Anda di halaman 1dari 18

Asal Mula Agama Budha

Pada awalnya Budha bukanlah agama, dalam arti memuja atau menyembah dewa.
Agama Budha merupakan ajaran yang bertujuan membebaskan manusia dari samsara (kesengsaraan).
Kemudian oleh para pemeluknya diyakini sebagai agama Budha.
Agama Budha lahir di India, pertama diajarkan oleh Sidharta Gautama (putra Raja Sudhodana dari Kerajaan
Kosala di Kapilawastu
Agama Budha lahir sebagai bentuk protes terhadap perbedaan kasta, terutama kasta Brahmana yang dianggap
terlalu banyak hak-hak istimewa.
Agama Budha tidak mengenal kasta.

Pokok Ajaran Agama Budha
Bahwa manusia hidup itu dalam keadaan samsara.
Oleh karena itu, tiap manusia wajib melepaskan diri dari kesengsaraan dengan memadamkan berbagai nafsu.
Nafsu itu dapat dipadamkan dengan menjalankan astavida (delapan jalan) kebenaran.

Astavida
1. Pandangan (pengetahuan) yang benar.
2. Niat (sikap atau minat) yang benar.
3. Perkataan yang benar.
4. Perbuatan (tingkah laku) yang benar.
5. Penghidupan (mata pencaharian) yang benar.
6. Usaha (daya upaya) yang benar.
7. Perhatian (renungan) yang benar.
8. Samadi (pemusatan pikiran) yang benar.

Kitab Suci Agama Budha.
Kitab suci agama Budha adalah Tripitaka. Kitab ini ditulis dalam bahasa Pali.
Kitab suci Tripitaka terdiri atas 3 bagian :
a. Winayapitaka berisi peraturan tentang
hukum agama Budha.
b. Sutrantapitaka berisi wejangan-wejangan
Sang Budha
c. Abhidarmapitaka berisi keterangan dan
penjelasan soal-soal keagamaan.


Agama Budha Pecah di Bagi 2 Aliran
Budha Mahayana (Kedaraan Besar) => manusia dpat mencapai nirwana dengan perantaraan Bodhisatwa.
Budha Hinayana (Kendaraan Kecil) => bahwa usaha manusia mencapai nirwana hanya dapat dilakukan oleh
manusia secara perorangan.


Analisa Data
Pada awalnya Budha bukanlah agama, dalam arti memuja atau menyembah dewa. Agama Budha merupakan ajaran
yang bertujuan membebaskan manusia dari samsara (kesengsaraan). Kemudian oleh para pemeluknya diyakini sebagai
agama Budha.
Agama Budha lahir di India, pertama diajarkan oleh Sidharta Gautama (putra Raja Sudhodana dari Kerajaan Kosala
di Kapilawastu. Agama Budha lahir sebagai bentuk protes terhadap perbedaan kasta, terutama kasta Brahmana yang
dianggap terlalu banyak hak-hak istimewa. Agama Budha tidak mengenal kasta.
Pokok ajaran agama Budha adalah Bahwa manusia hidup itu dalam keadaan samsara. Oleh karena itu, tiap manusia
wajib melepaskan diri dari kesengsaraan dengan memadamkan berbagai nafsu. Nafsu itu dapat dipadamkan dengan
menjalankan astavida (delapan jalan) kebenaran.
Kitab suci agama Budha adalah Tripitaka. Kitab ini ditulis dalam bahasa Pali. Agama Budha pecah dibagi 2 aliran
yaitu Budha Mahayana dan Budha Hinayana.




Agama Budha
REP | 01 January 2013 | 09:28 Dibaca: 5921 Komentar: 0 5
Kalau ada teman - teman yang sedang bingung untuk membuat makalah mengenai agama budha, teman- teman
bisa baca tulisan dibawah ini.
khususnya buat teman - teman yang mendapat tugas mata kuliah Antropologi Religi, bisa baca juga nih :D
tapi sumbernya juga diambil dari buku dan sumber internet yang lainnya . selamat membaca .
PENDAHULUAN
Agama budha disebut mempunyai pengaruh besar di Indonesia sebab agama budha merupakan agama yang
paling awal tersebar di Indonesia setelah agama hindhu. Agama budha muncul sekitar abad ke 6 SM,sebagai
reaksi terhadap agama hindu yang dianggap terlalu kaku. Istilah budha berarti budhh yang artinya bangkit,
dan kata kerja bujjhati yang berarti memperoleh pencerahan. Budha membebaskan orang-orang dari apa yan
g disebut kebencian (dosa), serakah (lobha), dan kegelapan (moha). Agama ini bertolak dari tata susila yang
harus dilaksanakan agar manusia terbebas dari lingkaran sangsara sebagaimana yang dilakukan oleh Sang
Buddha.
PERJALANAN AGAMA BUDDHA
Pada abad sebelum Masehi, setelah Sang Buddha wafat, terdapat banyak perbedaan diantara para bhiksu. Para
bhiksu terpecah menjadi 2 golongan, antara golongan yang ingin tetap mempertahankan ajaran buddha murni
dan golongan yang ingin merubah ajaran buddha. Golongan murni menamakan diri mereka sebagai Theravada
dan kaum yang ingin mengadakan perubahan menamakan diri mereka sebagai Mahasangika atau lebih terkenal
dengan aliran Mahayana.
Agama buddha berkembang pesat pada masa Raja Asoka, dan mulai banyak dibangun tugu piyadasi atau tugu
perikemanusiaan. Dalam pasamuan ketiga tersusun kitab Abdhidharma Pitaka yang merupakan bagian dari
Tripitaka. Pada masa itu pula, penyebaran agama buddha dikembangkan oleh Raja Asoka hingga Mesir,
Yunani, dan Asia Tenggara. Sang Pangeran Mahinda menyebarkan agama buddha ke Srilanka yang hingga saat
ini menjadi pusat agama buddha.
Setelah Raja Asoka meninggal, aliran Theravada terpisah dengan aliran Mahayana.
Pada abad ke-7 M, agama buddha mengalami kemunduran karena serangan Bangsa Hun Putih dan bangkitnya
Hindhu Brahmana. Di Indonesia sendiri, agama budha sudah menyebar pada abad ke-5, dan pada abad ke-7
Musafir ITsing mengabarkan terdapat kerajaan Sriwijaya yang menganut aliran Theravada, sedangkan di Jawa
berdirinya Candi Borobudur di masa Samaratungga menjadi tanda bahwa aliran Mahayana lebih dominan di
Jawa.
PENDIRI DAN PENYEBAR AGAMA BUDHA
Agama budha didirikan oleh putra mahkota Raja Sudhona dari Nepal yang bernama Sidharta. Saat berumur 29
tahun ia memulai perjalanan sebagai pertapa. Awalnya ia berguru pada 2 orang brahmana, akan tetapi ia tidak
puas atas ilmunya sehingga ia memutuskan untuk bertapa, dan akhirnya memperoleh 5 murid yang mengikuti
jejaknya sebagai pertapa. Pada malam Waisak,ia melakukan meditasi san mendapat 4 ilmu tinggi yaitu:
Pubbenivasanussati, Dibacakkhu, Cuti Upapana, Asvakkhyanana
Dengan pengetahuan tersebut ia mendapat penerangan yang disebut empat kasunyatan mulia yaitu
Penderitaan, Sumber Penderitaan, Lenyapnya Penderitaan dan Delapan Cara Lenyapnya Penderitaan. Dengan
pencapaian itu, Sidharta Gautama telah menjadi buddha pada usia 35 tahun. Bhaluka dan Tapusa adalah
pengikut pertamanya, setelah itu ia menyebarkan dharmanya pada kelima bekas muridnya. Sejak peristiwa itu,
Sidharta Gautama menyebarkan ajarannya ke seluruh India yang dikenal dengan 4 Kebajikan-Kebenaran,
bahwa:
Kehidupan Manusia pada dasarnya tidak bahagia
Sebab bahagia adalah karena terbelenggu nafsu
Hawa nafsu dapat ditiadakan dengan ajaran budha yaitunirwana
Menimbang, berpikir, berbuat, mencari nafkah, berusaha, mengingat serta meditasi yang benar
Selama 45 tahun sang Budha menyebarkan ajarannya dan ia wafat pada usia 80 tahun di Kusiwara.
KITAB KITAB AGAMA BUDHA
Sumber utama ajaran-ajaran Budha ialah kitab Tripitaka (Tri : tiga, Pitaka : keranjang). Sesungguhnya kitab ini
berisi kumpulan ceramah, keterangan, perumpamaan dan percakapan Budha dengan para murid dan
pengikutnya. Jadi kitab Tripitaka itu bukan saja memuat perkataan budha sendiri, melainkan juga memuat
perkataan dan pendapat dari para muridnya. Oleh para muridnya ajaran-ajaran keagamaan itu kemudian dipilah
menjadi tiga kelompok utama yang disebut Vitaka Pitaka , Sutra Pitaka , dan Abidharma Pitaka.
1. Kitab Vinaya Pitaka.
Kitab ini berisi peraturan-peraturan bagi para bhikku dan bhikkhuni yang dibagi lagi dalam tiga
kitab, yaitu Sutra Vibanga , Khandaka , dan Paravira.
Sutra Vibanga. Kitab ini berisi peraturan-peraturan yang mencakup delapan jenis
pelanggaran, yang diantaranya ada empat jenis pelanggaran yang dapat berakibat seorang
bhikku dan bhikkuni dikeuarkan dari sangha.
Khandaka. Kitab ini berisi peraturan-peraturan dan uraian-uraian tentang upacara panahbisan
bhikkhu atau bhikkhuni. Anatara lain dikatakan tentang tata tertib penerimaan bhikkhu dan
lainnya serta pelanggaran-pelanggarannya. Dalam kitab ini diuraikan juga tentang pasamuan
agung pertama di Rajagraha dan pesamuan agung di Vesali.
Parivara. Kitab ini berisi ringkasan dan pengelompokan peraturan vinaya yang disusun dalam
bentuk tanya jawab untuk dipakai dalam pengajaran dan pelaksanaan ujian.
2. Sutta Pittaka
Sutta Pitaka terdiri atas lima kumpulan (nikya) atau buku, yaitu :
Dgha Nikya. Merupakan buku pertama dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 34 Sutta panjang,
dan terbagi menjadi tiga vagga : Slakkhandhavagga, Mahvagga dan Ptikavagga.
Beberapa di antara sutta-sutta yang terkenal ialah : Brahmajla Sutta (yang memuat 62
macam pandangan salah), Samannaphala Sutta (menguraikan buah kehidupan seorang
petapa), Siglovda Sutta (memuat patokan-patokan yang penting bagi kehidupan sehari-
sehari umat berumah tangga), Mahsatipatthna Sutta (memuat secara lengkap tuntunan
untuk meditasi Pandangan Terang, Vipassan), Mahparinibbna Sutta (kisah mengenai
hari-hari terakhir Sang Buddha Gotama).
Majjhima Nikya. Merupakan buku kedua dari Sutta Pitaka yang memuat kotbah-kotbah
menengah. Buku ini terdiri atas tiga bagian (pannsa); dua pannsa pertama terdiri atas 50
sutta dan pannsa terakhir terdiri atas 52 sutta; seluruhnya berjumlah 152 sutta. Beberapa
sutta di antaranya ialah : Ratthapla Sutta, Vsettha Sutta, Angulimla Sutta, npnasati
Sutta, Kyagatasati Sutta dan sebagainya.
Anguttara Nikya. Merupakan buku ketiga dari Sutta Pitaka, yang terbagi atas sebelas nipta
(bagian) dan meliputi 9.557 sutta. Sutta-sutta disusun menurut urutan bernomor, untuk
memudahkan pengingatan.
Samyutta Nikya. Merupakan buku keempat dari Sutta Pitaka yang terdiri atas 7.762 sutta.
Buku ini dibagi menjadi lima vagga utama dan 56 bagian yang disebut Samyutta.
Khuddaka Nikya, merupakan buku kelima dari Sutta Pitaka yang terdiri atas kumpulan lima
belas kitab, yaitu :
a. Khuddakaptha, berisi empat teks : Saranattya, Dasasikkhapda, Dvattimsakra,
Kumrapaha, dan lima sutta : Mangala, Ratana, Tirokudda, Nidhikanda dan Metta Sutta.
b. Dhammapada, terdiri atas 423 syair yang dibagi menjadi dua puluh enam vagga. Kitab ini
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
c. Udna, merupakan kumpulan delapan puluh sutta, yang terbagi menjadi delapan vagga.
Kitab ini memuat ucapan-ucapan Sang Buddha yang disabdakan pada berbagai
kesempatan.
d. Itivuttaka, berisi 110 sutta, yang masing-masing dimulai dengan kata-kata : vuttam hetam
bhagav (demikianlah sabda Sang Bhagav).
e. Sutta Nipta, terdiri atas lima vagga : Uraga, Cla, Mah, Atthaka dan Pryana Vagga.
Empat vagga pertama terdiri atas 54 prosa berirama, sedang vagga kelima terdiri atas
enam belas sutta.
f. Vimnavatthu, menerangkan keagungan dari bermacam-macam alam deva, yang diperoleh
melalui perbuatan-perbuatan berjasa.
g. Petavatthu, merupakan kumpulan cerita mengenai orang-orang yang lahir di alam Peta
akibat dari perbuatan-perbuatan tidak baik.
h. Theragth, kumpulan syair-syair, yang disusun oleh para Thera semasa hidup Sang
Buddha. Beberapa syair berisi riwayat hidup para Thera, sedang lainnya berisi pujian
yang diucapkan oleh para Thera atas Pembebasan yang telah dicapai.
i. Therigth, buku yang serupa dengan Theragth yang merupakan kumpulan dari ucapan
para Theri semasa hidup Sang Buddha.
j. Jtaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang terdahulu.
k. Niddesa, terbagi menjadi dua buku : Culla-Niddesa dan Mah-Niddesa. Culla-Niddesa
berisi komentar atas Khaggavisna Sutta yang terdapat dalam Pryana Vagga dari Sutta
Nipta; sedang Mah-Niddesa menguraikan enam belas sutta yang terdapat dalam
Atthaka Vagga dari Sutta Nipta.
l. Patisambhidmagga, berisi uraian skolastik tentang jalan untuk mencapai pengetahuan
suci. Buku ini terdiri atas tiga vagga : Mahvagga, Yuganaddhavagga dan Pavagga,
tiap-tiap vagga berisi sepuluh topik (kath).
m. Apadna, berisi riwayat hidup dari 547 bhikkhu, dan riwayat hidup dari 40 bhikkhuni, yang
semuanya hidup pada masa Sang Buddha.
n. Buddhavamsa, terdiri atas syair-syair yang menceritakan kehidupan dari dua puluh lima
Buddha, dan Buddha Gotama adalah yang paling akhir.
o. Cariypitaka, berisi cerita-cerita mengenai kehidupan-kehidupan Sang Buddha yang
terdahulu dalam bentuk syair, terutama menerangkan tentang 10 pram yang dijalankan
oleh Beliau sebelum mencapai Penerangan Sempurna, dan tiap-tiap cerita disebut
Cariy.
3. Abhidamma Pitaka.
Kitab Abhidhamma Pitaka berisi uraian filsafat Buddha Dhamma yang disusun secara analitis
dan mencakup berbagai bidang, seperti : ilmu jiwa, logika, etika dan metafisika. Kitab ini terdiri
atas tujuh buah buku (pakarana), yaitu :
Dhammasangani, terutama menguraikan etika dilihat dari sudut pandangan ilmu jiwa.
Vibhanga, menguraikan apa yang terdapat dalam buku Dhammasangani dengan metode
yang berbeda. Buku ini terbagi menjadi delapan bab (vibhanga), dan masing-masing bab
mempunyai tiga bagian : Suttantabhjaniya, Abhidhannabhjaniya dan Ppucchaka atau
daftar pertanyaan-pertanyaan.
Dhtukatha, terutama membicarakan mengenai unsur-unsur batin. Buku ini terbagi menjadi
empat belas bagian.
Puggalapaatti, menguraikan mengenai jenis-jenis watak manusia (puggala), yang
dikelompokkan menurut urutan bernomor, dari kelompok satu sampai dengan sepuluh,
sepserti sistim dalan Kitab Anguttara Nikya.
Kathvatthu, terdiri atas dua puluh tiga bab yang merupakan kumpulan percakapan-
percakapan (kath) dan sanggahan terhadap pandangan-pandangan salah yang
dikemukakan oleh berbagai sekte tentang hal-hal yang berhubungan dengan theologi dan
metafisika.
Yamaka, terbagi menjadi sepuluh bab (yang disebut Yamaka) : Mla, Khandha, yatana,
Dhtu, Sacca, Sankhr, Anusaya, Citta, Dhamma dan Indriya.
Patthana, menerangkan mengenai sebab-sebab yang berkenaan dengan dua puluh empat
Paccaya (hubungan-hubungan antara batin dan jasmani).
Gaya bahasa dalam Kitab Abhidhamma Pitaka bersifat sangat teknis dan analitis, berbeda dengan gaya
bahasa dalam Kitab Sutta Pitaka dan Vinaya Pitaka yang bersifat naratif, sederhana dan mudah dimengerti
oleh umum. Pada dewasa ini bagian dari Tipitaka yang telah diterjemahkan dan dibukukan ke dalam bahasa
Indonesia baru Kitab Dhammapada dan beberapa Sutta dari Dgha Nikya.
AJARAN AGAMA BUDHA
Dari latar belakang sejarah bagaimana terjadinya sidharta gautama jadi budha, maka ajaran agama budha tidak
bertolak dari ajaran ketuhanan, melainkan berdasarkan kenyataan kenyataan hidup. Pada umumnya ajaran
agama budha berlandaskan atas lima pokok, yaitu :
Tri ratna (budha dharma sangha)
Catur arya satyani dan hasta arya marga
Hukum karma dan tumimbal lahir
Tilakhana yaitu tiga corak umum yang terdiri dari antya anatman dan dukkha
Hukum pratya samuppada yaitu hukum sebab akibat yg saling bertautan
1. Ajaran Ketuhanan Theravada
Aliran Theravada adalah aliran yang memiliki sekolah Buddha tertua yang tinggal sampai saat ini,
dan untuk berapa abad mendominasi Sri Langka dan wilayah Asia Tenggara (sebagian dari
Tiongkok bagian barat daya, Kamboja, Laos, Myanmar, Malaysia, Indonesia dan Thailand) dan
juga sebagian Vietnam. Selain itu populer pula di Singapura dan Australia.
Theravada berasal dari bahasa Pali yang terdiri dari dua kata yaitu thera dan vada. Thera berarti
sesepuh khususnya sesepuh terdahulu , dan vada berarti perkataan atau ajaran. Jadi Theravada
berarti Ajaran Para Sesepuh.
Istilah Theravada muncul sebagai salah satu aliran agama Buddha dalam Dipavamsa, catatan
awal sejarah Sri Lanka pada abad ke-4 Masehi. Istilah ini juga tercatat dalam Mahavamsa,
sebuah catatan sejarah penting yang berasal dari abad ke-5 Di yakini Theravada merupakan
wujud lain dari salah satu aliran agama Buddha terdahulu yaitu Sthaviravada (Bahasa Sanskerta:
Ajaran Para Sesepuh) , sebuah aliran agama Buddha awal yang terbentuk pada Sidang Agung
Sangha ke-2 (443 SM). Dan juga merupakan wujud dari aliran Vibhajjavada yang berarti Ajaran
Analisis (Doctrine of Analysis) atau Agama Akal Budi (Religion of Reason).
2. Ajaran Ketuhanan Mahayana
Dalam pemahaman konsep Ketuhanan Mahayana, Tuhan dipahami melalui konsep Trikarya dan
Adi Budha. Sebagaimana dikemukakan tokoh utamanya Asvagosha dalam abad pertama masehi
bahwa ada hierarki antara para Budha dan Bodhisatwa. Hal mana dikarenakan pada mulanya
ada perbedaan pendapat sebagai berikut :
Staviravada, beranggapan bahwa para budha adalah manusia yang telah mencapai
pencerahan. Ajaran ini dianut Theravada.
Mahasanghika, beranggapan bahwa para budha adalah makhluk yang luar biasa.
Sarvastivada, beranggapan bahwa para budha adalah makhluk yang suci.
Karena terdapat perbedaan-perbedaan terutama ajaran sarastivada mengajukan konsepsi trikarya yang
dikembangkan lebih lanjut menjadi mahayana. Menurut mahayana budha gautama perkembangan ajaran
budha sendiri bukanlah suatu fenomena yang berdiri sendiri, melainkan mata rantai dari deretan para budha
yang ada.
Namun antara budha yang satu dengan yang lain itu berbeda-beda, oleh karena budha itu mempunyai tiga
aspek :
Inti dari dharma itu sendiri yang tidak terbayangkan
Kemampuan yang tidak terbatas dan tidak bermaniffestasi sebagai tubuh pengganti
kebudhaan yang diagungkan
Bermanifestasi. Yakni kebudhaan yang berwujud duniawi sakyamuni budha dan budah dunia
yang lain.
a. Doktrin Trikarya. Berdasarkan tiga aspek tersebut maka muncul doktrin trikarya atau tiga
tubuh budha yang merupakan dharmakarya, sambhogakaya, nirmanakaya, yang
mempunyai arti penting dalam ajaran mahayana.
Dharmakaya. Budha digambatkan sebagai bentuk tubuh dengan pengetahuan sempurna,
yang merupakan permulaan dan tidak berbentuk dan yang benar-benar bebas dari
segala kekeliruan atau kegelapan. Jadi dharmakaya merupakan sumber dharma atau
sumber kesunyatan sebagai hakikat yang hakiki tanpa bentuk dan warna. Namun ia
berada dimana-mana dan dapat menciptakan dirinya sendiri dalam segala bentuk.
Dengan demikian dharmakaya dapat dipandang sebagai yang mutlak atau Tuhan.
Maka dalam aliran tanrayana, dharmakaya itu sembah sebagai sang adi budha.
Sambogakhaya. Artinya adalah tubuh rahmat yakni suatu transedent dari budha yang
tidak dapat diteeliti dengan akal karena hanya dapat dirasakan melalui kerohanian. Ia
adalah manifestasi dari yang mutlak sebagai kenyataan yang lebih tinggi dari
kebendaan yang berfungsi sebagai pembantu kelepasan manusia dan berkeduduknan
sebagai :
- Guru-guru para bodhisatwa yang dari masa kemasa dikumpulkan untuk memberi
pengajaran dasar tentang samsara dan nirwana.
- Para penguasa surga yang merupakan idaman para penganut agama budha sebgai
tempat dilahirkan kembali.
- Bapak rohani dari para nirmanakaya yang karena kasih sayang kepada semua yang
ada diproyeksikan ke dunia melalui meditasi.
Nirmanakaya. Nirmanakaya merupakan wujud yang dimanifestasikan sebagai tubuh yang
digunakan budha untuk menyatakan diri di dunia dalam wujud tubuh manusia untuk
mengajar manusia. Sebagaimana manusia mengalami proses perubahan tetapi mereka
memiliki karakter dan kemampuan suprnatural. Mereka ini bertugas mengajarkan dharma
(kebenaran) yangtelah diformulasikan di dunia. Mereka adalah penunjuk jalan kebebasan
tanpa kekuasaan untuk mempersingkat jalan yang ditempuh seseorang. Jadi
nirmanakaya adalah budha dunia yang mengtajarkan dharma dari masa kemasa,
mereka ada lima orang yaitu konogamana, kakusandha, kassapa, gautama dan
maitreya.
b. Doktrin Adi Budha di Indonesia. Sebagaimana dalam dharmakaya mengenai hakikat dan inti
kenyataan dari agama tentang budha yang primordial yang erat hubungannyadengan
pengertian adi budha dan oleh aliran tanrayana ia disembah sebagai Tuhan. Maka ia
dikenalkan kembali pada taun 1964 oleh bhikku ashin jinarakkhita di Indonesia. Hal ini telah
dikuatkan oleh dirjen bimbingan masayarakat hindhu dan budha departemen agama republik
indonesia pada tahun 1973. Sehingga para penganut budha mahayana di Indonesia
menganggap sang hyang adi budha sebagai Tuhan yang maha esa, yang juga disebut
swaayambu lokananta (pelindung dunia) yang berkedudukan di nirwana dan anista buwana
yaitu alam diatas segala alam semesta. Manifestasinya sebagai puncak catya (bagian
puncak stupa). Pencitraan sang hyang abadi hanya bisa diraih oleh mereka yang telah
mencapai samayak sambodi, kesadaran tertinggi.
Diatas kelima dhayani budha yan memancarkan bodhisatwa dan manusia budha itu yang
tertinggi adalah adi budha atau Tuhan yang maha esa. Hubungan antara dhiyani budha,
bodhisatwa dan budha dunia itu erat sekali dan tidak terpisahkan satu sama lain. Menurut
kepercayaan mahayana ada lima djayani budha. Bodhisatva dan manusia budha dengan
masing-masing pengikutnya menempati salah satu penjuru dunia sesuai dengan arah mata
angin dan salah satu daripadanya berada dititik tengah atau pusatnya. Mereka bertugas
dalam salah satu masa yang terbagi lima masa dan untuk masa sekarang ini yang
bertanggung jawab adalah amita, bodhisatvabalokatisvara dan budha gautama.
c. Ajaran Tentang Alam. Seluruh alamsemesta inimenurrut ajaran budha disebut sankatha
dharma yaitu ciptaan yang timbul dari seba-sebab yang terdahulu dan sifatnya tidak kekal
(sankhara). Iadikatakan sankhaeta dharma karena adanya tidak mutlak ia timbul berubah dan
lenyap. Jadi alam semesta ini selalu menjadi(lahir) dan berubah dari suatu keadaan menjadi
keadaan yang lainyanh berurutan. Dengan demikian sifat alam semesta itu anicca atau
anitya selalu dukkha (berubah) dan tidak sebagaimana atta atauatman (jiwa). Menurut ajaran
agama budha, alam (loka0itu dapat dibedakan dalamtiga kelompok yaitu;sankharaloka,
sattaloka, dan okasaloka.
Shankharaloka
Sattaloka
- Kamaloka
- Rupaloka
- Arupaloka
Okasaloka. Alam ini adalah alam tempat dimana terdapat kehidupan makhluk:
- Alam bumi sebagai tempat kehidupan manusia dan benda-benda lain
- Alam dewa sebagai tempat kehidupan dewa
- Alam neraka sebagai tempat makhluk rendahyang menderita
Dharma yang mengatur alam. Hukum yang mengatur alam dapat dibedakan dalam lima
kelompok yaitu :
- Utuniyama
- Bijaniyama
- Karmaniyama
- Cittamiyama
- Dharmaniyama
d. Ajaran tentang manusia. Oleh karena titik tolak ajaran budha bukan dari kenyakinan adanya
Tuhan(yang mutlak), tetapi pada kenyataan-kenyataan yang dihadapi manusia ssehari-hari,
maka dalam ajaran agama ini manusia mempunyai tempat khusus, karena manusia
merupakan unsur yang dominan dalam keseluruhan ajaran keagammannya. Sebagaimana
yang diuraikan dalam trilakhana ada 3 corak yang umum dalam membicarakan tentang
manusia, yaitu :
Catur arya satyani (4 kesunyatan)
Hukum karma (hukum sebab akibat)
Tumimbal lahir (kelahiran kembali)
Kemudian manusia dalam ajaran budha merupakan kesatuan kelompok energi fisik dan mental yang
terus bergerak yang disebut punchakhanda yang mempunyai beberapa kegemaran, yaitu:
1) Rupakhanda. Kegemaran terhadap wujud/bentuk yang dapat diserap dan dibayangkan
dengan panca indra (didengar,dilihat,dirasa,dicium dan disentuh).
2) Wedana khanda. Kegemaran terhadap perasaan dalam hubungan panca indra dengan
dunia luar seperti timbulnya rasa senang,susah dsb.
3) Sannakhanda. Kegemaran penyerapan terhadap intensitaas indra dalam menanggapi
rangsanagn yang datang dari luar seperti bentuk suara, bau, cita rasa, sentuhan dan
pikiran.
4) Sankharakhanda. Kegemaran terhadap bentuk-bentuk pikiran yang sampai 50 macam
banyaknya yang timbul dari kegiatan mantal.
5) Vinnanakhanda. Kegemaran terhadap kesadaran, reaksi atau jawaban berdasarkan salah
satu dari keenam indra dengan objeknya.misal kesadaran mata (cakkhuvinana) adalah
untuk melihat benda-benda yang disadari baik, buruk atau netral.
Pancakhanda tersebut saling berkaitan satu sama lain. Kelimanya dapat diringkas menjadi dua, yaitu
nama dan rupa. Nama kumpulan dari perasaan, pikiran, penyerapan dan unsur rohaniah.
Sedangkan rupa adalah bersifat jasmaniah yang terdiri dari tanah, air api dan udara/hawa. Jadi manusia
itu merupakan kumpulan dari lima khanda tanda adanya atma atau roh. Sebagaimana diajarkan
dalam catur arya satyani hakikat dukkha ada 3:
Dukkha sebagai dukha-dukha. Yaitu penderitaan biasa yang dialami. Misal : peristiwa lahir,
usia tua, berpisah dari sesuatu yang dicintai dsb.
Dukkha sebagai viparmadukkha. Yaitu akibat terjadinya perubahan-perubaha(fisik, mental
dll).
Dukkha sebagai sankharadukkha. Yaitu akibat kebergantungan yang satu sama lain.
Ada 3 akar dari kejahatan (akusala): Lobha yaitu tamak, Moha yaitu kegelapan, Dosa yaitu kebencian.
Terhentinya dukkha manusia yang disebut dukkha nirodha berarti nirwana. Jadi nirwana itu berarti
padamnya kehausan (tanhakaya), tidak saling bergantung (asankhata), hapusnya keinginan (viroga),
terhentinya dukkha(niroda). Dengan demikian, nirwana itu adalah akhir dari proses yang terjadi dalam
diri manusia, yang dapat dibedakan sebagai berikut:
Nirwana sama dengan dharmakaya yang berarti bersih dari kecemasan
Uphadhisesa nirwana yang berarti walaupun sudah bebas dari pengaruh rintangan namun
masih ada hambatan kebendaan
Anuphaadhiesa nirwana yang berarti kebebasan sempurna dari segala rintangan
Nirwana yaitu tingkat yang tertinggi yang berarti penyerahan mutlak yang mendatangkan
kebaikan terhadap orang lain
e. Ajaran menuju nirwana
Tujuan akhir umat budha dalam hidup dan sesudah mati adalah nirwana, untuk itu umat
budha harus memahami HASTA ARYA MARGA yaitu delapan jalur sikap dan perilaku
untuk membebaskan diri dari dukkha. Kasunyatan ini juga merupakan majjhima pattipada
yaitu jalan tengah diantara dua hal yang ekstrim yaitu:
Mencari kebahagiaan dengan mengikutihawa nafsu yang rendah.
Mencari kebahagiaan dengan menyiksa dir dalam berbagai cara.
Dari 8 jalur perilaku untuk mencapai nirwana tersebut dapat dibagi dalam 3 kelompok ajaran yaitu :
Sila. Ialah ajaran kesusilaan yang didasarkan atas cinta dan welas kasih kepada semua
makhluk. Termsauk dalam sila ini ada 3 jalur:
o Sammavaca : berbicara benar
o Sammakamanta : berbuat yang benar
o Sammaajiva : bermatapencaharian yang benar
Tujuan ajaran ini adalah untuk mengembangkan perilaku yang seimbang dan bahagia baik untuk
diri sendiri maupun bagi orang lain disekitarnya.
Samadi. Ialah ajaran disiplin mental yang meliputi 3 unsur:
o Sammavayama:bedaya upaya benar
o Sammasati : menaruh perhatia yang benar
o Samma samadhi: berkonsentrasi yang benar
Panna. Ialah ajaran kebijaksanaan yang luhur yang terdiri dari dua unsur:
o Sammadithi :berpengertian yang benar
o Sammasankappa :berfikiran yang benar
Kedelapan perilaku utama yang terdir dari 8 unsur tersebut secara keseluruhan merupakan kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan dan harus dikembangkan bersama-sama yang seimbang. Oleh karena
sila adalah landasan semadi dan semadi adalah landasan panna. Jika pana berkembang maka
sila dan semadi akan menjadi lebih mantab, maka jika panna sudah sempurna sila bukan lagi
sebagai sikkha (latihan), melainkan akan terwujud dengan wajarnya.
Dalam kehidupan umat budha sehari-hari kedelapan jalur tersebut adalah dasar dan pedoman hidupnya
yang dijabarkan dalam konsep pancasila, hasta sila dasasila dan patrimokka sila.
1. Pancasila. Yaitu lima sila yang harus dipertahankan umat budha dalam kehidupan sehari-
hari:
a. Tidak akan menganiaya / membunuh
b. Tidaka akan mengambil .memiliki sesuatu yang bukan haknya
c. Akan melaksanakan hidup susila
d. Tidak serong, tidak berzina, tidak berdusta, tidak menipu atau memfitnah
e. Menjauhi percakapan yang tidak berguna dan harus berkata benar
2. Hasta sila. 8 janji para umat budha(orang awam) agar menjauhi perbuatan yang terlarang:
a. Tidak akan menganiaya/membunuh
b. Tidak akan mengambil / memiliki sesuatu yang bukan haknya
c. Tidak akan berzina
d. Tidak berdusta ,tidak menipu, tidak menfitnah dan menjauhi percakapan yang tidak
berguna
e. Menjauhi miras, makanan yang memabukkan / merusak kesadaran
f. Tidak akan makan setelah pukul 12
g. Tidak menari, menyanyi, main musik, melihat pertunjukkan , tidak memakai wewangian,
perhiasan dsb
h. Tidak akan memakai tempat duduk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah
3. Dasasila. Yaitu 10 janji bagi para bhikkhu dan samnera, yaitu janji untuk tidak melakukan
perbuatan sebagaimana dalam hasta sila sampai nomor 6 diatas dan yang nomor 7
dipecah menjadi 2 sehingga menjadi:
a. Tidak akan menari, menyanyi, bermain musik danmelihat pertunjukkan hanya untuk
memuaskan indra saja
b. Tidak akan memakai wangian,bungaan, minyak rambut dan perhiasan bersolek
laninnya
c. Tidak akan memakai tempat dudk dan tempat tidur yang tinggi dan mewah
d. Tidak akan menerima emas dan perak untuk dimiliki
4. Patimokha sila, yaitu sila utama dan paling tinggi bagi para bhikku dan bhikkhuni yang
telah menerima penahbisan(upasampada) berupa 227 peraturan dalam kehidupan sehari-
hari. Dengan berperilaku dalammelaksanankan hasta arya marga tersebut mak aumat
budha akan mencapai nirwana.
SANGHA DAN UPACARA
Agama Budha lebih mengutamakan penganutnya untuk berbuat (karma) membebaskan diri masing-masing dari
dukkha untuk mencapai nirwana. Umat Budha tidak memerlukan upacara persembahan atau pemujaan kepada
para Dewa (Tuhan) tetapi mereka cukup melakukan Hasta Arya Marga. Dilihat dari segi kelembagaan umat
Budha dapat dibedakan dalam dua kelompok, yaitu:
1. Kelompok Sangha Atau Kelompok Wihara (Biara)
Kelompok Sangha terdiri dari para bhikkhu, bhikkhuni, samanera, dan samaneri. Mereka menjalani
kehidupan suci untuk meningkatkan nilai-nilai kerohanian dan kesusilaan serta tidak
melaksanakan hidup berkeluarga. Yang dimaksud dengan Sangha menurut ajaran agama Budha
ialah Pasamuan dari makhluk-makhluk suci yang disebut Arya Punggala yaitu mereka yang
sudah mencapai buah kehidupan beragama yang ditandai dengan kesatuan pandangan yang
bersih dengan sila yang sempurna.
a. Tingkat kesucian yang mereka capai itu mulai dari:
Sotapatti
Tingkat pertama ini adalah di mana seseorang masih harus menjelma tujuh kali lagi sebelum
sampai nirwana. Pada tingkat ini seseorang masih harus berusaha mematahkan belenggu
kemayaan Akunya (Sakkayaditthi), keragu-raguan (vicikiccha), dan ketahayulan
(silabataparamasa) sebelum mereka dapat meningkat ke tingkat kedua yaitu Sakadagami.
Sakadagami
Tingkat kedua ini adalah di mana seseorang itu harus menjelma sekali lagi sebelum
mencapai nirwana. Ia harus dapat membangkitkan kundalini sebelum naik ke tingkat ketiga
Anagami
Anagami
Tingkat ketiga kesucian ini adalah dimana seseorang tidak perlu lagi menjelma untuk
mencapai nirwana, namun ia harus mematahkan belenggu kamaraga (kecintaan indrawi),
pategha (kemarahan atau kebencian).
Arahat
Tingkat keempat kesucian ini di mana seseorang itu harus mematahkan belenggu sebagai
berikut:
- Keinginan untuk hidup dalam ruparaga (bentuk)
- Keinginan untuk hidup arupara (tanpa bentuk)
- Kecongkakan (mano)
- Kegoncangan batin (udaccha)
- Kekurangan kebijaksanaan (avijja)
Selain empat tingkatan diatas menurut agama Budha masih ada tingkatan Asekha atau orang yang
sempurna (sabbanu) yang tidak perlu belajar lagi di bumi ini, di antaranya Sidharta Gautama yang telah
mencapai tingkat kebudhaan tanpa harus belajar atau berguru kepada orang lain.
b. Kedudukan sangha
Sangha itu tidak berkewajiban apapun terhadap umat Budha yang sifatnya lahiriah. Namun
ada hubungan rohaniah di mana para anggota Sangha merupakan:
- Teladan cara hidup yang suci
- Menyampaikan dharma atas permintaan umat
- Membantu umat Budha dengan nasihat atau penerangan batin dalam suka dan duka.
Sebaliknya dari umat Budha lainnya para anggota Sangha patut menerima pemberian (ahu neyyo),
tempat berteduh (pahuneyyo), persembahan (dokkineyyo), penghormatan (anjali karananiyo) dan
sebagai tempat menanam jasa yang tidak ada taranya di dunia (anuttaram panna khettam lokassaa)
Sangha tidak dapat dipisahkan dari dharma dan Budha, oleh karena ketiganya adalah
Triratna yang membentuk kesatuan tunggal dan merupakan manifestasi dari tiga asas dari
Yang Mutlak di dunia. Hubungan ketiga unsur itu adalah:
- Budha sebagai bulan purnama
- Dharma sebagai sinar yang menerangi dunia
- Sangha sebagai dunia yang bahagia menerima sinat itu.
c. Cara menjadi bhikkhu
Seseorang yang memasuki persaudaraan para bhikkhu atau bhikkhuni, untuk pertama
kalinya akan menerima jubah kuning. Ia tidak langsung diterima sepenuhnya sebagai bhikkhu
atau bikkhuni melainkan terlebih dahulu menjadi calon atau samanera dengan menepati
sepuluh janji (dasa sila), tekun mempelajari dharma, dan menggunakan waktu luangnya untuk
perenungan suci di bawah asuhan seorang bhikkhu atau bhikkhuni sebagai gurunya (acarya)
yang dipilihnya sendiri. Setelah selesai melakukan kesemuanya itu, barulah ia diterima
sepenuhnya menjadi bhikkhu dalam suatu upacara upasampada (penahbisan) yang dihadiri
para sesepuh atau para Thera. Jika ia wanita maka pentahbisannya dilakukan dua kali, pertama
oleh bhikkuni dan kemudian oleh bhikkhu sangha. Setelah itu barulah ia menjadi Bhikkhu atau
Bhikkhuni.
Sesudah menjadi Bhikkhu atau Bhikkhuni maka ia harus menjalani hidup bersih dan suci
sebagaimana ditentukan dalam Vinaya Pitaka yaitu melaksanakan 227 peraturan yang antara
lain:
- Peraturan tata tertib lahiriah
- Peraturan cara penggunaan pakaian, makanan dan kebutuhan hidup lainnya.
- Cara menanggulangi nafsu keinginan dan rangsangan batin
- Cara memperoleh pengetahuan batin yang luhur untuk penyempurnaan diri.
Selama masa lima tahun pertama sebagai Bhikkhu atau Bhikkhunu ia masih dalam ikatan keguruan,
setelah lebih dari 10 tahun ia sudah sebagai Thera.
2. Kelompok awam budha
Terdiri dari orang-orang yang telah mengakui Sang Budha sebagai pemimpin dan gurunya,
mengakui dan meyakini kebenaran ajaran Budha serta berusaha dengan sungguh melaksanakan
ajarannya. Mereka yang mengakui keagamaan Budha ini disebut Upasaka dan Upasaki.
Pengakuan terhadap agama Budha dinyatakan dengan niat dan tekad untuyk berlindung kepada
Budha, Dharma dan Sangha dengan mengucapkan Trisarana.
Dilihat dari tingkatan pemahaman seseorang terhadap ajaran Budha dan tanggung jawab
keagamaannya , maka kelompok masyarakat Budha awam ini dapat dibedakan sebagai berikut:
- Upasaka dan Upasaki yang benar-benar awam keagamaannya
- Yang disebut Bala Anupandita, Anu Pandita dan Pandita adalah mereka yang menjalankan tugas
sebagai penyebar dharma dan bergabung dalam organisasi umat Budha.
- Maha Upasaka, ialah para Pandita yang mengurus administrasi dan soal-soal teknis.
- Maha Pandita adalah para pandita yang mengurus khusus masalah keagamaan
- Anagarika adalah orang awam Budha yang diakui memilii pengetahuan dan kemampuan dalam
mengamalkan ajaran Budha Gautama.
3. Upacara agama budha
Bagi kelompok Budha awwami yang berlaku adalah
- Mengucapkan mantera-mantera dari dalam ktab suci
- Mengikuti ceramah atau wejangan keagamaan
- Menghaturkan sesajian yang bermanfaat bagi umat Budha
Tujuannya adalah untuk lebih memperkuat jiwa dan kepercayaan pada diri sendiri agar semakin tebal
keyakinan. Dari macam-macam upacara umat Budha terkandung beberapa prinsip, yaitu :
Untuk menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Triratna
Untuk memperkuat keyakinan
Untuk membina keadaan batin yang luhur
Untuk mengulang dan merenungkan kembali khotbah-khotbah Sang Budha
Untuk melakukan anumodhana atau membagi perbuatan baik kepada orang lain.
a. Hari-hari raya Budha
Hari-hari raya agama Budha adalah :
Hari Raya Waisak, hari raya ini jatuh pada bulan purnama sidhi, bulan mei-juni, untuk
memperingati tiga kejadian penting yaitu :
Saat kelahiran Sidharta Gautama
Saat Sang Petapa Sidharta mencapai pencerahan
Saat Sang Budha Gautama wafat dan mencapai nirwana
Hari Raya Asadha, hari raya ini jatuh pada bulan purnama sidhi, bulan juli-agustus, untuk
memperingati hari ketika Sang Budha mengajar dharma yang pertama kali kepada
kelima muridnya yang disebut pemutaran roda dharma. Bagi para Bhikku ini adalah hari
dimulainya menetap disatu tempat tertentu selama tiga bulan selama musim hujan.
Hari Raya Kathina, dirayakan tiga bulan setelah hari Asadha sebagai ungkapan rasa
terima kasih kepada para bhikku yang telah melaksanakan vassa.
Hari Raya Magha Puja, jatuh pada bulan purnama februari-maret untuk memperingati dua
kejadian penting, yaitu:
Berkumpulnya 1250 orang Arahat di wihara Veluvana dikota Rajagraha untuk
menghormati Sang Budha, setelah mereka kembali dari tugas menyebar dharma
Tahun terakhir kehidupan sang Budha sewaktu ia di Cetiya Pavala (Vesali) setelah
memberi khotbah Inddipadadarma kepada muridnya lalu membuat keputusan
untuk meninggalkan dunia tiga bulan kemudian.
b. Upacara perkawinan
Menurut keputusan Sangha Agung Indonesia di Lembah Cipandawa tahun 1978 dinyatakan bahwa
perkawinan sebaiknya dilaksanakan di Wihara atau Cetya, atau jika tidak ada dihadapan altar suci
Sang Budha atau Bodhisatva dengan terlebih dahulu Altar itu diresmikan dengan memanjat Paritta-
Paritta Vandana, Trisarana, Pancasila dan Puja. Kemudian yang berhak untuk melaksanakan
upacara perkawinan ialah Pandita agama Budha mulai dari Upasaka Balu Anu Pandita, Upasaka Anu
Pandita, Upasaka Pandita dan Maha Pandita.
c. Upacara kematian
Upacara dipimpin oleh seorang Pengacara atau Pemimpin Upacara dengan pelaksanaan sebagai
berikut :
Untuk pemberkahan jenazah disediakan satu gelas air putih bersih.
Pemimpin upacara membawa 2 atau 4 atau 6 batang dupa yang diikuti beberapa
peserta mengadakan prosesi mengelilingi jenazah hingga tiga kali.
Selesai prosesi baru dimulai membaca paritta-paritta dengan tenang dan tenteram, serta
selalu mengikuti pemimpin, jangan mendahului pemimpin upacara.

Hari Raya[sunting | sunting sumber]
Terdapat empat hari raya besar dalam Agama Buddha. Namun satu-satunya yang dikenal luas masyarakat adalah
Hari Raya Trisuci Waisak, sekaligus satu-satunya hari raya umat Buddha yang dijadikan hari libur nasional
Indonesia setiap tahunnya.
Waisak[sunting | sunting sumber]
Penganut Buddha merayakan Hari Waisak yang merupakan peringatan 3 peristiwa. Yaitu, hari kelahiran Pangeran
Siddharta (nama sebelum menjadi Buddha), hari pencapaian Penerangan Sempurna Pertapa Gautama, dan hari
Sang Buddha wafat atau mencapai Nibbana/Nirwana. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau
Buddha Purnima di India, Vesak di Malaysia dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka.
Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa
Sanskerta
Kathina[sunting | sunting sumber]
Hari raya Kathina merupakan upacara persembahan jubah kepada Sangha setelah menjalani Vassa. Jadi setelah
masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Dalam kesempatan tersebut,
selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu,
perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha.
Asadha[sunting | sunting sumber]
Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja. Hari raya Asadha, diperingati
2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati peristiwa dimana Buddha membabarkan Dharma
untuk pertama kalinya kepada 5 orang pertapa (Panca Vagiya) di Taman Rusa Isipatana, pada tahun 588 Sebelum
Masehi. Kelima pertapa tersebut adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah
mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat. Lima orang pertapa, bekas teman berjuang Buddha
dalam bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela merupakan orang-orang yang paling berbahagia, karena mereka
mempunyai kesempatan mendengarkan Dhamma untuk pertama kalinya. Selanjutnya, bersama dengan Panca
Vagghiya Bhikkhu tersebut, Buddha membentuk Arya Sangha Bhikkhu(Persaudaraan Para Bhikkhu Suci) yang
pertama (tahun 588 Sebelum Masehi ). Dengan terbentuknya Sangha, maka Tiratana (Triratna) menjadi lengkap.
Sebelumnya, baru ada Buddha dan Dhamma (yang ditemukan oleh Buddha).
Tiratana atau Triratna berarti Tiga Mustika, terdiri atas Buddha, Dhamma dan Sangha. Tiratana merupakan
pelindung umat Buddha. Setiap umat Buddha berlindung kepada Tiratana dengan memanjatkan paritta Tisarana (
Trisarana ). Umat Buddha berlindung kepada Buddha berarti umat Buddha memilih Buddha sebagai guru dan
teladannya. Umat Buddha berlindung kepada Dhamma berarti umat Buddha yakin bahwa Dhamma mengandung
kebenaran yang bila dilaksanakan akan mencapai akhir dari dukkha. Umat Buddha berlindung kepada Sangha
berarti umat Buddha yakin bahwa Sangha merupakan pewaris dan pengamal Dhamma yang patut dihormati.
Khotbah pertama yang disampaikan oleh Buddha pada hari suci Asadha ini dikenal dengan nama Dhamma Cakka
Pavattana Sutta, yang berarti Khotbah Pemutaran Roda Dhamma. Dalam Khotbah tersebut, Buddha mengajarkan
mengenai Empat Kebenaran Mulia( Cattari Ariya Saccani ) yang menjadi landasan pokok Buddha Dhamma.

Apa biksuni
Seorang biksuni adalah sebutan bagi seorang perempuan yang ditahbiskan menjadi anggota monastik
dalam agama Buddha. Bila yang pria disebut biksu ( bhikkhu ), maka yang wanita disebut biksuni
(bhikkhuni). Perhimpunan keduanya membentuk persaudaraan para biksu dan biksuni yang biasa
disebut Sangha. Para biksu dan biksuni hidup menjalani peraturan moral Buddhis yang ditetapkan
sendiri oleh Buddha Gautama. Peraturan ini disebut vinaya. Garis penahbisan biksuni yang
sesungguhnya masih bertahan sampai saat ini adalah yang berbasis Mahayana
biksuni yang sudah di botakin /dipangkas itu bertanda bihkuni yang tlah tlah menjadi seorang yang tlah
melupakan dunia fana dan menuju duniawi dan dalam arti kata di dalam vihara biar tidak ada
PERBEDAAN,semua adalah rata dan sama.

biksuni yang masi belum di pangkas masih belum siap melupakan dunia duniawi di dunia.

tentang amithohut;jika di vihara para umat buddha akan mengucapkannya dengan kata
amithofo....sebagai salam.
3. PENGERTIAN DASAR BUDDHA DARMA

Secara etimologi, perkataan Buddha berasal dari Buddh yang berarti bangun atau bangkit, dan dapat pula
berarti pergi dari kalangan orang bawah atau awam. Kata kerjanya, bujjhati, antara lain berarti bangun,
mendapatkan pencerahan, mengetahui, mengenal atau mengerti. Dari arti-arti etimologis tersebut,
perkataanBuddha mengandung beberapa pengertian seperti: Orang yang telah memperoleh kebijaksanaan
sempurna; orang yang sadar secara spiritual; orang yang siap sedia menyadarkan orang lain secara spiritual; orang
yang bersih dari kotoran batin yang berupa dosa (kebencian), lobha (serakah) dan moha (kegelapan)

Mengapa di buddha tak ada kasta
Sebelum agama buddha ada, agama yg pertama muncul adlh hindu di India. Selanjutnya dalam agama hindu dikenallah
sistem Kasta (Brahmana, Ksatria, Waisya & Sudra). Kemudian lama kelamaan muncul agama baru (buddha) yg dibawa
oleh Sidharta Gautama. Karena menyadari kekurangan agama sebelumnya, maka sistem kasta dalam agama buddha
ditiadakan, sehingga banyak penganut agama Hindu yg pindah ke agama Buddha. Org2 menganggap jika menganut
agama buddha, derajat manusia sama di hadapan Tuhan. Tapi dalam perkembangan selanjutnya agama buddha tdk di
terima baik di India, oleh karena itu para biksu menyebarkan agama buddha ke luar & jauh lebih berkembang di luar India
yakni Asia Timur dan Indocina.
1. Kasta Brahmana, orang yang mengabdikan dirinya dalam urusan bidang
spiritual ; sulinggih, pandita dan rohaniawan. Disandang oleh para Pribumi.
2. Kasta Ksatria, para kepala dan anggota lembaga pemerintahan. Seseorang yang menyandang gelar ini
tidak memiliki harta pribadi semua harta milik negara.
3. Kasta Waisya, orang yang telah memiliki pekerjaan dan harta benda sendiri petani, nelayan.
4. Kasta Sudra, pelayan bagi ketiga kasta di atasnya