Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM PENCERNAAN

KOLIK ABDOMEN & TRAUMA ABDOMEN


PROGRAM S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BUDI LUHUR
CIMAHI
2014
2.1 KOLIK ABDOMEN
A. Penge!"#n
Kolik Abdomen adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang
traktus intestinal (Nettina, 2001). Obstruksi terjadi ketika ada gangguan
yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi
peristaltiknya normal (ee!es, 2001).
B. E!"$%$g"
1. "ekanis
# Adhesi$ perlengketan pas%abedah (&0' dari obstruksi mekanik)
# Karsinoma
# (ol!ulus
# )ntususepsi
# Obstipasi
# *olip
# +triktur
2. ,ungsional (non mekanik)
# )leus paralitik
# -esi medula spinalis
# .nteritis regional
# Ketidakseimbangan elektrolit
# /remia
C. M#n"&e'!#'" K%"n"(
1. "ekanika sederhana 0 usus halus atas
Kolik (kram) pada abdomen pertengahan sampai ke atas, distensi,
muntah empedu a1al, peningkatan bising usus (bunyi gemerin%ing
bernada tinggi terdengar pada inter!al singkat), nyeri tekan di2us
minimal.
2. "ekanika sederhana 0 usus halus ba1ah
Kolik (kram) signi2ikan midabdomen, distensi berat,muntah 0 sedikit
atau tidak ada 0 kemudian mempunyai ampas, bising usus dan bunyi
3hush4 meningkat, nyeri tekan di2us minimal.
5. "ekanika sederhana 0 kolon
Kram (abdomen tengah sampai ba1ah), distensi yang mun%ul terakhir,
kemudian terjadi muntah (2ekulen), peningkatan bising usus, nyeri
tekan di2us minimal.
6. Obstruksi mekanik parsial
7apat terjadi bersama granulomatosa usus pada penyakit 8rohn.
9ejalanya kram nyeri abdomen, distensi ringan dan diare.
:. +trangulasi
9ejala berkembang dengan %epat; nyeri parah, terus menerus dan
terlokalisir; distensi sedang; muntah persisten; biasanya bising usus
menurun dn nyeri tekan terlokalisir hebat. ,eses atau !omitus menjadi
ber1arna gelap atau berdarah atau mengandung darah samar.
D. Pe)e"('##n Pen*n+#ng
1. +inar < abdomen menunjukkan gas atau %airan di dalam usus
2. =arium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau
lipatan sigmoid yang tertutup.
5. *enurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah;
peningkatan hitung +7* dengan nekrosis, strangulasi atau peritonitis
dan peningkatan kadar serum amilase karena iritasi pankreas oleh
lipatan usus.
6. Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis
metabolik.
E. Pen#!#%#('#n##n Me,"'-Be,#.
1. Koreksi ketidakseimbangan %airan dan elektrolit >
2. ?erapi Na@, K@, komponen darah
5. inger laktat untuk mengoreksi kekurangan %airan interstisial
6. 7ekstrosa dan air untuk memperbaiki kekurangan %airan intraseluler
:. 7ekompresi selang nasoenteral yang panjang dari proksimal usus ke
area penyumbatan; selang dapat dimasukkan dengan lebih e2ekti2
dengan pasien berbaring miring ke kanan.
A. )mplementasikan pengobatan unutk syok dan peritonitis.
B. Ciperalimentasi untuk mengoreksi de2isiensi protein karena obstruksi
kronik, ileus paralitik atau in2eksi.
D. eseksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung.
&. Ostomi barrel#ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu
beresiko.
10. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran 2eses dan
mendekompresi usus dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai
prosedur kedua.
/. K$n'e0 D#'# A'*.#n Ke0e#1#!#n
I. Peng#(#+"#n
a. )dentitas klien
1) Nama
2) /mur
5) Eenis kelamin
6) +uku bangsa
:) *ekerjaan
A) *endidikan
B) Alamat
D) ?anggal "+
&) 7iagnosis
b. Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan klien sebelum "+ dan saat "+.
=iasanya klien mengeluh nyeri perut, de2ans muskular, muntah dan
lain#lain.
%. i1ayat kesehatan
# i1ayat kesehatan sekarang
=agaimana serangan itu timbul, lokasi, kualitas, dan 2aktor
yang mempengaruhi dan memperberat keluhan sehingga
diba1a ke umah +akit.
# i1ayat kesehatan dahulu
"egkaji apakah klien pernah sakit seperti yang dirasakan
sekarang dan apakah pernah menderita C? atau penyakit
keturunan lainnya yang dapat mempengaruhi proses
penyembuhan klien.
# i1ayat kesehatan keluarga
9ambaran mengenai kesehatan keluarga dan adakah penyakit
keturunan atau menular.
d. *ola# pola 2ungsi kesehatan
# *ola pesepsi dan tata laksana hidup sehat
*erubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan kesehatan
sehingga dapat menimbulkan pera1atan diri.
# *ola nutrisi dan metabolisme
?erjadi gangguan nutris karena klien merasakan nyeri sehingga
tidak toleran terhadap makanan dan klien selalu ingin muntah.
# *ola eliminasi
?erjadi gangguan karena klien tidak toleran terhadap makanan
sehingga terjadi konstipasi.
# *ola akti!itas dan latihan
Akan terjadi kelemahan dan kelelahan.
# *ola persepsi dan konsep diri
?idak terjadi gangguan $ perubahan dalam diri klien.
# *ola sensori dan kogniti2
Kurangnya pengetahuan akan menyebabkan %olli% abdomen
yang berulang.
# *ola reproduksi dan seksual
?idak terjadi dalam gangguan dalam pola reproduksi dan
seksual.
# *ola hubungan peran
Kemungkinan akan terjadi perubahan peran selama klien sakit
sehubungan dengan proses penyakitnya.
# *ola penanggulangan stress
=agaimana %ara klien mengatasi masalahnya.
# *ola tata nilai dan keper%ayaan
?idak terjadi gangguan pada pola tata nilai dan keper%ayaan.
e. *emeriksaan 2isik
# +tatus kesehatan umum
Akan terjadi nyeri perut yang hebat, akibat proses penyakitnya.
# +istem respirasi
+esuai dengan derajat nyerinya, jika nyerinya ringan
kemungkinan tidak terjadi sesak tapi jika derajat nyerinya hebat
$ meninggi akan terjadi sesak.
# +istem kardio!askuler
=isa terjadi takikardi, brodikardi dan disritmia atau penyakit
jantung lainnya.
# +istem persyara2an
Nyeri abdumen, pusing$sakit kepala karena sinar.
# +istem gastrointestinal.
*ada sistem gastrointestinal didapatkan intoleran terhadap
makanan $ na2su makan berkurang, muntah.
# +istem genitourinaria$eliminasi
?erjadi konstipasi akibat intoleransi terhadap makanan.
2. Analisa 7ata
# 7ata 1
7s > Nyeri pada perut
7o > .kspresi 1ajah penderita, postur tubuh, berhati#hati
dengan abdomen, respon autonomik misalnya perubahan tanda
!ital.
"asalah > 9angguan rasa nyaman (nyeri akut $ kronik).
.tiologi > *roses penyakitnya.
# 7ata 2
7s > Klien terlihat gelisah
7o > *erubahan tanda !ital, perilaku menyerang, panik, kurang
kontak mata, ekspresi 1ajah.
"asalah > Ansietas $ %emas
.tiologi > *erubahan status kesehatan (an%aman kematian)
# 7ata 5
7s > Nyeri perut
7o > "untah, intoleran terhadap makanan, mual.
"asalah > esiko gangguan pemenuhan nutrisi
.tiologi > Anoreksia (proses penyakitnya)
II. D"#gn$'# (e0e#1#!#n
1. 7ata 1
9angguan rasa nyaman (nyeri akut$kronis) berhubungan dengan
proses penyakitnya ditandai dengan nyeri perut, ekspresi 1ajah
penderita, postur tubuh, berhati#hati dengan abdomen, respon
autonomik.
2. 7ata 2
Ansietas (%emas) berhubungan dengan status kesehatan (an%aman
kematian) ditandai dengan klien terlihat gelisah, perubahan tanda
!ital, prilaku menyerang, panik, kurang kontak mata, ekspresi
1ajah penderita.
5. 7ata 5
esiko gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan
anoreksia (proses penyakitnya) ditandai dengan muntah, mual,
nyeri perut, intoleran terhadap makanan.
III. Peen2#n##n
1. 7iagnosa 1
9angguan rasa nyaman (nyeri akut$kronis) berhubungan dengan
proses penyakitnya ditandai dengan nyeri perut, ekspresi 1ajah
penderita, postur tubuh, berhati#hati dengan abdomen, respon
autonomik.
?ujuan > Nyeri berkurang
Kriteria hasil >
# Klien menyatakan nyeri mulai berkurang
# .kspresi 1ajah klien tidak menyeringai
en%ana tindakan
a. 8atat keluhan nyeri, termasuk lokasi lamanya.
b. Obser!asi ??( klien.
%. Kaji ulang 2aktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri.
d. =erikan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk pasien.
e. )denti2ikasi dan batasi makanan yang menimbulkan
ketidaknyamanan.
2. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi.
asional >
a. Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan
dengan gejala nyeri pasien sebelumnya dimana dapat
membantu siagnosa.
b. /ntuk mengetahui perkembangan klien.
%. "embantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi.
d. "akanan mempunyai e2ek penetralisir asam, juga
menghan%urkan kandungan gaster. "akan sedikit men%egah
distensi dan haluaran gastrin.
e. "akanan khusus yang menyebabkan distress berma%am#
ma%am antara indi!idu. *enelitian menunjukkan meri%a dan
kopi berbahaya dapat menimbulkan dispepsia.
2. /ntuk memper%epat proses penyembuhan.
2. 7ata 2
Ansietas (%emas) berhubungan dengan status kesehatan (an%aman
kematian) ditandai dengan klien terlihat gelisah, perubahan tanda
!ital, prilaku menyerang, panik, kurang kontak mata, ekspresi
1ajah penderita.
?ujuan > 8emas berkurang
Kriteria hasil >
# "enunjukkan rileks
# Klien tidak terlihat gelisah
# "enunjukkan peme%ahan masalah
en%ana tindakan
a. A1asi respon 2isiologis seperti takipnea, palpitasi.
b. 8atat petunjuk prilaku seperti gelisah, mudah terangsang,
kurang kontak mata.
%. 7orong pernyataan takut dan ansietas > berikan umpan balik.
d. 7orong orang terdekat tinggal dengan pasien.
e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi
asional
a. 7apat menjadi indikati2 derajat takut yang dialami pasien tetapi
dapat juga berhubungan dengan kondisi 2isik.
b. )ndikator derajat takut yang dialami pasien,misal > pasien akan
merasa tak terkontrol terhaap situasi atau men%apai status
panik.
%. "embantu pasien menerima perasaan dan memberikan
kesempatan untuk memperjelas kesalahan konsep.
d. "embantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan
menjadi seorang diri.
e. /ntuk memper%epat proses penyembuhan dan memberikan
rasa tenang pada klien.
5. 7iagnosa 5
esiko gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan
anoreksia (proses penyakitnya) ditandai dengan muntah, mual,
nyeri perut, intoleran terhadap makanan.
?ujuan > Klien tidak merasa nyeri perut
Kriteria hasil >
# Klien tidak merasa mual dan muntah.
# Klien toleran terhadap makanannya.
en%ana tindakan
a. Kaji dan obser!asi ??( klien.
b. 7orong klien untuk makan makanannya sedikit demi sedikit.
%. =erikan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi pasien.
d. Kolaborasi dengan tim giFi dalam pemberian diit.
asional
a. /ntuk mengetahui keadaan $ perkembangan klien.
b. Agar isi dalam lambung tidak kosong atau memperbaiki
keadaan sistem pen%ernaan klien.
%. "akanan mempunyai e2ek penetralisir asam, juga
menghan%urkan kandungan gaster. "akan sedikit men%egah
distensi dan haluaran gastrin.
d. "elakukan 2ungsi independen pera1at.
I3. Pe%#('#n##n - ")0%e)en!#'"
*ada tahap ini ada pengolahan dan per1ujudan dari ren%ana
pera1atan yang telah disusun pada tahap peren%anaan kepera1atan
yang telah ditentukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan
se%ara optimal.
3. E4#%*#'"
.!aluasi adalah perbandingan yang sistemik dan teren%ana tentang
kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan
dengan %ara berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga
kesehatan lain.
2.2 KONSEP DASAR PEN5AKIT
A. 7e2inisi
?rauma adalah %edera atau rudapaksa atau kerugian psikologis atau
emosional 6 Dorland, 2002 : 2111 )
?rauma abdomen adalah %edera pada abdomen, dapat berupa trauma
tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja
6Smeltzer, 2001 : 2476 )
=. .tiologi $ ,aktor *enyebab
=erdasarkan mekanisme trauma, dibagi menjadi 2 yaitu >
1. ?rauma tumpul
+uatu pukulan langsung, misalkan terbentur stir ataupun bagian pintu
mobil yang melesak ke dalam karena tabrakan, bisa menyebabkan
trauma kompresi ataupun crush injury terhadap organ !is%era. Cal ini
dapat merusak organ padat maupun organ berongga, dan bisa
mengakibatkan ruptur, terutama organ#organ yang distensi (misalnya
uterus ibu hamil), dan mengakibatkan perdarahan maupun peritornitis.
?rauma tarikan (shearing injury) terhadap organ !is%era sebenarnya
adalah crush injury yang terjadi bila suatu alat pengaman (misalnya
seat belt jenis la belt ataupun komponen pengaman bahu) tidak
digunakan dengan benar. *asien yang %edera pada suatu tabrakan
motor bisa mengalami trauma decelerasi dimana terjadi pergerakan
yang tidak sama antara suatu bagian yang ter2iksir dan bagian yang
bergerak, seperti rupture lien ataupun ruptur hepar (organ yang
bergerak) dibagian ligamentnya (organ yang ter2iksir). *emakaian air!
bag tidak men%egah orang mengalami trauma abdomen. *ada pasien#
pasien yang mengalami laparotomi karena trauma tumpul, organ yang
paling sering kena adalah lien (60#::'), hepar (5:#6:'), dan usus (:#
10'). +ebagai tambahan, 1:' nya mengalami hematoma
retroperitoneal.
2. ?rauma tajam
-uka tusuk ataupun luka tembak (ke%epatan rendah) akan
mengakibatkan kerusakan jaringan karena laserasi ataupun terpotong.
-uka tembak dengan ke%epatan tinggi akan menyebabkan trans2er
energi kinetik yang lebih besar terhadap organ !is%era, dengan adanya
e2ek tambahan berupa temorary ca"itation, dan bisa pe%ah menjadi
2ragmen yang mengakibatkan kerusakan lainnya. -uka tusuk tersering
mengenai hepar (60'), usus halus (50'), dia2ragma (20'), dan %olon
(1:'). -uka tembak menyebabkan kerusakan yang lebih besar, yang
ditentukan oleh jauhnya perjalanan peluru, dan berapa besar energy
kinetiknya maupun kemungkinan pantulan peluru oleh organ tulang,
maupun e2ek pe%ahan tulangnya. -uka tembak paling sering mengenai
usus halus (:0'), %olon (60'), hepar (50') dan pembuluh darah
abdominal (2:').
6#merican $ollege o% Surgeon $ommittee o% &rauma, 2004 : 14'7
8. ?anda dan 9ejala
! -aserasi, memar,ekimosis
! Cipotensi
! ?idak adanya bising usus
! Cemoperitoneum
! "ual dan muntah
! Adanya tanda 3=ruit4 (bunyi abnormal pd auskultasi pembuluh darah,
biasanya pd arteri karotis),
! Nyeri
! *endarahan
! *enurunan kesadaran
! +esak
! ?anda Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang disebabkan oleh
perdarahan lim2a.?anda ini ada saat pasien dalam posisi re%umbent.
! ?anda 8ullen adalah ekimosis periumbulikal pada perdarahan
peritoneal
! ?anda 9rey#?urner adalah ekimosis pada sisi tubuh ( pinggang ) pada
perdarahan retroperitoneal .
! ?anda %oopernail adalah ekimosis pada perineum,skrotum atau labia
pada 2raktur pel!is
! ?anda balan%e adalah daerah suara tumpul yang menetap pada kuadran
kiri atas ketika dilakukan perkusi pada hematoma lim2e
(Scheets, 2002 : 277!27))
7. *ato2isiologi 7an *ohon "asalah
=ila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia
(akibat ke%elakaan lalu lintas, penganiayaan, ke%elakaan olahraga dan
terjatuh dari ketinggian), maka beratnya trauma merupakan hasil dari
interaksi antara 2aktor 0 2aktor 2isik dari kekuatan tersebut dengan
jaringan tubuh. =erat trauma yang terjadi berhubungan dengan
kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. *ada
tempat benturan karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan
tubuh yang akan menimbulkan disrupsi jaringan. Cal ini juga karakteristik
dari permukaan yang menghentikan tubuh juga penting. ?rauma juga
tergantung pada elastitisitas dan !iskositas dari jaringan tubuh. .lastisitas
adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan yang
sebelumnya. (iskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk
aslinya 1alaupun ada benturan. ?oleransi tubuh menahan benturan
tergantung pada kedua keadaan tersebut.. =eratnya trauma yang terjadi
tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat mele1ati
ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam
beratnya trauma adalah posisi tubuh relati2 terhadap permukaan benturan.
Cal tersebut dapat terjadi %idera organ intra abdominal yang disebabkan
beberapa mekanisme >
1. "eningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh
gaya tekan dari luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang
letaknya tidak benar dapat mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ
padat maupun organ berongga.
2. ?erjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan
!ertebrae atau struktur tulang dinding thoraks.
5. ?erjadi gaya akselerasi#deselerasi se%ara mendadak dapat
menyebabkan gaya robek pada organ dan pedikel !askuler.
.. Klasi2ikasi
=erdasarkan mekanismenya, yaitu >
#7 T#*)# !*)0*%
! =iasanya disebabkan karena ke%elakaan kendaraan bermotor.
! ,aktor lainnya seperti jatuh dan trauma se%ara mendadak
! Casil dari %rush injury dan trauma deselerasi mengenai organ padat
(karena perdarahan) atau usus (karena per2orasi dan peritonitis)
! -im2e dan hati adalah organ yang paling sering dilibatkan
87 T#*)# !#+#)
! =iasanya disebabkan karena tusukan, tikaman atau tembakan
senapan.
! "ungkin dihubungkan dengan dada, dia2ragma dan %edera pada
system retroperitoneal.
! Cati dan usus ke%il adalah organ yang paling tersering mengalami
kerusakan.
! -uka tusukan mungkin akan menenbus dinding peritoneum dan
seringkali merusak se%ara konser!ati2, bagaimanapun luka akibat
tembakan senapan selalu membutuhkan pembedahan dan
penyelidikan lebih a1al untuk mengendalikan %edera
intraperitoneal.
(8atherino, 2005 > 2:1)
,. *emeriksaan 7iagnostik$*enunjang
Pe)e"('##n D"#gn$'!"(
#7 T#*)# T*)0*%
1. D"#gn$'!"( Pe"!$ne#% L#4#ge
7*- adalah prosedur in!asi!e yang bisa %epat dikerjakan yang
bermakna merubah ren%ana untuk pasien berikutnya ,dan dianggap
&D ' sensiti!e untuk perdarahan intraretroperitoneal. Carus
dilaksanakan oleh team bedah untuk pasien dengan trauma tumpul
multiple dengan hemodinamik yang abnormal, terutama bila
dijumpai >
1. *erubahan sensorium#trauma %apitis, intoksikasi al%ohol,
ke%anduan obat#obatan.
2. *erubahan sensasi trauma spinal
5. 8edera organ berdekatan#iga ba1ah, pel!is, !ertebra lumbalis
6. *emeriksaan diagnostik tidak jelas
:. 7iperkirakan aka nada kehilangan kontak dengan pasien dalam
1aktu yang agak lama, pembiusan untuk %edera
e<traabdominal, pemeriksaan G#ay yang lama misalnya
Angiogra2i
A. Adanya lap#belt sign (kontusio dinding perut) dengan
ke%urigaan trauma usus
7*- juga diindikasikan pada pasien dengan hemodinamik normal
nilai dijumpai hal seperti di atas dan disini tidak memiliiki 2asilitas
/+9 ataupun 8? +%an. +alah satu kontraindikasi untuk 7*-
adalah adanya indikasi yang jelas untuk laparatomi. Kontraindikasi
relati!e antara lain adanya operasi abdomen sebelumnya, morbid
obesity, shirrosis yang lanjut, dan adanya koagulopati sebelumnya.
=isa dipakai tekhnik terbuka atau tertutup (+eldinger ) di
in2raumbilikal oleh dokter yang terlatih. *ada pasien dengan
2raktur pel!is atau ibu hamil, lebih baik dilakukan supraumbilikal
untuk men%egah kita mengenai hematoma pel!isnya ataupun
membahayakan uterus yang membesar. Adanya aspirasi darah
segar, isi gastrointestinal, serat sayuran ataupun empedu yang
keluar, melalui tube 7*- pada pasien dengan henodinamik yang
abnormal menunjukkan indikasi kuat untuk laparatomi. =ila tidak
ada darah segar (H10 %%) ataupun %airan 2eses ,dilakukan la!ase
dengan 1000%% inger -aktat (pada anak#anak 10%%$kg). +esudah
%airan ter%ampur dengan %ara menekan maupun melakukan rogg!
oll, %airan ditampung kembali dan diperiksa di laboratorium untuk
melihat isi gastrointestinal ,serat maupun empedu. (American
College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 > 149:1;07
?est (@) pada trauma tumpul bila 10 ml atau lebih darah
makroskopis (gross) pada aspirasi a1al, eritrosit H 100.000 mm
5
,
leukosit H :00$mm
5
atau penge%atan gram (@) untuk bakteri,
bakteri atau serat. +edangkan bila 7*- (@) pada trauma tajam bila
10 ml atau lebih darah makroskopis (gross) pada aspirasi a1al,sel
darah merah :000$mm
5
atau lebih. (Scheets, 2002 : 279-280)
2. /AST 6/$2*'e, A''e')en! S$n$g#0.< "n T#*)#7
)ndi!idu yang terlatih dengan baik dapat menggunakan /+9 untuk
mendeteksi adanya hemoperitoneum. 7engan adanya peralatan
khusus di tangan mereka yang berpengalaman, ultrasound memliki
sensi2itas, spe%i2itas dan ketajaman untuk meneteksi adanya %airan
intraabdominal yang sebanding dengan 7*- dan 8? abdomen
/ltrasound memberikan %ara yang tepat, nonin!ansi!e, akurat dan
murah untuk mendeteksi hemoperitorium, dan dapat diulang
kapanpun. /ltrasound dapat digunakan sebagai alat diagnostik
bedside dikamar resusitasi, yang se%ara bersamaan dengan
pelaksanaan beberapa prosedur diagnostik maupun terapeutik
lainnya. )ndikasi pemakaiannya sama dengan indikasi 7*-.
(American College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 > 1;07
=. C$)0*!e, T$)$g#0.< 6CT7
7igunakan untuk memperoleh keterangan mengenai organ yang
mengalami kerusakan dan tingkat kerusakannya, dan juga bisa
untuk mendiagnosa trauma retroperineal maupun pel!is yang sulit
di diagnosa dengan pemeriksaan 2isik, ,A+?, maupun 7*-.
(American College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 > 1;17
87 T#*)# T#+#)
1. 8edera thora< bagian ba1ah
/ntuk pasien yang asimptomatik dengan ke%urigaan pada
dia2ragma dan struktur abdomen bagian atas diperlukan
pemeriksaan 2isik maupun thora< 2oto berulang, thora%oskopi,
laparoskopi maupun pemeriksaan 8? s%an.
a. .ksplorasi lo%al luka dan pemeriksaan serial dibandingkan
dengan 7*- pada luka tusuk abdomen depan. /ntuk pasien
yang relati2 asimtomatik (ke%uali rasa nyeri akibat tusukan),
opsi pemeriksaan diagnostik yang tidak in!asi!e adalah
pemeriksaan diagnostik serial dalam 26 jam, 7*- maupun
laroskopi diagnostik.
b. *emeriksaan 2isik diagnostik serial dibandingkan dengan
double atau triple %ontrast pada %edera 2lank maupun punggung
/ntuk pasien yang asimptomatik ada opsi diagnostik antara lain
pemeriksaan 2isik serial, 8? dengan double atau triple %ontrast,
maupun 7*-. 7engan pemeriksaan diagnosti% serial untuk pasien
yang mula#mula asimptomatik kemudian menjadi simtomatik, kita
peroleh ketajaman terutama dalam mendeteksi %edera retroperinel
maupun intraperineal untuk luka dibelakang linea a<illaries
anterior. (American College of Surgeon Committee of Trauma,
2004 > 1;17
Pe)e"('##n R#,"$%$g"
1. Pe)e"('##n >:R#< *n!*( '2een"ng !#*)# !*)0*%
ontgen untuk s%reening adalah o#2oto %er!i%al lateral, ?hora< A*
dan pel!is A* dilakukan pada pasien trauma tumpul dengan
multitrauma. ontgen 2oto abdomen tiga posisi (telentang, setengah
tegak dan lateral de%ubitus) berguna untuk melihat adanya udara bebas
diba1ah dia2ragma ataupun udara di luar lumen diretroperitoneum,
yang kalau ada pada keduanya menjadi petunjuk untuk dilakukan
laparatomi. Cilangnya bayangan psoas menunjukkan kemungkinan
%edera retroperitoneal
2. Pe)e"(#'##n >:R#< *n!*( '2een"ng !#*)# !#+#)
*asien luka tusuk dengan hemodinamik yang abnormal tidak
memerlukan pemeriksaan G#ay pada pasien luka tusuk diatas
umbili%us atau di%urigai dengan %edera thora%oabdominal dengan
hemodinamik yang abnormal, rontgen 2oto thora< tegak berman2aat
untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau pneumothora<, ataupun
untuk dokumentasi adanya udara bebas intraperitoneal. *ada pasien
yang hemodinamiknya normal, pemasangan klip pada luka masuk
maupun keluar dari suatu luka tembak dapat memperlihatkan jalannya
peluru maupun adanya udara retroperitoneal pada rontgen 2oto
abdomen tidur.
=. Pe)e"('##n ,eng#n ($n!#' <#ng (.*'*'
a. /rethrogra2i
+ebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, harus dilakukan
urethrogra2i sebelum pemasangan kateter urine bila kita %urigai
adanya ruptur urethra. *emeriksaan urethrogra2i digunakan dengan
memakai kateter no.I D#, dengan balon dipompa 1,:#2%% di 2ossa
na!i%ulare. 7imasukkan 1:#20 %% kontras yang dien%erkan.
7ilakukan pengambilan 2oto dengan projeksi oblik dengan sedikit
tarikan pada pel!is.
b. +istogra2i
upture buli#buli intra# ataupun ekstraperitoneal terbaik ditentukan
dengan pemeriksaan sistogra2i ataupun 8?#+%an sistogra2i.
7ipasang kateter urethra dan kemudian dipasang 500 %% kontras
yang larut dalam air pada kol2 setinggi 60 %m diatas pasien dan
dibiarkan kontras mengalir ke dalam bulu#bulu atau sampai (1)
aliran terhenti (2) pasien se%ara spontan mengedan, atau (5) pasien
merasa sakit. 7iambil 2oto rontgen A*, oblik dan 2oto post#!oiding.
8ara lain adalah dengan pemeriksaan 8? +%an (8? %ystogram)
yang terutama berman2aat untuk mendapatkan in2ormasi tambahan
tentang ginjal maupun tulang pel!isnya. (American College of
Surgeon Committee of Trauma, 2004 > 14?7
%. 8? +%an$)(*
=ilamana ada 2asilitas 8? +%an, maka semua pasien dengan
hematuria dan hemodinamik stabil yang di%urigai mengalami
sistem urinaria bisa diperiksa dengan 8? +%an dengan kontras dan
bisa ditentukan derajat %edera ginjalnya. =ilamana tidak ada
2asilitas 8? +%an, alternati2nya adalah pemeriksaan )!p.
7isini dipakai dosis 200mg E$kg bb kontras ginjal. 7ilakukan
injeksi bolus 100 %% larutan Eodine A0' (standard 1,: %%$kg, kalau
dipakai 50' 5,0 %%$kg) dengan 2 buah spuit :0 %% yang disuntikkan
dalam 50#A0 detik. 20 menit sesudah injeksi bila akan memperoleh
!isualisasi %aly< pada G#ay. =ilamana satu sisi non#!isualisasi,
kemungkinan adalah agenesis ginjal, thrombosis maupun tertarik
putusnya a.renalis, ataupun paren%hyma yang mengalami
kerusakan massi2. Non!isualisasi keduanya memerlukan
pemeriksaan lanjutan dengan 8? +%an @ kontras, ataupun
arteriogra2i renal atau eksplorasi ginjal; yang mana yang diambil
tergantung 2asilitas yang dimiliki.
d. 9astrointestinal
8edera pada struktur gastrointestinal yang letaknya retroperitoneal
(duodenum, %olon as%endens, %olon des%endens) tidak akan
menyebabkan peritonitis dan bisa tidak terdeteksi dengan 7*-.
=ilamana ada ke%urigaan, pemeriksaan dengan 8? +%an dengan
kontras ataupun pemeriksaan O#2oto untuk upper 9) ?ra%k
ataupun 9) tra%t bagian ba1ah dengan kontras harus dilakukan.
(American College of Surgeon Committee of Trauma,2004>1497
Pe)e"('##n L#8$#!$"*)
o *emeriksaan darah lengkap untuk men%ari kelainan pada darah itu
sendiri
o *enurunan hematokrit$hemoglobin
o *eningkatan .nFim hati> Alkaline 2os2at,+9*?,+9O?,
o Koagulasi > *?,*??
o ")
o Angiogra2i untuk kemungkinan kerusakan !ena hepatik
o 8? +%an
o adiogra2 dada mengindikasikan peningkatan dia2ragma,kemungkinan
pneumothora< atau 2raktur tulang rusuk ()))#G.
o +%an lim2a
o /ltrasonogram
o *eningkatan serum atau amylase urine
o *eningkatan glu%ose serum
o *eningkatan lipase serum
o 7*- (@) untuk amylase
o *enigkatan J=8
o *eningkatan amylase serum
o .lektrolit serum
o A97
6ENA@ 2000A49:;;7
9. Komplikasi
?rombosis (ena
.mboli *ulmonar
+tress /lserasi dan perdarahan
*neumonia
?ekanan ulserasi
Atelektasis
+epsis
6P#*%@ ,"e4"'" !#ngg#% 2? B*%" 200?7
*ankreasA *ankreatitis, *seudo%yta 2ormasi, 2istula pan%reas#duodenal,
dan perdarahan.
-im2a> perubahan status mental, takikardia, hipotensi, akral dingin,
diaphoresis, dan syok.
/sus> obstruksi usus, peritonitis, sepsis, nekrotik usus, dan syok.
9injal> 9agal ginjal akut (99A)
6C#!.e"n$@ 200= A 2;1:2;=7
C. *enatalaksanaan Kega1atdaruratan 7an ?erapi *engobatan
! *asien yang tidak stabil atau pasien dengan tanda#tanda jelas yang
menunjukkan trauma intra#abdominal (pemeriksaan peritoneal, injuri
dia2ragma, abdominal %ree air, e"isceration) harus segera dilakukan
pembedahan
! ?rauma tumpul harus diobser!asi dan dimanajemen se%ara non#
operati!e berdasarkan status klinik dan derajat luka yang terlihat di 8?
! *emberian obat analgetik sesuai indikasi
! *emberian O2 sesuai indikasi
! -akukan intubasi untuk pemasangan .?? jika diperlukan
! ?rauma penetrasi >
7ilakukan tindakan pembedahan di ba1ah indikasi tersebut di atas
Kebanyakan 9+J membutuhkan pembedahan tergantung
kedalaman penetrasi dan keterlibatan intraperitoneal
-uka tikaman dapat dieksplorasi se%ara lokal di .7 (di ba1ah
kondisi steril) untuk menunjukkan gangguan peritoneal ; jika
peritoneum utuh, pasien dapat dijahit dan dikeluarkan
-uka tikaman dengan injuri intraperitoneal membutuhkan
pembedahan
=agian luar tubuh penopang harus dibersihkan atau dihilangkan
dengan pembedahan
6C#!.e"n$@ 200= A 2;17
). Konsep 7asar Asuhan Kepera1atan
1. Peng(#+"#n
17 D#!# '*8<e(!"&
a. i1ayat penyakit sekarang >
a) Nyeri di /K, hipokondria atau region epigastrik (%edera
pada hati)
b) Nyeri pada kuadran kiri atas (-/K), tanda Kehr (nyeri pada
kuadran kiri atas yang menjalar ke bahu kiri) pada %edera
lim2a
%) Nyeri pada area epigastrik atau bagian belakang, mungkin
asimptomatik ke%uali terdapat peritonitis, tanda mungkin
tidak ditemukan sampai 12 jam setelah %edera pada %edera
pan%reas
d) Nyeri pada abdomen ,mual dan muntah pada %edera usus
e) "ekanisme %edera trauma tumpul atau tajam
b. i1ayat medis >
# Ke%enderungan terjadi pendarahan
# Alergi
# *enyakit li!er $ hepatomegali pada %edera hati
27 D#!# $8+e(!"&
7ata *rimer
A A A"1#< A ?idak ada obstruksi jalan na2as
B A Be#!."ng 60en#0#'#n7 > Ada dispneu, penggunaan otot
bantu napas dan napas %uping hidung.
C A C"2*%#!"$n 6'"(*%#'"7 > Cipotensi, perdarahan , adanya tanda
3=ruit4 (bunyi abnormal pd auskultasi pembuluh darah, biasanya
pd arteri karotis), tanda 8ullen, tanda 9rey#?urner, tanda
8oopernail, tanda balan%e.,takikardi,dia2oresis
D A D"'#8"%"!< 6(e!",#()#)0*#n 7 > Nyeri, penurunan kesadaran,
tanda Kehr
7ata sekunder
E A EC0$'*e A ?erdapat jejas ( trauma tumpul atu trauma tajam)
pada daerah abdomen tergantung dari tempat trauma
/ A /"4e "n!e4en'"$n - 4"!#% '"gn > ?anda
!ital > hipotensi, takikardi, pasang monitor
jantung, pulse oksimetri, %atat hasil lab abnormal
Casil lab >
*emeriksaan darah lengkap untuk men%ari kelainan pada darah
itu sendiri
*enurunan hematokrit$hemoglobin
*eningkatan .nFim hati> Alkaline 2os2at,+9*?,+9O?,
Koagulasi > *?,*??
")
Angiogra2i untuk kemungkinan kerusakan !ena hepatik
8? +%an
adiogra2 dada mengindikasikan peningkatan
dia2ragma,kemungkinan pneumothora< atau 2raktur tulang
rusuk ()))#G.
+%an lim2a
/ltrasonogram
*eningkatan serum atau amylase urine
*eningkatan glu%ose serum
*eningkatan lipase serum
7*- (@) untuk amylase
*enigkatan J=8
*eningkatan amylase serum
.lektrolit serum
A97
G A G"4e 2$)&$! 6PDRST7 >
a) Nyeri di /K, hipokondria atau region epigastrik (%edera pada
hati),
b) Nyeri pada kuadran kiri atas (-/K ), ?anda Kehr (nyeri pada
kuadran kiri atas yang menjalar ke bahu kiri) pada %edera lim2a
%) Nyeri pada area epigastrik atau bagian belakang, mungkin
asimptomatik ke%uali terdapat peritonitis, tanda mungkin tidak
ditemukan sampai 12 jam setelah %edera pada %edera pan%reas
d) Nyeri pada abdomen
e) Nyeri yang dirasakan si2atnya akut dan terjadi se%ara mendadak
bisa diakibatkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam.
H A He#, !$ !$e >
In'0e('" A
# Adanya ekimosis
# Adanya hematom
A*'(*%!#'" A
# "enurun$tidak adanya suara bising usus
P#%0#'" A
# *embengkakan pada abdomen
# Adanya spasme pada abdomen
# Adanya masa pada abdomen
# Nyeri tekan
Pe(*'" A
# +uara dullness
I A In'0e('" 0$'!e"$ '*&#2e > 7ikaji jika ada yang mengalami
%edera pada bagian punggung (spinal)
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) *K *erdarahan
2) *K> +yok Cipo!olemik
5) Nyeri akut b$d agen %edera 2isik( ?rauma tumpul $ tajam) ditandai
dengan keluhan nyeri, diaphoresis, dispnea, takikardia
6) 8emas b$d prosedur pembedahan ditandai dengan pasien gelisah,
takut, gugup, gemetar, 1ajah tegang
=. RENCANA KEPERAWATAN -EMERGENC5 INTER3ENSION
DC 1 A PK Pe,##.#n
T*+*#n A +etelah dilakukan asuhan kepera1atan selama 2 < 6 jam
diharapkan perdarahan dapat dihentikan$teratasi
K"!e"# .#'"% A
?anda#tanda perdarahan (#)
??( normal ( Nadi L A0#100 <$menit ; ?7 L 110#160$B0#&0
mmCg ; +uhu L 5A, : 0 5B, :
0
8 ; dan L 1A#26 <$menit)
8? M 2 detik
Akral hangat
In!e4en'" A
M#n,"" A
1) *antau ??(
*engidenti%i+asi +ondisi asien,
2) *antau tanda#tanda perdarahan.
*engidenti%i+asi adanya erdarahan, membantu dalam emberian
inter"ensi yang teat,
5) *antau tanda#tanda perubahan sirkulasi ke jaringan peri2er (8?
dan sianosis).
*engetahui +eade+uatan aliran darah,
K$%#8$#'" A
1) *antau hasil laboratorium (trombosit).
?rombosit sebagai indicator embe+uan darah,
2) Kolaborasi pemberian %airan )( (%airan kristaloid N+$-) sesuai
indikasi.
*embantu emenuhan cairan dalam tubuh,
5) =erikan obat antikoagulan, e< > -"JC ( -o1 "ole%ul Jith
Ceparin).
*encegah erdarahan lebih lanjut,
6) =erikan trans2usi darah.
*embantu memenuhi +ebutuhan darah dalam tubuh,
:) -akukan tindakan pembedahan jika diperlukan sesuai indikasi
*embantu untu+ menghenti+an erdarahan dengan menutu area lu+a
DC 2 A N<e" #(*! 8-, #gen 2e,e# &"'"( 6 T#*)# !*)0*% - !#+#)7
,"!#n,#" ,eng#n (e%*.#n n<e"@ ,"#0$e'"'@ ,"'0ne#@ !#("(#,"#
T*+*#n A +etelah dilakukan tindakan kepera1atan selama 2 < 10 menit
diharapkan nyeri yang dialami pasien terkontrol
K"!e"# .#'"% A
*asien melaporkan nyeri berkurang
*asien tampak rileks
??( dalam batas normal (?7 160#&0$&0#A0 mmCg, nadi A0#100
<$menit, > 1A#26 <$menit, suhu 5A, : 0 5B, :
0
8)
*asien dapat menggunakan teknik non#analgetik untuk menangani
nyeri.
In!e4en'" A
M#n,"" A
1. Kaji nyeri se%ara komprehensi2 meliputi lokasi, karakteristik,
durasi, 2rekuensi, Nualitas, intensitas nyeri dan 2aktor presipitasi.
*emengaruhi ilihan- enga.asan +ee%e+ti%an inter"ensi,
2. .!aluasi peningkatan iritabilitas, tegangan otot, gelisah, perubahan
tanda#tanda !ital.
/etunju+ non!"erbal dari nyeri atau +etida+nyaman memerlu+an
inter"ensi,
5. =erikan tindakan kenyamanan, misalnya perubahan posisi, masase.
&inda+an alternati"e untu+ mengontrol nyeri
6. Ajarkan menggunakan teknik non#analgetik (relaksasi progresi2,
latihan napas dalam, imajinasi !isualisasi, sentuhan terapeutik,
akupresure)
*em%o+us+an +embali erhatian, mening+at+an rasa +ontrol dan
daat mening+at+an +e+uatan otot0 daat mening+at+an harga diri
dan +emamuan +oing,
:. =erikan lingkungan yang nyaman
*enurun+an stimulus nyeri,
K$%#8$#'" A
1. =erikan obat sesuai indikasi > relaksan otot, misalnya > dantren;
analgesik
Dibutuh+an untu+ menghilang+an sasme-nyeri otot,
DC = A Ce)#' 8-, 0$'e,* 0e)8e,#.#n ,"!#n,#" ,eng#n 0#'"en
ge%"'#.@ !#(*!@ g*g*0@ ge)e!#@ 1#+#. !eg#ng
T*+*#n A +etelah diberikan asuhan kepera1atan selama 2 < 10 menit
diharapkan %emas pasien berkurang
K"!e"# .#'"% A
9elisah pasien berkurang
"engatakan takut dan gugup berkurang
?idak nampak gemetar
In!e4en'" A
M#n,"" A
1. )ndeti2ikasi tingkat ke%emasan dan persepsi klien seperti takut dan
%emas serta rasa kekha1atirannya.
2. Kaji tingkat pengetahuan klien terhadap musibah yang dihadapi dan
pengobatan pembedahan yang akan dilakukan.
5. =erikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya.
6. =erikan perhatian dan menja1ab semua pertanyaan klien untuk
membantu mengungkapkan perasaannya.
:. Obser!asi tanda 0 tanda ke%emasan baik !erbal dan non !erbal.
A. =erikan penjelasan setiap tindakan persiapan pembedahan sesuai
dengan prosedur.
B. =erikan dorongan moral dan sentuhan therapeuti%.
D. =erikan penjelasan dengan menggunakan bahasa yang sederhana
tentang pengobatan pembedahan dan tujuan tindakan tersebut kepada
klien beserta keluarga.
DC 4 A P$%# n#0#' !",#( e&e(!"& 8-, ."0e4en!"%#'" ,"!#n,#" ,eng#n
'e'#(@ ,"'0ne#@ 0engg*n##n $!$! 8#n!* n#0#'@ n#0#' 2*0"ng .",*ng
T*+*#n A +etelah dilakukan askep selama 1 < 10 menit diharapkan pola
na2as pasien kembali e2ekti2
K"!e"# .#'"% A
*asien melaporkan sesak berkurang
7ispnea (#)
*enggunaan otot bantu pernapasan (#)
Napas %uping hidung (#)
In!e4en'" A
M#n,"" A
1. *antau adanya sesak atau dispnea
1ntu+ mengetahui +eadaan breathing asien
2. "onitor usaha pernapasan, pengembangan dada, keteraturan
pernapasan, napas %uping dan penggunaan otot bantu pernapasan
1ntu+ mengetahui derajat gangguan yang terjadi, dan menentu+an
inter"ensi yang teat
5. =erikan posisi semi2o1ler jika tidak ada kontraindikasi
1ntu+ mening+at+an e+sansi dinding dada
6. Ajarkan klien napas dalam
1ntu+ mening+at+an +enyamanan
K$%#8$#'"
1. =erikan O
2
sesuai indikasi
1ntu+ memenuhi +ebutuhan 2
2
2. =antu intubasi jika pernapasan semakin memburuk dan siapkan
pemasangan !entilator sesuai indikasi
1ntu+ membantu ernaasan ade+uat
4. E3ALUASI
7< 1 > *erdarahan dapat dihentikan$teratasi
7< 2 > Nyeri pasien terkontrol
7< 5 > 8emas pasien berkurang
7< 6 > *ola napas pasien kembali e2ekti2
DA/TAR PUSTAKA
8atherino ,Ee22rey ".2005..mergen%y "edi%ine Candbook./+A> -ipipin%ott
Jilliams
7orland,2002,3amus Sa+u 3edo+teran .Eakarta >.98
-ynda Eual 8arpenito#"oyet. 200A. =uku +aku 7iagnosis Kepera1atan. Eakarta >
.98
"arilynn ., 7oengoes. 2000. 4encana #suhan 3eera.atan 5disi 6. .98 >
Eakarta
Nanda. 200:. *anduan 7iagnosa Kepera1atan Nanda 7e2inisi dan Klasi2ikasi
200: #200A. .ditor > =udi +entosa. Eakarta > *rima "edika
Nettina, +andra ". *edoman *raktik Kepera1atan. Alih bahasa +etia1an dkk. .d.
1. Eakarta > .98; 2001
*ri%e, +yl!ia Anderson. *athophysiology > 8lini%al 8on%epts O2 7isease
*ro%esses. Alih =ahasa *eter Anugrah. .d. 6. Eakarta > .98; 1&&6
ee!es, 8harlene E et al. "edi%al#+urgi%al Nursing. Alih =ahasa Eoko +etyono.
.d. ). Eakarta > +alemba "edika; 2001
+meltFer 8. +uFanne, =runner O +uddarth. 2002. 7u+u #jar 3eera.atan
*edi+al 7edah. .98 > Eakarta
+meltFer +uFanne 8. =uku Ajar Kepera1atan "edikal =edah =runner O
+uddarth. Alih bahasa Agung Jaluyo, dkk. .ditor "oni%a .ster, dkk. .d.
D. Eakarta > .98; 2001.
?u%ker, +usan "artin et al. *atient %are +tandards > Nursing *ro%ess, diagnosis,
And Out%ome. Alih bahasa Pasmin asih. .d. :. Eakarta > .98; 1&&D
http>$$rastirainia.1ordpress.%om$2010$0B$11$laporan#asuhan#kepera1atan#ga1at#
darurat#pada#pasien#dengan#trauma#abdomen$
http>$$detra1D.blogspot.%om$2015$12$do1nload#materi#tentang#kepera1atan#
ga1at#darurat#ii.html