Anda di halaman 1dari 22

Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reaksi-reaksi kimia biasanya berlangsung antara dua campuran zat,
bukannya antara dua zat murni. Salah satu bentuk yang umum dari campuran
adalah larutan.
Larutan merupakan suatu campuran homogen antara dua zat dari molekul,
atom ataupun ion dimana zat yang dimaksud disini adalah zat padat, minyak larut
dalam air.
Larutan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Di alam
kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air. Tubuh menyerap mineral,
vitamin dan makanan dalam bentuk larutan. Pada tumbuhan nutrisi diangkut
dalam larutan air ke semua bagian jaringan. Obat-obatan biasanya merupakan
larutan air atau alkohol dari senyawa fisiologis aktif. Banyak reaksi-reaksi kimia
yang dikenal, baik didalam laboratorium atau diindustri terjadi dalam larutan.
Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat
terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan,
dan untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut.
Adapun kelarutan didefenisikan dalam besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat
terlarut dalam larutan jeuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif
didefenisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk
dispersi molekuler homogen.


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

Dalam bidang farmasi kelarutan sangat penting, karena dapat mengetahui
dan dapat membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk
obat atau kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu
yang timbul pada waktu pembuatan larutan farmasetis (dibidang farmasi) dan
lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kelarutan.

B. Tujuan Percobaan
a. Untuk menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif
b. Untuk menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat
c. Untuk menjelaskan usaha-usaha yang digunakan untuk meningkatkan
kelarutan suatu zat aktif dalam air pembuatan sediaan cair.














Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
Larutan dapat didefinisikan sebagai campuran homogen dari dua zat atau
lebih yang terdispersi sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat
bervariasi (Yazid, 2005).
Larutan kimia dan fisika merupakan campuran dua atau lebih zat yang
homogen. Secara umum, larutan menunjukkan campuran homogen yang cair
meskipun memungkinkan untuk membuat campuran homogen dari padatan atau
gas. Jadi, sangat mungkin membuat larutan padatan dalam cairan, cairan dalam
cairan, gas dalam cairan, gas dalam gas dan padatan-dalam padatan. Tiga yang
pertama ini adalah yang paling penting dalam farmasi (Remington, 1990 ; 207).
Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat
terlarut dan pelarut, juga bergantung pada faktor temperatur, tekanan, pH larutan
dan untuk jumlah yang lebih kecil, bergantung pada hal terbaginya zat terlarut
(Martin, 1990 ; 559).
Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berda dalam
kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut). Kelarutan didefinisikan dalam
besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada
temperature tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan
dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse molekuler homogeny (Martin,
1990 ; 559).


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

Suatu larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang
mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan
untuk penjenuhan sempurna pada temperature tertentu (Martin, 1990 ; 559).
Suatu larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat
terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada
temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak larut (Martin, 1990 ; 559).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah :
(Codex, 1994 ; 43)
1. Pengaruh pH
Zat aktif yang sering digunakan di dalam dunia pengobatan adalah
zat organic yang bersifat asam lemah atau basa lemah, dimana kelarutannya
sangat dipengaruhi oleh pH pelarutnya.
Kelarutan asam-asam organic lemah seperti barbiturate dan
sulfonamide dalam air akan bertambah dengan naiknya pH karena
terbentuknya garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa organic
seperti alkaloida dan anestetik local pada umumnya sukar larut dalam air. Bila
pH larutan diturunkan dengan penambahan asam kuat, maka akan terbentuk
garam yang mudah larut dalam air.
2. Temperatur
Kelarutan zat padat dalam larutan ideal tergantung pada
temperature, titik leleh zat padat, dan panas peleburan molar zat tersebut.




Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

3. Jenis Pelarut
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut.
Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar dan ionik, begitu juga
sebaliknya.
Kelarutan zat juga tergantung pada struktur zat, seperti
perbandingan gugus polar dan non polar dari suatu molekul. Makin panjang
rantai gugus non polar suatu zat, makin sukar zat tersebut larut dalam air.
Pelarut polar bertindak sebagai pelarut dengan mekanisme sebagai berikut :
- Mengurangi gaya tarik antara ion yang berlawanan dalam Kristal.
- Mencegah ikatan kovalen elektrolit-elektrolit kuat, karena pelarut ini
bersifat amfiprotil.
- Membentuk ikatan hydrogen dengan zat terlarut.
Pelarut non polar tidak dapat mengurangi daya tarik menarik antara
ion-ion karena konstanta dielektriknya yang rendah. Juga tidak dapat
mencegah ikatan kovalen dan tidak dapat membentuk jembatan hydrogen.
Pelarut ini dapat melarutkan zat-zat non polar dengna tekanan internal yang
sama melalui indoksi antaraksi dipol.
Pelarut semi polar dapat menginduksi tingkat kepolaran molekul-
molekul pelarut non polar. Ia bertindak sebagai perantara (intermediate
solvent) untuk mencampurkan pelarut polar dan non polar.
4. Bentuk Dan Ukuran Partikel
Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel
suatu zat. Konfigurasi molekul dan bentuk susunan Kristal juga berpengaruh


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

terhadap kelarutan zat. Partikel yang bentuknya tidak simetris lebih mudah
larut bila dibandingkan dengan partikel yang bentuknya simetris.
5. Konstanta Dielektrik Pelarut
Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut.
Pelarut polar mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi dapat melarutkan
zat-zat polar, sedangkan zat-zat non polar sukar larut di dalamnya. Begitu pula
sebaliknya.
Besarnya tetapan dielektrik ini menurut Moore dapat diatur dengan
penambahan pelarut lain. Tetapan dielektrik suatu campuran pelarut
merupakan hasil penjumlahan dari tetapan dielektrik masing-masing yang
sudah dikalikan dengan persen volume masing-masing komponen pelarut.
Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran
dibandingkan dengan pelarut tunggalnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah
co-solvency dan pelarut yang mana dalam bentuk campuran dapat menaikkan
kelarutan zat tersebut disebut co-solvent.
6. Adanya Zat Lain
Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan
kelarutan suatu zat. Molekul surfaktan terdiri atas dua bagian yaitu bagian
polar dan non polar. Apabila didispersikan dalam air pada konsentrasi yang
rendah, akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian
polar kea rah air dan bagian non polar kea rah udara, membentuk suatu lapisan
monomolekul. Disperse molekul surfaktan ini secara termodinamika tidak
stabil karena bagian non polar mengganggu interaksi bagian polar surfaktan


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

dengan air. Oleh karena itu surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi
membentuk agregat yang dikenal sebagai misel. Konsentrasi pada saat misel
mulai terbentuk disebut konsentrasi Konsentrasi Misel Kritik (KMK).
Sifat yang penting dari misel ini adalah kemampuannya untuk
menaikkan kelarutan zat-zat yang biasanya sukar larut dalam air. Proses ini
dikenal dengan solubilisasi. Solubilisasi terjadi karena molekul zat yang sukar
larut berasosiasi dengan misel membentuk suatu larutan yang jernih dan stabil
secara termodinamika. Lokasi melekul zat terlarut dalam misel tergantung
pada pelarut zat tersebut. Molekul-molekul non polar akan masuk ke bagian
non polar dari misel sedangkan molekul-molekul polar akan teradsorbsi pada
permukaan misel. Molekul-molekul polar akan teradsorbsi pada permukaan
misel. Molekul-molekul semi polar akan teradsorbsi pada permukaan misel.
Molekul-molekul semi polar akan masuk ke daerah palisade dan membentuk
suatu misel campuran.
Selain penambahan surfaktan, dapat juga ditambahkan zat-zat
pembentuk kompleks untuk menaikkan kelarutan suatu zat, misalnya
penambahan uretan dalam pembuatan injeksi khinin.
Larutan untuk penggunaan bagian dalam rogga tubuh (Aulton, 1990 ; 90):
1. Tetes Hidung Dan Spray
Larutan obat yang dirancang untuk diaplikasikan pada mukosa
hidung dalam volume kecil biasanya diformulasikan menjadi iso-osmotik
dengan cairan hidung dan sedikit buffer dengan asam netral jika perlu untuk
meminimalkan resiko kerusakan pada silia hidung. Larutan hidung pada


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

umumnya digunakan untuk menghidupkan kembli iritasi hidung dan
kemacetan, meskipun zat anti mikroba juga dapat dimasukkan. Rute nasal
dapat digunakan untuk memperkenalkan obat yang dibutuhkan untuk
menghasilkan efek sistemik hormone peptide dari lobus posterior kelenjar
hipofisis dan analog sintetiknya. Sebagian besar sediaan nasal diberikan dalam
kemasan asli produsen.
2. Obat Tetes Telinga
Tetes telinga biasanya merupakan larutan sederhana dari obat-
obatan yang dirancang untuk menimbulkan efek local di telinga, untuk
melunakkan lilin, untuk mengobati peradangan local dan infeksi, atau untuk
mengurangi rasa sakit. Pembawanya kemungkinan berupa air meskipun
gliserol dan propilen glikol juga dapat digunakan.
3. Enema
Enema adalah larutan berair atau berminyak atau berupa suspense
yang dimasukkan ke dalam rectum untuk pembersihan, tujuan terapeutik atau
diagnostic.
Larutan untuk penggunaan eksternal (Aulton, 1990 ; 92) :
1. Liniments, Lotions And Paints
Liniment merupakan larutan yang diformulasikan dengan alkohol
atau pembawa berminyak yang dimaksudkan untuk mengurapi atau
digosokkan pada kulit utuh.
Lotion juga dimaksudkan untuk diaplikasikan pada kulit utuh
teteapi tanpa gesekan.


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

Paints atau cat, biasanya diaplikasikan pada kulit dengan
menggunakan kuas. Pelarut dapat berupa air dari pelarut anorganik dimana
penguapan yang cepat sangat diperlukan.
2. Antiseptik Dan Laruta Disinfektan
Mengandung zat antimikroba dan dapat digunakan untuk
mengurangi jumlah mikroorganisme pada permukaan kulit atau pada benda
mati seperti permukaan peralatan kerja. Larutan antiseptic yang mudah
terkontaminasi dengan mikroorganisme atau hanya larutan pekat harus
disimpan jika tidak disterilkan pada proses persiapan.
Petunjuk peracikan larutan (Allen, 2008 ; 160) :
- Produk harus diaduk perlahan karena getaran dapat memicu udara yang
menyebabkan pembusaan.
- Penggunaan stirrer magnet, blender, dan mixer listrik dapat menghemat waktu
dan menghasilkan produk yang homogen.
- Proses perlarutan dapat dipercepat dengan cara merendam gelas kimia dalam
penangas ultrasonic.
- Batang pengaduk sebaiknya tidak digunakan saat penambahan volume yang
cukup dari pelarut ke proses akhir di mana produk sedang dipersiapkan.
- Meletakkan batang pengaduk di bagian atas gelas kimia atau menyemprotkan
alkohol (etanol untuk larutan internal) dapat membantu memecahkan busa.
Silikon penghilang busa zat juga dapat digunakan.
- Filtrasi cairan dapat membantu untuk menghasilkan produk yang jelas. Selama
proses ini berlangsung, seseorang harus mengawasi permukaan filter untuk


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

memastikan apakah obat aktif secara tidak sengaja terhapus dari
penyediannya.
- Seseorang harus selalu mengetahui konsentrasi pH dan alkohol produk yang
sedang dipersiapkan.
- Efektifitas pengawet kemungkinan berhubungan dengan pH.
- Garam terlebih dahulu harus dilarutkan dalam sedikit air sebelum sarana
viskos ditambahkan.
- Pada saat proses penggabungan dua cairan, seseorang harus terus-menerus
mengaduk campuran untuk meminimalkan resiko terjadinya ketidakcocokan
akibat efek konsentrasi.
- Cairan dengan viskositas tinggi harus ditambahkan ke cairan dengan
viskositas rendah. Untuk tipe cairan seperti ini, larutan harus terus menerus
diaduk secara konstan saat proses pencampuran.
- Untuk memperoleh sejumlah kecil zat aktif atau zat tambahan, dapat
menggunakan metode pengenceran.
- Hidrokoloid harus dibiarkan berhidrasi secara perlahan sebelum digunakan.
- Yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan sarana pembawa adalah
konsentrasi obat, kelarutan pKa, rasa, dan stabilitas. Pertimbangan lain
meliputi pH, rasa, pemanis, warna, pengawet, viskositas, kompatibilitas, dan
jika diindikasikan penundaan dan pengemulsi agen.
- Ketika mempersiapkan ramuan, disarankan untuk melarutkan konstituen larut
alkohol ke dalam alkohol dan konstituen larut air ke dalam air. Larutan berair


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

kemudian harus ditambahkan ke dalam laurtan beralkohol sabil diaduk, untuk
memperoleh konstentrasi alkohol setinggi mungkin.
-
B. Uraian Bahan
1. Air suling/aquadest (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILLATA
Nama lain : Air suling
RM/BM : H
2
O / 18,02
Komposisi : Cairan Jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai bahan
2. Alkohol (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : AETHANOLIUM
Nama lain : Alkohol
RM/BM : C
2
H
6
O / 0,8119
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, mudah menguap
dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang
tidak berasap.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup, terlindung dari cahaya dan
nyala api, di tempat sejuk.
Kegunaan : Sebagai bahan


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

3. Propilen Glikol (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : PROPYLENGLYCOLUM
Nama lain : Propilenglikol
RM/BM : C
3
H
8
O
2
/ 76,10
Pemerian : Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak
berbau, rasa agak manis, higroskopik.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai bahan
4. Tween 80 (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : POLYSORBATUM
Nama lain : Polisorbat 80, tween
RM/BM : C
3
H
8
O
2
/ 76,10
Pemerian : Cairan kental, transparan, tidak berwarna, hampir
tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai bahan




Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

BAB III
PROSEDUR KERJA
A. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum yaitu Batang pengaduk,
Botol semprot, Buret 50 ml, Corong gelas, Erlenmeyer, Gelas ukur 25 ml,
Gelas kimia 100 ml, Gelas kimia 50 ml, Gelas ukur 50 ml, Kertas grafik,
Magnetic stirrer, Pipet volume 10 ml, Pipet panjang, Pipet pendek, Sendok
tanduk
2. Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu Alkohol,
Aquadest, Asam salisilat, Larutan baku NaOH 0,1 N, Propilenglikol, Tween
80.
B. Prosedur Kerja
Untuk menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif :
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Masukkan 1 gr asam salisilat dalam 50 ml air dan kocok selama 1,5 jam
dengan stirrer, jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi
sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh.
3. Saring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masing-masing
larutan.



Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

Untuk menentukan pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ambil 50 ml campuran pelarut, larutan asam salisilat sebanyak 0,5 gr kedalam
masing-masing campuran pelarut.
3. Kocok larutan dengan stirrer selam 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut
selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai
diperoleh larutan yang jenuh kembali.
4. Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.
5. Buatlah kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga konstanta
dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.
Pengaruh penambahan sulfaktan terhadap kelarutan suatu zat :
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Buatlah 25 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0;0,1;0,5;1;5;10;50 dan
100 mg/100 ml
3. Tambahkan 1 gr asam salisilat kedalam masing-masing larutan
4. Kocok larutan dengan stirer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut
selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai
diperoleh larutan yang jenuh kembali.
5. Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.
6. Buatlah kurva antara kelarutan asam salisilat dengan konsentrasi tween 80
yang digunakan.
7. Konsentrasi misel kritik (KMK) tween 80.




Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Perhitungan
1. Data Pengamatan
Tabel Pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat.









2. Perhitungan

V.titran x N. NaOH xBst
A % Kadar = x 100%
B. Sampel x Fk

3,9 ml x 0,5 N x 69,06
= x 100%
500 mg x 0,5

134,667
= x 100%
250
= 53,86%

V.titran x N. NaOH xBst
B % Kadar = x 100%
B. Sampel x Fk

2 ml x 0,5 N x 69,06
% Kadar = x 100%
500 mg x 0,5
Pelarut Volume titran
(ml)
Konsentrasi
(%)
Perbandingan
A 3,9 ml 53,86% 120 : 0 : 80
B 2 ml 27,62% 120 : 10 : 70
C 2 ml 27,62% 120 : 20 : 60
D 1,9 ml 26,24% 120 : 40 : 40


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

69,06
= x 100%
250

= 27,62%

V.titran x N. NaOH xBst
C % Kadar = x 100%
B. Sampel x Fk

2 ml x 0,5 N x 69,06
% Kadar = x 100%
500 mg x 0,5

69,06
= x 100%
250

= 27,62%

V.titran x N. NaOH xBst
D % Kadar = x 100%
B. Sampel x Fk

1,9 ml x 0,5 N x 69,06
% Kadar = x 100%
500 mg x 0,5

65,607
= x 100%
250

= 26,24%









Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.


B. Pembahasan
Larutan dapat didefinisikan sebagai campuran homogen dari dua zat
atau lebih yang terdispersi sebagai molekul ataupun ion yang komposisinya dapat
bervariasi. Kelarutan adalah besaran kuantitatif sebagai konsentrasi zat terlarut
dalam larutan jenuh pada temperature tertentu dan secara kualitatif didefinisikan
sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk disperse
molecular homogen. Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada
dalam keseimbangan dengan fase padat (zat terlarut). Larutan tidak jenuh adalah
suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi yang dibutuhkan
untuk penjenuhan sempurna pada temperature tertentu. Dan Larutan lewat jenuh
adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak
pada temperature dan terdapat juga zat terlarut yang tidak larut.
Adapun tujuan praktikum pada praktikum ini adalah :
1. Untuk menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif
2. Untuk menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat
3. Untuk menjelaskan usaha-usaha yang digunakan untuk meningkatkan
kelarutan suatu zat aktif dalam air pembuatan sediaan cair.
Aplikasinya dalam bidang farmasi yaitu agar dapat mengetahui dan dapat
membantu dalam memilih medium pelarut yang paling baik untuk obat atau
kombinasi obat, membantu mengatasi kesulitan-kesulitan tertentu yang timbul
pada waktu pembuatan larutan farmasetis (dibidang farmasi) dan lebih jauh lagi
dapat bertindak sebagai standar atau uji kelarutan.


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

Apabila zat padat atau cairan larut dalam cairan, maka dalam
campuran terjadi gaya tarik menarik antarmolekul (intermolekul) zat terlarut dan
pelarut. Selain itu juga terdapat gaya tarik didalam molekul (intramolekul) itu
sendiri, yang menyebabkan molekul atau ionnya masih tetap bersatu. Dua
senyawa dapat bercampur (miscible) lebih mudah bila gaya tarik antara molekul
solute dan pelarut semakin besar. Besarnya gaya tarik ini ditentukan oleh jenis
ikatan pada masing-masing molekul. Bila gaya tarik antara molekulnya termasuk
dalam kelompok yang sama (misalnya air dan etanol), maka keduanya akan saling
melarutkan. Sedangkan bila kekuatan gaya tarik antara molekulnya berbeda jenis
(misalnya air dan heksana), maka tidak saling melarutkan.
Pada praktikum kali ini, kita akan kita akan menentukan kelarutan
suatu zat dengan bahan larutan campuran aquadest : alkohol : propilen glikol
dengan perbandingan 120 : 0 : 80, 120 : 10: 70, 120 : 20 : 60, 120 : 40 : 40 serta
asam salisilat 0,5 gr. Mula mula larutan campuran campuran pada masing
masing perbandingan dipipet 25 ml lalu dimasukkan kedalam gelas kimia dan
dilarutkan didalamnya 0,5 gr asam salisilat kemudian larutan campuran dengan
perbandingan 120 : 10 : 70 dikocok menggunakan stirer selama 1,5 jam dan
larutan campuran dengan perbandingan 120 : 0 : 80, 120 : 20 : 60, 120 : 40 : 40
diaduk secara manual menggunakan batang pengaduk dengan waktu yang sama
yaitu 1,5 jam. Setelah diaduk, terbentuk endapan dan endapan tersebut kemudian
disaring menggunakan kertas saring dan larutan hasil saringannya dititrasi dengan
NaOH 0,5 N kemudian dihitung % kadarnya dan diperoleh kadar asam salisilat
untuk larutan campuran dengan perbandingan 120 : 0 : 80 yaitu 53,86%, untuk


Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

perbandingan 120 : 10 : 70 yaitu 27,62%, untuk perbandingan 120 : 20 : 60 yaitu
27,62%, dan untuk perbandingan 120 : 40 : 40 diperoleh hasil 26,24%.
Pada praktikum ini juga digunakan Tween 80, indicator Fenolftalein,
dan larutan baku NaOH. Alasan penggunaan tween 80 adalah karena tween 80
merupakan suatu surfaktan, dan pada praktikum ini kita juga ingin mengetahui
bagaimana pengaruh surfaktan terhadap kelarutan zat. Penggunaan Indikator
fenolftalein adalah agar dapat mempermudah mengetahui titik akhir titrasi yaitu
dengan perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Digunakan larutan
baku NaOH karena kita melakukan metode titrasi alkalimetri, dimana suatu
metode untuk menentukan kadar suatu asam dalam hal ini asam salisilat, dengan
menggunakan larutan baku basa yaitu NaOH. Pada percobaan ini kita menyaring
endapan yang ada dalam larutan agar kita memperoleh larutan jenuh.



Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang dilakukan diperoleh kadar asam salisilat
dengan masing-masing perbandingan larutan campuran yaitu :
1. 120 : 0 : 80 diperoleh % kadar = 53,86%
2. 120 : 10 : 70 diperoleh % kadar = 27,62%
3. 120 : 20 : 60 diperoleh % kadar = 27,62 %
4. 120 : 40 : 40 diperoleh % kadar = 26,24%
Sehingga dapat disimpulkan bahwa larutan campur (cosolven) dapat
mempengaruhi kelarutan suatu zat. Pada percobaan ini, cosolven dengan
perbandingan 120 : 0 : 80 memiliki kadar paling besar yaitu 53,86%.

B. Saran
Sebaiknya asisten dapat terus mendampingi praktikan saat praktikum
berlangsung agar dapat mengurangi resiko kesalahan yang terjadi.



Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

DAFTAR PUSTAKA
Allen, Jr., 2008. The Art, Science, and Technology of Pharmaceutical
Compounding. Mack Publishing Company. Pennsylvania.
Aulton, 1988. Pharmaceutics: The Science of Dosage Form Design. Churchill
Livingstone. Edinburgh London Melbourne and New York.
Martin, 1990. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Remington, 1990. Pharmaceutical Sciences. Mack Publishing Company.
Pennsylvania.
Walter, 1994. The Pharmaceutical Codex. The Pharmaceutical Press. London.
Yazid, Estien. 2005. Kimia fisika untuk paramedis. Andi : Yogyakarta















Kelarutan

Kelompok II Rosvina. M.

LABORATORIUM FARMASEUTIKA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

LAPORAN
KELARUTAN






OLEH :




KELOMPOK : II (DUA)
SAHARUDDIN (150 2010 139)
MAHMUDI RASYID (150 2010 002)
ARMAN MAULANA (150 2010 085)
BAJIL (150 2010 063)
FERNA PUTRI PRADHYTA (150 2010 335)
VINDY VEBRIANI TUNA (150 2010 428)
NOVA AYU WULANDARI (150 2010 413)
NOVI AYU LESTARI (150 2010 412)
SRI JUNIATRI (150 2010 430)
RAGIL FARDA ADITYA (150 2010 044)
AYU RISMA RIZAL (150 2010 323)
KELAS : L.1
ASISTEN : ROSVINA. M.



FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2011