Anda di halaman 1dari 13

TEORI ATOM & MEKANIKA KUANTUM

Keadaan partikel-partikel penyusun atom (proton, netron, dan elektron) yang berada di dalam atom digambarkan dengan struktur
atom. Kedudukan elektron di sekitar inti atom atau kongurasi elektron di sekitar inti atom berpengaruh terhadap sifat sis dan
kimia atom yang bersangkutan.
Model atom ERNEST RUTHERFORD (1871-1937) tahun 1911 yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti kecil yang
bermuatan positif (tempat konsentrasi seluruh massa atom) dan dikelilingi oleh elektron pada permukaannya. Namun teori ini
tidak dapat menerangkan kestabilan atom. Sewaktu mengelilingi proton, elektron mengalami percepatan sentripetal akibat
pengaruh gaya sentripetal (Gaya Coulomb).
Menurut teori mekanika klasik dari Maxwell, yang menyatakan bahwa partikel bermuatan bergerak maka akan memancarkan
energi. Maka menurut Maxwell bila elektron bergerak mengelilingi inti juga akan memancarkan energi.
Pemancaran energi ini menyebabkan elektron kehilangan energinya, sehingga lintasannya berbentuk spiral dengan jari-jari yang
mengecil, laju elektron semakin lambat dan akhirnya dapat tertarik ke inti atom. Jika hal ini terjadi maka atom akan musnah,
akan tetapi pada kenyataannya atom stabil.
Pada tahun 1913, NIELS BOHR menggunakan teori kuantum untuk menjelaskan spektrum unsur. Berdasarkan pengamatan,
unsur-unsur dapat memancarkan spektrum garis dan tiap unsur mempunyai spektrum yang khas. Menurut Bohr,
Spektrum garis menunjukkan elektron dalam atom hanya dapat beredar pada lintasan-lintasan dengan tingkat energi tertentu.
Pada lintasannya elektron dapat beredar tanpa pemancaran atau penyerapan energi. Oleh karena itu, energi elektron tidak
berubah sehingga lintasannya tetap.
Elektron dapat berpindah dari satu lintasan ke lintasan lain disertai pemancaran atau penyerapan sejumlah energi yang
harganya sama dengan selisih kedua tingkat energi tersebut.
E = Ef Ei
Keterangan:
E = energi yang menyertai perpindahan elektron
Ef = tingkat energi akhir
Ei = tingkat energi awal

Namun teori Bohr ini memiliki kelemahan, yaitu:
o Bohr hanya dapat menjelaskan spektrum gas hidrogen, tidak dapat menjelaskan spektrum dari unsur yang jumlah
elektronnya lebih dari satu.
o Tidak dapat menjelaskan adanya garis-garis halus pada spektrum gas hidrogen.

Kelemahan dari model atom Bohr dapat dijelaskan oleh LOUIS VICTOR DE BROGLIEpada tahun 1924 dengan teori
dualisme partikel gelombang. Menurut de Broglie, pada kondisi tertentu, materi yang bergerak memiliki ciri-ciri gelombang.
h
= -
m.
dimana :
= panjang gelombang (m)
m = massa partikel (kg)
= kecepatan (ms
-1
)
h = tetapan Planck (6,626.10
-34
Js)
Hipotesis tersebut terbukti benar dengan ditemukannya sifat gelombang dari elektron. Elektron mempunyai sifat difraksi, maka
lintasan elektron yang dikemukakan Bohr tidak dibenarkan. Gelombang tidak bergerak melalui suatu garis, melainkan
menyebar pada daerah tertentu.

Pada tahun 1927, WERNER HEISENBERG mengemukakan bahwa posisi atau lokasi suatu elektron dalam atom tidak dapat
ditentukan dengan pasti. Heisenberg berusaha menentukan sifat-sifat subatomik dan variabel yang digunakan untuk menentukan
sifat atom. Sifat ini adalah kedudukan partikel (x) dan momentum (p).
Kesimpulan dari hipotesisnya adalah bahwa pengukuran subatomik selalu terdapat ketidakpastian dan dirumuskan sebagai hasil
kali antara ketidakpastian kedudukan (x) dengan ketidak pastian momentum (p) dan dirumuskan sebagai berikut :
h
x. p =
2
Kemungkinan (kebolehjadian) menemukan elektron pada suatu titik pada jarak tertentu dari intinya disebut sebagai Prinsip
Ketidakpastian Heisenberg. Artinya gerakan lintasan elektron beserta kedudukannya tidak dapat diketahui dengan tepat.

MODEL ATOM MEKANIKA GELOMBANG
Hipotesis Louis de Broglie dan azas ketidakpastian dari Heisenberg merupakan dasar dari model Mekanika Kuantum
(Gelombang) yang dikemukakan oleh ERWIN SCHRODINGER pada tahun1927, yang mengajukan konsep orbital untuk
menyatakan kedudukan elektron dalam atom. Orbital menyatakan suatu daerah dimana elektron paling mungkin (peluang
terbesar) untuk ditemukan.
Schrodinger sependapat dengan Heisenberg bahwa kedudukan elektron dalam atom tidak dapat ditentukan secara pasti, namun
yang dapat ditentukan adalah kebolehjadian menemukan elektron pada suatu titik pada jarak tertentu dari intinya. Ruangan yang
memiliki kebolehjadian terbesar ditemukannya elektron disebut Orbital.
Dalam mekanika kuantum, model orbital atom digambarkan menyerupai awan. Beberapa orbital bergabung membentuk
kelompok yang disebut Subkulit.
Persamaan gelombang ( = psi) dari Erwin Schrodinger menghasilkan tiga bilangan gelombang (bilangan kuantum) untuk
menyatakan kedudukan (tingkat energi, bentuk, serta orientasi) suatu orbital, yaitu: bilangan kuantum utama (n), bilangan
kuantum azimut (l) dan bilangan kuantum magnetik (m)
0.000000 0.000000
Disimpan dalam Kimia Kelas XI, Materi Kimia
HUBUNGAN KONFIGURASI ELEKTRON DENGAN SISTEM
PERIODIK UNSUR
Agustus 13, 2010 oleh esdipangganti 12 Komentar
Konfigurasi elektron menyatakan sebaran elektron dalam atom. Nomor atom menunjukkan jumlah elektron. Hal ini
membuktikan bahwa terdapat hubungan antara sifat-sifat unsur dengan konfigurasi elektron, katena tabel Sistem Periodik Unsur
(SPU) disusun berdasarkan kenaikan nomor atom unsur. Pada SPU dikenal istilah Golongan (kolom vertikal) dan Periode (baris
horizontal)
1. Golongan
SPU dibagi atas 8 golongan. Setiap golongan dibagi atas Golongan Utama (A) dan Golongan Transisi (B). Penomoran golongan
dilakukan berdasarkan elektron valensi yang dimiliki oleh suatu unsur. Setiap Unsur yang memiliki elektron valensi sama akan
menempati golongan yang sama pula
Berdasarkan letak elektron terakhir pada orbitalnya, dalam konfigurasi elektron, unsur-unsur dalam SPU dibagi menjadi 4 blok,
yaitu blok s, blok p, blok d, dan blok f.
o Jika konfigurasi elektron berakhir di blok s atau p maka pasti menempati golongan A
o Jika konfigurasi elektron berakhir di blok d maka pasti menempati golongan B
o Jika konfigurasi elektron berakhir di blok f maka pasti menempati golongan B (Lantanida, n=6 dan Aktinida, n=7
(gol.radioatif))
Selain itu untuk menentukan nomor golongan, ditentukan dengan mengetahui jumlah elektron valensi pada konfigurasi terakhir.
Contoh :
11Na = 1s
2
2s
2
2p
6
3s
1

Dapat diketahui bahwa elektron terakhir pada n=3 mempunyai elektron valensi 1, berarti golongan I serta berakhir di subkulit s,
berarti Golongan A, jadi kalau digabungkan menjadi Golongan IA
2. Periode
SPU terdiri atas 7 periode. Periode disusun berdasarkan kenaikan nomor atom. Unsur-unsur yang mempunyai jumlah kulit sama
akan menempati baris yang sama. Dengan demikian jumlah kulit sama dengan periode, sehingga periode 1 memiliki n-1, periode
2 memiliki n=2, dst.
Contoh :
11Na = 1s
2
2s
2
2p
6
3s
1

Dapat diketahui bahwa elektron terakhir berada pada n=3 yang berarti unsur tersebut masuk dalam Periode 3
0.000000 0.000000
Disimpan dalam Kimia Kelas XI, Materi Kimia
KONFIGURASI ELEKTRON BERDASARKAN KONSEP
BILANGAN KUANTUM
Agustus 13, 2010 oleh esdipangganti 4 Komentar
Kongurasi elektron menggambarkan penataan/susunan elektron dalam atom. Dalam menentukan konfigurasi elektron suatu
atom, ada 3 aturan yang harus dipakai, yaitu : Aturan Aufbau, Aturan Pauli, dan Aturan Hund.
1. Aturan Aufbau
Pengisian orbital dimulai dari tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang tinggi. Elektron mempunyai kecenderungan
akan menempati dulu subkulit yang energinya rendah. Besarnya tingkat energi dari suatu subkulit dapat diketahui dari bilangan
kuantum utama (n) dan bilangan kuantum azimuth ( l ) dari orbital tersebut. Orbital dengan harga (n + l) lebih besar mempunyai
tingkat energi yang lebih besar. Jika harga (n + l) sama, maka orbital yang harga n-nya lebih besar mempunyai tingkat energi
yang lebih besar. Urutan energi dari yang paling rendah ke yang paling tinggi sebagaimana digaram yang dibuat oleh Mnemonik
Moeler adalah sebagai berikut:
1s < 2s < 2p < 3s < 3p < 4s < 3d < 4p < 5s < 4d < 5p < 6s < 4f < 5d .

DIAGRAM MNEMONIK MOOLER

2. Aturan Pauli (Eksklusi Pauli)
Aturan ini dikemukakan oleh Wolfgang Pauli pada tahun 1926. Yang menyatakan Tidak boleh terdapat dua elektron dalam
satu atom dengan empat bilangan kuantum yang sama. Orbital yang sama akan mempunyai bilangan kuantum n, l, m, yang
sama tetapi yang membedakan hanya bilangan kuantum spin (s). Dengan demikian, setiap orbital hanya dapat berisi 2 elektron
dengan spin (arah putar) yang berlawanan. Jadi, satu orbital dapat ditempati maksimum oleh dua elektron, karena jika elektron
ketiga dimasukkan maka akan memiliki spin yang sama dengan salah satu elektron sebelumnya.
Contoh :
Pada orbital 1s, akan ditempati oleh 2 elektron, yaitu :
Elektron Pertama n=1, l=0, m=0, s= +
Elektron Kedua n=1, l=0, m=0, s=
(Hal ini membuktikan bahwa walaupun kedua elektron mempunyai n,l dan m yang sama tetapi mempunyai spin yang berbeda)

3. Aturan Hund
Aturan ini dikemukakan oleh Friedrick Hund Tahun 1930. yang menyatakan elektron-elektron dalam orbital-orbital suatu
subkulit cenderung untuk tidak berpasangan.
Elektron-elektron baru berpasangan apabila pada subkulit itu sudah tidak ada lagi orbital kosong.
Untuk menyatakan distribusi elektron-elektron pada orbital-orbital dalam suatu subkulit, konfigurasi elektron dituliskan dalam
bentuk diagram orbital.
Suatu orbital digambarkan dalam bentuk kotak, sedangkan elektron yang menghuni orbital digambarkan dengan dua anak panah
yang berlawanan arah. Jika orn=bital hanya mengandung satu elektron, maka anak panah yang ditulis mengarah ke atas.
Dalam menerapkan aturan hund, maka kita harus menuliskan arah panah ke atas terlebih dahulu pada semua kotak, baru
kemudian diikuti dengan arah panah ke bawah jika masihterdapat elektron sisanya.

PRINSIP PENGGUNAAN ATURAN HUND

TEORI ATOM MEKANIKA KUANTUM

A. Teori Mekanika Kuantum
Berdasarkan teori atom Max Planck, dapat ditentukan besarnya energi
partikel (elektron) saat mengelilingi inti pada kulit atom.
Pada tahun 1927, Erwin Schrodinger mengajukan teori atom yang disebut
dengan teori atom mekanika kuantum yang menyatakan bahwa kedudukan
elektron dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti, yang dapat ditentukan
adalah probabilitas menemukan elektron sebagai fungsi jarak dari inti atom.
Daerah dengan probabilitas terbesar menemukan elektron disebut dengan
orbital. Schrodinger memperhitungkan dualisme sifat elektron, yaitu sebagai
partikel sekaligus sebagai gelombang. Temuan Schrodinger memungkinkan kita
untuk menentukan struktur elektronik atom, baik yang berelektron tunggal
maupun yang berelektron banyak.
Pada tahun yang sama, Werner Heisenberg menguatkan teori atom
mekanika kuantum dengan temuannya yang disebut dengan azas ketidakpastian
Heisenberg yang menyatakan bahwa kedudukan partikel seperti elektron tidak
dapat ditentukan dengan pasti pada saat yang sama.
Daerah atau ruang dengan peluang terbesar menemukan elektron disebut
orbital, sedangkan lintasan berbentuk lingkaran dengan jari-jari tertentu disebut
orbit. Salah satu cara memaparkan orbital adalah dengan pola titik-titik. Densitas
(kerapatan) titik-titik menyatakan besar-kecilnya peluang menemukan elektron di
daerah itu. Istilah lain untuk menyatakan peluang menemukan elektron
adalah densitas elektron. Daerah dengan peluang besar menemukan elektron
berarti mempunyai densitas yang tinggi dan seebaliknya.
Model atom dengan orbital lintasan elektron ini disebut model atom
modern atau model atom mekanika kuantum. Awan elektron disekitar inti
menunjukkan tempat kebolehjadian elektron. Orbital-orbital dengan tingkat energi
yang sama atau hampir sama akan membentuk sub kulit. Beberapa sub kulit
bergabung membentuk kulit. Walaupun posisi kulitnya sama tetapi posisi
orbitalnya belum tentu sama.
Ciri khas model atom mekanika kuantum, adalah sebagai berikut :
1. Gerakan elektron memiliki sifat gelombang sehingga lintasannya (orbitnya) tidak
stasioner seperti model Bohr, tetapi mengikuti penyelesaian kuadrat fungsi
gelombang.
2. Bentuk dan ukuran orbital bergantung pada harga dari ketiga bilangan
kuantumnya.
3. Posisi elektron sejauh 0,529 Amstrong dari inti H menurut Bohr bukannya
sesuatu yang pasti, tetapi boleh jadi merupakan peluang terbesar ditemukannya
elektron.

B. BILANGAN KUANTUM.

Bilangan kuantum adalah bilangan yang menyatakan kedudukan atau
posisi elektron dalam atom. Hasil penjabaran persamaan Schrodinger untuk atom
hidrogen menunjukkan bahwa energi suatu elektron ditentukan oleh bilangan
kuantum utama (n), bilangan kuantum azimut (l), dan bilangan kuantum
magnetik (m). Kedudukan elektron dalam suatu atom dapat ditentukan oleh 4
bilangan kuantum, yaitu :
1. Bilangan kuantum utama (n)
Bilangan kuantum utama (n) menyatakan tingkat energi orbital atau kulit atom.
Dan menyatakan ukuran orbital atom, makin besar harga n, makin besar ukuran
orbital yang ditempati elektron. Bilangan kuantum utama dapat mempunyai nilai
semua bilangan bulat positif, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya. Sama seperti
dalam teori atom Neils Bohr, kulit atom dinyatakan dengan lambang K, L, M, N, O,
dan seterusnya.
n=1 ; sesuai dengan kulit K
n=2 ; sesuai dengan kulit L
n=3 ; sesuai dengan kulit M
n=4 ; sesuai dengan kulit N dan seterusnya.





Tabel 1.1. bilangan kuantum utama.

2. Bilangan kuantum Azimut (l)
Bilangan kuantum azimut merupakan ukuran momentum sudut orbital
elektron. Bilangan kuantum azimut menyatakan subkulit (orientasi bentuk orbital)
tempat elektron berada dan menunjukkan jenis subkulit serta bentuk orbital.
Harga bilangan kuantum azimut yaitu dari 0 hingga (n-1).
l=0 menyatakan subkulit s (s= sharp)
l=1 menyatakan subkulit p (p= principle)
l=2 menyatakan subkulit d (d= diffuse)
l=3 menyatakan subkulit f (f= fundamental)

Banyaknya subkulit dari suatu kulit bergantung pada banyaknya nilai
bilangan kuantum azimut yang di izinkan untuk kulit itu.
Kulit K (n=1) l=0 1s terdiri dari satu subkulit
Kulit L (n=2) l= 0 dan 1 2s 2p terdiri dari dua subkulit. Dan
seterusnya.




Tabel 1.2. subkulit-
subkulit yang
diijinkan pada kulit K sampai dengan N.
Bilangan kuantum
utama (n)
1 2 3 4
Kulit K L M N
Kulit Nilai n
Niali l yang di
ijinkan
subkulit
K 1 0 1s
L 2 0, 1 2s 2p
M 3 0, 1, 2 3s 3p 3d
N
Dan
seterusnya
4 0,1,2,3 4s 4p 4d 4f

3. Bilangan kuantum magnetik (m)
Bilangan kuantum magnetik menyatakan kedudukan elektron pada suatu
orbital khusus dari orbital itu. Harga bilangan kuantum magnetik tergantung pada
harga bilangan kuantum azimut , yaitu semua bilangan bulat mulai dari l
sampai dengan +l, termasuk 0.
a) Subkulit s (l=0) m=0 , terdiri dari 1 orbital.
b) Subkulit p (l=1) m=-1, 0, +1 , terdiri dari 3 orbital.
c) Subkulit d (l=2) m=-2, -1, 0, +1, +2 , terdiri dari 5 orbital.
d) Subkulit f (l=3) m= -3, -2, -1, 0, +1, +2, +3 , terdiri dari 7 orbital.

Subkulit Nilai l Nilai m
s 0 0
p 1 -1, 0, +1
d 2 -2,-1, 0, 1, 2, 3
f 3
-3, -2, -1, 0, 1, 2,
3
Tabel 1.3. bilangan kuantum magnetik.

4. Bilangan kuantum spin (s)
Bilangan kuantum spin menunjukkan arah perputaran elektron pada
sumbunya. Dalam satu orbital, maksimum dapat beredar 2 elektron dan kedua
elektron ini berputar melalui sumbu dengan arah yang berlawanan, dan masing-
masing diberi harga spin +1/2 atau -1/2.
S= +1/2
arah
putaran
searah
dengan
jarum
jam ()
S= -1/2
Kulit Subkulit
Jumlah
n
Jumlah orbital
(n
2
)
Elektron
maksimum
(2n
2
)
K s 1 1
2
= 1 orbital 2 elektron
L s, p 2 2
2
= 4 orbital 8 elektron
M s, p, d 3 3
2
= 9 orbital 18 elektron
N s, p, d, f 4 4
2
= 16 0rbital 32 elektron
O s, p, d, f, g 5 5
2
= 25 0rbital 50 elektron
P s, p, d, f, g, h 6 6
2
=36 orbital 72 elekron
arah putaran berlawanan dengan arah jarum jam ()






Tabel 1.4. pembagian kulit-kulit pada atom.

Mekanika kuantum
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Rangkaian dari
Sains
Sains formal[tampilkan]
Sains fisik[tampilkan]
Sains kehidupan[tampilkan]
Ilmu sosial[tampilkan]
Ilmu terapan[tampilkan]
Interdisipliner[tampilkan]
Portal

Kategori
L

B

S


Densitas kemungkinan dari fungsi gelombang sebuah elektron atom hidrogen dalam mekanika kuantum
Mekanika kuantum adalah cabang dasar fisika yang menggantikan mekanika klasik pada
tataran atom dan subatom. Ilmu ini memberikan kerangka matematika untuk berbagai cabang fisika dan kimia,
termasuk fisika atom, fisika molekular, kimia komputasi, kimia kuantum, fisika partikel, dan fisika nuklir.
Mekanika kuantum adalah bagian dari teori medan kuantum dan fisika kuantum umumnya, yang,
bersama relativitas umum, merupakan salah satu pilar fisika modern. Dasar dari mekanika kuantum adalah
bahwa energi itu tidak kontinyu, tapi diskrit -- berupa 'paket' atau 'kuanta'. Konsep ini cukup revolusioner,
karena bertentangan dengan fisika klasik yang berasumsi bahwa energi itu berkesinambungan.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Sejarah
o 1.1 Eksperimen penemuan
2 Bukti dari mekanika kuantum
3 Referensi
Sejarah[sunting]
Pada tahun 1900, Max Planck memperkenalkan ide bahwa energi dapat dibagi-bagi menjadi beberapa paket
atau kuanta. Ide ini secara khusus digunakan untuk menjelaskan sebaran intensitas radiasi yang dipancarkan
oleh benda hitam. Pada tahun 1905, Albert Einsteinmenjelaskan efek fotoelektrik dengan menyimpulkan
bahwa energi cahaya datang dalam bentuk kuanta yang disebut foton. Pada tahun 1913,Niels
Bohr menjelaskan garis spektrum dari atom hidrogen, lagi dengan menggunakan kuantisasi. Pada
tahun 1924, Louis de Brogliememberikan teorinya tentang gelombang benda.
Teori-teori di atas, meskipun sukses, tetapi sangat fenomenologikal: tidak ada penjelasan jelas untuk
kuantisasi. Mereka dikenal sebagai teori kuantum lama.
Frase "Fisika kuantum" pertama kali digunakan oleh Johnston dalam tulisannya Planck's Universe in Light of
Modern Physics (Alam Planck dalam cahaya Fisika Modern).
Mekanika kuantum modern lahir pada tahun 1925, ketika Werner Karl Heisenberg mengembangkan mekanika
matriks dan Erwin Schrdingermenemukan mekanika gelombang dan persamaan Schrdinger. Schrdinger
beberapa kali menunjukkan bahwa kedua pendekatan tersebut sama.
Heisenberg merumuskan prinsip ketidakpastiannya pada tahun 1927, dan interpretasi Kopenhagen terbentuk
dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada 1927, Paul Dirac menggabungkan mekanika kuantum
dengan relativitas khusus. Dia juga membuka penggunaan teori operator, termasuk notasi bra-ket yang
berpengaruh. Pada tahun 1932, Neumann Janos merumuskan dasar matematika yang kuat untuk mekanika
kuantum sebagai teori operator.
Bidang kimia kuantum dibuka oleh Walter Heitler dan Fritz London, yang mempublikasikan penelitian ikatan
kovalen dari molekul hidrogen pada tahun 1927. Kimia kuantum beberapa kali dikembangkan oleh pekerja
dalam jumlah besar, termasuk kimiawan Amerika Linus Pauling.
Berawal pada 1927, percobaan dimulai untuk menggunakan mekanika kuantum ke dalam bidang di luar
partikel satuan, yang menghasilkan teori medan kuantum. Pekerja awal dalam bidang ini termasuk
Dirac, Wolfgang Pauli, Victor Weisskopf dan Pascaul Jordan. Bidang riset area ini dikembangkan dalam
formulasi elektrodinamika kuantum oleh Richard Feynman, Freeman Dyson,Julian Schwinger, dan Tomonaga
Shin'ichir pada tahun 1940-an. Elektrodinamika kuantum adalah teori kuantum elektron, positron, dan Medan
elektromagnetik, dan berlaku sebagai contoh untuk teori kuantum berikutnya.
Interpretasi banyak dunia diformulasikan oleh Hugh Everett pada tahun 1966.
Teori Kromodinamika kuantum diformulasikan pada awal 1960an. Teori yang kita kenal sekarang ini
diformulasikan oleh Polizter, Gross and Wilzcek pada tahun 1975. Pengembangan awal oleh Schwinger, Peter
Higgs, Goldstone dan lain-lain. Sheldon Lee Glashow, Steven Weinberg dan Abdus Salam menunjukan secara
independen bagaimana gaya nuklir lemah dan elektrodinamika kuantum dapat digabungkan menjadi satu gaya
lemah elektro.
Eksperimen penemuan[sunting]
Eksperimen celah-ganda royan membuktikan sifat gelombang dari cahaya. (sekitar 2012)
Henri Becquerel menemukan radioaktivitas (1896)
Joseph John Thomson - eksperimen tabung sinar kathoda (menemukan elektron dan muatan negatifnya)
(1897)
Penelitian radiasi benda hitam antara 1850 dan 1900, yang tidak dapat dijelaskan tanpa konsep kuantum.
Robert Millikan - eksperimen tetesan oli, membuktikan bahwa muatan listrik terjadi dalam kuanta (seluruh
unit), (1909)
Ernest Rutherford - eksperimen lembaran emas menggagalkan model puding plum atom yang
menyarankan bahwa muatan positif dan masa atom tersebar dengan rata. (1911)
Otto Stern dan Walter Gerlach melakukan eksperimen Stern-Gerlach, yang menunjukkan sifat kuantisasi
partikel spin (1920)
Clyde L. Cowan dan Frederick Reines meyakinkan keberadaan neutrino dalam eksperimen
neutrino (1955)
Bukti dari mekanika kuantum[sunting]
Mekanika kuantum sangat berguna untuk menjelaskan perilaku atom dan partikel
subatomik seperti proton, neutron dan elektron yang tidak mematuhi hukum-hukum fisika
klasik. Atom biasanya digambarkan sebagai sebuah sistem di mana elektron (yang bermuatan listrik negatif)
beredar seputar nukleus atom (yang bermuatan listrik positif). Menurut mekanika kuantum, ketika sebuah
elektron berpindah dari tingkat energi yang lebih tinggi (misalnya dari n=2 atau kulit atom ke-2 ) ke tingkat
energi yang lebih rendah (misalnya n=1 atau kulit atom tingkat ke-1), energi berupa sebuah partikel cahaya
yang disebut foton, dilepaskan. Energi yang dilepaskan dapat dirumuskan sbb:

keterangan:
adalah energi (J)
adalah tetapan Planck, (Js), dan
adalah frekuensi dari cahaya (Hz)
Dalam spektrometer massa, telah dibuktikan bahwa garis-garis spektrum dari atom yang di-ionisasi tidak
kontinyu, hanya pada frekuensi/panjang gelombang tertentu garis-garis spektrum dapat dilihat. Ini adalah
salah satu bukti dari teori mekanika kuantum.

Anda mungkin juga menyukai