Anda di halaman 1dari 8

SAK ETAP (Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa

Akuntabilitas Publik)
SAK ETAP adalah Standard akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik. ETAP yaitu Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan serta
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal. Contoh
pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha,
kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
SAK ETAP menggunakan acuan IFRS for Small Medium Enterprises (SME) yang
lebih sederhana antara lain:
(1) Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan.
(2) Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode ekuitas.
(3) Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.
(4) Laporan keuangan sesuai SAK ETPA menyajikan informasi mengenai posisi keuangan,
kinerja, dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna luas.
SAK-ETAP diterbitkan pada tahun 2009 dan berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat
diterapkan pada 1 Januari 2010. SAK ini diterapkan secara retrospektif namun jika tidak
praktis dapat diterapkan secara prospektif yang berarti mengakui semua asset dan kewajiban
sesuai SAK ETAP juga tidak mengakui asset dan kewajiban jika tidak diizinkan oleh SAK-
ETAP, selain itu Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama
menjadi pos-pos sesuai SAK-ETAP juga menerapkan pengukuran asset dan kewajiban yang
diakui SAK ETAP.
Manfaat SAK ETAP
Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil, menengah, mampu untuk
menyusun laporan keuangannya sendiri, dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga
dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana (misalnya dari Bank)
untuk pengembangan usaha. Lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK IFRS sehingga
lebih mudah dalam implementasinya. Tetap memberikan informasi yang handal dalam
penyajian laporan keuangan. Adopsi SAK berbasis IFRS diharapkan:
(1) akan meningkatkan daya banding laporan keuangan;
(2) meningkatkan kualitas informasi, khususnya di pasar modal internasional;
(3) mengurangi hambatan asrus modal internasional karena interpertasi laporan keuangan
yang sama dan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan;
(4) menurunkan biaya pelaporan multinational corporation;
(5) menurunkan biaya analisis laporan keuangan bagi analis;
(6) meningkatkan kualitas pelaporan keuangan dan best practices.
IFRS (International Financial Reporting Standard)
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International
Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International
Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional
Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).
Indonesia melakukan adopsi penuh 1 Januari 2012. Pasca Konvergensi PSAK 2012 =
IFRS (kecuali IFRS terbaru). Perbedaan IFRS dengan PSAK dijelaskan dalam Standar
bagian depan: (1) Substansi /konseptual; (2) Redaksional; dan (3)Tanggal efektif. Secara
gradual, IFRS sudah diterapkan mengikuti pemberlakuan PSAK yang bersangkutan. Setelah
konvergensi IFRS, PSAK akan berkembang dinamis mengikuti IFRS.
Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan dan laporan keuangan
interim perusahaan untuk periode-periode yang dimaksud dalam laporan keuangan tahunan,
mengandung informasi berkualitas tinggi yang:
1. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode yang
disajikan.
2. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
3. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.
Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi :
1. Definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan.
Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu
harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya.
2. Pengukuran dan penilaian.
Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik
pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada
tanggal neraca).
3. Pengakuan
Merupakan kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga
elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan.
4. Penyajian dan pengungkapan laporan keuangan
Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana
informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat
disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes)
yang menyertai laporan keuanganglobal yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat
diperbandingkan.
PSAK-IFRS akan diterapkan secara utuh pada tahun 2012. Saat ini masih dalam
proses konvergensi. Proses ini melalui tahap adopsi pada tahun 2008-2010 kemudian tahun
ini memasuki tahap persiapan akhir sebelum tahap implementasi di tahun 2012.Pada PSAK
ini wajib diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas public seperti : Emiten, perusahaan
publik, perbankan, asuransi, dan BUMN. Tujuan dari PSAK ini adalah memberikan
informasi yang relevan bagi user laporan keuangan.
PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan)
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) merupakan pedoman dalam
melakukan praktek akuntansi dimana uraian materi di dalamnya mencakup hampir semua
aspek yang berkaitan dengan akuntansi, yang dalam penyusunannya melibatkan sekumpulan
orang dengan kemampuan dalam bidang akuntansi yang tergabung dalam suatu lembaga
yang dinamakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Dengan kata lain, Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) adalah buku petunjuk bagi pelaku akuntansi yang berisi
pedoman tentang segala hal yang ada hubungannya dengan akuntansi.
Persamaan IFRS dan PSAK
1. Item luar biasa:
Tidak menggunakan istilah tetapi membutuhkan pengungkapan yang terpisah untuk
menjelaskan kinerja dari suatu entitas.
2. Laporan Perubahan Ekuitas:
Pernyataan yang menunjukkan transaksi modal pemilik, pendapatan dan pengeluaran.
Penyajian tersebut berupa penyajian primer.
3. Laporan Arus Kas.
Definisi kas dan setara kas:
Kas dan setara kas dengan jatuh tempo jangka pendek.
4. Perubahan kebijakan akuntansi:
Penyajian kembali yang komparatif dan laba ditahan sebelum tahun pembukuan.
5. Koreksi kesalahan:
Penyajian yang komperatif
6. Perkiraan perubahan akuntansi:
Dilaporkan sebagai laporan pendapatan pada arus periode.
7. Laporan keuangan konsolidasi
Tujuan khusus entitas:
Dimana substansi konsolidasi menunjukkan hubungan pengendalian.
8. Tujuan standar:
Agar laporan keuangan dapat di perbandingkan baik dengan laporan keuangan perusahaan
periode sebelumnya maupun dengan laporan keuangan perusahaan lain.
9. Penerapan Dapat diterapkan di perusahaan laba dan non laba, namun butuh penyesuaian
untuk perusahaan non laba.
Perbedaan Pokok SAK ETAP dengan SAK IFRS
1. PSAK ETAP tidak menggatur pajak tangguhan,
2. PSAK ETAP hanya menggunkan metoda tidak langusng untuk laporan arus kas,
3. PSAK ETAP menggunakan model biaya untuk investasi asosiasi dan menggunakan
metoda ekuitas untuk anak perusahaan,
4. PSAK ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55,
5. PSAK ETAP hanya menggunakan model biaya untuk asset tetap, asset tidak berwujud,
dan property investasi dan tidak boleh menggunakan model revaluasi.
SAK ETAP adalah bentuk mini dari SAK IFRS dengan (1) terdapat pengurangan opsi dan
pengungkapan; (2) tidak terdapat pengakuan dan pengukuran yang berbeda; (3) targetnya
adalah perusahaan menengah ke atas, termasuk anak dari perusahaan terbuka. IFRS for
SMEs, merupakan bentuk mini dari Full IFRS.
Pada SAK ETAP terdapat pengurangan opsi dan pengungkapan. Tidak terdapat pengakuan
dan pengukuran yang berbeda dengan Full IFRS, kecuali borrowing cost dibebankan
langsung dan tidak dikapitalisasi, dan terdapat pengaturan mengenai ekuitas. Target dari
IFRS for SMEs adalah perusahaan menengah ke atas, termasuk entitas anak dari perusahaan
terbuka.
Rangkuman Perbedaan SAK ETAP dengan SAK Besar (IFRS)
1. SAK ETAP sebagian besar sama dengan SAK 2004.
Semangat sama dan disclosure. Untuk entitas yanfg tidak berakuntabilitas public (tidak
listing.) Untuk tujuan umum pelaporan keuangan bagi pengguna eksternal.
2. Konsep dan Prinsip Pervasif
Conceptual framework sama. Biaya historis dan nilai wajar (LOCOM). Konsep dasar
penyusunan dan pelaporan keuangan terdiri dari (1) Tujuan Laporan Keuangan; (2)
Karakteristik kualitatif Laporan Keuangan; (3) Unsur-Unsur Laporan Keuangan; dan (4)
Konsep Pengakuan dan pengukuran unsur-unsur laporan keuangan. Pengukuran unsur
Laporan Keuangan dengan biaya historis dan nilai wajar. Konsep dasar: (1) penyajian yang
wajar; (2) kepatuhan terhadap SAK ETAP; (3) Kelangsungan Usaha; (4) frekuensi pelaporan;
(5) konsistensi penyajian; (6) informasi komparatif; (7) materialitas dan agregasi; (8) laporan
keuangan lengkap.
3. Penyajian Laporan Keuangan
Penyajian sama dengan PSAK 2004, kecuali tidak ada lagi: (1) asset keuangan; (2) property
investasi yang diukur dengan nilai wajar; (3) asset bilogik yang diukur dengan biaya
perolehan dan nilai wajar; (4) kewajiban berbunga jangka panjang; (5) asset dan kewajiban
pajak tangguhan; (6) kepentingan non pengendalian.
4. Informasi di Laporan Laba Rugi tidak ada lagi item extra ordinary.
5. Ada beberapa penyesuaian seperti dihapusnya PSAK 27 tentang Koperasi.
6. Laporan Arus Kas hanya menggunakan metoda tidak langsung saja dan seluruh transaksi
kas atau tunai harus dilaporkan.
7. Laporan Perubahan Ekuitas sama dengan PSAK kecuali yang terkait pendapatan
komprehensif lain. Laporan Perubahan Ekuitas tidak harus ada bila tidak ada perubahan
ekuitas dari tahun lalu.
8. Catatan atas Laporan Keuangan yang berisi kebijakan akuntansi, estimasi dan kesalahan,
serta bila ada perubahan metoda alasan dan dampak perubahan pada Laporan Keuangan
sebelumnya harus dijelaskan.
9. Laporan Keuangan Konsolidasi dengan menggunakan metoda ekuitas.
10. Kebijakan Akuntansi, Estimasi, dan Kesalahan (dibandingkan dengan SAK 2004):
a) Instrumen Keuangan Dasar: investasi pada efek tertentu.
b) Investasi pada Perusahaan Asosiasi dan Entitas Anak: Entitas Asosiasi dengan metoda
biaya dan Entitas Anak dengan metoda ekuitas.
c) Investasi pada Joint Venture: sama dengan PSAK tetapi hanya metoda biaya yang
dipergunakan.
d) Properti investasi: metoda akuntansi menggunakan model biaya.
e) Persediaan: Penilaian dengan Lifo dan Average dan pencatatan dengan perpetual dan
periodic.
f) Aset Tetap: total harga perolehan.
g) Imbalan kerja: metoda iuran pasti dan imbalan pasti.
h) Aset Tidak Berwujud: sama dengan PSAK 2004, kecuali akibat penggabungan usaha.
Goodwill tidak diatur.
i) Sewa (leasing): tidak diatur, masih penggunakan PSAK 30 (1990).
j) Kewajiban Diestimasi dan Kontijensi: sama dengan PSAK (ETAP Bab 18).
k) Ekuitas: sama dengan PSAK Kecuali untuk Reorganisasi dan Selisih Penilaian
Kembali.
l) Pendapatan: sama dengan PSAK.
m) Biaya Pinjaman: langsung dibebankan.
n) Penurunan Nilai Aset: sama dengan PSAK, penurunan goodwill tidak diatur, dan
penurunan nilai piutang dengan PSAK 31.
o) Imbalan Kerja: sama dengan PSAK kecuali untuk manfaat pasti kecuali untuk metoda
Projected Unit Credit. Iuran Pasti: perusahaan membayar program pension untuk
karyawannya sehingga tidak perlu di present value kan. Imbalan Pasti: perusahaan
mengelolah sendiri dana pension karyawannya, harus ada staf aktuaria.
p) Pajak Penghasilan: menggunakan Tax Paybale Concept dan tidak ada pengakuan dan
pengukuran untuk pajak tangguhan.
q) Mata Uang Pelaporan: sama dengan PSAK. Mata uang fungsional, harus ada pelaporan
bila menggunakan mata uang asing.
r) Peristiwa Setelah Akhir Periode: sama dengan PSAK.
s) Pengungkapan Pihak-Pihak Memunyai Hubungan Istimewa: Sama dengan PSAK7.
t) Aktivitas Khusus: Tidak diatur.
u) PSAK lainnya: tidak diatur.
v) Ketentuan Transisi: Retropespektif dan prospektif yang diterapkan secara prospective
catch-up (dampak ke saldo laba).
w) Tanggal Efektif: Berlaku efektif untuk Laporan Keuangan yang dimulai tanggal 1
Januari 2011, penerapan dini 1 Januari 2010.
Perbandingan IFRS dan SAK
1. Cakupan Pengaturan
IFRS: Desain IFRS diperuntukkan untuk entitas yang bersifat profitoriented dan SME (Small
Medium Enterprise). IFRS belum mengatur standar akuntansi untuk perusahaan berbasis
syariah.
SAK: SAK diperuntukkan untuk Entitas yang bersifat profitoriented, Nirlaba, UKM (Usaha
kecil menengah) yang disebut SAK-ENTAP, dan Perusahaan berbasis syariah.
2. Kerangka Dasar
IFRS: Memungkinkan penilaian aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud menggunakan
nilai wajar. Laporan keuangan harus disajikan dengan basis true and fair (IFRS Framework
par 46).
SAK: Sama seperti IFRS, PSAK memberikan alternatif penggunaan nilai wajar untuk menilai
kembali aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud. Laporan keuangan disajikan dengan basis
fairly stated (Kerangka dasar par 46).
3. Pernyataan kepatuhan akan Standar
IFRS: Entitas harus membuat pernyataan eksplisit tentang kepatuhan akan standar IFRS.
SAK: Entitas tidak harus membuat pernyataan kepatuhan akan SAK
4. Prinsip Ketepatan Waktu (Timeliness)
IFRS: Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan.
SAK: Dianjurkan agar entitas menyajikan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah
tanggal neraca.
5. Basis Standar
IFRS: Menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan transparansi,
akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global.
SAK: Menganut standar akuntansi berbasis aturan.
6. Prinsip Konservatif
IFRS: Tidak lagi mengakui prinsip konservatif, namun diganti dengan prinsip kehati-hatian
(Prudence).
SAK: Masih mengkui prinsip konservatif
Konvergensi SAK ke IFRS
Beberapa alasan kuat yang membuat SAK kita mesti dikonvergensi ke IFRS, yakni :
1. Adanya Globalisasi Bisnis Globalisasi berdampak pada terjadinya internasionalisasi
pasar modal. Hal ini disebabkan oleh adanya perdagangan bebas, munculnya berbagai
MNC, serta didukung dengan adanya teknologi informasi yang canggih. MNC mulai
mencatatkan sahamnya di bursa efek negara asing tempat cabang perusahaan tersebut
didirikan. Perusahaan yang listing di bursa efek asing harus menyusun laporan
keuangan sesuai dengan standar akuntansi negara tersebut sehingga mengharuskan
perusahaan untuk menyusun laporan keuangan ganda. Satu set laporan keuangan
sesuai dengan standar pelaporan keuangan domestik dan satu set laporan keuangan
konsolidasi yang sesuai dengan standar pelaporan keuangan yang lain yang sesuai
dengan standar akuntansi dimana saham tersebut didaftarkan sehingga menimbulkan
biaya yang besar bagi MNC. Dengan mempergunakan sebuah standar yang bersifat
internasional, perusahaan-perusahaan yang ada di negara tersebut akan lebih mudah
untuk melakukan pelaporan dan sudah tentunya akan membuat perusahaan-
perusahaan laiinya untuk lebih tertarik untuk melakukan penanaman modal di negara
tersebut. Konvergensi IFRS ini merupakan salah satu upaya Indonesia untuk
membuka peluang pasar modal internasional. Penerapan IFRS dalam SAK Indonesia
akan memberikan kemudaham pemahaman atas laporan keuangan karena standar
akuntansi yang diberlakukan bersifat internasional.
2. Keanggotaan Indonesia di G20 Indonesia merupakan salah satu negara anggota dari
G20. Pada tanggal 24-25 September 2009, bertempat di Piittsburg, para anggota G20
melakukan suatu pertemuan yang menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa bahwa
otoritas yang mengawasi aturan akuntansi internasional harus meningkatkan standar
global pada Juni 2011 sehingga dapat mengurangi kesenjangan aturan di antara
negara-negara anggota G-20. Untuk itu, negara-negara yang menjadi anggota G20
sepakat untuk melakukan konvergensi ke IFRS.
3. Dorongan dari Lembaga Keuangan Dunia Lembaga-lembaga keuangan dunia seperti
World Bank dan IMF (International Money Fund) dianggap sebagai pihak yang
paling berpengaruh di dalam adopsi IFRS di negara-negara berkembang. Indonesia
merupakan salah satu negara berkembang yang ada di wilayah Asia Tenggara
(www.wikipedia.com). Badan-badan tersebut yang menekan pemerintah negara
berkembang untuk mengadopsi IFRS agar memudahkan mereka untuk
menginterpretasikan laporan keuangan negara tersebut. Indonesia yang terikat di
dalam utang dan perjanjian dengan lembaga tersebut tidak memiliki pilihan lain untuk
tidak mengadopsi IFRS. Karena alasan ini, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk
melakukan adopsi atas IFRS.
Konvergensi IFRS telah sepenuhnya dilakukan di negara kita per 1 Januari 2012 kemarin.
Kita semua berharap semoga dengan konvergensi IFRS ini, perekonomian di negara kita
menjadi semakin maju dan lebih baik dari sebelumnya. Sistem Akuntabilitas yang ada di
negara kita menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya sehingga kepercayaan masyarakat
(publik) akan menjadi lebih baik. Yang terpenting, walaupun nantinya SAK berbasis IFRS
akan dapat menciptakan persaingan pasar bebas dan menarik investor luar lebih banyak ke
negara kita, kita berharap negara kita ini tetap menjadi miliki warga negara Indonesia dan
tidak dijajah oleh investor yang ingin menguasai dan menarik keuntungan yang sebesar-
besarnya dari negara kita dan merugikan masyarakat kita. Konvergensi ini sudah tentunya
akan menjadi PR besar bagi akuntan-akuntan Indonesia untuk dapat menjawab tantangan
dunia. Akuntan Indonesia akan memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga
kekayaan negeri ini agar dapat tetap dimiliki dan dinikmati oleh masyarakat kita sendiri,
sehingga kesejahteraan di negara kita dapat diwujudkan.