Anda di halaman 1dari 62

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam pembuatan makalah ini saya bertujuan untuk membantu


mempelajari lebih dalam lagi pengetahuan tentang Petrologi agar dapat
mempermudah pengertian dan pengenalan akan batuan, yang sangat
penting dipahami oleh seorang geologist, karena memang batulah yang
menjadi objek di dalam pembelajaran seorang ahli geologi.

Selain itu para pembaca juga dapat mengetahui macam-macam


batuan yang ada di muka bumi ini,mulai dari pembagian dan
klasifikasinya, serta bagaimana proses terbentuyknya batuan tersebut,
serta kita juga dapat mengenali suatu batuan dengan cara
mendeskripsikan batuan tersebut melalui tekstur dan struktur suatu
batuan serta komposisi mineral yang dikandung oleh batuan tersebut.

I.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dan Tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk


menjelaskan Petrologi, disertai dengan deskripsi mineral menurut struktur
dan tekstur batuan tersebut berdasarkan jenis batuan dari Batuan Beku,
Batuan Sedimen dan Batuan Metamorf.

Selain itu untuk memberikan pengetahuan tentang berbagai jenis


batuan di muka bumi ini, berdasarkan diagenesa batuan tersebut, serta
struktur dan tekstur yang dimiliki oleh batuan tersebut, sehingga kita
dengan mudah dapat mengenali jenis batuan di lapangan nanti.

1.3 Perumusan Masalah

Masalah yang diangkat penulis dalam penulisan makalah ini adalah


mengenai pengenalan batuan, bagaimana batuan tersebut terbentuk dan
terbagi menjadi berbagai jenis, dan bagaimana pengklasifikasian suatu
batuan berdasarkan proses diagenesa batuan tersebut, berdasarkan
struktur dan tekstur, serta bagaimana mendeskripsikan suatu batuan
berdasarkan jenisnya.

1
1.4 Metode Penulisan

Penulisan di lakukan secara melaui studi literatur serta dengan cara


analisa batuan melalui deskripsi di laboratorium.

BAB II PETROLOGI

2
II.1 Pengenalan Batuan

Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian
dari lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena
daratan adalah bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung
dengan dekat maka banyak hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan
cepat dan jelas. Salah satu diantaranya adalah kenyataan bahwa daratan
tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda satu sama lain.
Batuabn tersebut merupakan benda padat yang terbentuk secara alamiah,
merupakan kumpulan (agredasi) dari mineral baik yang sejenis maupun
yang tidak sejenis dan mempunyai komposisi kimia yang konstan. Dari
jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3 jenis
golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment
(sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic
rocks). Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan
berbeda pula proses terbentuknya.

Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang
terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat
pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa
dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik. Perbedaan
antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun batuannya.
Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang
relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar.
Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang
sering dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik
umumnya terbentuk dari pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya
akibat letusan gunung api) sehingga mineral penyusunnya lebih kecil.
Contohnya adalah basalt, andesit (yang sering dijadikan pondasi rumah),
dan dacite

Batuan sedimen atau sering disebut sedimentary rocks adalah


batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil
proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya
terendapkan. Batuan sediment ini bias digolongkan lagi menjadi beberapa
bagian diantaranya batuan sediment klastik, batuan sediment kimia, dan
batuan sediment organik. Batuan sediment klastik terbentuk melalui
proses pengendapan dari material-material yang mengalami proses
transportasi. Besar butir dari batuan sediment klastik bervariasi dari mulai

3
ukuran lempung sampai ukuran bongkah. Biasanya batuan tersebut
menjadi batuan penyimpan hidrokarbon (reservoir rocks) atau bisa juga
menjadi batuan induk sebagai penghasil hidrokarbon (source rocks).
Contohnya batu konglomerat, batu pasir dan batu lempung. Batuan
sediment kimia terbentuk melalui proses presipitasi dari larutan. Biasanya
batuan tersebut menjadi batuan pelindung (seal rocks) hidrokarbon dari
migrasi. Contohnya anhidrit dan batu garam (salt). Batuan sediment
organik terbentuk dari gabungan sisa-sisa makhluk hidup. Batuan ini
biasanya menjadi batuan induk (source) atau batuan penyimpan
(reservoir). Contohnya adalah batugamping terumbu.
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang
terbentuk akibat proses perubahan temperature dan/atau tekanan dari
batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperature
dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan
strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur
yang baru pula. Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang
merupakan perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan
perubahan dari batu gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan
dari batu pasir.Apabila semua batuan-batuan yang sebelumnya
terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk magma yang kemudian
mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi batuan-batuan baru
lagi.
Proses-proses tersebut berlangsung sepanjang waktu baik di masa
lampau maupun masa yang akan datang. Kejadian alam dan proses
geologi yang berlangsung sekarang inilah yang memberikan gambaran
apa yang telah terjadi di masa lampau seperti diungkapkan oleh ahli
geologi “JAMES HUTTON” dengan teorinya “THE PRESENT IS THE KEY TO
THE PAST”

II.2 Batuan Beku

Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, “api”) adalah
jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras,
dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai
batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan
ekstrusif (vulkanik). Magma ini dapat berasal dari batuan setengah cair
ataupun batuan yang sudah ada, baik di mantel ataupun kerak bumi.
Umumnya, proses pelelehan terjadi oleh salah satu dari proses-proses
berikut: kenaikan temperatur, penurunan tekanan, atau perubahan
komposisi. Lebih dari 700 tipe batuan beku telah berhasil dideskripsikan,
sebagian besar terbentuk di bawah permukaan kerak bumi.

4
STRUKTUR BATUAN BEKU
Berdasarkan tempat pembekuannya batuan beku dibedakan menjadi
batuan beku extrusive dan intrusive. Hal ini pada nantinya akan
menyebabkan perbedaan pada tekstur masing masing batuan tersebut.
Kenampakan dari batuan beku yang tersingkap merupakan hal pertama
yang harus kita perhatikan. Kenampakan inilah yang disebut sebagai
struktur batuan beku

1. Struktur batuan beku ekstrusif

Batuan beku ekstrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya


berlangsung dipermukaan bumi. Batuan beku ekstrusif ini yaitu lava yang
memiliki berbagia struktur yang memberi petunjuk mengenai proses yang
terjadi pada saat pembekuan lava tersebut. Struktur ini diantaranya:
a. Masif, yaitu struktur yang memperlihatkan suatu masa batuan yang
terlihat seragam.
b. Sheeting joint, yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan
c. Columnar joint, yaitu struktur yang memperlihatkan batuan terpisah
poligonal seperti batang pensil.
d. Pillow lava, yaitu struktur yang menyerupai bantal yang bergumpal-
gumpal. Hal ini diakibatkan proses pembekuan terjadi pada lingkungan air.
e. Vesikular, yaitu struktur yang memperlihatkan lubang-lubang pada
batuan beku. Lubang ini terbentuk akibat pelepasan gas pada saat
pembekuan.
f. Amigdaloidal, yaitu struktur vesikular yang kemudian terisi oleh mineral
lain seperti kalsit, kuarsa atau zeolit
g. Struktur aliran, yaitu struktur yang memperlihatkan adanya kesejajaran
mineral pada arah tertentu akibat aliran

2. Struktur Batuan Beku Intrusif

5
Batuan beku ekstrusif adalah
batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan
bumi. berdasarkan kedudukannya terhadap perlapisan batuan yang
diterobosnya struktur tubuh batuan beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu
konkordan dan diskordan.

Konkordan

Tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya,


jenis jenis dari tubuh batuan ini yaitu :
a. Sill, tubuh batuan yang berupa lembaran dan sejajar dengan perlapisan
batuan disekitarnya.
b. Laccolith, tubuh batuan beku yang berbentuk kubah (dome), dimana
perlapisan batuan yang asalnya datar menjadi melengkung akibat
penerobosan tubuh batuan ini, sedangkan bagian dasarnya tetap datar.
Diameter laccolih berkisar dari 2 sampai 4 mil dengan kedalaman ribuan
meter.
c. Lopolith, bentuk tubuh batuan yang merupakan kebalikan dari laccolith,
yaitu bentuk tubuh batuan yang cembung ke bawah. Lopolith memiliki
diameter yang lebih besar dari laccolith, yaitu puluhan sampai ratusan
kilometer dengan kedalaman ribuan meter.
d. Paccolith, tubuh batuan beku yang menempati sinklin atau antiklin yang
telah terbentuk sebelumnya. Ketebalan paccolith berkisar antara ratusan
sampai ribuan kilometer

Diskordan

Tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan


disekitarnya. Jenis-jenis tubuh batuan ini yaitu:

6
a. Dike, yaitu tubuh batuan yang memotong perlapisan disekitarnya dan
memiliki bentuk tabular atau memanjang. Ketebalannya dari beberapa
sentimeter sampai puluhan kilometer dengan panjang ratusan meter.
b. Batolith, yaitu tubuh batuan yang memiliki ukuran yang sangat besar
yaitu > 100 km2 dan membeku pada kedalaman yang besar.
c. Stock, yaitu tubuh batuan yang mirip dengan Batolith tetapi ukurannya
lebih kecil

TEKSTUR BATUAN BEKU

Magma merupakan larutan yang kompleks. Karena terjadi penurunan


temperatur, perubahan tekanan dan perubahan dalam komposisi, larutan
magma ini mengalami kristalisasi. Perbedaan kombinasi hal-hal tersebut
pada saat pembekuan magma mengakibatkan terbentuknya batuan yang
memilki tekstur yang berbeda.

Ketika batuan beku membeku pada keadaan temperatur dan tekanan yang
tinggi di bawah permukaan dengan waktu pembekuan cukup lama maka
mineral-mineral penyusunya memiliki waktu untuk membentuk sistem
kristal tertentu dengan ukuran mineral yang relatif besar. Sedangkan pada
kondisi pembekuan dengan temperatur dan tekanan permukaan yang
rendah, mineral-mineral penyusun batuan beku tidak sempat membentuk
sistem kristal tertentu, sehingga terbentuklah gelas (obsidian) yang tidak
memiliki sistem kristal, dan mineral yang terbentuk biasanya berukuran
relatif kecil. Berdasarkan hal di atas tekstur batuan beku dapat dibedakan
berdasarkan :

1. Tingkat kristalisasi
a) Holokristalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya disusun oleh
kristal
b) Hipokristalin, yaitu batuan beku yang tersusun oleh kristal dan gelas
c) Holohyalin, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh
gelas

2. Ukuran butir
a) Phaneritic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhmya tersusun oleh
mineral-mineral yang berukuran kasar.
b) Aphanitic, yaitu batuan beku yang hampir seluruhnya tersusun oleh
mineral berukuran halus.

3. Bentuk kristal
Ketika pembekuan magma, mineral-mineral yang terbentuk pertama kali

7
biasanya berbentuk sempurna sedangkan yang terbentuk terakhir
biasanya mengisi ruang yang ada sehingga bentuknya tidak sempurna.
Bentuk mineral yang terlihat melalui pengamatan mikroskop yaitu:
a) Euhedral, yaitu bentuk kristal yang sempurna
b) Subhedral, yaitu bentuk kristal yang kurang sempurna
c) Anhedral, yaitu bentuk kristal yang tidak sempurna.

4. Berdasarkan kombinasi bentuk kristalnya


a) Unidiomorf (Automorf), yaitu sebagian besar kristalnya dibatasi oleh
bidang kristal atau bentuk kristal euhedral (sempurna)
b) Hypidiomorf (Hypautomorf), yaitu sebagian besar kristalnya berbentuk
euhedral dan subhedral.
c) Allotriomorf (Xenomorf), sebagian besar penyusunnya merupakan kristal
yang berbentuk anhedral.

5. Berdasarkan keseragaman antar butirnya


a) Equigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya hampir sama
b) Inequigranular, yaitu ukuran butir penyusun batuannya tidak sama

8
KLASIFIKASI BATUAN BEKU

Batuan beku diklasifikasikan berdasarkan tempat terbentuknya, warna,


kimia, tekstur, dan mineraloginya.

a. Berdasarkan tempat terbentuknya batuan beku dibedakan atas :

1. Batuan beku Plutonik, yaitu batuan beku yang terbentuk jauh di perut
bumi.
2. Batuan beku Hypabisal, yaitu batuan beku yang terbentu tidak jauh dari
permukaan bumi
3. Batuan beku vulkanik, yaitu batuan beku yang terbentuk di permukaan

9
bumi
Berdasarkan warnanya, mineral pembentuk batuan beku ada dua yaitu
mineral mafic (gelap) seperti olivin, piroksen, amphibol dan biotit, dan
mineral felsic (terang) seperti Feldspar, muskovit, kuarsa dan feldspatoid.

b. Klasifikasi batuan beku berdasarkan warnanya yaitu:

1. Leucocratic rock, kandungan mineral mafic < 30%


2. Mesocratic rock, kandungan mineral mafic 30% - 60%
3. Melanocratic rock, kandungan mineral mafic 60% - 90%
4. Hypermalanic rock, kandungan mineral mafic > 90%

c. Berdasarkan kandungan kimianya yaitu kandungan SiO2-nya batuan


beku diklasifikasikan menjadi empat yaitu:

1. Batuan beku asam (acid), kandungan SiO2 > 65%, contohnya Granit,
Ryolit.
2. Batuan beku menengah (intermediat), kandungan SiO2 65% - 52%.
Contohnya Diorit, Andesit
3. Batuan beku basa (basic), kandungan SiO2 52% - 45%, contohnya
Gabbro, Basalt
4. Batuan beku ultra basa (ultra basic), kandungan SiO2 < 30%

PENGELOMPOKAN BATUAN BEKU

Untuk membedakan berbagai jenis batuan beku yang terdapat di Bumi,


dilakukan berbagai cara pengelompokan terhadap batuan beku (gambar).
Pengelompokan yang didasarkan kepada susunan kimia batuan, jarang
dilakukan. Hal ini disebabkan disamping prosesnya lama dan mahal,
karena harus dilakukan melalui analisa kimiawi. Dan yang sering
digunakan adalah yang didasarkan kepada tekstur dipadukan dengan
susunan mineral, dimana keduanya dapat dilihat dengan kasat mata.

10
Pada gambar disamping diperlihatkan pengelompokan batuan beku dalam
bagan, berdasarkan susunan mineralogi. Gabro adalah batuan beku dalam
dimana sebagian besar mineral-mineralnya adalah olivine dan piroksin.
Sedangkan Felsparnya terdiri dari felspar plagioklas Ca. Teksturnya kasar
atau phanerik, karena mempunyai waktu pendinginan yang cukup lama
didalam litosfir. Kalau dia membeku lebih cepat karena mencapai
permukaan bumi, maka batuan beku yang terjadi adalah basalt dengan
tekstur halus. Jadi Gabro dan Basalt keduanya mempunyai susunan
mineral yang sama, tetapi teksturnya berbeda. Demikian pula dengan
Granit dan Rhyolit, atau Diorit dan Andesit. Granit dan Diorit mempunyai
tekstur yang kasar, sedangkan Rhyolit dan Andesit, halus. Basalt dan
Andesit adalah batuan beku yang banyak dikeluarkan gunung-berapi,
sebagai hasil pembekuan lava.

Para ahli teknik Sipil akan sangat tertarik untuk mempelajari batuan,
disamping fungsinya sebagai bahan bangunan, juga karena perannya
sebagai batuan dasar atau pondasi. Karena itu kepada mereka dianjurkan
untuk dapat mengenal beberapa jenis batuan beku yang utama di
lapangan. Untuk memperoleh data tentang sifat batuan yang diperlukan
oleh para ahli Teknik Sipil, umumnya dilakukan pengujian lapangan dan
studi petrografi (mikroskopis). Data tersebut diperlukan dalam kaitannya
untuk penambangan, konstruksi bawah permukaan atau untuk
menentukan cara-cara membuat bukaan.

Batuan beku juga dapat dikelompokan berdasarkan bentuk-bentuknya


didalam kerak Bumi. Pada saat magma menerobos litosfir dalam
perjalanannya menuju permukaan Bumi, ia dapat menempati tempatnya
didalam kerak dengan cara memotong struktur batuan yang telah ada,

11
atau mengikuti arah dari struktur batuan. Yang memotong struktur disebut
bentuk-bentuk diskordan, sedangkan yang mengikuti struktur disebut
konkordan.

MAGMA

Dalam siklus batuan dicantumkan bahwa batuan beku bersumber dari


proses pendinginan dan penghabluran lelehan batuan didalam Bumi yang
disebut magma. Magma adalah suatu lelehan silikat bersuhu tinggi berada
didalam Litosfir, yang terdiri dari ion-ion yang bergerak bebas, hablur yang
mengapung didalamnya, serta mengandung sejumlah bahan berwujud
gas. Lelehan tersebut diperkirakan terbentuk pada kedalaman berkisar
sekitar 200 kilometer dibawah permukaan Bumi, terdiri terutama dari
unsur-unsur yang kemudian membentuk mineral-mineral silikat.

Magma yang mempunyai berat-jenis lebih ringan dari batuan sekelilingnya,


akan berusaha untuk naik melalui rekahan-rekahan yang ada dalam litosfir
hingga akhirnya mampu mencapai permukaan Bumi. Apabila magma
keluar, melalui kegiatan gunung-berapi dan mengalir diatas permukaan
Bumi, ia akan dinamakan lava. Magma ketika dalam perjalanannya naik
menuju ke permukaan, dapat juga mulai kehilangan mobilitasnya ketika
masih berada didalam litosfir dan membentuk dapur-dapur magma
sebelum mencapai permukaan. Dalam keadaan seperti itu, magma akan
membeku ditempat, dimana ion-ion didalamnya akan mulai kehilangan
gerak bebasnya kemudian menyusun diri, menghablur dan membentuk
batuan beku. Namun dalam proses pembekuan tersebut, tidak seluruh
bagian dari lelehan itu akan menghablur pada saat yang sama. Ada
beberapa jenis mineral yang terbentuk lebih awal pada suhu yang tinggi
dibanding dengan lainnya.

Dalam gambar berikut diperlihatkan urutan penghabluran (pembentukan


mineral) dalam proses pendinginan dan penghabluran lelehan silikat.
Mineral-mineral yang mempunyai berat-jenis tinggi karena kandungan Fe
dan Mg seperti olivine, piroksen, akan menghablur paling awal dalam
keadaan suhu tinggi, dan kemudian disusul oleh amphibole dan biotite.
Disebelah kanannya kelompok mineral felspar, akan diawali dengan jenis
felspar calcium (Ca-Felspar) dan diikuti oleh felspar kalium (K-Felspar).
Akibatnya pada suatu keadaan tertentu, kita akan mendapatkan suatu
bentuk dimana hublur-hablur padat dikelilingi oleh lelehan.

12
Bentuk-bentuk dan ukuran dari hablur yang terjadi, sangat ditentukan oleh
derajat kecepatan dari pendinginan magma. Pada proses pendinginan
yang lambat, hablur yang terbentuk akan mempunyai bentuk yang
sempurna dengan ukuran yang besar-besar. Sebaliknya, apabila
pendinginan itu berlangsung cepat, maka ion-ion didalamnya akan dengan
segera menyusun diri dan membentuk hablur-hablur yang berukuran kecil-
kecil, kadang berukuran mikroskopis. Bentuk pola susunan hablur-hablur
mineral yang nampak pada batuan beku tersebut dinamakan tekstur
batuan.

Disamping derajat kecepatan pendinginan, susunan mineralogi dari


magma serta kadar gas yang dikandungnya, juga turut menentukan dalam
proses penghablurannya. Mengingat magma dalam aspek-aspek tersebut
diatas sangat berbeda, maka batuan beku yang terbentuk juga sangat
beragam dalam susunan mineralogi dan kenampakan fisiknya. Meskipun
demikian, batuan beku tetap dapat dikelompokan berdasarkan cara-cara
pembentukan seta susunan mineraloginya.

PROSES PEMBENTUKAN MAGMA

Magma dalam kerak Bumi dapat terbentuk sebagai akibat dari


perbenturan antara 2 (dua) lempeng litosfir, dimana salah satu dari
lempeng yang berinteraksi itu menunjam dan menyusup kedalam
astenosfir. Sebagai akibat dari gesekan yang berlangsung antara kedua
lempeng litosfir tersebut, maka akan terjadi peningkatan suhu dan
tekanan, ditambah dengan penambahan air berasal dari sedimen-sedimen

13
samudra akan disusul oleh proses peleburan sebagian dari litosfir (gambar
berikut)

Sumber magma yang terjadi sebagai akibat dari peleburan tersebut akan
menghasilkan magma yang bersusunan asam (kandungan unsur SiO2
lebih besar dari 55%). Magma yang bersusunan basa, adalah magma yang
terjadi dan bersumber dari astenosfir. Magma seperti itu didapat di daerah-
daerah yang mengalami gejala regangan yang dilanjutkan dengan
pemisahan litosfir.

Berdasakan sifat kimiawinya, batuan beku dapat dikelompokan menjadi 4


(empat) kelompok, yaitu: (1) Kelompok batuan beku ultrabasa/ultramafic;
(2) Kelompok batuan beku basa; (3) Kelompok batuan beku intermediate;
dan (4) Kelompok batuan beku asam. Dengan demikian maka magma asal
yang membentuk batuan batuan tersebut diatas dapat dibagi menjadi 3
jenis, yaitu magma basa, magma intermediate, dan magma asam. Yang
menjadi persoalan dari magma adalah :

1) Apakah benar bahwa magma terdiri dari 3 jenis (magma basa,


intermediate, asam) ?

2) Apakah mungkin magma itu hanya ada satu jenis saja dan kalau
mungkin bagaimana menjelaskan cara terbentuknya batuan-batuan yang
komposisinya bersifat ultrabasa, basa, intermediate dan asam?

Berdasarkan pengelompokan batuan beku, maka pertanyaan pertama


dapat dibenarkan dan masuk akal apabila magma terdiri dari 3 jenis,
sedangkan pertanyaan kedua, apakah benar bahwa magma hanya ada
satu jenis saja dan bagaimana caranya sehingga dapat membentuk batuan
yang bersifat ultrabasa, basa, intermediate, dan asam?. Untuk menjawab
pertanyaan ini, ada 2 cara untuk menjelaskan bagaimana batuan yang
bersifat basa, intermediate, dan asam itu dapat terbentuk dari satu jenis
magma saja? Jawabannya adalah melalui proses Diferensiasi Magma dan
proses Asimilasi Magma.

14
Diferensiasi Magma adalah proses penurunan temperatur magma yang
terjadi secara perlahan yang diikuti dengan terbentuknya mineral-mineral
seperti yang ditunjukkan dalam deret reaksi Bowen. Pada penurunan
temperatur magma maka mineral yang pertama kali yang akan terbentuk
adalah mineral Olivine, kemudian dilanjutkan dengan Pyroxene,
Hornblende, Biotite (Deret tidak kontinu). Pada deret yang kontinu,
pembentukan mineral dimulai dengan terbentuknya mineral Ca-Plagioclase
dan diakhiri dengan pembentukan Na-Plagioclase. Pada penurunan
temperatur selanjutnya akan terbentuk mineral K-Feldspar(Orthoclase),
kemudian dilanjutkan oleh Muscovite dan diakhiri dengan terbentuknya
mineral Kuarsa (Quartz). Proses pembentukan mineral akibat proses
diferensiasi magma dikenal juga sebagai Mineral Pembentuk Batuan (Rock
Forming Minerals).

Pembentukan batuan yang berkomposisi ultrabasa, basa, intermediate,


dan asam dapat terjadi melalui proses diferensiasi magma. Pada tahap
awal penurunan temperatur magma, maka mineral-mineral yang akan
terbentuk untuk pertama kalinya adalah Olivine, Pyroxene dan Ca-
plagioklas dan sebagaimana diketahui bahwa mineral-mineral tersebut
adalah merupakan mineral penyusun batuan ultra basa. Dengan
terbentuknya mineral-mineral Olivine, pyroxene, dan Ca-Plagioklas maka
konsentrasi larutan magma akan semakin bersifat basa hingga
intermediate dan pada kondisi ini akan terbentuk mineral mineral
Amphibol, Biotite dan Plagioklas yang intermediate (Labradorite –
Andesine) yang merupakan mineral pembentuk batuan Gabro (basa) dan
Diorite (intermediate). Dengan terbentuknya mineral-mineral tersebut
diatas, maka sekarang konsentrasi magma menjadi semakin bersifat
asam. Pada kondisi ini mulai terbentuk mineral-mineral K-Feldspar
(Orthoclase), Na-Plagioklas (Albit), Muscovite, dan Kuarsa yang merupakan
mineral-mineral penyusun batuan Granite dan Granodiorite (Proses
diferensiasi magma ini dikenal dengan seri reaksi Bowen).

Asimilasi Magma adalah proses meleburnya batuan samping (migling)


akibat naiknya magma ke arah permukaan dan proses ini dapat
menyebabkan magma yang tadinya bersifat basa berubah menjadi asam
karena komposisi batuan sampingnya lebih bersifat asam. Apabila magma
asalnya bersifat asam sedangkan batuan sampingnya bersifat basa, maka
batuan yang terbentuk umumnya dicirikan oleh adanya Xenolite (Xenolite
adalah fragment batuan yang bersifat basa yang terdapat dalam batuan
asam). Pembentukan batuan yang berkomposisi ultrabasa, basa,
intermediate, dan asam dapat juga terjadi apabila magma asal (magma
basa) mengalami asimilasi dengan batuan sampingnya.

15
Sebagai contoh suatu magma basa yang menerobos batuan samping yang
berkomposisi asam maka akan terjadi asimilasi magma, dimana batuan
samping akan melebur dengan larutan magma dan hal ini akan membuat
konsentrasi magma menjadi bersifat intermediate hingga asam. Dengan
demikian maka batuan-batuan yang berkomposisi mineral intermediate
maupun asam dapat terbentuk dari magma basa yang mengalami
asimilasi dengan batuan sampingnya. Klasifikasi batuan beku dapat
dilakukan berdasarkan kandungan mineralnya, kejadian / genesanya
(plutonik, hypabisal, dan volkanik), komposisi kimia batuannya, dan indek
warna batuannya. Untuk berbagai keperluan klasifikasi, biasanya
kandungan mineral dipakai untuk mengklasifikasi batuan dan merupakan
cara yang paling mudah dalam menjelaskan batuan beku. Berdasarkan
kejadiannya (genesanya), batuan beku dapat dikelompokkan sebagai
berikut:

1) Batuan Volcanic adalah batuan beku yang terbentuk dipermukaan atau


sangat dekat permukaan bumi dan umumnya berbutir sangat halus hingga
gelas.
2) Batuan Hypabysal adalah batuan beku intrusive yang terbentuk dekat
permukaan bumi dengan ciri umum bertekstur porphyritic.
3) Batuan Plutonic adalah batuan beku intrusive yang terbentuk jauh
dibawah permukaan bumi dan umumnya bertekstur sedang hingga kasar.
4) Batuan Extrusive adalah batuan beku, bersifat fragmental atau
sebaliknya dan terbentuk sebagai hasil erupsi ke permukaan bumi.
5) Batuan Intrusive adalah batuan beku yang terbentuk dibawah
permukaan bumi.

PENAMAAN BATUAN BEKU

16
Penamaan batuan beku ditentukan berdasarkan dari komposisi mineral-
mineral utama (ditentukan berdasarkan persentase volumenya) dan
apabila dalam penentuan komposisi mineralnya sulit ditentukan secara
pasti, maka analisis kimia dapat dilakukan untuk memastikan
komposisinya. Yang dimaksud dengan klasifikasi batuan beku disini adalah
semua batuan beku yang terbentuk seperti yang diuraikan diatas
(volkanik, plutonik, extrusive, dan intrusive). Dan batuan beku ini mungkin
terbentuk oleh proses magmatik, metamorfosa, atau kristalisasi
metasomatism.

Penamaan batuan beku didasarkan atas Tekstur Batuan dan Komposisi


Mineral. Tekstur batuan beku adalah hubungan antar mineral dan derajat
kristalisasinya. Tekstur batuan beku terdiri dari 3 jenis (gambar bsamping),
yaitu Aphanitics (bertekstur halus), Porphyritics (bertekstur halus dan
kasar), dan Phanerics (bertekstur kasar). Pada batuan beku kita mengenal
derajat kristalisasi batuan: Holohyaline (seluruhnya terdiri dari mineral
amorf/gelas)), holocrystalline (seluruhnya terdiri dari kristal), dan
hypocrystalline (sebagian teridiri dari amorf dan sebagian kristal).
Sedangkan bentuk mineral/butir dalam batuan beku dikenal dengan
bentuk mineral: Anhedral, Euhedral, dan Glass/amorf.

Komposisi mineral utama batuan adalah mineral penyusun batuan (Rock


forming Mineral) dari Bowen series, dapat terdiri dari satu atau lebih
mineral. Komposisi mineral dalam batuan beku dapat terdiri dari mineral
primer (mineral yang terbentuk pada saat pembentukan batuan /

17
bersamaan pembekuan magma) dan mineral sekunder (mineral yang
terbentuk setelah pembentukan batuan).

Dalam Tabel berikut diperlihatkan jenis batuan beku Intrusif dan batuan
beku Ekstrusif dan batuan Ultramafik beserta komposisi mineral utama dan
mineral sedikit yang menyusun pada setiap jenis batuannya.

Beberapa contoh batuan beku

18
II.2.1 Batuan Beku Basa

II.2.1.1 Diagenesa Batuan Beku Basa


Batuan beku basa adalah batuan yang terbentuk langsung dari
pembekuan magma dimana proses pembekuan berada di daerah plutonik
(di bawah permukaan bumi ), proses pembekuan sangat lambat dengan
temperature yang rendah sehingga umumnya butiran pada batuan beku
basa lebih kasar, jarang memperlihatkan struktur visikular ( lubang-lubang
gas) dan berwarna gelap (mafik). Batuan beku basa memiliki kandungan
silica 45-52%.

II.2.1.2 Deskripsi Batuan Beku Basa

1. Amigdaloidal Basalt

19
• Warna : hitam
• Kristalinitas : holookristalin
• Granularitas : fanerik
• Relasi : inequigranular
• Struktur : amigdaloidal
• Fabric : subhedral
• komposisi mineral:
- hornblende : 25%
- anorthoclas : 15%
- piroksin : 25%

- piroksin : 15%
- orthoclas : 20%
• kegunaan : sebagai bahan baku industri

2. Gabbro

• Warna : hitam
• Kristalinitas : hipokristalin
• Granularitas : afanitik
• Relasi : inequigranular
• Struktur : masive
• Fabric :subhedral
• komposisi mineral:
- biotit : 35%

20
- piroksin : 35%
- kuarsa : 20%
- olivin : 10%
• kegunaan : sebagai bahan dasar industri

3. Olivine Gabro

• Warna : hijau tua


• Kristalinitas : hipokristalin
• Granularitas : fanerik
• Relasi : inequigranular
• Struktur : masive
• Fabric :subhedral
• komposisi mineral:
- hornblende : 15%
- olivin : 50%
- plagioklas : 10%
- kuarsa : 5%
- piroksin : 20%
• kegunaan : sbg bahan baku industri dan ilmu pengetahuan

4. Norite

• Warna : hitam
• Kristalinitas : holokristalin
• Granularitas : fanerik
• Relasi : inequigranular
• Struktur : masive
• Fabric :subhedral
• komposisi mineral:
- hornblende : 35%

21
- biotit : 15%
- plagioklas : 10%
- piroksin : 20%
• kegunaan : sebagai bahan dasar industri

5. Siderite

• Warna : hitam
• Kristalinitas : holokristalin
• Granularitas : fanerik
• Relasi : inequigranular
• Struktur : masive
• Fabric :subhedral
• komposisi mineral:
- hornblende : 50%
- biotit : 15%
- plagioklas : 15%
- piroksin : 20%
• kegunaan : sebagai bahan dasar industri

II.2.2 Batuan Beku Intermediet

II.2.2.1 Diagenesa Batuan Beku Intermediet


Batuan beku Intermediet adalah batuan yang terbentuk hasil intrusi
dangkal dari pembekuan magma dimana proses pembekuan berada di
daerah hipabisal (daerah pertengahan antara daerah plutonik dengan
permukaan), proses pembekuan sedang dengan temperature yang rendah
sehingga umumnya butiran pada batuan beku intermediet kasar, jarang
memperlihatkan struktur visikular ( lubang-lubang gas) dan berwarna
gelap (mafik) dengan indeks color <40%. Batuan beku basa memiliki
kandungan silica 52%<SiO2<62%.

BERDASARKAN K-FELDS – T-FELS


Tekstur K-Fels<1/3 T K-Fels >1/3 K-Fels >2/3 Feldspathoid

22
Fels <2/3 T Fels T Fels
HALUS Andesite Trachyandes Trachyte Phonoloite
ite
KASAR Diorite Monzonite Syenite F’toid
Phonolite

II.2.2.2 Deskripsi Batuan Beku Intermediet

1. Trachyte

• warna : Hitam
• kristalinitas : hipokristalin
• granularitas : fanerik
• relasi : equigranular
• struktur : massive
• fabrik : subhedral
• komposisi mineral
plagioklas 10%
hornblende 25%
adularia 20%
quartz 5%
pyroxene 40%
● kegunaan : sbg bahan baku industri dan ilmu pengetahuan

2. Hornblende Syenite

● warna : Hitam
• kristalinitas: hipokristalin

23
• Granularitas: fanerik
• Relasi : equigranular
• Komposisi mineral
- Hornblende 55%
- Adularia 20%
- Quartz 5%
- Plagioklas 10%
- Biotit 10%
- Glass 5%
Kegunaan : sebagai bahan dasar industri

3. Diorite

• Warna : abu-abu
• Kristalinitas : hipokristalin
• Granularitas: Fanerik
• Relasi : inequigranular
• Komposisi Mineral
- Sanidine 10%
- Adularia 5%
- Quartz 25%
- Plagioklas 30%
- Hornblende 15%
- Biotit 10%
Kegunaan : sbg bahan baku industri dan ilmu pengetahuan

4. Monzonite

24
• Warna : abu-abu
• Kristalinitas : hipokristalin
• Granularitas: fanerik
• Relasi : inequigranular
• Komposisi mineral
- Hornblende 30%
- Quartz 25%
- Plagioklas 15%
- Sanidine 15%
- Adularia 10%
- Glass 5%
Kegunaan : sebagai bahan dasar industri

II.2.3 Batuan Beku Asam

II.2.3.1 Diagenesa Batuan Beku Asam

Batuan beku Asam adalah batuan yang terbentuk dari


pembekuan magma secara ekstrusif atau hasil pembekuan di daerah
permukaan dimana proses pembekuan berada di daerah vulkanik (di
permukaan bumi ), proses pembekuan sangat cepat dengan temperature
yang tinggi sehingga umumnya butiran pada batuan beku basa lebih halus
dan berwarna terang (felsik) dengan indeks color <20%. Batuan beku
asam memiliki kandungan silica >65%.

BERDASARKAN K-FELDS – T-FELS

25
Tekstur K-Fels<1/3 T K-Fels >1/3 K-Fels >2/3
Fels <2/3 T Fels T Fels
HALUS Dacite Rhyodacite Rhyolite
KASAR Granodiorite Adamelite Granite

II.2.3.2 Deskripsi Batuan Beku Asam

1. Rhyolite

• Warna : pink
• Kristalinitas: hipokristalin
• Granularitas: Afanitik
• Relasi: equigranular
• Fabrik : subhedral
• Struktur : massive
• Komposisi mineral
- Orthoclas 20%
- Hornblende 15%
- Biotit 15%
- Plagioklas 10%
- Sanidine 20%
- Glass 10%
- Quartz 10%
• Kegunaan : sebagai bahan dasar industri dan digunakan dalam ilmu
pengetahuan

2. Granite

• Warna : cokelat
• Kristalinitas : hipokristalin
• Granularitas: Fanerik
• Relasi : equigranular
• Fabrik : subhedral

26
• Struktur : massive
• Komposisi Mineral
- Hornblende 15%
- Plagioklas 10%
- Quartz 10%
- Sanidine 20%
- Biotit 15%
- Orthoclas 20%
Kegunaan : sebagai bahan industri dalam pembuatan keramik

3. Biotite Hornblende Granite

• Warna : abu-abu
• Kristalinitas: hipokristalin
• Granularitas : fanerik
• Relasi : equigranular
• Fabrik : subhedral
• Struktur : massive
• Komposisi mineral
- Biotit 25%
- Hornblende 25%
- Plagioklas 10%
- Anorthoclas 10%
- Microcline 10%
- Sanidine 10%
- Orthoclas 10%
Kegunaan : bahan baku industri dan ilmu pengetahuan

4. Dacite

27
• Warna : abu-abu
• Kristalinitas: Hipokristalin
• Granularitas: afanitik
• Relasi : equigranular
• Komposisi mineral
- Plagioklas 45%
- Hornblende 20%
- Quartz 15 %
- Anorthoclas 5 %
- Microcline 5%
- Orthoclas 5%
- Sanidine 5%
• Kegunaan : bahan baku industri dan ilmu pengetahuan

II.3 Batuan Piroklastik

Selain batuan metamorf, sedimen dan batuan beku terdapat satu


lagi jenis batuan yang sangat unik yaitu batuan piroklastik, Kenapa disebut
batuan yang unik ?. Hal ini dikarenakan secara genetis, kelompok batuan
ini lebih dekat dengan batuan ekstrusif, tetapi secara deskriptif dan cara
terjadinya memperlihatkan ciri (struktur dan tekstur) yang mirip dengan
kelompok batuan sedimen klastik. Kelompok batuan ini di definisikan
sebagai batuan yang dihasilkan (secara langsung) oleh aktifitas erupsi
secara eksplosif dari gunung api. Karena mempunyai sifat yang unik, maka
terminologi yang digunakan untuk pemerian batuan ini juga khusus.

II.3.1 Diagenesa Batuan Piroklastik

Batuan piroklastik sangat berbeda teksturnya dengan batuan beku,


apabila batuan beku adalah hasil pembekuan langsung dari magma atau

28
lava, jadi dari fase cair ke fase padat dengan hasil akhir terdiri dari
kumpulan kristal, gelas ataupun campuran dari kedua-duanya. Sedangkan
batuan piroklastik terdiri dari himpunan material lepas-lepas (dan mungkin
menyatu kembali) dari bahan-bahan yang dikeluarkan oleh aktifitas
gunung api, yang berupa material padat berbagai ukuran (dari halus
sampai sangat kasar, bahkan dapat mencapai ukuran bongkah). Oleh
karena itu klasifikasinya didasarkan atas ukuran butir maupun jenis
butirannya.

Pengamatan petrografi dari batuan piroklastik ini sangat terbatas,


oleh karena itu sangat di anjurkan, untuk mempelajari dengan baik dari
kelompok batuan piroklastik ini harus dilakukan pengamatan di lapangan,
karena keterbatasan yang dimiliki bila hanya dilakukan pengamatan
mikroskopi saja.

Contoh dari batuan piroklastik yaitu :

Tuff, Pumis, dan Obsidian

II.3.2 Deskripsi Batuan Piroklastik

1. Pumice

• Warna : abu-abu
• Kristalinitas: holohyalin

29
• Porositas : baik
• Komposisi Mineral
- Glass 100%
• Kegunaan : sebagai bahan industri dan peralatan rumah tangga

2. Obsidian

• Warna : hitam
• Kristalinitas: holokristalin
• Porositas : buruk
• Komposisi mineral
- Glass 100%
• Kegunaan : sebagai bahan industri dan ilmu pengetahuan

3. Tuff

• Warna : cokelat
• Kristalinitas: Holohyalin
• Porositas : Baik
• Komposisi Mineral

30
- Glass 100%
Kegunaan : sebagai bahan baku industri dan ilmu pengetahuan

II. 4 Batuan Sedimen

Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material


hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas
kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada
permukaan bumi yang kemudian mengalami pembatuan.
( Pettjohn, 1975 )

Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan
ketebalan antara beberapa centimetersampai beberapa kilometer. Juga
ukuran butirnya dari sangat halus sampai sangat kasar dan beberapa
proses yang penting lagi yang termasuk kedalam batuan sedimen.
Disbanding dengan batuan beku, batuan sedimen hanya merupakan

31
tutupan kecil dari kerak bumi. Batuan sedimen hanya 5% dari seluruh
batuan – batuan yang terdapat dikerak bumi. Dari jumlah 5% ini,batu
lempung adalah 80%, batupasir 5% dan batu gamping kira - kira 80%.
Berdasarka ada tidaknya proses transportasi dari batuan sedimen dapat
dibedakan menjadi 2 macam :
1. Batuan Sedimen Klastik
Yaitu batuan sedimen yang terbentuk berasal dari hancuran batuan lain.
Kemudian tertransportasi dan terdeposisi yang selanjutnya mengalami
diagenesa.

2. Batuan Sedimen Non Klastik


Yaitu batuan sedimen yang tidak mengalami proses transportasi.
Pembentukannya adalah kimiawi dan organis.

Sifat – sifat utama batuan sedimen :


1. Adanya bidang perlapisan yaitu struktur sedimen yang menandakan
adanya proses sedimentasi.
2. Sifat klastik yang menandakan bahwa butir – butir pernah lepas,
terutama pada golongan detritus.
3. Sifat jejak adanya bekas – bekas tanda kehidupan (fosil).
4. Jika bersifat hablur, selalu monomineralik, misalnya : gypsum, kalsit,
dolomite dan rijing.

Volume batuan sedimen dan termasuk batuan metasedimen hanya


mengandung 5% yang diketahui di litofera dengan ketebalan 10 mil di luar
tepian benua, dimana batuan beku metabeku mengandung 95%.
Sementara itu, kenampakan di permukaan bumi, batuan – batuan sedimen
menempati luas bumi sebesar 75%, sedangkan singkapa dari batuan beku
sebesar 25% saja. Batuan sedimen dimulai dari lapisan yang tipis sekali
sampai yang tebal sekali. Ketebalan batuan sedimen antara 0 sampai 13
kilometer, hanya 2,2 kilometer ketebalan yang tersingkap dibagian benua.
Bentuk yang besar lainnya tidak terlihat, setiap singkapan memiliki
ketebalan yang berbeda dan singkapan umum yang terlihat ketebalannya
hanya 1,8 kilometer. Di dasar lautan dipenuhim oleh sedimen dari pantai
ke pantai. Ketebalan dari lapisan itu selalu tidak pasti karena setiap saat
selalu bertambah ketebalannya. Ketebalan yang dimiliki bervariasi dari
yang lebih tipis darim0,2 kilometer sampai lebih dari 3 kilometer,
sedangkan ketebalan rata – rata sekitar 1 kilometer.
Total volume dan massa dari batuan – batuan sedimen di bumi memiliki
perkiraan yang berbeda – beda, termasuk juga jalan untuk mengetahui
jumlah yang tepat. Beberapa ahli dalam bidangnya telah mencoba untuk

32
mengetahui ketebalan rata – rata dari lapisan batuan sedimen di seluruh
muka bumi. Clarke (1924) pertama sekali memperkirakan ketebalan
sedimen di paparan benua adalah 0,5 kilometer. Di dalam cekungan yang
dalam, ketebalan ini lebih tinggi, lapisan tersebut selalu bertambah
ketebalannya dari hasil alterasi dari batuan beku, oksidasi, karonasi dan
hidrasi. Ketebalan tersebut akan bertambah dari hasil rombakan di benua
sehinngga ketebalan akan mencapai 2.200 meter. Volume batuan sedimen
hasil perhitungan dari Clarke adalah 3,7 x 108 kilometer kubik.
( Danang Endarto, 2005 )

TEKSTUR BATUAN SEDIMEN

Tekstur adalah suatu kenampakan yang berhubungan dengan ukuran dan


bentuk butir serta susunannya. Butiran tersusun atau terikat oleh semen
dan masih adanya rongga di antara butirnya. Pembentukannya di kontrol
oleh media dan cara transportasinya. Pembahasan tekstur meliputi :

1.Ukuran Butir (Grain Size)


1.1 Pemilahan ukuran butir didasarkan pada skala Wenworth, 1922

33
2. Pemilahan (Sorting)
Adalah keseragaman dari ukuran besar butir penyusun batuan sedimen,
artinya bila semakin seragam ukurannya dan besar butirnya maka
pemilahan semakin baik. Ada 3 macam pemilahan yaitu :

A. Well sorted : terpilah baik


B. Medium sorted : terpilah sedang
C. Poor sorted : terpilah buruk

3. Kebundaran
Adalah nilai membulat atau meruncingnya butiran dimana sifat ini hanya
bisa di amati pada batuan sedimen klastik kasar. Kebundaran dapat dilihat
dari bentuk batuan yang terdapat dari batuan tersebut. Tentunya terdapat
banyak sekali variasi dari bentuk batuan, akan tetapi untuk mudahnya
dipakai perbandingan sebagai berikut :
-Wellrounded (membundar baik)
Semua permukaan konveks, hamper equidimensional, sferoidal.

34
- Rounded (membundar)
Pada umumnya permukaan – permukaan bundar, ujung – ujung dan tepi –
tepi butiran bundar.
-Subrounded (membundar tanggung)
Permukaan umumnya datar dengan ujung – ujung yang membundar.
-Subangular (menyudut tanggung)
Permukaan umumnya datar dengan ujung – ujung yang tajam.
-Angular (menyudut)
Permukaan konkaf dengan ujungnya yang tajam.

4.Shape
Adalah bentuk daripada butiran itu sendiri dan dapat dibedakan menjadi 4
macam yaitu :
A. Oblate / labular
B. Equent / equiaxial
C. Bladed / traxial
D. Prolate / rod shaped

5.Porositas
Adalah perbandingan seluruh permukaan pori dengan volume dari batuan.

6.Permeabilitas
Permeabilitas sukar ditentukan tetapi dapat dikira – kira melalui porositas.
Salah satu metoda pendekatan untuk mengetahui permeabilitas adalah
dengan menempatkan setetes air pada sekeping yang kering dan
mengamati kecepatan air merembes. Istilah yang biasa dipergunakan
adalah :

- Fair : 1 – 10 md
- Good : 10 – 100 md
- Very good : 100 – 1000 md

7. Matrix
Adalah semacam butir (klastik), tetapi sangat halus sehingga aspek
geometri tak begitu penting, terdapat di antara butiran sebagai massa
dasar.

8. Semen
Adalah bukan butir, tapi material pengisi rongga antar butir, biasanya
dalam bentuk amorf atau kristalin. Bahan – bahan semen yang lazim
adalah :
- Klasit - oksida

35
- Solomit - silika
- Sulfat - Siderit

9. Kemas (fabric)
Di dalam batuan sedimen klastik dikenal 2 macam kemas, yaitu :
A. kemas terbuka : Butiran tidak saling bersentuhan.
B. kemas tertutup : Butiran saling bersentuhan.
( Danang Endarto, 2005 )

Struktur Sedimen

Studi struktur Sedimen paling baik dilakukan di lapangan ( Pettijohn,


1975 ), dapat dikelompokkan menjadi tiga macam struktur, yaitu :

1. Struktur Sedimen Primer


Struktur ini merupakan struktur sedimen yang terbentuk karena proses
sedimentasi dapat merefleksikan mekanisasi pengendapannya. Contohnya
seperti perlapisan, gelembur gelombang, perlapisan silang siur, konvolut,
perlapisan bersusun, dan lain-lain. (Suhartono, 1996 : 47)
Struktur primer adalah struktur yang terbentuk ketika proses pengendapan
dan ketika batuan beku mengalir atau mendingin dan tidak ada singkapan
yang terlihat. Struktur primer ini penting sebagai penentu kedudukan atau
orientasi asal suatu batuan yang tersingkap, terutama dalam batuan
sedimen.
Struktur yang terbentuk sewaktu proses pengendapan sedang berlangsung
termasuk lapisan mendatar (flat bedding), lapisan silang, laminasi, dan
laminasi silang yang mikro (micro-crosslamination), yaitu adanya kesan
riak. (Mohamed, 2007).

2. Struktur Sedimen Sekunder


Struktur yang terbentuk sesudah proses sedimentasi, sebelum atau pada
waktu diagenesa. Juga merefleksikan keadaan lingkungan pengendapan
misalnya keadaan dasar, lereng dan lingkungan organisnya. Antara lain :
beban, rekah kerut, jejak binatang.
3. Struktur Sedimen Organik
Struktur yang terbentuk oleh kegiatan organisme, seperti molusca, cacing
atau binatang lainnya. Antara lain : kerangka, laminasi pertumbuhan.

II.4.1 Batuan Sedimen Klastik

36
II.4.1.1 Diagenesa Batuan Sedimen Klastik

Batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan kembali detritus


atau pecahan batuan asal. Batuan asal dapat berupa batuan beku,
metamorf dan sedimen itu sendiri.Batuan sedimen diendapkan dengan
proses mekanis, terbagi dalam dua golongan besar dan pembagian ini
berdasarkan ukuran besar butirnya. Cara terbentuknya batuan tersebut
berdasarkan proses pengendapan baik yang terbentuk dilingkungan darat
maupun dilingkungan laut.
Batuan yang ukurannya besar seperti breksi dapat terjadi
pengendapan langsung dari ledakan gunungapi dan di endapkan disekitar
gunung tersebut dan dapat juga diendapkan dilingkungan sungai dan
batuan batupasir bisa terjadi dilingkungan laut, sungai dan danau. Semua
batuan diatas tersebut termasuk ke dalam golongan detritus kasar.
Sementara itu, golongan detritus halus terdiri dari batuan lanau,
serpih dan batua lempung dan napal. Batuan yang termasuk golongan ini
pada umumnya di endapkan di lingkungan laut dari laut dangkal sampai
laut dalam.
Fragmentasi batuan asal tersebut dimulaiu darin pelapukan mekanis
maupun secara kimiawi, kemudian tererosi dan tertransportasi menuju
suatu cekungan pengendapan.
Setelah pengendapan berlangsung sedimen mengalmi diagenesa
yakni, proses proses – proses yang berlangsung pada temperatur rendah di
dalam suatu sedimen, selama dan sesudah litifikasi. Hal ini merupakan
proses yang mengubah suatu sedimen menjadi batuan keras.

Proses diagenesa antara lain :


A. Kompaksi Sedimen
Yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan
dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan
hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.

B. Sementasi
Yaitu turunnya material – material di ruang antar butir sedimen dan secara
kimiawi mengikat butir – butir sedimen dengan yang lain. Sementasi makin
efektif bila derajat kelurusan larutan pada ruang butir makin besar.

C. Rekristalisasi
Yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang
berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atu
sebelumnya. Rekristalisasi sangat umum terjadi pada pembentukan

37
batuan karbonat.

D. Autiqenesis
Yaitu terbentuknya mineral baru di lingkungan diagenesa, sehingga
adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dlam suatu sedimen.
Mineral autigenik ini yang umum diketahui sebagai berikut : karbonat,
silica, klorita, gypsum dll.

E. Metasomatisme
Yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa
pengurangan volume asal.

II.4.1.2 Deskripsi Batuan Sedimen Klastik

1. Shalestone

• Warna : cokelat tua


• Ukuran butir : Lempung (1/256 mm)
• Bentuk butir : subrounded
• Hubungan antar butir : matriks suported
• Porositas : poor
• Fragmen : kristal
• Matriks : mineral lempung
• Semen : lempung

2. Sandstone

38
• Warna : cokelat
• Ukuran butir : medium (0,25 – 1 mm)
• Bentuk butir : subrounded
• Kemas : matriks grain suported
• Pemilahan : well sorted
• Porositas : baik, namun permeabilitas buruk
• Fragmen : tdk ada
• Matriks : mineral lempung
• Semen : silica

3. Kalsilutite

• Warna : abu-abu
• Ukuran butir : lempung (1/256 mm)
• Bentuk butir : -
• Kemas : matriks suported
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : kristal
• Matriks : mineral lempung
• Semen : carbonate

4. Breksi Konglomerate

39
• Warna : cokelat
• Ukuran butir : kerakal
• Bentuk butir : sub angular
• Kemas : matriks suported
• Pemilahan : medium sorted
• Porositas : poor
• Fragmen : kristal
• Matriks : mineral lempung
• Semen : oksidasi

II.4.2 Batuan Sedimen Non Klastik

II.4.2.1 Diagenesa Batuan Sedimen Non Klastik

Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi kimia atau bisa juga dari
kegiatan organisme. Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi
langsung atau reaksi organik.
Menurut R.P. Koesoemadinata, 1980 batuan sedimen dibedakan menjadi
enam golongan yaitu :
A. Golongan Detritus Kasar
Batuan sedimen diendapkan dengan proses mekanis. Termasuk dalam
golongan ini antara lain adalah breksi, konglomerat dan batupasir.
Lingkungan tempat pengendapan batuan ini di lingkungan sungai dan
danau atau laut.

B. Golongan Detritus Halus


Batuan yang termasuk kedalam golongan ini diendapkan di lingkungan
laut dangkal sampai laut dalam. Yang termasuk ked ala golongan ini
adalah batu lanau, serpih, batu lempung dan Nepal.

C. Golongan Karbonat
Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan cangkang moluska, algae
dan foraminifera. Atau oleh proses pengendapan yang merupakan

40
rombakan dari batuan yang terbentuk lebih dahulu dan di endpkan disuatu
tempat. Proses pertama biasa terjadi di lingkungan laut litoras sampai
neritik, sedangkan proses kedua di endapkan pada lingkungan laut neritik
sampai bahtial. Jenis batuan karbonat ini banyak sekali macamnya
tergantung pada material penyusunnya.

D. Golongan Silika
Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan antara pross organik dan
kimiawi untuk lebih menyempurnakannya. Termasuk golongan ini rijang
(chert), radiolarian dan tanah diatom. Batuan golongan ini tersebarnya
hanya sedikit dan terbatas sekali.

E. Golongan Evaporit
Proses terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang memiliki larutan
kimia yang cukup pekat. Pada umumnya batuan ini terbentuk di
lingkungan danau atau laut yang tertutup, sehingga sangat
memungkinkan terjadi pengayaan unsur – unsur tertentu. Dan faktor yang
penting juga adalah tingginya penguapan maka akan terbentuk suatu
endapan dari larutan tersebut. Batuan – batuan yang termasuk kedalam
batuan ini adalah gip, anhidrit, batu garam.

F. Golongan Batubara
Batuan sedimen ini terbentuk dari unsur – unsur organik yaitu dari tumbuh
– tumbuhan. Dimana sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat
tertimbun oleh suatu lapisan yang tebsl di atasnya sehingga tidak akan
memungkinkan terjadinya pelapukan. Lingkungan terbentuknya batubara
adalah khusus sekali, ia harus memiliki banyak sekali tumbuhan sehingga
kalau timbunan itu mati tertumpuk menjadi satu di tempat tersebut.
( Danang Endarto, 2005 )

II.4.2.2 Deskripsi Batuan Sedimen Non Klastik

1. Gampingan terumbu

• Warna : cokelat

41
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : -
• Matriks :-
• Semen :-

2. Chert

• Warna : abu-abu
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : -
• Matriks :-
• Semen :-

3. Radiolarit

• Warna : cokelat
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : -

42
• Matriks :-
• Semen :-

4. Antrasit

• Warna : hitam
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : -
• Matriks :-
• Semen :-

5. Gamping fosilan

• Warna : cokelat
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : fosil (klastik)
• Matriks : pasir kasar
• Semen : karbonat

43
II.5 Batuan Karbonat

Batuan karbonat adalah batuan sedimen dengan komposisi yang


dominan (> 50 %) terdiri dari mineral – mineral atau garam – garam
karbonat, yang dalam prakteknya secara umum meliputi batugamping dan
dolomit.
Batuan karbonat adalah batuan sedimen dengan tekstur yang beraneka
ragam, struktur serta fosil. Hal tersebut dapat memberikan informasi yang
penting mengenai lingkungan laut purba, kondisi paleoekologi serta
evolusi bentuk dari organisme laut.

II.5.1 Diagenesa Batuan Karbonat

Proses pembentukannya dapat terjadi secara insitu berasal dari


larutan yang mengalami proses kimia maupun biokimia dimana organisme
turut berperan, dapat terjadi dari butiran rombakan yang mengalami
transportasi secara mekanik dan diendapkan di tempat lain.
Seluruh proses tersebut berlangsung pada lingkungan air laut, jadi praktis
bebas dan detritus asal darat.

Batugamping klastik adalah batugamping yang terbentuk dari


pengendapan kembali detritus batugamping asal.
Contoh : Kalsirudit : butiran berukuran rudit (granule)
Kalkarenit : butiran berukuran arenit (sand)
Kalsilutit : butiran berukuran lutit (clay)

Batugamping non klastik adalah batugamping yang terbentuk dari


proses-proses kimiawi maupun organis. Umumnya bersifat monomineral.
Dapat dibedakan :
• Hasil biokimia : bioherm, biostrom
• Hasil larutan kimia : travertin, tufa
• Hasil replacement : batugamping fosfat, batugamping dolomit,
batugamping silikat dan lain-lain.

a. Tekstur Batuan Karbonat


Dewasa ini tekstur batuan karbonat lebih dipentingkan pada susunan
mineralogi. Tekstur ini berhubungan dengan sifat reservoir dalam bentuk

44
minyak dan juga dari segi sedimentasi.

1) Besar Butir
Sering ukuran tersendiri, tetapi hal ini tidak dianjurkan. Lebih baik
dipergunakan skala
Wentworth seperti dianjurkan oleh Leighton dan Pendexter (1962).
Mulai 0,0625 mm ke bawah maka tipe butir dan juga penelitian di bawah
mikroskop menjadi mikrit (micrite) atau berupa lumpur (mud) atau berbutir
halus (aphanitik). Secara makroskopis kurang dari 1 mm, tipe butir sudah
sukar ditentukan sehingga istilh grain atau klas dapat dipakai.

2) Bentuk Butir
Bentuk butir juga penting dalam mempelajari gamping terutama dalam
memperlihatkan energi di lingkungan pengendapan.
Dalam bioklast, derajat dari abrasi dan peristilahan seperti pada detritus
dipergunakan untuk fragmen-fragmen pada umumnya. Bioklast dapat
dibedakan menjadi cangkang – cangkang yang utuh atau fragmen
kerangkan yang utuh atau bekas pecahan jelas dan yang kedua yang telah
terabrasi atau bundar. Non fragmen, istilah kebundaran seperti diartikan
oleh abrasi atau transport yang jauh. Dan bentuk-bentuk yang lebih cocok
ialah spherudal dan ovoid. Di antara kerangka atau butir sering diisi oleh
matriks atau semen.

3) Semen
Biasanya terdiri dari hablur-hablur kalsit yang jelas atau disebut juga spari
kalsit (spray calcite) atau spar. Semen dapat di amati di bawah mikroskop
dan semen ini terjadi pada waktu diagenesa pengisian rongga-rongga oleh
larutan yang mengendapkan kalsit sebagai hablur yang jelas. Kadang-
kadang sukar untuk membedakannya denga kalsit sebagai hasil
rekristalisasi yang biasanya lebih halus da disebut mikrospar.

4) Matrik
Matrik adalah butir-butir karbonat yang mengisi rongga-rongga dan
terbentuk pada waktu sedimentasi. Biasanya halus sekali dari bentuk-
bentuk kristal tidak dapat di identifikasi, hampir opak di bawah mikroskop.
Hasil dari matrik ini dapat berupa :
a) Pengendapan langsung sebagai jarum (aragonit) secara kimiawi /
biokimiawi, yang kemudian berubah menjadi kalsit.
b) Merupakan hasil abrasi, gampimg yang telah dibentuk misalnya koral,
alga dan sebagainya dierosi dan abrasi kembali oleh pukulan-pukulan
gelombang dan merupakan tepung kalsit. Tepung kalsit ini membentuk
lumpur apu, dan diendapkan terutama di daerah-daerah yang tenang.

45
b. Struktur Batuan Karbonat
Pemeriannya hampir sama denga pemerian batuan sedimen klastik.

c. Komposisi Batuan Karbonat


Pada komponen batuan karbonat juga terdapat pemerian fragmen, matrik,
semen, hanya berbeda istilahnya saja, komposisi meliputi allochem.
Allochem merupakan fragmen yang tersusun oleh kerangka atau butir-
butir klastik dari hasil abrasi batugamping yang sebelumnya ada.
Macam-macam Allochem :
1) Kerangka Organisme (skeletal) : merupakan fragmen yang terdiri atas
cangkang – cangkang binatang atau kerangka hasil pertumbuhan.
2) Interclast : merupakan fragmen yang terdiri atas butiran-butiran dari
hasil abrasi batugamping yang sebelumnya telah ada.
3) Pisolit : merupakan butiran – butiran colit denga ukuran lebih besar dari
2 mm.
4) Pellet : merupakan fragmen yang mempunyai colit tetapi tidak
menunjukkan adanya struktur konsentris.

II.5.2 Deskripsi Batuan Karbonat

1. Gamping Bioklastik

• Warna : cokelat
• Tekstur : wackestone
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : fosil
• Matriks : mikrit
• Semen : mud karbonat

46
2. Dolomit

• Warna : salem
• Tekstur : boundstone
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : fosil
• Matriks : mikrit
• Semen : mud karbonat

3. Gamping Fosilan

• Warna : cokelat
• Tekstur : packstone
• Ukuran butir : 4 – 64 mm
• Bentuk butir : sub angular
• Kemas : grain suported
• Pemilahan : poor suported
• Porositas : poor
• Fragmen : fosil (klastik)
• Matriks : mikrit

47
• Semen : mud karbonat

4. Gamping Terumbu

• Warna : cokelat
• Tekstur : boundstone
• Ukuran butir : -
• Bentuk butir : -
• Kemas :-
• Pemilahan : -
• Porositas : poor
• Fragmen : -
• Matriks :-
• Semen :-

48
II.6 Batuan Metamorf

Siklus batuan menunjukkan kemungkinan batuan untuk berubah


bentuk. Batuan yang terkubur sangat dalam mengalami perubahan
tekanan dan temperatur. Jika mencapai suhu tertentu, batuan tersebut
akan melebur menjadi magma. Namun, saat belum mencapai titik
peleburan kembali menjadi magma, apa yang terjadi pada batuan
tersebut? Batuan tersebut berubah menjadi batuan metamorf.

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari


proses metamorfosa pada batuan yang sudah ada karena perubahan
temperatur(T), tekanan (P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara
bersamaan. Batuan metamorf diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas atas
dasar derajat metamorfosanya, yaitu:

• Batuan metamorfosa derajat rendah;


• Batuan metamorfosa derjat menengah, dan
• Batuan metamorf derajat tinggi.

II.6.1 Diagenesa Batuan Metamorf

Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami proses


metamorfosis. Proses metamorfosis terjadi hanya di dalam Bumi. Proses
tersebut mengubah tekstur asal batuan, susunan mineral batuan, atau
keduanya. Proses ini terjadi dalam solid state, artinya, batuan tersebut
tidak melebur. Bayangkan sebuah roti yang berubah menjadi roti bakar.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa fluida – terutama air –
memiliki peranan penting dalam proses metamorfosis.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK BATUAN


METAMORF

1. Komposisi Mineral Batuan Asal

2. Temperatur dan Tekanan Selama Metamorfosis

3. Pengaruh Gaya Tektonik

49
4. Pengaruh Fluida

KLASIFIKASI BATUAN METAMORF

DASAR KLASIFIKASI BATUAN METAMORF

Klasifikasi batuan metamorf erdasarkan :


1. tekstur
2. struktur
3. komposisi mineral

Secara umum komposisi batuan metamorf dibagi menjadi 2, yaitu ;


- berfoliasi
- tak berfoliasi

Batuan metamorf diklasifikasikan berdasakan ada atau tidaknya foliasi.


Foliasi adalah struktur planar pada batuan metamorf yang disebabkan oleh
pengaruh tekanan diferensial saat proses metamorfosis.

JENIS-JENIS METAMORFISME

Metamorfisme Kontak/Termal

Metamorfisme ini faktor dominannya ialah temperatur tinggi. Tekanan


confining (tekanan yang pengaruhnya sama besar ke semua permukaan
benda) juga berpengaruh, namun tidak signifikan. Kebanyakan terjadi < 10
km di bawah permukaan Bumi. Metemorfisme kontak terjadi pada batuan
intrusi jika ada magma yang mengintrusi batuan tersebut. Prosesnya
menghasilkan efek yang dikenal dengan sebutan baking effect. Zona
kontak ini (disebut aureole) tidak terlalu luas, hanya sekitar 1 – 100 meter.
Karena tekanan diferensial (tekanan yang pengaruhnya tidak sama besar
ke semua permukaan benda) juga tidak terlalu signifikan, batuan
metamorf yang terbentuk biasanya tidak terfoliasi.

Metamorfisme Regional/Dinamotermal

Metamorfisme ini terjadi pada kedalaman yang signifikan yakni > 5 km.
Batuan jenis ini merupakan yang paling banyak tersingkap di permukaan.
Biasanya pada dasar pegunungan yang bagian atasnya tererosi. Batuan
dari proses ini kebanyakan terfoliasi, menandakan tingginya tingkat

50
tekanan diferensial (akibat gaya tekonik). Temperatur saat terjadi proses
ini bervariasi, tergantung oleh kedalaman dan kehadiran badan magma.
Kehadiran mineral indeks dapat menentukan tingkat tekanan dan
temperatur proses rekristalisasi. Contohnya: schisthijau dan batuschist
yang mengandung mineral klorit, aktinolit, dan plagioklas kaya sodium,
terbentuk pada P & T lebih rendah; sedangkan amphibolit yang
mengandung hornblende, plagioklas feldspar, dan terkadang garnet,
terbentuk pada P & T lebih tinggi.

Metamorfosis regional
Terjadi karena perubahan temperature dan tekanan bersama-sama.
Meliputi daerah yang luas, biasa dijumpai didaerah tektonik, misal
pembentukan pegunungan ‘zona tunjam’
PENGENALAN BATUAN METAMORF
1. Sifat kristal atau hablur
2. Adanya mineral-mineral khas metamorf
3. terdapat struktur foliasi pada kebanyakan batuan metamorf.

Penamaan Batuan Metamorf

Penamaan batuan metamorf didasarkan atas tekstur, struktur dan


komposisi mineral yang menyusun batuan tersebut. Adapun tekstur
batuan metamorf terdiri dari: Bentuk butir granoblatik (terdiri dari mineral-
mineral granular), lepidoblastik (terdiri dari mineral-mineral pipih), dan
nematoblastik (terdiri dari mineral-mineral orthorombik), sedangkan
teksturnya ada foliasi, dan non foliasi.

Tekstur foliasi (tekstur batuan metamorf yang memperlihatkan adanya


orientasi dari mineralnya). Struktur batuan metamorf dapat terdiri dari
struktur schistose (struktur batuan metamorf yang memperlihatkan
perselingan orientasi mineral pipih dan mineral granular / nematoblastik),
gneistose (struktur batuan metamorf yang memperlihatkan hubungan dari
orientasi mineral pipih dan mineral nematoblastik/granular yang saling
berpotongan/tidak menerus), hornfelsic (struktur batuan metamorf yang
hanya tidak memperlihatkan foliasi).

Derajat Metamorfosa

Derajat metamorfosa adalah suatu tingkatan metamorfosa yang


didasarkan atas temperatur (T) atau tekanan (P) atau keduanya T dan P.

51
Tabel dibawah ini adalah tingkatan batuan metamorf berdasarkan derajat
metamorfosa:

Tabel dibawah ini adalah nama-nama batuan metamorf, tekstur batuan,


derajat metamorfosa, serta batuan asal.

Struktur Batuan Metamorf

Struktur batuan ini terbagi menjadi dua yaitu :

a. Struktur Foliasi

52
Struktur foliasi merupakan struktur yang memperlihatkan adanya suatu
penjajaran mineral-mineral penyusun batuan metamorf. Struktur ini terdiri
atas :

- Struktur Slatycleavage

- Struktur Gneissic

- Struktur Phylitic

- Struktur Schistosity

b. Struktur Non Foliasi

Struktur non foliasi merupakan struktur yang tidak memperlihatkan


adanya penjajaran mineral penyusun batuan metamorf. Struktur ini terdiri
atas :

- Struktur Hornfelsik

- Struktur Milonitik

- Struktur Kataklastik

- Struktur Flaser

- Struktur Pilonitik

- Struktur Augen

- Struktur Granulosa

- Struktur Liniasi

II.6.1 Batuan Metamorf Foliasi

Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut tipe foliasinya. Makin jelas foliasinya,
makin tinggi derajat metamorfosisnya (menandakan makin tingginya
tekanan/temperatur).

53
Derajat Struktur Nama Batuan Mineral Karakter Khas
metamorfos Penciri
is
Makin Slaty Slate/Batusab Lempung, Butiran sangat halus.
rendah ak silika Kilap earthy. Mudah
melembar membelah menjadi
lembaran tipis datar.
Slaty – Phyllite Mika Butiran halus. Kilap
Schistos sutra. Membelah
e mengikuti permukaan
bergelombang.
Schistos Schist Biotit, Berkomposisi mineral
e amfibol melembar dan
muskovit memanjang dengan
susunan mendatar.
Variasi mineral yang
luas.
Gneissic Gneiss Feldspar, Mineral gelap dan
kuarsa, terang terpisah dan
amfibol, membentuk perlapisan
biotit atau lenses. Perlapisan
mungkin berlipat.
Lapisan gelap: biotit,
hornblende; lapisan
terang: felspar, kuarsa

II.6.1.1 Diagenesa Batuan Metamorf Foliasi

Berasal dari foliatus atau berdaun yaitu orientasi kesejajaran mineral


penyusun batuan metamirf, tetapi harus dibedakan dengan orientasi
perlapisan batuan sediment, sama sekalai tidak ada hubungan dengan
sifat perlapisan batuan sediment.

Berdasarkan kenampakan
Batuan asal pembentukan metamorf dibagi menjadi 2 yaitu ;
1. kristaloblastik
2. palimset / sisa / relic
• Kristaloblastik
bila tekstur batuan asal tak kelihatan lagi digunakan istilah blastik
kemudaian kita lihat fabriknya. Berdasarkan sifat butir / kristal dan
hubungannya dengan yang lain dibagi :

54
a. homoblastik : terdiri atasa satuan tekstur saja
b. heteroblastik: terdiri lebih dari satu tekstur. Misal : lepidoblastik dan
granoblastik
Jenis Tekstur :
- lepidoblastik: sebagian mineralnya berbentuk pipih
- nematoblastik : sebagian mineralnya berbentuk prismatic
- graniblastik : sebagian mineralnya granular / equidimensional
- porfiroblastik :seperti batuan porfiritik dalam batuan beku.
Bentuk tekstur :
- ididoblastik : bila bagian besar minerlnya berbentuk euhedral
- hipidioblastik : sebagian besar mineralnya berbentuk subhedral
- xenoblastik : sebagian mineralnya berbentuk anhedral

• Palimset/ Sisa

Tekstur asli dari batuan asal masih sangat terlihat / tersisa,


digunakan awalan BLASTO untuk penamaannya.
- Blasto Ofitik ; bila batuan asal mempunyai tekstur ofitik
- Blasto porifik : mempunyai tekstur porifik
- Blasto psefitik ; bila batuan asal batuan sediment klastik berubaha
menjadi pebble.
- Blasto psamatik : batuan asal sediment berukuran pasir
- Blasto pelitik : batuan sediment klastik berukuran lempung.

Peraga batuan metamorf yang tersedia untuk praktikum sudah tidak dapat
lagi diamati tekstur dan batuan asalnya, termasuk kristaloblastik.
II.6.1.2 Deskripsi Batuan Metamorf Foliasi

1. Hornblende Schist

• Warna : Hitam
• Struktur : Schistose
• Tekstur : heteroblastik
• Komposisi Mineral

55
-Lepidioblastik : mika (mengkilap)
-Nematoblastik: hornblende
-Granoblastik : mineral quartz
Jenis Metamorfosis : Regional
Bentuk kristal : hipidioblastik

2. Gneiss

• Warna : abu-abu
• Struktur : Gneissic
• Tekstur : heteroblastik
• Komposisi Mineral
-Lepidioblastik : mika (mengkilap)
-Nematoblastik: hornblende, pyroxene perismatik panjang
-Granoblastik : mineral quartz (granular)
Jenis Metamorfosis : Regional
Bentuk kristal : hipidioblastik

3. Slate

• Warna : Hitam
• Struktur : Slaty
• Tekstur : homoblastik
• Komposisi Mineral
-Lepidioblastik : mika (mengkilap)

56
Jenis Metamorfosis : Regional
Bentuk kristal : hipidioblastik

4. Phyllite

• Warna : Hitam
• Struktur : phyllite
• Tekstur : homoblastik
• Komposisi Mineral
-Lepidioblastik : mineralny berbentuk pipih, yaitu mika,namun telah
lapuk
Jenis Metamorfosis : Regional
Bentuk kristal : xenoblastik

II.6.2 Batuan Metamorf Non Foliasi

Kelas ini diklasifikasikan lagi menurut komposisi mineralnya.

Marmer terdiri dari butiran kalsit berukuran kasar. Jika batuan asalnya
adalah dolomit, namanya menjadi marmer dolomit.

Kuarsit terdiri dari butiran kuarsa yang terlaskan bersama dan terikat kuat
pada temperatur tinggi.

Hornfels berukuran butir sangat halus. Hornfels mika berasal dari serpih
dan hornfels amphibole berasal dari basalt.

II.6.2.1 Diagenesa Batuan Metamorf Non Foliasi

57
Merupakan batuan metamorf yang tidak memperlihatkan adanya
penjajaran mineral penyusun batuan metamorf.

Struktur Batuan Metamorf Non Foliasi ini terdiri atas :

- Struktur Hornfelsik

- Struktur Milonitik

- Struktur Kataklastik

- Struktur Flaser

Tekstur Batuan Metamorf Non Foliasi

- Granulose : terdiri atas mineral berbentuk butir, berukuran relatif sama


(equidimensional)

- Hornfelsik : terdiri atas mineral tanpa pensejajaran mineral sedikitpun


atau tidak ada mineral pipih atau prismatik

II.6.2.2 Deskripsi Batuan Beku Metamorf Non Foliasi

1. Marble

• Warna : putih
• Struktur : hornfelsik
• Tekstur : hornfelsik
• Komposisi Mineral
-Quartz
-orthoclas
Jenis Metamorfosis : Kontak
Bentuk kristal : hipidioblastik

58
2. Amphibolite

• Warna : hitam
• Struktur : hornfelsik
• Tekstur : hornfelsik
• Komposisi Mineral
-Olivin
-Pyroxen
-amphibol
Jenis Metamorfosis : Kontak
Bentuk kristal : hipidioblastik

3. Quartzite

• Warna : abu-abu
• Struktur : granulose
• Tekstur : granulose
• Komposisi Mineral

59
-quartz
Jenis Metamorfosis : Kontak
Bentuk kristal : hipidioblastik

4. Hornfels

• Warna : hitam
• Struktur : hornfelsik
• Tekstur : hornfelsik
• Komposisi Mineral
-Olivin
-Hornblende
Jenis Metamorfosis : Kontak
Bentuk kristal : hipidioblastik

60
BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Batuan beku atau sering disebut igneous rocks adalah batuan yang
terbentuk dari satu atau beberapa mineral dan terbentuk akibat
pembekuan dari magma. Berdasarkan teksturnya batuan beku ini bisa
dibedakan lagi menjadi batuan beku plutonik dan vulkanik.

Batuan sedimen atau sering disebut sedimentary rocks adalah


batuan yang terbentuk akibat proses pembatuan atau lithifikasi dari hasil
proses pelapukan dan erosi yang kemudian tertransportasi dan seterusnya
terendapkan. Batuan sediment ini bias digolongkan lagi menjadi beberapa
bagian diantaranya batuan sediment klastik, batuan sediment kimia, dan
batuan sediment organik.
Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang
terbentuk akibat proses perubahan temperature dan/atau tekanan dari
batuan yang telah ada sebelumnya. Akibat bertambahnya temperature
dan/atau tekanan, batuan sebelumnya akan berubah tektur dan
strukturnya sehingga membentuk batuan baru dengan tekstur dan struktur
yang baru pula.

III.2 Pesan dan Kesan

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca,dan berharap


keberadaan laboratorium Petrologi dapat berkembang semakin baik, baik
dari segi fasilitas (kelengkapan batuan dan alat2 penunjangnya) maupun
para asisten laboratorium yang bertugas.

61
DAFTAR PUSTAKA

Noor, D., 2008. “Pengantar Geologi”, Universitas Pakuan, Bogor

www.wikipedia.com

www.google.com

www.galleries.com

www.scribd.com

62