arotis internaA
'. ..faringeal asendensA
#. .. lingualisA
1. .. fa6ialisA
%. .. palatina asendensA
7. .. tonsilarisA
(. .. palatina desendensA
". .. maksilaris internaA
10. .. lingualis dorsalisA
11. .. meningeal aksesorius
.. tonsilaris berjalan ke atas pada bagian luar m. konstriktor superior dan
memberikan 6abang untuk tonsil dan palatum mole. .. palatina asenden, mengirimkan
6abangnya melalui m. konstriktor posterior menuju tonsil. .. faringeal asendens juga
memberikan 6abangnya ke tonsil melalui bagian luar m. konstriktor superior. .. lingualis
dorsal naik ke pangkal lidah dan mengirim 6abangnya ke tonsil, plika anterior, dan plika
posterior. .. palatina desenden atau .. palatina posterior memberi askularisasi tonsil
dan palatum mole dari atas dan membentuk anastomosis dengan .. palatina asendens.
2utub ba8ah tonsil bagian anterior (..lingualis dorsal) dan bagian posterior (.. palatina
asenden), diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh ..tonsilaris. 2utub atas tonsil
diperdarahi oleh ..faringeal asendens dan ..palatina desendens.
1
6
Bena$ena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari
faring. .liran balik melalui pleksus ena di sekitar kapsul tonsil, ena lidah, dan pleksus
faringeal.
1
.liran getah bening menuju rangkaian getah bening serikal profunda (deep jugular
node). Bagian superior di ba8ah m.sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar
toraks, dan akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah
bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada.
1,%
INE.-A(I
Tonsil bagian atas mendapat sensasi dari serabut saraf ke B melalui ganglion
sfenopalatina dan bagian ba8ah dari saraf glosofaringeus (saraf !C).
1,%

7
/. Hist&l&gi
)e6ara histologis tonsil mengandung '
unsur utama yaitu jaringan ikat atau trabekula
(sebagai rangka penunjang pembuluh darah,
saraf dan limfa), folikel germinatium (sebagai
pusat pembentukan sel limfoid muda) serta
jaringan interfolikel (jaringan limfoid dari
berbagai stadium).
7
D. *isi&l&gi
@ungsi tonsil dalam tubuh adalah sebagai sistem pertahanan tubuh. -alam tubuh
terdapat 2 jenis sistem kekebalan tubuhA sistem kekebalan tubuh spesifik dan sistem
kekebalan tubuh non spesifik. Tonsil merupakan bagian sistem kekebalan tubuh non
spesifik (6in6in Daldeyer).
7
Tonsil akan terus tumbuh seiring dengan bertambahnya usia anak. +mumnya, pada
usia 7 tahun tonsil akan men6apai ukuran yang maksimal. -an antara usia 12$1' tahun,
tonsil akan menge6il dan menghilang dengan sendirinya. )emakin besar tonsil (ukuran
besar se6ara fisiologisEnormal) maka akan semakin besar pula sistem kekebalan tubuh si
anak. ?amun bila pada sebelum usia 12 tahun si anak pernah menderita peradangan
kronis se6ara berulang (kronis), maka tonsilnya tidak akan hilang pada usia pra$remaja.
-an kondisi ini merupakan kondisi patologis.
#,1,7
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. 9imfosit B
membentuk kira$kira 10$%0& dari limfosit tonsilar. )edangkan limfosit T pada tonsil
adalah #0&, dan '& lagi adalah sel plasma yang matang. 9imfosit B berproliferasi di
pusat germinal. !mmunoglobulin (!g4, !g., !g/, !g-), komponen komplemen,
interferon, lisoFim, dan sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar. )el limfoid yang
immunoreaktif pada tonsil dijumpai pada # area yaitu epitel sel retikular, area ekstra
folikular, mantle Fone pada folikel limfoid, dan pusat germinal pada folikel limfoid.
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi dan
proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu
menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif, serta sebagai organ utama
produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.
#,1,7
8
E. Imun&l&gi
9okasi tonsil sangat memungkinkan mendapat paparan benda asing dan patogen,
selanjutnya memba8a mentranspor ke sel limfoid. .ktiitas imunologi terbesar dari
tonsil ditemukan pada usia '$10 tahun. ,ada usia lebih dari %0 tahun !g$positif sel B dan
sel T berkurang banyak sekali pada semua kompartemen tonsil.
(
)e6ara sistematik proses imunologis di tonsil terbagi menjadi ' kejadian yaitu
respon imun tahap !, respon imun tahap !!, dan migrasi limfosit. ,ada respon imun tahap !
terjadi ketika antigen memasuki orofaring mengenai epitel kripte yang merupakan
kompartemen tonsil pertama sebagai barier imunologis. )el / berperan mentranspor
antigen melalui barier epitel dan membentuk komparten mikro intraepitel spesifik yang
memba8a bersamaan dalam konsentrasi tinggi material asing, limfosit dan .,< seperti
makrofag dan sel dendritik.

*espon imun tonsila palatina tahap !! terjadi setelah antigen
melalui epitel kripte dan men6apai daerah ekstra folikular atau folikel limfoid. .dapun
respon imun berikutnya berupa migrasi limfosit. ,erjalanan limfosit dari penelitian
didapat bah8a migrasi limfosit berlangsung terus menerus dari darah ke tonsil melalui
H5B (high endothelial enules) dan kembali ke sirkulasi melalui limfe.
(
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1$0,2& dari
keseluruhan limfosit tubuh pada orang de8asa. ,roporsi limfosit B dan T pada tonsil
adalah 10&710&, sedangkan di darah 11$71& 711$'0&. ,ada tonsil terdapat sistim imun
kompleks yang terdiri atas sel /, makrofag, sel dendrit dan .,<s yang berperan dalam
proses transportasi antigen ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis imunoglobulin
spesifik. :uga terdapat sel limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pemba8a !g4.
7
Ukuran T&nsil
T0 7 ,ost Tonsilektomi
T1 7 Tonsil terbatas dalam @ossa Tonsilaris
T2 7 )udah mele8ati pillar anterior belum
mele8ati garis paramedian pillar post)
T' 7 )udah mele8ati garis paramedian, belum
mele8ati garis median
T# 7 )udah mele8ati garis median
9
Garis
median
Garis
paramedian
T2
T3
T4
T1
II.2 T)N(ILITI(
A. De!inisi
Tonsilitis adalah infeksi atau peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri
)trepto6o66us beta hemolyti6us, )trepto6o66us iridians, dan )trepto6o66us pyogenes,
dan dapat juga disebabkan oleh irus.
2,(
Tonsilitis akut merupakan infeksi tonsil yang
sifatnya akut, sedangkan tonsilitis kronik merupakan tonsilitis yang terjadi berulang kali.
2
B. E0i"emi&l&gi
2asus terbanyak ditemukan pada anak$anak usia 1 > 11 tahun, terutama anak usia
sekolah, yang berkontak dekat dengan anak lain yang menderita tonsilitis akibat bakteri
maupun irus. )edangkan tonsillitis kronik sendiri merupakan akibat dari
penatalaksanaan tonsillitis akut yang tidak adekuat. *i8ayat atopi keluarga dan
tonsilektomi dapat mempengaruhi berulangnya tonsilitis pada anak.
"
/. Eti&l&gi
Tonsillitis akut disebabkan oleh infeksi kuman )treptokokus G hemolitikus grup .,
,neumokokus, )treptokokus Biridans, )treptokokus ,iogenes, Haemophilus
influenFa. 2adang$kadang kuman golongan gram negatif.
Tonsilitis kronik terjadi oleh karena 7
1. ,engobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat
2. Higiene mulut yang buruk
'. ,engaruh 6ua6a
#. 2elelahan fisik
1. /erokok
D. *akt&r Pre"is0&sisi
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian tonsilitis, yaitu7
#
*angsangan kronis (rokok, makanan)
Higiene mulut yang buruk
,engaruh 6ua6a (udara dingin, lembab, suhu yang berubah$ ubah)
.lergi (iritasi kronis dari allergen)
10
2eadaan umum (kurang giFi, kelelahan fisik)
,engobatan Tonsilitis .kut yang tidak adekuat.
E. Klasi!ikasi
1. Tonsilitis .kut
Tonsilitis .kut disebabkan oleh strepto6o66us beta hemoliti6us, strepto6o66us
iridians, dan strepto6o66us pyogene, dapat juga disebabkan oleh irus.
2. Tonsilitis @alikularis
Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi ber6ak
putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus. -etritus ini terdapat leukosit,
epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa$sisa makanan yang tersangkut.
'. Tonsilitis 9akunaris
Ber6ak yang berdekatan bersatu dan mengisi la6una (lekuk$lekuk) permukaan tonsil.
#. Tonsilitis /embranosa ()eptis )ore Throat)
5ksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut menyerupai
membran. /embran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan ber8arna putih
kekuning$kuningan.
1. Tonsilitis 2ronik
Tonsilitis yang berulang, faktor predisposisi 7 rangsangan kronik (rokok, makanan)
pengaruh 6ua6a, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang
buruk.
*. Pat&!isi&l&gi
Terjadinya tonsilitis dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kripte$kriptenya.
2uman masuk dapat melalui aerogen (droplet yang mengandung kuman terhisap oleh
hidung, kemudian ke nasofaring dan ke tonsil), maupun se6ara foodborn (melalui mulut
bersama makanan).
11
Tonsillitis kronik dapat berasal dari tonsilitis akut yang dibiarkan saja atau karena
pengobatan yang tidak adekuat, dapat juga karena penyebaran infeksi dari tempat lain,
11
misalnya adanya sekret dari infeksi di sinus dan di hidung (sinusitis kronik dan rhinitis
kronik) atau karies gigi. ,ada sinusitis kronik dan rhinitis kronik terdapat sekret di hidung
yang mengandung kuman penyakit. )ekret tersebut kontak dengan permukaan tonsil.
11
@ungsi tonsil sebagai pertahanan terhadap masuknya kuman ke tubuh baik melalui
hidung maupun mulut. 2uman yang masuk dihan6urkan oleh makrofag dan sel$sel
polimorfonuklear. :ika tonsil berulang kali terkena infeksi, maka pada suatu 8aktu tonsil
tidak bisa membunuh semua kuman, mengakibatkan kuman bersarang di tonsil. ,ada
keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil berubah menjadi sarang infeksi (tonsil
sebagai fokal infeksi). )e8aktu$8aktu kuman bisa menyebar ke seluruh tubuh misalnya
pada keadaan umum yang menurun.
11
,enyebaran kuman atau toksin dapat melalui beberapa jalan. ,enyebaran jarak
dekat biasanya terjadi perkontinuitatum atau limfogen, sedangkan penyebaran jarak jauh
terjadi se6ara hematogen. @okal infeksi menyebabkan bakteremia atau toksemia.
11
,ada tonsilitis kronik telah terjadi perubahan histologik pada tonsil berupa
mikroabses yang diselimuti oleh dinding jaringan fibrotik dan dikelilingi oleh Fona sel$
sel radang. /ikroabses pada tonsillitis kronik maka tonsil dapat menjadi fokal infeksi
bagi organ lain seperti sendi, ginjal, jantung, dan lain$lain.
11
:aringan tonsil yang mengalami infeksi kronik mengakibatkan proses radang yang
berulang, sehingga epitel mukosa dan jaringan limfoid terkikis dan rusak. ,roses
penyembuhan jaringan limfoid akan digantikan dengan jaringan ikat atau terjadi
fibrotisasi yang akan mengalami pengerutan. @ibrosis yang terjadi pada lobuli tonsil akan
menyebabkan tarikan$tarikan pada lobuli tersebut sehingga kripta akan melebar. 2ripta
yang melebar tersebut akan diisi oleh detritus (kumpulan leukosit, kuman, dan sel$sel
epitel). ,roses berlanjut sehingga menembus hingga kapsul tonsil. Terjadi perlengketan
dengan jaringan sekitar fossa tonsilaris. )elain itu, karena fibrosis yang terjadi tidak
merata, maka permukaan tonsil pun menjadi tidak rata atau berbenjol$benjol. 2elenjar
limfe regional dapat membesar karena tonsil memiliki saluran limfe eferen ke kelenjar
limfe serikalis anterior, sehingga kuman yang berasal dari tonsil dapat mengakibatkan
infeksi di daerah tersebut.
11
12
+kuran tonsil pada tonsillitis dapat hipertrofi atau atrofi. ,embesaran tonsil
dinyatakan dalam ukuran T1$T# oleh -. Thane *. <ody menjadi7
11
T1 7batas medial tonsil mele8ati pilar anterior sampai H jarak pilar anterior > uula.
T2 7 batas medial tonsil mele8ati H sampai I jarak pilar anterior > uula.
T' 7 batas medial tonsil mele8ati I sampai J jarak pilar anterior > uula.
T# 7 batas medial tonsil mele8ati J jarak pilar anterior > uula sampai uula atau lebih.
1. ani!estasi klinis
,ada umumnya penderita sering mengeluh oleh karena serangan tonsilitis akut yang
berulang$ulang, adanya rasa sakit (nyeri) yang terus$menerus pada tenggorokan
(odinofagi), nyeri 8aktu menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila
menelan, terasa kering suara menjadi serak, nafas berbau, demam dengan suhu tubuh
yang meningkat hingga #0 derajat 6el6ius, lesuElemas, nyeri dipersendian, tidak nafsu
makan, nyeri ditelinga, serta kelenjar submandibula bengkak dan nyeri tekan.
,ada pemeriksaan, didapatkan gambaran tonsil yaitu7
1. Tampak pembesaran tonsil karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan sekitar,
kripta yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti keju.
2. /ungkin juga dijumpai tonsil tetap ke6il, mengeriput, kadang$kadang seperti
terpendam di dalam tonsil bed dengan tepi yang hiperemis, kripta yang melebar dan
ditutupi eksudat yang purulen.
13
H. Diagn&sis
1. Anamnesis
,ada anamnesis akan didapatkan ri8ayat7
1'
.danya rasa yang mengganjal di tenggorokan
.danya rasa kering dan nyeri di tenggorok
.danya rasa nyeri se8aktu menelan
?afasEmulut yang berbau
-emam, kadang disertai malaise
?afsu makan menurun
)erangan tonsilitis akut yang berulang
2. Pemeriksaan *isik
,ada pemeriksaan fisik di daerah orofaring akan didapatkan7
1',1#,11
Tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, hipetrofi, dan jaringan parut.
2riptus juga dapat melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus.
)ebagian kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan
pada kripta$kripta tersebut.
,ilarEplika anterior hiperemis
!nflamasi pada dinding faring
Terkadang uula akan kelihatan edem dan inflamasi
.danya perlekatan tonsil ke jaringan sekitar
.danya pembesaran 24B submandibula pada anak$anak.
3. Pemeriksaan 0enunjang
+ji kultur dan resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaan apus tonsil.
Biakan s8ab. )ering menghasilkan derajat keganasan yang rendah. 2uman
penyebabnya antara lain adalah )treptotokus Hemolitikus, )treptotokus Biridans,
)tafilokokus atau ,neumokokus.
#
I. Diagn&sis Ban"ing
1. Pen2akit30en2akit 2ang "isertai "engan 0em#entukan 0seu"&mem#ran 2ang
menutu0i t&nsil +t&nsillitis mem#ran&sa,
a. Tonsillitis difteri
-isebabkan oleh kuman <oryneba6terium diphteriae. Tidak semua orang
yang terinfeksi oleh kuman ini akan sakit. 2eadaan ini tergantung pada titer
14
antitoksin dalam darah. Titer antitoksin sebesar 0,0' satE66 darah dapat dianggap
6ukup memberikan dasar imunitas. 4ejalanya terbagi menjadi ' golongan besar,
umum, lo6al dan gejala akibat eksotoksin. 4ejala umum sama seperti gejala infeksi
lain, yaitu demam subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi
lambat dan keluhan nyeri menelan. 4ejala lokal yang tampak berupa tonsil
membengkak ditutupi ber6ak putih kotor yang makin lama makin meluas dan
membentuk pseudomembran yang melekat erat pada dasarnya sehingga bila
diangkat akan mudah berdarah. 4ejala akibat eksotoksin dapat menimbulkan
kerusakan jaringan tubuh, misalnya pada jantung dapat terjadi miokarditis sampai
dekompensasi kordis, pada saraf 6ranial dapat menyebabkan kelumpuhan otot
palatum dan otot pernafasan serta pada ginjal dapat menimbulkan albuminuria.
b. Angina Plaut Vincent (Stomatitis ulseromembranosa)
4ejala yang timbul adalah demam tinggi ('"K<), nyeri di mulut, gigi dan
kepala, sakit tenggorok, badan lemah, gusi mudah berdarah dan hipersaliasi. ,ada
pemeriksaan tampak membran putih keabuan di tonsil, uula, dinding faring, gusi
dan prosesus aleolaris. /ukosa mulut dan faring hiperemis. /ulut berbau (foetor
eL ore) dan kelenjar submandibula membesar.
c. Mononucleosis infeksiosa
Terjadi tonsilofaringitis ulseromembranosa bilateral. /embran semu yang
menutup ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan, terdapat pembesaran
kelenjar limfe leher, ketiak dan region inguinal. 4ambaran darah khas yaitu
terdapat leukosit mononu6leosis dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain adalah
serum pasien beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (*eaksi ,aul Bunnel).
2. Pen2akit Kr&nik *aring 1ranul&matus
a. Faringitis Tuberkulosa
/erupakan proses sekunder dari TB< paru. 2eadaan umum pasien buruk
karena anoreksi dan odinofagi. ,asien mengeluh nyeri hebat di tenggorok, nyeri di
telinga (3talgia) dan pembesaran kelenjar limfa leher.
b. Faringitis Luetika
4ambaran klinis tergantung dari stadium penyakit primer, sekunder atau
tersier. ,ada penyakit ini dapat terjadi ulserasi superfisial yang sembuh disertai
15
pembentukan jaringan ikat. )ekuele dari gumma bisa mengakibatkan perforasi
palatum mole dan pilar tonsil.
c. Aktinomikosis Faring
.kibat pembengkakan mukosa yang tidak luas, tidak nyeri, bisa mengalami
ulserasi dan proses supuratif. Blastomikosis dapat mengakibatkan ulserasi faring
yang ireguler, superfisial, dengan dasar jaringan granulasi yang lunak.
,enyakit$penyakit diatas, keluhan umumnya berhubungan dengan nyeri tenggorok dan
kesulitan menelan. -iagnosa pasti berdasarkan pada pemeriksaan serologi, hapusan
jaringan atau kultur, C$ray dan biopsy.
'. Penatalaksanaan
,enatalaksanaan medis untuk tonsillitis akut 7
10
pemberian antibiotika penisilin yang lama,
irigasi tenggorokan sehari$hari dan usaha untuk membersihkan kripta tonsilaris
dengan alat irigasi gigi (oral).
+kuran jaringan tonsil tidak berhubungan dengan infeksi kronis atau berulang$ulang.
,enatalaksanaan tonsilitis kronik
Terapi lokal untuk hygiene mulut dengan obat kumur E hisap.
Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konseratif
tidak berhasil.
In"ikasi T&nsilekt&mi
!ndikasi tonsilektomi dulu dan sekarang terdapat perbedaan prioritas relatif dalam
menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. -ulu tonsilektomi diindikasikan untuk
terapi tonsilitis kronik dan berulang. )aat ini indikasi utama adalah obstruksi saluran
napas dan hipertrofi tonsil. Berdasarkan the .meri6an .6ademy of 3tolaryngology$ Head
and ?e6k )urgery (..3$H?)) tahun 1""1 indikasi tonsilektomi terbagi menjadi7
1'
!ndikasi .bsolut 7
o Tonsil yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan, nyeri telan yang
berat, gangguan tidur atau komplikasi penyakit$penyakit kardiopulmonal.
16
o .bses peritonsiler (,eritonsillar abs6ess) yang tidak menunjukkan perbaikan
dengan pengobatan
o Tonsillitis yang mengakibatkan kejang demam.
o Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan gambaran
patologis jaringan.
!ndikasi *elatif 7
o :ika mengalami tonsilitis ' kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan
respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.
o Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada tonsillitis kronis yang tidak
menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
o Tonsillitis kronis atau berulang yang diduga sebagai 6arrier kuman )treptokokus
yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan antibiotika.
o ,embesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang di6urigai berhubungan dengan
keganasan (neoplastik)
2ontraindikasi Tonsilektomi 7
1. *adang akut tonsil.
2. -emam, albuminuria.
'. ,enyakit paru$paru
#. ,enyakit darah.
1. Hipertensi.
%. ,oliomielitis epidemi6
)edangkan menurut -arro8 dan )iemens (2002)7
!ndikasi untuk tonsiloadenoidektomi yaitu7
12
!ndikasi absolut 7
hiperplasia adenotonsilar dengan obstru6tie sleep apnea,
gagal tumbuh (failure to thrie) atau perkembangan dentofa6ial abnormalA
ke6urigaan keganasan, dan
(untuk tonsilektomi) tonsillitis perdarahan.
!ndikasi relatif 7
hiperplasia adenotonsilar dengan obstruksi saluran nafas atas, disfagia,
penurunan kemampuan bi6ara dan halitosis.
17
!ndikasi relatif lain untuk adenoidektomi saja adalah otitis media dan
rinosinusitis atau adenoiditis rekuren atau kronik.
!ndikasi relatif lain untuk tonsilektomi saja adalah faringotonsilitis rekuren atau
kronik, abses peritonsilar dan infeksi streptokokus.
2ontraindikasi dari tonsilektomi, yaitu7
10,11
1. 2ontraindikasi *elatif
*adang akut, termasuk tonsilitis
,alatos6hiFis
,oliomyelitis epidemi6a
+mur kurang dari tiga tahun.
2. 2ontraindikasi .bsolut
4angguan hemostasis, leukemia, purpura, anemia aplastik, ataupun hemofilia.
,enyakit sistemis yang tidak terkontrol 7 -iabetes /elitus, penyakit jantung,
dan sebagainya.
+ntuk komplikasi tonsiloadenoidektomi termasuk juga tonsilektomi dibedakan
antara komplikasi anestesi dan komplikasi pembedahan. 2omplikasi akibat anestesi
termasuk terjadinya hipertermi, aritmia jantung yang dapat berakhir sebagai henti
jantung. )edangkan komplikasi dari pembedahan meliputi hal$hal berikut ini 7
11
1. ,erdarahan saat atau setelah operasi.
2. )uara nasal beberapa hari setelah operasi atau permanen
'. )inekia pilar tonsil dengan oula
#. .spirasi darah ke paru$paru
1. *efleks agus
%. Bakterimia atau infeksi
7. Trauma pada gigi
(. ,embengkakan pada lidah
". Trauma pada uula, palatum mole dan dinding faring
TEKNIK
1. /ara 1uill&tine
18
-iperkenalkan pertama kali oleh ,hilip ,hysi6k (1(2() dari ,hiladelphia. -i negara$
negara maju 6ara ini sudah jarang digunakan dan di bagian THT @2+!E*)</ 6ara ini hanya
digunakan pada anak$anak dalam anestesi umum.
Teknik 7
,osisi pasien telentang dalam anestesi umum.
3perator di sisi kanan berhadapan dengan pasien.
)etelah relaksasi sempurna otot faring dan mulut, mulut difiksasi.
9idah ditekan dengan spatula.
+ntuk tonsil kanan, alat guillotine dimasukkan ke dalam mulut melalui sudut kiri.
+jung alat diletakkan diantara tonsil dan pilar posterior, kemudian kutub ba8ah tonsil
dimasukkan ke dalam !ubang guillotine. -engan jari telunjuk tangan kiri pilar anterior
ditekan sehingga seluruh jaringan tonsil masuk ke dalam !ubang guillotine.
,i6u alat ditekan, pisau akan menutup lubang hingga tonsil terjepit. )etelah diyakini
seluruh tonsil masuk dan terjepit dalam lubang guillotine, dengan bantuan jari, tonsil
dilepaskan dari jaringan sekitarnya dan diangkat keluar.
,erdarahan dira8at.
2. /ara "iseksi
<ara ini diperkenalkan pertama kali oleh Daugh (1"0"). -i Bagian THT @2+1E*)</
6ara ini digunakan pada pembedahan tonsil orang de8asa, baik dalam anestesi umum
maupun lokal.
Teknik 7
,ada anestesi umum, posisi pasien terlentang dengan kepala sedikit ekstensi.
,osisi operator di proksimal pasien.
-ipasang alat pembuka mulut Boyle$-ais gag.
Tonsil dijepit dengan 6unam tonsil dan ditarik ke medial.
-engan menggunakan respatoriumEenukleator tonsil, tonsil dilepaskan dari fosanya
se6ara tumpul sampai kutub ba8ah kemudian dengan jerat tonsil, tonsil diangkat.
,erdarahan dira8at.
3. /r2&geni$ t&nsile$t&m2
Tindakan pembedahan tonsil dapat menggunakan 6ara6ryosurgery yaitu proses
pendinginan jaringan tubuh sehingga terjadi nekrosis. Bahan pendingin yang dipakai adalah
@reon dan 6airan nitrogen.
19
%. Ele$tr&sterili4ati&n &! t&nsil
/erupakan suatu pembedahan tonsil dengan 6ara koagulasi listrik pada jaringan tonsil.
2oblasi merupakan metode yang digunakan oleh ahli THT untuk melakukan tonsilektomi,
adenoidektomi dan prosedur bedah lainnya seperti reduksi spiral dan pengobatan
mendengkur. Tidak seperti metode elektro 6auter tradisional, metode koblasi menggunakan
ablasi radio frekuensi untuk membuang jaringan. *adiofrekuensi merupakan salah satu
bentuk energy seperti gelombang radio, tetapi dengan frekuensi tinggi. ,rosedur pembedahan
berdasar koblasi yang menggunakan raduofrekuensi tepat dan mengontrol pada membuang
jaringan yang diinginkan sehingga hanya sedikit merusak jaringan yang sehat,
Tonsilektomi koblasi meliputi membuang seluruh tonsil (sub6apsuler) melalui deseksi
atau membuang sebagian tonsil (intra6apsuler) melalui penghan6uran jaringan tonsil.
Tonsilektomi koblasi memberikan keuntungan pada pasien jika dibandingkan dengan
tonsilektomi elektro6auter konensional.
$ lebih sedikit merasakan nyeri dan lebih sedikit frekuensi penggunaan narkotik
$ lebih 6epat kembali ke diet normal se6ara signifikan
$ insidensi mual pas6a operasi lebih sedikit
$ lebih 6epat menyembuhkan fossa
$ lebih sedikit terjadi dehidrasi post operasi
K. K&m0likasi
2omplikasi dari tonsilitis dapat terjadi se6ara perkontinuitatum ke daerah sekitar
atau se6ara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil. .dapun berbagai
komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut 7
1',1#,11
1. Selulitis peritonsilar, merupakan komplikasi tersering dimana penyebaran melebihi
kapsul tonsilar, timbul apabila inflamasi menyebar melebihi jaringan limfoid dari
tonsil dan melibatkan mukosa orofaring.
2. Abses peritonsilar (abses quins) adalah pus yang terjebak antara kapsul tonsil dan
dinding lateral faring. .bses peritonsilar dapat menyebar hingga jaringan leher dalam,
seringkali menyebar ke arah retrofaring. ,enyebaran dapat menyebabkan ne6rotiFing
fas6iitis. ,engobatan men6akup antibiotik intraena dan debridement.
'. !nfeksi orofaring akut dapat menyebar se6ara distal ke rongga leher dalam hingga
men6apai mediastinum. ,enyebaran melebihi faring di6urigai pada pasien dengan
gejala tonsillitis yang disertai demam tinggi, letargi, trismus, atau kesulitan bernafas.
,en6itraan radiologis dengan L$ray dari leher lateral atau dengan menggunakan <T
20
s6an dengan kontras diperlukan untuk pasien yang di6urigai telah mengalami
penyebaran hingga melebihi orofaring. 2omplikasi seperti ini memerlukan
torakotomi dan eksposisi serikal untuk drainase.
#. !nfeksi telinga tenga" (otitis media), terutama pada usia diba8ah 1 tahun dan
sinusitis. )trepto6o66us sp. tidak berbahaya seperti (0$100 tahun lalu karena
tersedianya antibiotik yang mengurangi irulensi dari organisme tersebut.
1. Pembengkakan dari #a$a" dan le"er, dapat menghalangi saluran nafas.
%. %bstruktif sleep apnea, dapat menganggu transportasi oksigen untuk sampai ke otak
dan dapat menyebabkan gangguan pola tidur.
7. T"romboflebitis, dari ena jugularis interna ()indrom 9emierre) disebabkan oleh
@usoba6terium ne6rophorum. Bakteri menyebar dari tenggorok ke ena jugularis
interna di leher, gumpalan$gumpalan ke6il dari bakteri berkumpul men6apai paru$
paru, sendi dan tulang melalui pembuluh darah. 2eluhan berupa demam tinggi dan
rasa penuh di leher dan nyeri leher unilateral. -iagnosis ditegakkan dengan <T s6an
dengan kontras. Terapi dengan antibiotik !B dan pengobatan sumber infeksi. 9igasi
atau eksisi ena jugularis interna bila terdapat emboli septik multiple.
.pabila tonsillitis yang diakibatkan oleh 4roup . G$haemolyti6 strepto6o66us
(4.BH)) atau jenis lain dari bakteri strepto6o66us tidak diobati dengan baik atau apabila
pengobatan tidak selesai maka akan ada peningkatan kemungkinan terjadinya7
1#,11

1. Scarlet fe&er, manifestasi sebagai lesi eritem, makuler, tanpa pruritus, dan tersebar
se6ara generalisata yang lebih buruk pada ekstremitas dan tidak mengenai 8ajah.
)tra8berry tongue yang ber8arna merah terang dan nyeri adalah akibat deskuamasi
papiler. 9esi dapat bertahan selama 1 minggu dan disertai demam dan artralgia.
2. 'lomerulonefritis poststreptococcal akut, disebabkan oleh serotipe 12. /un6ul
setelah 1$2 minggu setelah infeksi 4.BH), urinalisa untuk mendeteksi protein dapat
membantu mendeteksi kerusakan ginjal pada pasien dengan tonsillitis rekuren.
'. (emam reumatik, mun6ul setelah 2$# minggu. Begetasi katup jantung mempengaruhi
katup mitral dan trikuspid sehingga menyebabkan murmur, demam persisten dan
berulang, dan stenosis dari katup jantung. -iagnosis diteggakkan dengan
perningkatan titer antibodi antistreptolisin, anti$-?.se beta atau anti hyaluronidase.
21
#. Artritis septic, menyebabkan sendi terasa nyeri dan panas karena terisi 6airan yang
dipenuhi bakteri. .rtrosentesis adalah prosedur diagnosis dan dapat juga digunakan
sebagai terapi parsial. ,engobatan dengan antibiotik selama % minggu diperlukan
untuk men6egah komplikasi sendi jangka panjang.
1. Septikemia, bakteri memasuki aliran darah dan berkembang biak.
L. Pen$egahan
Beragam irus dan bakteri dapat menyebabkan tonsillitis, maka pen6egahan terbaik
adalah untuk menjaga kesehatan dan higienitas dasar 7
1'
1. /enghindari kontak yang lama dengan indiidu yang sakit atau pasien yang
immuno6ompromised, dan yang diketahui sedang sakit tonsillitis atau strep throat
hingga 2# jam setelah antibiotik diberikan
2. /en6u6i tangan dengan baik, tidak berbagi peralatan makan atau sikat gigi untuk
men6egah penyebaran bakteri atau irus penyebab tonsilitis
'. /enutupi mulut apabila batuk atau bersin, lebih baik dengan menggunakan tissue
agar bakteri tidak mengenai tangan
#. ,enggunaan aksin antipneumo6o66al dapat membantu men6egah tonsillitis akut
BAB III
KE(IPULAN
Tonsil ialah suatu jaringan yang berkapsul sebagian dengan jaringan limfoid di dalamnya
dan memiliki kontak dengan epitel dari rongga mulut dan faring. Berdasarkan letaknya, tonsil
dibagi menjadi tonsil palatina, faringeal dan lingual. Tonsil berfungsi sebagai filterEpenyaring
menyelimuti organisme yang berbahaya. Bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari
bakteriatau irus tersebut maka akan timbul tonsilitis. Tonsilitis adalah suatu proses inflamasi
atau peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh irus ataupun bakteri.
Tonsilitis disebabkan oleh bakteri )treptokokus beta hemolitikus grup ., ,neumokokus,
)treptokokus Biridans, )treptokokus ,iogenes, Haemophilus influenFa. 2adang$kadang kuman
22
golongan gram negatif. )edangkan tonsilitis kronik merupakan tonsilitis berulang yang
merupakan akibat dari penatalaksanaan tonsillitis akut yang tidak adekuat, juga bisa dipengaruhi
oleh higiene mulut yang buruk, pengaruh 6ua6a,kelelahan fisik, dan merokok.
)e6ara klinis pada tonsilitis didapatkan gejala berupa nyeri tenggorok atau nyeri telan
ringan, mulut berbau, badan lesu, sering mengantuk, nafsu makan menurun, nyeri kepala dan
badan terasa meriang.
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis yaitu7 rangsangan kronis (rokok,
makanan), higiene mulut yang buruk, pengaruh 6ua6a (udara dingin, lembab, suhu yang
berubah$ ubah), alergi (iritasi kronis dari allergen), keadaan umum (kurang giFi, kelelahan fisik)
dan pengobatan Tonsilitis .kut yang tidak adekuat.
-iagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan
penunjang. ,ada anamnesis didapatkan adanya rasa yang mengganjal, kering, dan nyeri di
tenggorokan, rasa nyeri se8aktu menelan, nafasEmulut yang berbau, demam, kadang disertai
malaise, nafsu makan menurun, maupun serangan tonsilitis akut yang berulang.
,ada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya tonsil yang membesar dengan permukaan
tidak rata, hipertrofi dan jaringan parut, kriptus melebar, beberapa terisi oleh detritus dan ada
yang mengalami stenosis, pilarEplika anterior hiperemis, inflamasi pada dinding faring,
perlekatan tonsil ke jaringan sekitar, dan pembesaran 24B submandibula pada anak$anak.
,ada pemeriksaan penunjang, dapat dilakukan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari
sediaan apus tonsil dan biakan s8ab untuk menemukan kuman penyebabnya, yang paling sering
adalah )treptotokus Hemolitikus, )treptotokus Biridans, )tafilokokus atau ,neumokokus.
,enatalaksanaan untuk tonsillitis akut adalah pemberian antibiotik, irigasi tenggorokan
sehari$hari dan usaha untuk membersihkan kripta tonsilaris dengan alat irigasi gigi (oral) serta
terapi simtomatik. )edangkan penatalaksanaan tonsilitis kronik yaitu terapi lokal untuk hygiene
mulut dengan obat kumur E hisap. Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa
atau terapi konseratif tidak berhasil.
!ndikasi dari tonsilektomi sendiri dibagi menjadi indikasi absolut dan relatif. !ndikasi
absolut yaitu adanya pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia
berat, gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner, abses peritonsil yang tidak membaik
dengan pengobatan medis dan drainase, tonsilitis yang menimbulkan kejang demam, dan
tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi.
23
)edangkan indikasi relatif yaitu jika terjadi ' episode atau lebih infeksi tonsil per tahun
dengan terapi antibiotik adekuat, adanya halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik
dengan pemberian terapi medis, tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang
tidak membaik dengan pemberian antibiotik G$laktamase resisten, dan dilaksanakan bersamaan
dengan insisi abses pada kasus yang disertai dengan abses lain.
,en6egahan terhadap tonsilitis dapat dilakukan dengan menghindari kontak yang lama
dengan indiidu yang sakit atau pasien yang immunocompromised, dan yang diketahui sedang
sakit tonsillitis atau strep t"roat hingga 2# jam setelah antibiotik diberikan, men6u6i tangan
dengan baik, tidak berbagi peralatan makan atau sikat gigi untuk men6egah penyebaran bakteri
atau irus penyebab tonsilitis, menutupi mulut apabila batuk atau bersin, lebih baik dengan
menggunakan tisu agar bakteri tidak mengenai tangan, atau juga dengan penggunaan aksin
antipneumo6o66al dapat membantu men6egah tonsillitis akut.
DA*TA. PU(TAKA
1. )uparjo. Tonsilitis. .ailable from http7EE888.s6ribd.6omEdo6E20'1(2''ETonsillitis.
.66essed7 :uly 10,201'.
2. :ong de Dim, )yamsuhidajat *. Buku .jar !lmu Bedah,edisi 2. :akarta 7 ,enerbit Buku
2edokteran 54<.2001.
'. .ritomoyo -. !nsidentonsilitisakutadankronikapadaklinik THT *)+, -r. 2ariadi )emarang,
2umpulan naskahilmiah 23?.) B! ,5*H.T!, /edan, 1"(07 2#"$11.
#. )oepardi 5. ., dkk, Buku .jar !lmu 2esehatan THT 5disi 2eenam, ,enerbit @2 +!, :akarta,
2007.
1. Tolkha ., .nton <. 2ajianmanfaattonsilektomi. .ailable from 888.digilib.litbang.depkes.
go.idE...Ejkpkbppk$gdl$grey$2001$tolkha$20(%$tonsilekto$tonsil.pdf. .66essed7 :uly 12, 201'.
24
%. 3pato8sky /:, Bro8ne :-, /64uirt:r D@, /orris ,,. 5ndoas6ular Treatment of
Hemorrhage after Tonsille6tomy in <hildren. .meri6an :ournal of ?euroradiology. .ailable
from http7EE888.ajnr.orgE6giE6ontentEfullE22E#E71'M@'. .66essed7 :uly 11, 201'.
7. .dams 94, Boies *9, Higler .,, B3!5) @undamentals of 3tolaryngology. %
th
5d.
5disiBahasa !ndonesia, 54<, :akarta, 2001A 2%'$'%(
(. )Fakal .2. !mmune system !. .ailable from http7EE888.people.6u.eduENasFakalE6ourseO
syllabiE!//)P)T.!2.htm. .66essed7 :uly 10, 201'.
". <oleman *uth. /ore <auses Q *isk @a6tors of Tonsillitis. .ailable from http7EE888.
liestrong.6omEarti6leE2((%11$more$6auses$risk$fa6tors$oftonsillitisEMiLFF1)40a:sd.
.66essed7 :uly 11, 201'. 9ast updated 36tober ", 2010.
10. .dams 49. ,enyakit$penyakit?asofaringdan3rofaringdalamHarjanto, 5. dkk, boiesbuku ajar
penyakit THT ed.%. ,enerbitBuku2edokteran 54<, :akarta.
11. .nonym. <ompli6ations of tonsillitis..ailable from http7EE888.s6ribd.6omEdo6E'10'1(#7E
tonsilitis$kronis. .66essed7 :uly 10, 201'.
12. )afiRulatif.bdillah. !ndikasi3perasitonsilektomipadatonsilitiskronis. 9ast updated )ep
20,2010. .ailable from http7EE888.fkumye6ase.netE8ikiEindeL.phpSpageT!ndikasiU3perasi
UTonsilektomi UpadaUTonsilitisU2ronis. .66essed7 :uly 1', 201'.
1'. +dayan 2), /eyers .-. Tonsillitis and peritonsillarab6ess. .ailable from http7EEemedi6ine.
meds6ape.6omEarti6leE(71"77$oerie8Msho8all. .66essed :uly 1', 201'.
1#. .nonym. <ompli6ations of tonsillitis. .ailable from http7EE888.nhs.ukE<onditionsE
TonsillitisE ,agesE<ompli6ations.aspL. .66essed7 :uly 1', 201'.
11. .nonym. <ompli6ations. 9ast updated /ay 11, 2010. .ailable from http7EE888.mayo
6lini6.6omEhealthEtonsillitisE-)0027'E-)5<T!3?T6ompli6ations. .66essed7 :uly 1', 201'.
25