Anda di halaman 1dari 20

A.

PENDAHULUAN

Stroke sebagai salah satu penyakit yang paling menakutkan karena bisa berakibat fatal
baik meninggal dunia atau cacat tetap. Di Amerika Serikat tercatat hampir setiap 45 detik
terjadi kasus stroke, dan setiap 4 detik terjadi kematian akibat stroke. Pada tahun 2010,
Amerika telah menghabiskan $ 73,7 juta untuk menbiayai tanggungan medis dan rehabilitasi
akibat stroke. Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan oleh Yayasan Stroke Indonesia,
masalah stroke semakin penting dan mendesak karena kini jumlah penderita Stroke di
Indonesia terbanyak dan menduduki urutan pertama di Asia. Jumlah yang disebabkan oleh
stroke menduduki urutan kedua pada usia diatas 60 tahun dan urutan kelima pada usia 15-59
tahun (Medicastore, 2011). Survei Departemen Kesehatan RI pada 987.205 subjek dari
258.366 rumah tangga di 33 propinsi mendapatkan bahwa stroke merupakan penyebab
kematian utama pada usia > 45 tahun (15,4% dari seluruh kematian). Prevalensi stroke rata-
rata adalah 0,8%, tertinggi 1,66% di Nangroe Aceh Darussalam dan terendah 0,38% di Papua
(RISKESDAS, 2007).
Stroke atau gangguan peredaran darah otak (GPDO) merupakan salah satu penyakit
saraf yang paling banyak menarik perhatian, bahkan di pusat pelayanan neurologi di
Indonesia, jumlah penderita gangguan peredaran darah otak (GPDO) selalu menempati
urutan pertama dari seluruh penderita rawat inap (Harsono,2005). Stroke adalah serangan
mendadak yang terjadi pada pembuluh darah otak di sebabkan oleh tersumbatnya atau
pecahnya pembuluh darah dalam otak, selain itu stroke juga merupakan penyakit neurologic
(saraf) yang seringmenyebabkan kecacatan dan kematian sehingga dapat juga di sebut
sebagai brain attack atau serangan otak (Auryn, 2009).
Seseorang yang terkena stroke sering kali ketika pulang pasien masih mengalami
gejala sisa, seperti kehilangan motorik (hemiplegi) ada juga pasien yang pulang dengan
bedrest total, kesulitan komunikasi, gangguan persepsi, kerusakan fungsi kognitif, sehingga
membutuhkan perawatan yang terus menerus. Oleh karena itu, diperlukan rehabilitasi untuk
mencapai kondisi mandiri dan meningkatkan kualitas hidup. Tujuan utama dari rehabilitasi
stroke adalah mengembalikan status fungsional pasien,agar bisa mandiri sesuai kemampuan
yang masih ada. Pasien diharapkan mampu melakukan kembali aktivitas sehari-hari seperti
perawatan diri sendiri, kegiatan rumah tangga dan aktivitas sosialnya secara mandiri atau
dengan bantuan minimal dengan menggunakan kemampuan diri yang masih ada (siswarni,
2010) .
Bahaya bagi penderita stroke adalah serangan stroke berulang, ini bisa berakibat fatal
dan kualitas hidupnya bisa menjadi lebih buruk dari serangan pertama. Hal ini disebabkan
pasien tidak mampu mengendalikan faktor resiko stroke. Bagi orang yang pernah terkena
stroke, harus menerapkan gaya hidup sehat dalam keseharian mereka untuk meminimalkan
terulangnya serangan stroke. Dalam makalah ini akan di bahas rehabilitasi dan manajemen
pencegahan stroke.




























B. Tinjauan Teori

Stroke adalah suatu sindrom klinis dengan karakteristik kehilangan fungsi otak fokal
akut yang mengarah ke kematian, dimungkingkan karena perdarahan spontan pada substansi
otak (perdarahan intracerebral primer atau perdarahan subarachnoid yang secara berurutan
menjadi stroke hemoragik) atau tidak tercukupinya suplai darah yang menuju bagian dari
otak sebagai akibat dari aliran darah yang lambat atau rendah, trombosis,atau emboli yang
berhubungan dengan penyakit pembuluh darah , jantung, atau darah (stroke iskemik atau
infark cerebal (Hankey, 2002).
1. Klasifikasi
Klasifikasi stroke menurut patologi dari serangan stroke (Muttaqin, 2008):
a. Stroke Hemoragik
Merupakan perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng
disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan
aktifitas, namun juga dapat terjadi pada saat istirahat.
b. stroke non hemoragik
Dapat berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak.
Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Tidak terjadi
perdarahan, kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena
hipoksia jaringan otak.
Klasifikasi stroke menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya (Muttaqin, 2008) :
a. TIA (Transient Ischemic Attack)
Gangguan neurologis lokal yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam.
Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang
dari 24 jam.
b. Stroke involusi
Stroke yang masih terus berkembang, gangguan neurologis terlihat semakin berat dan
bertambah buruk. Prosesnya dapat berjalan 24jam atau beberapa hari.
c. Stroke komplet
Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau permanen. Stroke komplet di
awali oleh serangan TIA berulang.
Klasifikasi stroke Berdasarkan lokasi (sistem pembuluh darah):
a. Tipe karotis
b. Tipe vertebrobasiler
2. Etiologi
Menurut Smeltzer dan Bare (2002) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu dari
empat kejadian seperti thrombosis, embolisme serebal, iskemia, dan hemoragi serebal.
Thrombosis serebral (bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher) dapat di
sebabkan oleh arteriosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi serebral, adanya
sumbatan atau oklusi akan menghambat aliran darah ke bagian distal, sehingga terjadi
hipoperfusi, hipoksia, terganggunya nutrisi selular dan akhirnya akan infark. Tanda
terjadinya torombosis serebral antara lain sakit kepala, pusing, perubahan kognitif, atau
dapat pula kejang. Ada beberapa gejala awal yang mendahului seperti kehilangan bicara,
hemiplegia, parestesia setengah tubuh yang mendahului awitan paralysis berat pada
beberapa jam atau hari.
Menurut Batticaca (2008) etiologi stroke adalah 1) kekurangan suplai oksigen yang
menuju otak, 2) Pecahnya pembuluh darah otak karena kerapuhan pembuluh darah otak,
3) Adanya sumbatan bekuan darah di otak
3. Tanda dan Gejalad
Menurut De Freitas et al.,( 2009) ada beberapa tanda dan gejala stroke, yaitu:a dan Gejala
a. Hemidefisit motorik,
b. Hemidefisit sensorik,
c. Penurunan kesadaran,
d. Kelumpuhan nervus fasialis (VII) dan hipoglosus
e. (XII) yang bersifat sentral,
f. Gangguan fungsi luhur seperti kesulitan berbahasa
g. (afasia) dan gangguan fungsi intelektual
h. (demensia),
i. Buta separuh lapangan pandang (hemianopsia),
j. Defisit batang otak
4. Faktor Resiko
Beberapa faktor risiko stroke yaitu:
a. Hipertensi dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Proses ini dapat
menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat
mengganggu aliran darah cerebral.
b. Aneurisma pembuluh darah cerebral
Adanya kelainan pembuluh darah yaitu berupa penebalan pada satu tempat yang
diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dengan maneuver
tertentu dapat menimbulkan perdarahan.
c. Kelainan jantung / penyakit jantung
Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi dan endokarditis.
Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran
darah ke otak. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada
kelainan jantung dan pembuluh darah.
d. Diabetes mellitus (DM)
Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yeitu terjadinya
peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya
serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap
kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral.
e. Usia lanjut
Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah
otak.
f. Polocitemia
Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat
sehingga perfusi otak menurun.
g. Peningkatan kolesterol
Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya
embolus dari lemak.
h. Obesitas
Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga
dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh drah
otak.
i. Perokok
Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi
aterosklerosis.
k. Kurang aktivitas fisik
Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan
pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku), salah satunya pembuluh darah otak.
5. Patofisiologi
Stroke merupakan penyakit peredarah darah otak yang diakibatkan oleh
tersumbatnya aliran darah ke otak atau pecahnya pembuluh darah di otak, sehingga
supplay darah ke otak berkurang. Secara umum ganguan pembuluh darah otak atau
stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral. Merupakan gangguan neurologik fokal
yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologi pada pembuluh darah serebral.
Stroke bukan merupakan penyakit tunggal tetapi merupakan kumpulan tanda dan gejala
dari beberapa penyakit diantaranya ; hipertensi, penyakit jantung, peningkatan lemak
dalam darah, diabetes mellitus, dan penyakit vaskuler perifer (Smletzer & Bare, 2005).
Penyebab utama stroke berdasarkan urutan adalah aterosklerosis (trombosis),
embolisme, hipertensi yang dapat menimbulkan perdarahan intraserebral dan rupture
aneurisme sakuler (Price & Wilson, 2002). Trombosis serebral (bekuan darah di dalam
pembuluh darah otak atau leher), aterosklerosis serebral dan perlambatan sirkulasi
serebral merupakan penyebab utama terjadinya thrombosis. Embolisme serebral (bekuan
darah atau material lain yang di bawa ke otak dari bagian tubuh yang lain), abnormalitas
patologik pada jantung kiri seperti endokarditis, jantung reumatik, serta infeksi pulmonal
adalah tempat berasalnya emboli. Hemoragik serebral (pecahnya pembuluh darah
serebral sehingga terjadi perdarahan ke dalam jaringan otak atau area sekitar), hemoragik
dapat terjadi di epidural, subdural, dan intraserebral (Price & Wilson, 2002).
Stroke hemoragik terjadi perdarahan yang berasal dari pecahnya arteri penetrans
yang merupakan cabang dari pembuluh darah superfisial dan berjalan tegak lurus menuju
parenkim otak yang di bagian distalnya berupa anyaman kapiler. Aterosklerosis dapat
terjadi dengan bertambahnya umur dan adanya hipertensi kronik, sehingga sepanjang
arteri penetrans terjadi aneurisma kecil-kecil dengan diameter 1 mm. Peningkatan
tekanan darah yang terus menerus akan mengakibatkan pecahnya aneurisme ini,
sehingga dapat terjadi perdarahan dalam parenkim otak yang bisa mendorong struktur
otak dan merembas kesekitarnya bahkan dapat masuk kedalam ventrikel atau ke ruang
intrakranial. Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh karena ruptur arteri
serebri. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan atau subaraknoid, sehingga jaringan
yang ada disekitarnya akan tergeser dan tertekan. Darah ini sangat mengiritasi jaringan
otak, sehingga dapat mengakibatkan vasospasme pada arteri di sekitar perdarahan.
Spasme ini dapat menyebar ke seluruh hemisfer otak dan sirkulus willis. Bekuan darah
yang semula lunak akhirnya akan larut dan mengecil. Daerah otak disekitar bekuan darah
dapat membengkak dan mengalami nekrosis, karena kerja enzim-enzim maka bekuan
darah akan mencair, sehingga terbentuk suatu rongga. Sesudah beberapa bulan semua
jaringan nekrotik akan diganti oleh astrosit dan kapiler-kapiler baru sehingga terbentuk
jalinan desekitar rongga tadi. Akhirnya rongga-rongga tersebut terisi oleh astroglia yang
mengalami proliferasi (Price & Willson, 2002).
Perdarahan subaraknoid sering dikaitkan dengan pecahnya aneurisma. Kebanyakan
aneurisma mengenai sirkulus wilisi. Hipertensi atau gangguan perdarahan mempermudah
kemungkinan terjadinya ruptur, dan sering terdapat lebih dari satu aneurisma. Gangguan
neurologis tergantung letak dan beratnya perdarahan. Pembuluh yang mengalami
gangguan biasanya arteri yang menembus otak seperti cabangcabang lentikulostriata dari
arteri serebri media yang memperdarahi sebagian dari ganglia basalis dan sebagian besar
kapsula interna. Timbulnya penyakit ini mendadak dan evolusinya dapat cepat dan
konstan, berlangsung beberapa menit, beberapa jam, bahkan beberapa hari. Gambaran
klinis yang sering terjadi antara lain; sakit kepala berat, leher bagian belakang kaku,
muntah, penurunan kesadaran, dan kejang. Sembilan puluh prosen menunjukkan adanya
darah dalam cairan serebrospinal (bila perdarahan besar dan atau letak dekat ventrikel),
dari semua pasien ini 70-75% akan meninggal dalam waktu 1-30 hari, biasanya
diakibatkan karena meluasnya perdarahan sampai ke system ventrikel, herniasi lobus
temporalis, dan penekanan mesensefalon, atau mungkin disebabkan karena perembasan
darah ke pusat-pusat yang vital (Hieckey, 1997; Smletzer & Bare, 2005). Penimbunan
darah yang cukup banyak (100 ml) di bagian hemisfer serebri masih dapat ditoleransi
tanpa memperlihatkan gejala-gejala klinis yang nyata. Sedangkan adanya bekuan darah
dalam batang otak sebanyak 5 ml saja sudah dapat mengakibatkan kematian. Bila
perdarahan serebri akibat aneurisma yang pecah biasanya pasien masih muda, dan 20 %
mempunyai lebih dari satu aneurisma (Black & Hawk, 2005).











C. DISKUSI
1. EBN
Guideline management of patient with stroke : rehabilitation, prevention.
GRADES OF RECOMMENDATION
Note: The grade of recommendation relates to the strength of the evidence on which the
recommendation is based. It does not reflect the clinical importance of the
recommendation.
A
A At least one meta-analysis, systematic review, or RCT rated as 1++,
and directly applicable to the target population; or
A body of evidence consisting principally of studies rated as 1+,
directly applicable to the target population, and demonstrating overall
consistency of results.
B A body of evidence including studies rated as 2++,
directly applicable to the target population, and demonstrating overall
consistency of results; or
Extrapolated evidence from studies rated as 1++ or 1+
C A body of evidence including studies rated as 2+,
directly applicable to the target population and demonstrating overall
consistency of results; or
Extrapolated evidence from studies rated as 2++
D Evidence level 3 or 4; or
Extrapolated evidence from studies rated as 2+
GOOD PRACTICE POINTS
Recommended best practice based on the clinical experience of the guideline
development group

MANAGEMENT AND PREVENTION STRATEGIES
B Stroke patients should be mobilised as early as possible after stroke.
B Personal ADL training by occupational therapists is recommended as part of an
inpatient stroke rehabilitation programme.
B Treadmill training may be considered to improve gait speed in people who are
independent in walking at the start of treatment.
C Where the aim of treatment is to have an immediate improvement on walking
speed, efficiency or gait pattern or weight bearing during stance, patients should
be assessed for suitability for an AFO by an appropriately qualified health
professional.
B Physiotherapists should not limit their practice to one approach but should
select interventions according to the individual needs of the patient.
A Gait-oriented physical fitness training should be offered to all patients assessed
as medically stable and functionally safe to participate, when the goal of
treatment is to improve functional ambulation.
B Rehabilitation should include repetitive task training, where it is assessed to be
safe and acceptable to the patient, when the aim of treatment is to improve gait
speed, walking distance, functional ambulation or sit-to-stand-to-sit.
B Where considered safe, every opportunity to increase the intensity of therapy for
improving gait should be pursued.
B Splinting is not recommended for improving upper limb function.




Stroke patients should have a full assessment of their cognitive strengths and
weaknesses when undergoing rehabilitation or when returning to cognitively
demanding activities such as driving or work.
Cognitive assessment may be carried out by occupational therapists with
expertise in neurological care, although some patients with more complex
needs will require access to specialist neuropsychological expertise.
C All stroke patients should be screened for visual problems, and referred
appropriately.
D Ongoing monitoring of nutritional status after a stroke should include a
combination of the following parameters:
biochemical measures (ie low pre-albumin, impaired glucose metabolism)
swallowing status
unintentional weight loss
eating assessment and dependence
nutritional intake.
Every service caring for patients with stroke should develop and adhere to local
urinary and faecal continence guidelines including advice on appropriate
referral.
A Electrical stimulation to the supraspinatus and deltoid muscles should be
considered as soon as possible after stroke in patients at risk of developing
shoulder subluxation.
Patients should be asked about pain and the presence of pain should be assessed
(for example, with a validated pain assessment tool) and treated appropriately, as
soon as possible.
Given the complexity of post-stroke shoulder pain consideration should be given
to use of algorithms (such as the simple example shown in Annex 3) or an
integrated care pathway for its diagnosis and management.
Appropriate referral to health and clinical psychology services should be
considered for patients and carers to promote good recovery/adaptation and
prevent and treat abnormal adaptation to the consequences of stroke.



2. Terapi Komplementer
Terapi Komplementer adalah cara Penanggulangan Penyakit yang dilakukan
sebagai pendukung kepada Pengobatan Medis Konvensional atau sebagai Pengobatan
Pilihan lain diluar Pengobatan Medis yang Konvensional. Terapi Komplementer, pada
dasarnya bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem-sistem tubuh, terutama Sistem
Kekebalan dan Pertahanan Tubuh, agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri
yang sedang sakit, karena tubuh kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk
menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan
respon dengan asupan nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat. Ada
beberapa terapi komplementer yang bisa di terapkan untuk penderita stroke, antara lain :
a. Terapi ozon
Pada penderita Stroke, ozone therapy bermanfaat untuk memberikan oksigen
medis ke seluruh tubuh, melancarkan sirkulasi darah ke otak, membuka dan mencegah
penyempitan saluran darah ke otak, mencegah kerusakan sel-sel otak lebih lanjut
karena kekurangan oksigen, merehabilitasi pasien pasca serangan stroke agar fungsi
organ tubuh yang terganggu dapat pulih kembali. Selain itu, ozone therapy juga
membantu meningkatkan sistem imun dalam tubuh, mengendalikan kadar kolesterol
dan tekanan darah yang sering menjadi pemicu terjadinya serangan stroke berulang.
b. Terapi herbal
Terapi herbal dapat diberikan pada pasien stroke, seperti garlic, ginkgo biloba,
calamus. Garlic dapat mencegah stroke iskemik melalui tiga cara yaitu; menurunkan
tekanan darah, menurunkan kadar kolesterol darah, dan sebagai antikoagulan. Selain
itu ginkgo biloba juga dapat digunakan untuk mencegah dan merawat pasien stroke,
dengan menjaga darah dalam keadaan encer sehingga mudah untuk disirkulasikan
termasuk aliran darah ke otak dan sebagai penghambat radikal bebas yang dapat
menyebabkan terbentuknya thrombus. Calamus dapat membantu memperbaiki
jaringan yang rusak akibat stroke, dosis standar 6 9 gr/hari. (Jacob, 2006 dalam
www.1stholistic.com)
Beberapa terapi komplementer seperti Cryotherapy, massage,
acupuncture/acupressure di nilai tidak cukup bukti untuk treatment nyeri bahu pasca
stroke.
3. Farmakologi
Penatalaksanaan stroke menurut PERDOSSI (2007) :
a. Stadium Hiperakut
Tindakan pada stadium ini dilakukan di Instalasi Rawat Darurat dan
merupakan tindakan resusitasi serebro-kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan
jaringan otak tidak meluas. Pada stadium ini, pasien diberi oksigen 2 L/menit dan
cairan kristaloid/koloid; hindari pemberian cairan dekstrosa atau salin dalam
H2O.Dilakukan pemeriksaan CT scan otak, elektrokardiografi, foto toraks, darah
perifer lengkap dan jumlah trombosit, protrombin time/INR, APTT, glukosa darah,
kimia darah (termasuk elektrolit); jika hipoksia, dilakukan analisis gas darah.
Tindakan lain di Instalasi Rawat Darurat adalah memberikan dukungan mental
kepada pasien serta memberikan penjelasan pada keluarganya agar tetap tenang.
b. Stadium Akut
Pada stadium ini, dilakukan penanganan faktorfaktor etiologik maupun
penyulit. Juga dilakukan tindakan terapi fisik, okupasi, wicara dan psikologis serta
telaah sosial untuk membantu pemulihan pasien. Penjelasan dan edukasi kepada
keluarga pasien perlu, menyangkut dampak stroke terhadap pasien dan keluarga
serta tata cara perawatan pasien yang dapat dilakukan keluarga.
1) Stroke Iskemik
Terapi umum:
Letakkan kepala pasien pada posisi 300, kepala dan dada pada satu
bidang; ubah posisi tidur setiap 2 jam; mobilisasi dimulai bertahap bila
hemodinamik sudah stabil. Selanjutnya, bebaskan jalan napas, beri oksigen 1-2
liter/menit sampai didapatkan hasil analisis gas darah. Jika perlu, dilakukan
intubasi. Demam diatasi dengan kompres dan antipiretik, kemudian dicari
penyebabnya; jika kandung kemih penuh, dikosongkan (sebaiknya dengan
kateter intermiten). Pemberian nutrisi dengan cairan isotonik, kristaloid atau
koloid 1500-2000 mL dan elektrolit sesuai kebutuhan, hindari cairan
mengandung glukosa atau salin isotonik. Pemberian nutrisi per oral hanya jika
fungsi menelannya baik; jika didapatkan gangguan menelan atau kesadaran
menurun, dianjurkan melalui slang nasogastrik. Kadar gula darah >150 mg%
harus dikoreksi sampai batas gula darah sewaktu 150 mg% dengan insulin drip
intravena kontinu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia (kadar gula darah < 60
mg% atau < 80 mg% dengan gejala) diatasi segera dengan dekstrosa 40% iv
sampai kembali normal dan harus dicari penyebabnya. Nyeri kepala atau mual
dan muntah diatasi dengan pemberian obat-obatan sesuai gejala. Tekanan darah
tidak perlu segera diturunkan, kecuali bila tekanan sistolik 220 mmHg,
diastolik 120 mmHg, Mean Arterial Blood Pressure (MAP) 130 mmHg
(pada 2 kali pengukuran dengan selang waktu 30 menit), atau didapatkan infark
miokard akut, gagal jantung kongestif serta gagal ginjal. Penurunan tekanan
darah maksimal adalah 20%, dan obat yang direkomendasikan: natrium
nitroprusid, penyekat reseptor alfa-beta, penyekat ACE, atau antagonis kalsium.
Jika terjadi hipotensi, yaitu tekanan sistolik 90 mm Hg, diastolik 70 mmHg,
diberi NaCl 0,9% 250 mL selama 1 jam, dilanjutkan 500 mL selama 4 jam dan
500 mL selama 8 jam atau sampai hipotensi dapat diatasi. Jika belum terkoreksi,
yaitu tekanan darah sistolik masih < 90 mmHg, dapat diberi dopamin 2-20
g/kg/menit sampai tekanan darah sistolik 110 mmHg. Jika kejang, diberi
diazepam 5-20 mg iv pelanpelan selama 3 menit, maksimal 100 mg per hari;
dilanjutkan pemberian antikonvulsan per oral (fenitoin, karbamazepin). Jika
kejang muncul setelah 2 minggu, diberikan antikonvulsan peroral jangka
panjang. Jika didapatkan tekanan intrakranial meningkat, diberi manitol bolus
intravena 0,25 sampai 1 g/ kgBB per 30 menit, dan jika dicurigai fenomena
rebound atau keadaan umum memburuk, dilanjutkan 0,25g/kgBB per 30 menit
setiap 6 jam selama 3-5 hari. Harus dilakukan pemantauan osmolalitas (<320
mmol); sebagai alternatif, dapat diberikan larutan hipertonik (NaCl 3%) atau
furosemid.
Terapi khusus:
Ditujukan untuk reperfusi dengan pemberian antiplatelet seperti aspirin
dan anti koagulan, atau yang dianjurkan dengan trombolitik rt-PA (recombinant
tissue Plasminogen Activator). Dapat juga diberi agen neuroproteksi, yaitu
sitikolin atau pirasetam (jika didapatkan afasia).
2) Stroke Hemoragik
Terapi umum :
Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma >30
mL, perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus, dan keadaan klinis
cenderung memburuk. Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah
premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik >180 mmHg, diastolik >120
mmHg, MAP >130 mmHg, dan volume hematoma bertambah. Bila terdapat
gagal jantung, tekanan darah harus segera diturunkan dengan labetalol iv 10 mg
(pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit)
maksimum 300 mg; enalapril iv 0,625-1.25 mg per 6 jam; kaptopril 3 kali 6,25-
25 mg per oral. Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat, posisi
kepala dinaikkan 300, posisi kepala dan dada di satu bidang, pemberian manitol
(lihat penanganan stroke iskemik), dan hiperventilasi (pCO2 20-35 mmHg).
Penatalaksanaan umum sama dengan pada stroke iskemik, tukak lambung
diatasi dengan antagonis H2 parenteral, sukralfat, atau inhibitor pompa proton;
komplikasi saluran napas dicegah dengan fisioterapi dan diobati dengan
antibiotik spektrum luas.
Terapi khusus :
Neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator.
Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak perdarahan yaitu pada
pasien yang kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebelum
berdiameter >3 cm3, hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau
serebelum, dilakukan VP-shunting, dan perdarahan lobar >60 mL dengan tanda
peningkatan tekanan intrakranial akut dan ancaman herniasi. Pada perdarahan
subaraknoid, dapat digunakan antagonis Kalsium (nimodipin) atau tindakan
bedah (ligasi, embolisasi, ekstirpasi, maupun gamma knife) jika penyebabnya
adalah aneurisma atau malformasi arteri-vena (arteriovenous malformation,
AVM).
c. Stadium subakut
Tindakan medis dapat berupa terapi kognitif, tingkah laku, menelan, terapi
wicara, dan bladder training (termasuk terapi fisik). Mengingat perjalanan penyakit
yang panjang, dibutuhkan penatalaksanaan khusus intensif pasca stroke di rumah
sakit dengan tujuan kemandirian pasien, mengerti, memahami dan melaksanakan
program preventif primer dan sekunder.
Terapi fase subakut:
Melanjutkan terapi sesuai kondisi akut sebelumnya
Penatalaksanaan komplikasi,
Restorasi/rehabilitasi (sesuai kebutuhan pasien),yaitu fisioterapi, terapi wicara,
terapi kognitif,dan terapi okupasi,
Prevensi sekunder
Edukasi keluarga dan Discharge Planning


Obat-obat untuk stroke iskemik (junaidi, 2004) :
a. ASETOSAL
Nama generik : Asetosal
Nama dagang di Indonesia : Restor (Prima Adimulia Sejati), Ascardia (Pharos),
Procardin (Medikon Prima), Trombo Aspilet (Medifarma), Aspimec (Mecosin),
Cardio Aspirin (Bayer).
Indikasi : Terapi antiagregasi platelet (trombosit) pada kondisi patologis dimana
hiperaktivasi atau aktivasi trombosit mungkin menjadi faktor penentu dalam proses
terbentuknya trombus.
Kontraindikasi : Tukak peptik atau dispepsia, hemofilia dan gangguan perdarahan
lain, asma, anak dibawah 12 tahun dan yang menyusui (sindrom reye), polip nasal.
Bentuk sediaan : Tablet 80 mg dan 100 mg, tablet salut enterik 80 mg dan 100 mg.
Dosis dan aturan pakai : 75- 300 mg sehari untuk pencegahan sekunder penyakit
serebrovaskuler atau kardiovaskuler trombotik. Asetosal 150-300 mg sehari
digunakan untuk mengurangi kematian setelah infark miokard. Asetosal dosis
rendah (misal 75 atau 100 mg sehari) juga diberikan setelah pembedahan bypass
(Anonim, 2000). Stroke akut : 160-325 mg/hari dimulai dalam 48 jam (pada pasien
yang tidak mengalami trombolisis dan tidak menerima antikoagulan sistemik).
Pencegahan stroke : 30-325 mg/hari (dosis dinaikkan sampai 1300 mg/hari terbagi
dalam 2-4 dosis (2-4 x sehari) yang telah digunakan dalam percobaan klinis) (Lacy,
et al, 2006)
Efek samping : Bronkospasme; perdarahan saluran cerna (kadang-kadang parah),
juga perdarahan lain (misal subkonjugtiva).
Resiko khusus : Gangguan hati dan ginjal.
b. TIKLOPIDIN
Nama generik : Tiklopidin
Nama dagang di Indonesia : Cartrilet (Fahreinheit), Klobitor (Varia Sekata),
Nufaclapide (Nufarindo), Piclodin (Pharos), Ticard (Sanbe Farma), Ticuring (Lapi),
Agulan (Darya Varia)
Indikasi : Inhibitor agregasi platelet yang mengurangi resiko dari stroke trombotik
pada pasien stroke atau prekursor stroke, mengurangi resiko trombogenik pada
pasien intoleransi aspirin.
Kontraindikasi : Hipersentivitas terhadap tiklopidin, disfungsi liver parah, diastesis
hemopati dan hemoragik, lesi organik dengan kemungkinan perdarahan, stroke
hemoragik akut, alergi kulit, leukopenia, trombopenia atau agranulositosis.
Bentuk sediaan : Tablet 250 mg, tablet salut selaput 250 mg
Dosis dan aturan pakai : Pencegahan stroke : 250 mg 2 x sehari pada waktu makan.
Efek samping : Gangguan gastrointestinal, urtikaria, ruam kulit, eritema,
agranulositosis, trombopenia, aplasia medulla, ikterus kolestatik atau tanpa kenikan
transaminase.
Resiko khusus : Pasien dengan resiko perdarahan akibat trauma; pembedahan atau
kondisi patologik; hamil; laktasi; jangan digunakan bersama dengan aspirin,
antikoagulan, kortikosteroid.
c. PENTOKSIFILIN
Nama generik : Pentoksifilin
Nama dagang di Indonesia : Erypent (Sunthi Sepuri), Erytal (Medikon Prima),
Lentrin (Metiska Farma), Platof (Sanbe), Tarontal (Bernofarm), Trental (Hoest
Marion Roussel Indonesia), Trentox (Dexa Medica), Trenxy (Ikapharmindo)
Indikasi : Klaudikasi intermiten akibat oklusi arteri perifer kronis
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap pentoksifilin, xantin (cafein, teofilin),
perdarahan serebral dan atau retina.
Bentuk sediaan : Tablet salut enterik 100 mg, tablet lepas lambat 400 mg, kabtab
salut gula 400 mg, cairan injeksi 20 mg/ml
Dosis dan aturan pakai : 400 mg 2-3 x sehari setelah makan; jika dalam 1-2 minggu
tidak ada perbaikan sebaiknya dihentikan; jika terjadi efek samping saluran cerna
atau sistem saraf pusat berkembang sebaiknya dosis dikurangi menjadi 400 mg 1-2 x
sehari
Efek samping : lazim terjadi mual dan dispepsia; kurang lazim kembung, anoreksia,
muntah; pusing, sakit kepala, muka merah; kadang-kadang insomnia,
mengantuk,cemas, bingung; jarang terjadi palpitasi, angina, aritmia, hipotensi,
dispnea, edema; juga pernah dilaporkan kolesistitis, hepatitis, pansitopenia,
trombositopenia, purpura, anemia aplastik; kadang-kadang juga terjadi penglihatan
kabur, ruam kulit, urtikaria, mulut kering, sumbatan nasal.
Resiko khusus : Hipotensi, laktasi, penyakit jantung koroner berat, pasien yang
alergi terhadap turunan xantin; mungkin mengurangi aras fibrinogen plasma; pada
pasien yang juga menerima obat antihipertensi sebaiknya tekanan darahnya
dipantau; pasien yang menerima terapi antikoagulan atau yang beresiko terjadi
perdarahan; pasien lanjut usia dimulai dengan dosis rendah dan pantau fungsi
ginjalnya; pasien dengan penurunan fungsi ginjal dan hepar.
d. CLOPIDOGREL
Nama generik : Clopidogrel
Nama dagang di Indonesia : Plavix (Sanofi Aventis)
Indikasi : Mengurangi terjadinya aterosklerotik (infark miokard, stroke dan kematian
vaskular) pada pasien dengan aterosklerosis yang disebabkan oleh stroke
sebelumnya, infark miokard atau penyakit arteri perifer.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap clopidogrel, perdarahan patologi aktif
(seperti ulkus peptik aktif, perdarahan intrakranial), gangguan koagulasi.
Bentuk sediaan : Tablet salut selaput 75 mg
Dosis dan aturan pakai : 75 mg 1 x sehari dapat diberikan tanpa makanan.
Efek samping : Perdarahan gastrointestinal, purpura, memar, hematoma, anemia,
epistaksis, hematuria, perdarahan okular, perdarahan intra kranial, nyeri perut,
dispepsia, gastritis dan konstipasi, ruam, pruritus.
Resiko khusus : Pasien yang mungkin mengalami peningkatan resiko perdarahan
akibat, pembedahan atau kondisi patologik lain. Pasien dengan penyakit liver parah.
Pasien sedang diberikan terapi NSAID. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi.
Kehamilan.
e. KOMBINASI ASETOSAL dan DIPIRIDAMOL
Nama generik : Asetosal dan Dipiridamol
Nama dagang di Indonesia : Aggrenox (Boehringer Ingelheim)
Indikasi : Mengurangi resiko stroke iskemik dan serangan iskemik sementara.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap dipiridamol dan asetosal, atau salah satu
komponen obat, penggunaan bersama ketorolac, alergi terhadap NSAID, pasien
dengan asma, rinitis, dan polip nasal, gangguan perdarahan, anak-anak dibawah 16
tahun dengan infeksi viral, kehamilan dan laktasi, penyakit ginjal berat, ulkus gaster
atau duodenum atau perdarahan gastrointestinal.
Bentuk sediaan : Kapsul lepas lambat (dipiridamol 200 mg, asetosal 25 mg)
Dosis dan aturan pakai : 1 kapsul 2 x sehari, pagi dan malam, dapat diberikan
dengan atau tanpa makanan.
Efek samping : Sakit kepala, mual, muntah, diare, pusing, nyeri otot, nyeri lambung,
reaksi hipersensitif, perdarahan.
Resiko khusus : Penyakit jantung koroner berat (angina tidak stabil atau infark
miokard), disfungsi hepar, pasien dengan hipotensi, miastenia gravis, asma, rinitis
alergi, polip nasal, gangguan lambung atau duodenum kronis atau berulang,
gangguan fungsi ginjal, defisiensi G6PD. Hentikan terapi 1 minggu sebelum operasi.
Hentikan terapi bila terjadi kepeningan (dizziness), tinnitus atau berkurangnya
pendengaran.
f. CILOSTAZOL
Nama generik : Cilostazol
Nama dagang di Indonesia : Pletaal (Otsuka), Stazol (Bernofarm), Naletal (Guardian
Pharmatama), Qital (Ethica), Aggravan (Ferron), Agrezol (Meprofarm), Citaz
(Kalbe Farma).
Indikasi : Terapi gejala iskemik, misalnya ulserasi, nyeri dan rasa dingin pada
ekstremitas pada oklusi arteri kronik, pencegahan infark serebral rekuren.
Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap cilostazol, perdarahan, gagal jantung
kongestif, hamil dan laktasi
Bentuk sediaan : Tablet 50 mg dan 100 mg
Dosis dan aturan pakai : Dewasa : Oral : 100 mg 2 x sehari diminum 1,5 jam
sebelum atau 2 jam setelah makan pagi dan makan malam, dosis seharusnya
dikurangi menjadi 50 mg 2 x sehari selama terapi bersamaan dengan inhibitor
CYP3A4 atau CYP2C19. Cilostazol paling baik dikonsumsi 30 menit sebelum atau
2 jam setelah makan.
Efek samping : Ruam, palpitasi, takikardi, muka merah dan panas, sakit kepala,
pusing; sakit perut, mual muntah, anoreksia, diare, pendarahan subkutan;
peningkatan SGPT, SGOT, A-1P dan LDH; berkeringat dan edema.
Resiko khusus : Menstruasi, kecenderungan untuk terjadi perdarahan, diastesis
hemoragik, gangguan hati atau ginjal berat, pasien dalam terapi antikoagulan,
antitrombotik atau antiplatelet, prostaglandin E
1
atau derivatnya.







D. KESIMPULAN
Seseorang yang pernah terserang stroke akan ada gejala sisa baik ringan ataupun berat.
Di perlukan terapi rahabilitasi untuk memaksimalkan fungsi tubuh dan meningkatkan
kualitas hidup mereka. Gangguan umum yang biasa terjadi adalah afasia, apraxia, kelemahan
ekstremitas, dysarthria, disfagia, kehilangan sensori, masalah keseimbangan dan koordinasi.
Prinsip rehabilitasi umum pasien stroke yaitu 1) mobilisasi dini; 2) terapi posisi untuk
mencegah komplikasi luka tekanan, kontraktur, rasa sakit dan masalah pernapasan; 3) melatih
kegiatan sehari-hari baik merawat diri ataupun aktivitas lanjutan.
Pasien pasca stroke mengalami ketidakstabilan emosi, sehingga di perlukan
penanganan khusus untuk depresi pada pasien pasca stroke. Pemberian anti depresan secara
rutin tidak di rekomendasikan dan tidak bermanfaat untuk mencegah depresi pada pasien
pasca stroke. Prinsip psikologis wawancara yang memotivasi dan pemecahan masalah harus
di masukkan dalam program pendidikan pasien pasca stroke. Pelayanan rehabilitasi stroke
harus terstruktur, program berbasis psikologis (termasuk pendidikan dan saran) untuk
membimbing pasien agar bisa mengendalikan emosi terhadap dampak stroke, dan untuk
meningkatkan kontrol diri mereka setelah pemulihan. Program-program tersebut
membutuhkan staf pelatihan dan evaluasi yang berkelanjutan untuk memastikan manfaat
klinisnya. Hal lain yang harus di cegah pada pasien pasca stroke adalah terjadinya dekubitus.
Tindakan pencegahan dekubitus yaitu manajer rumah sakit harus memastikan bahwa keahlian
perawat dan fasilitas peralatan cukup memadai untuk mencegah dekubitus. Selain itu rumah
sakit harus selalu memperbaharui kebijakan penilaian resiko, pencegahan, dan pengobatan
dekubitus.


E. SARAN
Managemen pasien stroke di Indonesia perlu di tingkatkan lagi, akan lebih baik apabila
kebijakan penanganan stroke di dasarkan pada evedence based. Tidak semua praktisi
kesehatan familiar terhadap manajemen pasien stroke sehingga di perlukan seminar- seminar
penanganan stroke yang berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan
untuk mengoptimalkan kualitas hidup penderita stroke.




F. REFERENSI
A national clinical guideline (2010) Management of patients with stroke: Rehabilitation,
prevention and management of complications, and discharge planning, Scottish
Intercollegiate Guidelines Network.

Auryn, V (2009), Mengenal dan Memahami Stroke, Jogjakarta : Ar-Ruzz Media
Group, pp : 14-15; 40-41; 129-132.

Batticaca, F.B (2008) Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Persyarafan, Jakarta:
salemba medika.

Black, Joice. M., & Hawk, Jane. H. (2005). Medical Surgical Nursing; clinical management
for positive outcomes. 7th Edition. St. Louis : Elsevier. Inc

De Freitas GR, Christoph DDH,. (2009) Bogousslavsky J. Topographic classification of
ischemic stroke, in Fisher M. (ed). Handbook of Clinical Neurology, Vol. 93 (3rd
series). Elsevier BV.

Endres, M (2010) Primary prevention of stroke: blood pressure, lipids, and heart failure.
European Heart Journal

Muttaqin, A (2008) Buku Ajar Asuhan Keperawatan Dgn Gangguan Sistem Persarafan,
Jakarta : Salemba medika.

Hankey, J., (2002). Your Question answered Stroke. Australia : Harcourt Publisher Limited,
p: 2.

Harsono (2005). Kapita Selekta Neurologi ed.2. Jogjakarta; Gadjah Mada University Press, p:
81.

Hickey, Joanne.V. (1997). The Clinical Practice of Neurologycal and Neurosurgical
Nursing. Texas : Lippincott

http://medicastore.com/stroke.html

http://www.stanfordcenter.com/blog-layout/37/56

Junaidi, I., (2004), Panduan Praktis Pencegahan dan Pengobatan Stroke, PT Bhuana Ilmu
Populer Kelompok Gramedia, Jakarta.

Nurhidayat S and Rosjidi C.H. (2008). Buku Ajar Perawatan Cedera Kepala dan Stroke.
Jogjakarta : Ardana Media, pp :167; 177-182.

PERDOSSI, (2007) Pedoman penatalaksanaan stroke. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf
Indonesia (PERDOSSI).

Price, S & Wilson, L, (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:
EGC.

Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Indonesia, (2007) Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Smeltzer, S. C et.al (2005), Brunner&Suddarths: Textbook of Medical Surgical Nursing.9th.
Philadelphia: Lippincott


Sidharta P and Mardjono M., (2008). Neurologi Klinis Dasar. Jakarta : Dian Rakyat; p190.

Siswarni, (2010). Rehabilitasi Medik Kembalikan kemampuan Pasien Stroke. Surakarta :
RSO Prof. Dr. Soeharso