Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang.
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme yang
tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, dan untuk meneliti apa saja yang
terkandung didalam mikroorganisme. Dalam meneliti diperlukan teknik sterilisasi
atau cara-cara khusus untuk mempelajarinya serta untuk bekerja pada skala
laboratorium untuk meneliti sifat maupun karakteristiknya, tentu diperlukan
adanya pengenalan-pengenalan alat yang berhubungan dengan penelitian untuk
memudahkan dalam melakukan penelitian.
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian harus dalam keadaan steril atau
bebas dari kuman, bakteri, virus, dan jamur. Perlu adanya pengetahuan tentang
cara-cara atau teknik sterilisasi. Hal ini dilakukan karena alat-alat yang digunakan
memiliki teknik sterilisasi yang berbeda (Dwidjoseputro, 2003).
Medium pertumbuhan mikrobia adalah suatu bahan yang terdiri dari
campuran nutrien yang diperlukan mikrobia untuk pertumbuhannya.Dengan
menggunakan bahan medium pertumbuhan, aktivitas mikrobia dapat dipelajari
dan dengan menggunakan medium tumbuh dapat dilakukan isolasi mikrobia
menjadi biakan murni. Pada dasarnya bahan-bahan untuk pertumbuhan medium
dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok yaitu bahan dasar yang meliputi air,
agar yang bersifat tidak diuraikan oleh mikrobia, gelatin yang merupakan protein
yang dapat diuraikan oleh mikrobia, dan silika gel yaitu bahan yang mengandung
natrium silikat khusus untuk menumbuhkan mikrobia yang bersifat obligat
autotrof, unsur-unsur nutrien yang dapat diambil dari bahan alam, meliputi
karbohidrat, lemak dan asam-asam organik, sumber nitrogen yang mencakup
pepton dan protein, garam-garam kimia (K, Na, Fe dan Mg), vitamin, dan sari
buah, ekstrak sayuran dan susu. Serta bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang
sengaja ditambahkan ke dalam medium dengan tujuan tertentu seperti indikator
maupun antibiotic (Schlegel, 1994).
2

Pada laboratorium mikrobiologi ada beberapa alat yang umum digunakan
dan harus dikenal serta diketahui cara penggunaannya yaitu mikroskop, autoclave,
laminar air bench (clean bench), oven, inkubator, hot plate, kawat ose, tabung
reaksi, cawan petri, erlenmeyer, magnetik stirer, dan berbagai peralatan lainnya
baik yang berbahan kaca maupun bukan. Peralatan-peralatan tersebut dapat
digunakan langsung selama proses praktikum berlangsung. Seperti halnya
mikroskop, didalam praktikum pengenalan alat praktikan dapat langsung belajar
mengetahui dan menggunakan bagian-bagian mikroskop untuk mengamati suatu
preparat yang tersedia. Penggunaan alat-alat tersebut dilakukan didalam
pengawasan asisten.

1.2 Tujuan percobaan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengenal jenis peralatan
yang digunakan di laboratorium bioproses. Mengetahui macam-macam media
dan cara pembuatannya, mengenal beberapa cara sterilisasi, serta memperoleh alat
dan media yang steril.















3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 pengenalan alat utama laboratorium.

Mikroskop adalah alat yang digunakan untuk mengamati benda-benda atau
sel-sel yang berukuran sangat kecil dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
mikroskop pertama kali ditemukan oleh Antony Van Leuwenhoek (1632-1723)
yang berkebangsaan belanda, dengan mikroskop yang masing-masing terdiri atas
lensa tunggal hasil gosokan rumah yang ditanam dalam kerangka kuningan dan
perak. Kekuatan perbesaran tertinggi yang dapat dicapai hanyalah 200-300 kali.
Mikroskop ini sedikit sekali persamaannya dengan mikroskop cahaya majemuk
yang ada sekarang (Purba,1999).
Mikroskop terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi tersendiri.
Mikroskop pada prinsipnya terdiri dari dua lensa cembung, yaitu sebagai lensa
okuler ( yang dekat dengan mata) dan lensa objektif yang dekat dengan benda atau
objek. Baik objektif maupun okuler dirancang untuk pembesaran yang berbeda-
beda. Lensa objektif biasanya dipasang pada roda yang berputar, yang disebut
dengan gagang putar. Setiap lensa objektif dapat diputar ke tempat yang sesuai
dengan perbesaran yang diinginkan. Sistem lensa objektif memberikan perbesaran
mula-mula dan menghasilkan bayangan nyata yang kemudian diproyeksikan ke
atas lensa okuler. Bayangan nyata tadi diperbesar oleh lensa okuler untuk
mengahasilkan bayangan maya yang kita lihat (Setiawan,2010).
Mikroskop cahaya atau compound light microscope merupakan jenis
mikroskop yang memanfaatkan sinar lampu sebagai pengganti sinar matahari
pada mikroskop optik konvensional. Lensa yang digunakan pada mikroskop
cahaya tidak hanya lensa okuler, tetapi juga lensa objektic dan kondensor. Lensa
okuler berfungsi untuk memperbesar tampilan objek mulai dari 2 hingga 25 kali.
Sementara itu lensa objektif pada mikroskop cahaya berfungsi untuk
membentuk bayangan objek. Adapun lensa kondensor berfungsi menciptakan
pencahayaan yang membuat objek terlihat semakin jelas.
4

Mikroskop cahaya seperti halnya mikroskop konvensional, banyak
digunakan untuk berbagai tujuan. Kelebihan dari mikroskop cahaya adalah
peneliti tidak memerlukan ruang penuh sinar matahari untuk melihat objek dengan
jelas, sehingga penelitian objek kecil bisa dilakukan siang maupun malam dan di
ruang terbuka maupun tertutup (Anneahira,2011).

2.2 Sterilisasi

Sterilisasi merupakan suatu proses untuk mematikan semua organisme
yang terdapat pada suatu benda. Proses sterilisasi dapat dibedakan menjadi 3
macam, yaitu penggunaan panas (pemijaran dan udara panas); penyaringan;
penggunaan bahan kimia (etilena oksida, asam perasetat, formaldehida dan
glutaraldehida alkalin) (Hadioetomo, 1993).
Ada banyak pilihan cara sterilisasi yang berbeda, namun yang penting
adalah bagaimana menetapkan bahwa produk akhirnya dinyatakan sudah steril
dan aman digunakan. Suatu produk dapat disterilkan melalui cara sterilisasi akhir
(terminal sterilization) atau dengan cara aseptic (aseptic processing).
Ada tiga cara utama yang umum dipakai dalam sterilisasi yaitu
penggunaan panas, penggunaan bahan kimia dan penyaringan (filtrasi). Bila panas
digunakan bersama-sama dengan uap air maka disebut sterilisasi panas lembab
atau sterilisasi basah bila tanpa kelembaban maka disebut sterilisasi panas kering
atau sterilisasi kering. Dipihak lain sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan
menggunakan gas atau radiasi (Hadioetomo. 1985).

Macam-macam sterilisasi yang dapat digunakan :

1. Sterilisasi panas dengan tekanan atau sterilisasi uap (autoklaf).
Pada saat melakukan sterilisasi uap, kita sebenarnya memanfaatkan uap
jenuh pada tekanan tertentu selama waktu dan suhu tertentu pada suatu objek,
sehingga terjadi pelepasan energi selain uap yang mengakibatkan denaturasi atau
koagulasi protein sel. Sterilisasi demikian merupakan sterilisasi paling efektif dan
5

ideal karena uap merupakan pembawa (carrier) energy tertanal paling efektif dan
semua lapisan pelindung luar mikroorganisme dapat dilunakan, sehingga
memungkinkan terjadinya koagulasi. Serta uap bersifat nontosik, mudah diperoleh
dan relatife mudah dikontrol. Penggunaan autoklaf ini harus dengan suhu 121
o
C
selama 15 menit. Faktor-faktor yang mempengaruhi sterilisasi uap ada 3 yaitu :
waktu, suhu dan kelembaban (Stefanus, 2006).

2. Sterilisasi panas kering (Oven)
Proses sterilisasi panas kering terjadi melalui mekanisme konduksi panas.
Panas akan diabsurpsi oleh permukaan luar alat yang disterilkan, lalu merambat
ke bagian dalam permukaan sampai akhirnya suhu untuk sterilisasi tercapai.
Sterilisasi panas kering biasanya digunakan untuk alat-alat atau bahan dengan uap
tidak dapat penetrasi secara mudah atau untuk peralatan yang terbuat dari kaca.
Pada sterilisasi panas kering, pembunuhan mikroorganisme terjadi melalui
mikanisme oksidasi sampai-sampai terjadinya koagulasi protein sel. Karena panas
dan kering kurang efektif dalam membunuh mikroba dari autoklaf, maka
sterilisasi memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih
panjang (Stefanus. 2006).

3. Sterilisasi Tyndallisasi.
Metode ini berupa mendidihkan medium dengan uap dengan beberapa
menit saja. Sehabis didiamkan satu hari, selama itu spora-spora sempat tumbuh
menjadi bakteri vegetative. Maka medium tersebut dididihkan lagi selama
beberapa menit. Akhirnya pada hari ketiga, medium tersebut dididihkan lagi,
sekali lagi. Dengan jalan demikian ini diperoleh medium yang steril dan zat-zat
organik yang terkandung didalamnya tidak mengalami banyak perubahan seperti
halnya pada cara yang dilakukan oleh spallanzani (1729-1799) (Dwidjoseputro.
2003).



6

4. Sterilisasi dengan penyaringan (Filtrasi).
Medium disaring dengan saringan porselin atau dengan tanah diatom.
Dengan jalan ini, maka zat-zat organik tidak akan mengalami penguraian sama
sekali. Hanya sayang, virus tak dapat terpisah dengan penyaringan semacam ini.
Oleh karena itu, sehabis penyaringan, medium masih perlu dipanaskan dengan
autoclave meskipun tidak selama 15 menit dengan teperatur 121
o
C. penyaringan
dapat dilakukan juga dengan saringan yang dibuat dari asbes. Saringan ini lebih
murah dan lebih mudah penggunaannya daripada parselin. Saringan asbes dapat
dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselin terlalu mahal untuk dibuang
dan terlalu sulit dibersihkan (Dwidjoseputro. 2005).

5. Sterilisasi radiasi
a. Ultraviolet
Ultraviolet merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang
gelombang 100-400 mm dengan efek optimal pada 254 nm.
Sumbernya adalah lampu uap merkuri dengan daya tembus hanya
0,01-0,2 mm. ultraviolet digunakan untuk sterilisasi ruangan pada
penggunaan aseptic.
b. Jon
Mekanisme mengikutitori tumbukan yaitu sinar langsung
menghantam pusat kehidupan mikroba (kromosom) atau secara tidak
langsung dengan sinar terlebih dahulu membentuk molekul dan
mengubahnya menjadi bentuk radikatnya yang menyebabkan
vterjadinya reaksi sekunder pada bagian molekul DNA mikroba.
c. Gamma
Gamma bersumber dari C
u
60 dan C
s
137 dengan aktivitas sebesar 50-
500 kilo curie serta memiliki daya tembus sangat tinggi. Dosis
efektifitasnya adalah 2,5 MRad. Gamma digunakan untuk
mensterilkan alat-alat yang terbuat dari logam, kaet serta bahan
sintesis seperti pulietilen (Hadioetomo,1985).

7

2.3 Autoclave
Autoclave adalah alat yang digunakan untuk sterilisasi dengan uap panas
bertekanan. Alat ini terdiri atas suatu bejana yang tahan terhadap tekanan tinggi
yang dilengkapi monometer, thermometer dan kleb. Sterilisasi dengan autoclave
merupakan cara sterilisasi yang paling baik, jika dibandingkan dengan cara-
carasterilsasi lainnya (Hadioetomo, 1985).

Diagram autoclavevertical :
1. Tombol pengatur waktu
mundur (timer)
2. Katup pengeluaran uap
3. pengukur tekanan
4. klep pengaman
5. Tombol on-off
6. Termometer
7. Lempeng sumber panas
8. Aquades (H2O)
9. Sekrup pengaman
10. Batas penambahan air
(Anonim,2010).

Cara penggunaan Autoclave :
1) Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoclave. Jika
air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas
tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak
dan karat.
2) Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol bertutup ulir, maka
tutup harus dikendorkan.
3) Tutup autoclave dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada
uap yang keluar dari bibir autoclave. Klep pengaman jangan dikencangkan
terlebih dahulu.
4) Nyalakan autoclave, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu
121
o
C.
5) Tunggu sampai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen
autoclave dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman
8

ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15
menit dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.
6) Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen
turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure
gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan
keluarkan isi autoclave dengan hati-hati (Dahlia,2011).


























9

BAB III
METODELOGI PERCOBAAN

3.1 Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini yaitu diadakan pada:
Hari/tanggal : Jumat-Sabtu/ 8-9 November 2013
Waktu : Pukul 08.00-18.00 WIB
Tempat : Laboratorium Bioproses Jurusan Teknik Kimia
Fakultas Teknik, Univesitas Syiah Kuala.

3.2 Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan:
- Petridish 2 buah
- Erlenmeyer 250 ml
- Gelas Ukur 200 ml
- Gelas Kimia 250 ml
- Spatula 1 buah
- Magnetic stirrer 1 buah
- Kawat oase 1 buah
- Kertas sampul secukupnya
- Kapas secukupnya secukupnya

Bahan-bahan yang digunakan:
a. Media padat I
- Agar-agar
- Ekstrak pepaya
- NaCl
- Glukosa
- Aquadest

b. Media padat II
- Agar-agar
10

- NaCl
- Glukosa
- Aquadest

c. Media Cair
- Glukosa
- NaCl
- Ekstrak daging
- Ragi

3.3 Prosedur kerja
1. Pembuatan Media Padat
- Disiapkan 2 buah gelas kimia untuk Media Nutrien Agar dan Papaya
Dextrose Agar (PDA);
- Untuk PDA dicampurkan ekstrak pepaya 20 ml, glukosa 0,4 gr, agar-agar
6 gr, NaCl 0,3 gr, dan aquadest sebanyak 100 ml di dalam gelas kimia;
- Untuk NA dicampurkan aquadest 100 ml, glukosa 0,4 gr, agar-agar 3
gram, dan NaCl 0,3 gr didalam gelas kimia;
- Dimasukkan Magnetic stirer dalam campuran tersebut;
- Kemudian gelas kimia yang berisi campuran tersebut diletakkan di atas
hot plate sampai campuran tersebut homogen;dan
- Selanjutnya,kedua media tersebut dituang masing-masing ke dalam cawan
petri dan tabung reaksi, kemudian didinginkan.
2. Pembuatan Media Cair.
- Dicampurkan glukosa 0,4 gram, NaCl 0,5 gram, ekstrak daging 10 ml,
dan aquadest sebanyak 10 ml ke dalam erlenmeyer.
- Kemudian dalam campuran tersebut ditambahkan ragi sebanyak 1 gram.
- Campuran diaduk menggunakan magnetic stirer di atas hot plate agar
campuran homogen.
- Selanjutnya, media cair ini dituang kedalam cawan petri dan tabung reaksi.
3. Proses sterilisasi dengan autoclave
- Dicuci alat-alat yang akan digunakan dengan air panas atau sabun, baru
kemudian dicuci dengan air mengalir.
- Petridish dan alat-alat yang akan digunakan dibungkus dengan kertas
sampul coklat.
11

- Untuk Erlenmeyer dipakai sumbat dari kapas. Sumbat harus masuk 2 cm
dalam tabung dan bagian luar harus padat sehingga dapat menahan dari
debu dan kotoran-kotoran.
- Dimasukkan dalam autoclave, panaskan sampai suhu 121
o
C, tekanan 15
psi selama 15 menit.
4. Proses Penanaman di Clean Bench
- Alat-alat yang telah diautoclave dibuka sampulnya.
- Dituang media padat ke dalam petridish dan tabung reaksi.
- Ditunggu sampai agar-agar/ media padat mengeras.
- Diambil kawat oase, digoreskan pada media padat bentuk zig-zag untuk
petridish dan ditusuk pada media padat untuk tabung reaksi.
- Kemudian dituang media cair ke atas media padat yang telah digores dan
ditusuk.
- Dibiarkan petridish dan tabung reaksi tersebut di dalam clean bench
selama 1x24 jam dan diamati.



















12

Pembungkusan
alat-alat

Pembuatan
media padat
NA
PDA
Pencucian
alat-alat
Pelepasan
sampul
Pembuatan
media cair
NaCl 0,5 gram
Glukosa 0,4 gram
Aquades 10 ml
Ragi 1,5 gram
Ektrak daging 10 ml
Penggoresan/
penusukan
kawat Oase
Penuangan media
cair ke atas media
padat
3.4 Diagram Alir Pembuatan Media





























Nacl 0,3 gram
Glukosa 0,4 gram
Agar-agar 3 gram
Aquades 100 ml
NaCl 0,3 gram
Glukosa 0,4 gram
Agar-agar 6 gram
Aquades 100 ml
Ekstrak pepaya 20 ml

Proses
autoclave
Penuangan media
padat
Proses autoclave
selesai
Petridish dan
tabung reaksi
Pengamatan
13

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sterilisasi
Sterilisasi merupakan pembebasan sesuatu bahan dari mikroorganisme
hidup atau stadium istirahatnya. Kalau suatu larutan biak steril atau yang sudah
ditanam mikroba, tanpa dikehendaki dicemari oleh mikroorganisme disebut
dengan kontaminasi. Sterilisasi dicapai dengan menggunakan pemanasan lembab,
pemanasan kering, filtrasi, penyinaran atau bahan kimia ( Schlegel, 1994 ).
Teknik sterilisasi yang paling pasti adalah penggunaan uap air disertai
dengan tekanan, yang dilakukan dalam alat yang disebut autoklaf. Autoklaf
memiliki suatu ruangan yang mampu menahan tekanan diatas 1 atm. Alat-alat
atau bahan-bahan yang akan disterilkan, dimasukkan kedalam ruangan ini. Setelah
udara dalam ruangan ini digantikan oleh uap air, maka ruangan ini ditutup rapat
sehingga tekanannya akan meningkat yang juga akan diikuti oleh kenaikan
suhunya. Dengan cara ini akan dicapai tekanan 1 atm dan suhu . Dengan
tekanan dan suhu seperti ini, dalam waktu 10-12 menit, semua bentuk hidup
berikut spora akan dimatikan. Didalam autoklaf yang mensterilkan adalah panas
basah, bukan tekanannya. Oleh karena itu setelah air dalam tangki mendidih dan
mulai dibentuk uap air, maka uap air ini dialirkan kedalam ruang pensteril guna
mendesak keluar semua udara didalmnya. Apabila masih ada udara yang tersisa,
maka udara ini akan menambah tekanan didalam ruang pensteril yang akan
mengganggu naiknya suhu dalam ruang tersebut ( Sujudi, 1993 ).
Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk
menumbuhkan mikroorganisme didalamnya harus memperhatikan berbagai
macam ketentuan, seperti jika kita ingin membuat medium untuk menumbuhkan
mikroorganisme bersel tunggal, biasanya air sangat penting sebagai komponen
utama protoplasmanya, serta untuk masuknya nutrien kedalam sel. Pembuatan
medium agar padat digunakan agar-agar, gelatin, atau gel silika. Bahan agar yang
utama adalah galaktan ( komplek karbohidrat yang diekstrak dari alga genus
gelidium ). Agar akan larut atau cair pada suhu hampir dan akan cair
apabila kurang dari 43 ( Hadioetomo,1993 ).
14

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba (ragi) antara lain
sebagai berikut :

Nutrisi.

Dalam kegiatannya, ragi memerlukan penambahan nutrisi untuk
pertumbuhan dan perkembangannya, yaitu unsur C dari senyawa
karbohidrat, unsur N dan P dari senyawa protein, mineral dan vitamin (
Nurhidayat,2006 ).

Keasaman (pH).

Kebanyakan mikroorganisme dapat tumbuh pada kisaran pH sebesar 3-4.
Kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum sekitar 6,5-7,5 ( Abubakar,
1994 ).
Didalam fermentasi, ragi memerlukan media dengan suasana asam yaitu
sekitar pH 4,8. Pengaturan pH nya dapat dilakukan dengan penambahan
asam sulfat encer bila substrat fermentasinya bersifat alkalis dan
penambahan natrium bikarbonat jika substratnya terlalu asam (Nurhidayat,
2006 ).

Suhu.

Suhu merupakan salah satu faktor penting dalam mempengaruhi
pertumbuhan mikroorganisme. Suhu dapat mempengaruhi mikroba dalam
dua cara yang berlawanan, yaitu apabila suhu naik maka kecepatan
metabolisme akan naik dan pertumbuhan dipercepat. Sebaliknya apabila
suhu turun, maka kecepatan metabolisme akan turun dan pertumbuhan
diperlambat. Dan yang kedua, apabila suhu naik dan turun secara drastis
maka tingkat petumbuhan akan terhenti, komponen sel menjadi tidaka
aktif dan rusak, sehingga sel-sel menjadi mati.
Suhu optimum untuk pertumbuhan ragi pada umumnya adalah pada suhu
25 - 30 ( Nurhidayat,2006 ).

Oksigen.

Fungsi utama oksigen adalah sebagai akseptor elektron terminal pada
respirasi aerob. Pada peristiwa ini O
2
direduksi menjadi air. Berdasarkan
kebutuhan oksigen, mikroorganisme dapat dibedakan menjadi 3
15

kelompok, yaitu : mikroorganisme aerob obligat (tergantung pada
oksigen), organisme anaerob obligat (hanya dapat hidup dalam lingkungan
bebas oksigen), dan organisme anaerob fakultatif (dapat hidup dalam
lingkunga ada atau tidak ada oksigen atau bersifat aerotoleran)
(Schlegel,1994).

4.1.1 Media padat.
Media padat digunakan untuk mempelajari koloni bakteri, dan paling
penting untuk mengasingkan mikroba untuk mendapatkan biakan murni
(Gupte,1990).
Untuk membuat media padat pada larutan biak cair ditambahkan bahan
pemadat yang memberi konsistensi seperti selai pada larutan air. Dan hanya untuk
keperluan tertentu masih digunakan gelatin, karena mudah mencair pada suhu
26-30 ( Schlegel,1994 ).
Pada praktikum ini media padat yang digunakan ada 2 macam yaitu media
padat nutrien agar (NA) dan agar-agar dengan ekstrak papaya (Papaya Dextrose
Agar).

4.1.2 Nutrien agar.

Agar-agar merupakan isi media padat yang penting. Merupakan senyawa
polisakarida dari rumput laut yang mencair pada suhu 80 sampai dan
membeku pada suhu . Agar-agar tidak menyediakan zat-zat gizi untuk
bakteri dan hanya bekerja sebagai zat padat ( Gupte,1990 ).
NA dibuat dengan komposisi NaCl 0,3 gram, glukosa 0,4 gram, aga-agar 3
gram, dan aquadest 10 ml. Kemudian semua komposisi bahan-bahan tersebut
dicampurkan didalam erlenmeyer lalu diaduk hingga homogen menggunakan
magnetik stirrer diatas hot plate. Setelah campuran NA homogen dan mengental
kemudian dituangkan kedalam cawan petri dan tabung reaksi. Kemudian ditunggu
hingga dingin dan mengeras.

4.1.3 Agar-agar dengan ekstrak pepaya.

Agar-agar dengan ekstrak pepaya pembuatannya tidak jauh berbeda
dengan nutrien agar (NA). Agar-agar dengan ekstrak pepaya dibuat dengan
mencampurkan 20 ml ekstrak pepaya, NaCl 0,3 gram, glukosa 0,4 gram, agar-agar
16

6 gram dan aquadest 80 ml. Setelah dicampur, kemudian agar-agar diaduk hingga
homogen mengguakan magnetik stirer sambil dipanaskan diatas hot plate. Setelah
campuran homogen dam mengental, kemudian dituangkan kedalam cawan petri
dan tabung reaksi. Agar-agar ditunggu hingga dingin dan mengeras.

4.1.4 Media cair.

Media cair digunakan sebagai media biakan yang disebarkan pada media
padat. Media cair tidak cocok digunakan sebagai media sebagai pertumbuhan
untuk mengasingkan mikroba atau untuk memperoleh biakan murni, juga tidak
dapat digunakan mempelajari koloni bakteri (Gupte,1990).
Media cair dibuat dengan mencampurkan 10 ml ekstrak daging, NaCl 0,5
gram, glukosa 0,4 gram, ragi 1,5 gram dan aquades 10 ml. Kemudian media cair
ini diaduk hingga homogen menggunakan magneik stirrer di atas hot plate.
Setelah homogen dan tidak terdapat gumpalan-gumpalan, media cair dituangkan
ke dalam masing-masing media agar yang elah mengeras dan telah digores secara
zig-zag menggunakan kawat oase yang telah dibakar terlebih dahulu supaya steril
hingga merata. Pengamatan dilakukan selama 24 jam pada selang waktu tertentu.

(a) (b)
Gambar 4.1 Perubahan yang terjadi pada media NA (a), dan media Papaya
dextrose agar (b) setelah 22 jam.

Pada cawan petri, Setelah 22 jam medium NA tanpa ektsrak pepaya
tampak bahwa garis zig-zag nya semakin jelas, dan pinggiran media semakin
menyusut serta volume media berkurang. Hal ini menandakan bahwa ragi tumbuh
dengan baik. Sedangkan pada cawan petri agar dengan ekstrak pepaya, garis zig-
zag juga terlihat jelas, namun tidak seperti pada medium NA tanpa ekstrak
pepaya. Dengan demikian, jamur (ragi) hanya dapat tumbuh sedikit, atau tidak
dapat tumbuh dengan baik.
Sedangkan media dalam tabung reaksi, setelah 22 jam pada media agar
tanpa eksrtak pepaya, bekas tusukan semakin tampak jelas dan agar-agar seperti
berongga-rongga dan erpotong-potong. Sedangkan pada medium dengan ekstrak
17

pepaya, setelah 22 jam bekas tusukan juga tampak jelas, akan tetapi agar-agar
tidak tampak berongga-rongga atau terpotong-potong teperti pada medium NA
tanpa ekstrak pepaya. Hal ini juga menunjukkan bahwa ragi (saccharomyces
cereisiae) tumbuh dengan baik pada medium agar tanpa ekstrak pepaya (NA).
Sedangkan pada media agar dengan ekstrak pepaya ragi sukar tumbuh atau tidak
tumbuh dengan baik.
Faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah nutrisi yang ada pada
kedua media. Media agar tanpa ekstrak pepaya (NA) lebih cocok bagi
pertumbuhan ragi (saccharomyces cereisiae), sehingga ragi mengkonsumsi
dengan baik nutrisi yang ada pada media tersebut dibandingkan dengan agar
ekstrak pepaya. Ekstrak pepaya mengandung senyawa karpain yang bersifat
membunuh mikroba dan mengandung sedikit damar ( Soediroatmojo dan sutomo,
1988 ).
Karpain merupakan suatu alkaloid yang diisolasi dari tanaman pepaya
yang memiliki aktifitas anti mikroba ( labhsetwar, 1997 ). Serta senyawa alfa-D-
mannosidase dan n-asetil-beta glukosaminidase (diisolasi dari getah) menghambat
pertumbuhan khamir. Oleh karena hal tersebut, maka ragi (saccharomyces
cerevisiae) tidak dapat tumbuh dengan baik pada media agar dengan ekstrak
pepaya. Kandungan yang ada pada ekstrak pepaya menyebabkan ragi
(saccharomyces cerevisiae) tidak mendapat nutrisi yang baik bagi
pertumbuhannya.

4.2 Pengamatan menggunakan mikroskop
Pada praktikum Pengenalan alat-alat utama laboratorium ini, sampel
yang digunakan untuk diamati pada mikroskop adalah limbah rumah tangga.
Limbah rumah tangga yang digunakan berupa air bekas cuci piring.
Mikroskop yang digunakan pada praktikum ini adalah mikroskop cahaya
medan terang. Mikroskop cahaya medan terang adalah salah satu jenis mikroskop
yang bekerja berdasarkan prinsip dimana cahaya yang masuk melalui lensa akan
diteruskan tanpa mengalami perubahan indeks refraksi sehingga menghasilkan
suatu medan disekitar mikroskop yang terlihat terang sedangkan objek yang kita
amati akan terlihat lebih gelap (Sri Mulyani, 2009).
Pengamatan dengan mikroskop digunakan perbesaran 4 , 10 , dan 40 .
Dengan perbesaran 4 , mikroba yang diamati tidak terlalu terlihat dan hanya
seperti titik-titik kecil. Tetapi mikroba semakin terlihat jelas dengan perbesaran 10
, dan 40 . Pada sampel air bekas cuci piring, terlihat surfaktan ( busa sabun)
18

bergerak mengalir dan mikroba tampak berukuran kecil dengan gerakannya yang
begitu cepat. Pada air bekas cuci piring biasanya bersarang bakteri Escheria Coli
(E. Coli) dan bakteri Salmonella. Bakteri tersebut berasal dari bekas sisa-sisa
makanan yang menempel pada piring ataupun berasal dari spons pencuci piring
yang digunakan. Berdasarkan referensi dan hasil pengamatan yang dilakukan,
dapat diambil hipotesis bahwa mikroba yang terlihat melalui mikroskop adalah
bakteri Escheria Coli (E. Coli) ataupun bakteri Salmonella.
























19

BAB V
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan
antara lain :
1. Sebelum alat-alat digunakan, penting dilakukannya proses sterilisasi yaitu
untuk membebaskan peralatan dan media yang digunakan dari semua
mikroorganisme agar tidak terjadi kontaminasi.
2. Jenis sterilisasi yang digunakan pada praktikum ini adalah sterilisasi
menggunakan uap panas (autoklaf).
3. Pada pembuatan media padat, agar-agar digunakan untuk memadatkan
medium dan untuk mengasingkan mikroba agar mendapat biakan murni.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba antara lain:
nutrisi, keasaman (pH), suhu, dan oksigen.
5. Pada media padat NA tanpa ekstrak pepaya, ragi tumbuh dengan baik
karena cukup mendapat nutrisi dari media NA tersebut. Sedangkan media
padat NA dengan ekstrak pepaya, pertumbuhan ragi tidak begitu baik,
karena ragi ( saccharomyces cerevisiae ) kurang mengkonsumsi nutrisi
yang ada pada media ini.
6. Ekstrak pepaya pada media agar mengandung suatu senyawa karpain yang
memiliki aktifitas anti mikroba, sehingga ragi pada media ini tidak
tumbuh dengan baik.
7. Komponen-komponen penyusun media padat (agar-agar) terdiri dari agar-
agar sebagai pemadat, glukosa sebagai sumber makanan dan energi, NaCl
sebagai katalis dan untuk menjaga kestabilan, serta air sebagai pelarutnya
sebagai sumber oksigen bagi mikroba, dan untuk masuknya nutrien ke
dalam sel.
8. Mikroskop yang digunakan pada praktikum pengenalan alat adalah
mikroskop medan terang, dan sampel yang diamati adalah limbah rumah
tangga berupa air bekas cuci piring.
9. Jenis bakteri yang diamati melalui mikroskop medan terang ini diduga
adalah bakteri E. Coli atau Salmonella, karena biasanya bakteri ini banyak
bersarang pada air bekas cuci piring.




20

DAFTAR PUSTAKA


Anneahira. 2011. http://www.anneahira.com/macam-macam-mikroskop-
24645.html . (diakses pada tanggal 15 oktober 2013)

Anonim. 2010. http://www.scribd.com. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Dasar.
(diakses pada tanggal 29 November 2010 pukul 03.00 WIB)

Ar, Abubakar.1994. Mikrobiologi Teknik. Unsyiah: Banda Aceh

Dahlia,Amy.2011. Amy Dahlia wordpress.com. Nama, Fungsi, dan Cara Kerja
Alat-Alat Laboratorium Mikrobiologi.html. (diakses pada tanggal 11
desember 2013)

Dwidjoseputro,D. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta

Gupte, satish. 1990. Mikrobiologi Dasar. Binarupa Aksara : Jakarta

Hadioetomo, Ratna Sari. 1985. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Gramedia:
Jakarta

Hadioetomo, Ratna Sari. 1993. Pengetahuan Mikrobiologi Industri. Erlangga :
Jakarta

Lukas, Stefanus. 2006. Farmasi Steril. Andi :Yogyakarta

Mulyani, Sri. 2009, Artikel Jenis-jenis Mikroskop. (diakses pada tanggal 5
Desember 2011)

Nurhidayat,dkk. 2006. Mikrobiologi Industri. Andi : Yogyakarta

Purba, M dkk. 1993. Kimia. Erlangga : Jakarta

Schlegel, H.G. 1994. Mikrobiologi Umum. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta

Setiawan, Doni. 2010. Penuntun Mikrobiologi Umum I. Fakultas MIPA
Universitas Sriwijaya : Indralaya

Sujudi. 1993. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran. Binarupa Aksara : Jakarta
21

LAMPIRAN A
DATA HASIL PENGAMATAN

Tabel A.1 Perubahan yang terjadi pada medium NA tanpa ekstrak pepaya dan
medium NA dengan ekstrak pepaya di dalam cawan petri.

No
Waktu
( jam )
Perubahan yang terjadi
NA Papaya Dextrose Agar
1 0
Setelah digores secara zig-
zag dengan ose, medium
belum menunjukkan
perubahan
Setelah digores secara
zigzag dengan ose,
medium belum
menunjukkan perubahan
2 4
Garis zig-zag sudah mulai
terlihat jelas, namun jamur
belum terlihat
pertumbuhannya
Garis zig-zag belum
terlihat jelas, dan jamur
belum menunjukkan
pertumbuhannya
3 19
Garis zig-zag sudah mulai
terlihat jelas, medium sudah
menyusut, dan jamur sudah
tumbuh
Garis zig-zag sudah mulai
terlihat, medium mulai t
menyusut, dan jamur sudah
mulai tumbuh
4 22
Garis zig-zag semakin
terlihat jelas, pinggiran
medium semakin menyusut,
volume medium bekurang,
dan jamur tumbuh.
Garis zig-zag sudah lebih
terlihat jelas, pinggiran
medium semakin terlihat
menyusut, volume medium
berkurang, dan jamur
tumbuh.








22

Tabel A.2 Perubahan yang terjadi pada medium NA tanpa ekstrak pepaya dan
medium NA dengan ekstrak pepaya di dalam tabung reaksi

No
Waktu
( jam )
Perubahan yang terjadi
NA Papaya Dextrose Agar
1 0
Setelah ditusuk dengan
kawat ose, medium belum
menunjukkan perubahan,
dan jamur belum tumbuh
Setelah ditusuk dengan
kawat ose, medium belum
menunjukkan perubahan,
dan jamur belum tumbuh
2 4
Bekas tusukan sudah mulai
tampak, medium cair masih
berada di permukaan
Bekas tusukan sudah mulai
tampak, medium cair sudah
mulai turun dan terlihat
jelas
3 19
Bekas tusukan sudah tampak
jelas, medium agar (NA)
mulai tampak berongga-
rongga
Bekas tusukan semakin
terlihat jelas, medium
sudah turun dari
permukaan, dan terlihat
jelas
4 22
Bekas tusukan semakin
tampak jelas, medium agar
(NA) sudah berongga-
rongga, dan terlihat seperti
terpotong-potong.
Bekas tusukan terlihat
jelas, medium cair terlihat
jelas dan sedikit turun dari
permukaan.












23

LAMPIRAN B
GAMBAR
Tabel B.1 Perubahan yang terjadi pada media dalam cawan petri


No

Waktu
( jam )
Perubahan yang terjadi
Nutrien Agar Papaya Dextrose Agar



1



0




2



4




3



19



4


22

24

Tabel B.2 Perubahan yang terjadi pada media dalam tabung reaksi


No

Waktu
( jam )
Perubahan yang terjadi
Nutrien Agar Papaya Dextrose Agar



1



0




2



4




3



19




4



22

25

Tabel B.3 Pengamatan sampel air bekas cuci piring menggunakan mikroskop.
Pembesaran 4x Pembesaran 10x Pembesaran 40x