Anda di halaman 1dari 25

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadieat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahnya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas praktek di ruang OK dengan
kasus tindakan pembedahan pada pasien Struma Nodusa Non Toksik (SNNT).
Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada :
1. Dosen Pembimbing,
2. Kepala ruangan OK yang telah membimbing saya dalam menyelesaikan tugas
Bapak Muhammad Ishak , AMK
Dalam penulisan tugas, saya sadar tugas yang telah saya selesaikan jauh dari
kesempurnaan, untuk itu saya selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun kepada para pembaca agar penulisan tugas berikutnya dapan saya tulis
dengan lebih baik lagi.
Semoga tugas yang saya tulis dapat memberikan manfaat, baik berupa pengetahuan,
informasi dan lain sebagainya kepada para pembaca nantinya.


Tanjungpinang 25 Januari 2013


Penulis

2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang ..................................................................... 3
B. Tujuan ................................................................................. 4
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Pengrtian ............................................................................. 5
B. Etiologi ................................................................................ 6
C. Gejala .................................................................................. 6
D. Patofisiologi ........................................................................ 7
E. Pemeriksaan penunjang ....................................................... 8
F. Penatalaksanaan .................................................................. 10
G. Komplikasi11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian ........................................................................... 12
B. Diagnose keperawatan ........................................................ 13
C. Intervensi ............................................................................. 14
D. Implementasi ....................................................................... 23
E. Evaluasi ............................................................................... 23
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ......................................................................... 24
B. Saran .................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 25
3

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Pembesaran (struma) thyroidea sudah sering ditemukan di mayarakat,
skitar 10% dari semua wanita di area geografi yang kekurangan yodium, dan
kebanyakan struma yang terjadi akibat kekurangan yodium langsung atu
akibat dari makanan goitrogen dalam hal diet aneh pada daeah tertentu.
Banyak bentuk lain dalam pembesaran thyroid yang menanmpilkan kesulitan
dalam diagnosis dan penatalaksanaan serta alogaritma klinik telah dibentuk
untuk menbantu pemeriksaan dan terapi.
Apabila pada pemeriksaan kelenjar teraba adanya nodul, maka
pembesaran tersebut disebut struma nodusa, struma nodusa tanpa disertai
tanda-tanda hiper thyroidisme disebut struma nodusa non toksik. Kelainan in
kerap sering dijumpa ibahkan dapat dikatakan mudah ditemukan. Gondok
endemic sering dijumpai di daerah-daerah dengan defesiensi yodium.
Penumpukan hormon tiroid meningkatkan hormon TSH kompensatoar dengan
akibat hiperplasia dan hipertropi kelenjar, dan keadaan eutiroid, terutama pada
wanita, dan uimumnya timbul pada saat usia pubrtas








4

B. Tujuan
1. Umum
Mahasisea dapat mengetahui apa itu Struma Nodusa Nontoksik
(SNNT)
2. Khusus
Mahasiswa dapat mengetahui instrument oprasi yang diperlukan pada
oprasi SNNT
Mahasiswa dapat berpartisipasi dalam tindakan oprasi
Mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan pada kasus SNNT



















5

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengertian
Struma Nodusa Non Toksik adalah pembesaran kelenjar thyroid yang
secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hiper
thyroidisme. (Brunner dan Sudarth 2002)
Struma nodosa non toksik merupakan pembesaran kelenjar tiroid akibat
kekurangna masukan iodium dalam makanan. ( kapita selekta kedokteran,
jilid 2)
Stuma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada pasien
eutiroid, tidak berhubungan dengan neoplastik atau proses implasi (bambang
sumantri Skep Ns 2011)
Struma Non Toksik Nodusa Adalah pembesaran dari kelenjar tiroid yang
berbatas jelas tanpa gejala-gejala hipertiroid.
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara
klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda
hypertiroidisme (Hartini, 1987).





6

B. Etiologi
Adanya gangguan fungsional dalam pembentukan hormon tyroid
merupakan faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid antara lain :
Defisiensi iodium
Pada umumnya, penderita penyakit struma sering terdapat di
daerah yang kondisi air minum dan tanahnya kurang
mengandung iodium, misalnya daerah pegunungan.
Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon
tyroid.
Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia (seperti substansi dalam
kol, lobak, kacang kedelai).
Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan (misalnya :
thiocarbamide, sulfonylurea dan litium).

C. Gejala
Pada penyakit struma nodosa nontoksik tyroid membesar dengan
lambat. Awalnya kelenjar ini membesar secara difus dan permukaan licin.
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat
mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga
terjadi gangguan menelan.






7

D. Patofisiologi


























Penyempitan
jalan Napas
Epiglostis
menutup trakea
Stromektomi
Dyspnea
Ketidak efektifan
jalan nafas
sesak saat
menelan
interupsi bedah
Nyeri telan
Luka oprasi
Kebut tiroksin (seperti pada usia pubertas)
Hyperplasia & Hipertrofi
kelenjar tiroid

Nodularis Kelenjar
Tiroid

Struma
Kerusakan
komunikasi verbal

Nyeri telan
8

E. Pemeriksaan penunjang meliputi (Mansjoer, 2001) :
1. Pemeriksaan sidik tiroid
Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk
lokasi, dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid. Pada
pemeriksaan ini pasien diberi Nal peroral dan setelah 24 jam secara
fotografik ditentukan konsentrasi yodium radioaktif yang ditangkap oleh
tiroid. Dari hasil sidik tiroid dibedakan 3 bentuk
a) Nodul dingin bila penangkapan yodium nihil atau kurang
dibandingkan sekitarnya. Hal ini menunjukkan sekitarnya.
b) Nodul panas bila penangkapan yodium lebih banyak dari pada
sekitarnya. Keadaan ini memperlihatkan aktivitas yang berlebih
c) Nodul hangat bila penangkapan yodium sama dengan sekitarnya.
Ini berarti fungsi nodul sama dengan bagian tiroid yang lain.
2. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dapat membedakan antara padat, cair, dan beberapa
bentuk kelainan, tetapi belum dapat membedakan dengan pasti ganas atau
jinak. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG :
a) Kista
b) Adenoma
c) Kemungkinan karsinoma
d) Tiroiditis








9

3. Biopsi aspirasi jarum halus(Fine Needle Aspiration/FNA)
Mempergunakan jarum suntik no. 22-27. Pada kista dapat juga dihisap
cairan secukupnya, sehingga dapat mengecilkan nodul (Noer, 1996).
Dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.
Biopsi aspirasi jarum halus tidak nyeri, hampir tidak menyababkan bahaya
penyebaran sel-sel ganas. Kerugian pemeriksaan ini dapat memberikan
hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat, teknik biopsi kurang
benar, pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena
salah interpretasi oleh ahli sitologi.
4. Termografi
Metode pemeriksaan berdasarkan pengukuran suhu kulit pada suatu
tempat dengan memakai Dynamic Telethermography. Pemeriksaan ini
dilakukan khusus pada keadaan yang mencurigakan suatu keganasan.
Hasilnya disebut panas apabila perbedaan panas dengan sekitarnya >
0,9
o
C dan dingin apabila <0,9
o
C. Pada penelitian Alves didapatkan
bahwa pada yang ganas semua hasilnya panas. Pemeriksaan ini paling
sensitif dan spesifik bila dibanding dengan pemeriksaan lain.
5. Petanda Tumor
Pada pemeriksaan ini yang diukur adalah peninggian tiroglobulin (Tg)
serum. Kadar Tg serum normal antara 1,5-3,0 ng/ml, pada kelainan jinak
rataa-rata 323 ng/ml, dan pada keganasan rata-rata 424 ng/ml.








10

F. Penatalaksanaan
i. Indikasi operasi pada struma nodosa non toksika ialah (tim penyusun,
1994)
Keganasan
Penekanan
Kosmetik
Tindakan operasi yang dikerjakan tergantung jumlah lobus tiroid yang
terkena. Bila hanya satu sisi saja dilakukan subtotal lobektomi, sedangkan
kedua lobus terkena dilakukan subtotal tiroidektomi. Bila terdapat
pembesaran kelenjar getah bening leher maka dikerjakan juga deseksi
kelenjar leher fungsional atau deseksi kelenjar leher radikal/modifikasi
tergantung ada tidaknya ekstensi dan luasnya ekstensi di luar kelenjar
getah bening.
ii. Radioterapi diberikan pada keganasan tiroid yang :
Inoperabel
Kontraindikasi operasi
Ada residu tumor setelah operasi
Metastase yang non resektabel
iii. Hormonal terapi dengan ekstrak tiroid diberikan selain untuk suplemen
juga sebagai supresif untuk mencegah terjadinya kekambuhan pada pasca
bedah karsinoma tiroid diferensiasi baik (TSHdependence). Terapai
supresif ini juga ditujukan terhadap metastase jauh yang tidak resektabel
dan terapi adjuvan pada karsinoma tiroid diferensiasi baik yang
inoperabel.



11

G. Komplikasi struma nodose non toksik

a) Kalorigenik
b) Termoregulasi
c) Metabolisme protein. Dalam dosis fisiologis kerjanya bersifat
anabolik, tetapi dalam dosis besar bersifat katabolik
d) Metabolisme karbohidrat. Bersifat diabetogenik, karena resorbsi
intestinal meningkat, cadangan glikogen hati menipis, demikian pula
glikogen otot menipis pada dosis farmakologis tinggi dan degenarasi
insulin meningkat.
e) Metabolisme lipid. T4 mempercepat sintesis kolesterol, tetapi proses
degradasi kolesterol dan ekspresinya lewat empedu ternyata jauh lebih
cepat, sehingga pada hiperfungsi tiroid kadar kolesterol rendah.
Sebaliknya pada hipotiroidisme kolesterol total, kolesterol ester dan
fosfolipid meningkat.
f) Vitamin A. Konversi provitamin A menjadi vitamin A di hati
memerlukan hormon tiroid. Sehingga pada hipotiroidisme dapat
dijumpai karotenemia.
g) Lain-lain : gangguan metabolisme kreatin fosfat menyebabkan
miopati, tonus traktus gastrointestinal meninggi, hiperperistaltik
sehingga terjadi diare, gangguan faal hati, anemia defesiensi besi dan
hipotiroidisme.





12

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal dari dasar dalam proses
keperawatan secara keseluruhan guna mendapat data atau informasi yang
dibutuhkan untuk menentukan masalah kesehatan yang dihadapi pasien
melalui wawancara, observasi, dan pemeriksaan fisik meliputi :
Aktivitas/istirahat ; insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi,
kelelahan berat, atrofi otot.
Eliminasi ; urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
Integritas ego ; mengalami stres yang berat baik emosional maupun
fisik, emosi labil, depresi.
Makanan/cairan ; kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu
makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual
dan muntah, pembesaran tyroid, goiter.
Rasa nyeri/kenyamanan ; nyeri orbital, fotofobia.
Pernafasan ; frekuensi pernafasan meningkat, takipnea, dispnea,
edema paru (pada krisis tirotoksikosis).
Keamanan ; tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan,
alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu
meningkat di atas 37,4
0
C, diaforesis, kulit halus, hangat dan
kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi,
iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi
pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
13

Seksualitas ; libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama
sekali, impotensi.

B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan struma nodosa nontoksis
khususnya post operai dapat dirumuskan sebagai berikut ;
Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan
spasme laringeal.
Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita
suara/kerusakan laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.
Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses
pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan dengan tindakan
bedah terhadap jaringan/otot dan edema pasca operasi.








14

C. Perencanaa keperawatan/intervensi
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan yang akan
dilaksanakan untuk menanggulangi masalah pasien sesuai diagnosa
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan
pasien. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang diuraikan di atas, maka
disusunlah rencana keperawatan/intervensi sebagai berikut :
a. Resiko tinggi terjadi ketidakefektivan bersihan jalan nafas
berhubungan dengan obstruksi trakea, pembengkakan, perdarahan dan
spasme laryngeal.
a) Tujuan yang ingin dicpai sesuai kriteria hasil :
Mempertahankan jalan nafas paten dengan mencegah aspirasi.
b) Rencana tindakan/intervensi
Pantau frekuensi pernafasan, kedalaman dan kerja pernafasan.
Rasional :
Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi
berkembangnya distres pada pernafasan merupakan indikasi
kompresi trakea karena edema atau perdarahan.
Auskultasi suara nafas, catat adanya suara ronchi.
Rasional :
Ronchi merupakan indikasi adanya obstruksi.spasme
laringeal yang membutuhkan evaluasi dan intervensi yang
cepat.
Kaji adanya dispnea, stridor, dan sianosis. Perhatikan kualitas
suara.
Rasional :
15

Indikator obstruksi trakea/spasme laring yang
membutuhkan evaluasi dan intervensi segera.
Waspadakan pasien untuk menghindari ikatan pada leher,
menyokog kepala dengan bantal.
Rasional :
Menurunkan kemungkinan tegangan pada daerah luka
karena pembedahan.
Bantu dalam perubahan posisi, latihan nafas dalam dan atau
batuk efektif sesuai indikasi.
Rasional :
Mempertahankan kebersihan jalan nafas dan evaluasi.
Namun batuk tidak dianjurkan dan dapat menimbulkan nyeri
yang berat, tetapi hal itu perlu untuk membersihkan jalan
nafas.
Lakukan pengisapan lendir pada mulut dan trakea sesuai
indikasi, catat warna dan karakteristik sputum.
Rasional :
Edema atau nyeri dapat mengganggu kemampuan pasien
untuk mengeluarkan dan membersihkan jalan nafas sendiri.
Lakukan penilaian ulang terhadap balutan secara teratur,
terutama pada bagian posterior
Rasional :
Jika terjadi perdarahan, balutan bagian anterior mungkin
akan tampak kering karena darah tertampung/terkumpul pada
daerah yang tergantung.
16

Selidiki kesulitan menelan, penumpukan sekresi oral.
Rasional :
Merupakan indikasi edema/perdarahan yang membeku
pada jaringan sekitar daerah operasi.
Pertahankan alat trakeosnomi di dekat pasien.
Rasional :
Terkenanya jalan nafas dapat menciptakan suasana yang
mengancam kehidupan yang memerlukan tindakan yang
darurat.
Pembedahan tulang
Rasional :
Mungkin sangat diperlukan untuk
penyambungan/perbaikan
pembuluh darah yang mengalami perdarahan yang terus
menerus.
b. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan cedera pita
suara/kerusakan saraf laring, edema jaringan, nyeri, ketidaknyamanan.
a. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Mampu menciptakan metode komunikasi dimana kebutuhan
dapat dipahami.




17

b. Rencana tindakan/intervensi
Kaji fungsi bicara secara periodik.
Rasional :
Suara serak dan sakit tenggorok akibat edema jaringan atau
kerusakan karena pembedahan pada saraf laringeal yang
berakhir dalam beberapa hari kerusakan saraf menetap dapat
terjadi kelumpuhan pita suara atau penekanan pada trakea.
Pertahankan komunikasi yang sederhana, beri pertanyaan yang
hanya memerlukan jawaban ya atau tidak.
Rasional :
Menurunkan kebutuhan berespon, mengurangi bicara.
Memberikan metode komunikasi alternatif yang sesuai, seperti
papan tulis, kertas tulis/papan gambar.
Rasional :
Memfasilitasi eksprsi yang dibutuhkan.
Antisipasi kebutuhan sebaik mungkin. Kunjungan pasien
secara teratur.
Rasional ;
Menurunnya ansietas dan kebutuhan pasien untuk
berkomunias.
Beritahu pasien untuk terus menerus membatasi bicara dan
jawablah bel panggilan dengan segera.
Rasional :
Mencegah pasien bicara yang dipaksakan untuk
menciptakan kebutuhan yang diketahui/memerlukan bantuan.
18

Pertahankan lingkungan yang tenang.
Rasional :
Meningkatkan kemampuan mendengarkan komunikasi
perlahan dan menurunkan kerasnya suara yang harus
diucapkan pasien untuk dapat didengarkan.
c. Resiko tinggi terhadap cedera/tetani berhubungan dengan proses
pembedahan, rangsangan pada sistem saraf pusat.
1. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Menunjukkan tidak ada cedera dengan komplikasi
terpenuhi/terkontrol.
2. Rencana tindakan/intervensi
Pantau tanda-tanda vital dan catat adanya peningkatan suhu
tubuh, takikardi (140 200/menit), disrtrimia, syanosis, sakit
waktu bernafas (pembengkakan paru).
Rasional :
Manipulasi kelenjar selama pembedahan dapat
mengakibatkan peningkatan pengeluaran hormon yang
menyebabkan krisis tyroid.
Evaluasi reflesi secara periodik. Observasi adanya peka
rangsang, misalnya gerakan tersentak, adanya kejang,
prestesia.
Rasional :
Hypolkasemia dengan tetani (biasanya sementara) dapat
terjadi 1 7 hari pasca operasi dan merupakan indikasi
hypoparatiroid yang dapat terjadi sebagai akibat dari trauma
19

yang tidak disengaja pada pengangkatan parsial atau total
kelenjar paratiroid selama pembedahan.
Pertahankan penghalang tempat tidur/diberi bantalan, tmpat
tidur pada posisi yang rendah.
Rasional :
Menurunkan kemungkinan adanya trauma jika terjadi
kejang.
Memantau kadar kalsium dalam serum.
Rasional :
Kalsium kurang dari 7,5/100 ml secara umum
membutuhkan terapi pengganti.
Kolaborasi
Berikan pengobatan sesuai indikasi (kalsium/glukonat, laktat).
Rasional ;
Memperbaiki kekurangan kalsium yang biasanya
sementara tetapi mungkin juga menjadi permanen.
d. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan tindakan bedah
terhadap jaringan/otot dan paska operasi.
I. Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol. Menunjukkan
kemampuan mengadakan relaksasi dan mengalihkan perhatian
dengan aktif sesuai situasi.



20

II. Rencana tindakan/intervensi :
Kaji tanda-tanda adanya nyeri baik verbal maupun non verbal,
catat lokasi, intensitas (skala 0 10) dan lamanya.
Rasional :
Bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan
intervensi, menentukan efektivitas terapi.
Letakkan pasien dalam posisi semi fowler dan sokong
kepala/leher dengan bantal pasir/bantal kecil.
Rasional :
Mencegah hiperekstensi leher dan melindungi integritas
gari jahitan.
Pertahankan leher/kepala dalam posisi netral dan sokong
selama perubahan posisi. Instruksikan pasien menggunakan
tangannya untuk menyokong leher selama pergerakan dan
untuk menghindari hiperekstensi leher.
Rasional :
Mencegah stress pada garis jahitan dan menurunkan
tegangan otot.
Letakkan bel dan barang yang sering digunakan dalam
jangkauan yang mudah.
Rasional :
Membatasi ketegangan, nyeri otot pada daerah operasi.
Berikan minuman yang sejuk/makanan yang lunak ditoleransi
jika pasien mengalami kesulitan menelan.
Rasional :
21

Menurunkan nyeri tenggorok tetapi makanan lunak
ditoleransi jika pasien mengalami kesulitan menelan.
Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi, seperti
imajinasi, musik yang lembut, relaksasi progresif.
Rasional :
Membantu untuk memfokuskan kembali perhatian dan
membantu pasien untuk mengatasi nyeri/rasa tidak nyaman
secara lebih efektif.
Kolaborasi
Beri obat analgetik dan/atau analgetik spres tenggorok sesuai
kebutuhannya.
Berikan es jika ada indikasi
Rasional :
Menurunnya edema jaringan dan menurunkan persepsi
terhadap nyeri.
e. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi, prognosis
dan kebutuhan tindakan berhubungan dengan tidak mengungkapkan
secara terbuka/mengingat kembali, setelah menginterpretasikan
konsepsi.
Tujuan yang ingin dicapai sesuai kriteria hasil :
Adanya saling pengertian tentang prosedur pembedahan dan
penanganannya, berpartisipasi dalam program pengobatan,
melakukan perubahan gaya hidup yang perlu.
Rencana tindakan/intervensi :
Tinjau ulang prosedur pembedahan dan harapan selanjutnya.
22

Rasional ;
Member pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat
keputusan sesuai informasi.
f. Diskusikan kebutuhan diet yang seimbang, diet bergizi dan bila dapat
mencakup garam beriodium.
Tujuan yang ingin dicapai :
Mempercepat penyembuhan dan membantu pasien mencapai
berat badan yang sesuai dengan pemakaian garam beriodium
cukup.
Intervensinya
Hindari makanan yang bersifat gastrogenik, misalnya makanan
laut yang berlebihan, kacang kedelai, lobak.
Rasional :
Merupakan kontradiksi setelah tiroidiktomi sebab makanan ini
menekan aktivitas tyroid.
Identifikasi makanan tinggi kalsium (misalnya : kuning telur, hati)
Rasional :
Memaksimalkan suplay dan absorbsi jika fungsi kelenjar
paratiroid terganggu.
Dorong program latihan umum progresif
Rasional :
Latihan dapat menstimulasi kelenjar tyroid dan produksi
hormon yang Amemfasilitasi pemulihan kesejahteraan.

23

D. Pelaksanaan keperawatan/ Implementasi
Pelaksanaan keperawatan merupakan perwujudan dari rencana
keperawatan yang telah dirumuskan dalam rangka memenuhi kebutuhan
pasien secara optimal dengan menggunakan keselamatan, keamanan dan
kenyamanan pasien. Dalam melaksanakan keperawatan, haruslah dilibatkan
tim kesehatan lain dalam tindakan kolaborasi yang berhubungan dengan
pelayanan keperawatan serta berdasarkan atas ketentuan rumah sakit.

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahapan terakhir dari proses keperawatan yang
bertujuan untuk menilai tingkat keberhasilan dari asuhan keperawatan yang
telah dilaksanakan.
Dari rumusan seluruh rencana keperawatan serta impelementasinya, maka
pada tahap evaluasi ini akan difokuskan pada :
Apakah jalan nafas pasien efektif?
Apakah komunikasi verbal dari pasien lancar?
Apakah tidak terjadi tanda-tanda infeksi?
Apakah gangguan rasa nyaman dari pasien dapat terpenuhi?
Apakah pasien telah mengerti tentang proses penyakitnya serta
tindakan perawatan dan pengobatannya?




24

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Struma Nodusa Non Toksik adalah pembesaran kelenjar thyroid yang
secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hiper
thyroidisme
faktor penyebab pembesaran kelenjar tyroid
Defisiensi iodium
Kelainan metabolik kongenital yang menghambat sintesa hormon
tyroid
Penghambatan sintesa hormon oleh zat kimia
Penghambatan sintesa hormon oleh obat-obatan

B. Saran
Kita yang sedang dalam keadaan sehat, tetaplah jaga kesehatan, konsumsi
makanan yang mengandung yodium agar terhindar dari penyakit SNNT,
makan makanan yang sehat seimbang. Perlu kita ingat bahwa sehat itu mahal,
satuhari saja kita mengalami sakit, maka sesungguhnya waktu kita dalam
sehari tersebut tidak akan kembali terulang.

Konsultasikan diri kepada dokter atau petugas kesehatan terdekat bila
mengalami hal yang tidak biasa dirasakan untuk menghindari kemungkinan
yang terjadi pada kesehatan kita.

25

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad shaleh, sabtu, 23 mei 2009
Kadek Wahyu Adi Putra, selasa, 16 oktober 2012
Ambar Kurnia Sari, selasa 15 november 2011
Kang Kapuk, selasa, 20 november 2012
Sukron Elmamoun