Anda di halaman 1dari 15

Jumat, 15 Maret 2013

LAPORAN UJIAN PRAKTIKUM KEJURUAN PEMBUATAN SABUN


TRANSPARAN

LAPORAN UJIAN PRAKTIKUM KEJURUAN
PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN

I. TUJUAN
Dapat membuat sabun transparan sesuai dengan prosedur yang benar.

II. DASAR TEORI
A. Pengertian Sabun
Sabun adalah garam alkali dari asam-asam lemak telah dikenal secara umum oleh
masyarakat karena merupakan keperluan penting di dalam rumah tangga sebagai alat
pembersih dan pencuci.
Kandungan zat-zat yang terdapat pada sabun juga bervariasi sesuai dengan sifat dan
jenis sabun.Zat-zat tersebut dapat menimbulkan efek, baik yang menguntungkan maupun
yang merugikan.
Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak
dan glisrol dalam kondisi basa. Pembuat kondisi basa yang biasanya digunakan adalah NaOH
(natrium/sodium hidroksida) dan KOH (kalium/potasium hidroksida).Asam lemak yang
berikatan dengan natrium atau kalium inilah yang kemudian dinamakan sabun.

B. Proses Pembuatan Sabun
Sabun Transparan adalah sabun yang dibuat dengan teknik khusus dengan
menghilangkan kandungan alkali di dalamnya.Sabun transparan ini lebih unggul daripada
sabun mandi biasa, selain dari tampilannya yang transparan (transparent) yang menawan,
sabun ini sangat lembut di kulit dan dapat melembabkan kulit.
Sabun dibuat dengan reaksi penyabunan sebagai berikut:
Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah reaksi
trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan gliserin. Reaksi
penyabunan dapat ditulis sebagai berikut :

C
3
H
5
(COOR)
3
+ 3 NaOH C
3
H
5
(OH)
3
+ 3 RCOONa

Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama
dan gliserin sebagai produk samping.Gliserin sebagai produk samping juga memiliki nilai
jual.Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan alkali. Sabun dengan berat
molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun
memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih
kecil, melainkan larut dalam bentuk ion.
Faktor lain yang mempengaruhi transparansi sabun adalah kandungan gula, dan
glyserin dalam sabun. Ketika sabun akan dibuat jernih dan bening maka hal yang paling
essensial adalah kualitas gula, dan glyserin. Oleh karena itu pemilihan material
mempertimbangkan dengan warna dan kemurniannya. Parfum berperan penting dalam warna
sabun seperti adanya tincture, balsam dan yang digunakan agar sabun menjadi wangi, adanya
bahan tersebut dapat menjadikan spotting ( bintik hitam ). Apabila sabun sengaja diwarna,
dipilih pewarna yang tahan alkali.Air distilasi adalah air terbaik untuk sabun transparan
glyserin dipilih yang murni.Untuk minyak dan lemak digunakan yang asam lemak bebas
rendah dan warna yang baik. Penambahan glyserin atau gula yang banyak menyebabkan
sabun menjadi lengket dan manis, oleh karena itu mengotori pembungkus. Untuk
memperoleh transparansi sabun berikut ini adalah metode yang umum digunakan :

a. Transparan karena gula.
b. Transparan karena glyserin dan energy.
c. Dimana a dan b digabung dengan menggunakan minyak castor.
d. Transparansi karena asam lemak dalam sabun dan seberapa kali sabun dimill.
Dengan metode pertama, kandungan minyak kelapa sedikitnya adalah 25 %, lemak
yang lain adalah tallow atau lemak apa saja yang dapat menjadikan sabun keras. Sabun
dididihkan dan dimasak seperti biasanya lalu dimasukkan dalam pengaduk untuk dicampur
dalam larutan yang mengandung 10 20 % gula sesuai berat sabun.Gula dilarutkan dalam air
dan larutan dipanasi sampai 60
0
C kemudian perlahan lahan ditambahkan dalam
sabun.Manakala air menguap, sabun jenis tersebut menunjukkan bintik bintik dan menjadi
lengket karena gula menembus permukaan larutan.
Sabun transparan dari kategori yang kedua dapat disaponifikasikan sebagaimana
biasanya dan dibuat dari sabun mandi dasar. Sabun dimasukkan dalam mixer dan dicampur
96 % dengan perbandingan satu bagian dalam dua bagian total asam lemak dalam sabun,
bersama glyserin dengan proporsi yang sama.
Metode yang ketiga minyak castor sendiri digunakan untuk membuat sabun atau lebih
dari sepertiga lemak dapat ditambah utnuk setiap sabun dasar diatas.Jika minyak castor yang
digunakan hanya perlu 2 % atau 3 % gula.
Metode yang terkhir kombinasi dari tallow (lemak) 75 % , minyak kelapa 20% , rosin
jernih 5 %. Selanjutnya dengan proses saponifikasi dan perampungan dengan cara
pemanasan. Sabun selanjutnya dimasukkan dalam ketel berjaket dan diolah sesuai dengan
pemanasan sempurna.
Kebanyakan sabun transparan dibuat dengan cara semi panas, metodenya lebih
sederhana dan mudah. Langkah awalnya adalah memasukkan lemak dan minyak dalam ketel,
dipanasi sampai 60
0
C.Sabun scrap yang sudah dibuat dapat dicairkan dalam lemak yang
panas jika diinginkan. Ditambahkan larutan soda yang sudah dibuat. Masa diaduk sampai
terjadi proses saponifikasi. Setelah itu sabun ditutup dan dibiarkan selama 2 jam atau sampai
pada tengahnya ada tonjolan. Kemudian larutan gula dimasukkan dan akhirnya dan glyserin.
Temperatur dari massa dinaikkan sampai 60
0
C.
Saponifikasi adalah reaksihidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya
NaOH).Sabun terutama mengandung c12 dan c16 selain itu juga mengandung asam
karboksilat.
Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun
padat.Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam
reaksi pembuatan sabun.Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH),
sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali.Selain itu, jenis
minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa
akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan
minyak biji katun.

C. Macam-macam/Jenis Sabun
1. Sabun berdasarkan Jenis dan Fungsi
a. Transparant Soap
Sabuntembus pandang ini tampilannya jernih dan cenderung memiliki kadar yang
ringan. Sabun ini mudah sekali larut karena mempunyai sifat sukar mengering.
b. Castile Soap
Sabun yang memakai nama suatu daerah di Spanyol ini memakai olive oil untuk
formulanya. Sabun ini aman dikonsumsi karena tidak memakai lemak hewani sama sekali.


c. Deodorant Soap
Sabun ini bersifat sangat aktif digunakan untuk menghilang aroma tak sedap pada
bagian tubuh.Tidak dianjurkan digunakan untuk kulit wajah karena memiliki kandungan yang
cukup keras yang dapat menyebabkan kulit teriritasi.
d. Acne Soap
Sabun ini dikhususkan untuk membunuh bakteri-bakteri pada jerawat.Seringkali
sabun jerawat ini mengakibatkan kulit kering Bila pemakaiannya dibarengi dengan
penggunaan produk anti-acne lain maka kulit akan sangat teriritasi, sehingga akan lebih baik
jika Anda memberi pelembab atau clarning lotion setelah menggunakan Acne Soap.
e. Cosmetic Soap atau Bar Cleanser
Sabun ini biasanya dijual di gerai-gerai kecantikan.Harganya jauh lebih mahal dari
sabun-sabun biasa karena di dalamnya terdapat formula khusus seperti pemutih.Cosmetic
soapbiasanya memfokuskan formulanya untuk memberi hasil tertentu, seperti pada whitening
facial soap dan firming facial soap.
f. Superfatted Soap
Sabun ini memiliki kandungan minyak dan lemak lebih banyak sehingga membuat
terasa lembut dan kenyal.Sabun ini sangat cocok digunakan untuk kulit kering karena
dalamnya terdapat kandungan gliserin, petroleurn dan beeswax yang dapat melindungi
mencegah kulit dan iritasi dan jerawat.
g. Oatmeal Soap
Dari hasil penelitian, gandum mempunyai kandungan anti iritasi. Dibandingkan
sabunlain, sabun gandum ini lebih baik dalam menyerap minyak menghaluskan kulit kering
dan sensitif.
h. Natural Soap
Sabun alami ini memiliki formula yang sangat lengkap seperti vitamin, ekstrak buah,
minyak nabati, ekstrak bunga, aloe vera dan essential oil.Cocok untuk semua jenis kulit dan
kemungkinan membahayakan kulit sangat kecil.

2. Sabun Berdasarkan wujudnya
a. Sabun cair,
Sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali.
b. Sabun padat
Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH) Selain itu,
Minyak kelapa akan menghasilkan sabunyang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak
kacang, dan minyak biji katun.

D. Bahan Pembuatan Sabun Transparan
a. Bahan utama
1. VCO
Virgin Coconut Oil atau minyak kelapa murni terbuat dari daging kelapa segar.
Prosesnya semua dilakukan dalam suhu relatif rendah. Daging buah diperas santannya.
Santan ini diproses lebih lanjut melalui pemanasan dengan suhu relatif rendah, fermentasi,
pendinginan, penambahan enzim, tekanan mekanis atau sentrifugasi.

a) Metode Pembuatan VCO
Beberapa metode pembuatan minyak VCO yaitu:
1) Pembuatan minyak VCO dengan metode tradisional
Pembuatan VCO dengan metode ini yaitu dengan cara dipanaskan seperti membuat
minyak kelapa biasa dengan memanaskan suhu diatas 100
0
C (100-110
0
C) yaitu air diuapkan,
minyak dan proteinnya dipanaskan menerus hingga protein berwujud kerak. Kekurangan dari
metode ini yaitu minyak VCO berwarna kuning, kelebihannya tidak dibutuhkan bahan
tambahan.

2) Pembuatan minyak VCO dengan metode pemanasan bertahap.
Tahap awal dalam pembuatan dengan metode ini yaitu pembuatan santan kelapa.
Santan yang diperoleh kemudian didiamkan selama 1,5jam sehingga terjadi pemisahan
santan menjadi 2 lapisan, lapisan atas berupa kanil/krim (kelapa santan), lapisan bawah
berupa skim (air dan protein). Kemudian memanaskan krim dengan suhu 55-70
0
C selama
8jam. Kemudian mengambil minyaknya. Kekurangannya adalah waktunya lama, harus
kontrol suhu dan boros bahan bakar dan(ganti agar dan tdk terulang) tenaga. Kelebihannya
yaitu VCO yang dihasilkan murni dengan rendemen 50%.

3) Pembuatan minyak VCO dengan metode enzimatis
Metode ini menggunakan enzim. Enzim yang digunakan yaitu: papain (daun, getah, &
buah pepaya), bromelin (dari buah nanas), kepiting sungai (dagingnya). Kelebihan dari
metode ini tidak membutuhkan tenaga yang banyak, kekurangannya adalah membutuhkan
waktu yang lama (24 jam).


4) Pembuatan minyak VCO dengan metode sentrifugasi
Tahap awal dalam pembuatan dengan metode ini yaitu pembuatan santan kelapa.
Santan yang diperoleh kemudian didiamkan selama 1,5 jam sehingga terjadi pemisahan
santan menjadi 2 lapisan, lapisan atas berupa kanil/krim (kelapa santan), lapisan bawah
berupa skim (air dan protein). Krim yang didapat dimasukkan kedalam kuvet-kuvet kemudian
ke sentrivius. Menggunakan alat sentrivius karena dapat memecah ikatan lemak karena
kecepatan putarannya cepat (20000 rpm). Kekurangan dari alat ini adalah mahal harganya.

5) Pembuatan minyak VCO dengan metode pengasaman
Tahap awal dalam pembuatan dengan metode ini yaitu pembuatan santan kelapa.
Santan yang diperoleh kemudian didiamkan selama 1,5 jam sehingga terjadi pemisahan
santan menjadi 2 lapisan, lapisan atas berupa kanil /krim(kelapa santan), lapisan bawah
berupa skim (air dan protein). Tambahkan asam asetat kedalam krim santan yang telah
dipisahkan. Sehingga terbentuk 3 lapisan yaitu lapisan atas berupa minyak, tengah berupa
blondo dan bawah berupa air. Untuk mendapatkan hasil yang efisien dalam pembuatan
minyak VCO dengan metode ini perlu memperhatikan faktor suhu dan umur daging kelapa.

6) Pembuatan minyak VCO dengan metode pancingan
Tahap awal dalam pembuatan dengan metode ini yaitu pembuatan santan
kelapa.santan yang diperoleh kemudian didiamkan selama 1,5 jam sehingga terjadi
pemisahan santan menjadi 2 lapisan, lapisan atas berupa kanil/krim, lapisan bawah berupa
skim. Setelah dipisahkan antara krim santan dan air/skim, tambahkan minyak pemancing ke
dalam krim santan dengan perbandingan 1:3. Penambahan minyak pancingan ini berfungsi
untuk merusak kestabilan emulsi krim santan, sehingga terbentuk 3 lapisan yaitu lapisan atas
berupa minyak, tengah berupa blondo dan bawah berupa air.

7) Pembuatan minyak VCO dengan metode pendiaman
Pembuatan VCO dengan metode ini, minyak yang dihasilkan kurang efisien dan
kurang banyak, karena proses pembuatannya hanya dilakukan dengan cara didiamkan serta
tidak ada zat atau unsur lain yang membantu dalam proses pembuatan minyak seperti pada
metode pengasaman dan pancingan.
Penambahan zat kimiawi anorganis dan pelarut kimia tidak dipakai serta pemakaian
suhu tinggi berlebihan juga tidak diterapkan. Hasilnya berupa minyak kelapa murni yang
rasanya lembut dan bau khas kelapa yang unik. Apabila beku warnanya putih murni dan
dalam keadaan cair tidak berwarna atau bening.

2. Natrium Hidroksida ( NaOH )
Natrium hidroksida (NaOH) seringkali disebut dengan soda kaustik atau soda api
yang merupakan senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam. NaOH
berbentuk kristal putih dengan sifat cepat menyerap kelembapan. Natrium hidroksida
bereaksi dengan minyak membentuk sabun yang disebut dengan saponifikasi.
b. Bahan Pendukung
1. Asam Stearat
Asam stearat merupakan monokarboksilat berantai panjang (C
18
) yang bersifat jenuh
karena tidak memiliki ikatan rangkap diantara atom karbonnya. Asam stearat dapat berbentuk
cairan atau padatan. Pada proses pembuatan sabun, asam stearat berfungsi untuk
mengeraskan dan menstabilkan busa.
2. Etanol
Etanol (etil alkohol) berbentuk cair, jernih dan tidak berwarna, merupakan senyawa
organik dengan rumus kimia C
2
H
5
OH. Etanol pada proses pembuatan sabun digunakan
sebagai pelarut karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.
3. Gliserin
Gliserin adalah produk samping dari reaksi hidrolisis antara minyak nabati dengan air
untuk menghasilkan asam lemak. Gliserin merupakan humektan sehingga dapat berfungsi
sebagai pelembab pada kulit. Pada kondisi atmosfir sedang ataupun pada kondisi kelembaban
tinggi, gliserin dapat melembabkan kulit dan mudah dibilas. Gliserin berbentuk cairan jernih,
tidak berbau, dan memiliki rasa manis.
4. Natrium Klorida (NaCl)
Natrium klorida (garam) merupakan bahan berbentuk kristal putih, tidak berwarna
dan bersifat higroskopik rendah. Penambahan NaCl selain bertujuan untuk pembusaan sabun,
juga untuk meningkatkan konsentrasi elektrolit agar sesuai dengan penurunan jumlah alkali
pada kahir reaksi sehingga bahan-bahan pembuat sabun tetap seimbang selama proses
pemanasan.
5. Gula Pasir
Gula pasir berbentuk kristal putih. Pada proses pembuatan sabun transparan, gula
pasir berfungsi untuk membantu terbentuknya transparansi pada sabun. Penambahan gula
pasir dapat membantu perkembangan kristal pada sabun.
6. Asam Sitrat
Asam sitrat memiliki bentuk berupa kristal putih. Berfungsi sebagai agen pengelat
(chelating agent) yaitu pengikat ion-ion logam pemicu oksidasi, sehingga mampu mencegah
terjadinya oksidasi pada minyak akibat pemanasan. Asam sitrat juga dapat dimanfaatkan
sebagai pengawet dan pengatur pH.
7. Pewarna
Pewarna ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk menghasilkan produk
sabun yang beraneka warna. Bahan pewarna yang digunakan adalah bahan pewarna untuk
kosmetik grade.
8. Pewangi
Pewangi ditambahkan pada proses pembuatan sabun untuk memberikan efek wangi
pada produk sabun. Pewangi yang sering digunakan dalam pembuatan sabun adalah dalam
bentuk parfum dengan berbagai aroma (buah-buahan, bunga, tanaman herbal dan lain-lain).

E. Standard Kualitas Sabun Transparan
Informasi BB Pascapanen menyatakan bahwa parameter mutu yang dianalisa adalah
kemasaman (pH), karakter kekerasan, kadar asam lemak bebas (free fatty acid/FFA), nilai
ketengikan, kadar air, dan bilangan penyabunan.
Mengenai pH, diketahui sabun transparan komersial memiliki pH 9,34. Dalam
formulasi sabun transaparan, pH terkait jumlah penggunan basa yang menentukan jumlah
penambahan etanol. Semakin banyak basa yang digunakan, akan semakin sedikit etanol yang
dapat ditambahkan sehingga pH tetap tinggi.
Karakter kekerasan sabun transparan harus cukup baik sebagai indikasi masa
pemakaian yang lebih lama. Nilai kekerasan sabun komersial berada dalam rangkaian 0,967
hingga 6,867 kg/cm2. Sedangkan mengenai transparansi, sabun akan semakin jernih bila
etanol yang digunakan semakin murni.

F. Manfaat Sabun Transparan
Sabun adalah surfaktan yang digunakan untuk mencuci dan membersihkan, bekerja
dengan bantuan air.Sedangkan surfaktan merupakan singkatan dari surface active agents,
bahan yang menurunkan tegangan permukaan suatu cairan dan di antaramuka fasa (baik cair-
gas maupun cair-cair) sehingga mempermudah penyebaran dan pemerataan.
Sabun merupakan bahan logam alkali dengan rantai asam monocarboxylic yang
panjang.Larutan alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun bergantung pada jenis sabun
tersebut.Larutan alkali yang biasa yang digunakan pada sabun keras adalah Natrium
Hidroksida (NaOH) dan alkali yang biasa digunakan pada sabun lunak adalah Kalium
Hidroksida (KOH). Sabun berfungsi untuk mengemulsi kotoran-kotoran berupa minyak
ataupun zat pengotor lainnya. Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak
dengan larutan alkali dengan membebaskan gliserol. Lemak minyak yang digunakan dapat
berupa lemak hewani, minyak nabati, lilin, ataupun minyak ikan laut.Pada saat ini teknologi
sabun telah berkembang pesat.Sabun dengan jenis dan bentuk yang bervariasi dapat diperoleh
dengan mudah di pasaran seperti sabun mandi dan sabun cuci, baik untuk pakaian maupun
untuk perkakas rumah tangga, hingga sabun yang digunakan dalam industri.

III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
No Nama Spesifikasi Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Neraca digital
Kompor listrik
Gelas ukur
Gelas ukur
Batang pengaduk
Gelas beker
Gelas beker
Termometer
Gelas arloji
Gelas Beker
Cawon porselinPipet
Tetes
Standar
Standar
25 mL
50 mL
Standar
250 mL
50 mL
Standar
Standar
100 mL
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah



13 Statif & Klem



B. Bahan
No Nama bahan Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
VCO
NaOH30 %
Asam stearat
Etanol
Gula pasir
Gliserin
Pewarna
Pewangi
25 gr
13,75 mL
13,75 gr
22 mL
4 gr
22 mL
2 tetes
4 tetes

IV. RANGKAIAN ALAT










Gambar 1. Proses Pembuatan Sabun








V. LANGKAH KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Menimbang VCO 25 gr, Etanol 22 mL, NaOH 13,75 mL, Gliserin 22 mL, Asam Stearat
13,75 gr, Gula pasir 4 gr, Pewarna dan pewangi.
3. Memanaskan campuran 25 gr VCO dan 13,75 gr asam stearat dalam gelas beker diatas
kompor listrik pada temperatur 60
0
C-65
0
C
4. Memanaskan larutan NaOH 30% sebanyak 13,75 mL dalam gelas beker dan jaga temperatur
tetap 40
0
C.
5. Memasukkan larutan NaOH ke dalam minyak secara perlahan-lahan dan jaga temperature
60
0
C, aduk sampai homogen.
6. Memasukkan etanol, gula dan gliserin pada sabun hasil saponifikasi, aduk dan jaga
temperatur 60
0
C.
7. Menambahkan pewarna 2 etes dan pewangi 4 tetes.
8. Mencetak sabun.
9. Menunggu sampai mengeras.
10. Melakukam uji mutu
a. Transparansi
b. Kekerasan
c. Kelarutan dalam air
d. pH
e. Randemen
Rumus randemen = X 100%








DIAGRAM ALIR PEMBUATAN SABUN TRANSPARAN



T= 60
0
C-65
0
C


Pemanasan 15 menit



T= 40
0
C










VCO+Asam Stearat





Campuran I










Etanol 95%








Gula pasir

















Pewangi






Pewarna






















VI. DATA PERCOBAAN
1. Percobaan 1 2. Percobaan 2
Transparansi : Transparan Transparansi : Transparan
Kekerasan : Keras Kekerasan : Keras
Kelarutan dalam air : Mudah larut Kelarutan dalam air : Mudah larut
pH : 10 pH : 10


VII. PERHITUNGAN







Cetak sabun


















VIII. PEMBAHASAN
Dalam praktik pembuatan sabun transparan ini, ada beberapa hal yang perlu dibahas
diantaranya sebagai berikut:
1. Untuk memperoleh sabun yang baik, suhu larutan pada proses pembuatan pada range 60
65C. jika suhu dibawah 60C sabun yang dihasilkan akan menggumpal.
2. Terjadi penggumpalan pada sabun disebabkan oleh NaOH. Sifat NaOH yang eksoterm
menyebabkan panas berlebih sehingga suhu larutan akan bertambah tinggi, dimana fungsi
NaOH adalah menetralisir asam dan membantu proses pembentukan sabun.
3. Reaksi signifikan yang terjadi adalah :

C
3
H
5
(COOR)
3
+ 3 NaOH 3RCOONa + C
3
H
5
(OH)
3

(minyak/VCO) (soda kaostik) (sabun) (gliserol)
4. Penambahan alkohol, gula pasir dan gliserin harus dilakukan secara berurutan. Sesuai dengan
fungsinya yaitu sebagai solven kemudian pembentuk transparasi dan kristalisasi lalu
melembabkan sabun yang berefek pada kulit.
5. Dari uji mutu yang dilakukan sabun yang saya hasilkan memiliki transparasi kuning jernih
transparan dengan sifat sabun keras dan pH sabun 10, sabun tersebut dapat larut dalam air
dan sabun tersebut bersifat basa. Sabun ini sesuai dengan standar SNI.
6. Sebelum melakukan pencetakan sabun, jika terdapat buih pada larutan, maka buih tidak ikut
tercetak dan tidak mempengaruhi penampilan sabun.

IX. KESIMPULAN
Dari praktikum yang sudah saya lakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam
pembuatan sabun transparan ini dipengaruhi oleh suhu NaOH pencampuran yang homogen
dan pengontrol suhu. Sabun yang saya hasilkan memiliki transparasi kuning jernih transparan
dengan sifat sabun keras dan pH sabun 10, sabun tersebut dapat larut dalam air dan sabun
tersebut bersifat basa.Sabun ini sesuai dengan standar SNI.Randemen sabunI sebesar 73 %
dan randemen sabun ke-II sebesar 87,6 %.












DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2011.Kelapa Indonesia.http://kelapaindonesia2020.wordpress.com

Anonim.2011.Sabun.http://id.wikipedia.org

Anonim.2011.Alkohol.http://id.wikipedia.org

Anonim.2011. Basa. http://id.wikipedia.org

Anonim.2011. Gula. http://id.wikipedia.org

Anonim.2011.Asam Lemak.http://id.wikipedia.org

Nova, Febi.2011.Pengolahan Kelapa. http://febinova.wordpress.com

Anonim.2011.Kelapa.http://id.wikipedia.org

Anonim.2011.Minyak Kelapa.http://id.wikipedia.org

Anonim.2011.Jenis-Jenis Sabun.http://www.artikelkimia.info
http://alfi-maysaroh.blogspot.com/2013/03/laporan-ujian-praktikum-kejuruan.html