Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum Hari / Tanggal :Selasa, 16 September 2014

Teknologi Bahan Penyegar Dosen :Dr Indah Yuliasih, STP, MSi


Asisten :
1. Ratna Rucitra (F34100031)
2. Hafizah Khaerina (F34100110)


PENDAHULUAN DAN ANALISIS MUTU KOPI BERAS

Oleh :
Fiona Arintika R F34120090
Septian Ventura F34120106










2014
DEPARTEMEN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR






























PENDAHULUAN
Latar Belakang
Bahan penyegar merupakan berbagai bahan dari tumbuhan yang
mengandung senyawa kimia alkaloid yang dapat menimbulkan efek segar pada
tubuh manusia karena mempengaruhi kerja jantung. Kopi merupakan satu di
antara berbagai jenis bahan penyegar, yang didapat dari penyangraian biji kopi
dan proses tertentu terhadap biji dari tumbuhan genus Coffea. Kopi telah dikenal
sejak lama di berbagai belahan bumi sebagai bagian dari budaya dan juga karena
efek penyegar (adrenal) yang ditimbulkannya. Komponen alkaloid dominan dalam
kopi adalah kafein yang memberi aroma dan citarasa yang khas (Clarke 1987).
Pada umumnya, jenis kopi yang sering dibudidayakan adalah jenis Robusta,
Arabika dan Liberika.
Biji kopi sebagai komoditas pertanian tentu memiliki sifat dasar mudah
rusak beserta karakteristik masing-masing sesuai jenis yang dibudidayakan.
Dalam pengolahannya diperlukan identifikasi mutu bahan baku seusai standar
yang telah ditetapkan dan pengetahuan akan teknik penanganan dan pengolahan
bahan yang benar agar tidak menurunkan nilai serta citra produk yang akan
dihasilkan. Hal ini tentu dimaksudkan untuk memajukan perekonomian di sektor
agroindustri yang hingga saat ini belum dioptimalkan.
Di Indonesia, perdagangan kopi didominasi oleh kopi jenis robusta (sekitar
90%). Padahal, pangsa pasarnya di perekonomian global tak lebih dari 30%,
sedang jenis arabika yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi mendominasi
pasar global sekitar 70%. Untuk mampu meningkatkan persaingan ekonomi
global, dapat dilakukan dengan intesifikasi pengelolaan kebun yang sudah ada dan
pengembangan di lahan baru yang perlu didasari dengan pengetahuan persyaratan
lahan, teknik budidaya, serta teknik pengolahan yang tepat (Anonim 2012).
Sebagai mahasiswa Departemen Teknologi Industri Pertanian, kita perlu
mempelajari teknik pengolahan yang sesuai karakteristik bahan, mampu
mengimprovisasi atau melakukan pengembangan produk sesuai pengetahuan akan
teknik pengolahan, dan bahkan mampu mengidentifikasi mutu biji kopi sesuai
standar dan kemudian dapat menyusun kriteria standar mutu yang lebih baik dari
yang sudah ada.

Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah mempelajari karakteristik kopi, mampu
mengindentifikasi mutu biji kopi berdasarkan standar yang telah ditetapkan, serta
mengetahui perbedaan jenis biji kopi dan mengetahui teknik pengolahan kopi.

METODOLOGI
Alat dan Bahan


Biji kopi wangi disiapkan.
A
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah neraca analitik, blender,
kuali, kompor gas, spatula, oven, gegep, desikator, cawan alumunium, wadah
plastik. Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah biji kopi arabika, robusta,
jagung, kertas milimeter blok.
Metode
Analisa Mutu Kopi Beras












Pengolahan Kopi Bubuk dan Kopi Instan








Biji kopi dihitung dan dideretkan pada
millimeter block dan dilakukan
pengelompokkan sesuai literatur.
Data dikumpulkan dan dilakukan
penghitungan nilai cacat biji kopi.
Biji kopi robusta, arabika, dan wangi, serta jagung
disiapkan dan dicampur dalam satu wadah.
Sisa bahan (198g) disangrai hingga
mengalami perubahan warna
hingga coklat kehitaman.
Sebanyak 2 gram bahan ditimbang dan
dimasukkan dalam oven 105
o
C selama
1 hari untuk dihitung kadar airnya.
Biji kopi ditimbang berdasar
pengelompokkan yang dilakukan.















HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
[Terlampir]
Pembahasan
Bahan penyegar merupakan istilah bagi bahan yang mengandung senyawa
alkaloid yang mampu memberikan stimuli/rangsangan berupa peningkatan kerja
jantung bagi pemakainya. Selain ditinjau dari komponen aktifnya, bahan penyegar
juga memiliki ciri khas tersendiri. Bahan penyegar biasanya selalu memiliki
aroma, bau dan rasa yang khas dari tiap-tiap komoditasnya.
Kopi, teh, coklat, dan tembakau adalah bahan penyegar populer dan
merupakan komoditas unggulan yang di produksi di perkebunan di seluruh
Indonesia (Hakim 2012).
Kopi beras merupakan biji kopi kering yang telah terlepas dari daging buah,
kulit ari, maupun kulit tanduk tanaman kopi. Kopi beras mengandung berbagai
komponen kimia di dalamnya, di antaranya senyawa alkanoid nonvolatile seperti
kafein, theofilin, theobromin, liberin, metilliberin, dan paraxantin. Selain itu,
terdapat juga komponen kimia berupa protein, karbohidrat, lemak (asam palmitat,
Bahan yang telah diblender dimasukkan
dalam kantong plastik.
Bahan yang telah disangrai
didiamkan hingga dingin,
kemudian dilakukan penimbangan.
Sebanyak 2 gram bahan ditimbang dan
dimasukkan dalam oven 105oC selama
1 hari untuk dihitung kadar airnya.
Sisa bahan diblender selama 1
menit.
A


linoleik, olein, stearin, trigliserida, diterpen, asam lemak tak jenuh, serta ester dan
amida), antioksidan (asam fenolik), serta komponen volatile seperti asam lemak
berantai pendek dan aldehida.
Proses industri terhadap tanaman kopi dimulai dari proses pemetikan,
pemrosesan, penggilingan, pemukulan (hulling), penghalusan (polishing),
pembersihan, sortasi, dan grading sesuai mutu. Secara khusus dalam pemrosesan
terdapat tiga proses yang umum dilakukan, yaitu pengolahan basah, kering, dan
semi kering (Nigam 2009).
Berbagai jenis kopi dibedakan oleh variasi dan asal tanaman tersebut
(dataran tinggi atau dataran rendah), dua hal tersebut akan mempengaruhi rasa dan
aroma kopi. Tanaman kopi adalah sebuah pohon yang masuk dalam keluarga
Coffea. Ada lebih dari 60 varietas kopi yang berbeda, namun jenis yang umum
diperdagangkan adalah Coffea arabica (Arabica) dan Coffea canephora
(Robusta).
Kopi arabika merupakan jenis biji tertua dan memiliki persentase 74 persen
dari biji yang ditanam di dunia, umumnya dibudayakan di daerah Amerika Latin,
Afrika, Papua Nugini, Kolombia, Brasil, dan India. Kopi Arabika memerlukan
waktu 6-9 bulan untuk menjadi biji yang matang. Biji kopi Arabika memiliki
harga lebih tinggi di pasar kopi karena tumbuh di ketinggian yang lebih tinggi
dan padat karya, serta umumnya diproses dengan metode basah yang biayanya
lebih mahal daripada metode kering. Biji Kopi Arabika jatuh ke tanah segera
setelah matang sehingga harus segera dipanen untuk mencegah kontaminasi rasa
dan bau tanah. Kopi jenis Robusta ditemukan pada 1870-an, tumbuh liar di
Kongo. Kopi jenis Robusta terutama dibudidayakan di Afrika Barat, Brasil, India,
dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Robusta matang dalam waktu sekitar
setengah dari waktu yang dibutuhkan kopi Arabica dan menghasilkan hampir dua
kali lebih banyak buah kopi, serta biji kopi tak jatuh ke tanah setelah matang
sehingga tidak harus segera dipanen seperti kopi jenis arabika.
Terdapat beberapa perbedaan antara kopi jenis arabika dan robusta. Secara
umum kopi arabika tumbuh di ketinggian 600-2200m dpl, pada curah hujan 1200-
2200mm/tahun, dalam suhu 15-24
o
C, sedang robusta tumbuh di ketinggian 0-
800m dpl, pada curah hujan 2200-3000mm/tahun, dan dalam suhu 18-36
o
C.
Selain itu, biji kopi arabika memiliki ukuran yang sedikit lebih besar dan
berukuran lebih elips dibanding biji kopi robusta yang berukuran lebih kecil dan
berbentuk lebih menyerupai bulat/bundar.
Secara komposisi kimia, kopi robusta umumnya memiliki kadar kafein yang
lebih tinggi daripada kopi arabika, bahkan hingga 2 kali lipat (kadar kafein
arabika 1.2%, robusta 2.2%). Kadar asam klorogenik (CGA) robusta pun lebih
tinggi dibanding arabika, yaitu 7-10% dibanding arabika 5-5.8%. Kopi arabika
mengandung lemak hingga 60% lebih banyak dibanding kopi robusta (15-17%
berbanding 10-11.5%) serta konsentrasi gula/sukrosa hingga 2 kali lipat kopi
robusta (6-9% berbanding 3-7%). Karena kandungan tersebutlah, kopi arabika
cenderung memiliki rasa lebih manis, lembut, serta kadar keasaman yang lebih
tinggi (pengaruh proses fermentasi gula) daripada kopi robusta (Alven 2014).
Secara genetik, kopi arabika memiliki jumlah kromosom 2 kali lebih banyak
daripada kopi robusta, yaitu 44 kromosom. Selain itu, kopi arabika merupakan
tanaman yang dapat melakukan penyerbukan sendiri sehingga akan memiliki lebih
sedikit varian dan kejadian mutasi selama siklus hidupnya. Meski begitu, kopi

robusta lebih resisten terhadap beberapa jenis penyakit. Kopi robusta
menghasilkan buah lebih cepat daripada kopi arabika serta menghasilkan
rendemen per pohon lebih tinggi dibanding kopi arabika (Waller 2007).
Dalam pengolahan biji kopi, dikenal metode pengolahan basah, kering, dan
semi kering, namun yang umum dilakukan adalah metode basah dan kering.
Pengolahan kering merupakan metode yang sederhana, melibatkan proses
pemanenan dengan sortasi dan pembersihan, pengeringan dengan
menghamparkan di bawah paparan matahari selama kurang lebih 3-4 minggu
hingga kadar air turun hingga sekitar 12.5%, atau dapat pula dibantu dengan alat
pengering. Proses pengeringan merupakan proses paling penting yang dapat
mempengaruhi kualitas kopi nantinya; jika terlalu kering kopi mudah hancur saat
proses pemukulan (hulling), terlalu basah akan mudah ditumbuhi mikroba.
Setelah itu akan dilanjutkan dengan proses hulling, sortasi, grading, dan
pengemasan. Karena proses yang sederhana ini, umumnya hasil dari pengolahan
kering memiliki mutu lebih rendah karena biji kopi yang tidak bagus dapat juga
tercampur. Citarasa yang umum dihasilkan dari pengolahan kering ini adalah
manis, lembut, agak berat, dan kompleks (Wijiastuti 2010).
Pengolahan metode basah memerlukan lebih banyak peralatan serta air dan
akan menghasilkan biji kopi memiliki kualitas dan harga lebih tinggi (lebih
tahan/awet, homogen, dan lebih sedikit defek pada biji kopi) dibanding
pengolahan kering. Setelah proses pemanenan, sortasi, dan pembersihan (dapat
dilakukan dengan dialiri air dalam tanki), terdapat proses pemisahan dengan pulp
buah dengan mesin. Proses tersebut merupakan kunci yang membedakan
pengolahan kering dan basah. Biji yang telah bersih dilewatkan ke alat screening
untuk pemisahan, dan kemunian akan dialirkan ke kanal untuk
pencucian/pembersihan (dengan pemisahan floatasi). Selanjutnya dilakukan
proses fermentasi dalam tanki dan pemisahan lendir yang timbul (pencucian).
Proses-proses tersebut akan menghasilkan biji kopi dengan kadar air sekitar 57%
dan untuk menurunkan hingga 12.5% dilakukanlah proses pengeringan. Tahap
terakhir dilakukan pula proses curing (kopi dihulling, dibersihkan, discreening,
sortasi, grading) dan pengemasan. Citarasa yang dihasilkan umumnya lebih juicy
dan asam, lebih cerah, dan lebih bersih (Rothfos 1980).
Penyebab kerusakan biji kopi dapat disebabkan oleh beberapa faktor selain
oleh serangan hama (Hemilia vastatrix). Biji kopi dapat pecah oleh karena
pengeringan berlebihan atau terserang hama, serta dapat rusak oleh proses
pengeringan yang kurang lama (akibat serangan mikroba). Biji kopi dapat
berkeriput karena belum matang sempurna, dan dapat berwarna kemerahan bila
proses pemcucial tidak optimal. Selain itu, biji dapat berwarna pucat bila terlalu
lama disimpan di tempat lembab, dan dapat pula berwarna belang jika
pengeringan tidak merata atau disimpan terlalu lama (Nigam 2009).
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap mutu kopi dengan
identifikasi terhadap standar mutu, didapatkan mutu kopi kelompok 1 4A (nilai
cacat 46,95) dengan dominasi biji kecil 48.8%. Kelompok 2 memiliki mutu kopi 2
(nilai cacat 15,2) dengan dominasi biji besar 48%. Kelompok 3 memiliki mutu
kopi 4B (nilai cacat 70,53) dengan dominasi biji besar 56.29%). Kelompok 4
memiliki mutu kopi 5 (nilai cacat 119,9) dengan dominasi biji kopi kecil 48.3%.
Kelompok 5 mutu biji kopinya 5 (nilai cacat 124) dengan dominasi biji kopi besar
37.8%. Kelompok 6 memiliki mutu 4A (nilai cacat 51,8) dan dominasi biji besar


48.26%. Secara keseluruhan didapat bahwa biji kopi didominasi dengan ukuran
biji kecil dan keunggulan mutu kopi arabika ditunjukkan dengan nilai mutu lebih
baik dibanding biji kopi robusta dan wangi (nilai mutu 2 dan dominasi biji ukuran
besar). Biji kopi robusta memiliki nilai mutu berkisar 4-5 meski memiliki biji
ukuran besar, dan biji kopi wangi memiliki nilai mutu sekitar 4 dengan dominasi
biji ukuran kecil.
Hasil pengamatan pada kadar air biji kopi setelah penyangraian secara
keseluruhan lebih kecil daripada sebelum disangrai. Proses penyangraian ini
melibatkan penguapan air dalam biji serta reaksi pirolisis (perubahan menjadi
coklat kehitaman) yang umumnya dilakukan pada suhu 180-200
o
C.
Penyimpangan terjadi pada kelompok 6 karena nilai kadar air naik setelah
penyangraian, yang dapat terjadi karena kesalahan procedural yaitu saat
pendinginan, biji kopi terlalu rapat sehingga uap air terkumpul kembali, ataupun
karena oven yang digunakan bersamaan dengan beberapa kelompok lain
mengakibatkan terjadinya aliran uap air. Waktu rata-rata yang diperlukan berkisar
22-50 menit, sedang yang umum terjadi adalah sekitar 10-30 menit tergantung
tingkat sangrai yang diinginkan. Selisih waktu yang cukup jauh dapat diakibatkan
perbedaan suhu sangrai serta proses yang terhambat karena selama penyangraian
jagung yang dicampurkan mengalami pengembangan sehingga beberapa kali
proses pemanasan dihentikan.
Pada praktikum ini dilakukan pengawasan mutu biji kopi berdasar nilai
cacat, yaitu dengan On grade (nilai yang didapat lebih kecil dari batas maksimum
nilai cacat sesuai SNI biji kopi). Pada kenyataannya, biji kopi yang didapat
memberi hasil dengan kisaran mutu 4-5 dengan nilai cacat, sedang dalam
persyaratan kadar air kelompok 1,2,3 memenuhi SNI (lebih kecil dari 12.5%) dan
kelompok 4,5,6 memiliki kadar air lebih besar dari 12.5%.


PENUTUP
Kesimpulan
Kopi merupakan bahan penyegar hasil pengolahan biji kopi yang telah
dibersihkan dan disangrai, yang memiliki kandungan kafein sebagai senyawa
alkaloid tertinggi dibanding komposisi kimia alkaloid lainnya. Beberapa jenis
kopi yang umum dibudidayakan dan diperdagangkan adalah arabika, robusta, dan
liberika. Kopi arabika memiliki tingkat kemanisan dan keasaman lebih tinggi dari
robusta, namun kadar kafeinnya lebih rendah. Secara tampak fisik, biji kopi
arabika lebih besar dan lonjong, sedang robusta cenderung lebih bulat dan lebih
kecil. Mutu biji kopi dapat ditentukan dengan mengidentifikasi cacat biji kopi dan
membandingkannya dengan tabel standar yang disediakan. Mutu biji kopi untuk
kelompok 2 adalah 2 dengan nilai cacat 15,2, serta memenuhi SNI dalam
persyaratan kadar air yaitu 1.3%.
Terdapat dua metode umum dalam pengolahan biji kopi, yaitu metode basah
dan metode kering. Metode basah menghasilkan biji kopi dengan kualitas lebih

baik karena dilakukan proses yang lebih kompleks dan pembersihan biji kopi dari
segala kotoran, sedang metode kering yang lebih sederhana, yaitu hanya melalui
tahap pengeringan menghasilkan biji kopi dengan mutu lebih rendah dan akhirnya
nilai ekonomis yang lebih kecil juga.

Saran
Dalam praktikum, sebaiknya proses penyangraian dilakukan dalam tempat
yang tidak terkena aliran udara terlalu besar agar api kompor tidak terganggu,
serta diberikan model/contoh biji kopi yang telah disangrai sempurna/baik agar
praktikan mengetahui hingga pada batas mana (secara sensori : warna atau aroma)
proses penyangraian dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Alven NKV. 2014. Encyclopedia of Agriculture and Food Systems. London (UK):
Elsevier.
[Anonim]. 2012. Macam Macam Kopi .[internet]. [Diunduh 2014 September 21].
Tersedia pada : http://kedaikopiluwakindonesia.com/artikel-kopi/jenis-
kopi-macam-macam-kopi.
Clarke RJ, Macrae R. 1987. Coffee: Related Beverages. New York City (US):
Springer.
Hakim RA. 2012. Minuman Penyegar. [internet].[Diunduh 2014 September 21].
Tersedia pada : repository.usu.ac.id/bitstream/.../3/Chapter%20II.pdf.
Nigam PS, Pandey A. 2009. Biotechnology for Agro-Industrial Residues
Utilisation. Berlin, Heidelberg (DE): Springer Science & Bussiness Media.
Rothfos B. 1980. Coffee Production. Hamburg (DE) : Gordian-Max-Riech
GmbH.
Sivetz M, Desrosier NW. 1979. Coffee Technology. Westport, Connecticut (US)
AVI Publishing Company.
Waller JM, Bigger M, Hillicks RJ. 2007. Coffee Pests, Diseases and Their
Management. Wallingford (UK) : CABI.
Wijiastuti S. 2010. Pengolahan Kopi Beras Cara Kering/OIB. [internet]. [Diunduh
2014 September 16]. Tersedia pada : http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/
pengolahan-kopi-beras-cara-keringoibost-indische-bereiding.


LAMPIRAN
ANALISIS MUTU KOPI BERAS WANGI KELOMPOK 1

No Jenis Cacat
Nilai
cacat
Jumlah
cacat
Jumlah
nilai cacat
Persentase
1 1 Biji hitam 1 24 24 10.08 %
2 1 Biji hitam sebagian 0.5 14 7 5.88 %
3 1 Biji hitam pecah 0.5 9 4.5 3.78%
4 1 Kopi gelondong 1 56 56 23.53%
5 1 Biji cokelat 0.25 110 27.5 46.22%
6 1 Kulit kopi ukuran besar 1 0 0 0%
7 1 Kulit kopi ukuran sedang 1 0 0 0%
8 2 Kulit kopi ukuran kecil 0.2 0 0 0%
9 1 Biji berkulit tanduk 0.5 0 0 0%
10 1 Biji berkulit tanduk ukuran besar 0.5 0 0 0%
11 1 Biji berkulit tanduk ukuran sedang 0.2 7 1.4 2.94%
12 1 Biji berkulit tanduk ukuran kecil 0.1 0 0 0%
13 1 Biji pecah 0.2 14 2.8 5.88%
14 1 Biji muda 0.2 0 0 0%
15 1 Biji berlubang 0.1 0 0 0%
16 1 Biji berlubang lebih dari 1 0.2 4 0.8 1.68%
17 1 biji bertutul - tutul 0.1 0 0 0%
18 1 ranting, tanah, batu ukuran sedang 2 0 0 0%
19 1 ranting, tanah, batu ukuran kecil 1 0 0 0%
20 1 ranting, tanah, batu ukuran besar 5 0 0 0%
TOTAL 46.95 100%

Mutu 4A
Jumlah
kopi
wangi
368 buah / 49.85 g
Biji kopi
besar
6.48 g / 49.85 g 12.99 %
Biji kopi
sedang
19.04 g / 49.85 g 38.19 %
Biji kopi
kecil
24.33 g / 49.85 g 48.8 %







ANALISIS MUTU KOPI BERAS ARABIKA KELOMPOK 2

No Jenis Cacat
Nilai
cacat
Jumlah cacat
Jumlah
nilai cacat
Persentase
1 1 Biji hitam 1 2 2 13,16%
2 1 Biji hitam sebagian 0.5 2 1 6.57 %
3 1 Biji hitam pecah 0.5 22 11 72.36 %
4 1 Kopi gelondong 1 1 1 6.57 %
5 1 Biji cokelat 0.25 0 0 0%
6 1 Kulit kopi ukuran besar 1 0 0 0%
7 1 Kulit kopi ukuran sedang 1 0 0 0%
8 2 Kulit kopi ukuran kecil 0.2 0 0 0%
9 1 Biji berkulit tanduk 0.5 0 0 0%
10
1 Biji berkulit tanduk ukuran
besar 0.5 0 0 0%
11
1 Biji berkulit tanduk ukuran
sedang 0.2 1 0.2 1.31 %
12
1 Biji berkulit tanduk ukuran
kecil 0.1 0 0 0%
13 1 Biji pecah 0.2 0 0 0%
14 1 Biji muda 0.2 0 0 0%
15 1 Biji berlubang 0.1 0 0 0%
16
1 Biji berlubang lebih dari 1
0.2 1 0.2 1.31 %
17 1 biji bertutul - tutul 0.1 0 0 0%
18
1 ranting, tanah, batu
ukuran sedang 2 0 0 0%
19
1 ranting, tanah, batu
ukuran kecil 1 0 0 0%
20
1 ranting, tanah, batu
ukuran besar 5 0 0 0%
TOTAL 15.4 100%

Mutu 2
Jumlah
kopi
robusta
313 buah / 49.24 g
Biji kopi
besar
23.64 g / 49.24 g
48%
Biji kopi
sedang
13.47 g / 49.24 g
27.35 %
Biji kopi
kecil
9.21 g / 49.24 g
18.7 %







ANALISIS MUTU KOPI BERAS ROBUSTA KELOMPOK 3

No Jenis Cacat
Nilai
cacat
Jumlah
cacat
Jumlah
nilai
cacat
Persentase
1 1 Biji hitam 1 2 2 2.84%
2 1 Biji hitam sebagian 0.5 13 6.5 9.22%
3 1 Biji hitam pecah 0.5 6 3 4.26%
4 1 Kopi gelondong 1 38 38 53.87%
5 1 Biji cokelat 0.25 14 3.5 4.96%
6 1 Kulit kopi ukuran besar 1 0 0 0%
7 1 Kulit kopi ukuran sedang 1 0 0 0%
8 2 Kulit kopi ukuran kecil 0.2 0 0 0%
9 1 Biji berkulit tanduk 0.5 8 4 5.67%
10
1 Biji berkulit tanduk ukuran
besar 0.5 2 1 1.42%
11
1 Biji berkulit tanduk ukuran
sedang 0.2 5 1 1.42%
12
1 Biji berkulit tanduk ukuran
kecil 0.1 3 0.33 0.46%
13 1 Biji pecah 0.2 35 7 9.93%
14 1 Biji muda 0.2 14 2.8 3.96%
15 1 Biji berlubang 0.1 11 1 1.42%
16
1 Biji berlubang lebih dari 1
0.2 2 0.4 0.57%
17 1 biji bertutul - tutul 0.1 0 0 0%
18
1 ranting, tanah, batu
ukuran sedang 2 0 0 0%
19
1 ranting, tanah, batu
ukuran kecil 1 0 0 0%
20
1 ranting, tanah, batu
ukuran besar 5 0 0 0%
TOTAL 70.53 100%

Mutu 4B

Jumlah kopi
arabica
273 buah/ 51.98 g
Biji kopi
besar
29.26 g / 51.98 g 56.29 %
Biji kopi
sedang
12.61 g /51.98 g 24.26%
Biji kopi
kecil
9.98 g / 51.98 g 19.20 %
ANALISIS MUTU KOPI BERAS WANGI KELOMPOK 4

No Jenis Cacat
Nilai
cacat
Jumlah
cacat
Jumlah
nilai cacat
Persentase
1 1 Biji hitam 1 3 3 2.5%
2 1 Biji hitam sebagian 0.5 3 1.5 1.25%
3 1 Biji hitam pecah 0.5 46 23 19.18%
4 1 Kopi gelondong 1 11 11 9.17%
5 1 Biji cokelat 0.25 24 6 5%
6
1 Kulit kopi ukuran
besar 1 7 7 5.84%
7
1 Kulit kopi ukuran
sedang 1 29 29 24.19%
8 2 Kulit kopi ukuran kecil 0.2 11 2.2 1.83%
9 1 Biji berkulit tanduk 0.5 5 2.5 2.09%
10
1 Biji berkulit tanduk
ukuran besar 0.5 1 0.5 0.42%
11
1 Biji berkulit tanduk
ukuran sedang 0.2 8 1.6 1.33%
12
1 Biji berkulit tanduk
ukuran kecil 0.1 0 0 0%
13 1 Biji pecah 0.2 36 7.2 6%
14 1 Biji muda 0.2 103 20.6 17.18%
15 1 Biji berlubang 0.1 15 1.5 1.25%
16
1 Biji berlubang lebih
dari 1
0.2 2 0.4 0.34%
17 1 biji bertutul - tutul 0.1 29 2.9 2.42%
18
1 ranting, tanah, batu
ukuran sedang 2 0 0 0%
19
1 ranting, tanah, batu
ukuran kecil 1 0 0 0%
20
1 ranting, tanah, batu
ukuran besar 5 0 0 0%
TOTAL 119.9 100%



Mutu 5
Jumlah kopi
wangi
333 buah /47.68 g
Biji kopi
besar
12.56 g /47.86 g
26.24 %
Biji kopi
sedang
12 g /47.86 g
25.07 %
Biji kopi
kecil
23.12 g /47.86 g
48.3 %

ANALISIS MUTU KOPI BERAS ROBUSTA KELOMPOK 5

No Jenis Cacat Nilai cacat Jumlah cacat
Jumlah nilai
cacat
Persentase
1 1 Biji hitam 1 24 24 10.08 %
2 1 Biji hitam sebagian 0.5 14 7 5.88 %
3 1 Biji hitam pecah 0.5 9 4.5 3.78%
4 1 Kopi gelondong 1 56 56 23.53%
5 1 Biji cokelat 0.25 110 27.5 46.22%
6 1 Kulit kopi ukuran besar 1 0 0 0%
7 1 Kulit kopi ukuran sedang 1 0 0 0%
8 2 Kulit kopi ukuran kecil 0.2 0 0 0%
9 1 Biji berkulit tanduk 0.5 0 0 0%
10
1 Biji berkulit tanduk ukuran
besar 0.5 0 0 0%
11
1 Biji berkulit tanduk ukuran
sedang 0.2 7 1.4 2.94%
12 1 Biji berkulit tanduk ukuran kecil 0.1 0 0 0%
13 1 Biji pecah 0.2 14 2.8 5.88%
14 1 Biji muda 0.2 0 0 0%
15 1 Biji berlubang 0.1 0 0 0%
16
1 Biji berlubang lebih dari 1
0.2 4 0.8 1.68%
17 1 biji bertutul - tutul 0.1 0 0 0%
18
1 ranting, tanah, batu ukuran
sedang 2 0 0 0%
19
1 ranting, tanah, batu ukuran
kecil 1 0 0 0%

20
1 ranting, tanah, batu ukuran
besar 5 0 0 0%
TOTAL 124 100%

Mutu 5
Jumlah
kopi
robusta
238 buah / 50 gram
Biji kopi
besar
90 buah / 238 buah 37.8 %
Biji kopi
sedang
71 buah / 238 buah 29.8%
Biji kopi
kecil
77 buah / 238 buah 32.4%

ANALISIS MUTU KOPI BERAS ARABIKA KELOMPOK 6

No Jenis Cacat
Nilai
cacat
Jumlah
cacat
Jumlah
nilai cacat
Persentase
1 1 Biji hitam 1 13 13 25.1%
2 1 Biji hitam sebagian 0.5 0 0 0%
3 1 Biji hitam pecah 0.5 6 3 5.8%
4 1 Kopi gelondong 1 0 0 0%
5 1 Biji cokelat 0.25 58 14.5 28%
6
1 Kulit kopi ukuran
besar 1 0 0 0%
7
1 Kulit kopi ukuran
sedang 1 0 0 0%
8 2 Kulit kopi ukuran kecil 0.2 0 0 0%
9 1 Biji berkulit tanduk 0.5 9 4.5 8.69%
10
1 Biji berkulit tanduk
ukuran besar 0.5 6 3 5.8%
11
1 Biji berkulit tanduk
ukuran sedang 0.2 23 4.6 8.9%
12
1 Biji berkulit tanduk
ukuran kecil 0.1 14 1.4 2.7%
13 1 Biji pecah 0.2 14 2.8 4.41%
14 1 Biji muda 0.2 15 3 5.8%
15 1 Biji berlubang 0.1 0 0 0%
16
1 Biji berlubang lebih
dari 1
0.2 0 0 0%
17 1 biji bertutul - tutul 0.1 20 2 3.86%
18
1 ranting, tanah, batu
ukuran sedang 2 0 0 0%


19
1 ranting, tanah, batu
ukuran kecil 1 0 0 0%
20
1 ranting, tanah, batu
ukuran besar 5 0 0 0%
TOTAL 51.8 100%

Mutu 4A
Jumlah
kopi
arabica
309 buah / 30.19 g
Biji kopi
besar
14.57 g / 30.19 g 48.26 %
Biji kopi
sedang
8.98 g / 30.19 g 29,75%
Biji kopi
kecil
6,64 g / 30.19 g 21.99 %

Spesifikasi Persyaratan Mutu Kopi

No Jenis Uji
Kel 1 A:J
(140:60)
Kel 2 R:J
(160:40)
Kel 3
KW:J
(160:40)
Kel 4 A:R:J
(40:120:40)
Kel 5
A:KW:J
(40:120:40)
Kel 6
R:W:J
(80:80:40)
1
Kadar air sebelum
disangrai 19% 5.7 % 2.65 % 33.09 % 33% 6.6 %
2 2
Kadar air sesudah
disangrai 10% 1.3 % 0.32 % 18.25 % 20% 98.8 %
3 Waktu penyangraian 39 menit 46 menit 26 menit 22.5 menit 29 menit 50 menit