Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir
menimpa kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian atas yang
kempot. Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap beberapa bahan,
termasuk perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan jangkitan bakteri. Gejala yang
mungkin terjadi pada sinusitis adalah bersinbersin terutama di !aktu pagi, rambut rontok, mata
sering gatal, kaki pegalpegal, cepat lelah dan asma. "ika kondisi ini berkepanjangan akan
meimbulkan masalah keputihan bagi perempuan, atau ambeien (gangguan prostat) bagi lakilaki.
#enurut $ucas seperti yang di kutip #oh. %aman, etiologi sinusitis sangat kompleks,
hanya &'( disebabkan oleh infeksi, sisanya yang )'( disebabkan oleh alergi dan
ketidakseimbangan pada sistim saraf otonom yang menimbulkan perubahanperubahan pada
mukosa sinus. Su!asono dalam penelitiannya pada ** penderita sinusitis maksila kronis
mendapatkan + di antaranya (,+,,+() memberikan tes kulit positif dan kadar -g. total yang
meninggi. /erbanyak pada kelompok umur &,01 tahun dengan frekuensi antara lakilaki dan
perempuan seimbang. 2asil positif pada tes kulit yang terbanyak adalah debu rumah (+),)'(),
tungau (3&,'1() dan serpihan kulit manusia ('1().
Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang tidak
respon atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis kronis saat
ini sebenarnya masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang terus menerus
karena bisa jadi pilek yang tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa.
4leh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah satu
cara untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit cukit (Prick test, tes
tusuk) di mana tes ini cepat, simpel, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan
reaksi anafilaktik. 5ji cukit (tes kulit tusuk) merupakan pemeriksaan yang paling peka untuk
reaksireaksi yang diperantarai oleh -g. dan dengan pemeriksaan ini alergen penyebab dapat
ditentukan. ( kompas.com )
B. Tujuan
,. /ujuan 5mum
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Askep Sistem Persepsi
sensori.
&. /ujuan 6husus
a. #engetahui pengertian Sinusitis
b. #engetahui etiologi Sinusitis
c. #engetahui manifestasi klinis Sinusitis
d. #engetahui patofisiologi Sinusitis
e. #engetahui penatalaksanaan Sinusitis
f. #engetahui komplikasi Sinusitis
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. 7.8-9-S-
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi:peradangan pada satu atau lebih dari sinus
paranasal. Sinus merupakan suatu rongga atau ruangan berisi udara dengan dinding yang terdiri
dari membran mukosa. ( ;runner and Sudart , &1,1)
Sinusitis merupakan penyakit yang sering ditemukan dalam praktik dokter seharihari,
bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di seluruh dunia.
Sinusitis didefinisikan sebagai inflamasi mukosa sinus paranasal. 5mumnya disertai atau dipicu
oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis. Penyebab utamanya adalah selesma (common
cold) yang merupakan infeksi <irus, yang selanjutnya dapat diikuti oleh infeksi bakteri.
;ila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis, sedangkan bila mengenai semua
sinus paranasal disebut pansinusitis. =ang paling sering terkena ialah sinus etmoid dan maksila,
sedangkan sinus frontal lebih jarang dan sinus sphenoid lebih jarang lagi. Sinus maksila disebut
juga antrum 2ighmore, letaknya dekat akar gigi rahang atas, maka infeksi gigi mudah menyebar
ke sinus, disebut sinusitis dentogen.
Sinusitis dapat berbahaya karena menyebabkan komplikasi ke orbita dan intracranial,
serta menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati.
;. ".9-S S-95S-/-S
Sinusitis sendiri dapat dibedakan menjadi & jenis, yaitu
,. Sinusitis akut > Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 0 minggu.
#acammacam sinusitis akut, yaitu sinusitis maksila akut, sinusitis emtmoidal
akut, sinus frontal akut, dan sinus sphenoid akut.
&. Sinusitis kronis > Suatu proses infeksi di dalam sinus yang berlansung selama 0+ minggu
tetapi dapat juga berlanjut sampai berbulanbulan bahkan bertahuntahun.
?. A9A/4#- S-95S
,. S-95S PA@A9ASA$
Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsi karena bentuknya sangat ber<ariasi pada tiap indi<idu. Ada empat
pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila,sinus frontal,
sinus etmoid dan sinus sfenid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil
pneumatisasi tulang A tulang kepala, sehingga terbentuk rongga di dalam tulang.
Semua sinus mempunyai muara (ostium) ke dalam rongga hidung.
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari in<aginasi mukosa rongga
hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 0* bulan, kecuali sinus
sfenoid dan sinus frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir,
sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang
berusia kurang lebih + tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia +,1
tahun dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung. Sinus A sinus ini
umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara ,',+ tahun.
&. S-95S #A6S-$A
Sinus maksila merupakan sinus paranasal yang terbesar. Saat lahir sinus
maksila ber<olume 3+ ml,sinus kemudian berkembang dengan cepat dan akhirnya
mencapai ukuran maksimal,yaitu ,' ml saat de!asa.
Sinus maksila berbentuk pyramid. 7inding anterior sinus ialah permukaan fasial os
maksila yang disebut fosa kanina, dinding posteriornya adalah permukaan infra
temporal mkasila, dinding medialnya ialah dinding dinding lateral rongga hidung,
dinding superiornya ialah dasar orbita dan dinding inferiornya ialah prosesus
al<eolaris dan palatum. 4stium sinus maksila berada di sebelah superior dinding
medial sinus dan bermuara ke hiatus semilunaris melalui infundibulum etmoid.
7ari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah ,)
dasar sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar
(P, dan P&), molar (#, dan#&), kadang A kadang juga gigi taring (?) dan gigi molar
#0,bahkan akarakar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi
gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitisB &) Sinusitis maksila dapat
menimbulkan komplikasi orbitaB 0) 4stium sinus maksila terletak lebih tinggi dari
dasar sinus, sehingga drenase hanya tergantung dari gerak silia, lagi pula dreanase
juga harus melalui infundibulum yang sempit. -nfundibulum adalah bagian dari sinus
etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat
menghalangi drainase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.
0. S-95S 8@49/A$
Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat
fetus, berasal dari selsel resesus frontal atau dari selsel infundibulum etmoid.
Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia +,1 tahun dan akan
mencapai ukuran maksimal sebelum usia &1 tahun.
Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari lainya dan
dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. 6urang lebih ,'( orang de!asa
hanya mempunyai satu sinus frontal dan kuran lebih '( sinus frontalnya tidak
berkembang.
5kuran sinus frontal adalah &,+ cm tingginya, lebarnya &,* cm dan dalamnya
& cm. sinus fronta biasanya bersekatsekat dan tepi sinus berlekuklekuk. /aidak
adanya gambaran septumseptum atau lekuklekuk dinding sinus pada foto @ontgen
menunjukan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisahkan oleh tulang yang relati<e
tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus fronta mudah
menjalar ke daerah ini.
Sinus frontal berdrenase melalui ostiumnya yang terletak di resesus frontal, yang
berhubungan dengan infundibulum etmoid.
*. S-95S ./#4-7
7ari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling ber<ariasi dan akhir
akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan focus bagi sinussinus
lainnya. Pada orang de!asa bentuk sinus etmoid seperti pyramid dengan dasarnya di
bagian posterior. 5kuran dari anterior ke posterior *' cm, tinggi &,* cm dan lebarnya
1,' cm dibagian anterior dan ,,' cm dibagian posterior.
Sinus etmoid beronggarongga, terdiri dari selsel yang menyerupai sarang
ta!on, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak diantar
konka media dan dinding dinding medial orbita. Selsel ini jumlahnya ber<ariasi.
;erdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang
bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus
medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Selsel sinus
etmoid anterior biasanya kecilkecil dan banyak, letaknya di depan lempeng yang
menghubungkan bagian posterior konka media dengan dinding lateral ( lamina
basalis), sedangkan selsel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih
sedikit jumlahnya dan terletak diposterior dari lamina basalis.
7ibagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut
resesus frontal, yang berhubungan sinus frontal. Selo etmoid yang terbesar disebut
bula etmoid. 7i daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang di sebut
infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau
peradangan diresesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan
di infundibulum dapat menyebabkan sinusitis maksila.
Atap sinus etmoid yang disebut fo<ea etmoidalis berbatasan dengan lamina
kribrosa. 7inding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan
membatasi sinus etmoid darirongga orbita. 7i bagian belakang sinus etmoid posterior
berbatasan dengan sinus sfenoid.
'. S-95S S8.94-7
Sinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior.
Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. 5kurannya
adalah & cm tingginya, dalamnya &,0 cm dan lebarnya ,,) cm. <olumenya ber<ariasi
dari ' sampai ),' ml. saat sinus berkembang, pembuluh darah dan ner<us dibagian
lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak
sebagai indensitasi pada dinding sinus sfenoid.
;atasbatasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan
kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan
dengan sinus ka<ernosus dan a.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan
disebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior didaerah pons.
3. 64#P$.6S 4S/-4#.A/A$
Pada sepertiga tengah dinding lateral hidung yaitu di meatus medius, ada
muaramuara saluran dari sinus maksila, sinus frontal dan sinus etmoid anterior.
7aerah ini rumit dan sempit, dan dinamakan kompleks ostiomeatal (64#), terdiri
dari infundibulum etmoid yang terdapat di belakang prosesus unsinatus, resesus
frontalis, bula etmoid dan selsel etmoid anterior dengan ostiumnya dan ostium sinus
maksila.
). S-S/.# #564S-$-A@
Seperti pada mukosa hidung, di dalam sinus juga terdapat mukosa bersilia
dan palut lendir diatasnya. 7i dalam sinus silia bergerak secara teratur untuk
mengalirkan lendir menuju ostium alamiahnya mengikuti jalurjalur yang sudah
tertentu polanya.
Pada dinding lateral hidung terdapat & aliran transport mukosiliar dari sinus.
$endir yang berasal dari kelompok sinus anterior yang bergabung di infundibulum
etmoid dialirkan ke nasofaring di depan muara tuba .usthacius. $endir yang berasal
dari kelompok sinus posterior bergabung diresesus sfenoetmoedalis, dialirkan ke
nasofaring di posteriorsuperior muara tuba. -nilah sebabnya pada sinusitis di dapati
secret pascanasal (post nasal drip), tetapi belum tentu ada secret di rongga hidung.
D. ./-4$4G-
Pada Sinusitis Akut, yaitu
,. -nfeksi <irus
Sinusitis akut bisa terjadi setelah adanya infeksi <irus pada saluran pernafasan bagian
atas (misalnya Rhinovirus, Influenza <irus, dan Parainfluenza <irus).
&. ;akteri
7i dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal
tidak menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae,Haemophilus
influenzae). "ika sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat
akibat pilek atau infeksi <irus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak
berbahaya akan berkembang biak dan menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi
infeksi sinus akut.
0. -nfeksi jamur
-nfeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut pada penderita gangguan sistem
kekebalan, contohnya jamur Aspergillus.
*. Peradangan menahun pada saluran hidung
Pada penderit. a rhinitis alergi dan juga penderita rhinitis <asomotor.
'. Septum nasi yang bengkok
3. /onsilitis yg kronik

+. Pada Sinusitis 6ronik, yaitu
,. Sinusitis akut yang sering kambuh atau tidak sembuh.
&. Alergi
0. 6aries dentis ( gigi geraham atas )
*. Septum nasi yang bengkok sehingga menggagu aliran mucosa.
'. ;enda asing di hidung dan sinus paranasal
3. /umor di hidung dan sinus paranasal.
E. PA/248-S-4$4G-
F. PA/2CA=
G. #A9-8.S/AS- 6$-9-S
,. Sinusitis maksila akut
Gejala > 7emam, pusing, ingus kental di hidung, hidung tersumbat,m nyeri tekan, ingus
mengalir ke nasofaring, kental kadangkadang berbau dan bercampur darah.
&. Sinusitis etmoid akut
Gejala > Sekret kental di hidung dan nasofaring, nyeri di antara dua mata, dan pusing.
-nfeksi 6uman -ritasi .ksudat purulen
pilek bau
6uman menyebar ke
saluran pernafasan
/ekanan pada sinus meningkat
;atuk batuk 9yeri
0. Sinusitis frontal akut
Gejala > 7emam,sakit kepala yang hebat pada siang hari, tetapi berkurang setelah sore
hari, sekret kental dan penciuman berkurang.
*. Sinusitis sphenoid akut
Gejala > 9yeri di bola mata, sakit kepala, dan terdapat sekret di nasofaring
'. Sinusitis 6ronis
Gejala > 8lu yang sering kambuh, ingus kental dan kadangkadang berbau,selalu terdapat
ingus di tenggorok, terdapat gejala di organ lain misalnya rematik, nefritis, bronchitis,
bronkiektasis, batuk kering, dan sering demam.
H. P.#.@-6SAA9 P.959"A9G
Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior, pemeriksaan naso
endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. /anda khas ialah
adanya pus di meatus medius (pada sinusistis maksila dan etmoid anterior dan frontal) atau di
meatus superior (pada sinusitis etmoid posterior dan sphenoid). Pada rinosinusitis akut,
mukosa edema dan hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah
kantus medius. 7iagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Pemerikasaan pembantu yang penting adalh foto polos atau ?/ scan. 8oto polos
posisi Caters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinussinus besar
seperti sinus maksila dan frontal. 6elainan akan terlihat perselubungan, batas udara, cairan
(air fluid le<el) atau penebalan mukosa.
?/ scan sinus merupakan golg standard diagnosis sinusitis karena mampu manila anatomi
hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secacra keseluruhan dan
perluasannya. 9amun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusistis
kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau praoperasi sebagai panduan operator
saat melakukan operasi sinus.
Pada pemeriksaan transiluminasi sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap.
Pemeriksaan ini sudah jarang digunakan karena sangat terbatas kegunaannya. Pemeriksaan
mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil secret dari meatus
medius:superior, untuk mendapat antibiotic yang tepat guna. $ebih baik lagi bila diambil
secret yang keluar dari pungsi sinus maksila. Sinuskopi dilakukan dengan pungsi menembus
dinding medial sinus maksila melalui meatus inferior, dengan alat endoskop bisa dilihat
kondisi sinus maksila yang sebenarnya, selanjutnya dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.
I. PENGOBATAN
/ujuan terapi sinusitis ialah>
,. #empercepat penyembuhan
&. #encegah komplikasi
0. #encegah perubahan menjadi kronik
Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di 64# sehinggan drenase dan
<entilasi sinussinus pulih secara alami.
Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial, untuk
menghilangkan infeksi dan pembengkakan maukosa serta membuka sumbatan ostium sinus.
Antibiotik yang dipilih adalah golongan penisilin seperti amoksilin. "ika diperkirakan kuman
telah resisten atau memproduksi betalaktamase, maka dapat diberikan amoksilinkla<ulanat
atau jenis sefalosporin generasi ke&. Pada sinusitis antibiotic diberikan selama ,1,* hari
meskipun gejala klinik sudah hilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotic yang sesuai
untuk kuman negati<e gram dan anaerob.
Selain dekongestan oral dan topical, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan,
seperti analgetik, mukolitik, teroid oral:topical, pencucian rongga hidung dengan 9a?l atau
pemanasan (diatermi). Antihistamin tidak rutin diberikan, karena sifat antikolinergiknya dapat
menyebabkan secret jadi lebih kental. ;ila ada alergi berat sebaiknya diberikan antihistamin
generasi ke&. -rigasi sinus maksila atau Proetz displacement therapy juga merupakan terapi
tambahan yang bermanfaat. -munoterapi dapat dipertimbangkan jika pasien menderita
kelainan alergi yang berat.
/indakan operasi. ;edah sinus endoskopi fungsional (;S.8:8.SS) merupakan
operasi terkini untuk sinusitis kronik yang memerlukan operasi. /indakan ini telah
menggantikan hampir semua jenis bedah sinus terdahulu karena memberikan hasil yang lebih
memuaskan dan tindakan ringan dan tidak radikal. -ndikasinya berupa> sinusitis kronik yang
tidak membaik setelah terapi adekuatB sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang
irre<ersible, polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.
J. 64#P$-6AS-
6omplikais sinusitis telah menurun secara nyata sejak ditemukannya antibiotic.
6omplikasi berat biasanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronik dengan
eksaserbasi akut, berupa komplikasi orbita atau intracranial.
6elainan orbita disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata
(orbita). =ang paling sering adalah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila.
Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. 6elainan yang dapat
timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, asbes subperiostal, abses orbita dan selanjutnya
dapat terjadi thrombosis sinus ka<ernosus. 6elainan -ntrakranial. 7apat berupa meningitis,
abses ekstradural atau subdural, abses otak dan thrombosis sinus ka<ernosus.
6omplikasi juga dapat terjadi padasinusitis kronis berupa> 4steomielitis dan abses
suberiostal. Paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak
anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi.
6elainan paru, seperti bronchitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus
paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga
menyebabkan kambuhnya asma bronchial yang sukar dihilangkan sebalum sinusitisnya
disembuhkan.
K. P.9A/A$A6SA9AA9
a. 7rainage
#edical >
D 7ekongestan lokal > efedrin ,((de!asa) E((anak)
D 7ekongestan oral >Psedo efedrin 0 F 31 mg
Surgikal > irigasi sinus maksilaris.
b. antibiotik diberikan dalam ') hari (untk akut) yaitu >
ampisilin * F '11 mg
amoksilin 0 G '11 mg
SulfametaksolH/#P (+11:31) & G ,tablet
7iksisiklin ,11 mg:hari.
c. Simtomatik
parasetamol., metampiron 0 G '11 mg.
d. 5ntuk kromis adalah >
?abut geraham atas bila penyebab dentogen
-rigasi , G setiap minggu ( ,1&1)
4perasi ?ad!ell $uc bila degenerasi mukosa ire<ersibel (biopsi)
L. PENGKAJIAN ( POLA GORDON
,. ;iodata > 9ama ,umur, seG, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan,,
&. @i!ayat Penyakit sekarang >
0. 6eluhan utama > biasanya penderita mengeluh nyeri kepala sinus, tenggorokan.
*. @i!ayat penyakit dahulu >
Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung atau trauma
Pernah mempunyai ri!ayat penyakit /2/
Pernah menedrita sakit gigi geraham
'. @i!ayat keluarga > Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu
yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.
3. @i!ayat spikososial
a. -ntrapersonal > perasaan yang dirasakan klien (cemas:sedih1
b. -nterpersonal > hubungan dengan orang lain.
). Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksanahidup sehat
5ntuk mengurangi flu biasanya klien menkonsumsi obat tanpa
memperhatikan efek samping
b. Pola nutrisi dan metabolisme >
biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi gangguan pada
hidung
c. Pola istirahat dan tidur
selama inditasi klien merasa tidak dapat istirahat karena klien sering
pilek
d. Pola Persepsi dan konsep diri
klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan
konsepdiri menurun
e. Pola sensorik
daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek
terus menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).
+. Pemeriksaan fisik
a. status kesehatan umum > keadaan umum , tanda <iotal, kesadaran.
b. Pemeriksaan fisik data focus hidung > nyeri tekan pada sinus, rinuskopi
(mukosa merah dan bengkak).
Data !u"#ekt$% >
,. 4bser<asi nares >
a. @i!ayat bernafas melalui mulut, kapan, onset, frek!ensinya
b. @i!ayat pembedahan hidung atau trauma
c. Penggunaan obat tetes atau semprot hidung > jenis, jumlah, frek!ensinyya ,
lamanya.
&. Sekret hidung >
a. !arna, jumlah, konsistensi secret
b. .pistaksis
c. Ada tidaknya krusta:nyeri hidung.
0. @i!ayat Sinusitis >
a. 9yeri kepala, lokasi dan beratnya
b. 2ubungan sinusitis dengan musim: cuaca.
*. Gangguan umum lainnya > kelemahan
Data O"#ekt$%
,. 7emam, drainage ada > Serous
#ukppurulen
Purulen
&. Polip mungkin timbul dan biasanya terjadi bilateral pada hidung dan sinus yang
mengalami radang Pucat, 4dema keluar dari hidng atau mukosa sinus
0. 6emerahan dan 4dema membran mukosa
*. Pemeriksaan penunjung >
a.6ultur organisme hidung dan tenggorokan
Pemeriksaan rongent sinus.
&. 7-AG94SA 6.P.@ACA/A9
,. ;ersihan jalan napas tidak efektif b:d sekresi berlebihan sekunder akibat proses
inflamasi.
&. 9yeri b:d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi.
0. Gangguan komunikasi <erbal b:d iritasi jalan napas atas akibat infeksi atau
pembengkakan.
*. 7efisit <olume cairan b:d peningkatan kehilangan cairan akibat diaforesis yang
berkaitan dengan demam.
'. 6urang pengetahuan b:d kurang informasi tentang penyakit yang diderita dan
pengobatannya.
N. -9/.@I.9S-
;ersihan jalan napas tidak efektif b:d sekresi berlebihan sekunder akibat proses inflamasi.
/ujuan> Potensi jalan napas dengan cairan sekret mudah dikeluarkan.
-nter<ensi>
/ingkatkan masukan cairan. /a!arkan air hangat daripada dingin
@: ?airan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret.
?iptakan lingkungan yang lembab dengan <aporizer ruangan atau menghirup uap.
@: #engencerkan sekresi dan mengurangi inflamasi membran mukosa.
-nstruksikan posisi yang terbaik, mis> posisi tegak.
@: #eningkatkan drainase dari sinus.
,. 9yeri b:d iritasi jalan napas atas sekunder akibat infeksi
/ujuan> 9yeri teratasi atau berkurang.
-nter<ensi>
6aji tingkat nyeri dengan skala 1,1.
@: #emudahkan pera!at dalam menentukan tingkat nyeri dan alat untuk
e<aluasi keefektifan analgesik, meningkatkan kontrol nyeri.
?atat lokasi dan faktorfaktor pencetus nyeri.
@: #embantu dalam menentukan penanganan:manajemen nyeri dan
keefektifan asuhan.
Sarankan pasien untuk istirahat.
@: #embantu menghilangkan rasa tidak nyaman umum atau demam.
7orong pasien untuk menggunakan analgesik, seperti asetaminofen (/ylenol)
dengan kodein, sesuai yang diresepkan.
@:#empertahankan kadar obat lebih konstan menghindari JpuncakK periode
nyeri dan kenyamanan:koping emosi.
&. Gangguan komunikasi <erbal b:d iritasi jalan napas atas akibat infeksi atau
pembengkakan.
/ujuan> #enyatakan kebutuhan dalam cara yang efektif.
-nter<ensi>
/entukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain, contoh
pendengaran, penglihatan, literasi.
@: Adanya masalah lain akan mempengaruhi rencana untuk pilihan
komunikasi.
;erikan caracara yang cepat dan kontinu untuk memanggil pera!at, contoh
lampu:bel pemanggil.
@: Pasien memerlukan keyakinan bah!a pera!at !aspada dan akan berespon
terhadap panggilan.
;erikan pilihan cara berkomunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien,
mis>papan dan pensil, magic slate, papan alfabet:gambar, bahasa isyarat.
@: #emungkinkan pasien untuk menyatakan kebutuhan:masalah.
-nstruksikan pasien untuk tidak berbicara : menghindari pembicaraan sedapat
mungkin.
@: @egangan pita suara lebih lanjut dapat menghambat pulihnya suara dengan
sempurna.
0. 7efisit <olume cairan b:d peningkatan kehilangan cairan akibat diaforesis yang berkaitan
dengan demam.
/ujuan> #enunjukkan keseimbangan cairan dengan parameter indi<idual yang
tepat, mis> membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat,
tanda <ital stabil.
-nter<ensi>
6aji perubahan tanda <ital, contoh> peningkatan suhu:demam memanjang,
takikardia, hipotensi ortostatik.
@: Peningkatan suhu:memanjangnya demam meningkatkan laju metabolik
dan kehilangan cairan melalui e<aporasi. /7 ortostatik berubah dan
peningkatan takikardia menunjukkan kekurangan cairan sistemik.
6aji turgor kulit, kelembaban membran mukosa (bibir, lidah).
@: -ndikator langsung keadekuatan <olume cairan, meskipun membran
mukosa mulut mungkin kering karena napas mulut dan oksigen tambahan.
Pantau masukan dan haluaran, catat !arna, karakter urine. 2itung
keseimbangan cairan. Caspadai kehilangan yang tak tampak.
@: #emberikan informasi tentang keadekuatan <olume cairan dan kebutuhan
penggantian.
Anjurkan pasien untuk minum & sampai 0 liter cairan sehari (kecuali ada
kontraindikasi).
@: Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan risiko dehidrasi.
*. 6urang pengetahuan b:d kurang informasi tentang penyakit yang diderita dan
pengobatannya.
/ujuan> #elakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program
pengobatan.
-nter<ensi>
;erikan penjelasan pada pasien tentang proses penyakitnya.
@: #enambah pengetahuan pasien tentang penyakit yang dideritanya.
/ekankan pentingnya pera!atan oral : kebersihan gigi.
@: #enurunkan pertumbuhan bakteri pada mulut, dimana dapat menimbulkan
infeksi saluran napas atas.
-nstruksikan pasien tentang pentingnya tindakan kesehatan yang baik, diet
yang bergizi, olahraga yang sesuai, istirahat serta tidur yang cukup.
@: #endukung daya tahan tubuh dan mengurangi kerentanan terhadap infeksi
pernapasan.
-nstruksikan pasien tentang cara mencegah infeksi silang pada anggota
keluarga ataupun orang lain.
@: #encegah penyebaran infeksi.
-I. .IA$5AS-
,. Potensi jalan napas dengan cairan sekret mudah dikeluarkan.
&. 9yeri teratasi atau berkurang.
0. #enyatakan kebutuhan dalam cara yang efektif.
*. #enunjukkan keseimbangan cairan dengan parameter indi<idual yang tepat, mis> membran
mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda <ital stabil.
'. #elakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.
BAB III
PENUTUP
'$()ulan
Sinusitis merupakan penyakit inflamasi mukosa sinus paranasal yang sering ditemukan dalam
praktik dokter seharihari, bahkan dianggap sebagai salah satu penyebab gangguan kesehatan
tersering di seluruh dunia. Ada empat pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus
maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus mempunyai muara
(ostium) ke dalam rongga hidung. -nfeksi <irus ini, dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang berpolusi,
udara dingin dan kering serta kebiasaan merokok. 6eadaan ini lamalama menyebabkan perubahan
mukosa dan merusak silia. 7alam ?onsensus -nternational tahun ,LL' membagi sinusitis hanya akut
dengan batas sampai + minggu yang kebanyakan disebabkan oleh streptococcus pneumonia (01'1()
dan kronik yang lebih disebabkan oleh bakteri gram negati<e dan anaerob jika lebih dari + minggu.

'aran
;anyak komplikasi yang terjadi pada penderita sinusitis, yakni menyebabkan komplikasi ke
orbita dan intracranial, juga dapat menyebabkan peningkatan serangan asma yang sulit diobati.
9amun komplikasi ini dapat menurun dengan pemberian antibiotic dan dekongestan sejak dini (a!al
terjangkitnya sinusitis) untuk mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi, dan perubahan
menjadi kronik.
DAFTAR PU'TAKA
;runner dan Suddarth. &11,. 6epera!atan #edikal ;edah .d. + Iol ,. Penerbit ;uku 6edokteran
.G?. "akarta.
?harles, ".@ee<es, dkk. &11,. ;uku , 6epera!atan #edikal ;edah .d. -. Salemba #edika. "akarta.
7oenges, #arilynn .. &111. @encana Asuhan 6epera!atan> Pedoman 5ntuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Pera!atan Pasien .d.0..G?. "akarta.
#ansjoer, Arif, dkk. &111. 6apita Selekta 6edokteran .d. 0 "ilid ,. #edia Aesculapius. "akarta.
6ompas.com (di unduh tanggal ,3 #aret &1,0 )
LE&BAR KON'ULTA'I
/A9GGA$ 649S5$/AS- PA@A8