Anda di halaman 1dari 21

1

Makalah IDK 2
Istirahat dan tidur







Mata Kuliah
IDK 2
Dosen Pembimbing
Indri Erwhani, S.Kep, Ners
Kelompok 2 :
1. Khairul Imam
2. M. Rizal Kurniawan
3. Ricky Ersaputra
4. Rizka Ridha Ghafur
5. Ridho Romadhon
6. Retnowulan
7. Rugula Tiandar
8. Lestari Saptayanti

Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan
Muhammadiyah Pontianak
2013/2014

2
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini
dengan baik dan tepat pada waktunya. Dalam makalah ini kami membahas mengenai
istirahat dan tidur.

Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dan beberapa bantuan dari berbagai
pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama mengerjakan
makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini.
Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik
yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan
untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita sekalian.

3
Daftar isi

Kata pengantar 3
Daftar Isi 4
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang 5
1.2 Tujuan 5
BAB II
2.1 Istirahat 6
2.2 Fisiologi Tidur 7
2.3 Fungsi Tidur 8
2.5 TAHAP-TAHAP TIDUR. 9
2.6 Kebutuhan Tidur 10
2.7 Pola Tidur 11
2.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tidur 12
2.8 Macam-Macam Gangguan Tidur 13

BAB III
3.1 KESIMPULAN 16
Daftar Pustaka 17

Lampiran 18



4
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Setiap orang membutuhkan istirahat dan tidur agar mempertahankan status,
kesehatan pada tingkat yang optimal. Selain itu proses tidur dapat memperbaiki
berbagai sel dalam tubuh.
Pemenuh kebutuhan istirahat dan tidur terutama sangat penting bagi orang
yang sedang sakit agar lebih cepat sembuh memperbaiki kerusakan pada sel. Apabila
kebutuhan istirahat dan tidur tersebut cukup maka jumlah energi yang di harapkan
dapat memulihkan status kesehatan dan mempertahankan kegiatan dalam kehidupan
sehari-hari terpenuhi. Selain itu,orang yang mengalami kelelahan juga memerlukan
istirahat dan tidur lebih dari biasanya.

1.2 Tujuan
1. Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai konsep kebutuhan istirahat
dan tidur
2. Pembaca dapat melakukan tindakan keperawatan yang tepat sesuai dengan
prosedur yang berlaku.
3. Pembaca dapat menambah kopetensi terkait dengan pemenuhan kebutuhan
istirahat dan tidur klien.










5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Istirahat

Istirahat merupakan keadaan rileks tanpa adanya tekanan emosional, bukan
hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yg membutuhkan
ketenangan. Namun tidak berarti tidak melakukan aktivitas apa pun, duduk santai di
kursi empuk atau berbaring di atas tempat tidur juga merupakan bentuk istirahat.
Sebagai pembanding, klien/orang sakit tidak beraktifitas tapi mereka sulit
mendapatkan istirahat begitu pula dengan mahasiswa yang selesai ujian merasa
melakukan istirahat dengan jalan-jalan. Oleh karena itu perawat dalam hal ini
berperan dalam menyiapkan lingkungan atau suasana yang nyaman untuk
beristirahat bagi klien/pasien.

Menurut Narrow (1645-1967) terdapat enam kondisi seseorang dapat
beristirahat, diantaranya yaitu :
a. Merasa segala sesuatu berjalan normal.
b. Merasa diterima.
c. Merasa diri mengerti apa yang sedang berlangsung.
d. Bebas dari perlukaan dan ketidak nyamanan.
e. Merasa puas telah melakukan aktifitas-aktifitas yang berguna.
f. Mengetahui bahwa mereka akan mendapat pertolongan bila membutuhkannya.

Tidur
Tidur merupakan suatu keadaan perilaku individu yang relatif tenang disertai
peningkatan ambang rangsangan yang tinggi terhadap stimulus dari luar. Keadaan
ini bersifat teratur, silih berganti dengan keadaan terjaga (bangun), dan mudah
dibangunkan, (Hartman). Pendapat lain juga menyebutkan bahwa tidur
merupakan suatu keadaan istirahat yang terjadi dalam suatu waktu tertentu,
berkurangnya kesadaran membantu memperbaiki sistem tubuh/memulihkan energi.
Tidur juga sebagai fenomena di mana terdapat periode tidak sadar yang disertai
perilaku fisik psikis yang berbeda dengan keadaan terjaga.
Seorang ahli menyebutkan bahwa tidur merupakan kondisi tidak sadar dimana
individu dapat dibangunkanoleh stimulus atau sensoris yang sesuai (Guyton, 1986).
Tidur dipicu oleh sekelompok kompleks hormon yang aktif dalam utama, dan yang
merespon isyarat dari tubuh sendiri dan lingkungan. Sekitar 80 persen dari tidur tanpa
mimpi, dan dikenal sebagai gerakan mata non-cepat (NREM) tidur.

6
2.2 Fisiologi Tidur
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak,yaitu
Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region(BSR). RAS
di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat
mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulus visual,
pendengaran, nyeri, dan sensori raba, serta emosi dan proses berfikir. Pada saat
sadar, RAS melepaskan katekolamin,sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan
serum serotonin dari BSR (Tarwoto,Wartonah,2003).
Tidur ditandai dengan:
Aktivitas fisik, minimal
Perubahan-perubahan fisiologis tubuh dan penurunan respon terhadap
rangsangan eksternal.
Meskipun tujuan dari tidur sebenarnya tidak jelas, namun diyakini bahwa tidur
diperlukan untuk memelihara kesehatan dan menjaga keseimbangan mental
emosional.Apabila kekurangan tidur akan mengakibatkan kondisi yang dapat
merusak orang yang mengalaminya.
Fungsi dan tujuan tidur masih belum diketahui secara jelas. Meskipun
demikian, tidur diduga bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mental, emosional,
dan kesehatan. Sclain itu, stres pada paru, sistem kardiovaskuler, endokrin, dan
lain-lainnya juga menurun aktivitasnya. Energi yang tersimpan selama dari tidur
diarahkan untuk fungsi-fungsi seluler yang penting. Secara umum terdapat dua efek
fisiologis tidur, pertama efek pada sistem saraf yang dipeerkirakan dapat
memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf.
Kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesogaran dan fungsi organ
dalam tubuh, mengingat terjadinya penurunan aktivitas organ-organ tubuh tersebut
selama tidur.


Irama Sirkadian
Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Pada
manusia,bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan factor lingkungan
(mis; cahaya, kegelapan, gravitasi dan stimulus elektromagnetik). Bentuk bioritme
yang paling umum adalah ritme sirkadian-yamg melengkapi siklus selama 24 jam.
Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung,tekanan darah,temperature,sekresi

7
hormone,metabolism dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme
sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks.
Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur-bangun yang
mengikuti jam biologisnya: individu akan bangun pada saat ritme fisiologis paling
tinggi atau paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah
(Lilis,Taylor,Lemone,1989).

2.3 Fungsi Tidur
Fungsi tidur adalah memperbaiki (restorative) kembali organ-organ tubuh
(Fordiastiko,1997)
NREM: anabolik dan sintesis RNA
REM: pembentukan hubungan baru pd korteks & sistem neuroendokrin yg menuju
otak:
a. Pertumbuhan dan kesehatan anak-anak.
b.Meringankan stres dan kegelisahan.
c.Memulihkan kemampuan untuk mengatasi dan mengkonsentrasikan pada
kebutuhan sehari-hari.
Selain itu fungsi tidur adalah :
1. Memperbaiki keadaan fisiologis dan psikologis.
2. Melepaskan stress dan ketegangan.
3. Memulihkan keseimbangan alami di antara pusat-pusat neuron.
4. Secara tradisional, dipandang sebagai waktu untuk memperbaiki dan menyiapkan
diri pada waktu periode bangun.
5. Memperbaiki proses biologis dan memelihara fungsi jantung.
6. Berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.
7. Mengembalikan konsentrasi dan aktivitas sehari-hari.
8. Menghasilkn hormon pertumbuhan utk memperbaiki serta memperbaharui epitel
dan sel otak.
9. Menghemat dan menyediakan energi bagi tubuh.
10. Memelihara kesehatan optimal dan mengembalikan kondisi fisik.

2.4 MEKANISME TIDUR.
Teori Chemics : peningkatan CO2 menyebabkan rasa ngantuk.

8
Teori Vaskuler : penurunan TD di otak yang menyebabkan rasa ngantuk. Salah
satu fungsi kelenjar hipofise sebagai pusat pengaturan tidur.
Para ahli neuriofisiologis : sekresi hormone serotonin yang menyebabkan rasa
ngantuk.
Teori Feed Back : Kelemahan sel-sel saraf yang menyebabkan rasa ngantuk
instink/naluri.

2.5 TAHAP-TAHAP TIDUR.

1. NREM (Non Rapid Eye Movement).
Ada 4 tahapan :

a) Tahap 1 :
i. Termasuk light sleep.
ii. Berakhir hanya beberapa menit.
iii. Penurunan aktivitas fisik dimulai dengan penurunan gradual dalam tanda
vital dan metabolisme.
iv. Dengan mudah dibangunkan dengan stimulus sensori seperti suara dan
individu merasa seperti mimpi di siang hari.

b) Tahap 2 :
i. Merupakan periode sound sleep.
ii. Kemajuan relaksasi.
iii. Masih dapat dibangunkan dengan mudah.
iv. Berlangsung selama 10-20 menit.
v. Fungsi tubuh berlangsung lambat.

c) Tahap 3 :
i. Tahap awal tidur dalam.
ii. Lebih sulit dibangunkan dan jarang bergerak.
iii. Otot secara total relaksasi.
iv. Tanda vital mengalami kemunduran teratur.
v. Berlangsung 15-30 menit.

d) d. Tahap 4 :
i. Tahap tidur benar-benar nyenyak.
ii. Sangat sulit dibangunkan.
iii. Jika tidur nyenyak telah terjadi, akan menghabiskan sepanjang malam
pada tahap ini.

9
iv. Bertanggung jawab mengistirahatkan dan memperbaiki tidur.
v. Tanda vital menurun secara signifikan.
vi. Berlangsung 15-30 menit.
vii. Dapat terjadi tidur berjalan dan mengompol.

2. REM (Rapid Eye Movement).
a) Periode yang sangat hidup karena mimpi penuh warna.
b) Dimulai 50-90 menit setelah tidur terjadi.
c) Tipe yang mempengaruhi respon autonom meliputi kecepatan gerak mata,
fluktuasi jantung, rata-rata pernafasan dan peningkatan fluktuasi tekanan
darah.
d) Kehilangan tonus otot.
e) Peningkatan sekresi gastrik.
f) Tahap yang bertanggung jawab untuk perbaikan mental.
g) Sangat sulit untuk dibangunkan.
h) Durasi dari REM meningkat setiap siklus dan rata-rata 20 menit.

2.6 Kebutuhan Tidur
Kebutuhan tidur pada manusia tergantung pada tingkat perkembangan,
1. Bayi baru lahir
0 - 1 bulan 14 - 18 jam/hr
2. Masa bayi
1 bulan - 18 bulan 12 - 14 jam/ hari
3. Masa anak
18 bulan - 3 tahun 11 - 12 jam/hari
4. Masa prasekolah
3 tahun - 6 tahun 11 jam/hari
5. Masa sekolah
6 tahun - 12 tahun 10 jam/ hari
6. Masa remaja
12 tahun - 18 tahun 8,5 jam/hari
7. Masa dewasa

10
18 - 40 tahun 7 - 8 jam/hari
8. Masa muda paruh baya
40 tahun - 60 tahun 7 jam/hari
9. Masa dewasa tua
60 tahun keatas 6 jam/hari

2.7 Pola Tidur
Pola Tidur Normal berdasarkan tingkat usia:

Usia Tingkat perkembangan Jumlah kebutuhan tidur Pola tidur normal
0-1 bulan Masa Neonatus 14-18 jam/hari Pernafasan teratur gerak tubuh
sedikit, 50% tidur NREM., banyak waktu tidurnya di lewatkan pada tahap
II dan IV tidur NREM.setiap siklus sekitar 45-60 menit
( 1 bulan-18bulan)
Masa Bayi 12-14 jam/hari 20%-30% tidur REM, tidur lebih lama pada
malam hari, punya pola terbangun sebentar.
(18 bulan-3 tahun)
Masa Anak 11-12 Jam/Hari 25% tidur REM banyak tidur pada mala hari,
terbangun dini hari berkurang, siklus bangun tidur normal sudah menetap
pada umur 2-3 tahun
(3-6 tahun)
Masa prasekolah 11 jam/hari 20 % tidur REM ,periode terangun kedua
hilang pada umur 3 tahun, umur 5 tahun tidur tidak ada kecuali kebiasaan
tidur sore hari.
(6-12 Tahun)
Masa sekolah 10 jam/hari 18,5% tidur REM, sisa waktu tidur relative
kostan.
(12-18 Tahun)
Masa Remaja 8,5jam/hari 20% tidur REM.

(18-40 Tahun)
Masa dewasa muda 7-8 jm/hari 20-25% tidur REM, 5%-10% tidur terhadap
I, 50% tidur tahap II, dan 10-20% tidur tahap III dan IV.

(40-60 Tahun)

11
Masa paruh baya 7 jam/hari 20% tidur REM, mungkin mengalami
imsomnia dan sulit untuk dapat tidur.

(60 tahun ke atas)
Masa dewasa tua 6 jam/ hari 20%-25% tidur REM, tidur tahap IV nyata
berkurang terkadang tak ada, mungkin menngalami insomnia dan sering
terbangun sewaktu tidur malam hari.

2.8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tidur
Faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas tidur
Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas maupun kuantitas tidur,di
antaranya adalah penyakit, lingkungan, kelelahan, gaya hidup, stress
emosional,stimulan dan alcohol,diet, merokok,dan motivasi.
a). Penyakit.
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat
menyebabkan gangguan tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang
lebih banyak daripada biasanya.di samping itu, siklus bangun-tidur selama sakit juga
dapat mengalami gangguan.
b). Lingkungan.
Faktor lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak
adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing dapat menghambat upaya
tidur. Sebagai contoh, temperatur yang tidak nyaman atau ventilasi yang buruk dapat
mempengaruhi tidur seseorang. Akan tetapi, seiring waktu individu bisa beradaptasi
dan tidak lagi terpengaruh dengan kondisi trsebut.
c). Kelelahan.
Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin
lelah seseorang,semakin pendek siklus tidur REM yang dilaluinya. Setelah
beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang.
d). Gaya hidup.
Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa
tidur pada waktu yang tepat.
e). Stress emosional.

12
Ansietas dan depresi sering kali mengganggu tidur seseorang. kondisi ansietas
dapat meningkatkan kadar norepinfrin darah melalui stimulasi system saraf simapatis.
Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus tidur NREM tahap IV dan tidur REM
serta seringnya terjaga saat tidur.
f). Stimulant dan alkohol.
Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP
sehingga dapat mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alcohol yang berlebihan
dapat mengganggu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alcohol telah hilang, individu
sering kali mengalami mimpi buruk.
g). Diet
Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan
seringnyaterjaga di malam hari. Sebaliknya, penambahan berat badan dikaitkan
dengan peningkatan total tidur dan sedikitnya periode terjaga di malam hari.
h). Merokok
Nikotin yang terkandung dalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh.
Akibatnya, perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam
hari.
i). Medikasi.
Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. hipnotik
dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM,metabloker dapat menyebabkan
insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik (mis; meperidin hidroklorida dan
morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di
malam hari.
j). Motivasi.
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah
seseorang. sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering
kali dapat mendatangkan kantuk.

2.8 Macam-Macam Gangguan Tidur
INSOMNIA
Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara
kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu

13
dewasa. Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti
perasaan gundah atau gelisah.

Ada tiga jenis insomnia:
1.Insomnia inisial yaitu kesulitan untuk memulai tidur.
2.Insomnia intermiten yaitu kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
3.Insomnia terminal yaitu bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali .
PARASOMNIA
Masalah tidur yang lebih banyak terjadi pada anak-anak :
Night terrors dan mimpi buruk
Sleepwalking dan sleeptalking
Bruksisme
Enuresis

HYPERSOMNIA
Gangguan ini adalah kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita dianggap
memiliki gangguan jiwa atau malas. Para penderita hypersomnia membutuhkan
waktu tidur yang sangat banyak dari ukuran normal. Meskipun penderita tidur
melebihi ukuran normal, namun mereka selalu merasa letih dan lesu sepanjang hari.
Namun gangguan ini tidaklah terlalu serius dan dapat diatasi sendiri oleh penderita
dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen diri.
SLEEP APNEA
Gangguan yg dicirikan dengan kurangnya aliran udara melalui hidung dan
mulut.
Ada 3 jenis apnea tidur: apnea sentral, obstruktif, dan campuran :
1. APNEA OBSTRUKTIF
Terjadi pada saat otot atau struktur rongga mulut atau tenggorok
rileks pada saat tidur. Jalan nafas atas menjadi tersumbat, dan aliran udara
pada hidung berkurang atau berhenti. Individu masih berusaha untuk
bernafas karena gerakan dada dan abdomen terus terjadi, yang seringkali
menyebabkan bunyi dengkuran atau dengusan yang keras.

14

2. APNEA SENTRAL
Melibatkan disfungsi pada pusat pengendalian pernafasan di otak.
Impuls untuk bernafas sementara berhenti, dan aliran udara pada hidung
dan gerakan dinding dada juga terhenti. Saturasi oksigen dalam darah juga
menurun. Kondisi ini terjadi pada klien yg mengalami cedera batang otak

3. APNEA CAMPURAN
Merupakan perpaduan antara apnea obstruktif dan apnea sentral

NARKOLEPSI
Disfungsi mekanisme yang mengatur keadaan bangun dan tidur. Suatu
kondisi yang dicirikan oleh keinginan yang tidak terkendali untuk tidur.
Orang yg menderita narkolepsi boleh dikatakan dapat tidur diwaktu sedang
berdiri, tengah mengemudikan kendaraan, tidur di tengah-tengah suatu pembicaraan
atau selagi berenang

SOMNAMBULISME
Somnambulisme,berjalan-jalan dalam tidur,lebih banyak terlihat pada anak-
anak daripada di kalangan orang dewasa.
Bahaya bagi orang yang menderita somnambulisme adalah bahwa ia dapat
mendapatkan cedera,dan tindakan-tindakan membuat lingkungannya aman
merupakan suatu keharusan,umpanya memasang kunci-kunci yang benar-benar
bekerja baik pada pintu-pintu.


15
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi
oleh semua orang. Dengan istirahat dan tidur yang cukup,tubuh baru dapat berfungsi
secara optimal. Secara umum, istirahat berarti suatu keadaan tenang, relaks, tanpa
tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah.
Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua system pada batang otak,yaitu
Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region(BSR). RAS
di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat
mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran, memberi stimulus visual,
pendengaran, nyeri, dan sensori raba, serta emosi dan proses berfikir. Pada saat
sadar, RAS melepaskan katekolamin,sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan
serum serotonin dari BSR







16
Daftar pustaka

Alimul.H.Aziz (2006) Pengantar KDM dan Proses Keperawatan, Salemba Medika
Jakarta.
Asmadi (2008) Prosedural Keperawatan, Konsep dan Aplikasi KDM, Salemba
Medika Jakarta.
Doengos.E.Maryln,dkk (2002) Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta
Wartonah Tartowo (2006) KDM dan Proses keperawatan,Edisi 3, Salemba Medika
Jakarta.
Wartonah Tartowo (2006) KDM dan Proses keperawatan,Edisi 3, Salemba Medika
Jakarta

17
Lampiran

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Gangguan Pola Tidur

Gangguan pola tidur adalah suatu keadaan di mana seseorang mengalami,
perubahan jumlah/kualitas pola tidur dan istirahat sehubungan dengan keadaan
biologis atau kebutuhan emosi.

A. PENGKAJIAN.

a) Riwayat tidur.
i. kuantitas (lama tidur) dan kualitas watu tidur di siang dan malam hari.
ii. Aktivitas dan rekreasi yang di lakukan sebelumnya.
iii. Kebiasaan/pun saat tidur.
iv. Lingkungan tidur.
v. Dengan siapa paien tidur.
vi. Obat yang di konsumsi sebelum tidur.
vii. Asupan dan stimulan.
viii. Perasaan pasien mengenai tidurnya.
ix. Apakah ada kesulitan tidur.
x. Apakah ada perubahan tidur.

b) Gejala Klinis.
i. Perasaan Lelah.
ii. Gelisah.
iii. Emosi.
iv. Apetis.
v. Adanya kehitaman di daerah sekitar mata bengkak.
vi. Konjungtin merah dan mata perih.
vii. Perhatian tidak fokus.
viii. Sakit kepala.

c) Penyimpangan Tidur.
Seperti telah dijelaskan pada bab oembahasan di atas, gangguan tidur yang
mungkin terjadi adalah :
i. Insomnia.
ii. Somnabulisme.

18
iii. Enuresis.
iv. Narkolepsi.
v. Nightmare dan Night Terrors (mimpi buruk).
vi. Apnea / tidak bernapas dan Mendengkur.

B. DIAGNOSA.
Diagnosa keperawatan yang dapat diangkat dari gangguan pola istirhat tidur
diantaranya yaitu :
1. Gangguan pola tidur b/d kerusakan transfer oksigen, gangguan metabolisme,
kerusakan eliminasi, pengaruh obat, imobilisasi, nyeri pada kaki, takut operasi,
lingkungan yang mengganggu.
2. Cemas b/d ketidak mampuan untuk tidur, henti nafas saat tidur, (sleep apnea) dan
ketidak mampuan mengawasi prilaku.
3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia.
4. Gangguan ukaran gas berhubungan henti nafas saat tidur.
5. Potensial cedera berhubungan dengan Semnambolisme.
6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyimpangn tidur hipersomia.

C. INTERVENSI.
Tujuan :
Mempertahankan kebutuhan istirahat dan tidur dalam batas normal.
Rencana Tindakan :
a. Lakukan identifikasi fsktor yang mempengaruhi masalah tidur.
b. Lakukan pengurangan distraksi lingkungan dan hal yang dapat mengganggu tidur.
c. Tingkatkan aktivitas pada siang hari.
d. Coba untuk memicu tidur.
e. Kurangi potensial cedera selama tidur
f. Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan jika di perlukan.

D. IMPLEMENTASI.
Tindakan keparawatan pada orang dewasa :
1]. Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur.
1. Bila terjadi pada pasien rawat inap, masalah tidur di hubungkan dengan
lingkungan rumah sakit, maka :
a) Libatkan pasien dalam pembuatan jadwal aktivitas.
b) Berikan obat analgesik sesuai prosedur.
c) Berikan linngkungan yang suportif.
d) Jelaskan dan berikan dukungan pada pasien agar tidak takut akan cemas.
2. Bila faktor insomnia, maka :

19
a) Anjurkan pasien memakan makanan yang berprotein tinggi sebelum tidur.
b) Anjurkan pasien tidur pada waktu sama dan hindari tidur pada waktu siang
dan sore hari.
c) Anjurkan pasien tidur saat mengantuk.
d) Anjurkan pasien mennghindari kegiatan yang membangkitkan minat
sebelum tidur.
e) Anjurkan pasien menggunakan teknik pelepasan otot serta meditasi sebelum
tidur.

3. Bila terjadi somnabulisme, maka :
a) Berikan rasa aman pada diri pasien.
b) Bekerjasama dengan diazepam dalam tindakan pengobatan..
c) Cegah timbulnya cidera.

4. Bila terjadi enuresa, maka :
a) Anjurkan pasien mengurangi minum beberapa jam sebelum tidur.
b) Anjurkan pasien melakukan pengosongan kandungan kemih sebelum tidur.
c) Bangunkan pasien pada malam hari untuk buang air kecil.

5. Bila terjadi Narkolepsi, maka :
Berikan obat kelompok Amfetamin /kelomppok Metilfenidat hidroklorida (ritalin)
untuk mengendalikan narkolepsi.


2]. Mengurangi distraksi lingkungan dan hal yang mengganggu tidur.
a. Tutup pintu kamar pasien .
b. Pasang kelambu/garden tempat tidur.
c. Matikan pesawat telapon.
d. Bunyikan musik yang lembut.
e. Redupkan atau matikan lampu.
f. Kurangi jumlah stimulus.
g. Tempatkan pasien dengan kawan sekamar yang cocok.

3]. Meningkatkan aktivitas pada siang hari.
a. Buat jadwal aktivitas yang dapat menolong pasien.
b. Usahakan pasien tidak tidur pada siang hari.

4] Membuat Pasien untuk memicu tidur.
a. Anjurkan pasien mandi sebelum tidur.

20
b. Anjurkan pasien minum susu hangat.
c. Anjurkan pasien membaca buku.
d. Anjurkan pasien menonton televisi.
e. Anjurkan pasien menggosok gigi sebelum tidur.
f. Anjurkan pasien embersihkan muka sebelum tidur.
g. Anjurkan pasien membersuihkan tempat tidur.

5]. Mengurangi potensial cedera sebelum tidur.
a. Gunakan cahaya lampu malam.
b. Posisikan tempat tidur yang rendah.
c. Letakkan bel dekat pasien.
d. Ajarkan pasien untuk meminta bantuan.
e. Gantungkan selang drainase di tempat tidur dan cara memindahkannya bila
pasien memekainnya.

6]. Memberi pendidikan kesehatan dan rujukan.
a. Ajarkan rutinitas jadwal tidur di rumah.
b. Ajarkan pentingkan latihan reguler jam.
c. Penerangan tentang efek samping obat hipnotik.
d. Lakukan rujukan segera bila gangguan tidur kronis.

Tindakan Keperawatan Pada Anak :
1. Masa Neonatus dan bayi.
a. Beri sprei kering dan tebal untuk menutupi perlak.
b. Hindarkan pemberian bantal yang terlalu banyak.
c. Atur suhu ruangan menjadi 18-21C pada malam dan 15,5-18C pada siang.
d. Berikan cahaya lampu yang lembut.
e. Yakinkan bayi merasa nyaman dan kering.
f. Berikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi.
2. Masa Anak.
a. Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
b. Tempel jadwal tidur
c. Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
d. Dukung aktivitas pereda ketegangan seperti bercerita.
3. Masa Sebelum Sekolah.
a. Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.
b. Tempel jadwal tidur.
c. Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.
d. Dukung aktivitas pereda ketegangan seperti bercerita.

21
e. Sering perlihatkan ketergantungan selama menjelang tidur.
f. Berikan rasa aman dan nyaman.
g. Nyalakan lampu agak terang.
4. Masa Sekolah.
a. Mengingatkan waktu istirahat dan tidur karena umumnya banyak
beraktivitas.

5. Masa Remaja.
a. Usia ini sering memrlukan waktu sebelum tidur cukup lama untuk berias dan
membersihkan diri

6. Masa Dewasa (Muda, Paruah Baya, dan Tua).
a. Bantu melepaskan ketegangan sebelum tidur.
Berikan hiburan.
Kurangi rasa nyeri.
Bersihkan tempat tidur.
b. Membuat lingkungan menjadi aman serta dekat dengan perawat.
Berikan selimut sehingga tidak kedinginan.
Anjurkan pasien latihan relaksasi.
Berikan makan ringan atau susu hangnt sebelum tidur.
Berikan obat sedaktif sesuai program terapi kolaboratif.
Bantu pasien mendapatkan posisi tidur yang nyaman.

E. EVALUASI.
1. Klien menggunakan terapi relaksasi setiap makan malam sebelum pergi tidur dengan
meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
2. Klien melaporkan perasaan nyaman setelah terbangun di pagi hari dengan meminta
klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
3. Klien melaporkan dapat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dalam 4 minggu
dengan mengobservasi ekspresi dan prilaku nonverbal pada saat klien terjaga.
4. Pola tidur normal untuk masa anak adalah 11-12 jam /hari terpenuhi, masa sekolah 10
jam/hari terpenuhi, masa remaja 7-8 jam/hari terpenuhi.