Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pemerolehan bahasa merupakan tahapan yang sangat mengagumkan dari perkembangan
manusia. Anak-anak memperoleh pengetahuan sebuah bahasa atau beberapa bahasa disekeliling
mereka dalam kurun waktu cukup singkat dan dengan usaha yang kecil. Proses pemerolehan
bahasa ini tidak mungkin terjadi tanpa adanya dua komposisi penting yaitu dasar biologis untuk
memperoleh bahasa dan pengalaman berbahasa di lingkungan. Semua anak-anak melalui tahapan
perkembangan bahasa yang sama yaitu dari bayi sampai balita.
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak
kanak-kanak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa
biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-
proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak mempelajari bahasa kedua setelah dia
memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama,
sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Chaer, 2003:167).
Kemudian pentingnya mengetahui proses pemerolahan bahasa oleh seorang anak dalam
pandangan ahli sesuai dengan tahapan perkembangan usia mereka agar lebih mengoptimalisasi
proses pemerolehan bahasa seorang anak.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah makalah ini adalah bagaimana
proses pemerolehan bahasa seorang anak
2

C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah mengetahui proses pemerolehan bahasa seorang
anak.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Gejala biologis bahasa
Pemerolehan bahasa merupakan proses perkembangan yang alami dimana semua anak melalui
masa penting yang sama dan pada saat yang sama. Hal ini dimungkinkan karena kenyataan yang
ada bahwa bahasa tertanam dalam sistem biologis manusia. Jika bahasa manusia bersifat genetis,
terwakilkan dan terproses dalam otak manusia maka kemudian seorang bayi manusia akan
memperoleh sistem tersebut seiring berkembangnya otak. Proses ini dikenal dengan nama
pemerolehan bahasa model nativisme.
Penting disini untuk memperjelas tentang bagaimana kita memandang konsep
pemerolehan bahasa para nativis. Pernyataan kaum nativis ini bukan menyatakan bahwa manusia
memperoleh bahasa tanpa pengalaman akan sebaliknya. Kenyataanya, sistem biologis manusia
dan hewan membutuhkan input lingkungan sekitar sebagai pemicu atau rangsangan untuk
berkembang. Contohnya, sistem penglihatan manusia telah ada ketika lahir tetapi bayi yang baru
lahir tidak mampu membedakan input yang mereka terima dari kiri berbanding dari arah kanan
sehingga mereka tidak memiliki penglihatan mendalam. Selama bulan pertama input visual
memicu perubahan penting dimana otak mengatur rangsangan yang masuk dari kiri berbanding
3

dari arah kanan dan akhirnya bayi akan mencapai tahap dimana ia mampu melihat pemandangan,
melihat dalam jarak jauh dan jelas. Jika proses ini terganggu selama periode penting
perkembangan (beberapa awal bulan) seorang anak tidak akan mampu melihat dengan normal.
Pentingnya input eksternal dalam perkembangan penglihatan mutlak penting juga dalam
proses pemerolehan bahasa. Bayi yang telahir tuli kemudian tidak dapat bicara, tidak dapat
memeroleh bahasa lisan dikarenakan mereka kurang rangsangan dari lingkungan. Akan tetapi
Bayi tuli dapat memperoleh bahasa signal sama seperti bayi normal memperoleh bahasa lisan
jika lingkungan tersebut menggunakan bahasa signal. Pernyataan nativisme adalah
perkembangan otak membantu seorang bayi dengan kecenderungan untuk memperoleh bahasa
tetapi pemerolehan bahasa tidak akan terjadi dalam sebuah ruang kosong. Seorang anak harus
diekspos dengan input luar agar mampu membentuk tata bahasa dan kosa kata.
Para pakar psikolinguistik mendukung beberapa bagian dari teori nativisme dalam
pemerolehan bahasa. Akan tetapi perbedaan yang muncul adalah aspek bahasa dan aspek kognisi
apa yang berasal dari biologis dan apa peran lingkungan dalam pemerolahan bahasa. Banyak
pakar psikolinguistik setuju bahwa bahasa diperoleh didasarkan pada Universal Grammar,
pengetahuan bahasa bawaan yang membantu perkembangan tata bahasa anak.
Ahli lain seperti Chomsky menyebut anak sebagai LAD (Language Acquisition Device).
LAD yang dimaksud oleh Chomsky di sini merupakan alat yang ada di dalam otak anak yang
memungkinkan keadaan untuk memperoleh bahasa. Seorang anak berinteraksi dengan
lingkungan sekitarnya kemudian memproses masukan melalui sistem biologis pemerolehan
bahasa (Universal Grammar dan strategi pemerolehan) dan akhirnya menghasilkan sebuah tata
bahasa dan sebuah kosa kata. Perantara input tidaklah penting. Proses internal akan terjadi jika
4

tanda terdiri dari ucapan atau gerakan. Bahasa khusus sebagai input juga tidak penting selama
bahasa itu merupakan bahasa manusia seperti, English, Spanish, chinese, or bahasa lainya yang
dapat diperoleh oleh seorang anak. Jika lingkungan memberikan ekspos yang berkesinambungan
terhadap lebih dari satu bahasa maka lebih dari satu tata bahasa dan kata akan berkembang.
Tentu saja tata bahasa dan kata sempurna seperti orang dewasa tidak berkembang secara
singkat. LAD menciptakan rangkaian tata bahasa dan kata serupa dewasa seorang anak sesuai
dengan pola umum bahasa manusia. Kebanyakan dasar tata bahasa dan kosa kata akan tersusun
seiring waktu seorang anak bersekolah (sekitar usia 5 atau 6) jumlah kata dan kemampuan
memproses bahasa serta kemampuan metalinguistic akan terus berkembang.
Kecepatan dan kemudahan seorang anak memperoleh bahasa kebanyakan dipengaruhi
oleh Universal Grammar yang merupakan bentuk umum dari bahasa manusia dan bagian dari
genetis seorang anak. Semua bahasa memiliki susunan yang serupa yaitu, phonological,
morphological, dan komponen sintaksis. UG memberikan sebuah landasan dari tata bahasa
semua bahasa manusia dan sebuah kumpulan parameter yang membedakan bahasa. UG
menuntun perkembangan bahasa dalam tiga cara. Pertama, seorang anak akan mengembangkan
sebuah tata bahasa yang terdiri atas system bunyi, system kata dan system kalimat. Kedua,
komponen-komponen tersebut akan masuk dalam landasan prinsipil dari semua bahasa manusia.
Ketiga, parameter dalam UG akan menuntun penjelajahan seorang anak akan karakter tertentu
bahasa tujuannya. Seorang anak tidak akan mendapati susunanan bahasa ini melalui pengalaman.
Hal ini dimungkinkan oleh perkembangan otak anak. Prinsip universal dari susunan kata akan
menuntun kosa kata yang sempurna.
B. Ragam bahasa di Lingkungan.
5

Tujuan utama lingkungan adalah untuk membiasakan anak dengan bahasa. Lingkungan
memberikan kesempatan bagi seorang anak untuk belajar dan mengembangkan tata bahasa
seperti orang dewasa. Input biasanya berasal dari orang-orang sekitar yang berinteraksi dengan
sang anak seperti orang tua, pengasuh, saudara, anak-anak lainnya atau orang dewasa yang
terlibat. Ditekankan bahwa seorang anak harus diajak bercakap dimana seorang anak akan
memperoleh input yang dapat membantunya memahami cara kerja bahasa.
Ada beberapa fakta penting tentang pemerolehan bahasa yang membatasi pandangan kita
tentang peran lingkungan. Setiap anak dengan latar belakang budaya berbeda memperoleh
bahasa dengan proses yang serupa dan pada waktu yang kurang lebih bersamaan. Hal ini
mengindikasikan bahwa ragam input dari lingkungan yang dianggap penting dalam tahapan
perkembangan bahasa harus ada di setiap komunitas bahasa di seluruh dunia. Contohnya, para
orang tua di Amerika Serikat menganggap interaksi verbal dengan anak-anak mereka sangat
penting karena mereka mengajar bahasa kepada anak-anak mereka dan interaksi ini penting
dalam proses pemerolehan bahasa. Ada budaya-budaya dimana orang dewasa jarang berbicara
dengan anak-anak mereka. Anak-anak yang berlatar belakang budaya ini memperoleh
pengetahuan bahasanya dari anak yang lebih tua. Hal ini terjadi di beberapa komunitas di bagian
baratlaut Brasil, praktek kebudayaan tertentu mengarahkan pada multilingualisme. Para wanita
harus menikah dengan para pria yang berbeda bahasa yang disebut linguistic exogamy. Setelah
menikah, mereka menetap di desa suami mereka berdasarkan asas patrilocal. Anak-anak hasil
pernikahan ini terekspos dengan bahasa baik bahasa ibu maupun bapak disamping bahasa
lainnya. Akan tetapi, anak-anak ini tidak aktif menggunakan bahasa ibu mereka dan mereka
lebih banyak menggunakan bahasa ayah mereka karena dipandang lebih berharga dan
merupakan bahasa nasional di desa. Meskipun mereka tidak aktif menggunakan bahasa ibu
6

mereka, anak-anak ini terus terekspos dengan bahasa ini sehingga mereka kompeten berbahasa
bahasa ibu mereka.
Kasus di atas jelas bahwa para orang tua atau para pengasuh tidak harus mengajarkan
bahasa kepada anak mereka. Anak-anak diseluruh dunia memperoleh bahasa dalam kondisi
budaya dan sosial yang beragam sehingga apapun cara yang digunakan oleh para orang tua sama
baiknya. Para orang tua memang harus memberikan input bahasa kepada anak mereka dan
kesempatan untuk berinteraksi dengan input untuk mematangkan pemerolehan (contoh kasus Jim
dan Glen). Di situasi budaya dimana pengetahuan tentang bahasa berasal dari orang-orang luar
selain keluarga (contohnya anak-anak sebaya) pengetahuan bahasa harus dilakukan dalam situasi
yang interaktif. Tetapi anak-anak tidak harus di beri penghargaan, di dorong untuk mengimitasi
bahasa sekitar mereka atau dikoreksi ketika mereka membuat kesalahan dan keluarga tidak perlu
mengubah cara mereka berbicara (atau tanda) untuk meyakinkan keberhasilan pemerolehan
bahasa.
Sebuah pandangan tentang pemerolehan bahasa yang kuno menyatakan bahwa siswa
harus diberi penghargaan ketika mereka mengucapkan sesuatu dengan benar dan tidak diberi
penghargaan ketika salah mengucapkan secara tata bahasa. Penelitian menyatakan bahwa para
orang tua tidak mempraktekkan cara ini ketika berinteraksi dengan anak-anak mereka. Brown
dan Hanlon menunjukkan bahwa para orang tua menghargai anak-anak mereka baik ketika
mereka mengucapkan sesuatu benar ataupun salah secara tata bahasa. Para orang tua umumnya
menikmati bercakap-cakap dengan anak mereka dan menghargai setiap hal yang anak mereka
ucapkan (Brown and Hanlon 1970; Hirsh-Pasek, Treiman, dan Schneiderman 1984).
7

Teori lainnya menyatakan bahwa anak-anak memperoleh bahasa dengan cara
mengimitasi bahasa orang sekitarnya. Proses imitasi ini harus dipahami dengan jelas. Imitasi
terjadi ketika seorang anak mengulang apa yang orang dewasa telah ucapkan atau mengucapkan
versinya sendiri langsung setelah mendengar. Contohnya; orang dewasa mengatakan this is a big
blue ball dan kemudian seorang anak langsung mengucapkan Blue ball. Variasi bahasa pada
proses imitasi ini berbeda tergantung pada setiap anak. Pada kenyataannya tidak semua anak
mengimitasi dan anak-anak yang mengimitasi tidak selalu mengimitasi setiap waktu. Tidak ada
bukti yang menunjukkan bahwa para imitator memperoleh bahasa lebih cepat dari non imitator.
Anak-anak yang orang dewasa sekitarnya mendorong imitasi tidak menunjukkan memperoleh
bahasa lebih cepat dari yang tidak.
Orang tua dan orang dewasa lainnya umumnya merasa bahwa mereka mempunyai
kewajiban untuk membantu proses pemerolehan bahasa anak mereka dan meyakini bahwa
mengkoreksi kesalahan itu penting. Orang tua mengkoreksi anak mereka ketika mengucapkan
sesuatu yang nyata tidak tepat atau perkataan tidak senonoh (para orang tua biasanya tidak
mentolerir sumpah-menyumpah atau bahasa kotor). Tetapi kemudian bukannya mengoreksi
mereka merasa hal itu lucu. Lebih lanjut, kesalahan yang dilakukan seorang anak kadang kala
tidak terdeteksi. Dan jika terdeteksi, memperbaiki sama sekali tidak membantu.
Beberapa ragam bahasa di lingkungan anak telah banyak dipelajari di beberapa budaya
berbeda. Ragam ini dikenal dengan istilah bahasa langsung bayi atau motherese. Salah satu jenis
penting yaitu prosodic yaitu ketika orang dewasa berbicara dengan anak kecil mereka cenderung
menggunakan nada yang berbeda.

8

C. Tahapan tahapan perkembangan
Telah dibahas di paragraf awal bahwa anak-anak dimanapun mengalami perkembangan bahasa
pada saat yang sama. Tahapan-tahapan yang dilalui seorang anak dalam masa perkembangan
bahasanya yaitu:

1. Sebelum lahir sampai 12 bulan
Banyak kejadian yang membuktikan bahwa para bayi memahami bahasa manusia dari
saat mereka dilahirkan. Pada kenyataannya kepekaan terhadap bahasa telah hadir bahkan
sebelum lahir. Pendengaran mulai berkembang selama trisemester kedua sekitar 18 minggu
dan pada awal trisemester ketiga, cabang bayi merespon terhadap rangsangan suara. Sebuah
penelitian oleh Barbara Kisilevsky dan kawan-kawan (Kisilevsky et al. 2003) menyatakan
bahwa cabang bayi usia 38 minggu lebih suka mendengar suara ibu mereka dari suara asing
lain yang ditandai dengan meningkatnya denyut jantung atau pergerakan tubuh.
Ketika bayi lahir, para bayi ini mampu meramu setiap prosodi (ritme dan intonasi) dari
bahasa lingkungannya. Prosodi memerankan bagian penting dalam proses mempelajari tata
bahasa. Para bayi menggunakan aturan dalam ritma dan intonasi agar dapat membedakan
bunyi tertentu.
Pencapaian pada tahun pertama adalah pengidentifikasian bunyi. Pada usia setengah
tahun, para bayi berinteraksi dalam bentuk yang berbeda dengan sekelilingnya. Vokalisasi
mereka masih lembut. Satu tahun, proses babbling dimulai. Babbling terdiri atas silable
tunggal sebuah konsonan dan sebuah vocal. Awalnya, babbling yaitu serangkaian bunyi yang
9

sama silabinya seperti baba baba. Setelah itu, babbling akan berkembang menjadi baga bada
yang dikenal dengan istilah segmental babbling. Vokalisasi ini memiliki intonasi seperti
kalimat dalam kalimat deklaratif atau pertanyaan yang berasal dari kata-kata tidak bermakna.
Fase ini merupakan tahapan yang menarik karena babbling sama sekali tidak bermakna.
Mendengar seorang anak babbling, kadang membuat orang dewasa berpikir anak tersebut
ingin menyampaikan sesuatu tetapi sebenarnya mereka sedang bermain dengan susunan
bunyi bahasa. Selama tahapan ini seorang anak babbling ketika sendirian.
2. 12 24 bulan
Bayi 9 bulan mampu membedakan kata dari rangkaian ujaran dan mengenali lebih dalam
setelahnya (Aslin et al, 1996). Akan tetapi pada usia 12 18 bulan baru para bayi
memproduksi kata pertama mereka. Kata pertama mereka kedengaran tidak berbeda dengan
babble tetapi dianggap sebagai kata karena memiliki referen. Seorang anak membutuhkan
beberapa bulan selama tahapan satu kata ini yang dikenal dengan periode holophrastic karena
setiap kata sama maknanya dengan sebuah frasa. Kata milk sebagai contohnya tidak saja
digunakan untuk menunjukkan milk tetapi untuk meminta susu, menggambarkan kucing yang
sedang minum susu, menunjukkan susu yang tumpah. `
Selama masa ini terdapat phenomena kembar yaitu underextension dan overextension
dari penggunaan kata. Underextension merupakan keadaan yang mana seorang anak akan
memperoleh sebuah kata untuk sebuah benda tertentu dan gagal untuk mengembangkan
kepada benda yang lain dalam kategori yang sama. Contoh, jika seorang anak belajar kata
flower (buku) berhubungan dengan rose (mawar) dan gagal untuk mengembangkan makna
kata flower terhadap jenis bunga yang lain. Overextension lebih sering terjadi dan lebih
10

terlihat. Overextension adalah ketika seorang anak menggambarkan sebuah kata dengan tidak
tepat terhadap benda yang serupa. Contoh, seorang anak mungkin menyebut hewan berkaki
empat sebagai anjing atau apapun yang terang sebagai lampu. Perilaku berbahasa seperti ini
bukan karena anak-anak tidak mampu membedakan kucing dan anjing. Hal ini lebih
dikarenakan mereka belum mempunyai kosa kata yang cukup untuk menggambarkan sebuah
benda dengan tepat.
Selanjutnya, ketika kosa kata seorang anak mencapai 50 kata, dua hal menarik terjadi.
Seorang anak mulai menggabungkan kata-kata menjadi kalimat dasar. Kata-kata dipelajari
lebih cepat pada masa vocabulary Spurt dan pemerolehan kosa kata meningkat. Dapat
diestimasi bahwa seorang anak usia 6 tahun memiliki 8000 14000 kata. Ciri menarik pada
masa vocabulary spurt yaitu fast mapping yang terjadi ketika seorang anak mendengar
sebuah kata sekali atau dua kali, belajar kelas katanya tetapi sedikit memahami arti dari kata
tersebut. Anak tersebut kemudian akan menggunakan kata tersebut tersebut dalam kalimat
yang lambat laun akan mengantarkan pada pemahaman sempurna akan kata tersebut. Contoh,
salah seorang dari kita memiliki patung kucing di ruang tamu dan seorang anak datang
berkunjung kemudian berkata kucingnya malu. Anak ini mungkin pernah mendengar kata
malu yang menunjukkan kepada anak-anak yang pendiam di sekolahnya. Patung kucing yang
tidak bergerak ini cocok dengan fast-mapping makna malu anak ini. Alhasil, kalimat anak
ini benar secara tata bahasa tetapi bermakna lucu.
3. Tahun masuk taman kanak-kanak
Setelah melalui masa satu kata, perkembangan kosa kata anak meningkat dan seorang
anak mulai menggabungkan kata-kata untuk membentuk kalimat sederhana. Anak-anak yang
11

belajar berbahasa inggris sangat memperhatikan aturan seperti harus ada subyek yang diikuti
oleh kata kerja dan kata kerja diikuti kata benda (mummy push, Pull car). Kalimat juga hanya
dapat terdiri atas sebuah subyek dan sebuah obyek (baby cookie) tetapi anak-anak ini selalu
tepat menggunakannya.
System pembentukan kata (morpologis) dan kalimat (sintaksis) bahasa anak pada tahap
ini sangat menarik. Pemerolehan bahasa Inggris awal anak-anak disebut telegrafis karena
banyak kata-kata yang hilang. Sama seperti ketika kita mengirim telegram, kita menghemat
kata sebaik mungkin karena biaya yang dibebankan. Meskipun anak-anak tidak secara penuh
menggunakan kata-kata dalam kalimat mereka hal ini tidak berarti mereka tidak sadar. Pada
dasarnya mereka sadar dengan keberadaan bagian-bagian tertentu pada kalimat teman-
temannya. Berikut contoh ujaran anak usia 23 bulan bernama Hannah yang sama seperti
sebuah telegram
No Hannah mess
No Daddy mess
Where go, mom?
Mom, talk phone.
Mommy like it
Want juice
More crackers
Daddy push in swing
Go subby

Ujaran Hannah di atas tidak terdapat morfem terikat, tidak ada penanda tenses, penanda
jamak, dan lain-lain. Kalimat negatif diawali dengan kata no. akan tetapi, ujaran di atas
mematuhi aturan susunan dalam kalimat bahasa Inggris.
Selebihnya, bahasa apapun yang diperoleh seorang anak, subyek selalu hilang contoh
ujaran Hannah want juice bukan I want juice. Anak-anak sangat sering menghilangkan
12

subyek dari pada obyek. Bahasa manusia memungkinkan sipengguna menghilangkan subyek
pada keadaan tertentu. Hal ini yang disebut sebagai null subject parameter yang merupakan
variasi dari UG.
Pada usia tiga tahun, seorang anak sudah mampu sedikit demi sedikit memperpanjang
kalimat dan menggunakan morfem terikat.
D. Perkembangan Lanjutan bahasa
Seiring bertambahnya usia, bahasa anak - anak bertambah fasih. Kapasitas mereka memproses
meningkat dan kemampuan menghasilkan dan memahami semakin baik dan kalimat kompleks
meningkat. Mereka kemudian mengembangkan kemampuan discourse dan kesadaran
metalinguistic.
1. Kemampuan discourse (discourse ability)
Discourse ability meliputi beberapa hal yaitu pertama kemampuan seorang anak memahami
informasi. Kedua, kemampuan menggunakan kata ganti. Penggunaan kata ganti anak-anak
biasanya kata ganti yang ambigu yaitu ketidakjelasan referen dari kata ganti yang digunakan.
Contoh berikut adalah narasi yang dibuat oleh seorang anak kecil
Once upon a time there was a little pig that was called Jose dan another, Carlos. One
day he invited him to his house. After they sat on the rug to chat.. after he invited him to his
room, and they drew. He also showed him many toys that he had.
Sangat mustahil untuk mengidentifikasi penggunaan pronoun pada narasi di atas yang
mengarah pada apa Jose atau Carlos.
13

Ketiga, anak-anak mampu untuk bercerita. Umumnya, cerita mereka sederhana yang terdiri
dari tokoh utama, sebuah masalah dan sebuah penyelesaian.

2. Kesadaran metalinguistic
Kemampuan penting lainnya yang berkembang adalah metalinguistic. Pentingnya
kemampuan ini dikarenakan oleh keterkaitan dengan kemampuan membaca awal.
Metalinguistic merupakan kesadaran bahasa sebagai obyek bukan semata alat
berkomunikasi. Kemampuan metalinguistic meliputi kemampuan menghargai dan
menjelaskan metafora, lelucon dan bahasa figurative. Kemampuan untuk mendeteksi
ambigu adalah kemampuan metalinguistic. Kemampuan metalinguistic yang lain adalah
kesadaran akan kesalahan tata bahasa. Kemampuan ini memungkinkan anak untuk
menentukan bahwa sebuah kalimat tidak benar secara tata bahasa .
E. Pemerolehan bahasa kedua
Anak-anak yang terekspos terhadap 2 bahasa secara simultan sejak lahir merupakan pemeroleh
bahasa bilingual. Ada Bilingualis yang memperoleh dua bahasa secara bergantian.bahasa yang
diperoleh setelah bahasa pertama disebut pemerolehan bahasa kedua meskipun bahasa yang
dipelajari adalah bahasa ketiga, keempat dan seterusnya. Banyak peneliti memfokuskan kajian
mereka pada pengidentifikasi persamaan dan perbedaan dari pemerolehan bahasa pertama dan
kedua. rangkaian perkembangan kedua pemerolehan bahasa sangat sama. Banyak penelitian
yang memfokuskan pada pemerolehan bahasa kedua pada tataran perkembangan morfosintaksis
siswa. Hasil umum yang didapat adalah morfem terikat yang dikuasai sama dengan bahasa
14

pertama. Pembelajar bahasa kedua juga mampu menghasilkan dan memproses kalimat sederhana
sebelum kalimat kompleks sama seperti pembelajar bahasa pertama (Pienemann et al, 2005)
Perbedaan yang mendasar antara bahasa pertama dan bahasa kedua yaitu kecepatan
pemerolehan dan kefasihan. Perkembangan grammar bahasa kedua didasarkan pada bahasa
pertama. Fenomena yang dikenal dengan istilah fosilisasi. Pemerolehan bahasa kedua juga
terafeksi dengan usia. Pembelajar tua tidak sebaik pembelajar muda meskipun pemerolehan
bahasa kedua bagi orang dewasa bukanlah hal yang mustahil. Hal lain yaitu budaya takut berbuat
salah dan malu sehingga pembelajar bahasa kedua tidak termotivasi. Ekspos bahasa kurang
sehingga pembelajar bahasa kedua tidak dapat input yang cukup seperti anak-anak memperoleh
bahasa pertama. Semua hal ini merupakan perbedaan antara pemerolehan bahasa pertama dan
kedua.

BAB III
KESIMPULAN
Proses pemerolehan bahasa setiap anak terjadi pada saat yang sama. Pada proses pemerolehan ini
system biologis dan lingkungan menjadi dua komponen yang mutlak ada demi terlaksananya
proses pemerolehan bahasa yang sempurna. Beberapa tahapan yang dilalui seorang anak akan
menghantarkannya pada akhir perkembangan yang memungkinkannya untuk menggunakan
bahasa dengan sempurna.


15

Daftra Pustaka
Fernandez, Eva M dan Cairns Helen S. (2010), Fundamentals of Psycholinguistics, Wiley-
Blackwell; USA