Anda di halaman 1dari 11

1

TUGAS TERSTRUKTUR
BIOFARMASETIKA
DIFUSI TEOFILIN









Disusun oleh:

Muntofingah (G1F012024)
Curie Julia Kulzumia (G1F012054)
Sariah Aini Rahmawati (G1F012086)




KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN FARMASI
PURWOKERTO
2014




2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian dan Teori Difusi
Difusi didefinisikan sebagai suatu proes perpindahan massa molekul
suatu zat yang dibawa oleh gerakan molekuler secara acak dan
berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui
suatu batas, misalnya suatu membran polimer, merupakan suatu cara yang
mudah untuk menyelidiki proses difusi. Perjalanan suatu zat melalui suatu
batas bisa terjadi oleh suatu permeasi molekuler sederhana atau oleh
gerakan melalui pori dan lubang (saluran) (Martin, dkk, 1993).
Difusi molekuler atau permeasi melalui media yang tidak berpori
bergantung pada disolusi dari molekul yang menembus dalam keseluruhan
membran, sedang proses kedua menyangkut perjalanan suatu zat melalui
pori suatu membran yang berisi pelarut dan dipengaruhi oleh ukuran relatif
molekul yang menembusnya serta diameter dari pori tersebut.Bergatung
pada ukuran dan bentuk dari molekul yang berdifusi, molekul-molekul itu
bisa melalui pori-pori yang berkelok-kelok yang terbentuk oleh tumpang
tindihnya ujung polimer. Jika transpor melalui saluran tersebut terlalu
besar, zat yang berdifusi bisa larut dalam kandungan polimer dan
menembus lapisan tipis dengan difusi sederhana (Martin, dkk, 1993).
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kecepatan difusi, yaitu :
- Ukuran partikel. Semakin kecil ukuran partikel, semakin cepat partikel
itu akan bergerak, sehingga kecepatan difusi semakin tinggi.
- Ketebalan membran. Semakin tebal membran, semakin lambat
kecepatan difusi.
- Luas suatu area. Semakin besar luas area, semakin cepat kecepatan
difusinya.
- Jarak. Semakin besar jarak antara dua konsentrasi, semakin lambat
kecepatan difusinya.
3

- Suhu. Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk
bergerak dengan lebih cepat. Maka, semakin cepat pula kecepatan
difusinya,
(Mehrer, 2007).

B. Jenis-jenis Difusi
DIFUSI MASA-TUNAK
1. HUKUM FICK I


Ket :
D = koefisien difusi dari penetran ( cm
2
/ detik )
C = konsentrasi (gram / cm
3
)
X = jarak (cm)
2. HUKUM FICK II
Uji kecepatan perubahan konsentrasi difusan pada suatu titik
dalam suatu sistem. Hukum fick II menekankan pada perubahan
konsentrasi dengan berubahnya waktu pada suatu lokasi tertentu, dari
pada difusi massa melalui suatu satuan luas dari barier dalam satuan
waktu dikenal sebagai hukum fick II.
C/t = - j/ x
C/t = konsentrasi difusan dalam volume unsure berubah terhadap
waktu
j/ x = perubahan jarak terhadap arah x
(Martin, dkk, 1993).

C. Proses-proses Difusi
Proses difusi yang kita ketahui terbagi ke dalam 3 jenis yaitu difusi
pada material cair, difusi pada material padat, dan difusi pada material gas
(Mehrer, 2007):


4

1) Difusi cair
Dikatakan difusi cair jika terjadi perpindahan molekul
cairan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya
yaitu ketika kita merendam kedelai dalam air saat pembuatan
tempe. Selama perendaman akan terjadi difusi air dari lingkungan
luar (yang kadar airnya tinggi) ke dalam kedelai (yang kadar
airnya rendah).

2) Difusi padat
Dikatakan difusi padat jika terjadi perpindahan molekul
padatan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya
yaitu ketika kita melakukan perendaman buah dengan larutan gula
dalam pembuatan manisan buah. Selama perendaman selain
terjadi difusi air dari lingkungan luar ke dalam buah juga terjadi
difusi molekul gula (molekul padatan) ke dalam buah dan ini
berarti difusi padatan juga terjadi dalam pembuatan manisan buah
ini. Selama ini batasan antara kapan terjadinya difusi air dengan
difusi padatan masih belum jelas karena prosesnya sering terjadi
bersamaan dan susah untuk dibedakan.

3) Difusi gas
Dikatakan difusi gas jika terjadi perpindahan molekul gas
dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah. Contohnya yaitu
difusi O
2
pada pengemas plastik. Ketika kita menggunakan
pengemas plastik untuk membungkus suatu bahan, maka selama
penyimpanan akan terjadi difusi oksigen dan uap air dari
lingkungan luar ke dalam plastik pengemas. Jumlah oksigen dan
uap air yang dapat masuk ke dalam plastik pengemas bervariasi
tergantung permeabilitas dari plastik pengemas tersebut. Semakin
banyak jumlah oksigen dan uap air yang dapat masuk ke dalam
plastik pengemas berarti kualitas plastik pengemasnya semakin
5

buruk. Disini, difusi oksigen merupakan difusi gas dan difusi uap
air merupakan difusi cair (Mehrer, 2007).
Makin besar perbedan konsentrasi anatara dua daerah, maka
makin tajam pula gradasi konsentrasinya sehingga makin lambat
pula kecepatan difusinya. Apabila partikel suatu zat dapat
bergerak bebas tanpa terhambat oleh gaya tarik, maka dalam
jangka waktu tertentu partikel-partikel itu akan tersebar merata
dalam ruang yang ada. Sampai distribusi merata seperti itu terjadi,
akan terdapat lebih banyak partikel yang bergerak dari daerah
tempat partikel itu lebih pekat ke daerah yang partikelnya kurang
pekat, lalu terjadi yang sebaliknya, dan secara menyeluruh
gerakan partikel ke arah tertentu disebut difusi. Makin besar
perbedaan konsentrasi antara dua daerah, yaitu makin tajam
gradasi konsentrasinya, makin besar kecepatan difusinya (Diana,
2013).












6

BAB II
ISI
A. Proses Difusi Obat
Pada waktu suatu partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul
obat pada permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan
suatu lapisan jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel
obat padat. Lapisan larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi. Dari lapisan
difusi ini, molekul-molekul obat keluar melewati cairan yang melarut dan
berhubungan dengan membrane biologis serta absorbsi terjadi. Jika
molekul-molekul obat terus meninggalkan larutan difusi, molekul-molekul
tersebut diganti dengan obat yang dilarutkan dari permukaan partikel obat
dan proses absorbsi tersebut berlanjut (Adams, 2001).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat,
atau jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh
seperti itu, laju obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada
kesanggupannya menembus pembatas membran (difusi). Tetapi, jika laju
disolusi untuk suatu partikel obat lambat, misalnya mungkin karena
karakteristik zat obat atau bentuk dosis yang diberikan, proses disolusinya
sendiri akan merupakan tahap yang menentukan laju dalam proses
absorbsi. Perlahan-lahan obat yang larut tidak hanya bisa diabsorbsi pada
suatu laju rendah, obat-obat tersebut mungkin tidak seluruhnya diabsorbsi
atau dalam beberapa hal banyak yang tidak diabsorbsi setelah pemberian
oral, karena batasan waktu alamiah bahwa obat bisa tinggal dalam
lambung atau saluran usus halus (Adams, 2001).
Difusi yaitu zat melarut dalam lapisan lemak dari membran sel. Pada
waktu suatu partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul obat pada
permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan suatu lapisan
jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel obat padat.
Lapisan larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi. Dari lapisan difusi ini
molekul-molekul obat keluar melewati cairan yang melarut dan
berhubungan dengan membran biologis serta absorpsi terjadi. Jika
molekul-molekul obat terus meninggalkan lapisan difusi, molekul-molekul
7

tersebut diganti dengan obat yang dilarutkan dari permukaan partikel obat
dan proses tersebut berlanjut. (Ansel, 1989).
Umumnya absorpsi dan distribusi obat terjadi secara difusi pasif.
Mula-mula obat harus berada dalam larutan air pada permukaan membran
sel, kemudian molekul obat akan melintasi membran dengan melarut
dalam lemak membran. Pada proses ini, obat bergerak dari sisi yang
kadarnya lebih tinggi ke sisi lain. Setelah taraf mantap (steady state)
dicapai, kadar obat bentuk non-ion di kedua sisi membran akan sama
(Ansel, 1989).
Karakteristik fisiko-kimia sebagian besar molekul seperti polaritas
dan ukuran molekul merupakan hambatan penembusan transmembran oleh
mekanisme pasif secara filtrasi dan difusi. Mekanisme difusi pasif dalam
tubuh dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Difusi pasif dengan cara melarut pada lemak penyusun membran
Difusi pasif menyangkut senyawa yang larut dalam komponen
penyusun membran. Penembusan terjadi karena adanya perbedaan
konsentrasi atau elektrokimia tanpa memerlukan energi, sehingga
mencapai keseimbangan pada kedua sisi membran. Waktu yang
diperlukan untuk mencapai keseimbangan tersebut mengikuti hukum
difusi Fick.
b. Difusi pasif melalui pori
Semua senyawa yang berukuran cukup kecil dan larut dalam air
dapat melewati kanal membran. Sebagian besar membran (membran
seluler epitel usus halus dan lain-lain) berukuran kecil yaitu 4-7 dan
hanya dapat dilalui oleh senyawa dengan bobot molekul yang kecil
yaitu lebih kecil dari 150 untuk senyawa yang bulat, atau lebih kecil
dari 400 jika senyawanya terdiri atas rantai panjang,
(Syukri, 2002).




8

B. Formulasi Tablet lepas lambat Teofilin
Teofillin 250 mg
EC 20 mg
HPMC 20 mg
PVP 0,4 mg
Avicel 1,44 mg
Mg stearat 0,5% 2,20 mg

Teofilin dan komponen matrik (EC dan HPMC) sesuai dengan
komposisi masingmasing formula), dan avicel kemudian ditambahkan
larutan pengikat PVP 2% b/v, kemudian digranulasi sampai terbentuk
massa granul yang baik. Massa granul basah diayak dengan ayakan no 12
mesh, kemudian dikeringkan dalam alat fluidized bed dryer, suhu 87
O
C,
air flow 99 interval waktu selama 8 menit. Setelah kering granul diayak
denagn ayakan no 14 mesh kemudian ditambahkan Mg stearat dicampur
hingga homogen dalam cube mixer selama 5 menit (Suprapto Dan
Gunawan, 2010).
Dalam formulasi tablet teofillin diatas, fungsi teofillin sebagai zat
aktif obat, EC dan HMPC digunakan sebagai matriks tablet, PVP
digunakan sebagai pengikat tablet, avicel sebagai pembawa obat dan Mg
stearat sebagai agen lubrikan. EC dan HPMC dapat berinteraksi
menurunkan kecepatan pelepasan teofillin. Dosis dalam formulasi diatas
memiliki kecepatan pelepasan mendekati teori dan pola pelepasan teofilin
yang mendekati orde nol (Suprapto dan Gunawan, 2010).
Mekanisme pelepasan teofilin dari tablet mengikuti mekanisme
pelepasan difusi Fick. Mekanisme pelepasan difusi lebih dominan, hal ini
terlihat dari hubungan persen teofilin terdisolusi sebagai fungsi akar waktu
yang lebih linear daripada sebagai fungsi waktu (erosi) (Suprapto Dan
Gunawan, 2010).
Hubungan antara banyaknya obat lepas dan waktu adalah linear
apabila mekanisme pelepasan obat dikontrol oleh erosi matriks dan
hubungan antar banyaknya obat lepas dari matriks dan akar waktu adalah
9

linear apabila mekanisme pelepasan obat itu dikontrol oleh difusi melewati
matriks (Lapidus dan Lordi, 1969).

C. Contoh Difusi Dalam Kehidupan Sehari-hari
Contoh proses difusi dan transport aktif pada kehidupan sehari-hari:
1. Pemberian gula pada cairan teh tawar. Lambat laun cairan menjadi
manis.
2. Uap air dari cerek yang berdifusi dalam udara, dimana pada masing-
masing zat, kecepatan difusi berbeda-beda.
3. Bakteri Escherichia coli yang diletakkan pada media laktosa. Membran
sel bakteri tersebut bersifat impermeabel sehingga tidak dapat dilalui
oleh laktosa. Setelah beberapa menit kemudian bakteri akan
membentuk enzim dari dalam sel yang disebut permease, yang
merupakan suatu protein sel. Enzim permease inilah yang akan
membuatkan jalan bagi laktosa sehingga laktosa ini dapat masuk
melalui membran sel.
4. Perendaman kentang dengan air garam, menyebabkan kentang menjadi
lebih asin.
5. Perendaman tebu kedalam air gula, membuat tebu jauh lebih manis.
(Fadilla, 2012).












10

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Pada waktu suatu partikel obat mengalami disolusi, molekul-molekul
obat pada permukaan mula-mula masuk ke dalam larutan menciptakan suatu
lapisan jenuh obat-larutan yang membungkus permukaan partikel obat padat.
Lapisan larutan ini dikenal sebagai lapisan difusi.
Dalam formulasi tablet teofillin diatas, fungsi teofillin sebagai zat aktif
obat, EC dan HMPC digunakan sebagai matriks tablet, PVP digunakan
sebagai pengikat tablet, avicel sebagai pembawa obat dan Mg stearat sebagai
agen lubrikan. EC dan HMPC dapat berinteraksi dalam penurunan pelepasan
teofilin. Sehingga pelepasan teofilin akan mendekati orde nol. Pada tahap ini
maka mekanisme pelepasan teofilin dari tablet dapat digolongkan dalam
pelepasan difusi Fick.
Mekanisme pelepasan difusi Fick yang dimaksud adalah mekanisme
pelepasan difusi lebih dominan dan hubungan pada persen teofilin terdisolusi
sebagai fungsi akar waktu yang lebih linear daripada fungsi waktu karena
dalam Hukum fick menekankan pada perubahan konsentrasi dengan
berubahnya waktu pada suatu lokasi tertentu.








11

DAFTAR PUSTAKA
Adams, H Richard. 2001. Veterinary Pharmacology and Therapeutics 8
th
edition.
Blackwell Publishing.
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia Press.
Fadilla, intania. 2012. Difusi dan Traansport aktif. http: // intaniafadilla9. Blogsp
ot.com /2012/10/difusi-dan-transport-aktif.html. Diakses pada tanggal 27
September 2014 .
Lapidus, H., and Lordi, N.G. 1969. Drug Release from Compressed Hydrophylic
Matrics. J.Pharm Sci.,1929-1930.
Martin, dkk. 1993. Farmasi Fisika. Edisi Ketiga. Jakarta : UI Press.
Mehrer, Helmut. 2007. Diffusion In Solids. Munster: Springer.
Suprapto dan Gunawan S. 2010. Formulasi Sediaan Tablet Mtrik Sustained
Release Teofilin: Studi Optimasi Pengaruh Tekanan Kompresi Dan Matrik
Etil Selulosa dan HPMC dengan Model Factorial Design. Jurnal
Penelitian Sains & Teknologi, Vol. 11, No. 2, 100 116.
Syukri. Y. 2002. Biofarmasetika. Yogyakarta. UII press
Factors affecting the rate of diffusion across cell membrane. www.coolschool.ca.
http://www.coolschool.ca/lor/BI12/unit4/U04L04.htm. Diakses tanggal 27
September 2014.
Diana.2013. Osmosis, Difusi Dan Imbibisi. http://dianafatihatul.blogspot.com
/2013/02/ osmosis-difusi-dan-imbibisi.html. Diakses pada tanggal 27
September 2014.

Anda mungkin juga menyukai