Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

PEMISAHAN KIMIA


PERCOBAAN KE 9
9 November 2013
(ELEKTROGRAVIMETRI)


















(Anggie Puspita/110332406434)







UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA
2013
Elektrogravimetri

TUJUAN
Dapat memahami proses pemisahan tembaga dari suatu senyawa dengan menggunakan
teknik elektrogravimetri

DASAR TEORI
Elektrogravimetri adalah suatu metode yang menggunakan arus listrik (secaraelektrolisis)
untuk mengendapkan analit pada sebuah elektroda. Proses elektrolisis yangdilakukan
menggunakan dua buah elektroda (anoda dan katoda). Salah satu dari elektrodatersebut berfungsi
sebagai elektroda kerja yang fungsinya bergantung pada reaksi pengendapan yang terjadi. Jika
reaksi pengendapan yang terjadi adalah reaksi reduksi makaelektroda kerja berfungsi sebagai
katoda. Sedangkan jika reaksi yang terjadi adalah reaksioksidasi maka elektroda berfungsi
sebagai anoda.Pada percobaan ini yang dianalisis adalah ion Cu
2+
yang diendapkan pada
elektrodamenurut reaksi : Cu
2+
+ 2e Cu
. Elektron yang terlibat pada reaksi tersebut berasal dariarus listrik. Arus listrik diberikan sampai
seluruh ion Cu
2+
yang terdapat dalam larutanmengendap secara kuantitatif sebagai logam
tembaga pada elektroda kerja. Selisih beratelektroda kerja yang konstan sebelum dan setelah
proses elektrolisis adalah berat tembagayang terdapat dalam sampel. Potensial elektroda kerja
selama proses elektrolisis harus dijaga pada nilai tertentu untuk mencegah senyawa elektroaktif
lain dalam larutan ikut mengendap pada elektroda kerja.
Sebagian besar metode elektroanalisis didasarkan pada sifatsifat elektrokimia dari suatu
larutan. Hal ini mengingat bahwa suatu larutan elektrolit yang terdapat dalam suatu bejana yang
dihubungkan dengan dua buah elektroda akan memberikan arus listrik yang disebabkan oleh
adanya perbedaan potensial. Dalam sel elektrolisis, reaksi oksidasi reduksi berlangsung dengan
spontan, dan energi kimia yang menyertai reaksi kimia diubah menjadi energi listrik. Bila
potensial diberikan pada sel dalam arah kebalikan dengan arah potensial sel, reaksi sel yang
berkaitan dengan negatif potensial sel akan diinduksi. Dengan kata lain, reaksi yang tidak
berlangsung spontan kini diinduksi dengan energi listrik. Proses ini disebut elektrolisis. Salah
satu aplikasi dari proses elektrolisis adalah proses pengendapan pada suatu katoda. Proses ini
biasa disebut dengan elektrogravimetri, sebagai contoh adalah proses pelapisan suatu logam.
Dalam proses ini, logam akan dipisahkan melalui reduksi pada katoda sebagai unsur


ALAT DAN BAHAN
Alat
Amplas
Gelas kimia
Elektroda karbon
Elektroda Cu
Sumber tegangan
Amperemeter
Voltmeter
Stopwatch
Gelas ukur
Timbangan
Bahan
Larutan CuSO4 0,1 M
Larutan CuSO4 0,05 M


LANGKAH KERJA
1. Pada percobaan ini yang pertama dilakukan adalah mengambil larutan CuSO
4
0,1 M
sebanyak 50 mL dengan menggunakan gelas ukur 50 mL dan ditampung dalam gelas
beaker 50 mL.
2. Selanjutnya disiapkan elektroda karbon dan dibersihkan dengan menggunakan
amplas. Kemudian elektroda karbon ditimbang.
3. Disiapkan rangkaian eletrolisis dengan sumber listrik 6V pada voltmeter. Eletroda
karbon dirangkai katoda (+) dan anoda (-). Setelah itu dirangkai pula amperemeter
pada elektroda. Setelah semua siap, elektroda dicelupkan pada larutan CuSO
4
dan
voltmeter dinyalakan (stopwatch dijalankan).
4. Dicatat besar arus yang digunakan, beda potensial, dan waktu percobaan. Pada
percobaan ini, elektrolisis dilakukan selama masing-masing 25 menit.
5. Diulangi percobaan diatas dengan mengganti larutan CuSO
4
0,1 M dengan larutan
CuSO
4
0,05 M.
6. Pada percobaan ini, sumber listrik divariasi 6V dan 2V.
7. Dicatat semua data percobaan dan reaksi dalam elektrolisis. Setelah selesai proses
elektrolisis, elektroda ditimbang.



DATA DAN ANALISIS PERCOBAAN
Langkah Kerja Data Pengamatan


50 mL CuSO
4
0,1 M
Dimasukkan kedalam
gelas kimia 50 mL
Elektroda karbon
dibersihkan dan
ditimbang
Elektroda
dicelupkanpada
larutan
Dirangkai dengan
sumber listrik 6V dan
amperemeter
Dilakukan
elektrolisis
Dicatat pengamatan,
arus listrik, beda
potensial dan waktu
yang diperlukan
Hasil
50 mL CuSO
4
0,05 M
Dimasukkan kedalam
gelas kimia 50 mL
Elektroda karbon
dibersihkan dan
ditimbang
Elektroda
dicelupkanpada
larutan
Dirangkai dengan
sumber listrik 6V dan
amperemeter
Dilakukan
elektrolisis

Larutan CuSO
4
= biru muda

Berat awal
Katoda = 1,65 g
Anoda = 1,28 g



V = 6 V
I = 6 A
t = 25 menit
Pada anoda : terdapat
gelembung gas
Pada katoda : terdapat
endapan berwarna coklat

Berat akhir
Katoda = 1,66 g
Anoda = 1,28 g

Larutan CuSO
4
= biru muda

Berat awal
Katoda = 1,64 g
Anoda = 1,28 g



V = 6 V
I = 6 A
t = 25 menit
Pada anoda : terdapat
gelembung gas
Pada katoda : terdapat
endapan berwarna coklat


Hasil
Dicatat pengamatan,
arus listrik, beda
potensial dan waktu
yang diperlukan

Berat akhir
Katoda = 1,71 g
Anoda = 1,28 g
50 mL CuSO
4
0,1 M
Dimasukkan kedalam
gelas kimia 50 mL
Elektroda karbon
dibersihkan dan
ditimbang
Elektroda
dicelupkanpada
larutan
Dirangkai dengan
sumber listrik 4V dan
amperemeter
Dilakukan
elektrolisis
Dicatat pengamatan,
arus listrik, beda
potensial dan waktu
yang diperlukan
Hasil
Larutan CuSO4 = biru muda

Berat awal
Katoda = 1,64 g
Anoda = 1,27 g



V = 4 V
I = 4 A
t = 25 menit
Pada anoda : terdapat
gelembung gas
Pada katoda : terdapat
endapan berwarna coklat

Berat akhir
Katoda = 1,65 g
Anoda = 1,27 g
50 mL CuSO
4
0,05 M
Dimasukkan kedalam
gelas kimia 50 mL
Elektroda karbon
dibersihkan dan
ditimbang
Elektroda
dicelupkanpada
larutan
Dirangkai dengan
sumber listrik 4V dan
amperemeter

Larutan CuSO4 = biru muda

Berat awal
Katoda = 1,64 g
Anoda = 1,27 g



V = 4 V
I = 4 A
t = 25 menit



DISKUSI
1. CuSO
4
0.1 M 6V
Berat sampel awal dapat diperoleh dengan perhitungan dibawah ini, V=0,05 L, M=0,1
Mol CuSO
4
= M x V
= 0,1M x 0,05mL
= 0,005 mol
CuSO
4
Cu
2+
+ SO
4
2-

Mol Cu
2+
= mol CuSO
4

Massa Cu
2+
= mol Cu x Mr Cu
=0,005 mol x 63,5g/mol
= 0,3175 g
Dari hasil pengamatan, dapat dihitung berat endapan yang terdapat pada katoda Elektroda
Karbon
CuSO
4
0,1 M (6V)
Berat endapan = Berat katoda akhir Berat katoda awal
= 1,66 1,65
= 0,01 g
Kadar Cu =



=


= 3,15%
Kesimpulan: Berat Cu yang terbentuk pada katoda adalah 0,01 gram dengan kadar 3,15%
Reaksi yang terjadi:
Red (K): Cu
2+
(aq) + 2e Cu(s)
Oks(A): 2H
2
O(l) O
2
(g) + 4e + 4H
+
(aq)
Redoks: 2Cu
2+
(aq) + 2H
2
O(l) 2Cu(s) + O
2
(g) + 4H
+
(aq)
+
Hasil
Dilakukan elektrolisis
Dicatat pengamatan,
arus listrik, beda
potensial dan waktu
yang diperlukan

Pada anoda : terdapat
gelembung gas
Pada katoda : terdapat endapan
berwarna coklat

Berat akhir
Katoda = 1,66 g
Anoda = 1,27 g
2. CuSO
4
0.05 M 6 V
Berat sampel awal dapat diperoleh dengan perhitungan dibawah ini, V=0,05 L, M=0,05
Mol CuSO
4
= M x V
= 0,05M x 0,05mL
= 0,0025 mol
CuSO
4
Cu
2+
+ SO
4
2-

Mol Cu
2+
= mol CuSO
4

Massa Cu
2+
= mol Cu x Mr Cu
=0,0025 mol x 63,5g/mol
= 0,1587 g
Dari hasil pengamatan, dapat dihitung berat endapan yang terdapat pada katoda Elektroda
Karbon
CuSO
4
0,1 M (6V)
Berat endapan = Berat katoda akhir Berat katoda awal
= 1,71 1,64
= 0,07 g
Kadar Cu =



=


= 44,11 %
Kesimpulan: Berat Cu yang terbentuk pada katoda adalah 0,07 gram dengan kadar 44,14%
Reaksi yang terjadi:
Red (K): Cu
2+
(aq) + 2e Cu(s)
Oks(A): 2H
2
O(l) O
2
(g) + 4e + 4H
+
(aq)
Redoks: 2Cu
2+
(aq) + 2H
2
O(l) 2Cu(s) + O
2
(g) + 4H
+
(aq)


3. CuSO
4
0.1 M 4 V
Berat sampel awal dapat diperoleh dengan perhitungan dibawah ini, V=0,05 L, M=0,1
Mol CuSO
4
= M x V
= 0,1M x 0,05mL
= 0,005 mol
CuSO
4
Cu
2+
+ SO
4
2-

Mol Cu
2+
= mol CuSO
4

Massa Cu
2+
= mol Cu x Mr Cu
=0,005 mol x 63,5g/mol
+
= 0,3175 g
Dari hasil pengamatan, dapat dihitung berat endapan yang terdapat pada katoda Elektroda
Karbon
CuSO
4
0,1 M (6V)
Berat endapan = Berat katoda akhir Berat katoda awal
= 1,65 1,64
= 0,01 g
Kadar Cu =



=


= 2,69%
Kesimpulan: Berat Cu yang terbentuk pada katoda adalah 0,01 gram dengan kadar 2,69%
Reaksi yang terjadi:
Red (K): Cu
2+
(aq) + 2e Cu(s)
Oks(A): 2H
2
O(l) O
2
(g) + 4e + 4H
+
(aq)
Redoks: 2Cu
2+
(aq) + 2H
2
O(l) 2Cu(s) + O
2
(g) + 4H
+
(aq)

4. CuSO
4
0.05 M 4V
Berat sampel awal dapat diperoleh dengan perhitungan dibawah ini, V=0,05 L, M=0,05
Mol CuSO
4
= M x V
= 0,05M x 0,05mL
= 0,0025 mol
CuSO
4
Cu
2+
+ SO
4
2-

Mol Cu
2+
= mol CuSO
4

Massa Cu
2+
= mol Cu x Mr Cu
=0,0025 mol x 63,5g/mol
= 0,1587 g
Dari hasil pengamatan, dapat dihitung berat endapan yang terdapat pada katoda Elektroda
Karbon
CuSO
4
0,1 M (6V)
Berat endapan = Berat katoda akhir Berat katoda awal
= 1,66 1,64
= 0,02 g
Kadar Cu =



=


= 12,60%

+


Kesimpulan: Berat Cu yang terbentuk pada katoda adalah 0,02 gram dengan kadar 12,60%
Reaksi yang terjadi:
Red (K): Cu
2+
(aq) + 2e Cu(s)
Oks(A): 2H
2
O(l) O
2
(g) + 4e + 4H
+
(aq)
Redoks: 2Cu
2+
(aq) + 2H
2
O(l) 2Cu(s) + O
2
(g) + 4H
+
(aq)



DISKUSI
Pada percobaan ini diperoleh hasil data kadar Cu pada katoda masing-masing perlakuan
sangat kecil, hal ini dikarenakan oleh beberapa factor yaitu :
1. Pada saat elektrolisis, elektroda karbon dipegang oleh praktikan. Hal tersebut
menyebabkan banyak endapan Cu yang jatuh didalam larutan karena elektroda
tergoyang.
2. Pada pengukuran arus dengan menggunakan amperemeter, dikarenakan amperemeter
terdapat hanya 1, digunakan bergantian dengan kelompok lain. Hal tersebut berakibat
setelah selesai mengukur arus, melepas rangkaian kabel dari amperemeter menyebabkan
katoda goyang dan endapan jatuh kedalam sampel.
3. Pada saat pengeringan katoda dengan menggunakan kipas angina, terdapat endapan Cu
yang jatuh sehingga mengurangi hasil yang sesungguhnya.


DAFTAR PUSTAKA

Recknagel, Sebastian. 2010. Electrogravimetric Precision Determination of Copper. BAM

Zakia,Neena, S.si, M.si. 2013. Petunjuk Praktikum Pemisahan Kimia. Malang: Kimia FMIPA
UM.





+